Pertanyaan Interogatif Ndigan kau be Medan kin?
ANALISIS MULTI DIMENSIONAL 2
Baik Anan lot kau sohken suRat-e bane?
Baik Anan adakah engkau menyampai-kan
Dalam analisis mutivariat itu dapat dilihat bahwa unsur klausa seperti baik dan Anan tidak dapat dianalisis atau ‘dijaring’ dengan analisis makna paparan atau representasi pengalaman. Kedua unsur klausa itu hanya dapat dianalisis dengan makna interpersonal dan makna pengorganisasian atau makna tekstual.
Berdasarkan analisis multifungsi bahasa sebagai representasi, pertukaran dan pengorganisasian pengalaman mampu memenuhi kebutuhan manusia sebagai pengguna bahasa. Dengan demikian, bahasa sebagai semiotik sosial tidak dapat dipisahkan dari manusia. Bahasa adalah manusiawi dalam artian bahwa manusia dapat mengembangkan pikiran dengan bahasa. Bahasa memberi ciri sosok manusia dalam hal status, ekonomi, sosial dan intelektual. Bahasa menunjukkan bangsa. Pembahasan berikutnya adalah genre sebagai konteks sosial.
2. 4 Konsep Genre
Genre merupakan bagian daripada budaya. Budaya bisa dibatasi sebagai kegiatan sosial yang dipelajari. Hanya manusia yang memiliki genre karena
manusia yang berbudaya. Dengan kata lain hanya manusia yang hidupnya terus berkembang. Seiring perkembangan budaya, bahasa sangat menentukan. Bahasa sebagai sentral budaya membantu perkembangan budaya. Sifat konstrual antara bahasa dan budaya menghasilkan perkembangan yang serasi dan dinamis. Jika muncul suatu kata baru berarti muncul pula budaya (konteks) pemakaian kata tersebut karena satu kata baru, harus menggunakan konteks kapan kata itu dipakai.
Secara umum genre diartikan sebagai jenis teks. Kata genre berasal dari bahasa Prancis dan pada awalnya digunakan dalam sastra. Dengan cakupan makna itu puisi, prosa, berbalas pantun, pidato, lagu dan lagam (panggilan pria terhadap wanita lewat lantunan suara dalam BA) merupakan genre. Menurut teori LSF, bahwa genre didefinisikan sebagai kegiatan sosial yang bertahap dan berorientasi pada tujuan.
Pada mulanya konsep genre berasal dari sistem (paradigmatik) klasifikasi oleh Aristoteles dan Plato. Kemudian Plato membaginya menjadi tiga jenis genre, yaitu: puisi (poetry), drama, dan prosa (prose). Puisi (poetry) kemudian dibagi lagi menjadi epik, lirik, dan drama. Pembagian itu terkenal menurut Aristoteles dan Plato, namun bukanlah menurut mereka saja, masih banyak lagi pakar lain yang telah mengembangkan dan membahas genre sampai kepada perkembangannya saat ini (Aveling, 2007).
Teori genre telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Teori itu digunakan untuk menentukan jenis-jenis karya sastra. Secara umum genre diartikan sebagai jenis sehingga tidak mengherankan kalau teorinya diterpakan untuk menentukan jenis-jenis karya sastra. Dengan penjelasan tersebut, dapat
dipahami bahwa genre merupakan formasi semiotis dan konstruksi sosioal dalam produk konvensi masyarakat.
Martin (1992) berpendapat bahwa genre merupakan proses sosial. Genre dilakukan setiap individu sebagai anggota masyarakatnya berorientasi pada tujuan secara bertahap. Dengan demikian genre sebagai konteks budaya mencakupi tiga unsur, yakni (1) batasan ketiga unsur konteks situasi (medan, pelibat dan sarana), (2) langkah atau tahapan (struktur generik), dan (3) tujuan yang hendak dicapai dalam interaksi sosial untuk meningkatkan kesejahteraan.
Pengertian genre dapat dijelaskan dari beberapa sudut pandang. Genre secara sempit diartikan sebagai jenis teks atau wacana. Secara luas, genre diartikan sebagai konteks budaya yang melatarbelakangi lahirnya teks. Dengan pengertian ini genre tidak lagi berada pada ranah bahasa tetapi sudah masuk ke ranah konteks budaya. Secara teknis genre merupakan proses sosial yang berorientasi kepada tujuan yang dicapai secara bertahap, (a staged, goal-oriented social process) (Martin, 1985; Martin,1992). Dari pengertian tersebut, terdapat tiga istilah yang masing-masing mengandung pengertian tertentu, yakni (1) sosial, yang berarti bahwa orang menggunakan genre untuk berkomunikasi dengan orang lain sebagai anggota masyarakat, (2) berorientasi kepada tujuan, yang berarti bahwa orang menggunakan genre untuk mencapai tujuan, dan (3) bertahap, yang berarti bahwa dalam pencapaian tujuan tidaklah selamanya dapat diperoleh sekaligus tapi harus bertahap dan bersistem (Martin & Rose, 2003: 7-8).
