• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Morfologi DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

Dalam dokumen DISERTASI ROSLIANA LUBIS NIM : (Halaman 138-0)

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5. Karakterisasi Pencangkokan DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

4.5.5. Analisis Morfologi DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

Gambar 4.34 menunjukkan mikrograph SEM dari DRC sebelum dan sesudah pencangkokan dengan CIAETA dan Kitosan. Hasil Pencitraan dengan SEM memperlihatkan dengan adanya perlakuan pencangkokan CIAETA dan kitosan mengubah morfologi permukaan dari DRC. Morfologi DRC memperlihatkan serat selulosa berbentuk pita panjang dengan permukaan yang rata dan halus. Saat DRC dicangkokan dengan CIAETA, morfologi permukaan DRC mengalami perubahan. Permukaan pada selulosa terlihat memilki banyak pori-pori kecil. Hal ini mengindikasikan pencangkokan CIAETA mengubah dan merusak struktur kristalin dari selulosa akibat distorsi dari molekul CIAETA ke

DRC. Selanjutnya, DRC-CIAETA yang dicangkokan dengan kitosan, pencitraan SEM menunjukkan serat selulosa tampak mengembang. Hal ini mengindikasikan dengan pertambahan rantai polimer memberikan distorsi yang lebih kuat.

Gambar 4. 34. Scanning electron micrograph dari : A. DRC, B. DRC-g-CIAETA, C. DRC-g-CIAETA-g- Kitosan

0 20 40 60 80

Profil X-ray Difractogram digunakan untuk menganalisis pengaruh pencangkokan CIAETA dan Kitosan ke molekul DRC berdasarkan intensitas puncak pada bidang kisi sudut 2θ. Intensita peak 2θ dikonversikan kepersamaan persamaan Segal (3.7) : untuk menentukan derajat kristalinitas. Dimana :

Profil X-ray Difractogram dari DRC, DRC-g-CIAETA, dan DRC-g-CIAETA-g-Kitosan (Gambar 4.35) memperlihatkan intenstias sudut 2θ mengalami perubahan.

Pada DRC, intenstias sudut bidang kisi 2θ = 22,140 (3172)dan 17,70 (2341) dan nilai indeks kristalinitas 26,19%. DRC-g-CIAETA intenstias sudut bidang kisi 2θ = 21,90 (1766) dan 15,7 0(1386) dan nilai indeks kristalinitas 21,5 % . DRC-g-CIAETA-g-Kitosan sudut bidang kisi 2θ = 20,630 (1647) dan 16,72 0 (1329) dan nilai indeks kristalinitas : 19,31% .

Hasil ini mengindikasikan bahwa pencangkokan CIAETA dan kitosan ke DRC dapat mereduksi intenstias serapan sehingga menurunkan derajat kristalinitas.

Data ini sinkron dengan data Pencitraan dari SEM (Gambar 4.34), yang memperlihatkan adanya pencangkokan kitosan yang dilakukan mengubah morfologi permukaan selulosa menjadi lebih mengembang akibat adanya penambahan rantai polimer melalui pembentukan ikatan kimia baru. Proses pencangkokan juga menyebabkan terjadinya distorsi parsial (Li et al., 2018) ke molekul DRC

Gambar 4.35. XRD dari : A. DRC, B. DRC-g-CIAETA, C. DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

4.5.7. Analisis Thermal

Gambar 4.36a, 4.36b, dan 4.36c menunjukkan kurva TGA dan DTG dari DRC, DRC-g-CIAETA, dan DRC-CIAETA-Kitosan. Bentuk Kurva TGA dan DTG dari ketiga polimer tersebut berbeda. Perbedaan tersebut menggambarkan perbedaan suhu dekomposisi dari ketiga polimer. Kurva DTG dari DRC menunjukkan hanya ada satu puncak untuk Tmax. Berbeda setelah DRC dicangkokkan dengan CIAETA, ditemukan adanya dua puncak untuk Tmax. Hasil yang sama juga dikemukan oleh (Hyeon et al., 2017) bahwa hasil crosslink selulosa dengan Kitosan, pada kurva DTG ditemukan ada dua puncak untuk Tmax, yaitu Tmax selulosa dan Kitosan. Selanjutnya ditemukan ada tiga puncak untuk Tmax setelah DRC dicangkokkan dengan CIAETA dan kitosan. Ketiga Nilai Tmax

tersebut untuk DRC, CIAETA, dan kitosan. Nilai Tmax dari ketiga polimer tersebut ditunjukkan pada Tabel 4.19.

