• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. FORMULASI STRATEGI

7.4. Analisis Matriks SWOT

Berdasarkan faktor-faktor kekuatan dan kelemahan hasil analisis internal, serta faktor peluang, dan ancaman yang diperoleh melalui analisis eskternal, maka dapat diformulasikan alternatif-alternatif strategi dengan menggunakan matriks SWOT. Beberapa alternatif strategi yang dapat diterapkan oleh usaha ternak sapi perah KUD Bayongbong, yaitu:

1) Strategi S-O (Strengths - Opportunities)

Strategi S-O (Aggressive Strategy) adalah menyusun strategi yang menggunakan kekuatan internal usaha ternak sapi perah KUD Bayongbong untuk memperoleh profit dari memanfaatkan peluang. Strategi yang dapat diterapkan pada KUD adalah meningkatkan kegiatan produksi dengan proses pengelolaan yang berstandar mulai dari kegiatan penyediaan input, kegiatan on farm, hingga kegiatan output produk yang dihasilkan (S1). Penerapan strategi ini berguna untuk menjaga kualitas susu yang sudah baik dengan ketersediaan fasilitas produksi

105 yang memadai serta untuk meningkatkan kapasitas susu yang dihasilkan yang hingga saat ini kebutuhan susu IPS belum terpenuhi oleh KUD Bayongbong. Menjaga kualitas dan meningkatkan kapasitas susu ini diharapkan mampu memaksimalkan perolehan pendapatan KUD Bayongbong yang juga berdampak pada peningkatan perolehan keuntungan bagi para peternak.

Strategi lain yang dapat diterapkan adalah dengan meningkatkan kekuatan permodalan peternak dengan memfasilitasi pinjaman modal bunga ringan tanpa agunan (S2). Adanya perhatian lebih KUD Bayongbong dalam memfasilitasi permodalan peternak dengan memanfaatkan hubungan kerjasama dengan beberapa lembaga keuangan diharapkan mampu membatu kebutuhan permodalan peternak yang saat ini dirasakan masih kurang mencukupi serta guna memacu semangat dan memotivasi para peternak untuk fokus dalam mengembangkan usaha ternak sapi perah yang dijalankannya karena memiliki prospek yang baik bila dijalankan dengan sungguh-sungguh.

2) Strategi W-O (Weaknesses - Opportunities)

Strategi W-O (Turn-arround Strategy) adalah menyusun strategi yang ditujukan untuk mengatasi kelemahan dengan memanfaatkan peluang eksternal. Strategi W-O yang dapat diterapkan oleh usaha ternak sapi perah KUD Bayongbong yaitu, dengan melakukan peningkatan sumberdaya manusia (SDM) peternak melalui pembinaan intensif dan berkelanjutan serta memaksimalkan pelayanan KUD dalam memenuhi kebutuhan anggota peternak (S3). Penerapan strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan peternak dalam mengelola usaha ternak sapi perah yang baik. Kemudian adanya pembinaan intensif dan berkelanjutan dapat meningkatkan hubungan baik antara KUD Bayongbong dan peternak dalam bekerjasama mencapai tujuan usaha yang dijalankan, yang berdampak positif terhadap partisipasi dan maksimalisasi kinerja yang dijalankan oleh peternak. Selain itu, dengan adanya maksimalisasi pelayanan yang diberikan oleh KUD pun berdampak pada peningkatan hubungan emosional peternak guna menjaga loyalitas anggota peternak terhadap KUD Bayongbong.

Usaha ternak sapi perah KUD Bayongbong perlu meningkatkan manajemen pengelolaan keuangan yang berbasiskan prinsip rasa kepemilikan bersama dan tanggung jawab (S4). Penerapan strategi ini dilakukan untuk

mengantisipasi serta menangani permasalah yang sering terjadi pada bidang manajemen keuangan KUD Bayongbong. KUD Bayongbong perlu menerapkan sistem mengenai proses pengelolaan keluar masuknya keuangan guna mengefisienkan biaya produksi, kemudian mengatur juga terkait sistem peminjaman dan pengembaliannya sehingga risiko kredit macet anggota dapat dihindari.

