4.3 Kegunaan Laporan Keuangan
4.3.1 Analisis Menurut Bidang Jabatan Responden
Berdasarkan penilaian responden terhadap kegunaan (usefulness) laporan keuangan yang disajikan Pemkot Salatiga terhadap 12 konteks keputusan yang disediakan dibedakan menurut bidang jabatan, didapat hasil seperti terlihat pada tabel 5 dibawah ini:
Tabel 5
Konteks Keputusan
Neraca LRA LAK LTRPB
Keu (%) Non Keu (%) Keu (%) Non keu (%) Keu (%) Non Keu (%) Keu (%) Non Keu (%) 1 Menilai kinerja Pemkot 80 40 90 70 50 20 80 80 2 Menilai kinerja Program 20 10 100 90 20 20 80 60 3 Menilai efektivitas Pemkot dalam pengelolaan barang/ jasa 30 60 80 30 20 20 50 40 4 Menilai efisiensi Pemkot dalam pengelolaan barang/ 40 50 50 50 10 10 40 70
18 jasa
5 Untuk membantu mengelola aset dan liabilitas (kewajiban) Pemkot 100 90 40 50 10 10 20 30 6 Untuk membantu Pemkot dalam memenuhi kewajiban akuntabilitas 80 50 90 60 50 50 70 50 7 Untuk keputusan alokasi sumberdaya Pemkot 10 20 30 40 20 0 30 30 8 Untuk keputusan belanja modal Pemkot yang besar nilainya 50 40 40 30 20 20 30 40 9 Untuk mengevaluasi keputusan alokasi sumberdaya Pemkot 10 30 30 40 20 0 20 30 10 Untuk menilai kebutuhan sumberdaya masa depan Pemkot 20 30 20 40 10 0 40 70 11 Untuk mengidentifikasi harga pokok barang dan jasa yang disediakan Pemkot
30 30 30 30 0 30 30 10
12 Untuk menilai kebutuhan arus kas Pemkot
10 10 20 10 60 60 10 0
Rata-rata 40 38,3 52 45 24,2 20 42 42,5
Sumber: Data Primer, 2013
4.3.1.1 Kegunaan Neraca
Berdasarkan hasil temuan pada tabel 5, dapat dilihat bahwa rata-rata keseluruhan responden bidang jabatan keuangan dan responden diluar keuangan menilai bahwa neraca tidak berguna untuk sebagian besar situasi keputusan. Untuk beberapa situasi keputusan seperti dalam membantu mengelola aset dan kewajiban Pemkot serta membantu pemkot memenuhi kewajiban akuntabilitas, responden bagian keuangan dan non keuangan menilai neraca berguna untuk konteks keputusan tersebut.
19
Namun terdapat perbedaan pendapat antara responden bagian keuangan dan non keuangan terhadap kegunaan neraca untuk beberapa konteks keputusan. Konteks keputusan tersebut adalah dalam menilai kinerja Pemkot, responden bagian keuangan menilai neraca berguna dalam konteks keputusan tersebut yang terlihat bahwa 80% responden menilai berguna, sedangkan responden non keuangan menilai neraca tidak berguna dalam menilai konteks keputusan tersebut yang terlihat hanya 40% responden yang menilai berguna.
Selanjutnya adalah untuk keputusan belanja Pemkot yang besar nilainya, terlihat bahwa 50% responden keuangan menilai neraca berguna untuk konteks keputusan tersebut dan 50% menilai tidak berguna. Sebaliknya responden non keuangan menilai neraca tidak berguna untuk konteks keputusan tersebut. Terjadinya perbedaan persepsi ini dikarenakan perbedaan bidang jabatan, responden, responden bidang jabatan keuangan diasumsikan lebih mengerti isi dan kegunaan neraca dibanding bidang diluar keuangan.
4.2.1.2 Kegunaan LRA
Berdasarkan temuan tabel 5, terlihat bahwa rata-rata secara keseluruhan responden bidang jabatan keuangan menilai laporan realisasi anggararan (LRA) berguna untuk sebagian besar situasi keputusan. Lebih banyak atau 52% responden bagian keuangan menilai LRA berguna dari pada yang menilai tidak berguna. Sebaliknya responden bidang jabatan non keuangan menilai tidak berguna dari keseluruhan responden 10 orang (100%), yang menilai berguna 45% dan lebih banyak yang menilai tidak berguna. Terjadi perbedaan persepsi terhadap kegunaan LRA antara responden bidang keuangan dengan non keuangan, diasumsikan bahwa responden bagian keuangan lebih memahami dan mengerti terhadap kegunaan LRA dibandingkan dengan responden non keuangan.
