• Tidak ada hasil yang ditemukan

: MAULANA MUSLIM HRP / HK PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan ": MAULANA MUSLIM HRP / HK PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Langsa)

TESIS

Oleh :

MAULANA MUSLIM HRP 187005093 / HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)

(Studi di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Langsa)

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum Dalam Program Studi Magister Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh :

MAULANA MUSLIM HRP 187005093 / HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(3)
(4)

ii PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Madiasa Ablisar, S.H., M.S Anggota : 1. Dr. Marlina, S.H., M.Hum

2. Dr. Edy Ikhsan, S.H., M.A 3. Dr. M. Ekaputra, S.H., M.Hum 4. Dr. Sutiarnoto, S.H., H.Hum

(5)
(6)
(7)

v

berkonflik dengan hukum, maka Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menjadi jalan keluar untuk penanganan anak yang berkonflik dengan hukum secara lebih baik. Di dalam Undang- Undang tersebut mengatur tentang diversi dimana terdapat dua hal penting yang mendapat tempat istimewa dalam UU SPPA yaitu keadilan restoratif dan diversi.

Berdasarkan latar belakang diatas, muncul permasalahan yakni bagaimana penyelesaian terhadap anak yang berkonflik dengan hukum menurut Qanun Nomor 9 Tahun 2008 tentang pembinaan kehidupan adat dan adat istiadat, bagaimana proses penerapan diversi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum di Langsa, bagaimana penerapan diversi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum di Pengadilan Negeri Langsa. Adapun metode penelitiannya menggunakan metode yuridis normatif dengan menggunakan data sekunder.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian masalah anak yang berkonflik dengan hukum di provinsi Aceh terdiri dari dua penerapan hukum yaitu diawali dengan proses mediasi menurut Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Keidupan Adat Dan Adat Istiadat dengan tujuan agar permasalaan tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Gubernur Aceh dengan Kepolisian Daerah Aceh dan Majelis Adat Aceh No 189/677/2011 Tanggal 20 Desember 2011 tentang Penyelenggaraan Peradilan Adat Gampong dan Mukim, namun apabila saat proses mediasi tersebut tidak ditemukan kesepakatan maka dilanjutkan ke proses hukum sesuai Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Kata Kunci: Diversi, Qanun, SPPA

(8)

vi

11 of 2012 concerning the System Juvenile Criminal Court is a way out for better handling of children conflict with the law. The law regulates diversion where there are two important things that have a special place in the SPPA Law, namely restorative justice and diversion.

Based on the background,the problem arises namely how to resolve children who are conflict with the law according to Qanun No.9 of 2008 concerning fostering customary life and customs, how is the process of applying diversion to children who are conflict with the law in Langsa, how is the application of diversion to children conflict with the law at the Langsa District Court. The research method uses a normative juridical method using secondary data.

The results showed that the resolution of the problem of children conflict with the law in Aceh consists of two legal applications, starting with the mediation process according to Aceh Qanun Number 9 of 2008 concerning fostering customary life and customs Development with the aim that these problems can be resolved amicably according to the Decree Joint between the Governor of Aceh and the Aceh Regional Police and the Aceh Traditional Council No 189/677/2011 dated 20 December 2011 concerning the Implementation of the Gampong and Mukim Adat Courts, but if during the mediation process no agreement is found then proceed to the legal process according to the Law Number 11 of 2012 concerning the Criminal Justice System for Children.

Keywords: Diversion, Qanun, Juvenile criminal Justice System

(9)

vii

hidayahnya yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan penulis untuk dapat menyelesaikan penelitian Tesis ini, yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum di Universitas Sumatera Utara.

Shalawat beriring salam tak lupa penulis panjatkan kepada tokoh besar umat Islam junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah menuntun jalan dari yang gelap hingga menuju jalan yang terang yang disinari oleh iman dan islam. Adapun penelitian tesis ini berjudul: Penerapan Diversi Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Menurut Qanun Aceh No 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat dan Undang-Undang No 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Langsa).

Untuk itu pada kesempatan ini izinkan saya selaku penulis menyampaikan terimakasih yang tak terhingga kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. Madiasa Ablisar S.H.,M.S atas kesediaannya menjadi Ketua Komisi Pembimbing dalam penulisan tesis ini yang telah banyak memberikan perhatian, masukan dan arahan kepada penulis sejak duduk di perkuliahan Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara.

(10)

viii

dan motivasi selama studi dan penelitian berlangsung sehingga penulisan ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada yang terhormat Bapak Dr. Edy Ikhsan, S.H., M.A atas kesediaannya menjadi Dosen Pembimbing III yang telah begitu banyak menberikan arahan, nasehat, motivasi dan semangat kepada penulis untuk menyusun tesis ini serta terus mengingatkan agar cepat selesai.

Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan dengan rasa hormat dan terimaksih kepada Bapak Dr. Sutiarnoto, S.H., M.Hum dan Bapak Dr. M. Ekaputra S.H., M.Hum selaku Dosen Penguji, yang begitu banyak juga memberikan masukan dan arahan kepada penulis untuk menyusun tesis ini.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih adanya keterbatasan dalam pengerjaan tesis ini. penyusunan tesis ini dapat diselesaikan berkat adanya bantuan, dukungan, semangat,saran motivasi dan doa dari berbagai pihak. untuk ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Orang tua tercinta penulis Ayahanda Bukit Harahap, S.H. dan Ibunda Saedah, S.Pd. yang telah merawat, menjaga, memberikan materi serta mendidik penulis dari sejak kecil sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan formal sampai tingkat Magister ini. Semua ini tidak terlepas dari do’a,

(11)

ix

Hrp, S.H., & Dewi Syafriani, S.Pd., M.Pd., Asri Aminullah Hrp, S.E., dan Mara Iman Ito Hrp, S.H. yang selalu memberikan support dan motivasi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan lancar.

3. Sdri. Yuli Chairani S.H. yang selalu memberikan semangat, dan membantu penulis mengerjakan tesis ini dari awal penulisan tesis hingga sekarang sehingga penulisan tesis ini bisa terlaksana dengan baik.

4. Bapak Prof. Dr. Runtung S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak Prof. Budiman Ginting, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Ibu Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum. selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

7. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M. Hum. selaku Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

8. Bapak Kurniawan, S.H., M.H. selaku Hakim Anak di Pengadilan Negeri Langsa yang telah memberikan masukan dan arahan sehingga penulisan ini berjalan dengan lancar.

9. Seluruh rekan-rekan Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum,

(12)

x

Lucya Gultom, S.H., Ayu Hutami, S.H., Adlya Nova, S.H. Febby Farizky, S.H., Nurhalimatuz Zahro S.H., Wirahadi Setiawan Silaen S.H., Muhammad Nur Miswari S.H., Amalia Sani, S.H., Ilham Fauzi S.H. Abni Leticia, S.H., Indah Widyarantika Zebua, S.H., Putri Ramadona Rambe, S.H., Masrul Munthe, S.H., Joni SR, S.H., Terimakasih untuk semua kebaikan dan bantuan dari teman- teman dan Semoga persaudaraan kita tetap terjalin.

10. Seluruh rekan-rekan Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara semasa bergabung di program kekhususan Hukum Pidana, Terima kasih untuk semua kebaikan dari teman- teman dan Semoga persaudaraan kita tetap terjalin.

11. Seluruh Dosen Pengajar di Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang tidak ternilai selama perkuliahan.

12. Para staf dan pegawai di Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang tempat untuk berdiskusi, menghibur penulis hingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

Akhir kata, demikianlah yang dapat penulis sampaikan atas penelitian yang

(13)

xi

nilai guna dan manfaat bagi perkembangan ilmu hukum, khususnya Hukum Pidana.

