semua dimensi seperti dimensi sosial, ekonomi, ekologi, kelembagaan, sampai pada dimensi infrastruktur, dan selanjutnya melihat sejauh mana tingkat keberlanjutan pada masing-masing dimensi. Adapun dimensi yang dianggap memiliki peran penting dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
a. Dimensi ekologi
Dimensi ekologi merupakan salah satu penentu terhadap keberhasilan budidaya budidaya rumput laut. Adapun atribut yang dimasukan dalam dimensi ekologi meliputi, tingkat kesesuaian perairan, hasil analisis diperoleh skor 1 (satu) atau sesuai bersyarat, sehingga untuk melakukan pembudidayaan di Pulau Pari beberapa faktor harus diperhatikan seperti faktor kualitas air yang meliputi kecepatan arus, nitrat, dan fosfat, yang menurut hasil analisis diperoleh nilai yang cukup rendah sehingga tidak mendukung untuk dijadikan sebagai lahan budidaya. Stok bibit di Pulau Pari sebenarnya cukup tersedia namun pada musim-musim tertentu biasanya masyarakat Pulau Pari hanya menunggu bantuan dari pemerintah, hal ini dikarenakan bibit rumput laut yang mereka kembangkan mengalami penyakit ice-ice atau pemutihan rumput laut sehingga tidak layak untuk dibudidayakan, sedangkan dari segi ancaman terhadap perairan cukup terkendali sehingga tidak berdampak terhadap hasil budidaya yang dilakukan, begitu juga dengan serangan penyakit yang dinilai oleh masyarakat cukup rendah sehingga bisa dikendalikan. Masyarakat Pulau Pari mengantisipasi serangan hama dengan cara melakukan penanaman secara bersamaan, sehingga serangan hama (ikan baronang dan penyu) tidak terfokus pada satu titik saja. Analisis leverage untuk atribut ekologi disajikan pada Gambar 14.
Gambar 14. Atribut ekologi yang menjadi faktor pengungkit keberlanjutan budidaya rumput laut Pulau Pari
Analisis leverage untuk dimensi ekologi Pulau Pari dilakukan dengan memperhatikan beberapa faktor pengungkit dan berdasarkan nilai RMS (root mean squer) nilai yang diperoleh dari penelitian tersebut ada 4 atribut yang menjadi faktor pengungkit dengan nilai diatas nilai tengah (>1,5), atribut ekologi yang menjadi faktor pengungkit meliputi serangan penyakit, ancaman terhadap perairan, ketersediaan bibit rumput laut, dan kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut, dengan kata lain bahwa ketiga atribut tersebut harus diperbaiki terlebih dahulu sehingga budidaya rumput laut dapat berkelanjutan dan dengan sendirinya produksi rumput laut di Pulau Pari akan ikut meningkat.
Munculnya keempat atribut yang sensitif disebabkan karena budidaya rumput laut sangat dipengaruhi oleh kualitas perairan, sehingga budidaya tidak bisa berhasil jika kualitas lingkungan dan ancaman terhadap perairan sangatlah besar oleh karena itu atribut ekologi merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap usaha budidaya, bahkan jika keempat atribut tersebut tidak diperbaiki maka budidaya yang dilakukan tidak akan mampu bertahan lama, dengan kata lain budidaya tidak akan berhasil.