Pada DRC Tonset 270.960C dan Tmax 315.500C. Adanya Pencangkokan CIAETA dan Kitosan ke DRC, Tonset terjadi pada suhu 200,47, 240,38, 281,590C dan Tmax yang diperoleh dari kurva masing-masing terdiri dari 230,36, 250,13, dan 304,61oC. Data ini mengindikasikan bahwa pencangkokan CIAETA dan kitosan mengubah kestabilan thermal dari DRC. Kestabilan thermal DRC menjadi lebih rendah. Hasil ini sinkron dengan data SEM (Gambar 4.34) dan XRD (Gambar 4.35) yang menjelaskan bahwa pencangkokan CIAETA dan kitosan ke molekul DRC merusak daerah kristalin dari selulosa dan memperluas daerah amorph. Peningkatan daerah amorph sebagai efek adanya pertambahan rantai polimer sehingga berimplikasi kepada penurunan derajat kristalinitas. Hasil yang sama juga dikemukan oleh (Li et al., 2018), dimana CNC (cellulose nanocristal) yang dicangkokan dengan senyawa amononium quartener mengalami penurunan kestabilan thermal.

0 100 200 300 400 500 600 700

Tabel 4. 19. Data analisis thermal dari DRC, g-CIAETA, dan DRC-CIAETA-Kitosan

Sampel T10%

(oC)

T50%

(oC)

Tonset (oC) Tmax (oC) Residu (%)

DRC 166.66 312.19 270.96 315.50 10.80

DRC-g-CIAETA 61.32 304.12 289.93 240,2 30,17

319.30 15.30

DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

68,67 312,23 (1) 200,47 (2) 240,38 (3) 281,59

(1) 230,36 (2) 250,13 (3) 304,61

76,38 70,79 53,49 4.5.8. Analisis Penyerapan Air (Swelling)

Derajat swelling atau kemampuan serat menyerap air sangat dipengaruhi oleh sifat hidrophilik dari polimer yang diimersikan didalam larutan sebagai akibat adanya perbedaan tekanan osmotik dari bagian dalam dan sekitar larutan.

(Torres et al., 2015). Pencangkokan Kitosan ke molekul DRC-g-CIAETA menurunkan derajat persentasi swelling, karena kitosan adalah monomer kationik yang bersifat hidrofobik (Li et al., 2018). Induksi monomer kitosan ke DRC-CIAETA menyebabkan terjadinya crosslink antara gugus amina dari kitosan dengan gugus aldehid dari DAC melalui reaksi basa Schift. Derajat swelling dari pencangkokan kitosan ke molekul DRC-g-CIAETA ditunjukkan pada Tabel 4.20

Tabel 4. 20. Persentasi derajat swelling dari DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

4.5.9 Analisis Sudut Kontak

Analisis sudut kontak merupakan salah satu metode untuk menentukan karakteristik permukaan material dan kemampuan interaksi molekul antara permukaan (interface). Hasil pengukuran dapat digunakan secara kuantitatif untuk menentukan derajat pembasahan (wetting) permukaan padatan oleh cairan.

Pengukuran nilai derajat pembasahan dapat digunakan untuk menentukan hidrofobisitas dari permukaan. Hasil Pengukuran sudut kontak dari pencangkokan kitosan kepada molekul DRC-g-CIAETA ditunjukkan pada Tabel 4.21. dibawah ini :

Tabel 4. 21. Sudut kontak permukaan dari CIAETA dan DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

Tabel 4.21 diatas menunjukkan permukaan DRC-g-CIAETA setelah pencangkokan dengan monomer kitosan mengalami perubahan sifat dari hidrofilik menjadi hidrofobik. Perubahan sifat dari hidrofilik menjadi hidrofobik mengindikasikan, bahwa pencangkokan monomer kitosan kemolekul DRC-CIAETA terbentuk. Monomer kitosan adalah monomer yang bersifat hidrofobik.

Pengikatan monomer kitosan kepada molekul DRC-CIAETA akan menurunkan sifat hidrofilik. Hal ini ditunjukkan oleh nilai pengukuran sudut kontak, bahwan

sudut kontak DRC-CIAETA mengalami peningkatan dari 34 ± 20 menjadi 112 ± 80 untuk pengukuran tetesan 0 detik.