Atas segala kesalahan dan kekurangannya penulis mohon maaf yang sebesar- besarnya. Semoga Allah SWT senantiasa selalu memberikan pertolongan dan perlindungannya kepada kita semua, amin.

Wassalamu’alikum Warohmatullahi Wabarakatuh

Medan, Januari 2021

Maulana Muslim Hrp

(14)

xii

Kebangsaan : Indonesia

Status : Belum Menikah / Lajang

Alamat : Jl. Nurdin Arraniri Dsn Damai, Kel Paya Bujok Tunong, Kec Langsa Baro, Kota LAngsa

Email : [email protected]

Latar Belakang Pendidikan Formal

Sekolah Tempat Tahun

SD SD N Tualang Teungoh 2000– 2006

SMP SMP N 3 Langsa 2006 – 2009

SMA SMA N 1 Langsa 2009 – 2012

S-1(Strata) (S.H)

Fakultas Hukum Universitas Samudra Konsentrasi Hukum Pidana

2013 – 2017

S-2 (Magister) (M.H)

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Konsenterasi Hukum Pidana

2018 – 2021

(15)

PERSETUJUAN PUBLIKASI TESIS ... ..iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... . vi

KATA PENGANTAR... vii

RIWAYAT HIDUP ... xii

DAFTAR ISI ...xiii

DAFTAR TABEL ... xv

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan... 8

C. Tujuan Penelitian... 8

D. Manfaat Penelitian... 9

E. Keaslian Penelitian ... 9

F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsep ... 10

1. Kerangka Teori... 10

2. Kerangka Konsep ... 17

G. Metode Penelitian... 19

1. Jenis dan Sifat Penelitian... 20

2. Pendekatan Penelitian ... 20

3. Data Penelitian ... 21

4. Teknik Pengumpulan Data ... 23

5. Analisis data ... 23

BAB II : PENYELESAIAN TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM MENURUT QANUN ACEH NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEMBINAAN KEHIDUPAN ADAT DAN ADAT ISTIADAT... 25

(16)

Menurut Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat Dan Adat Istiadat 36 BAB III : PROSES PENERAPAN DIVERSI BERDASARKAN

UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DIMULAI DARI

TAHAP PENYIDIKAN, PENUNTUTAN DAN

PEMERIKSAAN PERKARA 51

A. Pengertian Diversi ... 51

B. Pihak Yang Berperan Dalam Proses Pelaksanaan Diversi ... 57

C. Penerapan Diversi Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Pada Tahap Penyidikan , Penuntutan, dan Pemeriksaan Perkara... 62

BAB IV : PENERAPAN DIVERSI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DI PENGADILAN NEGERI LANGSA 90 A. Pengertian Penegakan Hukum... 90

B. Hal-Hal Yang Mendukung Penerapan Restorative Justice Sebagai Bentuk Penyelesaian Tindak Pidana Yang Dilakukan Oleh Anak... 94

C. Penerapan Diversi Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum di Pengadilan Negeri Langsa... 104

BAB V : PENUTUP ... 109

A. Kesimpulan... 109

B. Saran ... 110

DAFTAR PUSTAKA ... 112

(17)

Tabel 2 : Jumlah perkara anak yang berhasil diversi pada tahap Penyidikan 64 Tabel 3 : Jumlah perkara anak yang berhasil diversi pada tahap Penuntutan 71 Tabel 4 : Jumlah perkara anak yang berhasil diversi pada tahap

Pemeriksaan perkara di pengadilan 78

(18)

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara yang berlandaskan atas hukum (Rechtstaat) dan bukan berdasar atas kekuasaan semata.1 Negara Hukum adalah negara berlandaskan atas hukum dan keadilan bagi warganya. Artinya adalah segala kewenangan dan tindakan alat-alat perlengkapan negara atau penguasa, semata-mata berdasarkan hukum atau dengan kata lain diatur oleh hukum sehingga dapat mencerminkan keadilan bagi pergaulan hidup warganya.2

Mempersiapkan generasi muda yang akan memimpin bangsa dan negara diperlukan pembinaan dan perlindungan hak-hak dan kewajiban bagi anak-anak dimana anak adalah amanah sekaligus karunia tuhan yang maha esa yang senantiasa harus kita jaga, karena di dalam dirinya melekat harkat, martabat dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak Asasi Anak merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan konfensi perserikatan bangsa-bangsa dalam hak-hak anak. Upaya untuk perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai dengan umur 18 tahun. Seiring perkembangan jaman, kemajuan teknologi dan pengaruh globalisasi, anak jaman sekarang mudah terpengaruh akan hal baru yang

1Akil Mochtar, Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, (Jakarta: Mahkamah Konstitusi, 2009), hlm 18

2Abdul Aziz Hakim, Negara Hukum dan Demokrasi Di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm 8

(19)

dianggap menarik dan menantang, walaupun hal baru dan menarik itu tidak semuanya baik dan bahkan bisa cenderung mengarah ke hal-hal yang negatif bahkan sampai kearah perbuatan melawan hukum. Anak- anak yang sudah terlanjur melakukan perbuatan melawan hukum tetap harus berhadapan dengan hukum, namun karena memikirkan masa depannya juga perkembangan psikisnya dimasa yang akan datang, maka hal itu menjadi sebuah kewajiban bagi suatu negara untuk mengatur secara khusus setiap perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh anak.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak dibentuk untuk melindungi dan mengayomi anak yang berhadapan dengan hukum, agar dapat menyongsong masa depan yang lebih baik serta memberi kesempatan kepada anak untuk mendapatkan pembinaan agar diperoleh jati dirinya untuk menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, dan berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan data semakin meningkatnya anak yang berkonflik dengan hukum dan dengan segala kelemahan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak telah banyak mengundang perhatian publik dirasa sudah tidak sesuai dengan kondisi anak dan jaman yang semakin berkembang sehingga dibentuklah undang-undang baru yang dianggap lebih efektif yaitu Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.3Dimana terdapat dua hal penting yang mendapat tempat istimewa dalam UU SPPA yaitu keadilan restoratif dan diversi. Keadilan restoratif adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan

3M. Nasir Djamil, Anak Bukan Untuk Dihukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), hlm 28

(20)

melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/ korban dan pihak-piak yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan.4 Diversi bertujuan untuk mencapai perdamaian antara korban dan anak, menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan, menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan, mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dan menanamkan rasa tanggung jawab.5

Penyebab terbesar terjadinya tindak pidana anak dibawah umur yang dilakukan oleh anak dibawah umur adalah kemajuan teknologi yang sangat pesat dan kemajuan teknologi ini justru sering disalahgunakan oleh anak dibawah umur, misalnya dengan kemudahan dalam mengakses internet, dulu seorang anak biasanya mengakses internet atau ke warnet hanya untuk mencari tugas sekolah, tetapi berbeda dengan sekarang anak-anak sering membuka situs yang tidak layak, misal situs yang menanyangkan video perkelahian, video asusila dan berbagai video kurang mendidik lainnya. Selain video, gambar yang tidak layak dipertontonkan untuk anak pun sering muncul dalam situs pencarian, ataupun dalam iklan yang tiba-tiba muncul saat mengakses informasi diinternet, dengan tanpa adanya batasan umur dalam mengakses sehingga informasi untuk orang dewasa bisa diketahui dan dilihat oleh anak yang seharusnya belum boleh ia ketahui meskipun dengan tidak sengaja. Tontonan dari televisi yang sering melakukan adegan perkelahian secara fisik maupun secara lisan

4Edy Ikhsan, dkk. Diversi dan Keadilan Restoratif : Kesiapan Aparat Penegak Hukum dan Masyarakat. (Medan: Yayasan Pusaka Indonesia, 2014), Hlm iii

5Edy Ikhsan, dkk. Diversi dan Keadilan Restoratif Pembaharuan Sistem Peradilan Pidana Anak. (Medan: Yayasan Pusaka Indonesia, 2014), Hlm 25

(21)

juga akan berdampak besar terhadap anak yang sering menontonnya, ini bisa menjadi suatu contoh perilaku yang akan ditiru anak dan sumber bagi anak untuk berbuat kejahatan hingga sampai melakukan perbuatan melawan hukum.

