i
AKIBAT HUKUM PUTUSAN HAKIM ATAS PEWARISAN BEDA AGAMA (Studi Putusan Pengadilan Agama No. 0413/Pdt.G/2011/PA.SAL)
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
DIANA ALFARISA 147011030/M.Kn
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
AKIBAT HUKUM PUTUSAN HAKIM ATAS PEWARISAN BEDA AGAMA (Studi Putusan Pengadilan Agama No. 0413/Pdt.G/2011/PA.SAL)
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
DIANA ALFARISA 147011030/M.Kn
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
Telah diuji pada
Tanggal : 20 Januari 2020
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA, Ph.D Anggota : 1. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN
2. Dr.Utary Maharany Barus, SH, M.Hum 3. Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, M.Hum 4. Dr.Yefrizawati, SH,M.Hum
ABSTRAK
Konsep kewarisan timbul karena adanya kematian. Pembagian waris karena perbedaan agama memang telah menjadi isu penting dalam dinamika yurisprudensi Indonesia di bidang waris atau hukum keluarga pada umumnya.
Acapkali ditemukan dalam satu keluarga, sesama saudara kandung memeluk agama yang berbeda. Masalah yang sering muncul karena adanya salah satu ahli waris yang tidak puas dengan pembagian warisan yang diterimanya. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pandangan hukum Islam, hukum Adat, dan Hukum Perdata terhadap pewarisan beda agama, bagaimana pertimbangan hakim dalam memutus suatu perkara waris beda agama di lingkungan Peradilan Agama, dan bagaimana akibat hukum putusan hakim atas pewarisan beda agama di lingkungan Peradilan Agama. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum dan teori keadilan. Jenis penelitian yang diperlukan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian yuridis normatif. Sifat dari penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis.
Hasil pembahasan yang diperoleh dari permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah dalam menurut hukum Islam tidak diperbolehkan pewaris yang beragama Islam mewarisi harta warisannya kepada ahli waris yang bukan beragama Islam begitupun sebaliknya, menurut hukum Adat tidak dikenal pewarisan beda agama, dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata tidak dikenal pewarisan beda agama. Majelis hakim dalam pertimbangan hukum Putusan Pengadilan Agama Salatiga No. 0413/Pdt.G/2011/PA.SAL tidak merujuk kepada norma hukum yang terkait dengan perkara yang sedang diadili sehingga putusan tersebut dapat dikategorikan putusan yang tidak cukup pertimbangan karena alasan yang dijadikan pertimbangan harus merujuk pada peraturan perundang-undangan, hukum kebiasaan, yurisprudensi, atau doktrin hukum.
Akibat hukum pada penyelesaian pewarisan beda agama dalam pelaksanaannya menimbulkan ketidakpastian hukum baik dalam proses pelaksanaannya maupun status hukum bagi ahli waris yang berbeda agama.
Hendaknya dibuat peraturan-peraturan yang terperinci dan jelas untuk dijadikan sebagai pedoman hakim dalam memutus perkara pewarisan beda agama sehingga tidak terjadi multitafsir, hakim dalam memutuskan suatu perkara waris beda agama hendaknya menggunakan peraturan perundang-undangan, yurisprudensi atau doktrin hukum sehingga tercipta kepastian hukum untuk para ahli waris, hendaknya pemerintah membuat aturan-aturan yang lebih jelas selain peraturan perundang-undangan yang ada.
Kata Kunci: Putusan Hakim, Pewarisan, Beda Agama.
ABSTRACT
The concept of inheritance arises because of death. Distribution of inheritance to heirs with different religious has become an essential issue in the dynamics of Indonesian jurisprudence concerning inheritance or family laws.
Siblings with different religious are commonly found in the society. The problem arises from such situation is that one of the heirs is unsatisfied with the part of inheritance that he receives. The research problems are how inheritance distribution to heirs with different religious is regulated in Islamic Laws, Customary Laws, and Civil Law, and how the legal consideration of the judge in pronouncing the ruling for a case of inheritance distribution to heirs with different religious in Religious Court. This research employs the theory of legal certainty and theory of justice. This is a normative juridical research with descriptive analysis.
The results demonstrate that according to Islamic Laws, a Muslim testator is prohibited to leave his wealth to his heirs who are not Muslim and vice versa.
according to the Customary Laws and the Civil Code, inheritance to heirs with different religious is not acknowledge. He legal consideration of the Panel of Judges at Religious Court of Salatiga pronounced the Ruling Number 0413/Pdg.G/2011/PA.SAL which does not refer to the legal norms that are related to the case so that the ruling can be categorized into the ruling with inadequate consideration because the arguments have to be grounded on provailing laws and regulations, habit evidence law, jurisprudence, or legal doctrines. The legal consequences for the settlement of inheritance distribution to heirs with different religions will result legal uncertainty either in the process of its implementation or in the legal status of the heirs who have different religious.
It is suggested that more detained and understandable regulations be made to become a guidance for judges in pronouncing ruling to a case of inheritance to heirt with different religious, in order to avoid multi- interpretations. It is recommended that the judge, in dealing with such case, apply the prevailing laws and regulations, jurisprudence or legal norms, so that the ruling provides legal certainty for all heirs. It is also suggested that the Government enact more obvious regulations apart from the existing laws and regulations.
Keywords : Judge’s Ruling, Inheritance, Different Religions
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Syukur Alhamdulillah penulis sampaikan kehadirat ALLAH SWT karena hanya dengan berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan judul “Akibat Hukum Putusan Hakim Atas Pewarisan Beda Agama (Studi Putusan Pengadilan Agama No. 0413/Pdt.G/2011/PA.SAL)”.
Penulisan tesis ini merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan dorongan moril berupa masukan dan saran, sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima kasih yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat Prof. H. M.
Hasballah Thaib, MA, Ph.D, Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN dan Dr.Utary Maharany Barus, SH, M.Hum dan selaku Komisi Pembimbing yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada tahap ujian tesis sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah. Kepada Dosen penguji Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, M.Hum dan Dr.Yefrizawati, SH,M.Hum yang telah memberikan masukan / arahan sehingga memperkaya tesis ini.
Selanjutnya di dalam penelitian tesis ini penulis banyak memperoleh bantuan baik berupa pengajaran, bimbingan, arahan dan bahan informasi dari semua pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada kami untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Pascasarjana Magister Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
3. Ibu Dr.T Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum., selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan.
4. Bapak Dr. Edy Ikhsan, SH, MA, selaku Sekretaris Program Study Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan.
5. Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru Besar dan Staf Pengajar dan juga para karyawan Biro Administrasi pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan.
6. Para narasumber atas segala informasi yang telah diberikan untuk melengkapi isi penulisan tesis ini.
Terima kasih teramat dalam kepada kedua orang tua Ayahanda Asmaradani, Ibunda Heni Susanti adikku M. Yudi Guntara terima kasih atas dukungannya. Terima kasih kepada Pakde Heru Hendra Mulia, Bude Dra. Nani Sundari, MAP yang selalu memberikan dukungan dan kesabaran tanpa batas serta menjadi semangat bagi penulis untuk segera menyelesaikan studi secepat mungkin. Terima kasih atas doa dan pengorbanannya.
Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, agar selalu dilimpahkan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan, dan rezeki yang berlimpah kepada kita semua. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun tidak ada salahnya jika penulis berharap kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak.
