BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
4. Analisis Data
Analisis data merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian dalam rangka memberikan jawaban terhadap masalah yang diteliti. Analisa data adalah proses mengatur urutan data. Dalam penelitian ini analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif.Pendekatan kualitatif adalah merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Data yang terkumpul dipilah-pilah dan diolah serta disusun secara berurutan dan sistematis untuk selanjutnya dianalisis secara kualitatif dengan metode deskriptif normatif sehingga dapat diperoleh gambaran secara menyeluruh tentang gejala dan fakta yang terdapat dalam perkembangan waris beda agama.
Atas dasar pembahasan dan analisis ini maka dapat ditarik kesimpulan dengan menggunakan kerangka berpikir induktif.
BAB II
PANDANGAN HUKUM ISLAM, HUKUM ADAT, DAN HUKUM PERDATA TERHADAP PEWARISAN BEDA AGAMA
A. Ketentuan Hukum Pewarisan Beda Agama Berdasarkan Hukum Islam Masalah kewarisan timbul ketika ada peristiwa kematian seseorang yang meninggalkan kekayaan yang akan diwariskan kepada ahli warisnya, sedang pada pelaksanaannya masalah pembagian warisan ini sering menjadi penyebab persengketaan di antara para ahli warisnya. Untuk itulah syari’at Islam telah mengantisipasinya dengan meletakkan kewarisan Islam secara terperinci dan sistematis. Pengaturan hukum Islam terhadap hukum waris dimaksudkan untuk mencegah timbulnya perpecahan di antara ahli waris, sebagaimana diketahui pada dasarnya manusia cenderung menyukai harta benda.
Hukum kewarisan Islam pada dasarnya berlaku untuk umat Islam dimana saja di dunia ini. Corak suatu negara Islam dan kehidupan masyarakat di negara atau daerah tersebut memberi pengaruh atas hukum pewarisan di daerah itu. Dasar pokok dari semuanya adalah hukum kewarisan Islam yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, kemudian diterapkan pada masyarakat indonesia.
Hukum waris Islam juga merupakan ekspresi penting bagi hukum keluarga Islam, ia merupakan separuh pengetahuan yang dimiliki manusia sebagaimana ditegaskan Nabi Muhammad SAW. Mengkaji dan mempelajari hukum waris Islam berarti mengkaji separuh pengetahuan yang dimiliki manusia yang telah dan terus hidup di tengah-tengah masyarakat muslim sejak masa awal Islam hingga
abad pertengahan, zaman modern dan kontemporer serta di masa yang akan datang.36
Hukum kewarisan dalam Islam mendapat perhatian besar karena pembagian warisan sering menimbulkan akibat-akibat yang tidak menguntungkan bagi keluarga yang ditinggalkan oleh pewarisnya. Kematian seseorang sering berakibat timbulnya sengketa dikalangan ahli waris mengenai harta peninggalannya. Hal seperti ini sangat mungkin terjadi, bilamana pihak-pihak terkait tidak konsisten dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan. Salah satu hal yang memungkinkan terjadinya sengketa waris adalah perbedaan agama antara pemilik harta dan penerima harta dalam keluarga.37
Seiring dengan berkembangnya waktu, kasus-kasus yang terjadi dalam hukum kewarisan beda agama ini semakin marak. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidak-setujuan ahli waris (non-muslim) terhadap pembagian harta yang dinilai tidak adil. Atas pertimbangan kasus inilah maka Mahkamah Agung terdorong untuk mengeluarkan putusan-putusan baru dalam hukum kewarisan beda agama. Namun, putusan Mahkamah Agung disini dinilai tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hukum Islam tentang kewarisan beda agama.38
Secara bahasa kata waris berasal dari bahasa Arab yaitu mirats. Bentuk jamaknya adalah mawaris, yang berarti harta peninggalan orang meninggal yang akan dibagikan kepada ahli warisnya. Sedangkan secara terminologi, mirats
36Moh Muhibbin dan Wahid, Abdul, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, Cet. I, 2009), hal. 69
37Darji Safutra, Pengalihan Atas Harta Warisan Yang Dilakukan Oleh Salah Seorang Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Yang Lain (Studi Putusan MA Nomor 234 PK/Pdt/2004), TesisMagister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2016, hal. 87
38Fatchur Rahman, Ilmu Waris, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1981, hal. 84
berarti warisan harta kekayaan yang dibagi dari orang yang sudah meninggal dunia kepada ahli warisnya.