Genre berfungsi untuk mengontrol Medan (field), Pelibat (tenor), dan Cara atau Sarana (Mode). Dengan kata lain, genre sebagai budaya menentukan apa
(Medan) yang boleh dilakukan atau dibicarakan seseorang (Pelibat) dan bagaimana (Cara atau Sarana) membicarakannya. Dengan demikian, sesungguhnya kehidupan seseorang sebagai anggota masyarakat ditentukan oleh genre yang mengontrol ketiga komponen itu. Hal ini berarti bahwa tidak semua topik atau Medan boleh dibicarakan oleh semua orang (ideologi). Kemampuan seseorang untuk membicarakan suatu Medan menentukan kekuasaannya dan kekuasaan itu ditentukan oleh konvensi masyarakat. Misalnya, peristiwa sejarah hanya berterima dibicarakan oleh pakar sejarah dan mustahil hal tersebut dibahas oleh seorang yang tidak berpendidikan. Mungkin saja ada orang awam tidak berpendidikan yang bisa menceritakan kejadian bersejarah tersebut secara jelas dan lengkap namun kapasitas dia hanya sebagai informan karena bukan sebagai ilmuan sejarah.
Ada beberapa syarat untuk tercapainya suatu teks menjadi genre. Pertama harus ada kegiatan sosial. Yang kedua harus ada tujuan yang akan dicapai. Ke tiga dilakukan secara bertahap. Contoh dalam MA antara lain adalah upacara adat seperti pernikahan, sunatan, dan lain-lain. Acara adat tersebut dilakukan dari masa ke masa secara gradual mengalami perubahan untuk mencapai kesempurnaan menurut MA sebagai pencipta dan pengguna.
2.4.1 Jenis Genre
Secara umum, genre dapat dibagi menjadi dua kelompok, (1) genre cerita seperti narasi, kisah, mitos, anekdot, fabel, roman, horor, hero, kisah moral, cerita-cerita peri, misteri, advonturir, dan lain-lain dan (2) genre faktual seperti
eksposisi, deskripsi, laporan, prosedur, eksplanasi, diskusi, dan lain-lain (Bhatia, 1994:13 dan Sinar, 2012:72).
Seperti telah dijelaskan bahwa genre terkait dengan budaya pemakai bahasa itu karena genre adalah budaya. Satu genre dalam satu budaya mungkin tidak dikenal dalam budaya lain. Dengan kata lain, terdapat perbedaan dalam jenis genre yang digunakan secara lintas bahasa.
Genre didefinisikan oleh Martin (992: 546-573) sebagai kegiatan sosial bertahap (staged) dan berorientasi capaian (goal-oriented) dan bertujuan (purposeful). Selanjutnya, genre terealisasi dalam bahasa atau teks (Gerot, 2001:17). Definisi berdasarkan LSF inilah yang menjadi acuan di dalam penelitian ini. Dengan definisi ini, khususnya dalam bidang akademik, dikenal tiga belas genre. Pada dasarnya, jumlah genre dalam bahasa Inggris tidak diketahui berapa jumlahnya. Dalam kaitannya dengan kegiatan akademik dan pendidikan, khusunya dengan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah menengah di Indonesai diperkenalkan ketiga belas genre sebagai berikut.
(1) Deskripsi (description)
(2) Penjelasan/eksplanasi (explanation) (3) Prosedur (procedure)
(4) Eksposisi (exposition) (5) Diskusi (discussion) (6) Narasi (narrative)
(7) Cerita Gurau (spoof recount) (8) Cerita (recount)
(9) Laporan (report) (10)Anekdot (anecdote) (11) Komentar (comment) (12)Ulasan (review)
(13)Berita (news) (Adaptasi dari Sinar, 2012:71 dan Saragih, 2010:136)
Dengan definisi berdasarkan pandangan diatas, maka satu teks bisa terdiri lebih dari satu genre. Misalnya, interaksi buruh dengan mandor perusahaan, murid dengan guru di sekolah, jemaah dengan ustad di masjid, langgar, bahkan di rumah ketika berlangsung pengajian malam Jumat, bukanlah terdiri dari satu jenis genre saja tetapi terjadi dari sejumlah genre, yakni genre deskripsi ketika seorang guru menjelaskan identitasnya di depan siswa atau seorang ustad menguraikan bagaimana perjuangan Rasul dalam menegakkan kebenaran, eksplanasi ketika pakar lingkungan menerangkan bagaimana terjadinya banjir bandang atau ketika guru menerangkan bagaimana terjadinya satu proses (misalnya bagaimana terjadinya hujan), narasi ketika guru bercerita tentang suatu kisah (BeRu Dihe, PiheR di Aceh Tenggara, Malin Kundang di Sumatera Barat, Simardan dan Sampu Raga di Sumatera Utara), cerita ketika murid menceritakan pengalaman mereka ketika pergi ke Parapat di dalam kelas.
2.4.2 Penelitian Terdahulu
Sampai saat ini, penelitian tentang teks nasihat telah banyak dilakukan oleh para peneliti, tapi belum menemukan penelitian tentang genre nasihat dalam BA. Penelitian terdahulu mencakup tiga jenis yaitu mengenai hasil penelitian mengenai genre dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia; penelitian terdahulu mengenai BA dan penelitian terdahulu yang memakai model LSF.
