BAB I : PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
5. Analisis data
Keseluruhan data dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif.32 Analisis kualitatif ini akan dikemukakan dalam bentuk uraian yang sistematis dengan menjelaskan hubungan antara berbagai jenis data. Kemudian semua data diseleksi dan diolah, kemudian dianalisa secara deskriptif, sehingga selain menggambarkan dan mengungkapkan, diharapkan dapat memberikan solusi atas permasalahan dalam penelitian ini.33 Pada penelitian hukum normatif, pengolahan data dilakukan dengan cara sistematik terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Sistematisasi berarti membuat
30Jhony Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya: Bayumedia, 2006), hlm 192
31Ronny Hanitijo Soemitro, Op. cit., hlm 225
32 Muslan Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, (Malang : UMM Pres, 2009), hlm 121
33Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2014), hlm 14
klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi hukum.34
Hasil analisa bahan hukum akan diinterpretasikan menggunakan metode interpretasi, sistematis, gramatikal,35 dan filosofis. Metode analisis data digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang sudah terkumpul, dimana pada penelitian ini digunakan metode analisis normatif kualitatif, karena penelitian ini bertitik tolak dari peraturan-peraturan yang ada sebagai norma hukum positif, sedangkan kualitatif dimaksudkan analisis data yang bertitik tolak pada usaha penemuan asas-asas dan informasi-informasi.
Dari data yang ada akan dianalisis secara induktif kualitatif agar semua dapat sampai pada suatu kesimpulan akhir yang menjawab semua pokok permasalahan dalam penelitian ini.
34Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op.Cit., hlm 24
35Jimly Asshiddiqie, Teori & Aliran Penafsiran Hukum Tata Negara. (Jakarta: Ind. Hill. Co, 1997), hlm 17-18
PEMBINAAN KEHIDUPAN ADAT DAN ADAT ISTIADAT
A. Batasan Usia Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum
Anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang telah mencapai usia 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai usia 18 (delapan belas) tahun yang diduga, disangka, didakwa atau dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana.
UNICEF mendefinisikan anak yang berkonflik dengan hukum adalah seseorang yang berusia dibawah 18 tahun yang yang berhadapan dengan sistem peradilan pidana dikarenakan yang bersangkutan disangka atau dituduh melakukan tindak pidana.36
Menurut Apong Herlina, anak yang berkonflik dengan hukum dapat juga dikatakan sebagai anak yang terpaksa berkonflik dengan sistem pengadilan pidana karena:37
a. Disangka, didakwa, atau dinyatakan terbukti bersalah melanggar hukum; atau b. Telah menjadi korban akibat perbuatan pelanggran hukum dilakukan
orang/kelompok orang/lembaga/Negara terhadapnya; atau
36Angger Sigit Pramukti dan Fuady Primaharsya, Sistem Peradilan Pidana Anak, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2015), hlm 16
37 Apong Herlina, dkk, Perlindungan Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum, Buku Saku Untuk Polisi, (Jakarta: Unicef, 2014), hlm. 17.
c. Telah melihat, mendengar, merasakan atau mengetahui suatu peristiwa pelanggaran hukum.
Oleh karena itu menurut Apong Herlina jika dilihat dari ruang lingkupnya anak yang berhadapan dengan hukum dapat dibagi menjadi:38
a. Pelaku atau tersangka tindak pidana b. Korban tindak pidana
c. Saksi suatau tindak pidana
Anak sebagai pelaku atau anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang disangka, didakwa, atau dinyatakan terbukti bersalah melanggar hukum dan memerluikan perlindungan.
Kata konflik itu sendiri berarti menunjukan adanya suatu peristiwa yang tidak selaras atau bertentangan dengan suatu peristiwa sehingga dapat dikatakan sebagai permasalahan. Oleh karena itu pengertian anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang mempunyai permasalahan karena suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum.