Salah satu dasar tentang pengaturan pembagian warisan adalah dalam Surat An-Nisa’ ayat 7 yang artinya “Bagi orang laki-laki ada bagian dari harta peninggalan yang di tinggalkan kedua orang tuanya dan kerabatnya. Dan bagi perempuan pun ada bagian dari harta peninggalan yang di tinggalkan oleh kedua orang tuanya, dan kerabat-kerabatnya baik sedikit maupun banyak menurut bagian yang di tetapkan.(Q.S. al-Nisa’ : 7)”.39
Pengertian hukum waris menurut ketentuan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 171 Ayat 1, yang dimaksud dengan Hukum Waris adalah hukum yang mengatur pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagian masing-masing.
Adapun pewarisan harta meliputi semua harta yang dimiliki berkaitan dengan harta kekayaan dan hak-hak lain yang tergantung kepadanya, misalnya utang piutang, hak ganti rugi. Ada pula beberapa kewajiban yang dapat diwariskan, yang dapat diwarisi di luar harta peninggalan. Apa yang ditinggalkan setelah kebutuhan terakhir orang yang meninggal yang harus diselesaikan oleh ahli waris, yakni setelah pelunasan biaya pemakaman, wasiat dan utang piutang yang harus diselesaikan sesuai dengan hukum waris berdasarkan ajaran Al-Qur’an.
39 https://tafsirq.com/4-an-nisa/ayat-7, diakses pada tanggal 21 September 2019
Syarat-syarat waris ada 3 macam, yaitu :40
1. Meninggalnya orang yang mewariskan, baik meninggal menurut hakikat maupun menurut hukum.
2. Ahli waris betul-betul masih hidup, ketika orang yang mewariskan meninggal dunia.
3. Diketahui jahatnya dalam mewarisi, atau posisi penerima warisan diketahui dengan jelas.
Rukun-rukun waris juga ada 3 macam, diantanya yaitu :
2. Adanya orang yang mewariskan yaitu si pewaris itu sendiri, baik nyata maupun dinyatakan mati secara hukum, seperti orang hilang dan dinyatakan mati, sehingga orang lain berhak mendapatkan warisan darinya apa saja yang ditinggalkan sesudah matinya.
3. Ada pewaris yaitu orang yang mempunyai hubungan penyebab kewarisan dengan si pewaris, sehingga dia memperoleh warisan. Misalnya hubungan kekerabatan, pernasaban, perkawinan, dan sebagainya.
4. Adanya harta yang diwariskan yang disebut juga peninggalan atau tirkah, yaitu harta atau hak yang dipindahkan dari yang mewariskan kepada pewaris.
Hal-hal yang menyebabkan seseorang dapat mewarisi terbagi menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut :41
1. Karena hubungan kekerabatan atau hubungan nasab hubungan kekerabatan atau hubungan nasab seperti kedua orang tua, anak, cucu, saudara serta paman dan bibi. Allah SWT berfirman :
40 Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pembagian Waris Menurut Islam, Penerjemah: A.M.
Basalamah, Jakarta: Gema Insani, 2007, hal. 25
41 Ibid, hal. 26
Artinya : “Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
2. Karena hubungan pernikahan
Hubungan Pernikahan ini terjadi setelah dilakukannya akad nikah yang sah dan terjadi antara suami-istri sekalipun belum terjadi persetubuhan. Adapun suami-istri yang melakukan pernikahan tidak sah tidak menyebabkan adanya hak waris.
3. Karena Wala’
Wala’ adalah pewarisan karena jasa seseorang yang telah memerdekakan seorang hamba kemudian budak itu menjadi kaya. Jika orang yang dimerdekakan itu meninggal dunia, orang yang memerdekakannya berhak mendapat warisan.
Orang-orang yang berhak menerima harta peninggalan atau harta warisan (mewarisi) orang yang meninggal disebut ahli waris. Sebab seseorang menjadi ahli waris adalah karena hubungan keluarga, pernikahan, maupun karena memerdekakan hamba sahaya (wala’).
