BAB IV TRANSKRIPSI DAN ANALISIS MUSIKAL
4.3 Analisis Melodi
Membincangkan analisis musikal sama halnya dengan membincangkan setiap unsur-unsur bermakna yang tertuang di dalam sebuah musik. Dilakukannya analisis terhadap masing-masing unsur musikal itu ialah karena ada tujuan untuk menjelaskan unsur bermakna tersebut. Namun sebagaimana dikatakan oleh Nicolas Cook berikut, bahwa hingga saat ini belum ada metode analisis oralmaupun formal tunggal yang sudah baku dan berlaku secara umum yang dapat dipakai untuk menganalisis musik secara menyeluruh.
There is not any one fixed way of starting an analysis. It depends of the music, as wel as on the analyst and the reason the analysis is being done. But there is a presequisite to any sensible analysis, an this is familiarity with the music.55
Selanjutnya dapat dikatakan bahwa analisis adalah suatu pekerjaan lanjutan setelah selesai melakukan transkripsi komposisi musik. Melalui proses analisis tersebut akan diperoleh gambaran tentang gaya atau prinsip-prinsip dasar struktur musikal yang tersembunyi dibalik komposisi musik itu.56
Dalam pendekatan analisis melodi, penulis menggunakan notasi preskriptif. Dalam analisa melodi, Malm (1977:3) mengemukakan bahwa di dalam mendeskripsikan melodi ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, yaitu: Tangga nada (scale), nada dasar (pitch center), wilayah nada (range), jumlah nada (frequency of note), jumlah interval, pola kadensa, formula melodi
55
Nicolas Cook, A Guide to Musical Analysis (London & Melbourne: J.M. Dent & Sons Ltd, 1987), 237.
56
Torang Naiborhu, “Ende-ende Merkemenjen: Nyanyian Ratap Penyadap Kemenyan Di Hutan Rimba Pakpak-Dairi, Sumatera Utara’’. (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2004), 271.
(melody formula), dan kontur (contour). Pengertian dari yang dijelaskan Malm dalam mendeskripsikan atau menganalisis struktur musik adalah sebagai berikut:
4.3.1.Tangga nada (Scale)
Sebagaimana dikemukakan oleh Nettl bahwa cara-cara untuk mendeskripsikan tangga nada adalah dengan menuliskan semua nada yang dipakai dalam membangun sebuah komposisi musik tanpa melihat fungsi masing-masing nada tersebut dalam lagu. Selanjutnya, tangga nada tersebut digolongkan menurut beberapa klasifikasi, menurut jumlah nada yang dipakai. Tangga nada diatonic
(dua nada), tritonic (tiga nada), tetratonic (empat nada), pentatonic (lima nada),
hexatonic (enam nada), heptatonic (tujuh nada). Dua nada dengan jarak satu oktaf biasanya dianggap satu nada saja.57
Dengan berpedoman pada pendapat di atas maka tangga nada untuk masing-masing komposisi Ende Tarombo Si Raja Lontung adalah sebagai berikut. 4.3.1.1Tangga nada Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius Sitohang
Jumlah nada yang dipakai untuk membangun komposisi Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius Sitohang adalah delapan buah nada Dengan demikian tangga nada ini disebut diatonis.
C D E F G A Ais B
57
Bruno Nettl, Theory and Method in Ethnomusicology (London: The Free Press of Glencoe Collier Mcmillan Limited, 1964), 145.
4.3.1.2 Tangga nada Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Trio Lasidos Jika dilihat dari jumlah nada yang dipakai oleh Trio Lasidos untuk membangun kompsosisi Ende Tarombo Si Raja Lontung yang disajikannya, yaitu sebanyak tujuh nada maka tangga nadanya ialah diatonis.
