III. METODOLOGI
3.4 Metode Perencanaan
3.4.3 Analisis
3. Fasilitas Penunjang Spasial, Foto, Deskripsi
Survey lapang
4. Aksesibilitas Spasial, Foto,
Deskripsi
Survey Lapang, BAPPEDA
3.4.3 Analisis
Tahap analisis dilakukan untuk menganalisis potensi dan kendala sumber daya di Dukuh Karangkulon untuk tujuan pengembangan wisata yang berorientasi pada budaya masyarakat setempat khususnya budaya membatik. Analisis yang dilakukan berupa analisis deskriptif dan analisis spasial. Analisis dilakukan pada aspek fisik, aspek sosial dan aspek wisata dengan pembobotan pada tiap aspek. Menurut Gunn dalam Smith (1989) pembobotan untuk tujuan wisata memiliki perbandingan 30% untuk aspek biofisik, 30% untuk aspek sosial budaya dan 40% untuk aspek wisata. Pembobotan ini bertujuan untuk memperkuat pendekatan yang digunakan dalam perencanaan. Berdasarkan tujuan studi yang berorientasi pada budaya membatik, maka pembototan yang diberikan pada yaitu 30% untuk
aspek biofisik, 40% untuk aspek budaya dan 30% untuk aspek wisata. Analisis spasial dilakukan pada beberapa komponen aspek fisik, aspek budaya dan aspek wisata yang memiliki bentuk data spasial dengan metode skoring. Hasil penggabungan analisis spasial aspek fisik, budaya dan wisata berupa peta komposit yang kemudian bersama dengan data deskriptif ketiga aspek tersebut digunakan pada tahap berikutnya, yaitu sintesis.
3.4.3.1Analisis Aspek Fisik
Analisis aspek fisik bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik kawasan yang sesuai untuk tujuan pengembangan wisata. Proses analisis dilakukan terhadap seluruh komponen baik secara spasial maupun deskriptif. Komponen visual, iklim, hidrologi, geologi dan tanah metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dikarenakan kondisinya cenderung yang homogen dengan Desa Wukirsari. Analisis spasial dilakukan pada komponen topografi.
Pada komponen visual, analisis dilakukan secara deskriptif dengan mengidentifikasi kualitas pemandangan di Dukuh Karangkulon menjadi dua yaitu pemandangan dengan kualitas visual yang baik (good view) dan pemandangan dengan kualitas visual yang buruk (bad view).
Pada analisis secara spasial, setiap komponen memiliki parameter yang harus diperhatikan agar tujuan pengembangan wisata dapat tercapai sesuai dengan kondisi fisik yang ada. Pada komponen topografi, parameter yang diperhatikan yaitu kemiringan lahan terkait dengan kesesuaian untuk kegiatan wisata dan bahaya lanskap bencana longsor. Menurut Hardjowigeno dan Widyatmaka (2001) kesesuaian lahan untuk wisata ditentukan oleh drainase tanah, bahaya banjir, permeabilitas, lereng, tekstur tanah, kerikil dan kerakal, batu serta batuan. Dalam studi ini parameter yang diambil yaitu kesesuaian lahan untuk kegiatan wisata berdasarkan kemiringan. Area dengan kemiringan 0-8% yaitu area yang sangat sesuai untuk pengembangan wisata (skor 3), area dengan kemiringan 8-15% yaitu area yang cukup sesuai untuk pengembangan wisata (skor 2) dan area dengan kemiringan lebih dari 15% yaitu tidak sesuai untuk pengembangan wisata (skor 1). Pada analisis bahaya lanskap bencana longsor, parameter yang digunakan yaitu klasifikasi kemiringan lahan berdasarkan Klasifikasi bahaya longsor berdasarkan
Sitorus (2006) yaitu area dengan kemiringan 0-15% merupakan area yang aman dari bencana longsor (skor 3), kemiringan 15-25% merupakan area yang cukup bahaya dari bencana longsor (skor 2), dan area dengan kemiringan >25% merupakan area yang bahaya dari bencana longsor (skor 1). Hasil analisis dari keseauaian kemiringan lahan dan bahaya lanskap bencana longsor kemudian di
overlay untuk menghasilkan analisis aspek fisik berupa zona kesesuaian untuk kegiatan wisata di Dukuh Karangkulon. Zona kesesuaian terdiri dari area yang sesuai, kurang sesuai, dan tidak sesuai untuk kegiatan wisata.
3.4.3.2Analisis Aspek Sosial Budaya
Analisis komponen pada aspek budaya dilakukan secara spasial dan deskriptif. Analisis deskriptif dilakukan pada komponen persepsi dan preferensi masyarakat terhadap rencana pengembangan kegiatan wisata serta ragam budaya di Dukuh Karangkulon. Analisis dilakukan terhadap data yang merupakan hasil dari penyebaran kuisioner kepada masyarakat Dukuh Karangkulon dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Selain itu, dilakukan juga wawancara kepada beberapa tokoh masyarakat setempat antara lain Kepala Desa Wukirsari, Kepala Dukuh Karangkulon, Ketua Paguyuban Batik Giriloyo, serta beberapa masyarakat Dukuh Karangkulon.
