• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Menurut Tingkat pendidikan .1 Kegunaan Neraca

4.3 Kegunaan Laporan Keuangan

4.3.2 Analisis Menurut Tingkat pendidikan .1 Kegunaan Neraca

Berdasarkan hasil penilaian responden terhadap kegunaan (usefulness) Neraca terhadap 12 Konteks keputusan yang disediakan, didapatkan hasil seperti yang terlihat pada tabel 6 di bawah ini:

24 Tabel 6

Penilaian Responden Terhadap Kegunaan Neraca Dalam 12 Konteks Keputusan

Konteks Keputusan Na SLTA D3 S1 S2

(%) (%) (%) (%) (%)

1 Menilai kinerja Pemkot 50 100 0 62,5 100

2 Menilai kinerja Program 0 0 0 12,5 50

3 Menilai efektivitas Pemkot dalam pengelolaan barang/ jasa

50 50 50 37,5 50

4 menilai efisiensi Pemkot dalam pengelolaan barang/ jasa

67 0 0 62,5 0

5 Untuk membantu mengelola aset dan liabilitas (kewajiban) Pemkot

83 100 100 100 100 6 Untuk membantu Pemkot memenuhi

kewajiban akuntabilitas

83 100 50 62,5 50

7 Untuk keputusan alokasi sumberdaya Pemkot

0 0 0 37,5 0

8 Untuk keputusan belanja modal Pemkot yang besar nilainya

50 50 0 50 100

9 Untuk mengevaluasi keputusan alokasi sumberdaya Pemkot

17 100 100 37,5 0 10 Untuk menilai kebutuhan sumberdaya

masa depan Pemkot

34 0 0 37,5 50

11 Untuk mengidentifikasi harga pokok barang dan jasa yang disediakan Pemkot

0 50 50 37,5 50

12 Untuk menilai kebutuhan arus kas Pemkot 0 0 0 25 0

Rata-rata 36,2 45,8 29,2 58,3 45,8

Sumber: Data Primer, 2013

Berdasarkan hasil temuan diatas, terlihat bahwa rata-rata keseluruhan responden dengan pendidikan S1 menilai neraca berguna untuk sebagian besar konteks keputusan. Sebanyak 58,3% responden dengan pendidikan S1 menilai neraca berguna. Sedangkan secara keseluruhan responden dari berbagai tingkat pendidikan menilai neraca tidak berguna untuk sebagian besar konteks keputusan.

Untuk konteks keputusan membantu mengelola aset dan liabilitas Pemkot serta dalam membantu Pemkot memenuhi kewajiban akuntabilitas, seluruh responden dari berbagai tingkat pendidikan menilai neraca berguna untuk situasi keputusan tersebut.

25 4.3.2.2 Kegunaan LRA

Berdasarkan hasil penilaian responden terhadap kegunaan (usefulness) Laporan Realisasi Anggaran terhadap 12 Konteks keputusan yang disediakan, didapatkan hasil seperti yang terlihat pada tabel 7 di bawah ini:

Tabel 7

Penilaian Responden Terhadap Kegunaan Laporan Realisasi Anggaran Dalam 12 Konteks Keputusan

Konteks Keputusan Na SLTA D3 S1 S2

(%) (%) (%) (%) (%)

1 Menilai kinerja Pemkot 83 100 50 75 100

2 Menilai kinerja Program 100 100 100 87,5 100

3 Menilai efektivitas Pemkot dalam pengelolaan barang/ jasa

50 100 0 62,5 50

4 Menilai efisiensi Pemkot dalam pengelolaan barang/ jasa

50 50 50 37,5 100

5 Untuk membantu mengelola aset dan liabilitas (kewajiban) Pemkot

67 50 0 25 100

6 Untuk membantu Pemkot dalam memenuhi kewajiban akuntabilitas

83 100 0 75 100

7 Untuk keputusan alokasi sumberdaya Pemkot

33 0 0 50 100

8 Untuk keputusan belanja modal Pemkot yang besar nilainya

33 50 0 37,5 100

9 Untuk mengevaluasi keputusan alokasi sumberdaya Pemkot

33 100 100 50 100

10 Untuk menilai kebutuhan sumberdaya masa depan Pemkot

33 0 0 37,5 100

11 Untuk mengidentifikasi harga pokok barang dan jasa yang disediakan Pemkot

33 50 0 12,5 50

12 Untuk menilai kebutuhan arus kas Pemkot 0 0 0 37,5 0

Rata-rata 50 58,3 25 55 83,3

Sumber: Data Primer, 2013

Berdasarkan hasil temuan diatas, rata-rata keseluruhan responden dari berbagai tingkat pendidikan menilai bahwa LRA berguna dalam sebagian situasi keputusan. Hanya responden dengan pendidikan D3 saja yang menilai LRA tidak berguna untuk sebagian besar situasi keputusan. Untuk beberapa konteks keputusan seluruh responden dari berbagai tingkat pendidikan menilai LRA