C D E F G A Bes 4.3.2. Nada dasar (pitch centre)
Karena Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh kedua penyaji ini sudah dibuat bentuk diatonis, maka nada dasar sudah dapat ditentukan sesuai dengan kemampuan si penyanyi. Sesuai dengan apa yg penulis ukur (mengukur nada dasar dengan tuner), maka nada dasar Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius dan Trio Lasidos adalah sebagai berikut:
Tabel-15 Nada Dasar Ende Tarombo Si Raja Lontung
NO. PENYAJI NADA DASAR
1. Marsius Sitohang C= Do
2. Trio Lasidos F= Do
4.3.3. Wilayah nada
Berdasarkan teori yang ditawarkan J.A Ellis dalam Malm, (1977:35) perihal perhitungan frekuensi nada dengan memakai sistem cent, yaitu nada-nada
yang berjarak 1 laras58 sama dengan 200 cent dan nada-nada yang berjarak ½ laras sama dengan 100 cent.
Dengan berpedoman terhadap teori tersebut dan memperhatikan nada-nada yang telah ditanskripsikan, maka wilayah nada yang terdapat pada Ende Tarombo
Si Raja Lontung oleh dua penyaji adalah sebagai berikut:
4.3.3.1. Wilayah nada Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius Sitohang.
Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius Sitohang adalah dari nada G ke C’. Jarak dari nada G ke C’adalah sebanyak delapan setengah laras sehingga jumlah frekuensi jarak kedua nada tersebut adalah 1700 cent.
G-C’= 1700 cent
G C’
4.3.3.2. Wilayah nada Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Trio Lasidos.
Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Trio Lasidos adalah dari nada C ke F’. Jarak dari nada adalahC ke F’ sebanyak delapan setengah laras sehingga jumlah frekuensi jarak kedua nada tersebut adalah 1700 cent.
C-F’ = 1700 cent
C F’
58
Laras adalah padanan kata tone atau step dalam terminologi musik dalam bahasa Inggris, sedangkan sent adalah unsur serapan dari bahasa Inggris cent.
4.3.4. Jumlah nada
Jumlah nada merupakan banyaknya nada yang dipakai dalam suatu musik atau nyanyian. Banyaknya nada yang terdapat pada Ende Tarombo Si Raja Lontung adalah dapat dilihat padatabel berikut ini:
No. Nama Nada Jumlah Nada
1. C 54 2. C’ 79 3. D 117 4. D’ 14 5. E 192 6. F 127 7. G 8 8. A 114 9. Ais 13 10. B 5 11. B’ 77 Jumlah 800
No. Nama Nada Jumlah Nada
1. C 4 2. C’ 46 3. D’ 41 4. E 4 5. E’ 24 6. F 21 7. F’ 22 8. G’ 22 9. G 56 10. A 73 11. B 77 Jumlah 370 TABEL -16. Jumlah pemakaian nada pada Ende
Tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius Sitohang
TABEL -17. Jumlah pemakaian nada pada Ende
Tarombo Si Raja Lontung oleh Trio Lasidos
Jumlah nada Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius Sitohang dalam bentuk garis paranada:
133 131 192 127 114 82 13 8 Jumlah nada Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Trio Lasidos dalam bentuk garis paranada:
78 77 73 50 43 41 28
4.3.5. Jumlah Interval
Interval ialah jarak antara satu nada ke nada berikutnya, naik maupun turun berdasarkan jumlah laras yang mengantarai kedua nada tersebut. Berdasarkan hukum musik, nama-nama interval telah ditentukan menurut jumlah nada yang dipakai, sedangkan jenisnya ditentukan berdasarkan jarak kedua nada tersebut dalam laras, seperti pada tabel berikut.