Perlakuan Sudut Kontak ( 0 )

0 detik 60 detik 120 detik 180 detik

DRC-g-CIAETA

DRC-g-

CIAETA-g-Kitosan

34 ± 2 o 28 ± 2 o 0

112 ± 8 o 43 ± 30 0

Sudut kontak tersebut terbentuk karena adanya gaya adhesi antara air dan DRC-g-CIAETA-g-Kitosan lebih kecil daripada gaya kohesi air, sehingga tetesan air yang jatuh kepermukaan DRC-g-CIAETA-g-Kitosan mengumpul membentuk lingkaran. Walaupun DRC-g-CIAETA-g-Kitosan bersifat hidrofobik, namun molekulnya memiliki daya serap air yang tinggi, sebab pada tetesan ke 60 detik, sudut kontak yang terbentuk mengalami penurunan hingga menacapai 43 ± 30. Hasil penelitian yang sama ditunjukkan oleh (Hassan, 2015), dimana serat benang wol yang dilapisi (coating) dengan Q-kitosan, pengukuran sudut kontak pada awal tetesan (0 detik) adalah 122,20, dan nilai sudut kontak mengalami penurunan dengan besar sudut kontak 52,70 saat durasi tetesan air kepermukaan 45 detik.

4.5.10. Analisis Aktivitas Antibakteri

Aktivitas antibakteri DRC-g-CIAETA sebelum dan sesudah pencangkokan dengan kitosan diuji terhadap strain bakteri Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermis. Aktivitas diukur berdasarkan luas zona bening yang terbentuk. Analisis ini menggunakan teknik difusi agar. Diameter zona hambat ditentukan didaerah sekitar sampel uji. Sebagai kontrol positif digunakan Chloramphenicol. Gambar 4.37 menunjukkan diameter sampel sesudah inkubasi selama 48 jam didalam media agar. Pembentukan daerah zona hambat untuk DRC-g-CIAETA sebelum dan sesudah pencangkokan dengan kitosan dapat terlihat pada kedua bakteri uji. Perbedaannya hanya pada besaran nilai zona hambat yang dihasilkan. DRC-g-CIAETA yang dicangkok dengan kitosan mengalami peningkatan aktivitas antibakteri yang diukur dari peningkatan nilai zona hambat yang dihasilkan. Peningkatan aktivitas bakteri berkisar 50-75%. Hal ini mengindikasikan bahwa pencangkokan monomer kitosan mampu memberikan konstribusi terhadap peningkatan aktivitas antibakteri. Peningkatan aktivitas antibakteri tersebut menunjukkan bahwa monomer kitosan telah berinteraksi dengan polimer DRC-g-CIAETA. Bentuk interaksi yang terjadi kemungkinan besar adalah interaksi kimia. Hal ini diperkuat oleh data FT-IR, ditemukannya serapan baru di daerah 1535.7 cm-1 dengan serapan berbentuk peak kembar yang lemah. Serapan pada daerah tersebut karakteristik untuk serapan gugus N-H(bending)

(1640-1550 cm-1) 1 (―Pavia. et.al,‖ 1995). Selain Serapan N-H, ditemukan juga serapan gugus C=N dari gugus imin pada daerah 1632,6 cm-1. Gugus C=N imin karakteristik pada daerah 1690-1640 cm-1 (―Pavia. et.al,‖ 1995). Tabel 4.22 menunjukkan nilai diameter zona hambat dari DRC-g-CIAETA sebelum dan sesudah pencangkokan kitosan.

Tabel 4. 22. Diameter zona hambat Staphylococcus aurous dan Staphylococcus epidermis DRC-g-CIAETA dan DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

Mikroba Perlakuan Diameter zona hambat (mm)

25% 50% 75% 100%

S. epidermis DRC-g-CIAETA 9,025 11,075 12,00 18,00

DRC-g-CIAETA-g-Kitosan 15,035 17,075 18,055 19,045

Chloramphenicol 22.02

S. Aurous DRC-g-CIAETA 0 8,015 10,00 16,08

DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

11,060 14,025 15,070 17,075

Chloramphenicol 25.75

Gambar 4. 37. Aktivitas antibakteri dari : (a) DRC, (b) Chloramphenicol, (c) DRC-g-CIAETA-kitosan terhadap strain S. aureus, (d) DRC-g-CIAETA-kitosan terhadap strain S. epidermis dan pada media agar

4.5.11. Analisis Aktivitas Antifungal

Aktivitas antifungal DRC-g-CIAETA sebelum dan sesudah pencangkokan dengan kitosan diuji terhadap strain jamur Candida albicans, Sp. Sama halnya dengan aktivitas antibakteri, maka aktivitas antijamur juga diukur berdasarkan luas zona bening yang terbentuk. Analisis ini menggunakan teknik difusi agar.

Diameter zona hambat ditentukan didaerah sekitar sampel uji. Sebagai kontrol positif digunakan Chloramphenicol. Gambar 4.38 menunjukkan diameter sampel sesudah inkubasi selama 48 jam didalam media agar. Pembentukan daerah zona hambat untuk DRC-g-CIAETA sebelum dan sesudah pencangkokan dengan kitosan dapat terlihat pada strain jamur Candida albicans, Sp. Perbedaannya hanya pada besaran nilai zona hambat yang dihasilkan. DRC-g-CIAETA yang dicangkok dengan kitosan mengalami peningkatan aktivitas antijamur yang diukur dari peningkatan nilai zona hambat yang dihasilkan. Peningkatan aktivitas antijamur 12-27% seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.23.

