HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Uji Heteroskedastisitas
4.4. Analisis Model dan Pengujian Hipotesis 1. Hasil Analisis Regresi Berganda
Sumber: data diolah, (Lampiran 3)
Berdasarkan tabel 4.10 di atas dapat disimpulkan bahwa model regresi
tidak terjadi heteroskedastisitas, karena tingkat signifikansi yang dihasilkan oleh
variabel rasio profitabilitas (X1), rasio likuiditas (X2), rasio hutang (X3) lebih
kecildari 5% (sig > 5%).
4.4. Analisis Model dan Pengujian Hipotesis 4.4.1. Hasil Analisis Regresi Berganda
Perhitungan dilakukan dengan menggunakan metode regresi liniear
berganda untuk melihat konsistensi dari pengaruh variabel-variabel independen
terhadap variabel dependennya. Hasil analisis tersebut dusajikan dalam tabel
Tabel 4.11. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Coefficientsa .581 1.339 .434 .668 .432 .407 .137 1.062 .299 6.218 1.015 .755 6.124 .000 .205 .311 .089 .658 .517 (Constant) Tr_X1 Tr_X2 Tr_X3 Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.
Dependent Variable: Tr_Y a.
Sumber : data diolah, (lampiran 3)
Berdasarkan tabel di atas diperoleh model persamaan regresi sebagai
berikut :
Y = 0,581 + 0,432 X1 + 6,218X2 + 0,205X3 + e
Dari model persamaan regresi linier tersebut di atas, dapat
diinterprestasikan, sebagai berikut :
1. Konstanta (a)
Nilai konstanta (a) sebesar 0,581 menunjukkan bahwa, apabila variabel rasio
profitabilitas (X1), rasio likuiditas (X2), rasio hutang (X3) konstan, maka
besarnya harga saham (Y) yaitu sebesar 0,581.
2. Koefisien (β1) Untuk Variabel Rasio profitabilitas (X1)
Besarnya nilai koefisien regresi (β1) sebesar 0,432 yang artinya jika variabel rasio profitabilitas (X1) naik sebesar satu satuan, maka besarnya dividen pay
out ratio (Y) akan turun sebesar 0,432 dengan asumsi bahwa variabel bebas
lainnya bersifat konstan.
Besarnya nilai koefisien regresi (β2) sebesar 6,218, yang artinya nilai (β2) jika variabel rasio likuiditas (X2) naik sebesar satu satuan maka besarnya dividend
payout ratio (Y) akan naik sebesar 6,,218 dengan asumsi bahwa variabel
bebas lainnya bersifat konstan.
4. Koefisien (β3) Untuk Variabel Rasio Aktivitas (X3)
Besarnya nilai koefisien regresi (β3) sebesar 0,205, yang artinya jika variabel rasio aktivitas (X3) naik sebesar satu satuan, maka besarnya dividend payout
ratio (Y) akan naik sebesar 0,205 dengan asumsi bahwa variabel bebas lainnya
bersifat konstan.
4.4.2. Uji t
Berdasarkan hasil uji tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis
penelitian ini “Bahwa rasio profitabilitas, rasio likuiditas, rasio hutang
berpengaruh positif terhadap dividend payout ratio perusahaan sektor tambang
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
4.4.2.2. Uji t
Uji t bertujuan untuk menguji signifikansi pengaruh rasio profitabilitas (X1),
rasio likuiditas (X2), rasio hutang (X3) secara parsial terhadap dividend payout
ratio (Y) pada perusahaan sektor tambang yang go publik di BEI adalah sebagai
berikut:
Coefficientsa .581 1.339 .434 .668 .432 .407 .137 1.062 .299 6.218 1.015 .755 6.124 .000 .205 .311 .089 .658 .517 (Constant) Tr_X1 Tr_X2 Tr_X3 Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.
Dependent Variable: Tr_Y a.
