• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Nilai Moral Ongaeshi Yang Terdapat Dalam Novel

Dalam dokumen ANALISIS NILAI MORAL ONGAESHI (Halaman 44-73)

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG NOVEL KIITE ITE KUDASAI

3.2 Analisis Nilai Moral Ongaeshi Yang Terdapat Dalam Novel

1. Cuplikan (hal 30-31)

“Tuan Yajiwa Akira-lah yang dulu sering membantu bisnisnya. Disaat sang ayah mengalami kesulitan dalam bisnisnya. Di saat itulah Tuan Yajiwa Akira memberikan order pekerjaan kepada perusahaan properti miliknya yang waktu itu tengah tertatih-tatih pada masa awal pendiriannya.

Kalau saja tuan Yajiwa Akira tidak memberikan pekerjaan untuk menganggap pendirian pabrik-pabrik barunya, tentu perusahaan properti milik Inoha Kinji belum tentu akan sebesar seperti sekarang ini. Berawal dari order pekerjaan dari PT. Tsubame Tbk itulah perlahan-lahan perusahaan ayahnya mulai menggeliat, mulai banyak order pekerjaan yang berdatangan. Maka, sejak itu pulalah perusahaan property itu mulai kemajuan pesat hingga sekarang ini

Oleh karena itu, demi mengingat budi baik Tuan Yajiwa Akira di awal-awal karier perusahaan ayahnya hingga sekarang ini, maka Tuan Inoha Kinji lantas memutuskan untuk menjodohkan Hotaru dengan Hiroko, putra tunggal Tuan Yajiwa Akira.”

Analisis

Cuplikan di atas menjelaskan tentang keadaan perusahaan milik Tuan Inoha Kinji yang mengalami kesulitan dan hampir bangkrut. Saat berada di posisi sulit, hanya Tuan Yajiwa Akira yang mau membantu. Alasannya karena tuan Yajiwa Akira dan Inoha Hotaru merupakan sahabat yang sangat dekat.

Tentunya ongaeshi merupakan tindakan yang dilakukan ketika telah menerima on dari orang lain. Cuplikan diatas yang termasuk kedalam moral on dapat dilihat dari kalimat berikut “Yajiwa Akira-lah yang dulu sering membantu bisnisnya. Disaat sang ayah mengalami kesulitan”. Kalimat tersebut merupakan indeksikal bahwa Tuan Inoha Hotaru telah di bantu atau di beri budi baik dari Tuan Yajiwa Akira hingga menjadi terhutang budi. Di dalam budaya masyarakat Jepang, on haruslah di kembalikan, dalam artian bukan pemberi on (onjin) yang meminta, tetapi bagi masyarakat Jepang mengembalikan budi baik yang telah di berikan adalah kewajiban yang harus dilaksanakan. Bagi orang Jepang, tidak mengembalikan budi baik yang telah diberikan orang lain adalah tindakan yang jahat.

Karena itulah Tuan Inoha Kinji dan Yajiwa Akira menyepakati untuk menjodohkan kedua anak mereka yang terdapat dalam kalimat “maka Tuan Inoha Kinji lantas memutuskan untuk menjodohkan Hotaru dengan Hiroko, putra tunggal Tuan Yajiwa Akira.” Kalimat tersebut merupakan indeksikal perasaan bahwa Tuan Inoha Hotaru telah meneriman bantuan, dan bahwa dia mengingat kebaikan yang telah diterimanya. Hingga akhirnya dia mengambil keputusan menjodohkan Inoha Hotaru dengan Hiroko sebagai suatu ungkapan rasa terima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh Tuan Yajiwa Akira. Perasaan harus mengembalikan apa yang telah diterima berasal dari rasa terima kasih yang berhubungan dengan on yang telah ditanamkan sebagai dasar dari karakter moral masyarakat Jepang.

Pengembaian budi baik yang dilakukan Inoha Kinji berupa perjodohan yang sudah di sepakati kedua orang sahabat tersebut. Dengan perjodohan itu, telah lunas lah hutang budi yang selama ini di tanggung Inoha Kinji.