Berdasarkan Pasal 1 angka (3) Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.Masalah anak merupakan arus balik yang tidak diperhitungkan dari proses dan perkembangan pembangunan bangsa-bangsa yang mempunyai cita-cita tinggi dan masa depan cemerlang guna
38Ibid, hlm 43
menyongsong dan menggantikan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia. Terkait dengan hal itu paradigma pembangunan haruslah pro anak.39
Kategori anak sebagai pelaku tindak pidana tentu saja memiliki ketentuan umur tersendiri. Mereka adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Jadi anak yang berumur di bawah 12 tahun, walaupun melakukan tindak pidana, belum dikategorikan sebagai anak yang berhadapan dengan hukum. Dengan demikian, ia berada di luar ketentuan ini. Begitu juga, orang yang telah berumur di atas 18 tahun tidak lagi digolongkan kepada anak, namun sudah dianggap dewasa, dan berlaku ketentuan umum hukum pidana.
Kategori anak yang menjadi korban tindak pidana adalah anak yang belum berusia 18 tahun. Sedangkan kategori anak yang juga belum berumur 18 tahun.
Untuk kategori anak sebagai korban dan anak sebagai saksi disamakan usianya, yaitu 18 tahun. Di sini tidak diberi batasan apakah anak di bawah usia 12 tahun disebut korban dan menjadi saksi, Kalau melihat isi ketentuan ini tentu saja harus dipahami bahwa anak yang belum berumur 12 dapat menjadi korban dan dapat pula sebagai saksi.
Harry E. Allen and Clifford E. Simmonsen menjelaskan bahwa ada 2 (dua) kategori perilaku anak yang membuat anak harus berhadapan dengan hukum, yaitu:40
39Muhammad Joni dan Zulchaina Z Tanamas, Aspek Perlindungan Anak DalamPerspektif Konvensi Hak Anak, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1999), hlm.83
1. Status Offence adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa tidak dianggap sebagai kejahatan, seperti tidak menurut, membolos sekolah, atau kabur dari rumah
2. Juvenile Deliquence adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa dianggap kejahatan atau pelanggaran hukum.
Juvenile berasal dari bahasa latin juvenilis, yang artinya anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja. Sedangkan delinquent berasal dari bahasa Latin delinquere yang berarti terabaikan, mengabaikan, selanjutnya pengertian ini kemudian diperluas artinya menjadi jahat, asocial criminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana, dursila dan lain-lain. Sedangkan delinquency selalu mempunyai konotasi serangan, pelanggaran, kejahatan dan keganasan yang dilakukan oleh anak-anak muda dibawah usia 22 tahun. Sehingga Juvenile Delinquency ialah perilaku jahat (dursila) atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda yang merupakan gejala sakit(patalogis) secara social pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh bentuk tingkah laku yang menyimpang.41 Menurut Ruth Strang sebagaimana yang dikutip oleh Sabrina Hidayat menerjemahkan juvenile delinquency dengan kenakalan anak dan menghindarkan penggunaan istilah kejahatan
anak-40Purniati, dkk. Correction In America : An Introduction, Analisa Situasi Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Justice System). Indonesia : UNICEF, 2003, hlm 2
41 Olivia BR Sembiring, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum, Jakarta, 2006, hlm 58-59
anak.42Juvenile Deliquency adalah suatu tindakan atau perbuatan pelanggaran norma, baik norma hukum maupun norma sosial yang dilakukan oleh anak-anak usia muda.43 Kenakalan anak disebut juga dengan Juvenile Deliquency. Juvenile atau yang dalam bahasa Indonesia berarti anak-anak, anak muda, sedangkan Deliquency artinya terabaikan / mengabaikan yang kemudian diperluas menjadi jahat, kriminal, pelanggar peraturan dan lain-lain.44 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, delikuensi diartikan sebagai tingkah laku yang menyalahi secara ringan norma dan hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat.45 Sedangkan Juvenile Deliquency menurut Romli Atmasasmita adalah setiap perbuatan atau tingkah laku seseorang anak dibawah umur 18 tahun dan belum kawin yang merupakan pelanggaran terhadap norma-norma hukum yang berlaku serta dapat membahayakan perkembangan pribadi si anak yang bersangkutan.46 Kemudian Bismar Siregar menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada pengertian tertentu mengenai kejahatan anak yang ada ialah perbuatan pelanggaran hukum dilakukan oleh seorang, mungkin ia seorang dewasa atau seorang anak. Jadi hanya perbedaan siapa pelaku.47