Kitosan, secara kimia disusun oleh poly-β-(1-4)-D-glucosamine. Selain memilki aktivitas antimikroba, keunggulan lain dari kitosan antara lain tidak bersifat toksit, biokompatibel, dan biodegradable. Fungsi antimikroba dari kitosan disebabkan oleh protonasi gugus amino pada ataom C-2 dari unit glukosamin dan sifat antimikroba dari kitosan sangat mirip dengan senyawa QAS. Gugus amino yang bermuatan positif dapat mengikat muatan negatif dari permukaan bakteri sehingga dapat merusak membran sel dan meningkatkan permeabilitasnya.

(Simoncic and Tomsic, 2010)

Interaksi DRC-g-CIAETA-g-kitosan dengan fungi C. albicans bersifat elektrosatik. Interaksi elekstrostatik tersebut menyebabkan terjadinya permeasi kedalam dinding sel bakteri sehingga mengggangu kesetimbangan osmotic internal mikroba dan hidrolisis senyawa peptidoglikan (peptidoglycans) pada dinding sel mikroba sehingga terjadi pelepasan senyawa-senyawa elektrolit intraseluler dan nutrisi. (Liu et al., 2018)

Tabel 4. 23. Diameter zona hambat Candida albicans g-CIAETA dan DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

Jamur Perlakuan Diameter zona hambat (mm)

25% 50% 75% 100%

Candida albicans

DRC-g-CIAETA 8,00 9,06 11,0 16,025

DRC-g-CIAETA-g-Kitosan

8,50 10,89 14,0 18,025

Chloramphenicol 7.56

Gambar 4. 38. Aktivitas antifungal dari : (a) DRC, (b) Chloramphenicol, (c) DRC-g-CIAETA-kitosan terhadap strain fungi C. albicans (d) DRC-g-CIAETA terhadap strain fungi C. albicans pada media agar

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

1. Modifikasi permukaan selulosa limbah kulit durian dilakukan melalui kopolimerisasi cangkok radikal bebas antara selulosa kulit durian dengan monomer CIAETA dan inisiator KPS diperoleh kondisi optimum reaksi pada suhu 800C, waktu reaksi 180 menit dan konsentrasi monomer CIAETA 50%

diperoleh persentase pencangkokan masih sangat rendah hanya sekitar 30,4%.

2. Modifikasi permukaan DRC melalui pencangkokan kopolimerisasi radikal bebas dengan monomer CIAETA memiliki karakteristik : (a) memilki derajat kristalinitas yang rendah, hanya sekitar 21,5%, (b) memilki daya serap air yang tinggi, hingga tiga kali lebih tinggi dari DRC, (c) memilki kestabilan thermal berkisar antara suhu 240- 3000C, (d) Permukaan serat bersifat hidrofilik (sudut kontak : 28±20)

3. Kondisi optimum untuk reaksi modifikasi kimia melalui pencangkokan antara DRC dengan monomer CIAETA dan kitosan serta dengan inisiator KPS adalah pada suhu reaksi 800C dan waktu reaksi 120 menit diperoleh persentase pencangkokan sangat rendah hanya 21,9%.

4. Karakteristik dari polimer cangkok yang diperoleh DRC-g-CIAETA-kitosan adalah : (a) memilki derajat kristalinitas yang rendah, hanya sekitar 19,3%, (b) memilki daya serap air yang tinggi, hingga dua kali lebih tinggi dari DRC, (c) memilki kestabilan thermal berkisar antara suhu 230-3000C, dan (d) permukaan serat bersifat hidrofobik (sudut kontak : 112±80)

5. Aktivitas antibakteri dari selulosa limbah kulit durian yang dimodifikasi melalui pencangkokan dengan monomer CIAETA terhadap strain bakteri S.

aureus dan S.epidermis memiliki nilai zona hambat 6-7 mm. Nilai zona hambat yang diperoleh berada dibawah standard antibiotik chloramphenicol.

Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antibakterinya hanya bersifat menghambat.

6. Aktivitas antifungal dari biomaterial selulosa limbah kulit durian yang dimodifikasi melalui pencangkokan dengan monomer CIAETA terhadap

strain terhadap strain C. albicans memiliki zona hambat 8-16 mm. Nilai zona hambat yang diperoleh berada diatas standard antibiotik chloramphenicol. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antifungalnyanya sudah bersifat membunuh (biosida).