b. Dimensi ekonomi
Selain dimensi sosial, penelitian ini juga melihat seberapa besar pengaruh dimensi ekonomi terhadap pengembangan usaha budidaya rumput laut, beberapa atribut yang digunakan untuk melihat dampak ekonomi adalah; (a). Menganalisis usaha budidaya rumput laut yang ada di Pulau Pari dengan rumus R/C, dan hasil yang diperoleh dalam analisis tersebut adalah R/C= Lebih dari satu tetapi masih dibawah UMR DKI Jakarta sehingga diberi skor 0 (b). Pemasaran hasil budidaya rumput laut, dimana dimensi ini melihat sejauh mana rumput laut yang dibudidayakan dijual, apakah hanya sebatas pasar tradisional, nasional, atau telah dipasarkan sampai pada skala internasional. Menurut hasil wawancara yang dilakukan dari beberapa pengumpul rumput laut dan para pembudidaya, mayoritas responden menyatakan bahwa rumput laut yang mereka budidayakan hanya sampai pada pasar nasional seperti tangerang, jakarta, bogor, bekasi, dan jogja (c), sedangkan untuk pemodalan budidaya rumput laut sebagian pembudidaya masih mengandalkan pinjaman kepada tengkulak untuk memulai usaha budidaya atau sekitar 41% dari total responden yang diwawancara, sedangkan 40% responden sudah memiliki modal sendiri, dan sisanya 19% masih mengandalkan bantuan
2,47 4,22 2,65 1,91 0,79 0 1 2 3 4 5
Kesesuaian perairan untuk budidaya…
Ketersediaan bibit rumput laut Ancaman terhadap perairan Serangan penyakit Serangan hama
30
dari pemerintah. (d). Analisis ekonomi dalam penelitian yang dilakukan juga melihat harga rumput laut yang dibeli oleh pengumpul kepada para pembudidaya selama 5 tahun terakhir dan diperoleh data harga rumput laut cenderung stabil atau tidak mengalami peningkatan, kecuali pada hari-hari tertentu seperti pada saat bulan puasa dan pada lebaran. (e). Kontribusi usaha budidaya pada keluarga cukup besar, dimana dari 140 responden 86% diantaranya menyatakan bahwa kontribusi usaha budidaya terhadap pendapatan masyarakat cukup besar antara 51-75% dan selebihnya masih dipengaruhi oleh mata pencaharian lain.
Gambar 15. Atribut ekonomi yang menjadi faktor pengungkit keberlanjutan budidaya rumput laut Pulau Pari
Analisis leverage pada Gambar 15 diperoleh 3 atribut yang memiliki nilai leverage >1,5 (sensitif), ketiga atribut tersebut meliputi harga pasaran rumput laut, ketersediaan modal, dan pemasaran rumput laut. Atribut yang sensitif tersebut merupakan faktor inti dalam suatu usaha, sehingga meskipun rumput laut yang dibudidayakan secara ekologi baik, tetapi jika tidak didukung oleh faktor ekonomi maka budidaya tersebut tidak bisa dikatakan berkelanjut.
c. Dimensi sosial
Sebanyak 131 responden yang diwawancarai pada saat penelitian dilakukan terkait tingkat pendidikan di Pulau Pari, 67% diantaranya memiliki tingkat pendidikan hanya sampai Sekolah Dasar (SD). Jika mengacu kriteria pada tabel multidimensional scaling maka skor yang diperoleh memiliki nilai satu yang berarti tingkat pendidikan masyarakat Pulau Pari masih tergolong rendah. Sedangkan partisipasi keluarga dalam usaha budidaya rumput laut cukup tinggi, sebanyak 51% responden menyatakan bahwa >3 orang anggota keluarga terlibat langsung dalam usaha budidaya. Tingkat pengetahuan masyarakat dalam budidaya tegolong sangat baik, dan dapat dilihat dari metode yang digunakan, yakni 50% responden melakukan budidaya rumput laut dengan metode long line yang berarti telah mengikuti standar yang telah diberikan oleh pemerintah. Penelitian ini juga melihat sosialisasi pekerjaan yang dilakukan dalam usaha budidaya, dan sebanyak 68% responden melakukan budidaya dengan cara kerja sama dengan pembudidaya lainnya, sedangkan untuk alternatif mata pencaharian masyarakat Pulau Pari, mayoritas masyarakat atau sekitar 46% memiliki usaha lain selain budidaya rumput laut seperti nelayan tangkap, kuli bangunan, buruh dan lain-lain. Jika melihat rata-rata usia yang melakukan budidaya rumput laut
1,21 3,46 9,99 1,64 1,36 0 5 10 15 Keuntungan budidaya Pemasaran rumput laut Ketersediaan modal budidaya Harga rumput laut
Kontribusi usaha terhadap pendapatan…
mayoritas dilakukan oleh usia 17-65 tahun. Usia tersebut merupakan usia yang produktif untuk skala pekerjaan seperti budidaya. Penelitian ini juga melihat konflik yang terjadi dalam usaha budidaya rumput laut, dan menurut wawancarai yang dilakukan sebanyak 79% mengatakan bahwa dalam kegiatan budidaya jarang terjadi konflik, kebanyakan konflik yang terjadi hanya sebatas permasalahan kecil, seperti pergeseran tali jangkar yang menurut masyarakat kesalahan tersebut tidak sengaja dilakukan dan kemungkinan dipengaruhi oleh ombak yang besar sehingga menggeser tali budidaya, hal ini terjadi 1-2 kali dalam satu tahun dan konflik tersebut tidak sampai berujung pada masalah yang lebih besar.