Adapun yang berhak menerima waris tersebut terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :42
1. Ashabul Furudh
Ashabul furudh adalah para ahli waris yang mempunyai bagian tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’ (dalam Alqur’an), yang bagiannya itu tidak akan
42Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Cet. IV, 2001, hal. 33
bertambah atau berkurang kecuali dalam masalah-masalah yang terjadi dalam radd atau ‘aul.
2. Ashabah
Ashabah adalah ahli waris yang mendapatkan harta sisa setelah diambil oleh ahli waris ashabul furudh. Ashabah terbagi menjadi tiga, yaitu : Ashabah bin Nafsi, Ashabah bil Ghairi dan Ashabah Ma’al Ghairi.
3. Dzawil Arham
Dzawil arham adalah Semua ahli waris yang mempunyai hubungan kekerabatan karena hubungan darah dengan si mati. Dzawil arham digunakan untuk menunjuk ahli waris yang tidak termasuk ke dalam ahli waris ashabul furudh dan ashabah.
Terkait dengan pembagian warisan, dalam hukum waris Islam ada ketentuan halangan untuk menerima warisan. Ada tiga yang menjadi penghalang warisan yaitu pembunuhan, beda agama dan perbudakan. Waris mewarisi antara muslim dan non muslim (beda agama) telah ditentukan bahwa berlainan agama yang menjadi penghalang mewarisi adalah apabila antara pewaris dan ahli waris salah satunya beragama Islam dan yang lainnya bukan beragama Islam. Apabila seseorang yang meninggal dunia dan memiliki harta untuk dibagi kepada ahli waris yang berbeda agama, maka tidak terjadi pewarisan antara keduanya.
Adapun dalil yang menjadi dasar hukumnya adalah Sabda Rasulullah Saw, yaitu :
Artinya : “Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi harta orang kafir, dan tidak berhak pula orang kafir mewarisi harta seorang muslim”. 43
Dalam pandangan konsep fiqh konvensional seorang muslim tidak bisa mewarisi harta seorang non muslim dan sebaliknya seorang non muslim tidak dapat mewarisi harta seorang muslim. Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa ahli waris muslim tetap mendapat harta warisan dari pewaris yang kafir. Mereka mengaku bersandar pada pendapat Mu’adz bin Jabal ra, yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi harta orang kafir, tetapi tidak boleh mewariskan hartanya kepada orang kafir.
Sebagian ulama lainnya mengatakan tidak bisa mewariskan. Jumhur ulama termasuk yang berpendapat demikian adalah keempat Imam Mujtahid yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’I dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Waris Islam, maka anak yang lahir dari perkawinan beda agama atau ahli waris yang berbeda agama dengan pewaris tidak mempunyai hak untuk mendapatkan harta waris apabila tidak seagama dengan pewaris yang dalam hal ini pewaris beragama Islam. Meskipun hukum waris Islam tidak memberikan hak saling mewaris antar orang-orang yang berbeda agama (antara muslim dengan non-muslim), tetapi terdapat ketentuan yang menyatakan bahwa pemberian harta antar orang berbeda agama hanya dapat dilakukan dalam bentuk hibah, wasiat dan hadiah.44
43Otje Salman, dan Haffas, Mustofa, Hukum Waris Islam, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), hal. 21
44Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hal. 42
Hal tersebut mengacu pada ketentuan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor : 5/MUNAS VII/9/2005 tentang Kewarisan Beda Agama, yang menetapkan bahwa :
1. Hukum Waris Islam tidak memberikan hak saling mewaris antar orang-orang yang berbeda agama (antara muslim dengan non-muslim).
2. pemberian harta antar orang berbeda agama hanya dapat dilakukan dalam bentuk hibah, wasiat dan hadiah.
