• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS NILAI MORAL ONGAESHI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS NILAI MORAL ONGAESHI"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS NILAI MORAL ONGAESHI DALAM NOVEL “KIITE ITE KUDASAI” KARYA MURAKAMI HARU

MURAKAMI HARU NO SHOUSETSU 「KIITE ITE KUDASAI」 NI OKERU ONGAESHI NO DOUTOKUTEKI KACHI NO BUNSEKI

SKRIPSI

Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian

sarjana dalam bidang ilmu Sastra Jepang

Oleh:

ZULFA ALYA HANUM NIM : 150708049

PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(2)

ANALISIS NILAI MORAL ONGAESHI DALAM NOVEL “KIITE ITE KUDASAI” KARYA MURAKAMI HARU

MURAKAMI HARU NO SHOUSETSU 「KIITE ITE KUDASAI」 NI OKERU ONGAESHI NO DOUTOKUTEKI KACHI NO BUNSEKI

SKRIPSI

Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian

sarjana dalam bidang ilmu Sastra Jepang

Oleh:

ZULFA ALYA HANUM NIM : 150708049

Pembimbing

Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum NIP: 19600919 198803 1 001

PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(3)

Disetujui Oleh : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan

Medan, 18 Desember 2019 Program Studi Sastra Jepang Ketua,

Prof. Hamzon Situmorang, M.S., Ph.D NIP: 19580704 198412 1 001

(4)

PENGESAHAN

Diterima Oleh:

Panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat Ujian Sarjana dalam bidang Ilmu Sastra Jepang pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara

Pada : Pukul 13:00 WIB Tanggal : 18 Desember 2019 Hari : Rabu

Program Study Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara Dekan,

Dr. Budi Agustono,M.S NIP. 19600805 198703 1 001

Panitia Tugas Akhir:

No. Nama Tanda Tangan

1. Prof. Hamzon Situmorang, M.S.,Ph.D ( )

2. Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum ( )

3. Drs. Amin Sihombing, M.Si ( )

(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil‟alamiin. Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta‟ala atas limpahan nikmat dan rahmat-Nya yang diberikan selama mengikuti perkuliahan hingga penulis dapat menyelesaikan pengerjakan skripsi ini. Shalawat beriring salam semoga tercurahkan kepada nabi Muhammad Salallahu „alaihi wasallam, semoga kita termasuk orang mendapat syafa‟at di Yaumil Akhir. Amin amiin ya rabbal alamin.

Skripsi yang berjudul “Analisis Nilai Moral Ongaeshi Dalam Novel Kiite Ite Kudasai Karya Murakami Haru” telah diselesaikan dengan baik. Skripsi ini penulis susun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pada Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan, bimbingan, dorongan, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Hamzon Situmorang, M.S, Ph.D selaku ketua Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum selaku dosen Pembimbing. Terima Kasih atas jasa yang telah diberikan, dan telah banyak meluangkan waktu, fikiran serta memberikan ilmu dalam membimbing penulis sehingga

(6)

Ta‟ala membalas kebaikan beliau dengan limpahan rahmat, sehat lahir dan batin, kelapangan rezeki serta kenikatan Syurga. Amiin ya rabbal alamin.

4. Bapak Drs. Nandi S, M.Si selaku dosen pembimbing akademik.

5. Seluruh dosen dan staf pegawai Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitar Sumatera Utara, yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan kepada saya. Sehingga dapat menyelesaikan studi.

6. Kedua orang tua saya yang selalu menyayangi dengan setulus hati dan selalu mencukupi kebutuhan saya dari kecil hingga saat ini: Bapak Zulfikar Yacub dan Ibu Hj. Rumiyati, S.Pd serta abang saya, Khairil Anwar, kakak ipar Elvi Zahara Sebayang dan adik saya, M Ali Deay yang sangat saya sayangi.