Berdasarkan hasil analisis leverage (Gambar 16) untuk dimensi sosial, diperoleh enam atribut yang (mempunyai nilai lebih besar dari 1,5 atau dikatakan sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan yang meliputi dimensi sosial: (1) Usia KK pembudidaya, (2) Alternatif usaha lain, (3) Sosialisasi pekerjaan, 4) pengetahuan masyarakat tentang budidaya, dan (5) partisipasi keluarga dalam usaha budidaya. Kelima atribut tersebut merupakan faktor pengungkit atau atribut yang sensitif dalam suatu usaha budidaya rumput laut, sehingga untuk menigkatkan produksi rumput laut kelima atribut tersebut harus ditingkatkan lagi sehingga pengelolaannya dapat berkelanjutan.
Gambar 16. Atribut sosial yang menjadi faktor pengungkit keberlanjutan budidaya rumput laut Pulau Pari
Munculnya kelima atribut yang sensitif disebabkan karena budidaya rumput laut tidak bisa lakukan dengan baik jika atribut sosial yang sensitif tidak ditingkatkan selain itu juga atribut tersebut menjadi salah satu faktor penentu tehadap keberhasilan suatu usaha, karena jika sosial masyarakat diperbaiki maka usaha yang dikembangkan tentunya akan ikut baik sehingga menghasilkan usaha yang memberikan keuntungan yang besar bagi masyarakat sekitar Pulau Pari. d. Dimensi infrastruktur
Dimensi infrastruktur seperti industri pengolahan hasil serta sarana dan prasarana pasar yang ada di Pulau Pari memang belum tersedia, sehingga rumput laut yang dibudidayakan langsung dijual pada pengumpul dan selanjutnya dikirim keluar pulau, sedangkan untuk ketersediaan gudang penampung sementara, masing-masing pembudidaya memiliki gudang sendiri, tetapi kapasitasnya
1,24 3,24 4,29 8,97 4,06 2,92 2,11 0 2 4 6 8 10 Tingkat pendidikan Partisipasi keluarga dalam budidaya
Pengetahuan masyarakatan tentang…
Sosialisasi pekerjaan Alternatif usaha lain Usia KK pembudidaya Konflik antar nelayan pembudidaya
32
terbatas, sehingga jika musim panen tiba gudang tersebut tidak cukup untuk menampung hasil budidaya sehingga sebagian besar hasil budidaya harus langsung dijual. Transportasi laut yang khusus mengangkut hasil budidaya kedaerah pemasaran saat ini masih mengandalkan transportasi umum yang beroperasi setiap hari, sehingga masih kurang efektif dalam proses pemasaranya karena harus tergantung pada transportasi umum yang hanya satu arah. Sarana dan prasaran listrik sebenarnya telah ada tetapi pada saat budidaya dilakukan sekitar tahun 2000an listrik di Pulau Pari belum aktif 24 jam atau hanya beroperas beberapa jam saja sehingga untuk mengelola hasil budidaya rumput laut sangat terkendala pada keaadan listrik yang tidak mendukung, nanti pada saat ini listrik telah aktif 24 jam sehingga dalam hal ini atribut pendukung dari dimensi infrastruktur telah terpenuhi.
