HASIL PENELITIAN
4.4. Analisis Multivariat (Uji Regresi)
Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (pengetahuan, sikap dan keterampilan) dengan variabel terikat (keberhasilan promosi kesehatan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP H. Adam Malik) secara parsial maupun secara bersama-sama, dilakukan analisis multivariat yaitu dengan menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis regresi logistik ganda dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut
Tabel 4.16. Hasil Uji Multivariat dengan Regresi Logistik Ganda Variabel Independen Koefisien
Regresi (B) Signifikansi (p) Odds Ratio (OR) Pengetahuan 3.466 0,032 32,000 Sikap 3.390 0,027 29,666 Keterampilan 3.510 0,020 33,456
Hasil analisis regresi logistik ganda ditemukan bahwa seluruh variabel bebas (pengetahuan, sikap dan keterampilan) berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan promosi kesehatan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP H. Adam Malik, dan yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan promosi kesehatan di Instalasi Rehabilitasi Medik adalah variabel keterampilan penyuluh dengan nilai p = 0,020 dan OR = 33,456.
Berdasarkan nilai koefisien regresi yang diperoleh pada analisis multivariat maka model regresi yang dapat dibentuk adalah :
Y = - 4.606 + 3.466 X1 + 3.390 X2 + 3.510 X3
Secara keseluruhan variabel bebas (pengetahuan, sikap dan keterampilan) mampu menjelaskan variabel keberhasilan promosi kesehatan di Instalasi Rehabilitasi Medik sebesar 72,4% (Negelkerke R Square = 0,724), selebihnya (27,6%) dijelaskan oleh faktor atau variabel lain yang tidak termasuk dalam variabel penelitian ini.
Berdasarkan nilai OR dapat dijelaskan bahwa penyuluh Instalasi Rehabilitasi Medik yang mempunyai pengetahuan yang baik mempunyai peluang 32 kali berhasil melaksanakan promosi kesehatan. Demikian juga variabel sikap mempunyai peluang
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1. Pengaruh Pengetahuan terhadap Keberhasilan Promosi Kesehatan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP H. Adam Malik
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang mempunyai pengetahuan pada kategori baik 19 orang (59,4%), persentase ini lebih banyak dibandingkan responden dengan pengetahuan kategori tidak baik. Hasil analisis hubungan pengetahuan dengan keberhasilan promosi kesehatan diperoleh p < 0,05, artinya bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor pengetahuan dengan keberhasilan promosi kesehatan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP H. Adam Malik dengan Nilai OR = 32.
Sesuai dengan konsep The International Rehabilitation Counseling Consortium dari Virginia Commonwealth University Department of Rehabilitation Counseling (2005)yang menyatakan bahwa petugas rehabilitasi medik atau konselor rehabilitasi adalah suatu profesi yang memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap khusus yang diperlukan untuk bekerja sama (berkolaborasi) dalam suatu hubungan profesional dengan orang-orang yang menyandang kecacatan untuk mencapai tujuan personal, sosial, psikologis dan vokasional.
Aspek pengetahuan tentang promosi kesehatan yang rendah dipahami petugas adalah tentang pelayanan psikologi, terapi wicara, ortotik-prostetik dan okupasi terapi. Rendahnya pengetahuan penyuluh tersebut karena jumlah atau proporsi penyuluh untuk bidang tersebut hanya sedikit yaitu berjumlah 1 dan 2 orang.
Kegiatan yang terkait dengan pelayanan ortotik-prostetik adalah tentang cara-cara pengukuran, pembuatan dan pemasangan alat-alat penguat atau pengganti tubuh yang lumpuh., sedangkan komunikasi atau interaksi dengan pasien relatif sedikit, namun temuan ini merupakan hal yang perlu mendapat perhatian manajemen rumah sakit untuk ditingkatkan.
Fungsi sosial medis dalam pelayanan rehablitasi medik adalah sebagai mediator (manager kasus) yakni menghubungkan antara pasien yang membutuhkan bantuan dengan pemeberi bantuan (sponsor), seperti pasien yang membutuhkan tangan palsu atau kaki palsu.
Sesuai penelitian Yuniarti dkk (2012) menyimpulkan bahwa kinerja petugas penyuluh kesehatan masyarakat berhubungan dengan tingkat pendidikan, pelatihan, pengetahuan, ketrampilan dan kepemimpinan. Variabel paling berpengaruh terhadap kinerja petugas penyuluh kesehatan masyarakat yaitu tingkat pendidikan.