Anak yang melakukan kenakalan dapat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya, anak yang memiliki latar belakang kehidupan yang kurang baik bisa menimbulkan rasa resah bagi si anak, contoh terdekatnya seperti kurangnya perhatian dari keluarga, dengan kurangnya perhatian dari keluarga biasanya si anak berusaha untuk mendapatkan perhatian dari keluarganya dengan cara melakukan suatu tindakan tanpa memikirkan akibatnya, yang bisa saja mendorong anak dalam melakukan perbuatan-perbuatan atau tindakan negatif yang di kategorikan sebagai kenakalan anak. Sebab-sebab timbulnya kenakalan anak, Romli Atmasasmita mengemukakan pendapatnya tentang motivasi intrinsik dan ekstrinsik dari kenakalan anak, dimana motivasi intrinsik ini terdapat beberapa faktor yaitu faktor intelegentia, faktor usia, faktor kelamin, dan faktor kedudukan anak dalam keluarga. Ada juga motivasi ekstrinsik yang terdiri dari beberapa faktor, yaitu faktor rumah tangga, faktor pendidikan, sekolah, faktor pergaulan anak, dan faktor media massa.

Kenakalan tersebut dapat menyebabkan anak sampai terjerumus ke lubang yang menyesatkan sehingga anak bisa sampai ke perbuatan melawan hukum sehingga membawa anak untuk berkonflik dengan hukum. Apabila seorang anak melakukan perbuatan melawan hukum dan sampai berkonflik dengan hukum maka anak tersebut harus mendapatkan pembinaan dan diberikan perlindungan yang bertujuan untuk

(22)

melindungi psikis atau mental anak untuk menghadapi masa depannya yang masih panjang.

Penindakan secara hukum pidana anak ditentukan berdasarkan perbedaan umur anak, yaitu bagi anak yang masih berusia 8-18 tahun dan melakukan tindak pidana maka harus diperlakukan dengan cara yang berbeda dari perlakuan terhadap orang dewasa, akan tetapi setelah melampaui batas usia 18 tahun maka anak yang melakukan tindak pidana ditangani dengan cara yang berlaku terhadap orang dewasa.

Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Perlidungan Anak, hak asasi manusia dan Beijing Rules dimana anak yang berusia 8 (delapan) tahun sampai 12 (dua belas) tahun hanya dapat dikenakan tindakan, seperti dikembalikan kepada orang tuanya, ditempatkan pada organisasi sosial atau diserahkan kepada Negara, sedangkan terhadap anak yang telah mencapai umur di atas umur 12 (dua belas) tahun sampai 18 (delapan belas) tahun dapat dijatuhkan pidana.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak merupakan pengkhususan dari sebuah badan peradilan, yaitu peradilan umum untuk menyelenggarakan peradilan anak. Undang-Undang ini hanya bertujuan untuk resosialisasi dan rehabilitasi anak (reintegrasi). Akibatnya anak yang melakukan tindak pidana ringan harus berhadapan dengan negara melalui aparat penegak hukum.

Konsekuensinya jumlah anak yang menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan semakin meningkat. Undang-Undang ini juga hanya memberikan peranan dominan kepada hakim, bukan ke penyidik maupun penuntut umum (jaksa). Undang-Undang

(23)

ini tidak mengatur adanya diversi, yang menyelesaikan kasus pidana anak di luar peradilan formal, hal ini bisa mengakibatkan anak mendapat stigmatisasi. Untuk melaksanakan pembinaan dan memberikan perlindungan terhadap anak, diperlukan dukungan baik yang menyangkut kelembagaan maupun perangkat hukum yang lebih mantap dan memadai, oleh karena itu ketentuan mengenai penyelenggaraan pengadilan bagi anak perlu dilakukan secara khusus. Anak yang melakukan tindak pidana harus diperlakukan secara manusiawi, didampingi, disediakan sarana dan prasarana secara khusus, sanksi yang diberikan kepada anak harus sesuai dengan prinsip kepentingan terbaik anak. Adanya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menjadi jalan keluar untuk penanganan anak yang berkonflik dengan hukum secara lebih baik. Di dalam Undang- Undang tersebut mengatur tentang diversi. Anak bukan untuk dihukum atau dipenjara melainkan anak harus dipulihkan kembali agar tidak terpuruk dan trauma atas perbuatannya yang harus dihadapkan dengan hukum dan proses peradilan atau proses formal.

Penyelesaian melalui musyawarah sebetulnya bukan hal yang baru lagi di Indonesia, karena hampir semua perkara dapat diselesaikan dengan musyawarah.

Adapun sebagai mediator dalam musyawarah dapat diambil dari tokoh masyarakat yang terpercaya dan jika kejadiannya di sekolah, dapat dilakukan oleh kepala sekolah atau guru. Syarat utama dari penyelesaian melalui musyawarah adalah adanya pengakuan dari pelaku serta adanya persetujuan dari pelaku beserta keluarganya dan

(24)

korban untuk menyelesaikan perkara melalui musyawarah pemulihan maka barulah proses peradilan dapat berjalan.

Dilatarbelakangi oleh adanya dua penerapan hukum yang berlaku di Aceh yaitu pertama hukum yang secara umum berlaku di Indonesia dan kedua hukum khusus yang berlaku di Aceh (Qanun) sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian di wilayah hukum Pengadilan Negeri Langsa dikarenakan di wilayah hukum tersebut banyak dijumpai tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak, hal itu sesuai dengan data 3 (tiga) tahun terakhir yang penulis dapatkan dari hasil wawancara dengan Bapak Kurniawan, S.H., M.H. selaku hakim khusus anak di Pengadilan Negeri Langsa sebagai berikut :

Tabel 1

Angka kejahatan anak yang berkonflik dengan hukum di Pengadilan Negeri Langsa

No

. Jenis Perkara

Tahun

2018 2019 2020

1 Narkotika 2 2 3

2 Pencurian 4 3 1

3 Kecelakaan

Mengakibatkan Kematian - 1 -

4 Penipuan 1 - -

Jumlah 7 6 4

Sumber : Kantor Pengadilan Negeri Langsa, 2020

(25)

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian yang telah dibahas dalam latar belakang di atas, maka penulis dalam menganalisis permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penyelesaian terhadap anak yang berkonflik dengan hukum menurut Qanun Nomor 9 Tahun 2008 tentang pembinaan kehidupan adat dan adat istiadat?

2. Bagaimana proses penerapan diversi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum di Langsa?

3. Bagaimana penerapan diversi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum di Pengadilan Negeri Langsa?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang dan pokok-pokok permasalahan seperti yang dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis proses penyelesaian terhadap anak yang berkonflik dengan hukum sesuai Qanun Nomor 9 Tahun 2008 tentang pembinaan kehidupan adat dan adat istiadat.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis proses penerapan diversi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum di Langsa.

3. Untuk mengetahui pelaksanaan diversi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum di Pengadilan Negeri Langsa.

(26)

D. Manfaat Penelitian

Melalui penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat, secara teoritis dan secara praktis, sebagai berikut:

1. Secara Teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan kajian lebih lanjut bagi teoritis yang ingin mengetahui dan memperdalam masalah tentang penegakan hukum terhadap anak yang berkonflik dengan hukum di wilayah Provinsi Aceh.

2. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi aparat penegak hukum, seperti: polisi, jaksa, advokat, dan hakim serta seluruh lapisan masyarakat sehingga dengan demikian penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui teori, pertimbangan dan dasar hukum dalam penegakan hukum terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.

Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi, referensi, atau bahan tambahan bacaan bagi mahasiswa Fakultas hukum.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan informasi dan penelusuran kepustakaan dilingkungan Universitas Sumatera Utara khususnya penelusuran cek keaslian tulisan di program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, sepanjang yang diketahui dari hasil-hasil penelitian yang sudah ada, maka belum ada penelitian yang menyangkut masalah “Penerapan Diversi Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum

(27)

Menurut Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat dan Undang-undang Nomor 11 Taun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Langsa)” sehingga dengan demikian penelitian ini asli dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsepsional 1. Kerangka Teori

Kerangka teori disebut pula dengan kajian pustaka, atau kajian teoritis, studi pustaka, atau tinjauan pustaka. Tujuan kerangka teori adalah untuk menemukan teori (Hukum, Dalil, Hipotesis) dan menemukan metodologi (ukuran sampel, teknik pengambilan sampel, model penelitian, teknik analisis data) yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Kerangka teori juga diperlukan untuk membandingkan temuan hasil penelitian (data) dengan teori, atau hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain. Oleh karena itu, kerangka teoritis dilakukan baik sebelum maupun sesudah data dikumpulkan.

Kerangka teori, peneliti dituntut bersikap jujur, dalam arti selalu menyebut sumber (acuan) yang digunakan meskipun hanya sedikit yang dikutip. Untuk melakukan tinjauan pustaka ada beberapa syarat mengenai pustaka yang akan dipelajari, yaitu sebagai berikut:

a. Relevan dengan tema, topik, dan judul, hanya pustaka yang relevan yang digunakan. Kualitas penelitian tidak ditentukan oleh jumlah sumber pustaka yang digunakan.

b. Informasi mutakhir, dan terkini.

(28)

c. Berbobot ilmiah.

Beberapa sumber pustaka yang dapat digunakan, antara lain buku teks (text book), laporan penelitian, skripsi, tesis, atau disertasi, serta jurnal, abstrak, dan makalah seminar. Dalam buku-buku teks dapat diperoleh hukum atau teori.

Dari laporan penelitian, skripsi, tesis, atau disertasi dapat dipelajari metode penelitian beserta model analisisnya. Dari jurnal dapat diperoleh temuan-temuan mutakhir ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.6

Ilmu hukum selalu berkaitan dengan teori hukum dalam perkembangannya, secara sederhana dapat dikatakan, dua variabel atau lebih yang telah diuji kebenarannya dikenal dengan teori. Teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi.

Kerangka teori yakni kerangka pemikiran atau butir pendapat teori si penulis mengenai suatu kasus ataupun permasalahan yang bagi sipeneliti menjadi bahan perbandingan.

Teori yang digunakan atau yang dijadikan pisau analisis dalam penelitian tentunya bertujuan untuk menerangkan atau menjelaskan gejala spesifik tertentu terjadi dan suatu kerangka teori harus diuji untuk menghadapkannya pada fakta- fakta yang dapat menunjukan ketidakbenarannya.

Fungsi dari teori dalam penelitian adalah untuk menyusun dan mengklasifikasikan atau mengelompokkan penemuan-penemuan dalam sebuah penelitian, membuat ramalan atau prediksi atas dasar penemuan dan menyajikan

6Wagiati Soetedjo,Melani, Hukum Pidana Anak,( Bandung: Refika Aditama,2 0 1 3 ), hlm 16

(29)

penjelasan yang dalam hal ini untuk menjawab pertanyaan. Artinya teori merupakan suatu penjelasan rasional yang sesuai dengan objek yang harus didukung fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.

1. Teori Kearifan Lokal

Teori Kearifan lokal menurut C van Vollenhoven adalah Nilai-nilai, norma, hukum-hukum dan pengetahuan yang dibentuk oleh ajaran agama, kepercayaan-kepercayaan, tata nilai tradisional dan pengalaman pengalaman yang diwariskan oleh leluhur yang akhirnya membentuk sistem pengetahuan lokal yang digunakan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan sehari- hari oleh masyarakat.7

Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat local wisdom atau pengetahuan setempat “local knowledge” atau kecerdasan setempat local genious. Berbagai strategi dilakukan oleh masyarakat setempat untuk menjaga kebudayaannya.

Eksistensi hukum adat di Indonesia sampai saat ini telah diakui secara konstitusional. Sebagaimana tertuang dalam Pasal 18 B ayat (2) Undang- Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-

7 Ulfah Fajarini, Peranan Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter, (Jakarta : Rineka Cipta, 2014), hlm 123

(30)

undang”. Selanjutnya dalam Pasal 28 I ayat (3) UndangUndang Dasar 1945 dinyatakan bahwa identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan jaman dan peradaban.

Dalam berbagai undang-undang juga disinggung memgenai eksistensi hukum adat dan masyarakat adat. Apabila ditelusuri lebih lanjut, hukum adat dalam prakteknya adalah berisi kearifan-kearian lokal yang saat ini sedang mengemuka karena kapasitasnya telah terbukti bermanfaat sebagai pendekatan dalam berbagai aspek kehidupan. Secara yuridis formal kearifan lokal telah diperkenalkan di dalam Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat dalam upaya penyelesaian sengketa/perselisihan di gampong dengan memperhatikan nilai- nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat.

2. Teori Penegakan Hukum

Teori penegakan hukum menurut Lawrence M Friedman, seorang ahli sosiologi hukum dari Amerika, ada tiga elemen utama dalam penegakan hukum , yaitu:

a) Struktur hukum (Legal Structure) b) Subtansi hukum (Legal Substance) c) Budaya hukum (Legal Culture)

(31)

Menurut Lawrence berhasil atau tidaknya penegakan hukum bergantung pada: Substansi Hukum, Struktur Hukum/Pranata Hukum dan Budaya Hukum.

Pertama, substansi hukum; dalam teori Lawrence hal ini disebut sebagai sistem substansial yang menentukan dapat atau tidaknya hukum itu dilaksanakan. Substansi juga berarti produk yang dihasilkan oleh orang yang berada dalam sistem hukum yang mencakup keputusan yang mereka keluarkan, aturan baru yang mereka rancang. Substansi juga mencakup hukum yang hidup dalam masyarakat (living law), bukan hanya aturan yang ada dalam kitab undang-undang (law books).

Sebagai negara yang masih menganut Civil Law Sistem atau sistem Eropa Kontinental meski sebagian peraturan perundang-undangan juga telah menganut Common Law Sistem atau Anglo Saxon dikatakan hukum adalah peraturan-peraturan yang tertulis sedangkan peraturan-peraturan yang tidak tertulis bukan dinyatakan hukum. Sistem ini mempengaruhi sistem hukum di Indonesia.

Salah satu pengaruhnya adalah adanya asas legalitas dalam KUHP.

Dalam pasal 1 KUHP ditentukan “tidak ada suatu perbuatan pidana yang dapat di hukum jika tidak ada aturan yang mengaturnya”. Sehingga dapat atau tidaknya suatu perbuatan dikenakan sanksi hukum apabila perbuatan tersebut telah mendapatkan pengaturannya dalam peraturan perundang-undangan.

(32)

Kedua, Struktur hukum/pranata hukum; dalam hal ini disebut sebagai sistem struktural yang menentukan dapat atau tidaknya hukum itu dilaksanakan dengan baik. Struktur hukum berdasarkan UU No. 8 Tahun 1981 meliputi; mulai dari kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Badan Pelaksana Pidana (LAPAS). Kewenangan lembaga penegakan hukum dijamin oleh undang-undang, sehingga dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh-pengaruh lain.

