• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SEJARAH DAN ASAL-USUL SI RAJA LONTUNG

2.1 Model Sinkronis

Menurut Vergouwen (1986:9) Desa Sabulan merupakan tempat Si Raja Lontung dilahirkan dan tinggal selama hidupnya. Sabulan adalah salah satu nama perladangan desa yang berada di wilayah Kecamatan Sitiotio di kaki gunung Pusuk Buhit13, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

12

Emik (native point of view) mencoba menjelaskan suatu fenomena dalam masyarakat dengan sudut pandang masyarakat itu sendiri.

13

Samosir dibuat menjadi suatu pulau dengan menggali sebuah terusan yang memotong punggung bukit yang menyatukannya dengan Gunung Pusuk Buhit.

Gambar-1. Peta Desa Sabulan Dokumentasi Blessta Hutagaol, 2015.

Konon menurut cerita rakyat atau turi-turian bahwa daerah Sabulan adalah tempat tinggal Sariburaja bersama Siboru Pareme setelah mereka diusir dari kampungnya kemudian melahirkan Si Raja Lontung.14

Menurut James Danandjaja (1984:4) Cerita rakyat adalah suatu karya sastra yang lahir dan berkembang dalam masyarakat tradisional dan disebarkan dalam bentuk relatif tetap, atau dalam bentuk baku disebarkan diantara kolektif tertentu dalam waktu yang lama. Dalam hal ini kisah tentang Si Raja Lontung merupakan sebuah cerita rakyat dalam masyarakat Batak Toba. Namun dalam penggolongannya, penulis memperhatikan jenis cerita prosa rakyat yang terbagi atas tiga golongan utama yaitu:

14

1. Mite (myth), adalah cerita prosa rakyat yang benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empunya cerita. Mite ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa, peristiwa terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan kita kenal sekarang, dan terjadi di masa lampau.

2. Legenda (legend), adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci, legenda ditokohi manusia, walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, dan sering kali dibantu oleh makhluk- makhluk gaib.

3. Dongeng (folktale) berupa cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar- benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat (James Danandjaja, 1984:50)

Berdasarkan penggolongan cerita rakyat diatas maka kisah tentang Si Raja Lontung termasuk dalam jenis Legenda. Karena dalam alur kisahnya peristiwa tentang Si Raja Lontung adalah terjadi di bumi dan masih terdapak jejak peninggalan sejarahnya atau artefak yaitu di Desa Sabulan, Kecamatan Sitiotio, Kabupaten Samosir dan dalam perjalanan hidupnya acapkali Si Raja Lontung beserta keturunannya melakukan permohonan kepada Debata Mulajadi Na Bolon untuk meminta kekuatan dan kesaktian.

2.1.1 Gambaran lingkungan sosial

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003 tentang pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang Bedagai

di Provinsi Sumatera Utara, maka yang merupakan wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Samosir sebanyak sembilan kecamatan, yaitu: Kecamatan Pangururan, Kecamatan Simanindo, Kecamatan Ronggur Ni Huta, Kecamatan Palipi, Kecamatan Nainggolan, Kecamatan Onan Runggu, Kecamatan Sitiotio, Kecamatan Sianjur Mulamula, dan Kecamatan Harian. Jadi Kecamatan Sititotio merupakan salah satu wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Samosir. Kecamatan Sititotio terdiri atas beberapa desa sebagai berikut: Desa Tamba Dolok, Desa Cinta Maju, Desa Buntu Mauli, Desa Sabulan, Desa Holbung, Desa Janji Raja, Desa Janji Maria, dan Desa Parsaoran.

Desa Sabulan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sitiotio Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan turi-turian

pada masyarakat Batak Toba disertai dengan peninggalan sejarahnya, bahwa pada zaman dahulu kala, di desa inilah Siboru Pareme dan Si Raja Lontung berjanji

(Marbulan). Sehingga desa ini dinamakan Desa Sabulan.