Pelaksanaan rehabilitasi menurut Commission Education in Physical Medicine and Rehabilitation ternyata tidak hanya aspek medis saja, tetapi juga aspek sosial yang berhubungan dengan aspek medis. Hal tersebut ditegaskan oleh World Health Organization bahwa tujuan rehabilitasi medik tidak hanya mengembalikan penderita cacat ke keadaan semula, melainkan juga membangun semaksimal mungkin fungsi fisik dan mental serta sosialnya
Sifat layanan rehabilitasi medik meliputi usaha-usaha preventif, kuratif, dan promotif. Usaha preventif dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kemunduran
kecacatan. Usaha kuratif dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada penyandang cacat baik pada segi kesehatan umum maupun pelayanan kesehatan khusus dan terapi khusus sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan usaha promotif dimaksudkan sebagai upaya menjaga status kesehatan dan pembinaan kepada masyarakat sekolah dan keluarga dalam hal penyakit dan cacat
Dalam five level of prevention, rehabilitasi medik termasuk pencegahan tahap keempat yaitu mencegah terjadinya cacat seminimal mungkin. Pasien yang mengunjungi unit Rehabilitasi Medik adalah pasien dengan penyakit khusus seperti pasien fraktur, penyakit cedera sistem syaraf dan lain-lain, serta penyakit-penyakit umum lainnya yang membutuhkan pemulihan.
Dalam pelaksanan rehabilitasi memerlukan suatu kombinasi dari berbagai keahlian, metode-metode, teknik-teknik, fasilitas-fasilitas khusus, guna perbaikan dan pemulihan fisik, penyesuaian psikologi, penyesuaian sosial serta penyesuaian kerja. Suatu rehabilitasi akan berhasil dengan baik, jika dimulai dari saat terjadinya masalah, yaitu pada saat seseorang belum lama terlibat oleh masalahnya. Rehabilitasi sebaiknya dilaksanakan sedini mungkin, sehingga tidak ada waktu lagi bagi mereka yang bermasalah untuk menjadi terlambat penanganannya. Dalam proses rehabilitasi, banyak berhubungan dengan masalah penyesuaian diri. Rehabilitasi bukan merupakan petugas Instalasi Rehabilitasi Medik yang akan segera menghasilkan perubahan baru secara langsung. Hasil dari rehabilitasi tidak dapat segera terlihat, karena merupakan bimbingan untuk menyesuaikan diri dengan proses penyembuhan.
Tujuan rehabilitasi adalah untuk membimbing seseorang agar menyadari potensi serta kemampuan yang ada pada dirinya, kemudian melengkapinya dengan sarana-sarana yang diperlukan untuk dapat mengembangkan dan memanfaatkan kemampuannya. Dengan pemanfaatan kemampuannya diharapkan ia dapat berdiri sendiri, sehingga mampu menjalankan fungsi sosialnya. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa pada hakekatnya setiap orang memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan, latihan dan bimbingan sehingga akan menjadi suatu kemampuan. Pelaksanaan suatu usaha memerlukan berbagai sarana, demikian pula halnya dengan rehabilitasi. Disamping itu diperlukan juga adanya program, kegiatan dan tenaga pelaksananya. Faktor-faktor tersebut di atas merupakan satu kesatuan yang harus selalu terdapat dalam berbagai upaya rehabilitasi agar dapat mencapai tujuan (Depkes RI, 2008).
Pengetahuan sebagai pendukung keberhasilan promosi kesehatan dapat diupayakan melalui program pelatihan petugas, hal ini sesuai dengan Depkes RI (2002) yang menyatakan bahwa profesionalisme kinerja petugas promosi kesehatan dipengaruhi oleh pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.
5.2. Pengaruh Sikap terhadap Keberhasilan Promosi Kesehatan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP H. Adam Malik
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang mempunyai sikap pada kategori baik 22 orang (68,8%), persentase ini lebih banyak dibandingkan responden dengan sikap kategori tidak baik. Hasil analisis hubungan sikap dengan keberhasilan promosi kesehatan diperoleh p < 0,05, artinya bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor sikap dengan keberhasilan promosi kesehatan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP H. Adam Malik dengan OR = 29,666.
Aspek sikap tentang promosi kesehatan yang paling tidak disetujui oleh petugas adalah tentang pasien yang datang ke Instalasi Rehabilitasi Medik harus diberikan edukasi tentang pelayanan yang akan diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa petugas belum menyadari sepenuhnya tentang pentingnya pemberian informasi tentang jenis pelayanan, peralatan yang digunakan, fungsi serta kegunaan melakukan pelayanan rehabilitasi medik, hal yang perlu mendapat perhatian manajemen rumah sakit untuk ditingkatkan sehingga peran Instalasi Rehabilitasi Medik dapat ditingkatkan dalam upaya penyembuhan pasien.