Tabel-18
Nama dan jenis interval Simbol
interval
Jlh nada
Jlh
laras Nama dan jenis interval
Contoh nada 1P 1 0 prime perfect (murni) C - C 2M 2 1 sekunda mayor (besar) C – D 3M 3 2 Terts mayor (besar) C – E 4P 4 2,5 kwart perfect (sempurna) C – F 5P 5 3,5 kwint perfect (murni) C – G 6M 6 4,5 sekta mayor (besar) C – A 7M 7 5,5 septime mayor (besar) C - B 8P 8 6,5 oktaf Perfect (murni) C –c’ 9M 9 7,5 none mayor C –d’ 10M 10 8,5 decime mayor C - E
Rumus interval
dim + ½ laras = m m + ½ laras = M M + ½ laras = Ag m – ½ laras = dim M – ½ laras = m Ag – ½ laras = M P – ½ laras = dim P + ½ laras = Ag
Dengan demikian, berdasarkan hukum interval di atas maka interval untuk komposisi melodi Ende Tarombo di atas dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Nama Interval Posisi Jumlah P 276 P Augmented 7 6 2M 126 83 2m 45 32 3M 25 13 3m 28 37 4P 11 17 5P 2 10 6M 1 1 8P 1
Nama Interval Posisi Jumlah
P 86 2M 17 58 2m 21 27 3M 17 2 3m 5 5 4P 1 2 4 dim 1 1 5 P 3 2 6 M 3 2 7 M 2
TABEL -19. Jumlah interval pada Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius Sitohang
TABEL -20. Jumlah interval pada
Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Trio Lasidos
4.3.6. Pola Kadensa (Cadence Patterns)
Seperti kalimat bahasa yang diberi tanda baca berupa koma dan titik, maka demikian juga halnya dengan musik, juga diberi tanda baca melalui kadens- kadens yang terdapat di dalamnya. Sebuah kadens adalah satu kerangka atau formula yang terdiri dari elemen-elemen harmonis, ritmis, dan melodis yang menghasilkan efek kelengkapan yang bersifat sementara (kadens tak sempurna, kadens gantung) dan yang permanen (kadens lengkap, sempurna).
Kadens yang berakhir pada nada tonal disebut kadens sempurna (lengkap), sedangkan yang berakhir pada nada lain (seperti nada dominan atau sub-dominan) disebut kadens gantung (tak sempurna). Analoginya dengan kalimat, kadens sempurna itu merupakan titik; kadens gantung merupakan tanda tanya atau titik - koma. Sebuah frase yang berakhir pada kadens gantung (tak sempurna) disebut frase anteseden dan biasanya kadens seperti ini akan segera pula diikuti oleh sebuah frase konsequenyang berakhir dengan sebuah kadens sempurna (lengkap).59
4.3.6.1. Pola Kadensa Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius Sitohang Contoh Kadens Sempurna.
59
Hugh M. Miller, Introduction to Music: A Guide to Good Listening (Caloocun City, Philippines: Philippines Graphic Art Inc., 1971), seperti naskah terjemahan Triyono Bramantyo,
“Apresisasi Seni” (Yogyakarta: Institut Seni Indonesia, t.t.), 165-166. Lihat juga Lein
Flein,“Structure and Style”Expanded Edition, The Study and Analysis of Musical Form (New Jersey: Summy-Birchard Music, 1979), 37.
Sebuah frasa (bar 32) diakhiri dengan nada tonal (nada dasar) Ende Tarombo Si Raja Lontung, yaitu nada C.
Contoh Kadens Gantung/ Tak sempurna
Sebuah frasa (bar 5) diakhiri dengannada yang bukan nada tonalnya (nada dasar)
Ende Tarombo Si Raja Lontung, yaitu nada D.
4.3.6.2.Pola Kadensa Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Trio Lasidos Contoh Kadens Sempurna
Sebuah frasa (bar 3) diakhiri dengan nada pembentuk akord “F” Ende Tarombo Si Raja Lontung, yaitu nada A.
Contoh Gantung/ Tak Sempurna
Sebuah frasa (bar 8) diakhiri dengan nada yang bukan pembentuk akord “F” Ende Tarombo Si Raja Lontung, yaitu nada Bes.
4.3.7. Formula melodi (Melody Formula)
Dalam mendeskripsikan fomula melodik, ada tiga hal penting yang akan dibahas yaitu bentuk, frasa, dan motif. Bentuk adalah suatu aspek yang menguraikan tentang organisasi musikal. Unit terkecil dari suatu melodi disebut dengan motif, yaitu tiga nada atau lebih yang menjadi ide sebagai pembentukan melodi. Gabungan dari motif adalah semi frasa, dan gabungan dari semi frasa disebut dengan frasa (kalimat).Berikut beberapa istilah untuk menganalisis bentuk, yang dikemukakanoleh William P. Malm :
1. Repetitif yaitu bentuk nyanyian yang diulang-ulang.
2. Ireratif yaitu bentuk nyanyian yang memakai formula melodi yang kecil dengan kecenderungan pengulang-pengulang di dalam keseluruhan nyanyian.