Medan, Januari 2020 Penulis
Diana Alfarisa
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DATA PRIBADI
Nama : Diana Alfarisa
Tempat / Tgl. Lahir : Medan, 14 Januari 1991 Alamat : Jl. Sakti Lubis No. 37 Status : Belum Menikah
Agama : Islam
Ayah : Asmaradani
Ibu : Heni Susanti
PENDIDIKAN FORMAL
1. SD Swasta Yapena 45 Medan Tahun Tamat 2000
2. SMP N 2 Medan Tahun Tamat 2006
3. SMA N 13 Medan Tahun Tamat 2009
4. S1 Fakultas Hukum UMSU Tahun Tamat 2013
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 14
C. Tujuan Penelitian ... 15
D. Manfaat Penelitian ... 15
E. Keaslian Penelitian ... 16
F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 17
1. Kerangka Teori ... 17
2. Konsepsi ... 23
G. Metode Penelitian ... 25
1. Sifat dan Jenis Penelitian ... 25
2. Sumber Data ... 26
3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 27
4. Analisis Data ... 28
BAB II PANDANGAN HUKUM ISLAM, HUKUM ADAT, DAN HUKUM PERDATA TERHADAP PEWARISAN BEDA AGAMA ... 29 A. Ketentuan Hukum Pewarisan Beda Agama Berdasarkan
Hukum Islam ... 29 B. Ketentuan Hukum Pewarisan Beda Agama Berdasarkan
Hukum Adat ... 36 C. Ketentuan Hukum Pewarisan Beda Agama Berdasarkan
Hukum Perdata ... 46 BAB III PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MEMUTUS
PERKARA WARIS BEDA AGAMA DI PENGADILAN AGAMA ... 64 A. Kasus Posisi Putusan Pengadilan Agama No.
0413/Pdt.G/2011/PA.SAL ... 64 B. Pertimbangan Hukum Majelis Hakim dalam Putusan
Pengadilan Agama No. 0413/Pdt.G/2011/PA.SAL dalam Perkara Pewarisan Beda Agama Berdasarkan Hukum Islam .... 67 C. Analisis Pertimbangan Hukum Majelis Hakim Pengadilan
Agama Salatiga Pada Putusan No. 0413/Pdt.G/2011/PA.SAL dalam Perkara Pewarisan Beda Agama Berdasarkan Hukum Islam ... 71
BAB IV AKIBAT HUKUM BAGI PARA PIHAK ATAS PUTUSAN PENGADILAN AGAMA NO. 0413/PDT.G/2011/PA.SAL TERKAIT PEWARISAN BEDA AGAMA ... 75 A. Analisis Kedudukan Ahli Waris Beda Agama dalam Hukum
Waris Menurut Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam ... 75 B. Perbedaan Pendapat Ulama Dalam Hal Pewarisan Beda
Agama ... 82 C. Akibat hukum Bagi Para Pihak Atas Putusan Pengadilan
Agama No. 0413/Pdt.G/2011/Pa.Sal Terkait Pewarisan Beda Agama ... 91
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 99
A. Kesimpulan ... 99
B. Saran ... 10
DAFTAR PUSTAKA ... 103
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menikah adalah salah satu cara untuk melestarikan kelangsungan hidup manusia. Al-Qur’an dan As-Sunnah menganjurkan agar orang yang sudah mampu untuk menikah agar segera menikah.1 Oleh karena itu, setiap manusia yang normal dan telah dewasa akan mendambakan perkawinan. Di Indonesia perkawinan diatur oleh Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkembangnya masyarakat, permasalahan yang terjadi dalam perkawinan semakin kompleks.
Sehubungan dengan hal itu, dalam kepustakaan hukum Indonesia, muncul istilah perkawinan campuran yang mempunyai arti yang luas, termasuk juga perkawinan antar orang-orang yang berlainan kewarganegaraan, tempat, golongan dan agama.
Oleh karena itu, berlainan pula hukum yang mengatur perkawinan mereka.
Pada kenyataannya, di Indonesia yang terdapat berbagai macam agama dan masyarakat yang pluralistis membuka peluang untuk melakukan perbuatan hukum antara lain saling mengikatkan diri dalam suatu perkawinan, tidak terkecuali perkawinan beda agama yang sampai saat ini masih sering terjadi. Pada kenyataannya perkawinan beda agama masih menimbulkan persoalan baik di bidang sosial, agama maupun bidang hukum. Masalah yang sering timbul dari
1Ali Yusuf Al-Subki, Fiqh Keluarga, (Jakarta: Amzah, 2010), hal. 139
perkawinan beda agama adalah bagaimana agama yang akan dianut oleh anak- anaknya kelak dan bagaimana menentukan ahli warisnya.2
Terdapat dua peristiwa hukum yang terjadi dalam suatu kehidupan, yaitu kelahiran dan kematian. Ketika seseorang yang pada saat karena usianya yang sudah uzur atau karena mengalami kejadian sesuatu, misalnya kecelakaan, terserang penyakit dan lain-lain seseorang itu meninggal dunia yang akan mengakibatkan hubungan-hubungan hukum tersebut tidak akan hilang dikarenakan seseorang yang telah meninggal dunia masih mempunyai keluarga dan sanak saudara yang ditinggalkan.3 Suatu kematian akan mengakibatkan pengalihan hak dan kewajiban. Jika manusia sebagai makhluk sosial meninggal dunia, maka akan timbul pertanyaan bagaimana hubungan yang meninggal dunia dengan yang ditinggalkan serta beberapa ragam coraknya dan mungkin pula terdapat kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi baik oleh si meninggal maupun yang masih hidup, terutama dalam masalah kekayaan, misalnya hukum- hukum yang menyangkut harta warisan, para ahli waris dan segala sesuatu yang menyangkut harta warisan tersebut.4
Hak dan kewajiban yang pada mulanya berada di tangan si meninggal secara hukum akan berpindah kepada mereka yang ditinggalkan yaitu para ahli waris dari si meninggal. Konsep kewarisan timbul karena adanya kematian.
Apabila orang yang meninggal memiliki harta kekayaan, yang menjadi masalah bukan peristiwa kematiannya itu, melainkan harta kekayaan yang ditinggalkan
2Sirman Dahwal, Hukum Perkawinan Beda Agama Dalam Teori dan Praktiknya di Indonesia, (Jakarta : CV Mandar Maju, 2016), hal. 137
3Oemarsalim, Dasar-dasar Hukum Waris di Indonesia, (Jakarta: PT. Rineka Citra, 2014), hal. 117
4 Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2011), hal. 1
dan siapa yang wajib menanggung dan menyelesaikan utang-piutang si meninggal jika ia meninggalkan utang dan menjadi kewajibannya.5
Pada asasnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban hukum dalam lapangan hukum kekayaan atau harta benda saja yang dapat diwariskan. Dalam hukum waris berlaku juga suatu asas, bahwa saat seseorang meninggal dunia, maka seketika itu juga segala hak-hak dan kewajibannya beralih kepada sekalian ahli warisnya. Asas tersebut tercantum dalam pepatah Prancis yang berbunyi le mort saisit levif, sedangkan pengoperan segala hak dan kewajiban dari si meninggal oleh para ahli waris itu dinamakan saisine yaitu suatu asas dimana sekalian ahli wariss dengan sendirinya secara otomatis karena hukum memperoleh hak milik atas segala barang dan segala hak serta segala kewajiban dari seorang yang meninggal dunia.6 Menurut Soepomo hukum waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada turunannya. Proses ini telah dimulai pada waktu orang tua masih hidup. Proses tersebut tidak menjadi akut sebab orang tua meninggal dunia. Memang meninggalnya bapak atau ibu adalah suatu peristiwa yang penting bagi proses itu, akan tetapi sesungguhnya tidak mempengeruhi secara radikal proses penerusan dan pengoperan harta benda dan harta bukan benda tersebut.7
5 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya, 2011), hal. 194
6 Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, (Jakarta: PT. Intermasa, 1982), hal.96
7Soepomo, Bab-bab Tentang Hukum Adat, (Jakarta: Penerbtan Universitas, 1996), hal.