42 Sabrina Hidayat, Upaya Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Proses Peradilan Pidana, Jurnal Hukum Gema Pendidikan, No 1, Januari 2007 hlm 40
43Wagiati Soetodjo, Hukum Pidana Anak, (Bandung: PT Refika Aditama, 2006), hlm 11
44A.Syamsudin Meliala dan E.Sumaryono, Kejahatan Anak Suatu Tinjauan dari Psikologis dan Hukum, (Yogyakarta: Liberty, 1985), hlm 31
45Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1991, hlm 219
46 Romli Atmasasmita, Problem Kenakalan Anak-anak Remaja, (Bandung: Armico, 1983), hlm 40
47 Bismar Siregar, Masalah Penahanan dan Hukuman Terhadap kejahan Anak. Majalah Hukum dan Pembangunan No.4 Tahun x, 1980 hlm 340
Berdasarkan penjelasan diatas anak yang berhadapan dengan hukum atau anak yang berkonflik dengan hukum adalah mereka yang berkaitan langsung dengan tindak pidana, baik itu sebagai korban maupun saksi dalam suatu tindak pidana. Ada juga perbedaan dari perilaku atau perbuatan melawan hukum anak dan orang dewaa yang tidak bisa di samakan, dimana sebuah perbuatan yang dilakukan anak bisa saja menjadi suatu perbuatan melawan hukum, namun untuk orang dewasa itu bukan merupakan perbuatan melawan hukum, maupun sebaliknya.
Ada beberapa perbedaan dari anak yang berhadapan dengan hukum dan pelaku dewasa yang jelas berbeda adalah dari segi pemidanaannya, menurut Undang-Undang SPPA Pasal 71 ayat (1) pidana pokok untuk anak yang berkonflik dengan hukum yaitu:
a. pidana peringatan;
b. pidana dengan syarat:
i. pembinaan di luar lembaga ii. pelayanan masyarakat; atau iii. pengawasan.
c. pelatihan kerja;
d. pembinaan dalam lembaga; dan e. penjara.
Berbeda dengan KUHP, pidana pokok yang disebutkan dalam KUHP Pasal 10, yaitu:48
a. pidana mati, b. pidana penjara, b. Pidana kurungan c. Pidana denda d. Pidana Tutupan
Perbedaan anak yang berkonflik dengan hukum dan pelaku dewasa terlihat dalam pemidanaannya, pelaku dewasa hukuman mati merupakan pidana terakhir untuk pelaku dewasa, sedangkan anak adalah penjara itupun untuk sebagai pilihan terakhir dan tidak diperbolehkan hukuman mati/penjara seumur hidup.
Perbedaan lainnya juga ada dalam proses peradilannya, untuk anak proses penahanannya dalam proses penyidikan, penuntutan, dan peradilan relatif lebih singkat dibandingkan orang dewasa. Selain itu selama proses tersebut anak yang berkonflik dengan hukum juga harus selalu di dampingi oleh orangtua/wali, Bapas, Pekerja sosial, dan pihak-pihak terkait lainnya. Berbeda dengan orang dewasa yang hanya mendapatkan hak didampingi oleh kuaa hukum atau mendapatkan bantuan hukum.
Proses persidangan untuk anak yang berkonflik dengan hukum juga berbeda dengan orang dewasa, proses persidangan di pengadilan anak hakim tidak
48Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
diperbolehkan menggunakan toga dan atribut kedinasan. Berbeda dengan orang dewasa dimana hakim menggunakan toga saat proses perdilan. Proses peradilan untuk anak wajib dilakukan dengan sidang tertutup untuk umum, berbeda dengan terpidana orang dewasa yang sidangnya terbuka untuk umum.
B. Peran Dinas Syariat Islam dan Wilayatul Hisbah Dalam Menurunkan Angka Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum
Peraturan Daerah Istimewa Aceh Nomor 5 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Syariat Islam, pada Bab 1 Pasal 3 menjelaskan bahwa Pemerintah Daerah berkewajiban mengembangkan dan membimbing serta mengawasi pelaksanaan Syariat Islam dengan sebaik-baiknya. Pelaksanaan Syariat Islam sendiri telah dilaksanakan pada Provinsi Aceh sejak Tahun 2001 dimana pelaksanaannya telah lama di implementasikan dalam masyarakat Aceh.