3. Strofic yaitu bentuk nyanyian yang diulang tetapi menggunakan teks nyanyian yang baru atau berbeda.
4. Reverting yaitu bentuk yang apabila dalam nyanyian terjadi pengulangan pada frasa pertama setelah terjadi penyimpangan penyimpangan melodi. 5. Progressive yaitu bentuk nyanyian yang terus berubah dengan
menggunakan materi melodi yang selalu baru.
Nettl dalam bukunya Theory and Method in Ethnomusicology, mengatakan bahwa untuk mendeskripsikan bentuk suatu komposisi, ada beberapa patokan yang dipakai untuk membagina ke dalam berbagai bagian, yaitu:
1. Pengulangan bagian komposisi yang diulangi bisa dianggap sebagai satu unit.
2. Frasa-frasa istirahat bisa menunjukkan batas akhir suatu unit.
3. Pengulangan dengan perubahan (misal, transposisi lagu atau pengulangan pola ritmis dengan nada-nada yang lain).
4. Satuan teks dalam musik vokal, seperti kata atau baris.
Dengan demikian, mengacu pada teori Malm di atas dan setelah dihubungkan dengan perjalanan melodi kedua penyajian Ende Tarombo Si Raja Lontung yang menjadi sampel dalam tulisan ini maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
Dalam hal ini penulis membagi bentuk Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh kedua penyaji yang dianalisa berdasarkan teori diatas, yaitu membagi dengan berdasarkan frasa-frasa istirahat.
4.3.7.1 Analisis Bentuk, Birama dan Frasa pada Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Trio Lasidos
Birama Frasa 1-3 A1 4-5 A2 6-8 B 9-17 C 18-20 D 21-23 E 24-27 F 28-31 G 32-35 H 36-40 I 41-44 H 45-50 J 51-52 D 53-55 E 56-59 F 60-63 G 64-72 K
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa A1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa A2
Notasi dibawah ini merupakan notasi pada frasa B
Notasi di bawah ini merupakan notasi frasa C
Notasi di bawah ini merupakan notasi frasa E
Notasi di bawah ini merupakan notasi frasa F
Notasi di bawah ini merupakan notasi frasa G
Notasi di bawah ini merupakan notasi frasa I
Notasi di bawah ini merupakan notasi frasa J
Notasi dibawah ini merupakan notasi frasa G
Notasi dibawah ini merupakan notasi frasa K
Setelah dianalisa, bentuk Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Trio Lasidos dapat diuraikan sebagai A1-A2-B-C-D-E-F-G-H-I-H-J-D-E-F-G-K. Frasa A1-A2-B-C mendapat perulangan. Begitu juga dengan frasa D-E-F-G mengalami perulangan. Frasa K adalah sebagai penutup. Jumlah keseluruhan frasanya ada 17 bentuk frasa. Berdasarkan jenis bentuk, Ende tarombo Si Raja Lontung oleh Trio Lasidos dapat dikategorikan sebagai bentuk Strofic yaitu bentuk nyanyian yang diulang tetapi menggunakan teks nyanyian yang baru atau berbeda.