72-73
Berbicara mengenai faraidh atau kewarisan berarti membicarakan peralihan harta dari orang yang telah mati kepada orang yang masih hidup.
Dengan demikian fiqh mawaris mengandung arti ketentuan yang berdasar kepada wahyu Allah yang mengatur tentang peralihan harta dari seseorang yang telah mati kepada orang yang masih hidup.8 Prinsip dari adanya hak waris ialah merupakan bentuk pertanggungjawaban sosial dari anggota keluarga yang mati kepada keluarga yang ditinggalkannya. Sebagai contoh misalnya seorang ayah mati dan hartanya diwariskan kepada isteri dan anak-anaknya.9
Hukum tentang harta sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia, sebab setiap manusia pasti akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian.10 Sifat warisan dalam suatu masyarakat adalah berhubungan erat dengan sifat kekeluargaan serta pengaruhnya pada harta kekayaan dalam masyarakat itu. Sistem perkawinan menentukan sistem keluarga, sistem keluarga menentukan sistem kewarisan. Menurut Hazairin dari seluruh hukum, maka hukum perkawinan dan kewarisanlah yang menentukan dan mencerminkan sistem kekeluargaan yang berlaku dalam masyarakat.11
Subekti dalam Pokok-pokok Hukum Perdata tidak menyebutkan defenisi hukum kewarisan, hanya beliau mengatakan asas hukum waris, menurut Subekti
“Dalam hukum waris Kitab Undang-undang Hukum Perdata berlaku suatu asas, bahwa hanyalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam lapangan hukum
8 Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh (Jakarta: Prenada Media, 2003), hlm. 147
9 Ramlan Yusuf Rangkuti, Pengantar Hukum Waris Islam, (Medan: Fakultas Hukum USU-UISU, 1986), hal. 23
10 Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2005), hal. 1
11 M. Idris Ramulyo II, Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Menurut Hukum Perdata (BW), (Jakarta: Sinar Grafika, 1994), hal. 2
kekayaan harta benda saja yang dapat diwariskan. Oleh karena itu hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam lapangan hukum kekeluargaan pada umumnya hak- hak dan kewajiban-kewajiban kepribadian misalnya hak-hak dan kewajiban- kewajiban sebagai seorang suami atau seorang ayah tidak dapat diwariskan, begitu pula hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang sebagai anggota sesuatu perkumpulan”.12
Pengertian hukum kewarisan menurut Pasal 171 huruf a Kompilasi Hukum Islam adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing. Secara etimologis, faraidh diambil dari kata fardh yang berarti taqdir “ketentuan”. Dalam istilah syara’
bahwa kata fardh adalah bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris.13Sedangkan hukum kewarisan menurut fiqh mawaris adalah fiqih yang berkaitan dengan pembagian harta warisan, mengetahui perhitungan agar sampai kepada mengetahui bagian harta warisan dan bagian-bagian yang wajib diterima dari harta peninggalan untuk setiap yang berhak menerimanya.14
Hukum kewarisan adalah himpunan aturan-aturan hukum yang mengatur tentang siap ahli waris yang berhak mewarisi harta peninggalan dari si meninggal dunia, bagaimana kedudukan ahli waris, berapa perolehan masing-masing secara adil dan sempurna. Dalam konsep pewarisan terdapat subjek hukum yaitu pewaris sebagai anggota keluarga yang meninggal dan ahli waris sebagai anggota keluarga
12Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Cetakan ke XIX, (Jakarta: Intermasa, 1984), hal.
95-96
13 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (Jakarta Selatan: Pena Pundi Aksara, 2006), hal. 479
14http://edon79.wordpress.com/2009/07/10/fiqh-mawaris/, diunduh pada tanggal 10 Desember 2016 pukul 11.00 WIB.
yang ditinggalkan.15 Pewarisan berlangsung sesuai dengan aturan hukum, agama dan adat yang berlaku dalam kelompok masyarakat.
Adapun pewarisan harta meliputu semua harta yang dimiliki berkaitan dengan harta kekayaan dan hak-hak lain yang tergantung kepadanya, misalnya utang-piutang, hak ganti rugi. Adapula beberapa kewajiban yang dapat diwariskan, yang dapat diwarisi di luar harta peninggalan. Apa yang ditinggalkan setelah kebutuhan terakhir orang yang meninggal yang harus diselesaikan oleh ahli waris, yakni setelah pelunasan biaya pemakaman, wasiat dan utang-piutang yang harus diselesaikan sesuai dengan hukum waris berdasarkan ajaran Al- Qur’an.16
Indonesia adalah negara yang penduduknya mempunyai aneka ragam agama, suku, adat dan kebudayaan. Terdapat beraneka ragam sistem hukum kewarisan yang berlaku bagi warga Negara Indonesia, yaitu:
1. Sistem hukum kewarisan Perdata Barat (Eropa), yang tertuang dalam Burgelijk Wetboek (Kitab Undang-undang Hukum Perdata) yang berdasarkan ketentuan Pasal 131 IS jo. Staatsblad 1917 Nomor 129 jo. Staatsblad 1924 Nomor 557 jo. Staatsblad 1917 Nomor 12 tentang penundukan diri terhadap Hukum Eropa, maka Kitab Undang-undang Hukum Perdata berlaku bagi orang-orang Eropa dan mereka yang dipersamakan dengan orang-orang Eropa, orang-orang Timur Asing Tionghoa, orang Timur Asing lainnya dan orang Indonesia yang menundukkan diri kepada hukum Eropa.
15 Abdulkadir Muhammad, Op.Cit., hal. 194
16 M U Sembiring, Beberapa Bab Penting Dalam Hukum Waris Menurut Kitab Undang- Undang Hukum Perdata, (Program Pendidikan Notariat Fakultas Hukum USU, 1989), hal. 65
2. Sistem hukum kewarisan Adat yang beraneka ragam pula sistemnya yang dipengaruhi oleh bentuk etnis di berbagai daerah lingkungan hukum adat, misalnya sistem matrilineal di Minangkabau, patrilineal di Batak, bilateral atau parental di Jawa yang diberlakukan kepada orang-orang Indonesia yang masih erat hubungannya dengan masyarakat hukum adat yang bersangkutan.
3. Sistem hukum kewarisan Islam yang berlaku bagi orang-orang Indonesia yang beragama Islam.
Dengan berlakunya ketiga sistem hukum tersebut di Indonesia mengartikan bahwa setiap warga Indonesia memiliki hukum warisnya masing- masing sesuai dengan golongan yang terdapat di Indonesia. Kitab Undang-undang Hukum Perdata terutama Pasal 528 tentang hak mewaris diidentikkan dengan hak kebendaan, sedangkan ketentuan dari Pasal 854 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyangkutkan hak waris sebagai salah satu cara memperoleh hak kebendaan, oleh karenanya ditempatkan dalam Buku ke II Kitab Undang-undang Hukum Perdata tentang benda. Selain asas kematian, dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata terdapat beberapa asas lain, yaitu:
a. Asas individual, berarti bahwa di mana yang menjadi ahli waris adalah perorangan (secara pribadi) bukan kelompok ahli waris dan bukan kelompok klan, suku atau keluarga. Asas ini dapat dilihat dalam Pasal 852 jo. 852a yang menentukan bahwa yang berhak menerima warisan adalah suami atau istri yang hidup terlama, anak beserta keturunannya.
b. Asas bilateral, berarti bahwa seseorang tidak hanya mewaris dari bapak saja tetapi juga sebaliknya dari ibu, demikian juga saudara laki-lakinya, maupun
saudara perempuannya. Asas ini dapat dilihat dalam Pasal 850, 853, dan 856 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang mengatur bila anak-anak dan keturunannya serta suami atau istri yang hidup terlama tidak ada lagi maka harta peninggalan dari si meninggal diwarisi oleh ibu dan bapaknya serta saudara laki-laki maupun saudara perempuan.
c. Asas perderajatan, berarti ahli waris yang derajatnya dekat dengan si pewaris menutup ahli waris yang lebih jauh derajatnya.