Penelitian yang dilakukan oleh Saragih (1996) tentang struktur teks berita surat kabar menunjukkan bahwa teks berita surat kabar terdiri atas struktur (1) berita ucapan (saying text), (2) berita kejadian (doing text) dan (3) berita keadaan (being text). Setiap jenis berita surat kabar dibangun dari sejumlah tahap yang
membentuk struktur beda surat kabar itu. Misalnya teks berita ucapan terjadi dari teras ^ ucapan ^ latar belakang. Selanjutnya setiap tahap teks berita direalisasikan oleh fitur linguistik. Misalnya tahap teras direalisasikan oleh dominasi proses relasional, ucapan oleh proses verbal dalam bentuk proyeksi dan latar belakang direalisasikan oleh proses material. Relevansi temuan kajian ini terhadap penelitian genre nasihat dalam BA adalah struktur dan realisasi fitur linguistik relevan dan berlaku.
Penelitian yang dilakukan oleh Iwabuchi (1994), dengan judul: The People of the Alas Valley, merupakan penelitian pertama tentang etnografi MA dengan fokus utama mengenai prilaku, ideologi dan kategori etnis di tanah Alas.
Tujuan utama penelitian itu untuk memberi gambaran secara rinci mengenai organisasi sosial dan perbedaan etnis Alas dengan etnis-etnis lain di Sumatera bagian utara.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Sinar (1998) antara lain adalah:
Analisis Struktur Skematika Genre menerapkan prinsip analisis LSF. Penelitian ini dilakukan terhadap 200 karangan bahasa Indonesia yang ditulis oleh murid-murid Kelas VI Sekolah Dasar.
Penelitian yang dilakukan oleh Salamuddin (2001), dengan judul: Struktur Percakapan dalam Bahasa Alas, menunjukkan bahwa percakapan bahasa Alas memiliki struktur, gangguan, realisasi fungsi ujar yang tidak selalu mulus/ liniar.
Konteks dapat mempengaruhi struktur percakapan dan ucapan “terima kasih”
lebih berpeluang pada proposal ketimbang proposisi.
Penelitian yang dilakukan oleh Nasution (2007), dengan judul: Hubungan Makna Logis dalam Narasi Bahasa Alas, menunjukkan bahwa ekspansi hipotaksis ganda merupakan hubungan logis semantik dominan. Urutan kedua adalah proyeksi lokusi parataksis. Hal ini terjadi karena setiap cerita atau narasi memiliki waktu, lokasi dan tempat. Untuk merealisasi makna tersebut para narator cenderung menggunakan ekstensi hipotaksis ganda.
Penelitian yang dilakukan oleh Wiratno (2009), dengan judul: Makna Metafungsional Teks Ilmiah dalam Bahasa Indonesia pada Jurnal Ilmiah (Sebuah Analisis Sistemik Fungsional). Penelitian ini membahas bagaimana realisasi makna metafungsioal (yang mencakup makna ideasional, makna interpersonal, dan makna tekstual) pada teks ilmiah. Dari segi genre, semua teks yang diteliti tergolong ke dalam genre artikel jurnal, yang dapat dibagi lagi menjadi sub-genre yaitu artikel penelitian untuk Teks Biologi, Teks Ekonomi, Teks Sosial, serta artikel non-penelitian untuk Teks Bahasa.
Penelitian yang dilakukan oleh T. Thyrhaya Zein (2009), dengan judul:
Representasi Ideologi Masyarakat Melayu Serdang dalam Teks, Situasi dan Budaya. Penelitian ini mengkaji fenomena semiotik sosial Melayu Serdang (MS), terfokus pada pengungkapan representasi ideologi dalam bahasa (teks), situasi, dan budaya. Relevansi temuan kajian ini terhadap penelitian genre nasihat dalam BA adalah struktur dan realisasi fitur linguistik relevan dan berlaku serta sama-sama menganalisis budaya.
2.4.3 Kerangka Konsep Penelitian
Dengan merujuk teori LSF dan yang relevan, maka kajian terhadap genre Nasihat dalam BA diringkas dalam kerangka seperti dalam Figura 2.19.
Berdasarkan masalah penelitian, maka yang dianalisis adalah budaya, situasi, dan bahasa pada tingkat semantikwacana dan tata bahasa. Dengan kata lain, ideologi pada tingkat semiotik konotatif dan fonologi dan grafologi pada tingkat semiotik sosial tidak diteliti.
Pengalamatan ^ (Konteks) ^ Isi ^ (Evaluasi) ^
Penutup ^ (Koda)
1. Pernikahan Medan 2. Sunatan Sistem Nilai
Ideologi
Budaya
Situasi
METAFUNGSI
IDEASIONAL INTERPERSONAL TEKSTUAL
Arti Bentuk Arti Bentuk Arti Bentuk
Ideasi/ Figura 2.11: Kerangka Konsep Genre Nasihat dalam Bahasa Alas Bahasa ARTI