5.2. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diharapkan untuk penelitian selanjutnya dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi pencangkokan monomer CIAETA dan kitosan kepada rantai selulosa kulit durian dapat melakukan pencangkokan dengan menggunakan metode berbeda yang lebih efektif, misalnya metode ATRP (Atomic transfer radical polymerization). Metode ATRP memilki keunggulan bila dibandingkan dengan metode pencangkokan radikal bebas, salah satunya adalah reaksi pencangkokan dapat dikontrol, sehingga pembentukan cabang polimer dapat dikendalikan dan pembentukan homopolimer dapat diminimalisir. berbeda dengan pencangkokan radikal bebas, reaksi pencangkokan tidak terkontrol sehingga pembentukan homopolimer cendrung tinggi. Peningkatan derajat pencangkokan juga akan meningkatkan daya tahan senyawaan antibakteri dari pengaruh pencucian berulang ((efek leaching),

DAFTAR PUSTAKA

Abdelwahab, N. A. and Shukry, N. (2015) ―Synthesis, Characterization And Antimicrobial Properties Of Grafted Sugarcane Bagasse/Silver Nanocomposites,‖

Carbohydrate Polymers. DOI: 10.1016/j.carbpol.2014.08.052.

Adekunle, K. F. (2015) ―Surface Treatments of Natural Fibres — A Review : Part1, pp. 41–46.

Alam, N. and Christopher, L. P. (2017) ―A Novel , Cost-Effective And Eco-Friendly Method For Preparation Of Textile Fibers From Cellulosic Pulps,‖

Carbohydrate Polymers, 173, pp. 253–258. DOI: 10.1016/j.carbpol.2017.06.005.

Athinarayanan, J., Alshatwi, A. A. and Subbarayan Periasamy, V. (2020)

―Biocompatibility Analysis Of Borassus Flabellifer Biomass-Derived Nanofibrillated Cellulose,‖ Carbohydrate Polymers, 235, DOI:

10.1016/j.carbpol.2020.115961.

B, W. N. W. and I, A. F. M. (2012) ―Preparation and Characterization of Physical Properties of Durian Skin Fibers Biocomposite,‖ 576, pp. 212–215. DOI: Cellulose And Oxidised Cellulose In Powder Form, 50, pp. 41–45.

Chen, J. Y. et al. (2015) ―Antimicrobial Regenerated Cellulose/Nano-Silver Fiber Without Leaching,‖ Journal of Bioactive and Compatible Polymers. DOI:

10.1177/0883911514556960.

Czaja, W. et al. (2006) ,―Microbial Cellulose - The Natural Power To Heal Wounds,‖ Biomaterials. DOI: 10.1016/j.biomaterials.2005.07.035.

Dewi, R. and Putri, A. (2016) ―Effect Of Sodium Chloroacetate Towards The

Synthesis Of Cmc ( Carboxymethyl Cellulose ) From Durian ( Durio Zibethinus ) Peel Cellulose,‖ 3(03), pp. 28–32.

Errokh, A. et al. (2018), ―Morphology Of The Nanocellulose Produced By Periodate Oxidation And Reductive Treatment Of Cellulose Fibers,‖ Cellulose, 25(7), pp. 3899–3911. DOI: 10.1007/s10570-018-1871-7.

Foo, K. Y. and Hameed, B. H. (2011) ―Transformation Of Durian Biomass Into A Highly Valuable End Commodity : Trends And Opportunities,‖ Biomass and Bioenergy, 35(7), pp. 2470–2478. DOI: 10.1016/j.biombioe.2011.04.004.

Foo, K. Y. and Hameed, B. H. (2012) ―Textural Porosity , Surface Chemistry And Adsorptive Properties Of Durian Shell Derived Activated Carbon Prepared By Microwave Assisted Naoh Activation,‖ Chemical Engineering Journal., 187, pp.

53–62. DOI: 10.1016/j.cej.2012.01.079.

Galiwango, E. et al. (2019) ―Isolation And Characterization Of Cellulose And Α-Cellulose From Date Palm Biomass Waste,‖ Heliyon. DOI:

10.1016/j.heliyon.2019.e02937.

Goel, N. K. et al. (2009), ―Synthesis Of Antibacterial Cotton Fabric By Radiation-Induced Grafting Of [2-(Methacryloyloxy)Ethyl]Trimethylammonium Chloride (MAETC) Onto Cotton,‖ Radiation Physics and Chemistry. DOI:

10.1016/j.radphyschem.2009.03.011.