Menurut Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, harta peninggalan dan harta warisan dapat dijumpai dalam Buku II tentang Hukum Kewarisan pada Bab I tentang Ketentuan Umum poin d dan e yang mengemukakan sebagai berikut:
1. Poin d menyatakan “harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa harta benda yang menjadi miliknya miliknya maupun hak-haknya”.
2. Poin e menyatakan harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tahjis), pembayaran utang dan pemberian untuk kerabat.
Sistem kewarisan Islam menurut Al-Qur’an sesungguhnya merupakan perbaikan dan perubahan dari prinsip-prinsip hukum waris yang berlaku di negeri Arab sebelum Islam, dengan sistem kekeluargaannya yang patrilineal. Terdapat beberapa asas hukum kewarisan Islam, antara lain:
1. Asas ijbari, yaitu berarti terjadinya peralihan harta seseorang yang telah meninggal dunia kepada yang masih hidup dengan sendirinya, maksudnya
tanpa ada perbuatan hukum atau pernyataan kehendak dari si pewaris, bahkan si pewaris (semasa hidupnya) tidak dapat menolak atau menghalang-halangi terjadi peralihan tersebut.
2. Asas bilateral, berarti bahwa seseorang menerima hak warisan dari kedua belah pihak garis kerabat yaitu dari garis keturunan perempuan maupun garis keturunan laki-laki.
3. Asas individual, berarti bahwa setiap ahli waris (secara individu) berhak atas bagian yang didapatnya tanpa terikat kepada ahli waris lainnya.
4. Asas keadilan berimbang, berarti keseimbangan antar hak dan kewajiban dan keseimbangan antara yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaan.
5. Asas semata akibat kematian, berarti bahwa terjadinya peralihan harta hanya semata-mata disebabkan adanya kematian.
Dalam hal tertentu hukum waris Islam mempunyai corak tersendiri, berbeda dengan hukum kewarisan yang lain. Di antara asas yang melekat pada hukum kewarisan Islam adalah asas personalitas keIslaman. Asas ini menjelaskan bahwa peralihan harta warisan hanya terjadi antara pewaris dan ahli waris yang sama-sama beragama Islam. Apabila terjadi perbedaan maka tidak ada hak saling mewarisi.17
Hukum waris adat adalah hukum adat yang memuat garis-garis ketentuan tentang sistem dan asas-asas hukum waris, tentang harta warisan, pewaris dan waris serta cara-cara bagaimana harta warisan itu dialihkan penguasaan dan
17 Rivera Wijaya, Akibat Hukum Penghibahan Seluruh Harta Warisan Oleh Pewaris Sehingga Melanggar Legitime Portie Ahli Waris Ditinjau Dari Kuhperdata (STUDI PUTUSAN NOMOR 188/PDT.G/2013/PN.SMG), Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2016, hal. 44
kepemilikannya kepada ahli waris.18 Hukum waris adat di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh susunan masyarakat kekerabatannya yang berbeda. Sebagaimana dikatakan Hazairin bahwa “hukum waris adat mempunyai corak tersendiri dari alam pikiran masyarakat yang tradisional dengan bentuk kekerabatan yang sistem keturunannya patrilineal, matrilineal, parental dan bilateral”.19 Dalam hukum waris adat bangsa Indonesia bukan semata-mata terdapat asas kerukunan dan asas kesamaan hak dalam pewarisan, karena berpangkal tolak pada sila-sila pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, maka terdapat juga asas-asas hukum yang terdiri dari:
a. Asas ketuhanan dan pengendalian diri dengan dasar hukum orang berpegang pada ajaran ketuhanan yang maha esa, karena iman dan takwanya ia mengendalikan diri menahan nafsu kebendaan dan untuk dapat mengendalikan diri dalam masalah kewarisan, sehingga akan selalu menjaga kerukunan hidup antara para waris dan anggota keluarga dari pertentangan.
b. Asas kesamaan hak dan kebersamaan hak adanya sikap dalam hukum waris adat. Sesungguhnya bukan menentukan banyaknya bagian warisan yang harus diutamakan, tetapi kepentingan dan kebutuhan para waris yang dapat dibantu oleh adanya warisan itu. Sehingga pembagian tidak selalu sama hak dan sama banyak bagian pria dan wanita.
c. Asas kerukunan dan kekelurgaan. Suatu asas yang dipertahankan untuk tetap memelihara hubungan kekeluargaan yang tentram dan damai dalam
18 Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata Dalam Sistem Kewarisan Nasional, (Jakarta:
Kencana), hal. 296
19 Hilman Hadikusuma, Op.Cit., hal. 203
mengurus, menikmati dan memanfaatkan warisan yang tidak terbagi-bagi ataupun dalam menyelesaikan masalah pembagian pemilikan harta warisan yang dibagi.
d. Asas musyawarah dan mufakat. Dalam mengatur atau menyelesaikan harta warisan setiap anggota waris mempunyai rasa tanggung jawab yang sama dan/atau hak dan kewajiban yang sama berdasarkan musyawarah dan mufakat bersama.
e. Asas keadilan dan parimirma. Asas welas kasih terhadap anggota keluarga pewaris, dikarenakan keadaan, kedudukan, jasa, karya dan sejarahnya.
Sehingga walaupun bukan ahli waris namun wajar untuk juga diperhitungkan mendapat bagian harta warisan.20
Pembagian waris karena perbedaan agama memang telah menjadi isu penting dalam dinamika yurisprudensi Indonesia di bidang waris atau hukum keluarga pada umumnya. Kebhinekaan masyarakat Indonesia adalah sebuah keniscayaan yang seharusnya juga tergambar dalam penegakan hukum. Dalam beberapa yurisprudensi saudara berbeda agama berhak atas harta waris.
Kewarisan beda agama merupakan salah satu persoalan kontemporer dalam pemikiran hukum Islam kontemporer. Di satu sisi, Al-Qur’an tidak menjelaskan tentang bagian ahli waris untuk non muslim, sedangkan hadits juga tidak memberikan penjelasan sedikitpun bagian harta bagi ahli waris non muslim,
20 http://alutsblog.blogspot.co.id/2011/08/pengertian -azas-dan-sistem-pewarisan.html
?m=1, diakses pada tanggal 15 Januari 2017 pukul 13.00 WIB
namun di sisi lain tuntutan keadaan dan kondisi menghendaki hal yang sebaliknya.21
Harta benda diberikan oleh Allah SWT kepada umat manusia, disamping untuk memenuhi kebutuhan pemiliknya dalam upaya mengabdi kepada yang Maha Pemberi, juga antara lain untuk mempererat hubungan persaudaraan.
Namun, kematian seseorang sering mengakibatkan terjadi sengketa antara para ahli warisnya mengenai harta peninggalannya.Hal seperti ini sangat mungkin terjadi bilamana pihak-pihak yang terkait tidak konsisten dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan.
Naluri manusia yang menyukai harta benda tidak jarang memotivasi seseorang untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta warisan.
Masalah ini sering muncul karena adanya salah satu ahli waris yang tidak puas dengan pembagian warisan yang diterimanya. Hal ini timbul dari sifat manusia yang serakah yang berkeinginan untuk selalu mendapatkan yang lebih dari yang telah diperolehnya.