7. Kawan terdekat saya Minda, Atika, Nanda, Alisha dan seluruh kawan AOTAKE 015.

8. Teman suka duka, Yustisia Pandapotan Lukmansyah siregar yang selalu menemani saya, selalu menasehati saya, dan selalu mendukung saya selama ini. Terima kasih juga untuk seluruh keluarga nya yang tak pernah bosan membantu saya dalam masa perkuliahan.

9. Sahabat sedari TK hingga sekarang fina. Sahabat SMP saya, Ayu, Dina, Azura, Nela, Lona, Ririn, Ria. Sahabat SMA saya, Indira, Dian, Intan, Eliza, Miranda, Nadia, , Meking, Nawaf, Sing.

10. Teman KKN PPM USU Kabupaten Samosir kelompok 3, Harlen selaku ketua kelompok, Mely, Windi, Abel, Elia, Ana, Rini, Vivi, Astari, Evi, Ade, Yosua, Titin, Hosana, terima kasih selalu menghadirkan canda tawa

(7)

selama berada di kampung orang yang sudah seperti keluarga sendiri dan selalu mendukung saya dalam masa pengerjaan skripsi.

11. Dan seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan do‟a dan bantuan menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun.

Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Medan, Desember 2019

Penulis,

Zulfa Alya Hanum

(8)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………I DAFTAR ISI………..……….IV

BAB I PENDAHULUAN………...1

1.1 Latar Belakang Masalah……….1

1.2 Rumusan Masalah………..3

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan………..4

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian………..…5

1.5 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori………..5

1.6 Metode Penelitian……….11

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG NOVEL KIITE ITE KUDASAI DAN KONSEP MORAL……...………..13

2.1 Defenisi Novel……….13

2.2 Resensi Novel “Kiite Ite Kudasai”...14

2.2.1 Tema………..15

2.2.2 Alur………...16

2.2.3 Setting………...16

2.2.4 Tokoh/Penokohan……….22

2.2.5 Amanat………..23

2.3 Defenisi Moral……….24

2.3.1 Prinsip-Prinsip Dasar Moral………..24

2.3.2 Sikap-Sikap Kepribadian Moral………26

2.4 Konsep Moral Ongaeshi ……….30

2.5 Biografi Pengarang………...30

(9)

BAB III ANALISIS NILAI MORAL ONGAESHI DALAM NOVEL KIITE

ITE KUDASAI KARYA MURAKAMI HARU………34

3.1 Sinopsis ……..……….34

3.2 Analisis Nilai Moral Ongaeshi Yang Terdapat Dalam Novel Kiite Ite Kudasai karya Murakami Haru……….36

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN………..44

4.1 Kesimpulan ……….44

4.2 Saran……….45 DAFTAR PUSTAKA

ABSTRAK

(10)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Secara umum, pengertian sastra adalah suatu karya yang indah. Menurut Taum(1997:3), sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif atau sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna untuk menandakan hal- hal lain. Karena keindahan nya, karya sastra sangat mudah untuk diterima di tengah masyarakat, oleh sebab itu menjadikan karya sastra berkembang sangat pesat di kalangan masyarakat terkhususnya kaum muda.

Diantara karya sastra yang banyak diminati tersebut dikenal dalam dua bentuk yaitu fiksi dan non fiksi. Karya sastra fiksi merupakan cerita rekaan atau cerita khayalan. Hal ini disebabkan fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyarankan pada kebenaran sejarah (Nurgiantoro, 2010: 2), ada beberapa jenis karya sastra fiksi, diantaranya novel, cerpen, sinetron, drama, telenovela, film komedi dan lain-lain. Sedangkan karya sastra nonfiksi adalah karya sastra yang ditulis berdasarkan kajian keilmuan atau pengalaman. Pada umumnya buku nonfiksi merupakan penyempurna buku yang telah ada. Berdasarkan isinya, buku nonfiksi dapat dibedakan menjadi lima, yaitu buku biografi, otobiografi, buku pendamping, buku literatur, dan buku motivasi. Pada penelitian ini penulis memilih salah satu karya sastra fiksi yang banyak mendapat perhatian kaum muda yaitu novel.

