• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.6 Efisiensi Rantai Pasokan Rajungan .1 Identifikasi persoalan

5.6.3 Analisis Model

Penyelesaian perhitungan model tujuan dilakukan dengan menggunakan porgoram Solver. Tampilan perhitungan dengan program Solver dapat dilihat pada Lampiran 9.

Dari hasil perhitungan, diketahui bahwa kapasitas minimal produksi perusahaan dapat dipenuhi jika pasokan daging rajungan per hari diperoleh dari

miniplant Semarang 100 kg, miniplant Rembang 90 kg, miniplant Tuban 50 kg, miniplant Surabaya 25 kg, miniplant Banyuwangi 85 kg dan miniplant Madura

150 kg. Dengan jumlah pasokan daging dari miniplant, maka jumlah daging dari pool Rembang berjumlah 140 kg sedangkan jumlah daging dari pool Sidoarjo berjumlah 260 kg. Dengan alokasi pasokan seperti di atas maka perusahaan dapat memenuhi minimal produksi dengan biaya transportasi yang dikeluarkan adalah senilai Rp 1.867.500,-. Hasil perhitungan jumlah pasokan dan biaya transportasi dapat dilihat pada Tabel 10.

Berdasarkan hasil perhitungan Solver, untuk memenuhi produksi minimal perusahaan perhari, miniplant Sumbawa tidak perlu mengirimkan pasokan daging karena biaya transportasi yang tinggi. Namun, mengingat rajungan merupakan komoditas musiman maka miniplant Sumbawa dapat mengirimkan daging rajungan untuk menutupi kekurangan pasokan apabila rajungan yang dikirimkan oleh miniplant daerah lain belum mencukupi pasokan minimal perusahaan perhari.

Tabel 10. Hasil perhitungan biaya transportasi daging rajungan Sumber (i) Tujuan (j) Biaya

(Cij) (Rp/Kg) Jumlah Pasokan (Xij) (kg) Biaya Transportasi (CijXij) (Rp)

Miniplant Semarang (1) Perusahaan (10) 250 100 25.000

Miniplant Rembang (2) Pool Rembang (8) 200 90 18.000

Miniplant Tuban (3) Pool Rembang (8) 0 50 0

Miniplant Surabaya (4) Pool Sidoarjo (9) 1.000 25 25.000

Miniplant Banyuwangi (5) Pool Sidoarjo (9) 3.000 85 255.000

Miniplant Madura (6) Pool Sidoarjo (9) 2.000 150 300.000

Miniplant Sumbawa (7) Pool Sidoarjo (9) 8.000 0 0

Pool Rembang (8) Perusahaan (10) 532.600 532.600

Pool Sidoarjo (9) Perusahaan (10) 711.900 711.900

6.1 Kesimpulan

Rantai pasokan rajungan pada studi kasus PT Windika Utama memiliki anggota primer yaitu nelayan, bakul, pemilik miniplant dan perusahaan. Sedangkan anggota sekundernya yaitu pengusaha es batu, penyedia tenaga kerja pengupas daging rajungan, produsen alat tangkap rajungan, dan penyedia sarana transportasi. Sebagian besar pemilik miniplant juga merangkap sebagai bakul sehingga memperpendek rantai pasokan daging rajungan pada penelitian ini. Pemilik miniplant yang memasok daging rajungan ke PT Windika Utama berasal dari berbagai wilayah seperti Semarang, Rembang, Tuban, Surabaya, Bayuwangi, Madura, dan Sumbawa.

Aktifitas yang dilakukan oleh masing-masing anggota primer rantai pasokan adalah nelayan melakukan aktifitas penjualan dan pengangkutan. Aktifitas yang dilakukan oleh bakul adalah penjualan, pembelian, pengangkutan, sortasi dan informasi pasar. Sedangkan, aktifitas yang dilakukan oleh pemilik

miniplant hampir sama dengan perusahaan yaitu penjualan, pembelian,

pengangkutan, penyimpanan, pengemasan, sortasi, grading, pengolahan dan informasi pasar.

Dalam pengawasan mutu, nelayan cenderung kurang memperhatikan penanganan hasil tangkapan, rajungan yang tertangkap tidak diberi penanganan yang baik sehingga ada beberapa rajungan hasil tangkapan yang cacat seperti putusnya kaki jalan ataupun capit. Pada tingkat bakul juga tidak ditemukan adanya pembedaan grade mutu. Pengawasan mutu mulai dijalankan pada tingkat

miniplant dimana rajungan ditangani dengan baik, sesuai prosedur pengolahan

dan terdapat pembedaan grade mutu untuk daging rajungan yang dihasilkan serta sesuai dengan standar perusahaan. Perusahaan memantau pengawasan mutu

miniplant dengan menempatkan manajer area yang bertugas menjaga dan

meningkatkan kualitas dan kuantitas dari miniplant di daerah-daerah. Pengawasan mutu di perusahaan dilakukan dengan pengujian mutu produk pada tiap tahapan proses. Pengujian mutu disesuaikan dengan standar yang berlaku di Indonesia.