Selama ini perbedaan agama dipandang sebagai salah satu faktor yang menghambat seseorang mendapatkan warisan dari orang tuanya. Tetapi pandangan itu tampaknya mulai ditinggalkan. Masyarakat Indonesia yang majemuk berpengaruh pada pola pembentukan keluarga. Acapkali ditemukan dalam satu keluarga, sesama saudara kandung memeluk agama yang berbeda.
21http://juraganmakalah.blogspot.co.id/2013/06/hukum-waris-beda-agama-dalam- Islam.html, diakses pada tanggal 20 Januari 2017 pukul 18.00 WIB
Namun, dalam praktiknya kerukunan itu sering terganggu oleh masalah pembagian warisan.22
Timbulnya sengketa kewarisan khususnya kewarisan berlainan agama sebagai penghalang untuk menerima warisan dalam hal ini sering menjadi konflik di antara para ahli warisnya. Kenyataan demikian telah ada dalam sejarah umat manusia hingga sekarang ini. Terjadi gugat waris di pengadilan baik Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama, menunjukkan fenomena ini. Seiring dengan berkembangnya waktu, kasus-kasus yang terjadi dalam hukum kewarisan beda agama ini semakin marak. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidaksetujuan ahli waris (non muslim) terhadap pembagian harta yang dinilai tidak adil. Atas pertimbangan kasus-kasus yang terjadi inilah maka Mahkamah Agung terdorong untuk mengeluarkan putusan-putusan baru dalam hukum kewarisan beda agama.
Namun, putusan Mahkamah Agung di sini dinilai tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hukum Islam tentang kewarisan beda agama. Untuk memperjelas hal tersebut terdapat salah satu kasus yang akan saya teliti yaitu Putusan Nomor 0413/Pdt.G/2011/PA.SAL dimana terdapat beberapa orang ahli waris yang berbeda agama bersengketa mengenai harta warisan orangtuanya. Pemohon I berinisial SB beragama Khatolik dan Pemohon II berinisial JBS beragama Kristen mengajukan permohonan ke Pengadilan Agama dengan Termohon I berinisial R beragama Islam, Termohon II berinisial S beragama Islam, Termohon III berinisal ES beragama Islam, Termohon IV berinisial S beragama Islam. Bahwa Pemohon telah mengajukan permohonannya secara tertulis tanggal 23 Mei 2011 yang
22 Febry Wenny Nasution, Analisis Yuridis Atas Pengalihan Harta Warisan Milik Bersama Anak Di Bawah Umur Yang Berupa Hak Atas Tanah, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2012, hal. 85
didaftarkan di kepaniteraan Pengadilan Agama Salatiga No.
0413/Pdt.G/2011/PA.SAL. Pemohon dan Termohon merupakan anak-anak dari almarhumah S dan almarhum N. Bahwa almarhumah S, selain meniggalkan ahli waris juga meninggalkan harta warisan yaitu berupa tanah berikut dengan bangunannya dengan luas ± 185m2 yang terletak di Jalan Jatirejo 588 RT 01/03 Salatiga. Mereka telah membuat surat kesepakatan pembagian warisan yang telah ditandatangani oleh para ahli waris bermaterai cukup pada tanggal 12 April 2010, namun tidak pernah direalisasikan pembagiannya dikarenakan keempat Termohon tidak merespon dan justru menghindar dan harta dikuasai oleh Termohon I berinisial R.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penulisan dengan judul “Akibat Hukum Putusan Hakim Atas Pewarisan Beda Agama (Studi Putusan No. 0413/Pdt.G/2011/PA.SAL)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuyraikan di atas, maka ditarik permasalahan yang dapat diteliti dan dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pandangan hukum Islam, hukum Adat, dan Hukum Perdata terhadap pewarisan beda agama?
2. Bagaimana pertimbangan hakim dalam memutus perkara waris beda agama di Pengadilan Agama?
3. Bagaimana akibat hukum bagi para pihak atas Putusan Pengadilan Agama No. 0413/Pdt.G/2011/Pa.Sal terkait pewarisan beda agama?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam, hukum Adat dan hukum Perdata mengenai pewarisan beda agama.
2. Untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam memutus perkara waris beda agama pada Pengadilan Agama.
3. Untuk mengetahui akibat hukum bagi para pihak atas Putusan Pengadilan Agama No. 0413/Pdt.G/2011/Pa.Sal terkait pewarisan beda agama.
D. Manfaat Penelitian
Atas dasar tujuan tersebut di atas, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat secara teoritis
Penulisan ini sekiranya dapat memperkaya khasanah pengetahuan di bidang hukum waris, khususnya mengenai perkara waris beda agama sehingga dapat bermanfaat bagi perkembangan hukum waris di Indonesia.
2. Manfaat secara praktis
Hasil dari penulisan tesis ini diharapkan akan memberikan manfaat secara praktis, yaitu kepada:
a. Masyarakat, memberi pengetahuan dan pemahaman mengenai dasar hukum pembagian warisan kepada ahli waris khususnya bagi masyarakat yang memiliki pewaris atau ahli waris yang berbeda agama.
b. Instansi terkait dan praktisi hukum, untuk memberikan masukan mengenai perkara pembagian warisan terhadap perkawinan berbeda agama.
c. Peneliti, memberikan masukan dan bahan pembandingan bagi para peneliti yang tertarik mendalami hal-hal yang berkaitan dengan hukum waris khususnya hukum waris terhadap perkawinan beda agama.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran kepustakaan sementara di lingkungan Universitas Sumatera Utara, khususnya dilingkungan Pascasarjana Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa penelitian dengan beberapa judul tesis yag berhubungan dengan topik tesis ini antara lain:
1. Penelitian dengan judul “Pembagian Harta Warisan Orang Yang Berbeda Agama Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 51K/AG/1999)”, oleh Syahriani, NIM:
077011084 dengan rumusan masalah:
a. Hak-hak apakah yang didapat oleh ahli waris yang berbeda agama dengan pewaris?
b. Dapatkah diberlakukan wasiat wajibah bagi orang yang berbeda agama?
c. Berapakah bagian harta pewaris yang dapat diterima melalui wasiat wajibah untuk orang yang berbeda agama?
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori adalah menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi, suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.23 Teori bukanlah pengetahuan yang sudah pasti, tetapi harus dianggap sebagai petunjuk, analisis dari hasil penelitian yang dilakukan, sehingga merupakan eksternal bagi penelitian ini.24 Teori adalah suatu penjelasan yang berupaya untuk menyederhanakan pemahaman mengenai suatu fenomena atau teori juga merupakan simpulan dari rangkaian berbagai fenomena menjadi sebuah penjelasan yang sifatnya umum.25
Kerangka teori merupakan teori yang dibuat untuk memberikan gambaran yang sistematis mengenai masalah yang diteliti. Teori diartikan sebagai suatu sistem yang berisikan proporsi-proporsi yang telah diuji kebenarannya, berpedoman kepada teori maka akan dapat menjelaskan aneka macam gejala social yang dihadapi, walau hal ini tidak selalu berarti adanya pemecahan terhadap masalah yang dihadapi, suatu teori juga mungkin memberikan pengarahan pada efektifitas penelitian yang dijalankan dan memberikan taraf pemahaman tertentu.26 Kerangka teori dapat disajikan sebagai bahan masukan eksternal bagi peneliti yang berfungsi sebagai kerangka penelitian. Tesis mengenai suatu kasus ataupun permasalahan yang dijadikan sebagai
23JJJ. Wuisman, Penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu Sosial Jilid I, (Jakarta:
Universitas Indonesia Press, 1996), hal. 203
24 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal. 27 dan 80
25 Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004), hal. 113
26 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UII Press, 1991), hal. 6
perbandingan, pegangan teoritis apakah disetujui atau tidak dengan pegangan teori.