Gambar 17. Atribut infrastruktur yang menjadi faktor pengungkit keberlanjutan budidaya rumput laut Pulau Pari
Analisis leverage pada (Gambar 17) menunjukan bahwa ada 3 atribut yang memiliki nilai lebih dari 1,5 yang berarti atribut tersebut menjadi faktor pengungkit sehingga atribut tersebut harus diperbaiki serta ditingkatkan agar dalam usaha budidaya rumput laut bisa berkelanjutan. Keempat atribut tersebut yakni sarana listrik, transportasi pengangkut hasil budidaya ke daerah pemasaran, serta teknologi pengolahan limbah industri. Munculnya atribut yang sensitif tidak terlepas dari kondisi infrastruktur yang ada di Pulau Pari, infrastruktur tersebut dianggap belum memadai sehingga menjadi faktor yang harus di tingkatkan agar dapat berkelanjutan guna mendukung usaha budidaya rumput laut di Pulau Pari. e. Dimensi kelembagaan
Dimensi kelembagaan menunjukan ada beberapa atribut yang menjadi penentu terhadap keberhasilan usaha budidaya rumput laut, atribut yang dimaksud meliputi peran lembaga keuangan yang mendukung usaha budidaya rumput laut, dimana sebesar 68% responden menyatakan bahwa telah menerima bantuan dari beberapa lembaga pemerintah yang didirikan di Pulau Pari, sehingga untuk memulai usaha budidaya rumput laut bantuan tersebut memang sangat efektif dan membantu, terutama bagi masyarakat yang tingkat perekonomiannya masih tergolong menengah ke bawah. Selain itu lembaga penyuluh juga sangat
0,40 0,35 7,40 1,30 2,50 3,31 0 2 4 6 8
Sarana dan prasarana pasar untuk pemasaran Rumput Laut
Ketersediaan industri pengolahan rumput laut Teknologi pengolahan limbah industri Ketersediaan gudang penampung sementara Trasfortasi pengangkut hasil budidaya ke daerah pemasaran
Sarana listrik
berpengaruh terhadap keberhasilan usaha budidaya, menurut masyarakat peran kelembaga penyuluh dalam usaha budidaya rumput laut sangat membantu dan menjadi penentu terhadap keberhasilan usaha. Sebanyak 53% dari total responden merasa puas dengan kerja dan partisipasi penyuluh dalam membantu masyarakat untuk budidaya, selain itu dukungan dari pemerintah daerah sangat diharapkan, seperti memfasilitasi masyarakat mulai dari tahap budidaya sampai pada pemasahan hasil budidaya, sedangkan terkait dukungan pemerintah terhadap usaha budidaya mayoritas dari responden atau sekitar 50% responden merasa belum puas terhadap dukungan pemerintah, karena menurut masyarakat Pulau Pari pemerintah belum sepenuhnya mendukung usaha budidaya yang mereka lakukan. Pemerintah seharusnya menyediakan lembaga penjamin mutu sehingga hasil budidaya masyarakat yang sampai pada konsumen merupakan hasil pilihan yang berkualitas baik. Menurut hasil wawancara mengenai lembaga yang mengatur mengenai ketersediaan penjamin mutu untuk budidaya rumput laut mayoritas responden atau sebanyak 83% responden mengatakan bahwa belum ada penjamin mutu yang disediakan oleh pemerintah untuk menjamin setiap hasil budidaya yang mereka lakukan.