Berdasarkan profil desa pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Sabulan tahun 2008-2013, Desa Sabulan adalah desa yang sangat bersejarah bagi seluruh orang Batak secara khusus bagi keturunan (pomparan) Siboru Pareme dan Si Raja Lontung yaitu yang terdiri dari tujuh orang putera dan satu orang puteri. Masing-masing puteranya bernama:Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, Siregar. Sedangkan puterinya bernama Si Boru Anak Pandan. Ia menikah dua kali dengan marga Sihombing kemudian Simamora.15

15

2.1.2 Letak astronomis dan geografis

Wilayah Kecamatan Sitiotio mempunyai letak astronomis dan geografis16 sebagai berikut:

Tabel-1. Letak Astronomis dan Geografis Kecamatan Sitiotio

No. Letak Astronomis dan Geografis Kecamatan Sitiotio

Statistik

1. Letak Astronomis 2º30´-2º45´LU dan 98º30´-98º45´BT 2. Luas Wilayah Daratan 50, 76 Km² atau 3,51% dari total luas

daratan Kabupaten Samosir. 3 Batas Wilayah:

 Utara

 Selatan

 Barat

 Timur

 Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir

 Kecamatan Pollung Kabupaten Humbahas

 Kecamatan Harian Kabupaten Samosir

 Kecamatan Baktiraja Kabupaten Humbahas

4. Ketinggian Diatas Permukaan Laut

904-2.157 Meter

5. Jarak Kantor Camat Ke Kantor Bupati Samosir

22 KM Sumber: Statistik Kecamatan Sitiotio 2011

2.1.3 Luas wilayah

Pembagian wilayah Desa Sabulan dibagi menjadi 3 (tiga) dusun yaitu sebagai berikut:

16

Letak astronomis adalah adalah letak suatu tempat dilihat dari posisinya di garis lintang dan di garis bujur yang dinyatakan dalam angka. Sedangkan Letak Geografis adalah letak suatu tempat dilihat dari keadaan sebenarnya di permukaan bumi.

Tabel-2 Luas Wilayah Desa Sabulan per Dusun

No. Dusun Jumlah kampung

(huta) Luas wilayah (Km²) Persentase (%) Luas 1. I 10 3,8 31, 54 2. II 10 4,10 34, 02 3. III 17 4,15 34,44

Sumber: Rencana Pembangunan Jangka menengah Desa (RPJMDes) Desa Sabulan tahun 2008-2013.

2.1.4 Jumlah penduduk

Kecamatan Sitiotio merupakan kecamatan dengan persentase penduduk terkecil dari total penduduk Kabupaten Samosir yakni hanya 5.95% penduduk Kabupaten Samosir berdomisili di Kecamatan Sitiotio, hal ini disebabkan karena Kecamatan Sitiotio merupakan kecamatan terjauh di Kabupaten Samosir dan akses untuk menjangkau setiap wilayah desa di Kecamatan Sitiotio sangat terbatas karena hampir seluruh wilayah berbatasan langsung dengan Danau Toba. Berdasarkan desa di Kecamatan Sitiotio, Desa Sabulan merupakan desa dengan persentase penduduk terbanyak dari total penduduk Kecamatan Sitiotio yakni 16.09%. Hal ini dikarenakan Desa Sabulan merupakan ibukota Kecamatan sekaligus merupakan desa yang paling mudah diakses dari ibukota kabupaten. Desa Sabulan sebagai Ibukota Kecamatan Sitiotio didiami sekitar 16.09% dari total penduduk Kecamatan Sitiotio dengan kepadatan penduduk yaitu mencapai 135.45 jiwa/km². Yang berarti setiap 1 km² wilayah Desa Sabulan didiami oleh sekitar 135 jiwa penduduk. Sedangkan Desa Janji Maria merupakan desa dengan distribusi persentase terkecil dari total penduduk Kecamatan Sitiotio. Hanya 8.97% penduduk Kecamatan Sitiotio tinggal di wilayah Desa Janji Maria, hal ini

disebabkan karena Desa Janji Maria merupakan desa yang paling jauh dari ibukota Kecamatan Sitiotio yakni sekitar 17 km dari ibukota Kecamatan Sitiotio.

Tingkat kepadatan penduduk selama periode tahun 2010-2011 meningkat dari yang sebelumnya 140 jiwa/km² menjadi 142 jiwa/km². Artinya bahwa setiap km² wilayah daratan Kecamatan Sitiotio ditempati oleh penduduk rata-rata sekitar 142 orang. Penduduk Kecamatan Sitiotio hingga tahun 2011 diperkirakan mencapai 7.191 jiwa dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga per rumah tangga sebesar 4 jiwa/ rumah tangga.