Guigo, N. et al. (2014), ―Surface Modification Of Cellulose Microfibrils By Periodate Oxidation And Subsequent Reductive Amination With Benzylamine: A Topochemical Study,‖ Cellulose, 21(6), pp. 4119–4133. DOI: 10.1007/s10570-014-0459-0.

Guleria, A., Kumari, G. and Lima, E. C. (2020), ―Cellulose-G-Poly-(Acrylamide-Co-Acrylic Acid) Polymeric Bioadsorbent For The Removal Of Toxic Inorganic Pollutants From Wastewaters,‖ Carbohydrate Polymers. DOI:

10.1016/j.carbpol.2019.115396.

Habibi, Y. (2014), ―Key Advances In The Chemical Modification Of Nanocelluloses,‖ Chem. Soc. Rev., 43(5), pp. 1519–1542. DOI:

10.1039/C3CS60204D.

Hassan, M. M. (2015a) ―Binding Of A Quaternary Ammonium Polymer-Grafted-Chitosan Onto A Chemically Modified Wool Fabric Surface: Assessment Of Mechanical, Antibacterial And Antifungal Properties,‖ RSC Advances. Royal Society of Chemistry, 5(45), pp. 35497–35505. DOI: 10.1039/c5ra03073k.

Hassan, M. M. (2015b) ―Binding Of A Quaternary Ammonium Polymer-Grafted-Chitosan Onto A Chemically Modified Wool Fabric Surface: Assessment Of Mechanical, Antibacterial And Antifungal Properties,‖ RSC Advances. DOI:

10.1039/c5ra03073k.

Hassan, M. M. (2018), ―Enhanced Antimicrobial Activity And Reduced Water Absorption Of Chitosan Films Graft Copolymerized With Poly(Acryloyloxy)Ethyltrimethylammonium Chloride,‖ International Journal of Biological Macromolecules, 118, pp. 1685–1695. DOI:

10.1016/j.ijbiomac.2018.07.013.

Hyeon, U. K. et al. (2017) ―Cellulose-Chitosan Beads Crosslinked By Dialdehyde Cellulose,‖ Cellulose. DOI: 10.1007/s10570-017-1528-y.

Indran, S. and Raj, R. E. (2015), ―Characterization Of New Natural Cellulosic Fiber From Cissus Quadrangularis Stem,‖ Carbohydrate Polymers, 117, pp. 392–

399. DOI: 10.1016/j.carbpol.2014.09.072.

Irawan, D., Muslimah, N. and Arifin, Z. (2018), ―Lignin Isolation From Coconut Coir With Variation Of Time And Concentration Of Naoh In The Process Of Alkaline Delignification,‖ 11(4), pp. 1458–1460.

Jabli, M. et al. (2018), ―Physicochemical Characteristics And Dyeing Properties Of Lignin-Cellulosic Fi Bers Derived From Nerium Oleander,‖ 249, pp. 1138– morphology, crystallinity, and thermal stability of cellulose nanocrystals extracted from kenaf bast fibers,‖ Cellulose, 19(3), pp. 855–866. doi: 10.1007/s10570-012-9684-6.

Kato, K. et al. (2003) ―Polymer Surface With Graft Chains,‖ 28, pp. 209–259.

Kaur, I., Sharma, N. and Kumari, V. (2013), ―Modification Of Fiber Properties Through Grafting Of Acrylonitrile To Rayon By Chemical And Radiation Methods,‖ Journal of Advanced Research. Cairo University, 4(6), pp. 547–557.

DOI: 10.1016/j.jare.2012.11.003.

Kong, X. et al. (2019), ―Antibacterial Polyvinyl Alcohol Films Incorporated With N-Halamine Grafted Oxidized Microcrystalline Cellulose,‖ Composites Communications. DOI: 10.1016/j.coco.2019.06.005.

Kumar, D. et al. (2017), ―A Review On The Modification Of Polysaccharide Through Graft Copolymerization For Various Potential Applications,‖ The Open

Medicinal Chemistry Journal, 11(1), pp. 109–126. DOI:

10.2174/1874104501711010109.

Kumar, R., Sharma, R. K. and Singh, A. P. (2018), ―Grafted Cellulose: A Bio-Based Polymer For Durable Applications,‖ Polymer Bulletin, 75(5), pp. 2213–

2242. DOI: 10.1007/s00289-017-2136-6.

Lamaming, J. et al. (2017), ―Properties Of Cellulose Nanocrystals From Oil Palm Trunk Isolated By Total Chlorine Free Method,‖ Carbohydrate Polymers. DOI:

10.1016/j.carbpol.2016.09.053.