Teori hukum merupakan kelanjutan dari usaha untuk mempelajari hukum positif, dimana teori hukum menggunakan hukum positif sebagai bahan kajian dengan telaah filosofis sebagai salah satu sarana bantuan untuk menjelaskan tentang hukum. Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus permasalahan yang menjadi bahan perbandingan pegangan teoritis yang mungkin ia dapat disetujui atau tidak.27 Fungsi penelitian ini adalah untuk memberi arahan, petunjuk serta menjelaskan gejala yang diamati.28 Dikarenakan penelitian ini adalah penelitian hukum, maka kerangka teori diarahkan secara ilmu hukum dan mengarahkan kepada unsur hukum.
Dalam penelitian ini permasalahan hukum yang dijumpai akan dianalisa menggunakan teori kepastian hukum dan teori keadilan. Teori kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian yaitu:
a. Adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan;
b. Berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena adanya aturan hukum yang bersifat umum individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang melainkan juga konsistensi dalam putusan hakim
27 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Medan: Sofmedia, 2012), hal. 129
28Snelbecker dalam Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1993), hal. 35
antara putusan hakim yang satu dengan hakim lainnya untuk kasus yang serupa yang telah diputuskan.29
Kepastian hukum merupakan suatu hal yang hanya bisa dijawab secara normatif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, bukan sosiologis. Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi-tafsir) dan logis dalam arti menjadi sistem norma dengan norma yang lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma yang ditimbulkan dari ketidakpastian. Kepastian hukum sendiri hakikatnya merupakan tujuan utama dari hukum. Keteraturan masyarakat berkaitan erat dengan kepastian dalam hukum, karena keteraturan merupakan inti dari kepastian itu sendiri. Dari keteraturan akan menyebabkan seseorang hidup secara berkepastian dalam melakukan kegiatan yng diperlukan dalam kehidupan masyarakat.
Hubungan antara keadilan dan kepastian hukum perlu diperhatikan, oleh karena kepastian hukum harus dijaga demi keamanan dalam negara, maka hukum positif harus ditaati, walaupun isinya kurang adil, atau tidak sesuai dengan tujuan hukum. Tetapi dapat dikecualikan yakni apabila bertentangan antara isi tata hukum dengan keadilan begitu besar, apabila tata hukum itu tampak tidak adil pada saat itu, maka tata hukum boleh dilepaskan.
Menurut Sudikno Mertokusumo kepastian hukum merupakan sebuah jaminan bahwa hukum tersebut harus dijalankan dengan cara yang baik. Kepastian
29 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2008), hal. 158
hukum menghendaki adanya upaya pengaturan hukum dalam perundang- undangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang dan berwibawa, sehingga aturan-aturan itu memiliki aspek yuridis yang dapat menjamin adanya kepastian bahwa hukum berfungsi sebagai suatu peraturan yang harus ditaati.30
Van Kant mengatakan bahwa hukum mempunyai tugas untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat.31 Dengan demikian, kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian, yaitu yang pertama bahwa adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan kedua adalah adanya perlindungan bagi individu terhadap kesewenang-wenangan karena adanya suatu aturan tertentu. Kepastian hukum memiliki sifat antara lain bahwa adanya sanksi dari penguasa untuk membina dan mempertahankan tata tertib masyarakat dan merupakan peraturan umum yang berlaku bagi siapa saja.
Kepastian hukum bagi subjek hukum dapat diwujudkan dalam bentuk yang ditetapkan terhadap suatu perbuatan yang menciptakan peristiwa hukum.
Hukum yang berlaku pada prinsipnya harus ditaati dan tidak boleh menyimpang atau disampingkan oleh subjek hukum. Ada istilah fiat justitia et pereat mundus yang diterjemahkan secara bebas menjadi “meskipun dunia runtuh hukum harus ditegakkan” yang menjadi dasar dari asas kepastian dianut oleh aliran positivisme.
Kepastian hukum bermuara pada ketertiban secara sosial. Dalam kehidupan sosial, kepastian adalah mensyaratkan kedudukan subjek hukum dalam suatu perbuatan
30 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberti, 2003), hal. 77
31 C.T.S Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal. 44
dan peristiwa hukum. Jika dikaitkan dengan pembagian warisan yaitu pembagian warisan baik secara hukum Islam, Hukum Adat maupun hukum Perdata ketiganya mempunyai ketentuan hukumnya masing-masing dan apabila dijalankan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku maka akan tercapai kepastian hukum dalam pelaksanaan pembagiannya. Sampai saat ini kepastian hukum mengenai hukum waris belum bisa diwujudkan dikarenakan terdapat pluralisme hukum. Kepastian hukum dalam pembagian warisan telah di atur secara jelas dalam peraturan perundang-undangan, Kompilasi Hukum Islam, Al-Qur’an dan Hadits sehingga terdapat kepastian hukum dalam hal tersebut. Jelas diatur siapa-siapa saja yang berhak menjadi ahli waris, apa yang dapat menyebabkan seseorang mendapat atau tidak mendapat warisan, berapa bagiannya, dan lain-lain.
Selain menggunakan teori kepastian hukum dalam menganalisis tesis ini, juga menggunakan teori keadilan. Adil dalam bahasa Arab disebut Al-adlu, berarti menetapkan hukum dengan benar. Adil berarti mempersamakan sesuatu dengan yang lain, baik dari segi nilai, maupun dari segi ukuran, sehingga sesuatu itu menjadi tidak berat sebelah, dan menjadi tidak berbeda antara satu dengan yang lain. Keadilan dalam hukum ditentukan oleh tujuannya. Oleh karena itu, keadilan dalam hukum Islam berbeda dengan hukum positif. Karena tujuan kedua hukum tersebut berbeda. Keadilan menurut Islam digantungkan pada keadilan yang telah ditentukan oleh Allah SWT, karena tidak mungkin manusia mengetahui keadilan itu secara benar dan tepat. Dalam hukum Islam, keimanan mendahului pengertian, karena telah ditetapkan bahwa segala yang telah ditetepkan oleh Allah SWT pasti adil. Sedangkan adil menurut hukum positif sepenuhnya digantungkan pada
penalaran manusia. Oleh karena itu masuk dalam ranah filsafat hukum, dan karena itu pula pengertian keadilan selalu berubah dari masyarakat satu ke masyarakat yang lain, tergantung pada aliran filsafat hukum yang dianut oleh masyarakat tersebut. Keadilan bukan hanya sebatas hubungan manusia dengan Allah SWT.
Akan tetapi, keadilan juga berlaku bagi hubungan manusia mengarah pada berbagai defenisi keadilan yang bukan tidak mungkin antara satu masyarakat manusia dengan lainnya berbeda dalam mengartikan keadilan hukum. Dengan kata lain fleksibilitas produk keadilan mutlak diperlukan dalam heterogenitas manusia dan lingkungannya, sedangkan muara keadilan kepada Allah adalah produk hukum yang ada tetapi menempatkan Allah sesuai dengan proporsi-Nya sebagai Tuhan, dan kegiatan manusia dalam upaya formulasi tujuan hukum berupa keadilan juga tetap pada koridor ibadah kepada-Nya.
Hukum sebagai sarana menuju keadilan baru dikatakan efektif apabila ada perpaduan nilai-nilai keadilan yang substansif antara peran hukum (Al-Qur’an dan Hadits) dengan masyarakat sebagai orang yang secara langsung dibebani hukum.