Menurut sudut pandang Hukum Waris Islam, maka anak yang lahir dari perkawinan beda agama atau ahli waris yang berbeda agama dengan pewaris tidak mempunyai hak untuk mendapatkan harta waris apabila tidak seagama dengan pewaris yang dalam hal ini pewaris beragama Islam. Meskipun hukum waris Islam tidak memberikan hak saling mewaris antar orang-orang yang berbeda agama (antara muslim dengan non-muslim), tetapi terdapat ketentuan yang menyatakan bahwa pemberian harta antar orang berbeda agama hanya dapat dilakukan dalam bentuk hibah, wasiat dan hadiah. Hal tersebut mengacu pada ketentuan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor: 5/MUNAS VII/9/2005 tentang Kewarisan Beda Agama.45
B. Ketentuan hukum pewarisan Beda Agama Berdasarkan Hukum Adat Menurut Ter Haar, hukum waris adat adalah aturan-aturan hukum yang mengatur cara bagaimana dari abad ke abad penerusan dan peralihan dari harta kekayaan yang berwujud dan tidak berwujud dari generasi pada generasi
45Ibid, hal. 24
berlaku.46 Hilman Hadikusuma mengemukakan bahwa hukum waris adat adalah hukum adat yang memuat garis-garis ketentuan tentang sistem dan asas-asas hukum waris, tentang harta warisan, pewaris, dan waris serta cara bagaimana harta warisan itu dialihkan penguasaan dan pemilikannya dari pewaris kepada waris.47
Dalam strukutur masyarakat hukum adat di Indonesia, menganut adanya tiga macam sistem kekerabatan, yaitu sebagai berikut:
a. Sistem kekerabatan parental, dimana dalam susunan masyarakat ini berdasarkan garis keturunan kedua orang tuanya (ayah dan ibu). Contohnya suku Jawa.
b. Sistem kekerabatan patrilineal, dimana dalam susunan masyarakat ini berdasarkan garis keturunan bapak (laki-laki). Contohnya suku Batak, Bali, Makasar.
c. Sistem kekerabatan matrilineal, dimana dalam susunan masyarakat ini berdasarkan garis keturunan ibu (perempuan). Contohnya suku Minagkabau.
Menurut hukum adat, maka untuk menentukan siapa yang menjadi ahli waris digunakan dua macam garis pokok, yaitu :48
1. Garis pokok keutamaan
Garis pokok keutamaan, adalah garis hukum yang menentukan urutanurutan keutamaan diantara golongan-golongan dalam keluarga pewaris,
46 Ter Haar, Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat, Terjemahan R. Ng Surbakti Presponoto, Let. N. Voricin Vahveve, Bandung, 1990, hlm 47
47 Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Adat, (PT. Citra Aditnya Bakti, Bandung, 2003), hal. 7
48 Lisna Maryani, Hukum Waris dan Hukum Adat, (Alumni, Bandung, 2010), hal. 25
dengan pengertian bahwa golongan yang satu lebih diutamakan daripada golongan yang lain. Penggolongan garis pokok keutamaan adalah sebagai berikut :
Kelompok keutamaan I : Keturunan pewaris Kelompok keutamaan II : Orang tua waris
Kelompok keutamaan III : Saudara-saudara pewaris dan keturunannya Kelompok keutamaan IV : Kakek dan nenek pewaris dan seterusnya.
2. Garis pokok penggantian
Garis pokok penggantian adalah garis hukum yang bertujuan untuk menentukan siapa di antara orang-orang di dalam kelompok keutamaan tertentu, tampil sebagai ahli waris. Yang sungguh-sungguh menjadi ahli waris adalah : 1) Orang yang tidak punya penghubung dengan pewaris.
2) Orang yang tidak ada lagi penghubungnya dengan pewaris.
Di dalam pelaksanaan penentuan para ahli waris dengan mempergunakan garis pokok keutamaan dan pengganti, maka harus diperhatikan dengan seksama prinsip garis keturunan yang dianut oleh suatu masyarakat tertentu.
Di bawah ini akan diuraikan tiga sistem kewarisan menurut hukum Adat Indonesia yaitu:
a. Sistem Kewarisan Individual
Ciri Sistem Kewarisan Individual, ialah bahwa harta peninggalan itu terbagi-bagi pemilikannya kepada para waris, sebagaimana berlaku menurut KUH Perdata (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata), dan Hukum Islam, begitu pula berlaku di lingkungan masyarakat adat seperti pada keluarga-keluarga Jawa, yang parental, atau juga pada keluarga-keluarga yang patrilineal. Pada umumnya
sistem ini cenderung berlaku di kalangan masyarakat keluarga mandiri, yang tidak terikat kuat dengan hubungan kekerabatan. Pada belakangan ini di kalangan masyarakat adat yang modern, di mana kekuasaan penghulu-penghulu adat sudah lemah, dan tidak ada lagi milik bersama, sistem ini banyak berlaku.