Novel merupakan karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya dengan

(11)

menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Novel juga merupakan suatu bentuk karya sastra yang berbentuk prosa yang memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik.

Kata novel berasal dari bahasa Italia yaitu “novella” yang berarti sebuah kisah atau cerita. Menurut Zainuddin (1992: 106), novel ialah bentuk karangan prosa yang pengungkapannya tidak panjang lebar seperti roman, biasanya melukiskan atau mengungkapkan suatu peristiwa atau suatu kejadian yang luar biasa pada diri seseorang.

Dalam novel biasanya mengandung sebuah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Pesan tersebut bisa berupa pesan moral yang berkaitan dengan budaya suatu tempat. Budaya tersebut pada dasarnya bersifat universal atau umum yang memiliki arti budaya itu di yakini kebenarannya oleh sebagian besar masyarakat dunia. Sebagai contoh novel yang memiliki pesan moral di dalam nya adalah novel berjudul “Kiite Ite Kudasai” karya Murasaki Haru.

Novel “Kiite Ite Kudasai” karya Murakami Haru dirilis pada desember 2012 di Indonesia. Meskipun dirilis pada zaman yang modern, di dalam-nya masih memasukkan unsur perjodohan (miai kekkon) yang merupakan refleksi dari adanya nilai moral ongaeshi yang dilakukan masyarakat Jepang dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun masyarakat Jepang modern telah mengubah pandangannya akan perjodohan yang lebih memilih untuk menikah atas dasar saling mencintai, di Jepang pernikahan atas dasar perjodohan yang merupakan kebiasaan masyarakat zaman dahulu masih ada sampai sekarang meskipun hanya sekitar 5%

sampai 6% orang Jepang masih condong untuk memiliki pasangan yang sudah ditentukan.

(12)

Miai kekkon merupakan salah satu wujud konkret dari adanya interaksi budi baik (on) dari pemberi dan pengembalian budi baik (ongaeshi) dari penerima on yang diungkapkan oleh pengarang dalam novel ini berupa tindakan ayah hotaru (Inoha Kinji) atas budi baik (on) yang ia terima dari sahabatnya dalam bentuk bantuan untuk perusahaannya pada masa-masa terpuruk. Dalam tradisi masyarakat Jepang, wajib mengembalikan budi baik (ongaeshi) yang telah diterima, termasuk dalam novel ini yaitu tuan Inoha Kinji menjodohkan anaknya untuk membalas budi kepada tuan Yajiwa Akira sahabat sekaligus rekan kerjanya yang dalam budaya masyarakat Jepang melakukan perjodohan disebut Miai kekkon.

Perilaku nilai moral ongaeshi oleh para tokoh cerita dalam novel ini dilakukan oleh ayah hotaru kepada sahabatnya, ayah hotaru kepada keluarga sahabatnya, serta tokoh lain yang ada di dalam novel tersebut. Dengan demikian novel ini sangat menarik untuk dibahas dari segi moralitas nya. Akhirnya penulis memilih judul skripsi yaitu “Analisis Nilai Moral Ongaeshi Dalam Novel Kiite Ite Kudasai Karya Murakami Haru”.

1.2. Rumusan masalah

Novel Kiite Ite Kudasai merupakan novel karya Murakami Haru yang dirilis pada tahun 2012. Setelah penulis baca, di dalam nya mengungkapkan nilai moral yang ditunjukkan oleh para tokoh cerita dalam bentuk ongaeshi yang selalu diaplikasikan masyarakat Jepang dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam novel ini si pengarang ingin mengungkapkan nilai moral ongaeshi. Ongaeshi adalah nilai moral masyarakat Jepang berupa tanda terima

(13)

kasih kepada orang yang telah memberikan suatu kebaikan atau disebut dengan balas budi. Pada era modern, masyarakat Jepang tidak bisa meninggalkan atau menghilangkan kebiasaan mengembalikan budi baik (ongaeshi) dalam kehidupan sehari-hari, jika tidak maka orang yang bersangkutan akan merasa malu, bahkan dapat dikatakan orang yang bersangkutan bukan orang Jepang lagi.