2. Cuplikan 2 (hal 71)

“Mana mungkin Hotaru sanggup menanggung duka dan lara hati karena cinta. Ia tak sanggup tanpa kekasih hatinya! Ia tak sanggup bila harus membina cinta dengan laki-laki yang sama sekali tak dicintainya. Jangankan untuk mencintai, bahkan laki-laki yang akan menjadi suaminya itu sangat asing baginya.

Hotaru sama sekali belum tahu siapa calon suami yang dipaksakan itu kecuali bahwa lelaki itu adalah anak dari sahabat ayahnya.

Tapi, ia tak sanggup untuk melawan semuanya. Sebaliknya, ia harus tunduk patuh atas sesuatu yang bukanlah menjadi keinginannya.”

Analisis

Cuplikan di atas menjelaskan kegusaran hati Hotaru sebab perjodohan membuat luka di dalam hatinya. Dia tidak akan sanggup hidup dengan seorang yang dijodohkan ayahnya. Yang dia inginkan hanyalah menikah dengan kekasihnya (Konno Keiko) tetapi dia harus mamatuhi perintah orang tua nya, tindakan tersebut merupakan suatu perasaan harus mengembalikan budi baik (on) yang telah dilakukkan ayahnya. Budi baik (on) berupa kerja keras telah merawat Hotaru dari masih bayi hingga dewasa dan juga telah memberikan kasih sayang sebagai seorang ayah kepada anak. Maka Hotaru haruslah membalas kebaikan orang tua nya walaupun sebenarnya dia tidak menyukai keputusan yang diambil ayahnya. Akan tetapi dia harus tetap patuh kepada kepada orang tua. Tindakan

yang dilakukan Hotaru kepada ayahnya termasuk kedalam jenis pengembalian budi baik (ongaeshi) yaitu Ko ( 孝 ) yang merupakan kewajiban balas budi terhadap orang tua. Dalam cuplikan di atas ditunjukkan pada kalimat berikut

“ Tapi, ia tak sanggup untuk melawan semuanya. Sebaliknya, ia harus tunduk patuh atas sesuatu yang bukanlah menjadi keinginannya.” Kalimat tersebut merupakan indeksikal perasaan harus membalas kebaikan sang ayah. Dalam masyarakat Jepang merupakan budaya atau nilai moral ongaeshi yang telah diajarkan turun temurun di kehidupan sehari-hari dari zaman dulu hingga sekarang.

3. Cuplikan 3 (hal 83-84)

“Hati Yajiwa geram bukan main melihat kelancangan kedua putri kembar Tuan Inoha itu. Andai saja tidak mengingat bahwa kedua gadis di hadapanya itu adalah anak Tuan Inoha Kinji. Tuan Yajiwa yang juga berwatak keras itu akan segera berlaku kasar terhadap mereka berdua. Akan tetapi, demi persahabatannya dengan Tuan Inoha dan demi perjodohan anaknya dengan putri sulung sahabatnya itu, Tuan Yajiwa terpaksa harus menahan emosi.”

Analisis

Cuplikan diatas yang menunjukkan tindakan on yaitu “Akan tetapi, demi persahabatannya dengan Tuan Inoha dan demi perjodohan anaknya dengan putri sulung sahabatnya itu, Tuan Yajiwa terpaksa harus menahan emosi” kalimat tersebut merupakan indeksikal bahwa tuan Yajiwa mengingat budi baik yang telah diberikan tuan Inoha Kinji berupa persahabatan, dalam masyarakat Jepang merupakan suatu budi baik karna telah bersedia menjalin ikatan persahabatan.