Tabel-3 Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, dan Anggota Rumah Tangga menurut Desa di Kecamatan Sitiotio

*Keterangan: RT = Rumah tangga . ART = Anggota rumah Tangga Sumber: Statistik Kecamatan Sitiotio 2011

Dari keseluruhan penduduk Kecamatan Sitiotio berdasarkan status kependudukannya adalah bervariasi. Menurut Vergouwen (1986:136-137) penghuni kampung (isi ni huta) terdiri atas si pendiri kampung (sipungka huta)

No. Desa Penduduk (jiwa) Kepadatan (Jiwa/km) RT Rata-rata ART / RTnya. 1. Tamba Dolok 908 134,72 236 3, 85 2. Cinta Maju 1010 148, 08 251 4, 03 3. Buntu Mauli 669 121, 58 180 3, 72 4. Sabulan 1157 135, 45 297 3, 89 5. Holbung 891 150, 98 226 3, 94 6. Janji Raja 1043 165, 29 250 4, 18 7. Janji Maria 645 108, 40 145 4, 44 8. Parsaoran 868 173, 61 191 4, 54 Jumlah 7191 113.811 1776 4, 05

dan anggota marga penumpang (parripe). Lebih lanjut Vergouwen menjelaskan bahwa parripe tidak banyak ikut campur dalam urusan kampung tersebut. Karena mereka belum lama berada di kampung tersebut. Mereka hanya orang yang bergantung kepada tempat isterinya berasal. Namun seiring bergantinya satu generasi, maka marga parripe tadi dapat berubah menjadi marga boru.

Khusus Desa Sabulan sebagai tempat penelitian penulis, hasil wawancara dengan Rammes Situmorang yang merupakan salah satu aparat Desa Sabulan mengatakan bahwa saat ini marga-marga yang menjadi penduduk di desa tersebut adalah Marga Situmorang, Pandiangan dan Sinaga sebagai marga asal/ si pendiri kampung (sipungka huta), dan marga yang paling banyak adalah Situmorang. Hal ini dikarenakan pernah suatu ketika terjadilah banjir yang sangat besar melanda Desa Sabulan. Banjir tersebut menyebabkan Desa Sabulan hancur luluh lantah beserta isinya sehingga penduduknya bermigrasi keluar Desa Sabulan. Penduduknya kala itu adalah marga keturunan Raja Lontung yaitu Sinaga, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, Siregar dan marga Situmorang. Selang beberapa lama setelah banjir tersebut berlalu, Situmorang kembali lagi ke Desa Sabulan dan berketurunan disitu. Hal ini didukung dengan tulisan W. M Hutagalung (1991:64) yang mengatakan bahwa:

“Ianggo Situmorang, mulak do jolo tu luat Sabulan jala marpinompari

disi”

Artinya: Bahwa marga Situmorang kembali ke Sabulan dan berketurunan disitu.

Marga lainnya membentuk pemukiman baru diluar Sabulan. Namun marga Situmorang kembali ke Desa Sabulan, sehingga beberapa marga lain yang sudah

sempat bermukim ditempat lain ikut kembali pulang ke Desa Sabulan. Yaitu marga Pandiangan dan Sinaga. Sedangkan yang merupakan marga pendatang

(parripe) adalah: Nainggolan, Siregar, Sihombing, Tamba, Manalu, Sitinjak, Sihite dan Ambarita.

2.1.5 Sistem religi

Masyarakat Batak Toba, baik secara pribadi maupun berkelompok mengakui adanya kuasa di luar kuasa manusia. Dalam menghormati kuasa tersebut mereka mempunyai cara penyembahan yang berbeda sesuai dengan kesanggupan memahami makna kuasa tersebut. Motif setiap penghormatan ditujukan untuk mendapat perlindungan agar terhindar dari bahaya, baik bahaya alam, penyakit maupun serangan binatang buas. Demikian pula untuk maksud mendapat restu, baik dalam perkawinan maupun usaha mencari rezeki dilaksanakan melalui pemujaan. Dalam setiap pelaksanaannya, Injil dan adat berjalan berdampingan.