Berdasarkan uraian tersebut diatas penulis membuat permasalahan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Nilai moral bagaimana yang terdapat dalam novel “Kiite Ite Kudasai” karya Murakami Haru?

2. Bagaimana nilai moral ongaeshi yang dilakukan oleh para tokoh cerita dalam novel “Kiite Ite Kudasai” karya Murakami Haru?

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan

Dalam pembahasan skripsi ini, penulis membatasi ruang lingkup pembahasannya hanya mengenai pesan moral yang diuraikan pengarang melalui cerita dalam novel Kiite Ite Kudasai. Penelitian ini lebih terfokus pada pembahasan tentang pesan moral ongaeshi yang disampaikan pengarang melalui tokoh cerita dalam novel “Kiite Ite Kudasai”. Selanjutnya supaya dalam pembahasannya memiliki data yang akurat dan jelas maka penulis dalam bab II menjelaskan juga mengenai defenisi novel, resensi novel Kiite Ite Kudasai, defenisi dan konsep moral, serta biografi pengarang.

(14)

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1. Tujuan

Dari rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk mendeskripsikan nilai moral yang terdapat dalam novel Kiite Ite Kudasai karya Murakami Haru.

b. Untuk mendeskripsikan nilai moral ongaeshi yang dilakukan oleh para tokoh cerita dalam novel Kiite Ite Kudasai karya Murakami Haru.

1.4.2. Manfaat

a. Dapat menjadi acuan atau referensi yang baik untuk penelitian berikutnya.

b. Dapat bermanfaat untuk tambahan teori dan acuan yang baik dalam penelitian berikutnya.

c. Bagi peneliti dan bagi masyarakat diharapkan dapat menambah wawasan dalam memahami aspek moral yang terdapat di dalam novel.

d. Bagi prodi sastra jepang diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam bidang ilmu sastra terutama dalam kajian moralitas.

1.5. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1.5.1. Tinjauan Pustaka

Dalam tinjauan pustaka antara lain berisi beberapa penelitian mengenai novel yang sejenis dan penelitian yang menggunakan teori maupun pendekatan

(15)

moralitas, tetapi dengan judul dan objek yang berbeda. Tinjauan pustaka bertujuan agar penelitian terhindar dari plagiat.

Pada penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan pendekatan yang sama yaitu dalam skripsi Selvi Oktaviani, mahasiswi Universitas Sumatera Utara dengan judul skripsi “Analisis Nilai Moral Dalam Novel Beauty And Sadness Karya Yasunari Kawabata”. Oktaviani dalam skripsinya menganalisis kaitan masalah nilai moral yang terjadi dalam novel tersebut. Penelitian tersebut berisi tentang nilai moral tokoh utama dalam novel “Beauty and Sedness” yang merupakan sebuah karya dari pengarang yang bernama Yasunari Kawabata.

Selain daripada itu dalam skripsi nya, Oktaviani juga membahas dampak nilai moral tokoh utama dalam novel tersebut. Pembahasan nilai moral yang terdapat dalam skripsi Oktaviani mencakup nilai kejujuran, nilai keuletan, perasaan bersalah, dan kesetiaan. Serta dampak lesbian dan dampak balas dendam.

Persamaan penelitian ini dan hasil penelitian oleh skripsi Selvi Oktaviani yaitu terletak pada pendekatan penelitan antara lain dengan pendekatan moralitas.

Kemudian perbedaan terdapat pada pemilihan nilai moral yaitu nilai kejujuran, nilai keuletan, perasaan bersalah, dan kesetiaan sedangkan dalam skripsi ini penulis memilih membahas nilai moral ongaeshi.