Untuk beberapa konteks keputusan, responden non keuangan menilai bahwa LRA berguna untuk beberapa konteks keputusan. Dari 12 konteks keputusan yang ada responden non keuangan menilai LRA berguna untuk 5 situasi keputusan, antara lain menilai kinerja Pemkot 70% responden menilai berguna, menilai kinerja program 90% responden menilai berguna, membantu
20
Pemkot memenuhi kewajiban akuntabilitas sebanyak 60% responden menilai berguna. Dalam konteks keputusan menilai efisiensi dalam pengelolaan barang/jasa, dan membantu mengelola aset dan kewajiban Pemkot responden non keuangan yang menilai berguna dan tidak berguna adalah sama yaitu masing- masing 50%.
4.3.1.3 Kegunaan LAK
Berdasarkan temuan diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata secara keseluruhan responden baik bidang jabatan keuangan maupun non keuangan menilai laporan arus kas (LAK) tidak berguna hampir dalam seluruh situasi keputusan. Responden bidang keuangan dan non keuangan sepakat menilai LAK hanya berguna dalam menilai arus kas yang dibutuhkan Pemkot. Akan tetapi baik responden bidang keuangan maupun non keuangan masih ragu terhadap kegunaan LAK dalam membantu kewajiban akuntabilitas Pemkot, hal tersebut terlihat dari prosentase penilaian responden yaitu 50% responden menilai berguna dan 50% menilai tidak berguna. Dalam wawancara Responden berpendapat bahwa,
“tidak seluruh SKPD menyusun LAK, maka dari itu responden ragu terhadap kegunaan LAK untuk beberapa konteks keputusan termasuk dalam membantu kewajiban akuntabilitas Pemkot”.
Berdasarkan hasil dari kutipan wawancara dapat dikatakan bahwa, responden menilai LAK tidak berguna dikarenakan rata-rata responden ragu terhadap kegunaan neraca. Hal tersebut karena tidak semua SKPD menyusun LAK.
Terdapat perbedaan persepsi antara responden bidang keuangan dengan non keuangan, 50% dari 100% responden bidang keuangan menilai LAK berguna dalam menilai kinerja Pemkot. Sedangkan responden non keuangan menilai LAK tidak berguna dalam menilai kinerja Pemkot, yang terlihat bahwa dari keseluruhan responden non keuangan (100%) yang menilai berguna hanya 20% saja dan lebih banyak dari responden yang menilai tidak berguna.
21 4.3.1.4 Kegunaan LTRPB
Berdasarkan hasil temuan, terlihat bahwa meskipun hampir sama isinya dengan LRA tetapi rata-rata secara keseluruhan responden baik bidang keuangan maupun non keuangan menilai laporan target dan realisasi pendapatan dan belanja (LTRPB) tidak berguna terhadap sebagian besar situasi keputusan. Dapat dilihat pada prosentase rata-rata keseluruhan (100%) responden bidang keuangan yang menilai berguna adalah 42% dan responden non keuangan 42,5%. Lebih banyak responden yang menilai tidak berguna dibandingkan yang menilai berguna.
Untuk beberapa konteks keputusan seperti dalam menilai kinerja Pemkot, menilai kinerja program, membantu Pemkot dalam memenuhi kewajiban akuntabilitas kedua responden sama-sama menilai LTRPB berguna untuk situasi keputusan tersebut. Sedangkan untuk beberapa situasi keputusan terdapat perbedaan persepsi, seperti kegunaan LTRPB dalam menilai efektivitas Pemkot dalam pengelolaan barang/jasa responden bidang keuangan menilai LTRPB berguna dalam konteks keputusan tersebut dan responden non keuangan menilai LTRPB tidak berguna untuk situasi keputusan tersebut.
Kemudian untuk konteks keputusan menilai efisiensi Pemkot dalam pengelolaan barang/jasa serta untuk menilai kebutuhan sumberdaya Pemkot masa depan adalah sama yaitu, sebanyak 70% responden non keuangan menilai LTRPB berguna untuk situasi keputusan tersebut. Sedangkan reponden bagian keuangan menilai tidak berguna. Terlihat bahwa dari keseluruhan (100%) responden yang menilai berguna adalah 40%, lebih banyak responden yang menilai tidak berguna.