Dinas Syariat Islam mempunyai kewenangan dalam membimbing dan mengawasi pelaksanaan Syariat Islam. Dalam hal ini Dinas Syariat Islam sebagai lembaga pemerintah yang yang memegang peran untuk melaksanakan penegakkan Syariat Islam secara kaffah di Aceh khususnya Kota Langsa yang memiliki peran sebagai lembaga pengawasan terhadap pelaksanaan Syariat Islam di Kota langsa yang dilaksanakan bersama dengan Wilayatul Hisbah Kota Langsa.
Berdasarkan keputusan gubernur Aceh tentang pembentukan organisasi dan tata kerja Wilayatul Hisbah dapat diartikan sebagai lembaga yang bertugas mengawasi, membina, dan melakukan advokasi terhadap pelaksanaan peraturan
perundang-undangan bidang syariat islam dalam rangka melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.49 Dalam Qanun lain turut menjelaskan bahwa wilayatul hisbah adalah Lembaga pembantu tugas Kepolisian yang bertugas membina, melakukan advokasi dan mengawasi pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar dan dapat berfungsi sebagal Polsus dan PPNS.50
Dalam menjalankan perannya, Dinas Syariat Islam memiliki kewajiban dalam mengatasi dan mengurangi kejahatan yang terjadi di Kota Langsa. Kewajiban yang dilaksanakan oleh Dinas Syariat Islam yaitu:
1) Berkewajiban menjadi motivator yaitu memberikan motivasi kepada masyarakat untuk dapat menjadi penggerak serta dapat turut berpartisipasi terhadap pelaksanaan Syariat Islam agar terwujudnya Syariat Islam secara kaffah.
2) Berkewajiban menjadi fasilitator yaitu untuk memfasilitasi setiap pembimbingan masyarakat artinya setiap masyarakat yang membutuhkan Da’i untuk acara keislaman maka Dinas Syariat Islam akan memfasilitasinya.
3) Berkewajiban menjadi regulator yaitu menyusun regulasi untuk mengatur pelaksanaan Syariat Islam serta mengatur cara untuk mengatasi kejahatan yang terjadi di Kota Langsa.
49 Keputusan Gubernur Aceh Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Wilayatul Hisbah.
50 Pasal 1 Angka 8 Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2004 Tentang Tugas Fungsional Kepolisian Daerah Nanggroe Aceh Darussalam
Dalam mengatasi pelanggaran dan kejahatan di Kota langsa, tentunya Dinas Syariat Islam mempunyai berbagai upaya yang dilakukan dalam mengatasinya.
Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh Dinas Syariat Islam dan Wilayatul Hisbah, yaitu:51
1) Meningkatkan wawasan dan kesadaran anak melalui pembinaan di lingkungan sekolah
Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan wawasan dan kesadaran anak dengan melakukan pendekatan dan pembinaan di sekolah seperti menjadi pembina upacara di sekolah dan sosialisasi di sekolah dengan tujuan untuk membuka pikiran anak terhadap pelaksaksanaan Syariat Islam di Aceh khususnya di kota Langsa serta sanksi yang diberikan apabila pelanggaran-pelanggaran tersebut diakukan sehingga anak akan berfikir ulang apabila akan melakukan suatu tindak pidana.
2) Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.
Upaya yang dilakukan yaitu mensosialisasikan dan meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat terhadap pelaksanan Syariat Islam di Kota Langsa. Hal tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan dakwah simpatik yaitu dakwah di daerah-daerah yang rawan terjadinya pelanggaran Syariat Islam.
Seperti dakwah yang dilakukan di kafe-kafe (remang) terhadap
generasi-51Hasil Wawancara dengan Bapak Aji Usmanuddin Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa Tanggal 10 Desember 2020
generasi muda, dakwah perkantoran yang dilakukan di wilayah perkantoran yang berada di wilayah Kota Langsa.
3) Meningkatkan pengawasan pada daerah-daerah yang rawan.
Upaya yang dilakukan oleh Dinas Syariat Islam beserta Satpol dan WH dalam mengatasi seta mengurangi pelanggaran yaitu meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan Syariat Islam dengan salah satu cara patroli dan razia lapangan pada daerah-daerah yang rawan terjadi pelanggaran.
4) Berkordinasi dengan Diskominfo.