Sumber : data diolah, (lampiran 3)
1. Menentukan t tabel
Nilai kritis uji t ditentukan dengan melihat tabel t sesuai dengan tingkat
signifikansinya dan df yang digunakan, tingkat signifikansi 5%/2=0,025 (Uji
dua sisi) dan df=n-k, 27-3=24, maka didapat nilai t tabel =2,064
2. Membandingkan t hitung dengan t tabel
Nilai t Hitung yang diperoleh berdasarkan hasil olahan adalah dengan kriteria
sebagai berikut:
a. Nilai t hitung untuk rasio profitabilitas (X1) sebesar 1,062<2,064. (t tabel),
sehingga Ho diterima dan H1 ditolak yang berarti variabel rasio
profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap dividend payout ratio.
b. Nilai t hitung untuk rasio likuiditas (X2) sebesar 6,124>2,064 (t tabel),
sehingga Ho ditolak dan H1 diterima yang berarti variabel rasio likuiditas
berpengaruh signifikan terhadap dividend payout ratio.
c. Nilai t hitung untuk rasio hutang (X3) sebesar 0,658<2,064 (t tabel),
sehingga Ho diterima dan H1 ditolak yang berarti variabel rasio hutang
tidak berpengaruh signifikan terhadap dividend payout ratio.
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dikemukakan maka dapat
diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
4.5.1. Pengaruh Profitabilitas Terhadap Tingkat Pengembalian Investasi
(Return Invesment) Perusahaan Tambang Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
laba dengan mempergunakan penjualan, aset atau modal yang dimiliki
perusahaan. Profitabilitas merupakan hasil dari berbagai kebijakan dan keputusan
yang dilakukan oleh perusahaan. ROI perusahaan digunakan untuk
memperkirakan dividend payout ratio yang menganalisa kondisi keuangan dan
ekonomi perusahaan yang menerbitkan saham tersebut ternyata masih kurang
mampu menghasilkan dividend payout ratio.perusahaan sektor tambang.
Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktorina dan
Suharli, (2005). Tingkat profitabilitas dan likuiditas memiliki hubungan yang
positif dengan kebijakan dividen, sehingga semakin tinggi tingkat profitabilitas
dan likuiditas maka semakin besar dividen yang dibagikan oleh investee kepada
investor.
Brigham dan Gapenski (1999) menyatakan bahwa setiap perubahan dalam
kebijakan pembayaran dividen akan memiliki dua dampak yang berlawanan.
Sebaliknya jika laba ditahan, maka kepentingan pemegang saham akan uang kas
juga terabaikan. Untuk menjaga kedua kebijakan dividen yang optimal diartikan
sebagai rasio pembayaran dividen yang ditetapkan dengan memperhatikan
kesempatan untuk mengivestasikan dana serta berbagai preferensi yang dimiliki
investor mengenai dividen dari pada capital gain, tidak berpengaruhnya ROI
terhadap dividen dapat disebabkan karena perubahan peraturan perpajakan dalam
setiap periode akan mempengaruhi kebijakan dividen dan pembayaran dividen itu
sendiri, sehingga tarif pajak yang berubah-ubah dan tarif yang tinggi mendorong
perusahaan untuk menghindarinya. Dalam keputusan pembagian dividen,
perusahaan harus mempertimbangkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan
perusahaannya. Laba yang diperoleh perusahaan pada umumnya tidak dibagikan
seluruhnya sebagai dividen karena sebagian disisihkan untuk diinvestasikan
kembali atau sebagian ditahan dalam retained earning. Besar kecilnya dividen
yang di bayarkan kepada pemegang saham tergantung pada kebijakan dividen
masing-masing perusahaan sehingga pertimbangan manajemen sangat diperlukan.
Bagi pemegang saham, jika rasio profitabilitas, ROI meningkat maka rasio
pembayaran dividen akan meningkat pula. Sedangkan bagi perusahaan,
menurunnya rasio pembayaran dividen merupakan indikator bahwa jumlah laba
yang ditahan akan naik karena sebagian besar dari perolehan keuntungan tidak
dibagikan untuk pembayaran dividen pada para pemegang sahamnya. Pengaruh
paling dominan, dari hasil analisis
4.5.2. Pengaruh Likuiditas Terhadap Tingkat Pengembalian Investasi
(Return Invesment)Perusahaan Tambang Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Variable likuiditas berpengaruh terhadap harga saham perusahaan sektor
tambang yang go public di BEI. Hal ini berarti bahwa jika likuditas pada
perusahaan sektor tambang tersebut naik maka tingkat dividend payout ratio akan
naik. Dengan kata lain likuiditas adalah mengukur kemampuan suatu perusahaan
untuk memenuhi kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya. Semakin besar
(baik) tingkat dividend payout ratio. perusahaan maka akan semakin tepat waktu
pengembalian kewajiban-kewajiban jangka pendek yang akan diberikan kepada
kreditor jangka pendek, demikian pula sebaliknya semakin kecil (buruk) tingkat
likuiditas perusahaan, maka semakin tidak tepat waktu pengembalian
kewajiban-kewajiban jangka pendek yang akan diberikan kepada kreditor jangka pendek.