Ketiga, Budaya hukum; Budaya hukum adalah unsur dari sistem hukum yang paling sulit untuk dibentuk karena membutuhkan jangka waktu relatif panjang. Hal ini terjadi karena budaya berkaitan dengan nilai-nilai. Apa yang berkaitan dengan nilai, pasti membutuhkan proses internalisasi agar nilai-nilai itu tidak sekadar diketahui, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari- hari.

Lawrence Meil Friedman memiliki anekdot yang menarik tentang hal ini, “Without legal culture, the legal system is iner -a dead fish lying in a basket, not a living fish swimming in its sea.” 8 Hukum di negara ini niscaya tak berdaya, ibarat ikan mati, jika tak disokong oleh budaya hukum bangsa sendiri. Hukum adalah untuk manusia,9artinya suatu aturan hukum tidak dapat dilepas dari aspek manusia. Bahkan ia berpusat pada

8 Lawrence Meil Friedman, Law and Society; an Introductions, (Prencite-Hall Foundations of Modern Sociology Series, Englewood Cliffts, Standford University, New Jersey, 1979), hlm 7.

9Satjipto Raharjo, Membedah hukum progresif, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2007), hlm 151.

(33)

manusia karena esensi dan eksistensinya berpusat pada manusia (antro posentris), dari, oleh, dan untuk manusia.

Terdapat adegium yang menyatakan “fiat justitia pereat mundus”

(meskipun langit runtuh, hukum harus ditegakkan). Hukum tidak dapat berjalan atau tegak bila tidak ada aparat penegak hukum yang kredibilitas, kompeten, dan independen. Seberapa bagusnya suatu peraturan perundang- undangan bila tidak didukung dengan aparat penegak hukum yang baik maka keadilan hanya angan-angan.

Lemahnya mentalitas aparat penegak hukum mengakibatkan penegakan hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya. Banyak faktor yang mempengaruhi lemahnya mentalitas aparat penegak hukum diantaranya lemahnya pemahaman Agama, Ekonomi, proses rekrutmen yang tidak transparan dan lain sebagainya. Sehingga dapat dipertegas bahwa faktor penegak hukum memainkan peran penting dalam memfungsikan hukum.

Peraturan sudah baik yang diharapkan, tetapi kualitas penegak hukum rendah maka akan ada masalah. Demikian juga, apabila peraturannya buruk sedangkan kualitas penegak hukum baik, kemungkinan munculnya masalah masih terbuka.10 Oleh karena itu dalam menciptakan penegakan hukum yang baik harus memiliki subtansi hukum yang baik, penegak hukum yang baik dan budaya hukum yang baik.

10W. Friedman, Teori dan Filsafat Hukum: Telaah kritis atasi Teori-teori Hukum (susunan I), judul asli Legal Theory, penerjemah: Muhammad Arifin, Cetakan ke-2, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 1993), hlm 20

(34)

2. Kerangka Konseptual

Dalam rangka menghindari kesalahpahaman dengan berbagai istilah yang digunakan dalam penelitian ini maka berikut akan dijelaskan maksud dari istilah- istilah yang digunakan yaitu sebagai berikut :

a. Penerapan adalah perbuatan menerapkan.11Penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum yaitu pikiran- pikiran badan pembuat undang-undaang yang dirumuskan dalam peraturan-peraturan hukum menjadi kenyataan.12

b. Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan ke proses di luar peradilan pidana.13 Ini merupakan konsep baru di indonesia untuk mengalihkan suatu kasus dari proses formal ke proses informal yang bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum.14 Proses diversi dilakukan untuk menghindari efek negatif terhadap diri anak dalam sistem peradilan pidana.

Diversi dilaksanakan sejak penyidikan dilakukan dan jika tidak berhasil akan dilanjutkan pada tahap penuntutan dan jika tidak berhasil maka pada saat pemeriksaan di persidangan juga akan dilakukan proses tersebut,

11Kamus Besar Bahasa Indonesia

12Satjipto Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum, (Bandung: Sinar Baru, 1983), hlm 24

13Pasal 1 Angka 7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

14Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia : Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Justice, (Bandung: Refika Aditama, 2012), hlm 168

(35)

apabila pada tahapan tersebut juga tidak berhasil maka dilanjutkan proses persidangan.15

c. Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.16

d. Qanun Aceh adalah peraturan perundang-undangan sejenis peraturan daerah provinsi yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan masyarakat Aceh.17

e. Adat adalah aturan perbuatan dan kebiasaan yang telah berlaku dalam masyarakat yang dijadikan pedoman dalam pergaulan hidup di Aceh.18 f. Adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari

generasi pendahulu yang dihormati dan dimuliakan sebagai warisan yang sesuai dengan Syariat Islam.19

g. Sistem Peradilan Pidana Anak adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai dari tahap

15Madiasa Ablisar, Mahmud Mulyadi, Marlina, Irzan Hafiandy, Usu Law Journal. Penerapan Asas Kepentingan Terbaik Bagi Anak Dalam Pelaksanaan Diversi. Vol 6, No 5. 2018

16 Pasal 1 Angka 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

17 Pasal 1 Angka 21 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh

18 Pasal 1 Angka 10 Qanun Aceh Nomer 9 Taun 2008 Tentang Pembinaan Keidupan Adat dan Adat Istiadat

19 Pasal 1 Angka 12 Qanun Aceh Nomer 9 Taun 2008 Tentang Pembinaan Keidupan Adat dan Adat Istiadat

(36)

penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.20

G. Metode Penelitian

Secara etimologi metode dapat diartikan sebagai jalan atau cara melakukan atau mengerjakan sesuatu, metode berasal dari bahasa Yunani “methodos” yang artinya “jalan menuju” bagi kepentingan ilmu pengetahuan, metode merupakan titik awal menuju proposisi-proposisi akhir dalam bidang pengetahuan tertentu.21 Metode penelitian diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam penelitian.

Metodologi penelitian adalah sebuah materi pengetahuan untuk mendapatkan pengertian yang lebih dalam mengenai sistimatisasi atau langkah-langkah penelitian.22 Sedangkan penelitian adalah sebagai bagian dari proses pengembangan ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode tertentu yang bertujuan untuk mengetahui apa yang telah dan akan sedang terjadi serta memecahkan masalahnya atau suatu kegiatan pencarian kembali pada kebenaran.23

Metode penelitian hukum adalah suatu cara kerja atau upaya ilmiah untuk memahami, menganalisis, memecahkan, dan mengungkapkan suatu permasalahan

20 Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

21 Bahder dan Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, (Bandung: Mandar Maju, 2008), hlm 17

22Syahrum dan Salim, Metodologi Penelitian Kuantitatif, (Bandung: Cita Pustaka Media, 2012), hlm 37

23Mukti Fajar N.D dan Yulianto, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm 19

(37)

hukum berdasarkan metode tertentu. Dari uraian tersebut, maka metode penelitian dalam penulisan ini menggunakan metode yuridis normatif.

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif digunakan untuk menggambarkan dan menganalisa pelaksanaan konsep-konsep hukum, norma-norma hukum dan nilai-nilai hukum yang erat kaitannya dengan pokok bahasan penelitian ini. Penelitian hukum normatif mempergunakan bahan-bahan hukum yang mengikat sebagai bagian data sekunder, dari beberapa sudut kekuatan mengikat dapat digolongkan kedalam bahan hukum primer, hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.24

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yang menggambarkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang menjadi objek penelitian. Deskriptif analitis, merupakan metode yang dipakai untuk menggambarkan suatu kondisi atau keadaan yang sering terjadi atau berlangsung yang tujuannya agar dapat memberikan data seteliti mungkin mengenai objek penelitian sehingga mampu menggali hal-hal yang bersifat ideal, kemudian dianalisis berdasarkan teori hukum atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.25

2. Pendekatan Penelitian

Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang- undangan (statute approach) dan pendekatan konsep (conseptual approach), dengan

24Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta, UI Press, 2010) hlm. 51

25Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1994, cet-ke 5), hlm 223

(38)

pendekatan tersebut peneliti akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabannya. Dalam penelitian ini digunakan sebuah pendekatan yang dikenal dengan pendekatan kualitatif, Penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.