Pada mulanya Injil diberitakan ditengah-tengah dunia yang penuh dengan adat kebudayaan serta berhadapan dengan adat kebudayaan suatu masyarakat atau suku-suku. Dalam pertemuan Injil dan adat tersebut, secara khusus adalah dengan unsur-unsur adat kebudayaan, yang terdiri dari: sistem Religius dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi masyarakat, sistem bahasa, sistem kesenian, dsb.

Adat merupakan hal yang sangat penting dalam suatu masyarakat, apalagi di dalam masyarakat Batak. Sebelum Kekristenan memasuki tanah Batak, adatlah yang menjadi hukum sekaligus aturan paling tinggi diakui. Adat batak adalah

aturan-aturan tentang beberapa segi kehidupan masyarakat Batak yang tumbuh dari usaha orang di dalam masyarakat tersebut, sebagai kelompok sosial untuk mengatur tata tertib tingkah laku anggota masyarakatnya. Jadi di dalamnya termuat pula peraturan-peraturan hukum yang melingkupi dan mengatur hidup bersama daripada masyarakat Batak.17

Hanya saja tata-tata adat masyarakat Batak sebelum masuknya Kristen, mengandung sisi lain yang berhubungan erat dengan bidang lain dari tradisi, khususnya yang mitis-agamawi dan yang berkaitan dengan pemujaan nenek moyang. Hal ini sependapat dengan Lothar Schreiner dalam bukunya yang mendasar Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di Tanah Batak. Lothar Schreiner18 berpendapat, adat sebagai tata tertib yang diciptakan oleh nenek moyang dan mempunyai dasar agamawi, yakni pemujaan-pemujaan yang biasa dilakukan oleh nenek moyang (dalam agama suku).

Melalui perjumpaannya dengan Injil, harus dapat membebaskan adat tersebut dari sifat agamawinya yang berkaitan dengan pemujaan-pemujaan nenek moyang, misalnya, penyembahan kepada Debata Mulajadi Nabolon. Apabila demikian, adat dapat diterima dan tidak bertentangan dengan Injil. Dengan demikian adat dapat dipraktekkan oleh orang-orang Kristen sebagai tata tertib sosial yang bebas dari dasar agamawinya. Adat itu tidak dapat memperbaharui hati.

Dengan bertitik tolak pada pandangan dan pernyataaan tersebut, penulis berkesimpulan bahwa adat yang memiliki dan membuahkan nilai-nilai positif

17

R. Van Dijk, Pengantar Hukum Adat Indonesia, Vorkink-Van Hoeve, Bandung:hlm. 6.

18

Lothar Schreiner, Adat dan Injil:Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di Tanah Batak, BPK-GM, Jakarta 2003:hlm. 226

dalam tata kehidupan masyarakat Batak dapat atau bahkan perlu tetap dipertahankan. Persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam mempertahankan itu adalah bahwa adat itu harus dilepaskan dari sifat agamawinya. Supaya hubungan antara Injil dan dan adat dapat berjalan berdampingan

Pada masa kini, umumnya masyarakat Batak Toba menganut agama Kristen Protestan dan Katolik. Penyebaran agama Kristen, awalnya dimulai oleh Pendeta Burton dan Ward dari Gereja Baptis Inggris tahun 1824. Kedua pendeta ini mencoba memperkenalkan Injil di kawasan Silindung (sekitar Tarutung sekarang). Kehadiran mereka tidak diterima oleh masyarakat Batak Toba. Kemudian tahun 1834 Kongsi Zending Boston Amerika Serikat, mengirimkan dua orang pendeta, yaitu Munson dan Lymann. Kedua misionaris ini dibunuh oleh penduduk di bawah pimpinan Raja Panggalamei, di Lobupining, sekitar Tarutung, pada bulan Juli 1834. Tahun 1849, Kongsi Bibel Nederland mengirim ahli bahasa Dr. H.N. van der Tuuk untuk menyelidiki budaya Batak. Ia menyusun Kamus Batak-Belanda, dan menyalin sebagian isi Alkitab ke bahasa Batak. Tujuan utama Kongsi Bibel Nederland ini adalah merintis penginjilan ke Tanah Batak melalui budaya. Tahun 1859, Jemaat Ermelo Belanda dipimpin oleh Ds. Witeveen mengirim pendeta muda G. Van Asselt ke Tapanuli Selatan. Ia tinggal di Sipirok sambil bekerja di perkebunan Belanda. Kemudian disusul oleh para pendeta dari