Pada penelitian ini terdapat 10 saluran pemasaran daging rajungan, dari hasil perhitungan margin pemasaran, saluran pemasaran yang paling efisien adalah saluran 4 (Nelayan Tuban – Miniplant Tuban – Perusahaan) dengan biaya fungsional sebesar Rp 2.250,- Sedangkan saluran pemasaran yang paling tidak efisien adalah saluran pemasaran 10 (Nelayan Sumbawa – Miniplant Sumbawa – Perusahaan) dengan biaya fungsional sebesar Rp 4.600,-.

Sedangkan dari hasil perhitungan efisiensi biaya transportasi, diketahui bahwa kebutuhan minimal produksi perusahaan diperoleh dengan biaya transportasi minimal jika pasokan daging rajungan per hari diperoleh dari

miniplant Semarang 100 kg, miniplant Rembang 90 kg, miniplant Tuban 50 kg, miniplant Surabaya 25 kg, miniplant Banyuwangi 85 kg dan miniplant Madura

150 kg. Dengan jumlah pasokan daging dari miniplant, maka jumlah daging dari pool Rembang berjumlah 140 kg sedangkan jumlah daging dari pool Surabaya berjumlah 260 kg. Dengan alokasi pasokan seperti di atas maka perusahaan dapat memenuhi minimal produksi dengan biaya transportasi yang dikeluarkan adalah senilai Rp 1.867.500,-.

6.2 Saran

Mengingat rajungan merupakan komoditi yang ketersediaannya dipengaruhi musim, maka sebaiknya perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh perbedaan musim pada kualitas daging rajungan dan efisiensi biaya transportasi rantai pasokan rajungan di daerah Jawa Tengah.

Anonim. 2005. Crab Meat Grades. http://www.phillipsfoodseurope.com/. [12 Desember 2008].

Bahri,S., Indraningsih, Widiastuti, R., Murdiati, R., Maryam, R. 2002. Keamanan Pangan Asal Ternak : Suatu Tuntutan di Era Perdagangan Bebas.

Wartazoa. 12: 47-64.

Bawono, B. 2007. Analisis Pemilihan Vendor Berbasis Fuzzy Supply Chain.

Jurnal Teknologi Industri. 6:31-38.

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2008. Statistik Perikanan Tangkap Jawa

Tengah, 2007. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Dewan Standardisasi Nasional, 2002. SNI (Standar Nasional Indonesia)

01-6929.2-2002. Daging rajungan dalam kaleng secara pasteurisasi persyaratan bahan baku. Dewan Standardisasi Nasional. Jakarta.

Earle RL. 1969. Satuan Operasi Pengolahan Pangan. Nasution Z, penerjemah. Bogor: PT. Sastra Hudaya. Terjemahan dari: Unit Operation in Food

Processing.

Griffin, P.M., Thomas, D.J. 1996. Coordinated supply chain management.

European Journal of Operational Research 96:1-15.

Hanafiah, A.M. dan Saefuddin, A.M. 2006. Tata Niaga Hasil Perikanan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Heizer, J dan Render, B. 2004. Principles Of Operations Management. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Hidayat, N. 2007. Pengembangan Produk & Teknologi Proses.

http://ptp2007.wordpress.com/. [19 Juli 2008].

Ibrahim, B. Erungan, AC. Sadi, U. 2007. Teknologi Proses Thermal Hasil

Perairan. Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan

Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Irawan, HSL. 1995. Pengawetan Ikan dan Hasil Perikanan. Solo: CV Aneka.

Ito, T., Salleh, M.R. 2000. A blackboard-based negotiation for collaboratives supply chain system. J Of Materials Processing Technology. 107:398-403 Moeljanto. 1992. Pengawetan Pengolahan Hasil Perikanan. Jakarta: Penebar

Motarjemi,Y., Kaferstein,F. 1999. Food Safety, Hazard Analysis and Critical Control Point and The Increase of Foodborne disease: a Paradox?. Food

Control. 10:325-333

Muchtadi, TR dan Sugiyono. 1992. Petunjuk Laboratorium Ilmu Bahan Pangan. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor.

Mulyono, S. 1991. Operations Research. Jakarta: FE UI.

Nasution, M.N. 2004. Manajemen Mutu Terpadu. Bogor: Ghalia Indonesia.

Noegroho, A. 2007. Indonesia Produsen Perikanan Terbesar Ke-3 di Dunia. www.mediabisnisonline.com. [20 Januari 2009].

Nurholik. 2005. Pengaruh Ukuran Karapas Terhadap Rendemen Daging Rajungan (Portunus pelagicus). [Skripsi]. Departemen Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Oemarjati BS dan Wardhana W. 1990. Taksonomi Avertebrata. Di dalam Pengantar Praktikum Laboratorium. Universitas Indonesia. Jakarta: UI Press.

Olson, DL. 1990. Chance constrain quality control. Engineering Cost and

Production Economics 20:165-174.