Kebaikan sistem individual ini adalah dengan adanya pembagian, maka pribadi-pribadi waris mempunyai hak milik yang bebas atas bagian yang telah diterimanya. Para waris bebas menentukan kehendaknya atas harta warisan yang menjadi bagiannya, ia bebas untuk mentransaksikan hak warisannya itu kepada orang lain. Kelemahannya, ialah bukan saja pecahnya harta warisan, tetapi juga putusnya hubungan kekerabatan antara keluarga waris yang satu dan yang lainnya.
Hal mana berarti, lemahnya asas hidup kebersamaan dan tolong-menolong antara keluarga yang satu dan keluarga yang lain yang seketurunan.49
b. Sistem Kewarisan Kolektif
Ciri sistem kewarisan kolektif, ialah bahwa harta peninggalan itu diwarisi/dikuasai oleh sekelompok waris dalam keadaan tidak terbagi-bagi, yang seolah-olah merupakan suatu badan hukum keluarga kerabat (badan hukum adat).
c. Sistem Kewarisan Mayorat
Ciri sistem kewarisan mayorat, adalah bahwa harta peninggalan orang tua atau harta peninggalan leluhur kerabat tetap utuh tidak dibagi-bagi kepada para waris, melainkan dikuasai oleh anak tertua laki-laki (mayorat laki-laki) di lingkungan masyarakat patrilineal. Kelemahan dan kebaikan sistem kewarisan mayorat, adalah terletak pada kepemimpinan anak tertua dalam kedudukannya
49 Okri Junanda Yuriz, Analisa Hukum Atas Perbedaan Bentuk Keterangan Waris Yang Dibuat Dalam Praktek Notaris Di Kota Medan, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2016, hal. 56
sebagai pengganti orang tua yang telah wafat, dalam mengurus harta kekayaan dan memanfaatkannya guna kepentingan semua anggota keluarga yang ditinggalkan. Hal ini disebabkan, karena anak tertua bukanlah sebagai pemilik harta peninggalan secara perseorangan, tetapi sebagai pemegang mandat orang tua yang dibatasi oleh musyawarah keluarga, dibatasi oleh kewajiban mengurus orang tua yang dibatasi oleh musyawarah keluarga lain, dan berdasarkan atas tolong-menolong oleh bersama untuk bersama.
Pengertian dari harta warisan, adalah harta atau barang-barang yang dibawa oleh suami atau isteri kedalam perkawinan yang berasal dari harta warisan orang tua untuk dikuasai dan dimiliki secara perorangan, guna memelihara kehidupan rumah tangga.
Jenis-jenis harta warisan menurut hukum waris adat adalah sebagai berikut:
1. Kedudukan atau jabatan adat yang bersifat turun temurun merupakan warisan yang tidak berwujud benda. Misalnya kedudukan kepala adatatau petugas-petugas adat. Termasuk warisan kedudukan adat adalah hak-hak dab kewajiban-kewajiban sebagai anggota adat yang mempertahankan tata tertib adat, mengatur acara dan upacara adat, penggunaan alat-alat perlengkapan dan bangunan-bangunan adat, serta bertindak sebagai penengah dalam penyelesaian perselisihan kekerabatan adat.
2. Harta pusaka yang terbagi menjadi dua jenis yaitu harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah. Harta pusaka tinggi adalah semua harta berwujud benda, benda tetap seperti bangunan dan tanah, benda bergerak seperti perlengkapan pakaian
adat dan perhiasan adat, alat senjata, alat-alat pertanian, perikanan, peternakan, jimat-jimat. Sedangkan yang berbentuk benda tidak berwujud adalah seperti ilmu-ilmu ghaib dan amanat-amanat pesan tertulis. Harta pusaka rendah adalah semua harta warisan yang juga tidak terbagi-bagi, yang berasal dari mata pencarian jerih payah kakek/nenek atau ibu/ayah dan kebanyakan tidak terletak di kampung asal.
3. Harta bawaan yang berarti Semua harta warisan yang berasal dari bawaan suami dan atau bawaan istri ketika melangsungkan perkawinan adalah harta bawaan. Jenis harta bawaan dapat berupa barang tetap atau barang bergerak.