26

berguna. Seperti yang terlihat pada tebel 7, yaitu dalam menilai kinerja Pemkot dan menilai kinerja program.

Terdapat pula perbedaan persepsi mengenai kegunaan LRA menurut tingkat pendidikan, untuk penilaian efektivitas Pemkot dalam pengelolaan barang/ jasa seluruh responden kecuali yang berpendidikan D3 menilai LRA berguna untuk situasi keputusan tersebut. Selanjutnya seluruh responden kecuali yang berpendidikan S1 menilai LRA berguna untuk penilaian efisiensi Pemkot dalam penyediaan barang/ jasa.

4.3.2.3 Kegunaan LAK

Berdasarkan hasil penilaian responden terhadap kegunaan (usefulness) Laporan Arus Kas terhadap 12 Konteks keputusan yang disediakan, didapatkan hasil seperti yang terlihat pada tabel 8 di bawah ini:

Tabel 8

Penilaian Responden Terhadap Kegunaan Laporan Arus Kas Dalam 12 Konteks Keputusan

Konteks Keputusan Na SLTA D3 S1 S2

(%) (%) (%) (%) (%)

1 Menilai kinerja Pemkot 17 100 0 37,5 100

2 Menilai kinerja Program 17 0 0 25 100

3 Menilai efektivitas Pemkot dalam pengelolaan barang/ jasa

17 0 100 0 50

4 Menilai efisiensi Pemkot dalam pengelolaan barang/ jasa

0 50 0 0 50

5 Untuk membantu mengelola aset dan liabilitas (kewajiban) Pemkot

0 50 0 0 50

6 Untuk membantu Pemkot dalam memenuhi kewajiban akuntabilitas

67 50 0 50 100

7 Untuk keputusan alokasi sumberdaya Pemkot

0 0 50 12,5 0

8 Untuk keputusan belanja modal Pemkot yang besar nilainya

0 0 50 25 50

9 Untuk mengevaluasi keputusan alokasi sumberdaya Pemkot

17 100 50 0 0

10 Untuk menilai kebutuhan sumberdaya masa depan Pemkot

27

11 Untuk mengidentifikasi harga pokok barang dan jasa yang disediakan Pemkot

17 0 0 12,5 50

12 Untuk menilai kebutuhan arus kas Pemkot 67 100 100 37,5 100

Rata-rata 20 37,5 29,2 12,5 58,3

Sumber: Data Primer, 2013

Berdasarkan temuan pada tabel 8, terlihat bahwa dari berbagai tingkat pendidikan menilai LAK tidak berguna untuk sebagian besar situasi keputusan. dan rata-rata secara keseluruhan yang menilai LAK berguna untuk sebagian besar situasi keputusan adalah responden dengan pendidikan S2. Untuk menilai kebutuhan arus kas Pemkot seluruh responden dari berbagai tingkat pendidikan kecuali yang berpendidikan S1 menilai LAK berguna dalam konteks keputusan tersebut.

Untuk sebagian besar situasi keputusan lebih banyak yang menilai LAK tidak berguna. Terlihat prosentase pada masing- masing konteks keputusan responden lebih banyak tidak memberikan penilaian 0% atau sama sekali tidak ada yang menilai LAK berguna. Hal tersebut kemungkinan karena para responden kurang mengerti terhadap kegunaan LAK untuk beberapa situasi keputusan. Karena menurut informasi yang didapat dari hasil wawancara dengan beberapa responden, bahwa beberapa SKPD tidak menyusun LAK. Sehingga mereka tidak dapat menilai kegunaan LAK dalam proses pembuatan keputusan.