Sesuai dengan pedoman PKMRS (Kemenkes 2012) bahwa setiap petugas kesehatan harus berperan dalam memberikan edukasi kepada pasien yang datang ke rumah sakit, dengan demikian sikap petugas rumah sakit harus mendukung pelaksanaan edukasi sebagai bentuk pelaksanaan promosi kesehatan.
Hasil penelitian ini mendukung konsep sikap yang dinyatakan Azwar (2003), yang menjelaskan sikap sebagai perasaan positif atau negatif atau keadaan mental
yang selalu disiapkan, dipelajari dan diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh khusus pada respon seseorang terhadap orang, obyek ataupun keadaan. Sikap lebih merupakan determinan perilaku sebab, sikap berkaitan dengan persepsi, kepribadian dan motivasi.
Sikap petugas dalam pelayanan rehabilitasi medik sebagaimana dinyatakan Osada (2000), bahwa sikap kerja adalah tindakan yang akan diambil karyawan dan segala sesuatu yang harus dilakukan karyawan tersebut yang hasilnya sebanding dengan usaha yang dilakukan. Misalnya, jika membagi tanggung jawab antara manajemen puncak dengan karyawan dari sudut pandang pekerjaan. Keduanya jelas berbeda. Manajemen harus menanggung tanggung jawab atas produk atau jasa tetapi karyawan hanya menanggung proses bagaimana membuat produk atau jasa tersebut. Jika prosesnya benar maka hasilnya tentu akan baik. Sikap kerja bisa dijadikan indikator apakah suatu pekerjaan berjalan lancar atau tidak. Jika sikap kerja dilaksanakan dengan baik pekerjaan akan berjalan lancar. Jika tidak berarti akan mengalami kesulitan. Tetapi harus diingat, bukan berarti adanya kesulitan karena tidak dipatuhinya sikap kerja, melainkan ada masalah lain lagi dalam hubungan antara karyawan yang akibatnya sikap kerjanya diabaikan.
Robbins (2007) menjelaskan sikap kerja sebagai kecenderungan pikiran dan perasaan puas atau tidak puas terhadap pekerjaannya. Indikasi karyawan yang merasa puas pada pekerjaannya akan bekerja keras, jujur, tidak malas dan ikut memajukan perusahaana. Sebaliknya karyawan yang tidak puas pada pekerjaannya akan bekerja
Sikap kerja yang ditunjukkan petugas rehabilitasi medik di rumah sakit adalah bagaimana proses pelaksanaan pelayanan rehabilitasi medik. Faktor-faktor sikap menurut Robbins (2007) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi sikap kerja adalah: (a) kondisi kerja yang meliputi lingkungan fisik ataupun lingkungan sosial yang menjamin akan mempengaruhi kenyamanan dalam bekerja. Adanya rasa nyaman akan mempengaruhi semangat dan kualitas karyawan, (b) pengawasan atasan. Seorang pimpinan yang melakukan pengawasan terhadap karyawan dengan baik dan penuh perhatian pada umumnya berpengaruh terhadap sikap dan semangat kerja karyawan, (c) kerja sama dari teman sekerja, adanya teman sekerja yang dapat bekerja sama akan sangat mendukung kualitas dan prestasi dalam menyelesaikan pekerjaan (d) keamanan, adanya rasa aman yang tercipta serta lingkungan yang terjaga akan menjamin dan menambah ketenangan dalam bekerja, (e) kesempatan untuk maju, adanya jaminan masa depan yang lebih baik dalam hal karier baik promosi jabatan dan jaminan hari tua, (f) fasilitas kerja, tersedianya fasilitas-fasilitas yang digunakan karyawan dalam pekerjaannya, (g) gaji, rasa senang terhadap imbalan yang diberikan perusahaan baik yang berupa gaji pokok, tunjangan dan sebagainya yang akan mempengaruhi sikap karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Aspek-aspek pendukung sikap kerja menurut Osada (2000) dibagi menjadi 5 hal penting yang dapat digunakan sebagai perbaikan dalam pelayanan rehabilitasi medik di RSUP H. Adam Malik, yaitu: (a) petugas memilah jenis pelayanan rehabilitasi dengan aturan atau prinsip yang ada, (b) petugas melakukan penataan