4.3.7.2 Analisis Bentuk, Birama dan Frasa pada Ende Tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius Sitohang
Birama Frasa 1-5 A 6-8 B 9-12 C 13-16 D 17-20 A1 21-24 B1 25-28 C1 29-32 D 33-36 A1 37-40 B1 41-44 C1 45-48 D 49-53 E 54-58 F 59-63 E1 64-67 G 68-71 A1 72-75 B1 76-79 C1
80-83 D 84-89 I 90-93 J 94-97 K 98-102 L 103-105 M 106-110 L1 111-112 N 113-114 N1 115-118 H1 119-122 I1 123-126 J 127-130 K
Notasi dibawah ini merupakan notasi pada frasa A
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa B
Gambar notasi dibawah ini merupakan notasi pada frasa B
Notasi dibawah ini merupakan notasi pada frasa D
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa A1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa B1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa C1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa A1
Notasi dibawah ini merupakan notasi pada frasa B1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa C1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa E
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa F
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa G
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa A1
Notasi dibawah ini merupakan notasi pada frasa B1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa C1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa J
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa K
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa L
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa M
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa L1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa N1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa H1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa I1
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa J
Notasi di bawah ini merupakan notasi pada frasa K
Setelah dianalisa, bentuk Ende tarombo Si Raja Lontung oleh Marsius Sitohang dapat diuraikan sebagai A-B-C-D-A1-B1-C1-D-A1-B1-C1-D-E-F-E1- G-A1-B1-C1-D-I-J-K-L-M-L1-N-N1-H1-I1-J-K. Jumlah keseluruhan frasanya ada 32 bentuk frasa. Berdasarkan jenis bentuk, Ende tarombo Si Raja Lontung
oleh Marsius Sitohang dapat dikategorikan sebagai bentuk Strofic yaitu bentuk nyanyian yang diulang tetapi menggunakan teks nyanyian yang baru atau berbeda.
4.3.8. Kontur (contour)
Kontur adalah garis melodi yang terdapat pada sebuah komposisi musik yang dapat diidentifikasi berdasarkan pergerakan melodinya. Pada komposisi musik yang relatif panjang, identifikasi kontur didasarkan pada bentuk melodi musiknya. Menurut Malm (1977:13) , kontur dapat dideskripsikan seperti berikut ini:
1. Ascending yaitu garis melodi yang bergerak dengan bentuk naik dari nada yang lebih rendah ke nada yang lebih tinggi.
2. Descending yaitu garis melodi yang bergerak dengan bentuk turun dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah.
3. Pendulous yaitu garis melodi yang bentuk gerakannya melengkung dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah, kemudian kembali lagi ke nada yang lebih tinggi atau sebaliknya.
4. Conjuct yaitu garis melodi yang sifatnya bergerak melangkah dari satu nada ke nada yang lain baik naik maupun turun.
5. Terraced yaitu garis melodi yang bergerak berjenjang baik dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah atau dimulai dari nada yang lebih rendah ke nada yang lebih tinggi.
6. Disjuct yaitu garis melodi yang bergerak melompat dari satu nada ke nada yang lainnya, dan biasanya intervalnya di atas sekonde baik mayor maupun minor. 7. Static yaitu garis melodi dimanagerakan-gerakan intervalnya sangat terbatas.
Berdasarkan jenis kontur diatas maka:
4.3.8.1Kontur Ende Tarombo Si Raja Lontung yang disajikan oleh Marsius Sitohang
Kontur Ende Tarombo Si Raja Lontung yang disajikan oleh Marsius Sitohangtergolong jenis Static. Contohnya terdapat pada berikut ini.
Ende Tarombo Si Raja Lontung yang disajikan oleh Marsius Sitohang tergolong jenis Descending. Contohnya terdapat pada berikut ini.
4.3.8.2Kontur Ende Tarombo Si Raja Lontung yang disajikan oleh Trio Lasidos
Kontur Ende Tarombo Si Raja Lontung yang disajikan oleh Trio Lasidos tergolong jenis Ascending. Contohnya terdapat pada berikut ini:
Ende Tarombo Si Raja Lontung yang disajikan oleh Trio Lasidos tergolong jenis
BAB V
PENUTUP
Berdasarkan data-data yang telah dinalisis pada bab-bab sebelumnya maka penulis memperoleh kesimpulan sejarah asal-usul Si Raja Lontung, analisis teks dan musik Ende Tarombo Si Raja Lontung beserta komparasi kedua penyaji. Akan disertai juga dengan saran-saran kepada subyek-subyek yang memiliki hubungan dengan keberadaan Ende Tarombo Si Raja Lontung ini terutama untuk strategi pengembangan dan pemeliharaan (revival).