Pratiwi, S.G. dan Wiratno, S.E. 2008. Mathematical modelling of the distribution system in marine agroindustry : A case study. Proceedings of the 9th Asia

Pasific Industrial Engineering & Management System Confrence; Bali,

3-5 December 2008. APIEMS. 2008. hlm 4999-23-507.

Pratt, H.S. 1953. A Manual Guide Of The Common Invertebrates Animal. Macgraw Hill. Company Inc: New York.

Prawirosentono,S. 2002. Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu Total

Quality Management Abad 21. Jakarta : Bumi Angkasa.

Rejeki, S. 2007. The effect of different water flow rates on the survival rate of blue crab (Portunus pelagicus) zoea IV-megalopa stages. Journal of

Coastal Development 10:197-203.

Said, A. I, et al. 2006. Produktifitas dan Efisiensi dengan Supply Chain

Management. Jakarta: Penerbit PPM.

Simamarta, D. A. 1985. Operations Research: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia.

Simchi-Levi, D., P. Kaminsky dan E. Simchi-Levi. 2003. Designing, and

Managing The Supply Chain : Concepts, Strategies and Case Studies.

Sistem Informasi Perhitungan Statistik Kelautan dan Perikanan. 2006. Data Produksi Berdasarkan Jenis Ikan Perairan Laut Tahun 2003-2005 Pada Perairan Provinsi Jawa Tengah. http://simpatik.dkp.go.id/. [21 Juli 2009].

Soekarto, S.T. 1990. Dasar-Dasar Pengawasan dan Standarisasi Mutu Pangan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

Sudiyono, A. 2002. Pemasaran Pertanian. Malang: UMM Press.

Supranto, J. 2005. Teknik Pengambilan Keputusan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Susanto. 2007. Studi pengaruh periode terang dan gelap bulan terhadap rendemen dan kadar air daging rajungan (portunus pelagicus l) yang di proses pada mini plant panaikang kabupaten maros. Jurnal Agrisistem 3:50-56.

Susanto, B et al. 2004. Pengamatan aspek biologi rajungan (Portunus pelagicus), dalam menunjang teknik pembenihannya. Warta Penelitian Perikanan

Indonesia 1:10-17.

Tarigan, N.M.R. 2004. Analisis pelaksanaan pengendalian mutu pada perusahaan.

Jurnal ilmiah manajemen dan bisnis 4: 115-122.

Tunggal, A.W. 2009. Manajemen Logistik dan Supply Chain Management

Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Anggota Rantai Pasokan

Daftar Pertanyaan Windika Utama 1. Kapasitas produksi perhari? 2. Pasokan daging perhari?

3. Kebutuhan daging di perusahaan pada Bulan Agustus 2009 4. Sistem pemesanan daging yang dilakukan oleh perusahaan? 5. Pengaturan pemesanan dilakukan oleh divisi apa?

6. Miniplant pemasok daging rajungan selama Bulan Agustus 2009 7. Sistem penyimpanan daging

8. Pengawasan mutu yang dilakukan oleh perusahaan terhadap miniplant 9. Kerjasama yang dilakukan antara perusahaan dengan miniplant

10. Spesifikasi daging yang diinginkan oleh perusahaan

11. Jika daging tidak sesuai dengan permintaan perusahaan maka akan dikemanakan?

12. Harga beli daging rajungan perminiplant sama atau berbeda-beda?

13. Biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mendatangkan daging rajungan dari miniplant?

Daftar pertanyaan Miniplant 1. Rajungan didapatkan dari? 2. Produksi perhari/perbulan?

3. Tahap-tahap pengolahan daging rajungan 4. Harga beli rajungan per kilo

5. Harga jual rajungan per kilo

6. Rutinitas pengiriman ke Windika Utama

7. Berapa lama penyimpanan daging rajungan sampai siap kirim ke perusahaan

8. Pengawasan mutu dan Grading yang dilakukan miniplant? 9. Upah pekerja?

10. Miniplant hanya mengirim ke WU atau ke perusahaan lain juga? 11. Punya persediaan daging atau tidak?

12. Kalau daging kurang/lebih dari pesanan bagaimana? 13. Kalau daging tidak sesuai pesanan WU bagaimana? Daftar pertanyaan Bakul

1. Rajungan yang didapatkan per hari? 2. Kerjasama dengan pemilik miniplant?

3. Rajungan langsung di bawa ke miniplant/dijual ke pasar dulu? 4. Rajungan di es atau tidak selama pengumpulan dari nelayan? 5. Nelayan biasanya selalu menjual ke satu bakul/ke beberapa? Daftar pertanyaan Nelayan

1. Penangkapan rajungan dengan alat? 2. Khusus mencari rajungan/tidak? 3. Sekali melaut biaya yang dibutuhkan? 4. Rajungan yang didapatkan tiap melaut? 5. Musim yang banyak rajungan tertangkap? 6. Tiap melaut membawa Es/tidak?

Departemen Teknologi Hasil Perairan

Dokumen terkait