Tujuan akhir hukum adalah keadilan. Dikaitkan dengan fungsinya sebagai perlindungan kepentingan manusia, hukum mempunyai tujuan dan sasaran yang hendak dicapai. Adapun tujuan produk hukum adalah menciptakan tatanan masyarakat yang tertib, menciptakan ketertiban dan keseimbangan. Dengan tercapainya ketertiban dalam masyarakat diharapkan kepentingan manusia akan terlindungi. Dalam mencapai tujuan tersebut hukum bertugas membagi hak dan kewajiban antar perorangan di dalam masyarakat, membagi wewenang dan mengatur cara memecahkan masalah hukum serta memelihara kepastian hukum.
Dalam kaitannya dengan pembagian warisan adalah dalam memecahkan masalah kewarisan hendaknya dilihat apakah pembagiannya dapat dikatakan adil atau tidak kepada para ahli waris. Adil yang dimaksud bukanlah harus sama rata antara para ahli waris, karena adil untuk seseorang belum tentu adil menurut orang lain. Adil dalam hal pembagian warisan juga harus melihat besarnya kewajiban yang akan ditanggung oleh ahli waris. Sebagai contoh laki-laki akan memperoleh porsi waris yang lebih besar dibandingkan seorang perempuan dikarenakan kewajiban sebagai seorang laki-laki lebih besar daripada perempuan dikarenakan saat ia menerima warisan ia berkewajiban untuk menjaga dan menafkahi keluarganya sedangkan perempuan memiliki tidak memiliki kewajiban untuk menjaga keluarganya dikarenakan ia akan mengikuti suaminya apabila ia telah menikah. Sehingga dalam pebagian warisan haruslah melihat sisi keadilannya.
2. Kerangka Konsepsional
Konsep adalah salah satu bagian terpenting dari teori.Landasan konsepsional dalam penelitian ini sebagai pedoman konseptual dengan tujuan untuk menghindari pemahaman atau penafsiran yang berbeda dari konsep-konsep yang digunakan. Agar menghindari terjadinya salah pengertian dan pemahaman yang berbeda tentang tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, maka perlu diuraikan pengertian konsepsi yang digunakan, yaitu:
a. Akibat
Akibat merupakan sesuatu yang merupakan akhir atau hasil suatu peristiwa (perbuatan, keputusan); persyaratan atau keadaan yang mendahuluinya.32
32 https://kbbi.web.id, diakses pada tanggal 21 Mei 2018
b. Hukum
Hukum merupakan peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah; undang-undang, peraturan, dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat; patokan (kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa (alam dan sebagainya) yang tertentu; keputusan (pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim (dalam pengadilan); vonis.33
c. Putusan
Putusan merupakan pernyataan hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam sidang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara gugatan.
d. Waris
Waris merupakan harta benda dan hak yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal untuk dibagikan kepada yang berhak menerimanya.
e. Beda Agama
Berbeda agama maksudnya berbeda kepercayaan, keyakinan yang dianut.
f. Pengadilan Agama
Pengadilan Agama adalah pengadilan tingkat pertama yang melaksanakan kekuasaan kehakiman di lingkungan peradilan agama yang berkedudukan di ibu kota kabupaten atau kota.
33 https://kbbi.web.id/hukum, diakses pada tanggal 21 Mei 2018
g. Ahli waris
Ahli waris merupakan orang-orang yang berhak menerima harta peninggalan (mewarisi) orang yang meninggal karena hubungan keluarga, pernikahan, maupun karena memerdekakan hamba sahaya (wala’).
G. Metode Penelitian
Penelitian hukum atau suatu kegiatan ilmiah didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau segala hukum dengan jalan menganalisisnya.34
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian yang diperlukan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian yuridis normatif, yang disebabkan karena penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan atau studi dokumen yang dilakukan atau ditunjuk pada peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang lain. Penelitian normatif merupakan penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya.35 Penelitian normatif sering kali disebut dengan penelitian doctrinal, yaitu penelitian yang objek kajiannya adalah dokumen perundang-undangan dan bahan kepustakaan. Sehingga dapat menjawab pokok permasalahan dalam penulisan iniyang berkaitan dengan pembagian warisan terhadap ahli waris yang berbeda agama.
Sifat dari penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis yaitu menggambarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berkaitan dengan
34Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Peneltian Hukum Normatif, (Jakarta: Raja Grafindo, Persada, 2001), hal. 42
35Ibrahim Johni, Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif, (Malang: Bayu Media Publishing, 2005), hal. 57
teori-teori hukum dan praktik pelaksanaan hukum positif yang menyangkut masalah di atas. Dikatakan deskriptif karena penelitian ini diharapkan mampu memberi gambaran secara rinci, sistematis dan menyeluruh segala hal yang berhubungan dengan pembagian warisan terhadap ahli waris yang berbeda agama.
Data yang diperoleh dari penelitian ini memberikan gambaran atau mengungkapkan berbagai faktor yang berhubungan erat dengan gejala-gejala yang diteliti kemudian dianalisa mengenai penerapan atas pelaksanaan peraturan perundang-undangan guna untuk mendapatkan data informasi mengenai pelaksanaannya.
2. Sumber Data
Pengumpulan data diperoleh dari penelitian kepustakaan yang didukung penelitian lapangan, sebagai berikut:
a. Penelitian kepustakaan yaitu menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.
1) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, yakni:
a. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata);
b. Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan;
c. Kompilasi Hukum Islam.
2) Bahan hukum sekunder adalah bahan yang erat hubugannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisa dan memahami bahan hukum primer, bahan hukum sekunder tersebut meliputu:
a. Hasil karya ilmiah para sarjana;
b. Hasil penelitian yang berkaitan dengan waris beda agama.
3) Bahan hukum tersier adalah bahan pendukung diluar bidang hukum seperti kamus ensiklopedia atau majalah yang berkaitan dengan waris beda agama.
3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang diperoleh atau dikumpulkan mengenai masalah- masalah yang berhubungan dengan penelitian ini maka data yang dikumpulkan menggunakan metode sebagai berikut:
a. Penelitian kepustakaan
Penelitian kepustakaan digunakan untuk memperoleh data sekunder sebnyak mungkin. Penelitian kepustakaan ini dilakukan dengan cara memperlajari undang-undang, pendapat-pendapat atau tulisan para sarjana serta bahan-bahan lain yang berhubungan dengan penyusunan tesis ini dan didukung juga dengan data primer. Data primer diperoleh dari informan yang erat hubungannya dengan masalah yang sedang diteliti. Berdasarkan data yang diperoleh dari informan tersebut nantinya akan diperoleh data primer. Data primer inipun dihimpun dengan mengadakan wawancara dengan informan yang diperlukan dalam penulisan tesis ini. Alat pengumpulan data yang dipergunakan adalah dengan cara membaca dan memahami buku-buku pustaka yang menjadi sumber data. Hasil yang diperoleh dari studi kepustakaan ini merupakan data primer yang digunakan sebagai pendukung data sekunder.
4. Analisis Data
Analisis data merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian dalam rangka memberikan jawaban terhadap masalah yang diteliti. Analisa data adalah proses mengatur urutan data. Dalam penelitian ini analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif.Pendekatan kualitatif adalah merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Data yang terkumpul dipilah-pilah dan diolah serta disusun secara berurutan dan sistematis untuk selanjutnya dianalisis secara kualitatif dengan metode deskriptif normatif sehingga dapat diperoleh gambaran secara menyeluruh tentang gejala dan fakta yang terdapat dalam perkembangan waris beda agama.
Atas dasar pembahasan dan analisis ini maka dapat ditarik kesimpulan dengan menggunakan kerangka berpikir induktif.