3) Strategi S-T (Strengths - Threats)

Strategi S-T (Diversification Strategy) adalah menyusun strategi yang menggunakan kekuatan organisasi untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal. Beberapa strategi S-T yang dapat dijalankan usaha ternak sapi perah KUD Bayongbong adalah menjaga hubungan kerjasama yang telah terbetuk dengan baik bersama pihak stakeholder dan lembaga penunjang lainnya mulai dari penyediaan input, kegiatan on farm hingga kegiatan outputnya, dalam menjaga keberlangsungan sistem agribisnis usaha ternak sapi perah KUD Bayongbong (S5). Terjalinnya hubungan kerjasama yang baik akan memberikan keuntungan terhadap kedua belah pihak atau lebih. Hal ini karena terciptanya rasa kepercayaan dan tanggung jawab, yang berdampak pada upaya dalam memberikan kinerja dan produk terbaiknya antara masing-masing pihak yang bekerjasama.

4) Strategi W-T (Weaknesses - Threats )

Strategi W-T (Defensive Startegy) adalah menyusun strategi yang ditujukan untuk mengurangi kelemahan internal yang dimiliki dan menghindari ancaman eksternal yang ada. Strategi W-T yang dapat dijalankan usaha ternak sapi perah KUD Bayongbong yaitu meningkatkan dan membangun manajemen pengontrolan usaha ternak KUD Bayongbong mulai dari penyediaan input, pengelolaan on farm hingga kegiatan output (S6). Strategi ini dilakukan untuk mengawasi dan mengevaluasi kendala yang terjadi dalam menjalankan kegiatan usaha ternak sapi perah. Pengontrolan bermanfaat untuk meminimalisir terjadinya kesalahan dan penyelewengan kerja yang dilakukan oleh pengurus dan anggota atau pelaku usaha ternak sapi perah KUD Bayongbong lainnya. Upaya

107 peningkatan pengontrolan ini pun perlu diikuti dengan peningkatan fasilitas sarana dan prasarana yang mendukung upaya pengontrolan.

Membangun sistem pengelolaan usaha ternak sapi perah yang tertib dan bersih serta melakukan kerjasama dengan pihak terkait mengenai pengembangan teknologi pengelolaan limbah ternak (S7). Penerapan strategi ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan ternak yang sehat dan bersih. Saat ini kondisi lingkungan para peternak KUD Bayongbong kurang memperhatikan mengenai kebersihan sehingga berdampak pada cukup tingginya tingkat penyakit yang menjangkit hewan ternak. Selain itu, pengelolaan limbah (kotoran) ternak belum terorganisir dengan baik. Kotoran ternak belum mampu dimanfaatkan atau dikelola dengan baik, bahkan para peternak membuang kotoran ternaknya masih berada disekitar lingkungan ternak atau ke aliran kali yang akan menjadi sesuatu yang menggangu (polusi). Oleh karena itu, permasalahan pengelolaan limbah harus segera ditangani melalui kerjasama KUD Bayongbong dengan lembaga pendidikan, pihak swasta atau pemerintah dalam membantu mengatasi pengelolaan limbah ternak tersebut.

Strategi lainnya yang dapat diterapkan KUD Bayongbong adalah peningkatan kompetensi pelaku usaha ternak sapi perah dalam membangun sistem informasi manajemen (SIM) untuk meningkatkan kinerja pengelolaan usaha yang dijalankannya (S8). Peningkatan dan pembangunan SIM ini dilakukan karena penanganan dan pengelolaan data dan informasi saat ini sangat terbatas, yang mengakibatkan lambatnya respon KUD Bayongbong dalam menanggapi kondisi pasar global dan persaingan industri yang ada karena keterbatasan informasi. Upaya pembangunan SIM tentunya perlu didukung dengan kualitas pengelola yang berkompetensi dalam mengatur jalannya SIM, sehingga diperlukan pelatihan terhadap pelaku usaha baik pengurus maupun anggota dalam memahami SIM yang dilakukan oleh KUD Bayongbong.

Dokumen terkait