4.3.2.4 Kegunaan LTRPB

Berdasarkan hasil penilaian responden terhadap kegunaan (usefulness) Laporan Target dan Realisasi Pendapatan dan Belanja terhadap 12 Konteks keputusan yang disediakan, didapatkan hasil seperti yang terlihat pada tabel 9 di bawah ini:

28 Tabel 9

Penilaian Responden Terhadap Kegunaan Laporan Target dan Realisasi Pendapatan dan Belanja Dalam 12 Konteks Keputusan

Konteks Keputusan Na SLTA D3 S1 S2

(%) (%) (%) (%) (%)

1 Menilai kinerja Pemkot 83 100 50 75 100

2 Menilai kinerja Program 67 100 0 75 100

3 Menilai efektivitas Pemkot dalam pengelolaan barang/ jasa

83 50 0 37,5 50

4 Menilai efisiensi Pemkot dalam pengelolaan barang/ jasa

100 0 0 37,5 100

5 Untuk membantu mengelola aset dan liabilitas (kewajiban) Pemkot

33 50 0 12,5 50

6 Untuk membantu Pemkot dalam memenuhi kewajiban akuntabilitas

67 100 50 37,5 100 7 Untuk keputusan alokasi sumberdaya

Pemkot

50 50 50 0 100

8 Untuk keputusan belanja modal Pemkot yang besar nilainya

17 50 50 37,5 100

9 Untuk mengevaluasi keputusan alokasi sumberdaya Pemkot

17 100 50 25 100

10 Untuk menilai kebutuhan sumberdaya masa depan Pemkot

83 0 100 37,5 100

11 Untuk mengidentifikasi harga pokok barang dan jasa yang disediakan Pemkot

0 50 0 12,5 50

12 Untuk menilai kebutuhan arus kas Pemkot 0 0 0 12,5 0

Rata-rata 50 54,2 29,2 43,8 79,2

Sumber: Data Primer, 2013

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 6, dapat dijelaskan bahwa hampir seluruh responden dari berbagai bidang pendidikan menilai laporan terget dan realisasi pendapatan dan belanja (LTRPB) berguna untuk sebagian besar situasi keputusan. dapat terlihar secara rata-rata responden yang menilai LTRPB tidak berguna untuk sebagian besar konteks keputusan adalah responden dengan tingkat pendidikan D3 dan S1.

Meskipun isi dari LTRPB tidak jauh berbeda atau hampir sama dengan isi dari LRA, akan tetapi dapat dikatakan bahwa sebenarnya responden masih ragu

29

untuk menilai kegunaan LTRPB. Terlihat dalam prosentase rata-rata responden yang menilai berguna tidak berbeda jauh dari responden yang menilai tidak berguna. Terlihat lebih jelas pada responden yang tidak menyebutkan tingkat pendidikannya, rata-rata sebagian (50%) menilai berguna dan (50%) reponden menilai tidak berguna.

4.3.2.5 Analisis terhadap kegunaan seluruh laporan keuangan berdasarkan tingkat pendidikan

Berdasarkan hasil analisis dari masing-masing laporan keuangan yang dibedakan menurut tingkat pendidikan, terlihat bahwa hampir sama dengan persepsi responden berdasarkan bidang jabatan. Laporan realisasi anggaran (LRA) dianggap lebih berguna untuk sebagian besar konteks keputusan.

Dalam wawancara yang dijelaskan oleh responden dengan pendidikan SLTA, S1, dan S2 yang menyatakan bahwa,

”LRA menunjukkan ketaatan terhadap APBD atas kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing SKPD”.

Dari kutipan hasil wawancara dapat dikatakan bahwa LRA lebih berguna karena menunjukkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan. Dari LRA dapat terlihat realisasi dan anggaran dari pencapaian kinerja masing-masing SKPD.

Selanjutnya laporan target dan realisasi pendapatan dan belanja (LTRPB) juga dinilai berguna untuk sebagian besar situasi keputusan, meskipun rata-rata responden masih ragu terhadap kegunaan laporan tersebut. Pada dasarnya, rata-rata responden menilai laporan keuangan yang disajikan Pemkot Salatiga tidak berguna. Meskipun untuk beberapa situasi keputusan laporan-laporan tersebut dinilai berguna. Laporan keuangan yang dinilai paling tidak berguna untuk sebagian besar situasi keputusan adalah laporan arus kas (LAK).

30

4.4 Matrik keterpahaman dan kegunaan laporan keuangan yang disajikan

Dokumen terkait