Kemudian penelitian lain yang berhubungan dengan pendekatan yang sama yaitu dalam skripsi Azizatus Syaadah yang merupakan mahasiswa Universitas Diponegoro dengan judul skripsi “Nilai Moral Dalam Cerpen Kinyo No Otsukai Karya Yosano Akiko”. Syaadah dalam skripsinya menganalisis unsur pembangun dan nilai moral yang dituangkan penulis dalam cerpen “Kinyo No Otsukai”. Unsur pembangun yang dibahas dalam skripsi Syaadah yaitu tema,

(16)

tokoh dan penokohan, alur/plot, latar setting dan sudut pandang kemudian nilai moral dalam skripsi tersebut mencakup nilai ongaeshi, nilai omoiyari dan nilai ganbaru.

Persamaan penelitian ini dan hasil penelitian skripsi oleh Azizatus Syaadah yaitu terletak pada pemilihan pendekatan yaitu sama-sama menggunakan pendekatan moralitas. Skripsi Syaadah memilih nilai ongaeshi, omoiyari dan ganbaru, sedangkan pada skripsi ini penulis memilih membahas nilai moral ongaeshi saja yang tidak menutup kemungkinan adanya pembahasan mengenai interaksi antar persoalan moral on dan ongaeshi.

1.5.2. Kerangka Teori

Penelitian yang baik memerlukan adanya landasan teori yang bertujuan untuk menganalisis permasalahan yang akan diteliti. Dalam pembahasan pada skripsi ini penulis menggunakan teori atau pendekatan moral dan semiotik serta konsep moral ongaeshi. Pembahasan pada skripsi ini ada kaitannya dengan moral, maka penulis akan mulai menjelaskan mengenai konsep moral dan moralitas. Kata moral berasal dari bahsa Latin mores. Mores berasa dari kata mos yang berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral dengan demikian dapat diartikan ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan. (Salam 2000:2)

Moralitas memberi dasar pengertian kepada seseorang agar memiliki sikap yang tidak akan merugikan orang sekitar, serta berbuat baik tanpa mengharap balasan. Dalam (Budiningsih. 2004:24-25) Magnis-Museno mengartikan moralitas sebagai sikap hati orang yang terungkap dalam tindakan lahiriah.

Moralitas terjadi apabila orang mengambil sikap yang baik karena ia sadar akan

(17)

kewajiban dan tanggung jawabnya dan bukan karena ia mencari keuntungan. Jadi moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih. (Suseno, 1987) .

Menurut Salam (1997:3) Moralitas merupakan sistem nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia. Sistem nilai tersebut terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, wejangan, peraturan, perintah yang diwariskan secara turun temurun melalui agama ataupun kebudayaan tertentu bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar- benar menjadi manusia yang baik. Moralitas juga merupakan tradisi kepercayaan dalam agama atau kebudayaan, tentang seperti apa perilaku yang baik dan buruk.

Moralitas memberi manusia aturan atau petunjuk secara konkret tentang bagaimana harus hidup, bagaimana harus bertindak dalam hidup ini sebagai manusia yang baik, dan bagaimana menghindari perilaku-perilaku yang tidak baik.

Penjelasan moralitas di atas berkaitan dengan nilai ongaeshi yang merupakan budaya turun temurun yang dilakukkan masyarakat Jepang dari zaman dahulu hingga sekarang yang dipercaya sebagai tuntunan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ongaeshi mengajarkan kepada masyarakat bagaimana menjadi manusia yang baik dalam konteks mengembalikkan budi baik yang telah diterima dari seorang pemberi budi baik. Oleh sebab itu ongaeshi dapat dikatakan sebagai moralitas karena memiliki pengertian yang sama-sama sebagai petunjuk bagaimana cara hidup menjadi manusia yang lebih baik.

Menurut Semi (1993 :71) Pendekatan moral bertolak dari asumsi dasar bahwa salah satu tujuan kehadiran sastra di tengah-tengah masyarakat pembaca adalah berupaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai

(18)

makhluk berbudaya, berfikir, dan berketuhanan. Dengan demikian sastra apapun genre nya dianggap bernilai baik karena di dalamnya diungkapkan tentang moral yang dipedomani dalam kehidupan manusia sebagai makhluk yang berbudaya.