Gambar 18. Atribut kelembagaan yang menjadi faktor pengungkit keberlanjutan budidaya rumput laut
Menurut analisis leverage pada dimensi kelembagaan menunjukan bahwa semua atribut menjadi faktor pengungkit terhadap keberlanjutan budidaya, dimana analisis RMS (Root Mean Square) menunjukan nilai > 1,5 sehingga semua atribut menjadi faktor pengungkit, atau sensitif, sehingga dalam usaha budidaya rumput laut kelima atribut tersebut merupakan faktor yang harus diperhatikan dan terus ditingkatkan sehingga tercapai suatu keberlanjutan dari segi kelembagaan. Analisis keberlanjutan untuk dimensi kelembagaan dapat dilihat pada Gambar 18. f. Analisis keberlanjutan pada masing-masing dimensi
Berdasarkan hasil analisis multidimensi scaling diperoleh beberapa dimensi yang masih harus diperbaiki yakni dimensi ekologi, ekonomi, infrastruktur dan dimensi kelembagaan, keempat dimensi tersebut memiliki nilai kurang dari 75%, yang berarti cukup sesuai, sedangkan dimensi Sosial dalam analisis tersebut diperoleh nilai 76% yang berarti sustainable atau masuk dalam kategori baik. Menurut Susilo (2003) bahwa nilai 51-75% dikategorikan cukup sesuai dan nilai 76-100% masuk dalam kategori baik atau sustainable.
13,28
18,51 7,75
10,92
0 5 10 15 20
Peran lembaga keuangan…
Kelembagaan penyuluh
Dukungan Pemerintah daerah untuk…
Ketersediaan penjamin mutu
34
Gambar 19. Nilai keberlanjutan masing-masing dimensi budidaya rumput laut 2. Analisis multidimensional scaling (MDS) untuk wisata bahari
Analisis multidimensi scaling (MDS) bertujuan untuk melihat keberlanjutan pengelolaan wisata bahari dari berbagai aspek, seperti aspek sosial, ekonomi, ekologi, kelembagaan sampai pada infrastruktur yang ada di Pulau Pari, dimana setiap dimensi akan berikan atribut yang dianggap berpengaruh terhadap keberlanjutan pengelolaan pada masing-masing dimensi.
a. Dimensi ekologi
Dimensi ekologi merupakan salah satu aspek yang cukup berpengaruh terhadap aktivitas wisata, hal ini disebabkan karena wisata Pulau Pari merupakan wisata yang berorentasi terhadap panorama alam laut sehingga jika kualitas air atau ekologinya rusak maka kemungkinan wisata Pulau Pari tidak akan berkelanjutan. Berdasarkan analisis daya dukung yang dilakukan pada tahun 2014 menunjukan nilai sangat sesuai untuk kategori wisata snorkling dan wisata pantai sehingga skor yang diperoleh sebesar 2, sedangkan untuk ketersediaan air bersih untuk peruntukan MCK menunjukan bahwa setiap rumah memiliki sumber air yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, karena air yang digunakan merupakan air sumur yang setiap kepala keluarga memiliki sumur masing-masing. Lain halnya dengan kebutuhan air untuk masak dan minum, yang hanya mengandalkan pasokan air tawar (galon) yang berasal dari Tangerang dan Jakarta sehingga kebutuhan air untuk masak dan minum cukup terbatas. Setelah adanya aktivitas wisata bahari di Pulau Pari terjadi perubahan signifikan pada sektor pengelolaan sampah, masyarakat Pulau Pari cenderung lebih peka terhadap keberadaan sampah. Upaya yang dilakukan untuk mencegah peningkatan jumlah sampah di Pulau Pari yaitu dengan membentuk tim pengelola sampah yang khusus bertugas untuk membersihkan sampah setiap paginya sehingga tidak terjadi penumpukan sampah yang berlebihan, sedangkan untuk tingkat pencemaran perairan di Pulau Pari menurut data yang diperoleh menunjukan bahwa tingkat BOD di perairan Pulau Pari masih sesuai baku mutu lingkungan sehingga belum berbahaya untuk aktifitas wisata bahari di pulau tersebut dan secara keseluruhan skor yang diperoleh yaitu dua (2) atau sangat sesuai.