pelayanan yang bertujuan untuk memfokuskan pelayanan secara fungsional untuk dapat bertindak dengan cepat, (c) petugas melakukan pembersihan sebagai bentuk pemeriksaan terhadap tindakan yang dilakukan dan menciptakan sikap kerja yang tidak memiliki melanggar prosedur yang telah ditetapkan, (d) petugas melakukan pemantapan dengan terus menerus dan secara berulang-ulang memelihara pemilahan, penataan dan pembersihannya. Prinsip dari pemantapan adalah inovasi dan manajemen diri untuk mencapai dan memelihara kondisi yang sudah dimantapkan sehingga dapat bertindak dengan cepat, (e) aspek sikap kerja yang terakhir adalah pembiasaan yang berarti menanamkan kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang benar. Prinsip yang digunakan adalah menciptakan suatu sikap kerja yang sesuai lewat kebiasaan dan perilaku yang baik sehingga nantinya karyawan dapat bekerja dengan baik dan mematuhi peraturan. Berdasar uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek yang mendukung sikap kerja antara lain pemilahan, penataan, pembersihan, pemantapan dan pembiasaan. Tujuannya menciptakan suatu sikap kerja yang sesuai kebiasaan yang baik dan perilaku yang baik sehingga karyawan dapat bekerja dengan lancar dan mematuhi peraturan.
5.3. Pengaruh Keterampilan terhadap Keberhasilan Promosi Kesehatan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP H. Adam Malik
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang mempunyai keterampilan pada kategori rendah 23 orang (71,9%), persentase ini lebih banyak dibandingkan responden dengan keterampilan kategori tidak baik. Hasil analisis
artinya bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor keterampilan petugas dengan keberhasilan promosi kesehatan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP H. Adam Malik dengan OR = 33,456.
Aspek keterampilan tentang promosi kesehatan yang paling rendah penguasaan oleh petugas adalah tentang prosedur serta ketepatan pelayanan psikologis. Dalam hal ini penilaian peneliti dari cara psikolog saat menangani pasien, dimana sering pasien yang dikonsulkan tidak segera di tangani atau tidak segera di jawab bahkan cenderung menunda serta sering di kritik dokter pengirim pasien. Berdasarkan kondisi tersebut peneliti memperhatikan aspek keterampilan mengapa tidak segera dijawab pasien yang dikonsulkan berdasarkan indikasi pasien dengan penjelasan secara psikologi.
Pelayanan psikologis yang biasa dilakukan di rumah sakit adalah konseling tentang keluhan atau penyakit yang diderita pasien. Pada saat memulai konseling, sebaiknya petugas rumah sakit sebagai konselor tidak langsung mengungkap masalah, kelemahan, atau kekeliruan pasien. Konseling harus diawali dengan situasi yang menggembirakan, karena situasi yang demikianlah yang akan membuat pasien menjadi tertarik untuk terlibat dalam perbincangan. Pada saat perbicangan telah menjadi hangat, maka pancinglah pasien untuk mengungkapkan sendiri masalah, kelemahan atau kekeliruannya
Berdasarkan hasil penelitian tentang aspek psikologi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan petugas yang mempunyai spesialisasi bidang psikologis perlu mendapat perhatian manajemen rumah sakit untuk ditingkatkan dari aspek sumber
daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan pasien sehingga peran Instalasi Rehabilitasi Medik dapat ditingkatkan dalam upaya penyembuhan pasien.
Tingkat keterampilan juga terkait dengan lama kerja seorang petugas, karena pelayanan rehabilitasi medik terkait dengan penguasaan fungsi dan penggunaan alat-alat, maka semakin lama seorang petugas bekerja di instalasi rehabilitasi medik maka semakin paham, mahir serta terampil dalam penggunaan alat.