Berdasarkan pendekatan moral di atas, novel yang berjudul “Kiite Ite Kudasai”

ini bertujuan meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berfikir dan berketuhanan. Salah satu diantaranya yaitu nilai moral ongaeshi yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang yang merupakan upaya untuk menjadikan manusia berbudaya. Sehingga masyarakat Jepang menerapkan dengan adanya budaya moral ongaeshi kehidupan menjadi harmonis dan teratur.

Selain menggunakan pendekatam moral, penulis dalam penelitian ini juga menggunakan teori semiotik. Menurut Pattisarany (1996:7) Semiotik adalah suatu cara penyampaian melalui objek-objek lain yang dianggap sebagai tanda. Teori semiotik ini bertujuan untuk membantu penulis dalam memahami atau menterjemahkan tanda-tanda yang menampakkan moral ongaeshi dalam novel

“Kiite Ite Kudasai”.

Menurut Unsriana (2013: 316) Nilai membalas budi adalah salah satu dari nilai kearifan lokal yang terdapat di tengah-tengah masyarakat Jepang. Nilai balas budi dalam bahasa Jepang yaitu ongaeshi . Bagi masyarakat Jepang, jika telah mendapatkan bantuan dari orang lain, maka akan berupaya untuk membalasnya.

Jika tidak, akan menjadi sebuah beban, disebabkan sama seperti hutang yang belum dibayar. Di dalam percakapan bahasa Jepang dikenal sebagai okagesamade, yang mempunyai arti berkat anda yang dimana istilah ini menggambarkan suatu bentuk terima kasih karena telah menerima pertolongan. Pada hubungan sosial,

(19)

memberikan bantuan dan membalas bantuan yang sudah diterima adalah sebuah etika hubungan ningen kankei (hubungan antar manusia). Maka dari itu dapat dikatankan orang yang tidak tahu membalas budi adalah orang yang tidak mengerti etika pergaulan.

Membalas kebaikan yang diberikan orang lain merupakan suatu etika moral yang diyakini oleh orang Jepang. Seseorang yang sudah menerima kebaikan hati ataupun dalam bentuk barang, akan merasa berkewajiban untuk mengembalikannya.

1.6. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif karena dalam pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti dan data yang diperoleh. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.

Menurut Hamdi (2014:5) metode deskriptis adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau.

Sedangkan tujuan penelitian deskriptif menurut Moh Nazir (2005) adalah untuk membuat deskriptis, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual atau akurat mengenai faktor-faktor, sifat-sifat atau hubungan antar fenomena yang diselidiki.

(20)

Pada teknik pengumpulan data, penulis menggunakan metode kepustakaan karena dalam proses pengerjaan nya, banyak mengumpulkan data, membaca serta mengolah bahan. Menurut Zed Mestika (2008:3) studi kepustakaan ialah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.

Menurut Kartini Kartono (1986: 28) dalam buku Pengantar Metodologi Research Sosial mengemukakan bahwa tujuan dari penelitian perpustakaan adalah untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam- macam material yang ada di perpustakaan, yang hasilnya dijadikan fungsi dasar dan alat utama bagi praktek penelitian di lapangan.

(21)

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG NOVEL KIITE ITE KUDASAI DAN KONSEP MORAL

2.1. Defenisi Novel

Pada abad ketujuh belas kata novel masih merujuk kepada sejenis cerita pendek. Baru setelah memasuki tahun 1700-an, novel sudah memperoleh pengertian seperti yang sekarang. Saat ini novel merupakan karya sastra yang paling luas dibaca dibandingkan dengan karya-karya sastra lainnya.

Dalam (Aziez, Furqonul dan Abdul Hasim 2010:12) Gillie mengatakan di Inggris, Negara yang sering disebut sebagai tanah tumpah darah kelahiran genre sastra baru ini, novel muncul pada abad ke-18 M, sebagai akibat dari beberapa sebab: sosial, filosofis, dan literer.