Budi baik berupa persahabatan dalam masyarakat Jepang harus dikembalikan. Dalam cuplikan di atas, pengembalian budi baik (ongaeshi) berupa perlakuan sopan dan baik kepada keluarga sahabatnya tergambar pada kalimat

“Andai saja tidak mengingat bahwa kedua gadis di hadapanya itu adalah anak Tuan Inoha Kinji. Tuan Yajiwa yang juga berwatak keras itu akan segera berlaku kasar terhadap mereka berdua”. Walaupun tindakan kedua anak tuan Kinji sangat tidak beradap, tetapi tuan Yajiwa Akira harus mengingat bahwa harus berlaku baik kepada keluarga sahabatnya itu. Tindakan membalas budi tersebut merupakan suatu perasaan terima kasih atas budi baik yang telah diterima. Dalam masyarakat Jepang mengingat budi baik merupakan suatu sikap budaya malu.

4. Cuplikan 4 (hal 163)

“Andai saja ia belum mempunyai seorang kekasih yang dicintainya dengan segenap perasaan cintanya, bisa jadi ia akan tergoda dengan kecantikan atasannya di kantor tersebut. Akan tetapi, ia sudah mempunyai kekasih. Walau sekarang ini hubungan mereka tengah terhalang karang terjal, namun secuil pun ia tak ingin untuk mengalihkan perhatian dan cintanya itu dati Hotaru. Karena ia begitu mencintai kekasihnya itu. Ia juga sudah memutuskan pada dirinya bahwa ia tetap akan setia dengan satu cinta, yaitu Hotaru.”

Analisis

Cuplikan di atas menjelaskan perasaan Konno Keiko yang pada saat itu merasakan suatu goncangan jiwanya karena seorang atasan di kantornya menyatakan perasaan cinta kepadanya. Keiko gusar bukan main karena atasannya itu adalah seorang yang sangat perhatian, lembut perkataannya, cantik parasnya

dan juga merupakan seorang bos di perusahaan dimana Keiko kerja sekarang ini.

Bisa saja Keiko membalas perasaan atasannya itu, akan tetapi dia telah memiliki kekasih bernama Inoha Hotaru yang sangat ia cintai. Maka dia dengan tegas menolak perasaan cinta dari atasannya.

Pada cuplikan di atas, kalimat yang menunjukkan moral on yaitu “Andai saja ia belum mempunyai seorang kekasih yang dicintainya dengan segenap perasaan cintanya bisa jadi ia akan tergoda dengan kecantikan atasannya di kantor tersebut. Akan tetapi, ia sudah mempunyai kekasih” kalimat tersebut merupakan perasaan bahwa Keiko telah menerima suatu budi baik (on) dari kekasihnya. Budi baik yang berupa suatu hubungan yang terjalin atas dasar rasa cinta. Yang tentunya perasaan cinta yang diberikan kekasihnya haruslah dibalas dengan kebaikan.

Pada cuplikan di atas Keiko melakukan tindakan balas budi berupa kesetiaan yang ditunjukkan pada kalimat berikut “Walaupun sekarang ini hubungan mereka tengah terhalang karang terjal, namun secuil pun ia tak ingin untuk mengalihkan perhatian dan cintanya itu dari Hotaru. Karena ia begitu mencintai kekasihnya itu. Ia juga sudah memutuskan pada dirinya bahwa ia tetap akan setia dengan satu cinta, yaitu Hotaru” kalimat tersebut merupakan indeksikal bahwa Keiko memutuskan untuk tetap setia kepada kekasihnya yang merupakan suatu perasaan harus melakukan balasan kebaikan yang telah diterimanya dari sang kekasih karena telah menjalin hubungan yang atas dasar rasa cinta. Membalas kebaikan tersebut merupakan budaya moral ongaeshi yang dilakukan masyarakat Jepang pada kehidupn sehari-hari, yang telah ditanamkan pada setiap diri masyarakat Jepang sampai saat ini.

5. Cuplikan 5 (hal 201)

“Hampir saja tuan Inoha Kinji tak sanggup lagi menahan amarah dalam dirinya. Hampir saja juga ia menggebrak meja di depannya kalau ia tidak mengingat pemuda di depannya itu adalah anak sahabatnya sendiri, Shihomi Haruki san.”