Penulis merupakan instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis dan mengkonstruksi objek yang diteliti menjadi lebih jelas, mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, mengembangkan teori , memastikan kebenaran data dan meneliti sejarah perkembangan.26

3. Data penelitian

Penelitian yuridis normatif, data yang digunakan adalah data sekunder dalam penelitian ini. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui studi kepustakaan (library research). Studi kepustakaan ini dilakukan untuk memperoleh data sekunder.27Data sekunder memiliki beberapa bagian yaitu:

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum mempunyai kekuatan mengikat,28 atau bahan hukum yang bersifat autoratif artinya yang bersifat mengikat.29Dalam kaitan penelitian ini, yaitu :

1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945;

26Juliansyah Noor, Metodologi penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi dan Karya Ilmiah, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm 35

27Soerjono Soekanto, dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm 12

28Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum Jurumetri, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hlm 194

29Peter, Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu ukum( Jakarta: Kencana, 2008), hlm 29

(39)

2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak;

3) Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak;

4) Qanun Aceh Nomor 9 Thaun 2008 Tentang pembinaan kehidupan adat dan adat istiadat

5) Peraturan Gubernur Aceh Nomor 60 Tahun 2013 Tentang pelaksanaan penyelesaian sengketa / perselisihan adat dan adat istiadat

6) Peraturan Makamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi Dalam Sistem Peradilan Pidan Anak

7) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2015 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dan Penanganan Anak Yang Belum Berumur 12 (Dua Belas) Tahun

b. Bahan hukum sekunder, bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti :

1) buku-buku yang berkaitan dengan Diversi dan ilmu hukum lainnya;

2) jurnal-jurnal ilmiah ;

3) artikel yang dimuat dalam situs internet kaitan dengan penelitian ini;

c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan data yang memberikan petunjuk maupun penjelasan lebih mendalam terhadap bahan-bahan hukum primer dan bahan

(40)

hukum sekunder. Bahan hukum tersier yang digunakan dalam penelitian ini seperti kamus hukum, KBBI, ensiklopedia dan lain sebagainya.30

4. Teknik Pengumpulan Data

Berkenaan data yang digunakan hanya data sekunder, teknik yang digunakan dengan cara penelitian kepustakaan (library research) dan wawancara, studi ini dilakukan dengan menggunakan alat pengumpulan data yang ada, yaitu dengan mengumpulkan data dan informasi baik berupa buku, karangan ilmiah, peraturan perundang-undangan bahan tertulis dan hasil wawancara dengan narasumber yang berkaitan dengan objek penelitian.31

5. Analisis Data

Keseluruhan data dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif.32 Analisis kualitatif ini akan dikemukakan dalam bentuk uraian yang sistematis dengan menjelaskan hubungan antara berbagai jenis data. Kemudian semua data diseleksi dan diolah, kemudian dianalisa secara deskriptif, sehingga selain menggambarkan dan mengungkapkan, diharapkan dapat memberikan solusi atas permasalahan dalam penelitian ini.33 Pada penelitian hukum normatif, pengolahan data dilakukan dengan cara sistematik terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Sistematisasi berarti membuat

30Jhony Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya: Bayumedia, 2006), hlm 192

31Ronny Hanitijo Soemitro, Op. cit., hlm 225

32 Muslan Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, (Malang : UMM Pres, 2009), hlm 121

33Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2014), hlm 14

(41)

klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi hukum.34

Hasil analisa bahan hukum akan diinterpretasikan menggunakan metode interpretasi, sistematis, gramatikal,35 dan filosofis. Metode analisis data digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang sudah terkumpul, dimana pada penelitian ini digunakan metode analisis normatif kualitatif, karena penelitian ini bertitik tolak dari peraturan-peraturan yang ada sebagai norma hukum positif, sedangkan kualitatif dimaksudkan analisis data yang bertitik tolak pada usaha penemuan asas-asas dan informasi-informasi.

Dari data yang ada akan dianalisis secara induktif kualitatif agar semua dapat sampai pada suatu kesimpulan akhir yang menjawab semua pokok permasalahan dalam penelitian ini.

34Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op.Cit., hlm 24

35Jimly Asshiddiqie, Teori & Aliran Penafsiran Hukum Tata Negara. (Jakarta: Ind. Hill. Co, 1997), hlm 17-18

(42)

PEMBINAAN KEHIDUPAN ADAT DAN ADAT ISTIADAT

A. Batasan Usia Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum

Anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang telah mencapai usia 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai usia 18 (delapan belas) tahun yang diduga, disangka, didakwa atau dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana.

UNICEF mendefinisikan anak yang berkonflik dengan hukum adalah seseorang yang berusia dibawah 18 tahun yang yang berhadapan dengan sistem peradilan pidana dikarenakan yang bersangkutan disangka atau dituduh melakukan tindak pidana.36

Menurut Apong Herlina, anak yang berkonflik dengan hukum dapat juga dikatakan sebagai anak yang terpaksa berkonflik dengan sistem pengadilan pidana karena:37

a. Disangka, didakwa, atau dinyatakan terbukti bersalah melanggar hukum; atau b. Telah menjadi korban akibat perbuatan pelanggran hukum dilakukan

orang/kelompok orang/lembaga/Negara terhadapnya; atau

36Angger Sigit Pramukti dan Fuady Primaharsya, Sistem Peradilan Pidana Anak, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2015), hlm 16

37 Apong Herlina, dkk, Perlindungan Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum, Buku Saku Untuk Polisi, (Jakarta: Unicef, 2014), hlm. 17.

(43)

c. Telah melihat, mendengar, merasakan atau mengetahui suatu peristiwa pelanggaran hukum.

Oleh karena itu menurut Apong Herlina jika dilihat dari ruang lingkupnya anak yang berhadapan dengan hukum dapat dibagi menjadi:38

a. Pelaku atau tersangka tindak pidana b. Korban tindak pidana

c. Saksi suatau tindak pidana

Anak sebagai pelaku atau anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang disangka, didakwa, atau dinyatakan terbukti bersalah melanggar hukum dan memerluikan perlindungan.

Kata konflik itu sendiri berarti menunjukan adanya suatu peristiwa yang tidak selaras atau bertentangan dengan suatu peristiwa sehingga dapat dikatakan sebagai permasalahan. Oleh karena itu pengertian anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang mempunyai permasalahan karena suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum.

Berdasarkan Pasal 1 angka (3) Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.Masalah anak merupakan arus balik yang tidak diperhitungkan dari proses dan perkembangan pembangunan bangsa- bangsa yang mempunyai cita-cita tinggi dan masa depan cemerlang guna

38Ibid, hlm 43

(44)

menyongsong dan menggantikan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia. Terkait dengan hal itu paradigma pembangunan haruslah pro anak.39

Kategori anak sebagai pelaku tindak pidana tentu saja memiliki ketentuan umur tersendiri. Mereka adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Jadi anak yang berumur di bawah 12 tahun, walaupun melakukan tindak pidana, belum dikategorikan sebagai anak yang berhadapan dengan hukum. Dengan demikian, ia berada di luar ketentuan ini. Begitu juga, orang yang telah berumur di atas 18 tahun tidak lagi digolongkan kepada anak, namun sudah dianggap dewasa, dan berlaku ketentuan umum hukum pidana.

Kategori anak yang menjadi korban tindak pidana adalah anak yang belum berusia 18 tahun. Sedangkan kategori anak yang juga belum berumur 18 tahun.