Rehabilitasi psikologis merupakan bagian dari proses rehabilitasi penca yang berusaha untuk menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi semaksimal mungkin pengaruh negatif yang disebabkan oleh kecacatan terhadap mental penca serta melatih mempersiapkan mental mereka agar siap dan mampu menyesuaikan diri di masyarakat. Proses pelaksanaan rehabilitasi psikologis berjalan bersamaan dengan proses rehabilitasi medis, pendidikan, dan keterampilan, dimana prosesnya bertujuan untuk: (a) Menghilangkan atau mengurangi semaksimal mungkin akibat psikologis yang disebabkan oleh kecacatan. Misalnya timbul perasaan putus asa, perasaan rendah diri, harga diri yang rendah, mudah tersinggung, mudah marah, malas, suka minta bantuan, suka mengisolasi diri, (b) memupuk rasa harga diri, percaya pada kemampuan diri sendiri, semangat juang, semangat kerja dalam kehidupan, rasa tanggung jawab pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, (c) mempersiapkan peserta didik cacat secara mental psikologis agar mereka tidak canggung bila berada di tengah masyarakat. Rehabilitasi psikologis meliputi: aspek mental keagamaan, budi
Sesuai penelitian Yustinus (2004) menyimpulkan bahwa pelayanan pasien fisioterapi di instalasi Rehabilitasi Medik RS Dr. Sardjito Yogyakarta ditentukan oleh keterampilan atau kompetensi petugas saat melayani pasien. Demikian juga penelitian Sarjono (2011) bahwa Instalasi Rehabilitasi Medik adalah salah satu instansi di rumah sakit yang bukan hanya membutuhkan obat-obatan bagi para pasiennya, tetapi juga latihan dan terapi yang rutin sebagai sarana kesembuhan pasiennya sehingga membutuhkan komunikasi terapeutik yang baik dari fisioterapis.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi atau
keterampilan interpersonal petugas instalasi rehabilitasi medik antara lain : (1) mengadakan pelatihan program menjaga mutu (quality assurance) yaitu
pelatihan yang ditujukan untuk membentuk mindset petugas sehingga selalu berorientasi pada kepuasan pelanggan berdasarikan profesi dibidang rehabilitasi medik, (2) mengadakan pelatihan customer service yaitu bagian dari pelatihan manajemen mutu yang lebih menitik beratkan pada pelayanan secara operasional pada nilai-nilai kemanusaiaan, dalam rangka membentuk pribadi yang : ramah yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku, menanyakan kemajuan kesehatan pasien, tidak cemberut, berwajah cerah, tersenyum, dan mengajak bercakap-cakap pasien pada saat melakukan tugasnya sebagai petugas rehabilitasi medik, sopan yang sesuai dengan nilai-nilai kesopanan, perhatian terhadap pasien, sabar dan tidak tergesa gesa pada saat memberikan t indakan
rehabilitasi medik, ikut merasakan apa yang dialami oleh pasien berupa bagaimana menanyakan apakah pasien merasa sakit.
Keterampilan dalam pelayanan rehabilitasi medik merupakan bentuk konseling, oleh karena aitu lingkup praktek yang harus dikuasai oleh konselor rehabilitasi adalah : assessment dan appraisal (pengukuran), diagnosis dan rencana treatment; konseling karir (vokasional); intervensi treatment konseling individual dan kelompok yang berpusat pada memfasilitasi penyesuaian diri klien pada dampak medis dan dampak psychosocial kecacatan ; manajemen kasus, rujukan, dan koordinasi pelayanan; evaluasi program dan penelitian; intervensi untuk merubah lingkungan dan penghalang sikap; dan memberikan konsultasi mengenai dan mengakses teknologi rehabilitasi.
Sesuai pendapat Randall (2005) profesi konselor rehabilitasi telah meningkat dari awal sejarahnya sebagai satu pekerjaan yang praktek hanya pada setting yang terbatas sampai akhirnya saat ini dimana statusnya menjadi sebuah profesi yang praktek di berbagai setting yang berbeda dengan berbagai sasaran individu yang jangkauannya luas. Disarankan bahwa hakekat dari konselor rehabilitasi profesional adalah yang memiliki rasa yang kuat terhadap identitas keprofesionalannya, memiliki kemampuan untuk berfungsi pada keadaan yang membingungkan, kemampuan untuk melakukan pertimbangan dan mengambil keputusan di kondisi yang tidak selalu ideal (dimana konselor memiliki informasi yang cukup atau lengkap), kemampuan untuk berhubungan baik dengan orang-orang dengan kepedulian dan empati, namun mampu
untuk menyatakan diri mereka sendiri sebagai konselor yang efektif. Karakteristik ini penting di berbagai konteks dimana koselor rehabilitasi bekerja.