Rheinische Mission Gesellschaft (RMG), pada masa sekarang menjadi Verenigte Evangelische Mission (VEM), dipimpin Dr. Fabri. Penginjilan sampai saat ini berjalan lambat. Kemudian tahun 1862 datanglah pendeta RMG, yang kemudian diterima oleh masyarakat Batak Toba, yaitu Dr. Ingwer Ludwig Nommensen. Di

bawah pimpinannya misi penginjilan terjadi dengan pesat. Sampai dekade-dekade awal abad kedua puluh, sebagian besar etnik Batak Toba telah menganut agama Kristen Protestan.19

Begitulah proses penyebaran agama Kristen di Tanah Batak yang awalnya dimulai oleh Pendeta Burton dan Ward dari Gereja Baptis Inggris tahun 1824 yang mencoba memperkenalkan Injil di kawasan Silindung (sekitar Tarutung sekarang) hingga tersebar ke berbagai daerah sekitarnya termasuk di wilayah Kecamatan Sitiotio dimana merupakan tempat lahir dan besarnya Si Raja Lontung adalah sebagai berikut. Menurut Buku Statistik Kecamatan Sitiotio 2011, sebagian besar penduduk di Kecamatan Sitiotio menganut agama Kristen Protestan yaitu 63,23% dari total penduduk Kecamatan Sitiotio. Sedangkan sisanya menganut agama Katolik.

2.1.6 Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan di Desa Sabulan masih tergolong sangat minim dan memprihatinkan. Karena masih didapati adanya penduduk yang putus sekolah, masih buta huruf dan melek huruf. Hal tersebut dapat dijelaskan berdasarkan tabel sebagai berikut.

19

Buku Masyarakat Kesenian Indonesia oleh Muhammad Takari dkk Tahun 2008 hlm. 112-113.

Tabel-4 Indikator Pendidikan Tahun di Desa Sabulan 2011 (%)

Sumber: Pendataan KPMD/ Tim Perumus RPJM-Desa.

2.1.7 Curah hujan

Kecamatan Sitiotio diguyur hujan sebanyak 144 hari selama tahun 2011 Berikut adalah tabel banyaknya curah hujan dan hari hujan di Kecamatan Sitiotio menurut bulan.

Indikator Pendidikan Jumlah

Laki-laki Perempuan Total 1. Partisipasi Pendidikan

a. Penduduk 10 tahun ke atas Menurut Status pendidikan

1) Tidak/ belum pernah Sekolah 76 60 136 2) Masih Sekolah

a. SD 68 70 138

b. SMTP 80 75 155

c. SMTA 75 76 151

d. Diploma/ Sarjana 70 60 130

3) Tidak Sekolah lagi 35 40 75

b. Penduduk 10 tahun ke atas menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

1) Tidak/ Belum pernah Sekolah

30 30 60

2) Tidak/ Belum Tamat SD 28 20 48

a. SD 20 15 35

b. SMTP 15 20 35

c. SMTA 25 18 43

d. Diploma/ Sarjana 35 19 54

2. Angka Buta Huruf 2011 4 5 9

Tabel-5 Banyaknya Curah Hujan (Ch) dan Hari Hujan (Hh) di Kecamatan Sitiotio menurut bulan

No. Nama Bulan Curah Hujan (Ch) Hari Hujan (Hh)

1. Januari 179 mm 12 2. Februari 211 mm 9 3. Maret 240 mm 15 4. April 205 mm 13 5. Mei 113 mm 9 6. Juni 73 mm 6 7. July 5 mm 2 8. Agustus 203 mm 15 9. September 114 mm 11 10. Oktober 167 mm 20 11. November 241 mm 17 12. Desember 192 mm 15

Sumber: Statistik Kecamatan Sitiotio 2011

2.1.8 Jumlah perusahaan

Selama periode tahun 2008-2011, jumlah perusahaan/ usaha berdasarkan surat izin usaha perdagangan (SIUP) yang diterbitkan di Kecamatan Sitiotio menunjukkan perubahan yang signifikan dan sebagian besar peningkatan tersebut dikarenakan peningkatan jumlah perusahaan/ usaha kecil. Berikut ini adalah tabel Jumlah perusahaan/ usaha di Kecamatan Sitiotio tahun 2011.