Zaman modern ini masih banyak remaja maupun orang tua yang mempergunakan media sosial secara negatif. Banyak remaja dan orang tua yang terjerumus oleh kejamnya pengaruh Internet, dan banyaknya pelanggaran Syariat Islam yang terjadi di Kota Langsa salah satunya pelanggaran Ikhtilath yang dilakukan oleh remaja pada umumnya. Maka dari itu Dinas Syariat Islam berkoordinasi dengan Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfo) untuk tingkat Langsa maupun Aceh agar dapat memblokir situs yang menyajikan hal-hal negatif seperti pornografi, perjudian online dan hal – hal lainnya yang dapat merusak dan memberi pengaruh buruk kepada generasi penerus bangsa.
Oleh karena itu, dengan upaya-upaya tersebut maka anak yang berkonflik dengan hukum di Kota Langsa terhitung rendah dan dapat diminimalisir.
C. Penyelesaian Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Menurut Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat Dan Adat Istiadat
Sistem hukum di Indonesia menaungi beberapa bentuk hukum utama dalam eksistensinya demi mewujudkan keadilan yang bermartabat, hukum adat merupakan hukum pelengkap, seperti juga halnya di Aceh yang merupakan bagian dari pada sistem hukum Nasional, yang hubungan satu dengan lainnya tunduk kepada peraturan perundang-undangan. Disamping norma-norma tersebut masyarakat Aceh di dalam kehidupannnya juga tunduk kepada ketentuan adat, yang merupakan ciri khas hukum adat tersebut telah ada semenjak masa kesultanan. Hal terlihat dari filosofi kehidupan masyarakat yakni “Adat bak po teumuruhom, hukom bak syiah kuala” sehingga dapat dimaknai bahwa hukum dan adat istiadat itu harus seiring sejalan dalam penerapannnya. Ciri khas tersebut menimbulkan minat yang kuat dari masyarakat dan pemerintah daerah untuk menjadikannya dasar hukum yang kuat dalam penerapan hukum adat khususnya di daerah Aceh.
Dalam hal penyelenggaraan kehidupan adat ditegaskan bahwa daerah dapat menetapkan berbagai kebijakan dalam upaya pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat serta lembaga adat di wilayahnya yang dijiwai dan sesuai dengan Syari’at Islam sebagai pondasi legalitas dalam melaksanakan keistimewaan Aceh di bidang hukum adat di Provinsi Aceh.
Dalam penyelenggara peradilan adat di gampong, Gampong diberi kewenangan dalam menyelesaikan sengketa/perselisihan berdasarkan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, PERDA Nomor 7 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Kehidupan Adat, dan SKB (Surat Keputusan Bersama) antara Gubernur, Kapolda, dan Majelis Adat Aceh No 189/677/2011 Tanggal 20 Desember 2011 tentang Penyelenggaraan Peradilan Adat Gampong dan Mukim.
Skema 1
Struktur kepemimpinan dan peran penyelenggara peradilan adat di gampong
Sumber : Buku Pedoman Peradilan Adat Aceh
Dalam menjalankan peradilan adat di gampong, telah ditentukan bahwa salah satu tugas dan fungsi geuchik adalah sebagai hakim gampong yang berupaya menyelesaikan permasalahan hukum terkait sengketa/perselisihan yang terjadi di dalam gampong52 dibantu oleh Sekretaris Gampong, Ulee Jurong (kepala lorong), Ulama, Cendikiawan, Tokoh Adat, Tuha Peuet (unsur pemerintahan gampong yang
52pasal 15 ayat (1) huruf j dan k Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Lembaga Adat Keuchik
berfungsi sebagai badan permusyawaratan gampong)53 dan Imeum Meunasah (orang yang memimpin kegiatan-kegiatan masyarakat di gampong yang berkenaan dengan bidang agama Islam, pelaksanaan dan penegakan syari’at Islam)54.
Dalam perkembangannya, khususnya menyangkut tentang pelaksanaan Peradilan Adat di Aceh, meskipun tidak dijumpai nama-nama peradilan adat secara khusus dalam penyelesaian di gampong-gampong pada kenyataannya masyarakat Aceh masih terus menerapkan dan mempertahankan hukum adat dalam hal penyelesaian persoalan adat atau delik. Eksistensi peradilan Adat di Aceh sendiri secara khusus terlihat dari adanya Qanun Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat serta Qanun Aceh Nomor 10 tahun 2008 tentang Lembaga Adat. Selanjutnya ditingkat kabupaten, dalam penerapan hukum adat, masyarakat adat pada dasarnya juga menggunakan dasar hukum yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain berdasarkan perbedaan kultur dan budayanya masing-masing.