Menurut Hawthorn dalam (Aziez, Furqonul dan Abdul Hasim 2010:2) berpendapat bahwa novel merupakan sebuah cerita fiksi dalam bentuk prosa yang cukup panjang (sekarang biasanya yang cukup panjang untuk dimuat dalam satu volume atau lebih), yang tokoh-tokoh dan perilakunya merupakan cerminan kehidupan nyata di masa sekarang ataupun di masa lampau, dan yang digambarkan dalam satu plot yang cukup kompleks.

Sedangkan menurut Badudu dan Zain dalam (Aziez, Furqonul dan Abdul Hasim 2010:2) mengatakan bahwa novel merupakan karangan dalam bentuk prosa tentang peristiwa yang menyangkut kehidupan manusia seperti yang dialami orang dalam kehidupan sehari-hari, tentang suka-duka, kasih dan benci, tentang watak dan jiwanya, dan sebagainya.

(22)

Dari kedua defenisi diatas dapat disimpulkan, novel merupakan sebuah genre sastra yang memiliki bentuk utama prosa, dengan panjang yang kurang lebih bisa untuk mengisi satu atau dua volume kecil, yang menggambarkan kehidupan nyata dalam suatu plot yang cukup kompleks.

2.2. Resensi Novel Kiite Ite Kudasai

Resensi merupakan sebuah penilaian terhadap karya sastra, dapat berupa buku, film ataupun drama. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonsia), resensi ialah sebagai pertimbangan atau pembicaraan serta ulasan tentang buku.

Resensi memiliki fungsi sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan suatu gambaran kepada pembaca tentang suatu karya agar mempengaruhi pembaca atas karya sastra tersebut. https://www.zonareferensi.com/pengertian-resensi/. Di dalam resensi terdapat juga struktur teks yaitu antaralain sebagai berikut:

1. Identitas yaitu mencakup pengarang, tahun terbit, judul buku, penerbit, tebal halaman, serta ukuran buku.

2. Orientasi yaitu biasanya terletak pada paragraf pertama, antara lain penjelasan tentang bagaimana kelebihan buku seperti penghargaan apa yang pernah didapatkan oleh buku yang diresensi.

3. Sinopsis yaitu berupa sebuah ringkasan cerita yang menggambarkan seperti apa pemahaman penulis terhadap isi novel.

4. Analisis yaitu suatu penjabaran tentang keberadaan unsur-unsur cerita, seperti tema, setting cerita, penokohan, alur serta amanat.

5. Evaluasi yaitu berupa penjabaran tentang bagaimana kelebihan dan kekurangan sebuah karya sastra.

Dalam pembahasan skripsi ini, penulis memilih struktur teks resensi analisis.

(23)

2.2.1. Tema

Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran dalam membuat suatu tulisan. Berdasarkan dari bahasa Yunani “thithenai”, berarti suatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan . Dalam(http://informasipengetahuan.blogspot.com/2015/12/cara-menentukan tema-karangan-beserta.html?m=1)

Pada karya sastra tema adalah gagasan (makna) dasar umum yang menopang sebuah karya sastra sebagai struktur semantis dan bersifat abstrak yang secara berulang-ulang dimunculkan lewat motif-motif dan biasanya dilakukan secara implisit. Tema bisa berupa persoalan moral, etika, agama, sosial budaya, teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masalah kehidupan. Tema juga bisa berupa pandangan pengarang, ide, atau keinginan pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul. (dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Tema)

Dalam (Sukada, Made. 1985:70) Freier & Lazarus mengatakan tema dinyatakan secara tidak terus terang, meskipun ada dirasakan oleh pembaca. Tema tidak lain daripada ide pokok, ide sentral, atau ide yang dominan dalam karya sastra. Sedangkan menurut Nurgiantoro (2012:23) tema merupakan gagasan dasar yang menopang sebuah karya sastra dan terkandung di dalam teks sebagai struktur semantik dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, tema merupakan ide pokok cerita atau gagasan utama yang bertujuan untuk mengembangan cerita di dalam sebuah karya sastra.