Tabel-6 Jumlah perusahaan/ usaha di Kecamatan Sitiotio

Uraian Tahun

2008 2009 2010 2011

Menurut golongan perusahaan/ usaha besar

- - 1 1

Perusahaan/ Usaha Menengah

1 3 4 4

Perusahaan/ Usaha Kecil - 12 8 8

Koperasi - 3 3 2

Perorangan - 1 1 -

Badan Usaha Lainnya - - - 1

Sumber: Statistik Kecamatan Sitiotio 2011

2.1.9 Hasil-hasil bumi

Masyarakat di tanah Batak umumnya hidup dari hasil pertanian. Kesuburan tanah dan faktor alam mendukung usaha pertanian di daerah itu khususnya di Kecamatan Sitiotio. Hasil-hasil Bumi di Kecamatan Sitiotio terdiri atas produksi tanaman pangan yaitu: padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu dan ubi jalar. Dan produktivitas sektor pertaniannya yaitu: kelapa, kopi, coklat, dan kemiri.

Tabel-7 Statistik Tanaman Pangan Kecamatan Sitiotio

Jenis tanaman Tahun

2010 2011

Padi Luas Panen (ha) 532 837

Produksi (ton) 3032 4784

Jagung Luas Panen (ha) 28 224

Produksi (ton) 121 941

Tanah Produksi (ton) 27 2

Ubi Kayu Luas Panen (ha) 31 9

Produksi (ton) 465 135

Ubi Jalar Luas Panen (ha) 10 10

Produksi (ton) 140 140

Sumber: Statistik Kecamatan Sitiotio 2011

Tabel-8 Produktivitas Sektor Pertanian di Kecamatan Sitiotio Jenis Tanaman Luas lahan (Ha) Produksi (ton)

Kelapa 1, 52 4, 22

Kopi 215, 55 24, 34

Cokelat 18, 7 36, 25

Kemiri 13, 00 171, 80

Sumber: Statistik Kecamatan Sitiotio 2011

2.10 Keadaan Alam

Topografi wilayah Kecamatan Sitiotio adalah daerah pegunungan dan perbukitan yang terjal dengan dikelilingi sebagian Danau Toba. Ketinggiannya berada di antara 904 - 2.157 meter di atas permukaan laut. Struktur tanahnya labil dan berada pada jalur gempa tektonik dan vulkanik.

Tabel-9 Kondisi Topografi Kecamatan Sitiotio

No. Kemiringan Persentase

1. Datar ± 5%

2. Landai ± 7 %

3. Miring ± 20%

4. Terjal ± 68%

2.11 Sarana Kesehatan Umum

Kecamatan Sitiotio masih minim akan sarana kesehatan umum. Berikut adalah tabel banyaknya sarana kesehatan umum menurut jenis dan desa yang ada di Kecamatan Sitiotio pada tahun 2011.

Tabel-10 Banyaknya sarana kesehatan umum menurut jenis dan desa di Kecamatan Sitiotio

No. Desa Puskesmas Puskesmas Pembantu Polindes Posyandu 1. Tamba Dolok - 1 - 1 2. Cinta Maju - 1 1 2 3. Buntu Mauli - - 1 1 4. Sabulan 1 1 - 2 5. Holbung - - 1 1 6. Janji Raja - - 1 3 7. Janji Maria - - 1 1 8. Parsaoran - 1 - 1 Jumlah 1 4 5 12

Sumber: Statistik Kecamatan Sitiotio 2011

2.12 Seni

2.12.1 Seni sastra

Sebelum sastra tertulis ditemukan di tanah Batak, cerita-cerita yang cukup tinggi nilainya untuk diteladani telah dikenal seperti: cerita tentang binatang, cerita untuk pelipur lara, cerita tentang kebodohan seseorang (si bisuk na oto)

dalam masyarakat, dan cerita mitos lainnya.