Kearifan lokal masyarakat gampong di Aceh dalam penyelesaian sengketa / perselisihan telah dikukuhkan secara tegas dalam Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat. Dalam Pasal 13 qanun tersebut jelas disebutkan terdapat 18 jenis sengketa/perselisihan yang dapat diselesaikan secara adat, meliputi:55
53Pasal 1 angka 18 Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Lembaga Adat
54Pasal 1 angka 21 Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Lembaga Adat
55Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat, Pasal 13
a) perselisihan dalam rumah tangga
b) sengketa antara keluarga yang berkaitan dengan faraidh c) perselisihan antar warga
d) khalwat meusum
e) perselisihan tentang hak milik
f) pencurian dalam keluarga (pencurian ringan) g) perselisihan harta sehareukat
h) pencurian ringan
i) pencurian ternak peliharaan
j) pelanggaran adat tentang ternak, pertanian, dan hutan k) persengketaan di laut
l) persengketaan di pasar m) penganiayaan ringan
n) pembakaran hutan (dalam skala kecil yang merugikan komunitas adat) o) pelecehan, fitnah, hasut, dan pencemaran nama baik
p) pencemaran lingkungan (skala ringan)
q) ancam mengancam (tergantung dari jenis ancaman); dan
r) perselisihan-perselisihan lain yang melanggar adat dan adat istiadat.
Dalam masyarakat Aceh, ada suatu ungkapan bijak atau narit maja, yang berkaitan dengan penyelesiaan sengketa / perselisihan dalam konteks hukum yaitu
“nyang rayek ta peu ubeuet, nyang ubeuet ta peu gadoeh”. Bermakna, permasalahan pelik mesti disederhanakan, dan permasalahan sederhana mesti dilenyapkan.
Daripada ta meupake goet ta meugoet, tanyoe laagee soet deungoen syedara, beule saba dalam hate, poe rabbol kade han geupeu deca. Artinya daripada kita berselisih lebih baik berdamai, kita kembali hidup bersaudara, harus banyak sabar menahan diri, Allah pemilik alam mengampuni dosa kita.
Hidup rukun bagi masyarakat gampong bagaikan hidup satu ayah satu ibu, dan rasa persaudaraan inilah yang selalu tercermin dalam diri warga gampong, sehingga sengketa/perselisihan yang terjadi ditengah-tengah mereka selalu diupayakan diselesaikan dengan hukum adat yang berlaku dalam wilayahnya. Bagi masyarakat adat gampong, kekeluargaan merupakan prinsip utama dalam musyawarah peradilan adat Aceh. Ketika persoalan dan peristiwa hukum terjadi dalam masyarakat, selalu diupayakan penyelesaiannya dengan cara kekeluargaan dan mengutamakan prinsip keiklasan antar sesama mereka. Penyelesaian sengketa/perselisihan dengan hukum adat merupakan perbuatan baik dan mulia kedudukannya baik secara hidup bersama di dunia maupun disisi Allah, karena hukum adat dengan hukum Islam sangat erat hubungannya, asas-asas yang terdapat dalam hukum adat Aceh merupakan ajaran dalam Islam.56 Dengan demikian jelas bahwa penyelesaian sengketa/perselisihan secara adat tidak bertentangan dengan Agama Islam yang mereka anut, yang menganjurkan perdamaian. Mengacu pada uraian di atas, jelaslah bahwa gampong telah memiliki aspek historis dan sosiologis dalam hal penyelesaian sengketa/perselisihan menurut Hukum Adat. Selain kedua
56 Taqwaddin Husin, Penyelesaian Sengketa/ Perselisihan Secara Adat Gampong di Aceh, Syiah Kuala Law Jurnal Vol 67, Desember 2015, hlm 518
aspek di atas (historis dan sosiologis), sekarang, secara juridis formal pun penyelesaian sengketa/perselisihan secara adat di gampong telah memiliki payung
aspek di atas (historis dan sosiologis), sekarang, secara juridis formal pun penyelesaian sengketa/perselisihan secara adat di gampong telah memiliki payung