Analisis

Cuplikan di atas yang memperlihatkan moral on yaitu “pemuda di depannya itu adalah anak Sahabatnya sendiri, Shihomi Haruki san”, kalimat tersebut merupakan indeksikal bahwa tuan Inoha mengingat persahabatannya dengan Shihomi Haruki. Dalam hal tersebut moral on-nya adalah ikatan persahabatan. Oleh karena persahabatan itulah Inoha Hotaru merasa harus membalas budi baik tuan Haruki.

Pengembalian budi baik (ongaeshi) yang dilakukan tuan Inoha Kinji yaitu berbuat baik kepada keluarga tuan Shihomi Kohei. Dalam cuplikan di atas tindakan pengembalian budi baik dapat dilihat dari kalimat berikut “Hampir saja tuan Inoha Kinji tidak sanggup lagi menahan amarah dalam dirinya. Hampir saja juga ia menggebrak meja di depannya”, kalimat tersebut merupakan indeksikal bahwa tuan Inoha Kinji terlihat akan marah kepada Shihomi Kohei, kemarahannya berawal dari persoalan pinjaman dari Sumasu Bank yang proses pencairannya sangat lama. Sumasu Bank merupakan perusahaan milik sahabatnya yang tidak lain adalah tuan Shihomi Haruki, yang pada saat ini diambil alih oleh anak nya, Shihomi Kohei. Maka dari itu tuan Inoha Kinji menemui Kohei agar pinjaman nya segera dicairkan. Akan tetapi saat ditemui, Kohei banyak membuang-buang waktu dan banyak berbasa-basi, sehingga membuat tuan Inoha

Kinji kesal dan hampir marah, tetapi tidak jadi karena mengingat Kohei adalah anak dari sahabatnya, tuan Inoha tidak bisa memperlakukan anak sahabatnya dengan tidak baik.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan

1. Novel Kiite Ite Kudasai karya Mirakami Haru merupakan novel yang bercerita mengenai moral budaya membalas budi baik (ongaeshi) dalam kehidupan sehari-hari antara onjin (pemberi budi baik yang disebut on) dengan penerima budi baik.

2. Nilai moral ongaeshi dalam Novel Kiite Ite Kudasai karya Murakami Haru yang pertama yaitu pengembalian budi baik (ongaeshi) oleh Inoha Kinji kepada rekan kerja yang bernama Yajiwa Akira karena telah membantu perusahaan milik Inoha Kinji pada saat sedang mengalami kesulitan.

Pengembalian budi baik (ongaeshi) berupa perjodohan antara anak Inoha Kinji yaitu Inoha Hotaru dengan anak Yajiwa Akira yaitu Yajiwa Hiroko.

Kedua yaitu ongaeshi berupa sikap Inoha Kinji yang tetap berlaku baik kepada Shihomi Kohei yaitu anak dari Shihomi Haruki yang merupakan sahabatnya. Walaupun Shihomi Kohei bersikap tidak sopan ketika berhadapan dengan Inoha Kinji . Tetapi tuan Inoha Kinji tetap harus bersikap baik untuk membalas budi (ongaeshi) kepada tuan Shihomi Haruki. Pengembalian budi baik yang dilakukan Inoha Kinji disebabkan karena dia telah menerima budi baik (on) dari Shihomi Kohei berupa hubungn persahabatan yang sudah seperti keluarga sendiri. Pengembalian budi baik (ongaeshi) tidak hanya diberikan kepada si pemberi on saja,

tetapi bisa juga kepada keluarga si pemberi on. Ketiga yaitu ongaeshi diwujudkan dengan cara menjaga kesetiaan yang dilakukan Konno Keiko kepada kekasihnya yang bernama Inoha Hotaru. Budi baik (on) yang diberikan Inoha Hotaru berupa bersedia menjadi kekasih Konno Keiko.