Cerita kepercayaan orang Batak Toba tentang dewa-dewa dilukiskan dalam mitos, sesuai dengan alam pikiran orang-orang primitif seperti cerita

tentang terjadinya bumi dan segala isinya. Adapun jenis sastra Batak Toba, seperti:

1. Tonggo-tonggo yaitu semacam doa yang diucapkan oleh datu atau iman agama Batak.

2. Andung-andung yaitu sejenis sastra berupa curahan perasaan sewaktu meratapi jenazah orang yang dikasihi. Biasanya menggunakan ungkapan- ungkapan tertentu yang tidak lazim dalam kehidupan sehari-hari (bahasa halus).

3. Huling-hulingan atau hutinsa disebut juga teka-teki. Kalau teka-teki itu memerlukan jawaban berupa cerita dinamakan torhan-torhanan.

4. Turi-turian yaitu semacam sastra yang mengandung arti historis atau mitologis, seperti cerita dongeng tentang binatang, cerita-cerita leluhur yang sering dikisahkan berupa mitos, seperti mitos terjadinya manusia Batak, Danau Toba, dan lain-lain.

5. Umpama yaitu suatu bentuk penyajian sastra yang bermakna sebagai teladan kebijaksanaan, hukum-hukum lisan, dialog-dialog resmi dalam upacara adat.

6. Umpasa yaitu suatu bentuk penyajian sastra yang dari bentuknya agak sulit dibedakan dengan umpama, tetapi dari isinya, umpasa lebih berkesan religius, dalam arti lebih menekankan hal-hal yang bersifat rahmat, kurnia, dan sebagainya.

7. Tudoson yaitu suatu bentuk penyajian sastra yang berupa perbandingan.Berbagai pemisahan dalam alam dijadikan suatu bandingan

terhadap kehidupan manusia untuk menyatakan perasaan hati atau keadaan sesuatu.20

Berdasarkan jenis sastra Batak Toba diatas maka sejarah tentang Si Raja Lontung tergolong ke dalam jenis Turi-turian, karena mengandung arti historis atau mitologis, yaitu berupa cerita dongeng tentang binatang, dan cerita-cerita leluhur yang sering dikisahkan dalam bentuk berupa mitos.

2.12.2 Seni musik

Seni musik pada masyarakat Batak Toba dapat digolongkan ke dalam dua bagian yaitu musik vokal dan musik instrumen.

2.12.2.1 Musik vokal

Budaya musikal masyarakat Batak Toba tercakup dalam dua bahagian besar, yaitu musik vokal dan musik instrumental. Musik vokal pada masyarakat Batak Toba disebut dengan ende. Dalam musik vokal tradisional, pengklasifikasiannya ditentukan oleh kegunaan dan tujuan lagu tersebut yang dapat dilihat berdasarkan liriknya. Hutasoit yang dikutip oleh Ritha Ony membagi kelompok musik vokal menjadi tiga jenis, yaitu :

1. Ende namarhadohoan, yaitu musik vokal yang diyanyikan untuk acara- acara namarhadodoan (resmi)

2. Ende siriakon, yaitu musik vokal yang dinyanyikan oleh masyarakat Batak Toba dalam kegiatan sehari-hari.

3. Endesibaran, yaitu musik vokal yang dinyanyikan dalam kaitannya dengan berbagai peristiwa kesedihan atau dukacita.

20

Lihat Skripsi Sarjana Tiolina Sinambela Tarombo dalam Gaya Nyanyian Pada Kebudayaan Etnis Batak Toba:Suatu Kajian Musikologis dan Tekstual. Hlm. 42-43.

Berdasarkan klasifikasi jenis ende diatas, maka ende tarombo Si Raja Lontung bukanlah merupakan salah satu jenis ende dalam Batak Toba.

Ende Tarombo merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk mengkaji

tarombo yang disampaikan dengan bentuk gaya nyanyian. Masyarakat Batak Toba biasanya menyebutnya dengan ende tarombo karena sering mendengar sehingga mereka menggunakan istilah tersebut.

2.12.2.2 Musik instrumental

Musik instrumental masyarakat Batak Toba terbagi atas dua bagian berdasarkan bentuk penyajiannya, yakni ada yang lazim digunakan dalam bentuk ensambel, dan ada yang disajikan dalam bentuk permainan tunggal baik dalam kaitannya dengan upacara adat, religi/kepercayaan, maupun sebagai hiburan. Secara umum, pada masyarakat Batak Toba terdapat dua ensambel musik tradisional, yakni : gondanghasapi dan gondangsabangunan.

Dokumen terkait