BAB II
PANDANGAN HUKUM ISLAM, HUKUM ADAT, DAN HUKUM PERDATA TERHADAP PEWARISAN BEDA AGAMA
A. Ketentuan Hukum Pewarisan Beda Agama Berdasarkan Hukum Islam Masalah kewarisan timbul ketika ada peristiwa kematian seseorang yang meninggalkan kekayaan yang akan diwariskan kepada ahli warisnya, sedang pada pelaksanaannya masalah pembagian warisan ini sering menjadi penyebab persengketaan di antara para ahli warisnya. Untuk itulah syari’at Islam telah mengantisipasinya dengan meletakkan kewarisan Islam secara terperinci dan sistematis. Pengaturan hukum Islam terhadap hukum waris dimaksudkan untuk mencegah timbulnya perpecahan di antara ahli waris, sebagaimana diketahui pada dasarnya manusia cenderung menyukai harta benda.
Hukum kewarisan Islam pada dasarnya berlaku untuk umat Islam dimana saja di dunia ini. Corak suatu negara Islam dan kehidupan masyarakat di negara atau daerah tersebut memberi pengaruh atas hukum pewarisan di daerah itu. Dasar pokok dari semuanya adalah hukum kewarisan Islam yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, kemudian diterapkan pada masyarakat indonesia.
Hukum waris Islam juga merupakan ekspresi penting bagi hukum keluarga Islam, ia merupakan separuh pengetahuan yang dimiliki manusia sebagaimana ditegaskan Nabi Muhammad SAW. Mengkaji dan mempelajari hukum waris Islam berarti mengkaji separuh pengetahuan yang dimiliki manusia yang telah dan terus hidup di tengah-tengah masyarakat muslim sejak masa awal Islam hingga
abad pertengahan, zaman modern dan kontemporer serta di masa yang akan datang.36
Hukum kewarisan dalam Islam mendapat perhatian besar karena pembagian warisan sering menimbulkan akibat-akibat yang tidak menguntungkan bagi keluarga yang ditinggalkan oleh pewarisnya. Kematian seseorang sering berakibat timbulnya sengketa dikalangan ahli waris mengenai harta peninggalannya. Hal seperti ini sangat mungkin terjadi, bilamana pihak-pihak terkait tidak konsisten dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan. Salah satu hal yang memungkinkan terjadinya sengketa waris adalah perbedaan agama antara pemilik harta dan penerima harta dalam keluarga.37
Seiring dengan berkembangnya waktu, kasus-kasus yang terjadi dalam hukum kewarisan beda agama ini semakin marak. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidak-setujuan ahli waris (non-muslim) terhadap pembagian harta yang dinilai tidak adil. Atas pertimbangan kasus inilah maka Mahkamah Agung terdorong untuk mengeluarkan putusan-putusan baru dalam hukum kewarisan beda agama. Namun, putusan Mahkamah Agung disini dinilai tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hukum Islam tentang kewarisan beda agama.38
Secara bahasa kata waris berasal dari bahasa Arab yaitu mirats. Bentuk jamaknya adalah mawaris, yang berarti harta peninggalan orang meninggal yang akan dibagikan kepada ahli warisnya. Sedangkan secara terminologi, mirats
36Moh Muhibbin dan Wahid, Abdul, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, Cet. I, 2009), hal. 69
37Darji Safutra, Pengalihan Atas Harta Warisan Yang Dilakukan Oleh Salah Seorang Ahli Waris Tanpa Persetujuan Ahli Waris Yang Lain (Studi Putusan MA Nomor 234 PK/Pdt/2004), TesisMagister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2016, hal. 87
38Fatchur Rahman, Ilmu Waris, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1981, hal. 84
berarti warisan harta kekayaan yang dibagi dari orang yang sudah meninggal dunia kepada ahli warisnya.
Salah satu dasar tentang pengaturan pembagian warisan adalah dalam Surat An-Nisa’ ayat 7 yang artinya “Bagi orang laki-laki ada bagian dari harta peninggalan yang di tinggalkan kedua orang tuanya dan kerabatnya. Dan bagi perempuan pun ada bagian dari harta peninggalan yang di tinggalkan oleh kedua orang tuanya, dan kerabat-kerabatnya baik sedikit maupun banyak menurut bagian yang di tetapkan.(Q.S. al-Nisa’ : 7)”.39
Pengertian hukum waris menurut ketentuan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 171 Ayat 1, yang dimaksud dengan Hukum Waris adalah hukum yang mengatur pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagian masing-masing.
Adapun pewarisan harta meliputi semua harta yang dimiliki berkaitan dengan harta kekayaan dan hak-hak lain yang tergantung kepadanya, misalnya utang piutang, hak ganti rugi. Ada pula beberapa kewajiban yang dapat diwariskan, yang dapat diwarisi di luar harta peninggalan. Apa yang ditinggalkan setelah kebutuhan terakhir orang yang meninggal yang harus diselesaikan oleh ahli waris, yakni setelah pelunasan biaya pemakaman, wasiat dan utang piutang yang harus diselesaikan sesuai dengan hukum waris berdasarkan ajaran Al- Qur’an.
39 https://tafsirq.com/4-an-nisa/ayat-7, diakses pada tanggal 21 September 2019
Syarat-syarat waris ada 3 macam, yaitu :40
1. Meninggalnya orang yang mewariskan, baik meninggal menurut hakikat maupun menurut hukum.
2. Ahli waris betul-betul masih hidup, ketika orang yang mewariskan meninggal dunia.
3. Diketahui jahatnya dalam mewarisi, atau posisi penerima warisan diketahui dengan jelas.
Rukun-rukun waris juga ada 3 macam, diantanya yaitu :
2. Adanya orang yang mewariskan yaitu si pewaris itu sendiri, baik nyata maupun dinyatakan mati secara hukum, seperti orang hilang dan dinyatakan mati, sehingga orang lain berhak mendapatkan warisan darinya apa saja yang ditinggalkan sesudah matinya.
3. Ada pewaris yaitu orang yang mempunyai hubungan penyebab kewarisan dengan si pewaris, sehingga dia memperoleh warisan. Misalnya hubungan kekerabatan, pernasaban, perkawinan, dan sebagainya.
4. Adanya harta yang diwariskan yang disebut juga peninggalan atau tirkah, yaitu harta atau hak yang dipindahkan dari yang mewariskan kepada pewaris.
Hal-hal yang menyebabkan seseorang dapat mewarisi terbagi menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut :41
1. Karena hubungan kekerabatan atau hubungan nasab hubungan kekerabatan atau hubungan nasab seperti kedua orang tua, anak, cucu, saudara serta paman dan bibi. Allah SWT berfirman :
40 Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pembagian Waris Menurut Islam, Penerjemah: A.M.
Basalamah, Jakarta: Gema Insani, 2007, hal. 25
41 Ibid, hal. 26
Artinya : “Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
2. Karena hubungan pernikahan
Hubungan Pernikahan ini terjadi setelah dilakukannya akad nikah yang sah dan terjadi antara suami-istri sekalipun belum terjadi persetubuhan. Adapun suami-istri yang melakukan pernikahan tidak sah tidak menyebabkan adanya hak waris.
3. Karena Wala’
Wala’ adalah pewarisan karena jasa seseorang yang telah memerdekakan seorang hamba kemudian budak itu menjadi kaya. Jika orang yang dimerdekakan itu meninggal dunia, orang yang memerdekakannya berhak mendapat warisan.
Orang-orang yang berhak menerima harta peninggalan atau harta warisan (mewarisi) orang yang meninggal disebut ahli waris. Sebab seseorang menjadi ahli waris adalah karena hubungan keluarga, pernikahan, maupun karena memerdekakan hamba sahaya (wala’).
Adapun yang berhak menerima waris tersebut terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :42
1. Ashabul Furudh
Ashabul furudh adalah para ahli waris yang mempunyai bagian tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’ (dalam Alqur’an), yang bagiannya itu tidak akan
42Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Cet. IV, 2001, hal. 33