Oleh karena itulah Konno Keiko berkewajiban mengembalikan budi baik (ongaeshi) berupa kesetiaan. Walaupun banyak cobaan yang dihadapinya berupa godaan yang diberikan Miyama Murasaki dengan pengakuaan perasaan cinta kepada Konno Keiko. Miyama Murasaki merupakan seorang bos di tempat Keiko bekerja Bisa saja Konno Keiko menerima perasaan cinta dari bosnya itu. Tetapi Keiko tetap berpegang teguh akan tetap setia. Keempat yaitu ongaeshi diwujudkan Inoha Hotaru dengan cara mematuhi perintah orang tua yang telah merawat dan juga telah memberi nafkah hingga Hotaru dewasa. Walaupun perintahnya adalah hal yang sangat tidak diinginkan. Tindakan yang dilakukan Hotaru kepada ayahnya termasuk kedalam jenis pengembalian budi baik yaitu Ko (孝) yang merupakan kewajiban balas budi terhadap orang tua.

4.2. Saran

Sebaiknya mengembaliakan budi baik tidak boleh untuk keuntungan pribadi, dan juga ketika menerima on haruslah ikhlas dalam mengembalikan budi baik (Ongaeshi).

Tindakan yang tidak sopan walaupun dilakukan oleh anak sahabat sendiri tetap harus ditegur atau diberitahu bahwa tindakan itu salah jika tidak maka orang

yang memberikan on akan merasa mempunyai kekuatan untuk berlaku tidak sopan ataupun perlakuan tidak menyenangkan.

Selanjutnya, mendengarkan perintah orang tua merupakan suatu keharusan.

Tetapi sebagai pemberi on, orang tua haruslah lebih mementingkan perasaan anak dari pada kepentingan pribadi ataupun kepentingan perusahaan karena sangat jelas bahwa anak adalah pemberian tuhan yang lebih penting dari pada apapun. Selain itu, anak akan merasa ikhlas mengembalikan budi baik ongaeshi kepada orang tua tanpa ada perasaan terpaksa.

DAFTAR PUSTAKA

Aziez, Furqonul dan Abdul Hasim. 2010. MENGANALISIS FIKSI sebuah pengantar. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.

Budiningsih, asri. 2004.pembelajaran moral berpijak pada karakteristik siswa dan budayanya. Jakarta: PT Rineka Cipta .

Fitriani, Eli. 2013. Analisis Latar Dalam Roman Larasati Karya Pramoedya Ananta Toer.(Hal. 3). Pontianak: Universitas Jember.

Hamdi, asep saepul. 2014. Metode penelitian kuantitatif aplikasi dalam pendidikan. Yogyakarta: CV. Budi utama.

Jabrohim. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.

Kartono, Kartini. 1986. Pangantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Alumni.

Moh. Nazir. 2005. Metode penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia

Nurgiantoro, B. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Nugiyantoro, B. 2010. Materi pokok bahasa dan sastra Indonesia. Jakarta: Rineka cipta.

Nurgiyantoro, B. 2012. Teori Pengkajian fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University press.

Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak.

Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Oktavianni, selvi. 2018. Skripsi: Analisis Nilai Moral Novel Beauty And Sadness Karya Yusunari Kawabata. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Pattinasarany, sally. 1996. Dasar-dasar semiotik. Jakarta.

Salam, burhanuddin. 2000. Etika individual pola dasar filsafat moral. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Salam, burhanuddin. 1997. Etika social asas moral dalam kehidupan manusia.

Jakatra: PT Rineka Cipta.

Saparina, Siti. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung : Angkasa.

Situmorang, Hamzon dan Rospita Uli. 2013 .Minzoku Gaku (Etnologi) Jepang.

Medan: USU Press.

Sukada, Made. 1985. Pembinaan Kritik Sastra Indonesia (Masalah Sistematika Analisis Struktur Fiksi). Bandung: Angkasa.

Suseno, Magniz, Frans. 1987. Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius.

Syaadah, Azizatus. 2017. Skripsi: Nilai Moral Dalam Cerpen Kinyo No Otsukai Karya Yosano Akiko. Semarang: Universitas Diponegoro.