4.3.1.5 Analisis kegunaan seluruh laporan keuangan menurut bidang jabatan terhadap 12 konteks keputusan
Dari hasil analisis kegunaan masing-masing laporan keuangan menurut bidang jabatan, terlihat bahwa seluruh laporan keuangan yang disajikan Pemkot Salatiga tidak berguna untuk sebagian besar situasi keputusan. Laporan realisai anggaran (LRA), dan laporan target dan realisasi pendapatan dan belanja (LTRPB) berguna untuk konteks keputusan menilai kinerja Pemkot serta untuk menilai kinerja program.
22
Pada dasarnya seluruh laporan keuangan yang disajikan digunakan sebagai pertanggunjawaban. Oleh karena itu untuk konteks keputusan membantu Pemkot memenuhi kewajiban akuntabilitas seluruh laporan keuangan dinilai berguna dalam situasi keputusan tersebut. Neraca dinilai lebih berguna dalam membantu mengelola aset dan liabilitas Pemkot. Laporan keuangan yang dinilai responden paling tidak berguna untuk sebagian besar konteks keputusan adalah laporan arus kas (LAK). Dalam membuat keputusan tidak selalu menggunakan laporan keuangan, terdapat beberapa dokumen yang digunakan dalam pembuatan keputusan.
Hal tersebut diperkuat dari hasil wawancara dengan responden bidang jabatan keuangan yang menyatakan bahwa,
“untuk mengidentifikasi harga pokok barang atau jasa ada Perwali (Peraturan Walikota Salatiga) mengenai standarisasi indeks biaya dilingkungan Pemkot Salatiga. Standarisasi indeks biaya adalah patokan harga tertinggi belum termasuk pajak untuk menentukan besaran harga barang sesuai jenis, spesifikasi, dan kualitas. Sedangkan yang tertuang dalam LRA dan laporan target dan realisasi pendapatan dan belanja adalah realisasi dari pengadaan barang atau jasa”.
Berdasarkan dari kutipan wawancara tersebut, dapat dikatakan bahwa laporan keuangan tidak digunakan dalam menentukan harga pokok barang dan jasa yang disediakan pemkot. Dalam menentukan harga pokok barang dan jasa digunakan standarisasi harga
Selanjutnya untuk konteks keputusan menilai kebutuhan sumberdaya masa depan responden menyatakan bahwa,
“Untuk menilai kebutuhan sumberdaya masa depan (kebutuhan pegawai, barang/jasa, dll) dikaitkan dengan perencanaan. Ada beberapa dokumen perencanaan seperti RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah), RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah), dan Renstra (Rencana Strategis)”.
Dari kutipan wawancara di atas dapat dikatakan bahwa terdapat dokumen-dokumen lain yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Dalam hal
23
ini pengambilan keputusan tidak selalu menggunakan laporan keuangan yang telah disajikan Pemkot Salatiga.
Selanjutnya pada tabel analisis di atas terlihat bahwa laporan realisasi dinilai berguna untuk sebagian besar konteks keputusan oleh responden keuangan. Hal tersebut diperkuat dengan hasil wawancara sebagai berikut,
“Laporan Realisasi Anggaran digunakan untuk mengungkapkan kegiatan Pemerintah Daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBD, atas kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing SKPD”.
Dari kutipat wawancara tersebut dapat dinilai bahwa, laporan realisasi anggaran berperan untuk mengungkapakan kinerja dari satuan kerja. Oleh karena itu menurut beberapa responden bagian keuangan laporan keuangan yang paling berguna adalah LRA.
Namun beberapa responden juga berpendapat bahwa
“setiap SKPD hanya pelaksana atau pembuat laporan keuangan pada setiap satuan kerja (Satker) masing-masing. Sehingga untuk menilai kegunaan dari laporan keuangan tersebut mereka kurang memahami dan masih ragu atau tidak yakin untuk memberikan penilaian pada kegunaan masing-masing laporan keuangan yang disusun”.
Jadi dapat dikatakan bahwa, responden sebenarnya kurang mengerti kegunaan laporan keuangan yang disajikan Pemkot Salatiga. Karena SKPD disini hanya sebagai pelaksana dalam menyusun lapora keuangan.
4.3.2 Analisis Menurut Tingkat pendidikan