Sesuai pendapat Widati (2008) keterampilan petugas berdasarkan jenis pelayanan di Inatalasi Rehabilitasi Medik adalah :
a) Fisioterapis
Mempunyai keahlian dalam memanfaatkan tenaga fisik dalam pengobatan, melaksanakan program sesuai dengan yang telah ditentukan oleh tim rehabilitasi. Sebelum dilaksanakan perlu diassesmen terlebih dahulu, dan target utamanya adalah melatih mobilisasi. Fisio terapi dalam rehabilitasi medik mempunyai fungsi untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit, melatih serta memperkuat otot-otot dan memperbaiki koordinasi otot-otot agar pasien dapat berfungsi kembali semaksimal mungkin dengan cacatnya. Seorang fisio terapi (fisioterapis) haruslah memiliki keahlian dalam gerakan dan fungsi bagian-bagain tubuh, namun adakalanya seorang fisioterapis juga melakukan tindakan-tindakan yang bersifat preventif dan promotif, misalnya latihan relax bagi orang-orang yang kelewat sibuk atau memperkuat otot-otot untuk mencegah sobekan pada para olahragawan.
b) Terapi Okupasi
Mempunyai keahlian dalam mengadakan evaluasi gangguan fungsi tangan dan memberikan latihan pengembaliannya sesuai dengan program yang telah ditentukan oleh tim rehabilitasi. Sebelum dilaksanakan program perlu diadakan assesmen terlebih dahulu, dan target utamanya adalah melatih keterampilan. Terapi okupasional atau okupasi terapi adalah suatu usaha untuk membantu pasien dengan memberikan
terapi berupa latihan kerja atau beberapa kegiatan untuk melatih otot-otot anggota badan yang menjadi kaku karena suatu penyakit, misalnya pemberian latihan menyulam, menganyam, menjahit, melukis dengan benang dan lain-lain. Pelayanan yang diberikan oleh seorang okupasional terapis berupa kegiatan-kegiatan mental maupun fisik yang merangsang pertumbuhan pasien agar dapat berfungsi secara maksimal dalam kegiatan di rumah, di tempat kerja maupun di lingkungan.
c) Orthotic dan Prosthetic
Mempunyai keahlian sebagai teknisi dalam mengukur, membuat, dan mengepas komponen tubuh palsu (prothese) dan alat penunjang (orthosis) bagian tubuh yang lumpuh, lemah, sakit, sesuai program keputusan tim. Yang dimaksud dengan orthotik adalah cara-cara pemeriksaan, pengukuran, pembuatan, dan pengepasan dari alat-alat anggota gerak yang mengalami kelayuhan, parese, fraktur, dll. Sedangkan prosthetik adalah cara-cara pemeriksaan, pengukuran, pengegipan, pembuatan dan pengepasan dari alat pengganti anggota gerak yang hilang. Penggunaan orthotik dan prosthetik adalah untuk: memperbaiki/mengganti fungsi anggota gerak, mencegah salah bentuk, dan koreksi salah bentuk, baik pada anggota gerak atas/tangan maupun bawah/kaki. Orthotik dan prosthetik sebagai bagian dari teknik dalam bidang medik dilaksanakan oleh ahli orthotik dan prosthetik atas order dokter
d) Terapis Wicara
e. Psikologi
Tenaga rehabilitasi di bidang psikologi adalah seorang psikolog, yang mempunyai keahlian dalam mengadakan evaluasi dan mengobati gangguan mental psikologis akibat cacat untuk meningkatkan motivasi, berusaha mengatasi kecacatan serta akibatnya. Rehabilitasi sosial psikologis adalah suatu proses rehabilitasi yang berusaha menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi semaksimal mungkin dampak negatif dari kelainan terhadap mental anak, serta melatih mempersiapkan mental mereka agar siap melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar.
Cakupan rehabilitasi sosial psikologis meliputi: (a) aspek keagamaan, (b) budi pekerti, (c) rehabilitasi sosial yang meliputi: pengenalan diri pribadi, bantu diri pribadi, bantu diri umum, sosialisasi, (d) aspek pengembangan akademik, (e) aspek psikologis, dan (f) bantuan sosial.
f. Sosial Medik
Seorang pekerja sosial memiliki peranan dalam mengevaluasi dan membantu memecahkan masalah-masalah sosial yang berhubungan dengan keberadaan kecacatan. Tujuan dari pelayanan sosial medis yang diberikan oleh pekerja sosial medis adalah demi membangun kembali kepercayaan diri pasien serta mengembalikan keberfungsian sosial pasien sehingga pasien dapat kembali pada keluarga dan dapat berbaur dengan lingkungan sosialnya.
Pada dasarnya inti dari fungsi pelayanan sosial medis adalah berupaya semaksimal mungkin mengembalikan keberfungsian sosial pasien, namun
berdasarkan dari hasil wawancara yang sudah dilakukan dapat dirumuskan bahwa ada