Taum, yoseph yapi. 1997. Pengantar teori sastra. Bogor: penerbit nusa indah.

Unsriana, Linda. 2007. Nilai Didaktis dalam Dongeng Anak Jepang: Analisis Dongeng Tsuru No Ongaeshi. Jurnal Lingua Cultura: Vol.1 No.1: 34-46, Mei 2007. Diambil dari: file:///C:/Users/ASUS/Downloads/

Telegram%20Desktop/Nilai_Didaktis_dalam_Dongeng_Anak_Jepang_A nalisis_%20(2).pdf. (24 September 2019)

Unsriana, Linda. 2013. Nilai Kearifan Lokal Dalam Cerita Rakyat Jepang (Minwa). Jurnal Humaniora: Vol. 4 No.1: 310-317, April 2013. Diambil dari:

file:///C:/Users/ASUS/Downloads/Telegram%20Desktop/_31_19_JPN_L inda_Nilai_Kearifan%20(3).pdf . (24 September 2019)

Zainuddin. 1992. Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia. Rineka Cipta:

Jakarta.

Zed, mestika. 2008. Metode penelitian kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

www.Jpninfo.com. Diakses pada tanggal 24 September 2019.

http://informasipengetahuan.blogspot.com/2015/12/cara-menentukan-tema-karangan-beserta.html?m=1. Diakses pada tanggal 24 September 2019.

https://id.wikipedia.org/wiki/Haruki_Murakami. Diakses pada tanggal 24 September 2019.

https://www.zonareferensi.com/pengertian-resensi/. Diakses pada tanggal 14 November 2019.

https://id.wikipedia.org/wiki/Tema. Diakses pada tanggal 14 November 2019.

ABSTRAK

ANALISIS NILAI MORAL ONGAESHI DALAM NOVEL “KIITE ITE KUDASAI” KARYA MURAKAMI HARU

Novel “Kiite Ite Kudasai” Merupakan novel karya Murakami Haru yang dirilis pada Desember 2012 di Indonesia. Di dalam novel tersebut pengarang memasukkan unsur perjodohan (miai kekkon) yang merupakan refleksi dari adanya nilai moral ongaeshi yang dilakukan masyarakat Jepang dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun masyarakat Jepang pada saat ini telah mengubah pandangan tentang perjodohan yang lebih memilih untuk menikah atas dasar saling mencintai, di Jepang pernikahan atas dasar perjodohan yang merupakan kebiasaan masyarakat zaman dahulu masih ada hingga sekarang, meskipun hanya sekitar 5%

sampai 6% orang Jepang masih condong untuk memilik pasangan yang sudah ditentukan. Oleh karena itu, novel ini sangat menarik untuk di bahas karena didalamnya pengarang menyampaikan kisah perjodohan yang berhubungan erat dengan nilai moral ongaeshi.

Dalam novel ini pengarang menyampaikan kisah perjodohan yang merupakan salah satu wujud konkret dari adanya interaksi budi baik (on) dari pemberi dan pengembalian budi baik (ongaeshi) dari penerima on. Perjodohan tersebut berawal dari hutang budi tuan Inoha Kinji kepada rekan kerjanya yang bernama Yajiwa Akira yang telah memberikan budi baik (on) berupa bantuan untuk perusahaan yang hampir bangkrut. Pada saat itu tuan Yajiwa Akira memberikan orderan yang menjadikan perusahaan tuan Inoha Kinji kembali maju.

Maka dari itu, tuan Inoha Kinji harus membalas budi baik yang diberikan tuan

Yajiwa Akira dengan cara menjodohkan anaknya yaitu Inoha Hotaru dengan anak tuan Yajiwa Akira yaitu Yajiwa Hiroko.