Untuk kategori anak sebagai korban dan anak sebagai saksi disamakan usianya, yaitu 18 tahun. Di sini tidak diberi batasan apakah anak di bawah usia 12 tahun disebut korban dan menjadi saksi, Kalau melihat isi ketentuan ini tentu saja harus dipahami bahwa anak yang belum berumur 12 dapat menjadi korban dan dapat pula sebagai saksi.

Harry E. Allen and Clifford E. Simmonsen menjelaskan bahwa ada 2 (dua) kategori perilaku anak yang membuat anak harus berhadapan dengan hukum, yaitu:40

39Muhammad Joni dan Zulchaina Z Tanamas, Aspek Perlindungan Anak DalamPerspektif Konvensi Hak Anak, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1999), hlm.83

(45)

1. Status Offence adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa tidak dianggap sebagai kejahatan, seperti tidak menurut, membolos sekolah, atau kabur dari rumah

2. Juvenile Deliquence adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa dianggap kejahatan atau pelanggaran hukum.

Juvenile berasal dari bahasa latin juvenilis, yang artinya anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja. Sedangkan delinquent berasal dari bahasa Latin delinquere yang berarti terabaikan, mengabaikan, selanjutnya pengertian ini kemudian diperluas artinya menjadi jahat, asocial criminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana, dursila dan lain-lain. Sedangkan delinquency selalu mempunyai konotasi serangan, pelanggaran, kejahatan dan keganasan yang dilakukan oleh anak-anak muda dibawah usia 22 tahun. Sehingga Juvenile Delinquency ialah perilaku jahat (dursila) atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda yang merupakan gejala sakit(patalogis) secara social pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh bentuk tingkah laku yang menyimpang.41 Menurut Ruth Strang sebagaimana yang dikutip oleh Sabrina Hidayat menerjemahkan juvenile delinquency dengan kenakalan anak-anak dan menghindarkan penggunaan istilah kejahatan anak-

40Purniati, dkk. Correction In America : An Introduction, Analisa Situasi Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Justice System). Indonesia : UNICEF, 2003, hlm 2

41 Olivia BR Sembiring, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum, Jakarta, 2006, hlm 58-59

(46)

anak.42Juvenile Deliquency adalah suatu tindakan atau perbuatan pelanggaran norma, baik norma hukum maupun norma sosial yang dilakukan oleh anak-anak usia muda.43 Kenakalan anak disebut juga dengan Juvenile Deliquency. Juvenile atau yang dalam bahasa Indonesia berarti anak-anak, anak muda, sedangkan Deliquency artinya terabaikan / mengabaikan yang kemudian diperluas menjadi jahat, kriminal, pelanggar peraturan dan lain-lain.44 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, delikuensi diartikan sebagai tingkah laku yang menyalahi secara ringan norma dan hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat.45 Sedangkan Juvenile Deliquency menurut Romli Atmasasmita adalah setiap perbuatan atau tingkah laku seseorang anak dibawah umur 18 tahun dan belum kawin yang merupakan pelanggaran terhadap norma-norma hukum yang berlaku serta dapat membahayakan perkembangan pribadi si anak yang bersangkutan.46 Kemudian Bismar Siregar menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada pengertian tertentu mengenai kejahatan anak yang ada ialah perbuatan pelanggaran hukum dilakukan oleh seorang, mungkin ia seorang dewasa atau seorang anak. Jadi hanya perbedaan siapa pelaku.47

42 Sabrina Hidayat, Upaya Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Proses Peradilan Pidana, Jurnal Hukum Gema Pendidikan, No 1, Januari 2007 hlm 40

43Wagiati Soetodjo, Hukum Pidana Anak, (Bandung: PT Refika Aditama, 2006), hlm 11

44A.Syamsudin Meliala dan E.Sumaryono, Kejahatan Anak Suatu Tinjauan dari Psikologis dan Hukum, (Yogyakarta: Liberty, 1985), hlm 31

45Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1991, hlm 219

46 Romli Atmasasmita, Problem Kenakalan Anak-anak Remaja, (Bandung: Armico, 1983), hlm 40

47 Bismar Siregar, Masalah Penahanan dan Hukuman Terhadap kejahan Anak. Majalah Hukum dan Pembangunan No.4 Tahun x, 1980 hlm 340

(47)

Berdasarkan penjelasan diatas anak yang berhadapan dengan hukum atau anak yang berkonflik dengan hukum adalah mereka yang berkaitan langsung dengan tindak pidana, baik itu sebagai korban maupun saksi dalam suatu tindak pidana. Ada juga perbedaan dari perilaku atau perbuatan melawan hukum anak dan orang dewaa yang tidak bisa di samakan, dimana sebuah perbuatan yang dilakukan anak bisa saja menjadi suatu perbuatan melawan hukum, namun untuk orang dewasa itu bukan merupakan perbuatan melawan hukum, maupun sebaliknya.

Ada beberapa perbedaan dari anak yang berhadapan dengan hukum dan pelaku dewasa yang jelas berbeda adalah dari segi pemidanaannya, menurut Undang- Undang SPPA Pasal 71 ayat (1) pidana pokok untuk anak yang berkonflik dengan hukum yaitu:

a. pidana peringatan;

b. pidana dengan syarat:

i. pembinaan di luar lembaga ii. pelayanan masyarakat; atau iii. pengawasan.

c. pelatihan kerja;

d. pembinaan dalam lembaga; dan e. penjara.

(48)

Berbeda dengan KUHP, pidana pokok yang disebutkan dalam KUHP Pasal 10, yaitu:48

a. pidana mati, b. pidana penjara, b. Pidana kurungan c. Pidana denda d. Pidana Tutupan

Perbedaan anak yang berkonflik dengan hukum dan pelaku dewasa terlihat dalam pemidanaannya, pelaku dewasa hukuman mati merupakan pidana terakhir untuk pelaku dewasa, sedangkan anak adalah penjara itupun untuk sebagai pilihan terakhir dan tidak diperbolehkan hukuman mati/penjara seumur hidup.

Perbedaan lainnya juga ada dalam proses peradilannya, untuk anak proses penahanannya dalam proses penyidikan, penuntutan, dan peradilan relatif lebih singkat dibandingkan orang dewasa. Selain itu selama proses tersebut anak yang berkonflik dengan hukum juga harus selalu di dampingi oleh orangtua/wali, Bapas, Pekerja sosial, dan pihak-pihak terkait lainnya. Berbeda dengan orang dewasa yang hanya mendapatkan hak didampingi oleh kuaa hukum atau mendapatkan bantuan hukum.

Proses persidangan untuk anak yang berkonflik dengan hukum juga berbeda dengan orang dewasa, proses persidangan di pengadilan anak hakim tidak

48Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

(49)

diperbolehkan menggunakan toga dan atribut kedinasan. Berbeda dengan orang dewasa dimana hakim menggunakan toga saat proses perdilan. Proses peradilan untuk anak wajib dilakukan dengan sidang tertutup untuk umum, berbeda dengan terpidana orang dewasa yang sidangnya terbuka untuk umum.

B. Peran Dinas Syariat Islam dan Wilayatul Hisbah Dalam Menurunkan Angka Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum

Peraturan Daerah Istimewa Aceh Nomor 5 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Syariat Islam, pada Bab 1 Pasal 3 menjelaskan bahwa Pemerintah Daerah berkewajiban mengembangkan dan membimbing serta mengawasi pelaksanaan Syariat Islam dengan sebaik-baiknya. Pelaksanaan Syariat Islam sendiri telah dilaksanakan pada Provinsi Aceh sejak Tahun 2001 dimana pelaksanaannya telah lama di implementasikan dalam masyarakat Aceh.