62,48 62,16 76,33 73,37 71,24 0 20 40 60 80 Dimensi Ekologi Dimensi Ekonomi Dimensi Sosial Dimensi Infrastruktur Dimensi Kelembagaan
Gambar 20. Atribut ekologi yang menjadi faktor pengungkit keberlanjutan wisata bahari Pulau Pari
Gambar 20 menunjukan bahwa untuk semua atribut dari dimensi ekologi dianggap sensitif untuk keberlanjutan wisata bahari, seperti tingkat pencemaran perairan, pengelolaan sampah, ketersediaan air bersih untuk peruntukan konsumsi, ketersediaan air bersih untuk peruntukan MCK, serta daya dukung wisata untuk kategori wisata pantai dan wisata snorkling. Semua atribut tersebut merupakan faktor yang dianggap sensitif terhadap keberlanjutan pengelolaan wisata bahari jika ditinjau dari dimensi ekologi, oleh karena itu jika pengelolaan wisata bahari ingin mencapai suatu keberlanjutan maka atribut tersebut merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengelolaanya.
b. Dimensi ekonomi
Dimensi ekonomi merupakan salah satu dari 5 dimensi yang dianalisis untuk melihat keberlanjutan pengelolaan wisata Pulau Pari, dimana dimensi tersebut merupakan fakror yang menjadi tolak ukur terhadap keberlanjutan suatu usaha. Dari dimensi ekonomi tersebut ada beberapa atribut yang dimasukan dan dianggap berpengaruh terhadap keberlanjutan ekonomi dari usaha wisata bahari. Beberapa atribut yang dianggap berpengaruh diantaranya (1) pendapatan rumah tangga (skor 1 yang berarti pendapatan masyarakat setara UMR), (2) ketersediaan modal usaha (skor 2 yang berarti 51% merupakan modal sendiri, dan sisanya menunggu bantuan dari pemerintah), (3) Analisis usaha wisata bahari, dimana dari analisis R/C diperoleh nilai sangat menguntungkan atau R/C=2 dan memiliki bobot 2, (4) Penyerapan tenaga kerja, dari keseluruhan responden sebanyak 67% menyatakan sangat besar pengaruh penyerapan tenaga kerja oleh usaha wisata bahari (Skor2), (5) Kontribusi sektor wisata terhadap pendapatan masyarakat, hasil wawancara sebanyak 79% responden mengatakan bahwa terjadi perubahan pendapatan, dimana dari yang tadinya pendapatan hanya diperoleh dari budidaya rumput laut dengan perputaran uang yang cukup lama, namun sekarang hanya dalam waktu ±1 minggu masyarakat bisa mendapatkan keuntunggan yang lebih besar dan cepat sehingga bisa menutupi kebutuhan dapur dan kebutuhan lainya, (6) Untuk atribut mengenai kesempatan bekerja, >50% masyarakat yang awalnya merupakan pengangguran, kuli bangunani, dan buruh pabrik sekarang menjadi pengelola wisata, dan hampir semua masyarakat Pulau Pari terlibat dalam usaha
3,18 4,55 4,33 15,32 5,69 2,22 0 5 10 15 20
Daya dukung wisata untuk kategori wisata… Daya dukung wisata untuk kategori wisata… Ketersediaan air bersih untuk peruntukan… Ketersediaan air bersih untuk peruntukan…
Pengelolaan sampah Tingkat pencemaran perairan
36
wisata tersebut, (7) Sedangkan untuk iklim investasi memang telah ada tetapi masih sangat terbatas sehingga kebutuhan wisatawan belum terpenuhi.
Gambar 21. Atribut ekonomi yang menjadi faktor pengungkit keberlanjutan wisata bahari Pulau Pari
Dimensi ekonomi pada Gambar 21 menunjukan bahwa nilai leverage atribut yang diperoleh rata-rata diatas 1,5 atau memiliki nilai leverage yang sensitif seperti iklim investasi, kesempatan bekerja, kontribusi sektor wisata terhadap pendapatan usaha, penyerapan tenaga kerja, analisis pendapatan usaha, ketersediaan modal usaha, dan pendapatan rumah tangga. Ketujuh atribut tersebut merupakan faktor yang dianggap sensitif untuk keberlanjutan pengelolaan sehingga harus ditingkatkan dan diperbaiki lagi agar dalam pengelolaanya dapat lebih berkelanjutan. Pengelolaan wisata bahari di Pulau Pari saat ini memang terfokus pada peningkatan ekonomi masyarakat, sehingga dengan memanfaatkan kondisi alam yang telah ada, masyarakat bisa mendapatkan keuntungan dari jasa wisata. Oyewole (2001) berpendapat bahwa spesialisasi dibidang jasa wisata memiliki dampak positif yang cukup kuat terhadap kinerja ekonomi.