Selanjutnya moral ongaeshi dilakukan pula oleh Inoha Hotaru kepada sang ayah berupa sikap mentaati perintah ayahnya yang akan menjodohkannya dengan anak tuan Yajiwa Akira. Walaupun Hotaru sangatlah tidak menginginkan perjodohan itu. Tetapi, ia harus tetap mematuhi ayahnya. Sikap Horatu tersebut merupakan suatu pengembalian budi baik (ongaeshi). Budi baik (on) yang dilakukan ayah Hotaru yaitu telah merawat Hotaru sampai dewasa ini dan memberi nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Tindakan yang dilakukan Hotaru kepada ayahnya termasuk kedalam jenis pengembalian budi baik (ongaeshi) yaitu Ko (孝) yang merupakan kewajiban balas budi terhadap orang tua. Selanjutnya, pengembalian budi baik (ongaeshi) dalam bentuk kesetiaan yang dilakukan oleh Konno Keiko kepada kekasihnya yaitu Inoha Hotaru.

Untuk mengkaji pesan moral yang terdapat dalam novel Kiite Ite Kudasai karya Murakami Haru dalam skripsi ini penulis menggunakan pendekatan moral.

Pendekatan moral berasal dari anggapan bahwa salah satu tujuan kehadiran sastra di tengah masyarakat adalah untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk berbudaya, berfikir, dan berketuhanan. Dengan demikian sastra apapun genre nya dianggap bernilai baik karena di dalamnya diungkapkan tentang moral yang dipedomani dalam kehidupan manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Berdasarkan pendekatan moral di atas, novel yang berjudul “Kiite Ite Kudasai” ini bertujuan meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berfikir dan berketuhanan. Salah satu diantaranya yaitu

nilai moral ongaeshi yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang yang merupakan upaya untuk menjadikan manusia berbudaya. Sehingga masyarakat Jepang menerapkan dengan adanya budaya moral ongaeshi kehidupan menjadi harmonis dan teratur.

Konsep moral ongaeshi (balas budi) adalah salah satu nilai kearifan lokal yang ada pada masyarakat Jepang. Nilai membalas budi dalam istilah Jepang disebut Ongaeshi. Bagi orang Jepang, jika tidak membalas budi akan menjadi beban, karena seperti hutang yang belum dibayar. Dalam hubungan sosial, memberikan bantuan dan membalas bantuan yang telah diterima merupakan sebuah etika hubungan ningen kankei (hubungan antar manusia). Orang-orang yang tidak tahu membalas kebaikan adalah orang yang tidak mengerti etika pergaulan. Membalas kebaikan yang telah diberikan kepada kita merupakan suatu etika moral yang dianut oleh orang Jepang. Seseorang yang telah menerima kebaikan hati atau pemberian, merasa wajib mengembalikan.

Kesimpulannya adalah nilai moral ongaeshi dalam Novel Kiite Ite Kudasai karya Murakami Haru yang pertama yaitu pengembalian budi baik (ongaeshi) oleh Inoha Kinji kepada rekan kerja yang bernama Yajiwa Akira karena telah membantu perusahaan milik Inoha Kinji pada saat sedang mengalami kesulitan.

Pengembalian budi baik (ongaeshi) berupa perjodohan antara anak Inoha Kinji yaitu Inoha Hotaru dengan anak Yajiwa Akira yaitu Yajiwa Hiroko. Kedua yaitu ongaeshi berupa sikap Inoha Kinji yang tetap berlaku baik kepada Shihomi Kohei yaitu anak dari Shihomi Haruki yang merupakan sahabatnya. Walaupun Shihomi

Kohei bersikap tidak sopan ketika berhadapan dengan Inoha Kinji . Tetapi tuan Inoha Kinji tetap harus bersikap baik untuk membalas budi (ongaeshi) kepada

Kohei bersikap tidak sopan ketika berhadapan dengan Inoha Kinji . Tetapi tuan Inoha Kinji tetap harus bersikap baik untuk membalas budi (ongaeshi) kepada

Dalam dokumen ANALISIS NILAI MORAL ONGAESHI (Halaman 44-73)

Dokumen terkait