Analisis komponen persepsi dan preferensi masyarakat terhadap rencana pengembangan wisata bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pemahaman masyarakat mengenai sejarah dan budaya yang ada di sekitar mereka khususnya di Dukuh Karangkulon seperti asal usul batik, peninggalan bersejarah di Dukuh Karangkulon, serta budaya masyarakat setempat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kemudian untuk mengetahui usaha-usaha yang ditunjukan masyarakat dan pemerintah setempat untuk menjaga budaya membatik yang ada. Hal ini penting karena kegiatan wisata nantinya akan dilaksanakan oleh masyarakat setempat dengan dukungan pemerintah. Sehingga untuk menjaga keberlanjutan kegiatan wisata perlu pemahaman yang baik dari masyarakat dan pemerintah setempat mengenai upaya pelestarian sejarah dan budaya yang menjadi daya tarik utama wisata di Dukuh Karangkulon. Dan terakhir untuk melihat tingkat penerimaan masyarakat (akseptabilitas), analisis bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan mereka terhadap rencana pengembangan kegiatan wisata di
Dukuh Karangkulon. Analisis menggunakan metode statistik sederhana yang ditampilkan dalam bentuk diagram batang yang digunakan sebagai pertimbangan untuk rencana pengembangan wisata di Dukuh Karangkulon.
Analisis spasial dilakukan pada komponen tata guna lahan (landuse) di Dukuh Karangkulon untuk melihat keterkaitan fungsi penggunaan lahan dengan budaya membatik. Penggunaan lahan di Dukuh Karangkulon dibagi menjadi beberapa fungsi yaitu untuk pemukiman, sawah, hutan, ladang, semak belukar dan kawasan bersejarah. Hasil analisis spasial pada aspek budaya menghasilkan zona budaya yang terdiri dari area dengan fungsi penggunaan lahan yang berkaitan langsung (skor 3), berkaitan tidak langsung (skor 2) dan tidak berkaitan (skor 1) dengan budaya membatik.
3.4.3.3Analisis Aspek Wisata
Analisis aspek wisata di Dukuh Karangkulon dilakukan secara deskriptif dan spasial. Analisis deskriptif dilakukan pada komponen persepsi pengunjung terkait kegiatan wisata yang telah ada saat ini serta harapan pengunjung. Analisis spasial dilakukan pada komponen obyek dan atraksi wisata, aksesibilitas, serta fasilitas pendukung wisata. Hal ini bertujuan untuk memperoleh area memiliki potensi untuk pengembangan wisata di Dukuh Karangkulon. Ketiga komponen masing-masing memiliki parameter yang harus diperhatikan untuk tujuan pengembangan wisata di Dukuh Karangkulon.
Analisis pada komponen persepsi pengunjung dilakukan dengan menggunakan metode statistik sederhana. Analisis komponen ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengunjung terhadap kegiatan wisata yang telah ada saat ini serta harapan pengunjung tentang wisata batik di Dukuh Karangkulon. Agar kegiatan wisata yang direncanakan sesuai dengan harapan pengunjung sehingga tujuan wisata tercapai dan memberi kepuasan bagi pengunjung yang melakukan kegiatan wisata di Dukuh Karangkulon.
Pada komponen obyek dan atraksi wisata parameter yang dikaji yaitu keanekaragaman obyek dan atraksi wisata pada masing-masing RT. Hasil analisis pada komponen ini berupa tiga kelas keragaman obyek dan atraksi yaitu kawasan
dengan obyek dan atraksi wisata yang beragam (skor 3), cukup beragam (skor 2) dan tidak beragam (skor 1).
Kemudian pada komponen fasilitas penunjang wisata, parameter analisis yaitu ketersediaan fasilitas wisata pada tiap RT. Analisis pada sub aspek ini bertujuan untuk melihat ketersediaan fasilitas wisata pada masing masing RT di Dukuh Karangkulon. Parameter analisis pada komponen ini yaitu jumlah dan kondisi fisik fasilitas wisata yang ada saat ini di Dukuh Karangkulon. Hasil analisis pada komponen ini berupa tiga kelas ketersediaan fasilitas penunjang wisata di Dukuh Karangkulon yaitu kawasan yang memiliki fasilitas wisata memadai (skor 1), cukup memadai (skor 2) dan tidak memadai (skor 3). Selanjutnya pada komponen aksesibilitas, parameter analisis yang digunakan yaitu ketersediaan jalur sirkulasi untuk kegiatan wisata di Dukuh Karangkulon. Jalur sirkulasi di Dukuh Karangkulon sendiri terbagi menjadi jalur utama pedesaan yang menghubungkan antar pedukuhan di Desa Wukirsari serta jalur lokal yang menghubungkan antar RT. Analisis pada komponen ini menghasilkan zona aksesibilitas dan sirkulasi berdasarkan RT yaitu area memadai (skor 3), kurang memadai (skor 2) dan tidak memadai (skor 1)
Hasil dari analisis spasial pada aspek wisata menghasilkan zona potensi wisata di Dukuh Karangkulon. Peta tersebut akan membagi Dukuh Karangkulon berdasarkan potensi wisata yang ada yaitu area dengan potensi wisata tinggi (skor 3), sedang (skor 2) dan rendah (skor 1). Tabel 2 menjelaskan mengenai parameter dan kriteria analisis spasial pada tiap aspek dengan bobot dan skor pada tiap komponen.
Tabel 2. Parameter dan Kriteria Analisis Spasial
No. Aspek Bobot (%) Parameter Kriteria Skor I. Biofisik (30%)
a. Topografi Kemiringan yang
sesuai untuk kegiatan wisata Sangat sesuai (0-8%) Cukup sesuai (8-15%) Tidak sesuai ( >15%)