Lee, H. L. et al. (2018), ―Antifungal Effect Of Tissue Conditioners Containing Poly(Acryloyloxyethyltrimethyl Ammonium Chloride)-Grafted Chitosan On Candida Albicans Growth In Vitro,‖ Journal of Dental Sciences, 13(2), pp. 160–

166. DOI: 10.1016/j.jds.2017.06.004.

Li, K. et al. (2019), ―Bioinspired Interface Engineering Of Gelatin/Cellulose Nanofibrils Nanocomposites With High Mechanical Performance And Antibacterial Properties For Active Packaging,‖ Composites Part B: Engineering.

DOI: 10.1016/j.compositesb.2019.04.043.

Li, M. et al. (2018), ―Effect Of Surface Wettability On The Antibacterial Activity Of Nanocellulose-Based Material With Quaternary Ammonium Groups,‖ Colloids and Surfaces A: Physicochemical and Engineering Aspects, 554(June), pp. 122–

128. DOI: 10.1016/j.colsurfa.2018.06.031.

Liang, D. et al. (2016), ―Novel Asymmetric Wettable Agnps/Chitosan Wound Dressing: In Vitro And In Vivo Evaluation,‖ ACS Applied Materials and Interfaces. DOI: 10.1021/acsami.5b11160.

Liu, H. et al. (2020) ―A Simultaneous Grafting/Vinyl Polymerization Process Generates A Polycationic Surface For Enhanced Antibacterial Activity Of Bacterial Cellulose,‖ International Journal of Biological Macromolecules. DOI:

10.1016/j.ijbiomac.2019.12.052.

Liu, X. and Xu, Y. (2014), ―Preparation Process And Antimicrobial Properties Of Cross-Linking Chitosan Onto Periodate-Oxidized Bamboo Pulp Fabric,‖ 15(9), pp. 1887–1894. DOI: 10.1007/s12221-014-1887-z.

Liu, Y., Ren, X. and Liang, J. (2015), ―Antibacterial Modification Review,‖

BioResources, 10(1), pp. 1964–1985.

Lizundia, E., Meaurio, E. and Vilas, J. L. (2016), Grafting of Cellulose Nanocrystals, Multifunctional Polymeric Nanocomposites Based on Cellulosic Reinforcements. DOI: 10.1016/B978-0-323-44248-0.00003-1.

Lubis, R. et al. (2018), ―Characterization Of Durian Rinds Fiber (Durio Zubinthinus, Murr) From North Sumatera,‖ AIP Conference Proceedings,

2049(December). DOI: 10.1063/1.5082474.

Madurwar, M. V, Ralegaonkar, R. V and Mandavgane, S. A. (2013), ―Application Of Agro-Waste For Sustainable Construction Materials : A Review", 38, pp. 872–

878. DOI: 10.1016/j.conbuildmat.2012.09.011.

Malis, D. et al. (2019), ―Antibacterial Activity And Biodegradation Of Cellulose Fiber Blends With Incorporated Zno,‖ Materials. DOI: 10.3390/ma12203399.

Mohanty, A. K., Misra, M. and Drzal, L. T. (2012), ―Surface Modifications Of Natural Fibers And Performance Of The Resulting Biocomposites : An Overview,‖ pp. 313–343.

Moon, R. J. et al. (2011), Cellulose Nanomaterials Review: Structure, Properties And Nanocomposites, Chemical Society Reviews. DOI: 10.1039/c0cs00108b.

Morán, J. I. et al. (2008), ―Extraction Of Cellulose And Preparation Of Nanocellulose From Sisal Fibers,‖ Cellulose, 15(1), pp. 149–159. DOI:

10.1007/s10570-007-9145-9.

Motaung, T. E. and Linganiso, L. Z. (2018), Critical Review On Agrowaste Cellulose Applications For Biopolymers, International Journal of Plastics Technology. DOI: 10.1007/s12588-018-9219-6.

Mulyadi, I. (2019), Jurnal Saintika Unpam Vol. 1 No. 2 Januari 2019,‖ 1(2), pp.

177–182.

Mundsinger, K. et al. (2015) ―Multifilament Cellulose / Chitin Blend Yarn Spun From Ionic Liquids,‖ Carbohydrate Polymers, 131, pp. 34–40. DOI:

10.1016/j.carbpol.2015.05.065.

Nakasone, K., Ikematsu, S. and Kobayashi, T. (2016), ―Biocompatibility Evaluation Of Cellulose Hydrogel Film Regenerated From Sugar Cane Bagasse Waste And Its In Vivo Behavior In Mice,‖ Industrial and Engineering Chemistry Research, 55(1), pp. 30–37. DOI: 10.1021/acs.iecr.5b03926.