4. Harta pencarian yang berarti semua harta warisan yang berasal dari hasil jerih payah suami dan istri bersama selama dalam ikatan perkawinan.
Anak-anak dalam hubungannya dengan orang tua dapat dibedakan antara anak-anak kandung, anak tiri, anak angkat, anak pungut, anak akuan dan anak piara, yang kedudukannya masing-masing berbeda menurut hukum kekerabatan setempat, terutama dalam hubungan dengan masalah warisan.50
a. Anak Kandung
Semua anak yang lahir dari perkawinan ayah dan ibunya adalah anak kandung. Apabila perkawinan ayah dan ibunya sah, maka anaknya adalah anak kandung yang sah, apabila perkawinan ayah dan ibunya tidak sah, maka anaknya menjadi anak kandung yang tidak sah. Menurut hukum adat perkawinan yang sah adalah perkawinan yang dilaksanakan menurut hukum agama Islam dan diakui oleh hukum adat. Anak yang dilahirkan dari perkawinan itu adalah anak yang sah
50 Hasim Purba, Hukum Keluarga dan Kewarisan, Diktat Modul Kuliah, (Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara, Medan, 2017), hal. 14
menurut hukum adat dan oleh karenanya ia berhak sebagai ahli waris dari ayahnya baik dalam harta warisan maupun kedudukan adat.
b. Anak tiri
Anak tiri yang dimaksud di sini adalah anak kandung yang di bawa oleh suami atau istri kedalam perkawinan sehingga salah seorang dari mereka menyebut anak itu sebagai anak tiri. Jadi anak tiri adalah anak bawaan dalam perkawinan.
Kedudukan anak tiri dalam bentuk perkawinan jujur atau semanda tidak terlepas dari pengaruh kekerabatan ayah atau kekerabatan ibu. Lain halnya dalam bentuk perkawinan mentas, yang berlaku pada masyarakat adat keibubapakan, dimana harta perkawinan orang tua dapat dipisah-pisahkan dengan nyata, antara harta bawaan, harta penghasilan, harta pencaharian dan barangbarang hadiah perkawinan. Dalam hal ini anak tiri pada dasarnya hanya mewaris dari orang tua yang melahirkannya.
c. Anak Angkat
Anak angkat adalah anak orang lain yang diangkat oleh orang tua angkat dengan resmi menurut hukum adat setempat, dikarenakan tujuan untuk kelangsungan keturunan dan atau pemeliharaan atas harta kekayaan rumah tangga, contonya di lingkungan masyarakat adat ke-Ibu-an seperti berlaku di daerah Minangkabau, Semendo sumatera selatan dimana keluarga yang hanya mempunyai anak laki-laki tidak mempunyai anak wanita dapat mengangkat anak wanita orang lain untuk dijadikan penerus dan pewaris orang tua angkatnya.
d. Anak Akuan
Anak akuan atau juga dapat disebut anak semang (Minangkabau), anak pungut (Jawa), ialah anak orang lain yang diakui anak oleh orang tua yang mengakui karena belas kasihan atau juga dikarenakan keinginan mendapatkan tenaga pembantu tanpa membayar upah. Kedudukan anak akuan terhadap orangtua yang mengakui bukan sebagai warisnya, oleh karena pada dasarnya pengakuan anak itu tidak mengubah hubungan hukum antara si anak dengan orang tuanya. Kecuali jika kedudukan si anak dirubah dari anak akuan menjadi anak angkat. Adakalanya anak akuan mendapat bagian harta warisan dari orang tua
Anak akuan atau juga dapat disebut anak semang (Minangkabau), anak pungut (Jawa), ialah anak orang lain yang diakui anak oleh orang tua yang mengakui karena belas kasihan atau juga dikarenakan keinginan mendapatkan tenaga pembantu tanpa membayar upah. Kedudukan anak akuan terhadap orangtua yang mengakui bukan sebagai warisnya, oleh karena pada dasarnya pengakuan anak itu tidak mengubah hubungan hukum antara si anak dengan orang tuanya. Kecuali jika kedudukan si anak dirubah dari anak akuan menjadi anak angkat. Adakalanya anak akuan mendapat bagian harta warisan dari orang tua