Dinas Syariat Islam mempunyai kewenangan dalam membimbing dan mengawasi pelaksanaan Syariat Islam. Dalam hal ini Dinas Syariat Islam sebagai lembaga pemerintah yang yang memegang peran untuk melaksanakan penegakkan Syariat Islam secara kaffah di Aceh khususnya Kota Langsa yang memiliki peran sebagai lembaga pengawasan terhadap pelaksanaan Syariat Islam di Kota langsa yang dilaksanakan bersama dengan Wilayatul Hisbah Kota Langsa.

Berdasarkan keputusan gubernur Aceh tentang pembentukan organisasi dan tata kerja Wilayatul Hisbah dapat diartikan sebagai lembaga yang bertugas mengawasi, membina, dan melakukan advokasi terhadap pelaksanaan peraturan

(50)

perundang-undangan bidang syariat islam dalam rangka melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.49 Dalam Qanun lain turut menjelaskan bahwa wilayatul hisbah adalah Lembaga pembantu tugas Kepolisian yang bertugas membina, melakukan advokasi dan mengawasi pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar dan dapat berfungsi sebagal Polsus dan PPNS.50

Dalam menjalankan perannya, Dinas Syariat Islam memiliki kewajiban dalam mengatasi dan mengurangi kejahatan yang terjadi di Kota Langsa. Kewajiban yang dilaksanakan oleh Dinas Syariat Islam yaitu:

1) Berkewajiban menjadi motivator yaitu memberikan motivasi kepada masyarakat untuk dapat menjadi penggerak serta dapat turut berpartisipasi terhadap pelaksanaan Syariat Islam agar terwujudnya Syariat Islam secara kaffah.

2) Berkewajiban menjadi fasilitator yaitu untuk memfasilitasi setiap pembimbingan masyarakat artinya setiap masyarakat yang membutuhkan Da’i untuk acara keislaman maka Dinas Syariat Islam akan memfasilitasinya.

3) Berkewajiban menjadi regulator yaitu menyusun regulasi untuk mengatur pelaksanaan Syariat Islam serta mengatur cara untuk mengatasi kejahatan yang terjadi di Kota Langsa.

49 Keputusan Gubernur Aceh Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Wilayatul Hisbah.

50 Pasal 1 Angka 8 Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2004 Tentang Tugas Fungsional Kepolisian Daerah Nanggroe Aceh Darussalam

(51)

Dalam mengatasi pelanggaran dan kejahatan di Kota langsa, tentunya Dinas Syariat Islam mempunyai berbagai upaya yang dilakukan dalam mengatasinya.

Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh Dinas Syariat Islam dan Wilayatul Hisbah, yaitu:51

1) Meningkatkan wawasan dan kesadaran anak melalui pembinaan di lingkungan sekolah

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan wawasan dan kesadaran anak dengan melakukan pendekatan dan pembinaan di sekolah seperti menjadi pembina upacara di sekolah dan sosialisasi di sekolah dengan tujuan untuk membuka pikiran anak terhadap pelaksaksanaan Syariat Islam di Aceh khususnya di kota Langsa serta sanksi yang diberikan apabila pelanggaran-pelanggaran tersebut diakukan sehingga anak akan berfikir ulang apabila akan melakukan suatu tindak pidana.

2) Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.

Upaya yang dilakukan yaitu mensosialisasikan dan meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat terhadap pelaksanan Syariat Islam di Kota Langsa. Hal tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan dakwah simpatik yaitu dakwah di daerah-daerah yang rawan terjadinya pelanggaran Syariat Islam.

Seperti dakwah yang dilakukan di kafe-kafe (remang) terhadap generasi-

51Hasil Wawancara dengan Bapak Aji Usmanuddin Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa Tanggal 10 Desember 2020

(52)

generasi muda, dakwah perkantoran yang dilakukan di wilayah perkantoran yang berada di wilayah Kota Langsa.

3) Meningkatkan pengawasan pada daerah-daerah yang rawan.

Upaya yang dilakukan oleh Dinas Syariat Islam beserta Satpol dan WH dalam mengatasi seta mengurangi pelanggaran yaitu meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan Syariat Islam dengan salah satu cara patroli dan razia lapangan pada daerah-daerah yang rawan terjadi pelanggaran.

4) Berkordinasi dengan Diskominfo.

Zaman modern ini masih banyak remaja maupun orang tua yang mempergunakan media sosial secara negatif. Banyak remaja dan orang tua yang terjerumus oleh kejamnya pengaruh Internet, dan banyaknya pelanggaran Syariat Islam yang terjadi di Kota Langsa salah satunya pelanggaran Ikhtilath yang dilakukan oleh remaja pada umumnya. Maka dari itu Dinas Syariat Islam berkoordinasi dengan Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfo) untuk tingkat Langsa maupun Aceh agar dapat memblokir situs yang menyajikan hal-hal negatif seperti pornografi, perjudian online dan hal – hal lainnya yang dapat merusak dan memberi pengaruh buruk kepada generasi penerus bangsa.

Oleh karena itu, dengan upaya-upaya tersebut maka anak yang berkonflik dengan hukum di Kota Langsa terhitung rendah dan dapat diminimalisir.

(53)

C. Penyelesaian Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Menurut Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat Dan Adat Istiadat

Sistem hukum di Indonesia menaungi beberapa bentuk hukum utama dalam eksistensinya demi mewujudkan keadilan yang bermartabat, hukum adat merupakan hukum pelengkap, seperti juga halnya di Aceh yang merupakan bagian dari pada sistem hukum Nasional, yang hubungan satu dengan lainnya tunduk kepada peraturan perundang-undangan. Disamping norma-norma tersebut masyarakat Aceh di dalam kehidupannnya juga tunduk kepada ketentuan adat, yang merupakan ciri khas hukum adat tersebut telah ada semenjak masa kesultanan. Hal terlihat dari filosofi kehidupan masyarakat yakni “Adat bak po teumuruhom, hukom bak syiah kuala” sehingga dapat dimaknai bahwa hukum dan adat istiadat itu harus seiring sejalan dalam penerapannnya. Ciri khas tersebut menimbulkan minat yang kuat dari masyarakat dan pemerintah daerah untuk menjadikannya dasar hukum yang kuat dalam penerapan hukum adat khususnya di daerah Aceh.

Dalam hal penyelenggaraan kehidupan adat ditegaskan bahwa daerah dapat menetapkan berbagai kebijakan dalam upaya pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat serta lembaga adat di wilayahnya yang dijiwai dan sesuai dengan Syari’at Islam sebagai pondasi legalitas dalam melaksanakan keistimewaan Aceh di bidang hukum adat di Provinsi Aceh.

Dalam penyelenggara peradilan adat di gampong, Gampong diberi kewenangan dalam menyelesaikan sengketa/perselisihan berdasarkan Undang-

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka permasalah pokok dalam penelitian ini berkisar pada masalah penerapan asas kepentingan terbaik bagi anak (The Best

Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang diberikan untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah

Selain yang telah diuraikan diatas, akibat hukum dari adanya putusan pailit juga menimbulkan hak bagi kreditor melalui kurator untuk dapat melakukan tindakan hukum actio pauliana

Ketentuan dalam annex yang menyangkut perundingan di bidang angkutan laut dalam ayat (1) menyatakkan bahwa Pasal 2 dan annex tentang pengecualian Pasal 2 termasuk keharusan

35 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT.. 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan,

Perselisihan tersebut terjadi sejak adanya pengumuman/aanmaning yang dilakukan oleh VN selaku kuasa hukum dari ahli waris pemilik tanah yang pada intinya menyatakan terhadap tanah

Terima kasih penulis kepada sahabat dan teman-temanku yang sangat memberikan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan studi di Program Magister Ilmu Hukum Fakultas

dalam pembangunan perumahan dan kawasan permukiman berdasarkan Undang- undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman, yaitu mengalihfungsikan prasarana,