Walaupun tingkat likuiditas perusahaan sektor tambang baik namun pada
kenyataannya dividend payout ratio beberapa perusahaan tambang meningkat, hal
ini disebabkan karena kondisi keuangan perusahaan yang kurang baik seperti laba
perusahaan yang mengalami penurunan, biaya operasi perusahaan yang
dikeluarkan tinggi perusahaan sektor tambang masih mampu membagikan
dividennya kepada investor.
Dari uraian di atas dapatlah dikatakan bahwa makin kuat posisi likuiditas
suatu perusahaan terhadap prospek kebutuhan dana diwaktu-waktu mendatang,
makin tinggi ”dividend payout ratio”nya. (Riyanto 1995: 267). Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktorina dan Suharli, (2005) dan Inayati,
Noor (2009), menyebutkan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara
profitabilitas, likuiditas terhadap pertumbuhan perusahaan terhadap dividen
kepada pemegan saham juga tinggi, maka investor akan menanamkan
investasinya pada perusahaan tersebut.
4.5.3. Pengaruh Hutang Terhadap Tingkat Pengembalian Investasi
(Return Investment) Perusahaan Tambang Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Variabel hutang tidak berpengaruh terhadap dividend payout ratio
perusahaan sektor tambang yang go public di BEI. Hal ini menunjukkan bahwa
Pembayaran dividen adalah bagian monitoring perusahaan. Ini berarti bahwa
perusahaan cenderung untuk membayar dividen yang tinggi jika manajer memiliki
proporsi saham yang lebih rendah. Struktur modal tidak hanya ditentukan oleh
jumlah hutang dan equity keputusan pencarian dana apakah melalui hutang atau
right issue. Jika pendanaan diperoleh melalui hutang berarti rasio hutang terhadap
equity akan meningkat, sehingga akhirnya akan meningkatkan risiko, sehingga
dividen tidak dibayarkan kepada pemegang saham.
Debt ratio merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur
tingkat leverage (penggunaan utang) terhadap total shareholders’ equity yang
dimiliki perusahaan (Ang 1997:18.35). Peningkatan utang ini akan mempengaruhi
tingkat pendapatan bersih yang tersedia bagi pemegang saham, artinya semakin
tinggi kewajiban perusahaan, akan semakin menurunkan kemampuan perusahaan
membayar deviden. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Oktorina dan Suharli, (2005). Sedangkan, tingkat leverage perusahaan investee
berhubungan negatif dengan tingkat pengembalian investasi berupa dividen bagi
kewajibannya dari laba yang ada sehingga dividen yang dibagikan ke investor
menjadi kecil.
Suatu perusahaan yang memiliki utang pada saat pembayaran dividen
dihadapkan pada dua pilihan yaitu pertama perusahaan dapat membayar utang itu
pada saat jatuh tempo dan menggantikannya dengan surat berharga lain atau yang
kedua perusahaan melunasi utang tersebut. Apabila perusahaaan mengambil
keputusan untuk melunasi utang tersebut maka jumlah dividen yang dibayarkan
akan berkurang karena labanya digunakan untuk melunasi hutang perusahaan.
Debt to total assets merupakan salah satu proksi rasio hutang. Debt to total
assets merupakan rasio antara total hutang (hutang jangka pendek dan hutang
jangka panjang) terhadap total aktiva (aktiva lancar, aktiva tetap dan aktiva
lainnya. Rasio debt to total assets menjelaskan besarnya hutang yang digunakan
untuk membiayai aktiva yang digunakan oleh perusahaan dalam rangka
menjalankan aktivitas operasionalnya. Semakin besar rasio debt to total assets
menunjukkan semakin besar tingkat ketergantungan perusahaan terhadap
eksternal sehingga semakin besar pula beban biaya hutang (biaya bunga) yang
harus dibayar. Peningkatan rasio tersebut akan berdampak terhadap profitablitas
yang diperoleh perusahaan dikarenakan sebagian pendapatan digunakan untuk
membayar bunga pinjaman. Biaya bunga yang besar akan berdampak pada
berkurangnya pendapatan perusahaan dan juga akan berpengaruh terhadap