Penjumras, P., Abdul, R. B., et al. (2014) ―Extraction and Characterization of Cellulose from Durian Rind,‖ Italian Oral Surgery.2, pp. 237–243. DOI:

10.1016/j.aaspro.2014.11.034.

Penjumras, P., Rahman, R. B. A., et al. (2014), ―Extraction And Characterization Of Cellulose From Durian Rind,‖ Agriculture and Agricultural Science Procedia, pp. 237–243. DOI: 10.1016/j.aaspro.2014.11.034.

Penjumras, P. et al. (2015), ―Mechanical Properties And Water Absorption Behaviour Of Durian Rind Cellulose Reinforced Poly ( Lactic Acid ) Biocomposites,‖ 5(5), pp. 343–349.

Perotto, G. et al. (2018), ―Bioplastics From Vegetable Waste: Via An Eco-Friendly Water-Based Process,‖ Green Chemistry. DOI: 10.1039/c7gc03368k.

Pinto, R. J. B. et al. (2009), ―Antibacterial Activity Of Nanocomposites Of Silver And Bacterial Or Vegetable Cellulosic Fibers,‖ Acta Biomaterialia. DOI:

10.1016/j.actbio.2009.02.003.

Prakash Menon, M. et al. (2017), ―Extraction And Modification Of Cellulose Nanofibers Derived From Biomass For Environmental Application,‖ RSC Adv., 7(68), pp. 42750–42773. DOI: 10.1039/C7RA06713E.

Princi, E. et al. (2006), ―Synthesis And Mechanical Characterisation Of Cellulose Based Textiles Grafted With Acrylic Monomers,‖ European Polymer Journal, 42(1), pp. 51–60. DOI: 10.1016/j.eurpolymj.2005.08.005.

Rachtanapun, P. et al. (2012), "Carboxymethyl Cellulose Film From Durian Rind,‖, 48(1), pp. 52–58. DOI: 10.1016/j.lwt.2012.02.029.

Rizal, S. et al. (2015), ―Chemi-Mechanical Pulping Of Durian Rinds,‖ Procedia Manufacturing, pp. 171–180. DOI: 10.1016/j.promfg.2015.07.030.

Roy, D. et al. (2009), ―Cellulose Modification By Polymer Grafting: A Review,‖

Chemical Society Reviews, 38(7), p. 2046. DOI: 10.1039/b808639g.

Ruckenstein, E. and Li, Z. F. (2005), ―Surface Modification And Functionalization Through The Self-Assembled Monolayer And Graft Polymerization,‖ 113, pp. 43–63. DOI: 10.1016/j.cis.2004.07.009.

Salajková, M., Berglund, L. A. and Zhou, Q. (2012), ―Hydrophobic Cellulose Nanocrystals Modified With Quaternary Ammonium Salts,‖ Journal of Materials Chemistry. DOI: 10.1039/c2jm34355j.

Sánchez, J. et al. (2019), ―Modification Of Regenerated Cellulose Membranes With Cationic Polymer And Its Cr(Vi) Retention Capacity,‖ Journal of Water Process Engineering. DOI: 10.1016/j.jwpe.2018.04.016.

Scott, I. U. et al. (1993), ―Production Of Dialdehyde Cellulose And Periodate Regeneration: Towards Feasible Oxidation Processes,‖ Graefe’s Archive for Clinical and Experimental Ophthalmology, 231(3), pp. 187–191. DOI:

10.1007/BF00920946.

Series, I. O. P. C. and Science, M. (2018), ―Effect Of Coupling Agent On Durian Skin Fibre Nanocomposite Reinforced Polypropylene Effect Of Coupling Agent On Durian Skin Fibre Nanocomposite Reinforced Polypropylene.‖ DOI:

10.1088/1757-899X/290/1/012032.

Shaghaleh, H., Xu, X. and Wang, S. (2018), ―Current Progress In Production Of Biopolymeric Materials Based On Cellulose, Cellulose Nanofibers, And Cellulose

Derivatives,‖ RSC Advances, 8(2), pp. 825–842. DOI: 10.1039/C7RA11157F.

Shen, S., Zhu, Z. and Liu, F. (2016), ―Introduction Of Poly[(2-Acryloyloxyethyl Trimethyl Ammonium Chloride)-Co-(Acrylic Acid)] Branches Onto Starch For Cotton Warp Sizing,‖ Carbohydrate Polymers. DOI:

10.1016/j.carbpol.2015.11.058.

Shigwenya, E. et al. (2019), ―Synthesis And Characterization Of Dialdehyde

Shigwenya, E. et al. (2019), ―Synthesis And Characterization Of Dialdehyde

Dalam dokumen DISERTASI ROSLIANA LUBIS NIM : (Halaman 138-0)