Pada proses pertumbuhan ekonomi, faktor ukuran kecil suatu kawasan juga sering menjadi pembatas dalam mencapai skala ekonomi tertentu dengan dibatasinya berbagai kegiatan dasar ekonomi yang dapat dilakukan (Read 2001). Pembatas ini berkaitan dengan ukuran pasar, sumberdaya, tenaga kerja dan kekuatan modal wilayah kecil untuk menyongsong ekonomi global serta mencapai skala ekonomi yang cukup besar. Lebih lanjut Venegas and Croes (2003) menambahkan bahwa adanya hubungan yang kuat antara wisata dan kinerja ekonomi yang wilayahnya lebih kecil bukan menjadi alasan untuk menghambat kinerja pertumbuhan ekonomi disuatu wilayah.
c. Dimensi sosial
Menurut hasil penelitian yang dilakukan, tingkat pendidikan masyarakat Pulau Pari mayoritas berpendidikan rendah atau hanya sampai Sekolah Dasar (SD), yaitu sebesar 67% dari total responden, sedangkan SMP hanya 8%, SMA 17% dan sisanya perguruan tinggi sebanyak 2%. Partisipasi anggota keluarga dalam usaha wisata bahari mayoritas responden atau sebanyak 69% responden mengatakan bahwa ada 2-3 anggota keluarga yang terlibat langsung dalam membantu usaha wisata bahari, dan 23% mengatakan lebih dari 3 anggota
2,70 1,59 2,38 2,75 2,45 1,63 2,78 0 1 2 3
Pendapatan rumah tangga Ketersediaan modal usaha Analisis usaha Penyerapan tenaga kerja
Kontribusi sektor wisata terhadap…
Kesempatan bekerja Iklim investasi
keluarga yang terlibat dalam usaha, sedangkan sisanya sebanyak 8% menyatakan tidak ada anggota keluarga yang terlibat dalam usaha wisata bahari. Tingkat penerimaan masyarakat terhadap wisatawan kebanyakan responden memilih sangat menerima yakni ada 69% mengatakan menerima, 29% memilih jawaban sangat menerima, dan sisanya sebanyak 1% tidak menerima, sedangkan atribut mengenai alternatif usaha lain, mayoritas masyarakat memiliki 1-2 usaha, atau sekitar 38% responden, sedangkan yang 27% memiliki >2 usaha, dan sisanya sebanyak 35% tidak mempunyai usaha lain selain mengandalkan wisata sebagai sumber mata pencaharian mereka. Terkait perubahan sikap atau sosial masyarakat Pulau Pari, menurut kebanyakan responden yakni 76% responden dari 131 responden yang diwawancarai mengatakan tidak terjadi perubahan dari segi sosial masyarakat, sedangakan sisanya yakni 24% mengatakan terjadi perubahan sosial masyarakat seperti kurangnya sosialisasi antar masyarakat Pulau Pari. Kondisi tersebut menurut mereka dipengaruhi oleh makin padatnya kegiatan masyarakat yang disebabkan karena meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung, sehingga berakibat pada kurangnya waktu untuk bersama dengan keluarga dan masyarakat sekitar. Adapun konflik antar pengelola wisata, 70% responden mengatakan tidak ada konflik selama adanya wisata, dan 30% lainya mengatakan terjadi konflik tetapi jarang dan hanya terjadi setahun sekali, sedangkan untuk atribut mengenai pengaruh wisatawan terhadap interaksi antar penduduk