Tema dalam novel Kiite Ite KudasaiI adalah menggambarkan suatu perjodohan yang atas dasar paksaan orang tua kepada anak sulung nya,

(24)

perjodohan tersebut merupakan refleksi dari adanya hutang budi kepada sahabat sekaligus rekan kerjanya yang telah banyak membantu bisnis keluarga yang dimilikinya. Membalas budi (ongaeshi) kepada orang yang telah memberi bantuan (onjin) merupakan salah satu budaya yang masih dilakukan oleh masyarakat Jepang di kehidupan sehari-hari.

2.2.2. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa yang tersusun berdasarkan hubungan sebab-akibat. Menurut Saparina (1984:45) Alur atau plot adalah urutan peristiwa- peristiwa dalam sebuah cerita rekaan, menyangkut apa yang terjadi yang telah direncanakan oleh pengarang. Berdasarkan tekniknya, alur dapat disusun dengan jalan alur maju (progresif ) yaitu memiliki susunan mulai dari peristiwa pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya sampai cerita itu berakhir atau dapat pula dengan jalan alur mundur (regresif) yaitu memiliki susunan dimulai dari peristiwa terakhir kemudian kembali pada peristiwa pertama. Jabrohim (2003:111).

Berdasarkan beberapa jenis alur diatas, penulis menyimpulkan bahwa alur cerita yang terdapat dalam novel Kiite Ite Kudasai merupakan alur maju dikarenakan susunan nya berurutan dari peristiwa awal, tengah hingga akhir.

2.2.3. Setting

Dalam Fitriani (2013 : 3) Wityatmi berpendapat bahwa latar memiliki fungsi untuk memberikan konteks cerita. Unsur-unsur setting dapat dibedakan ke dalam tiga pokok, yaitu:

(25)

1. Latar Tempat

latar tempat berhubungan dengan nama lokasi tempat terjadinya peristiwa secara konkret. Dalam Fitriani (2013:3) Aminuddin mengatakan, dalam latar berhubungan dengan tempat, misalnya kota, daerah pedesaan, pasar, sekolah, dan lain-lain yang tidak menuansakan apa-apa. Latar hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat fisik.

Adapun beberapa lokasi yang menjadi latar tempat di dalam cerita novel Kiite Ite Kudasai karya Murakami Haru yaitu, Shinjuku, Tokyo, Shinagawa, bunkyo dan daerah sekitar gunung Fuji. Berikut beberapa cuplikan latar tempat yang terdapat dalam novel Kiite Ite Kudasai:

Cuplikan hal 32

“Sewaktu masih kuliah di Universitas Tokyo, Hotaru adalah kembang tercantik di kampusnya. Banyak teman-teman pria di kampusnya yang terang-terangan menginginkan dirinya menjadi kekasih.”

Cuplikan hal 8

“Kedua adik kembar Hotaru yang baru saja masuk ke bangku kuliah di Universitas Tokyo ini berdiri penuh kemarahan”

Kedua cuplikan diatas menunjukkan latar tempat di Tokyo. Tokyo merupakan salah satu daerah yang terdapat di wilayah Jepang yang menjadi ibukota Negara Jepang. Di kota ini Hotaru dan adik-adiknya menduduki bangku kuliah.

Cuplikan hal 34

“Sangking tak kuat menahan itu semua, Hotaru paling hanya bisa menangis seorang diri. Sembari memandang Gunung Fuji di kejauhan sana,”

(26)

Cuplikan diatas menunjukkan latar tempat di dekat Gunung Fuji, yang merupakan gunung tertinggi di Jepang, terletak di perbatasanPrefektur Shizuoka dan Yamanashi, di sebelah barat Tokyo. Pada cuplikan tersebut menunjukkan daerah tempat kediaman keluarga Inoha Hotaru.

Cuplikan hal 45

“Di sebuah night club yang terletak di daerah Shinjuku itu, Hiroko bingung memikirkan skandal yang menimpa dirinya.”

Cuplikan di atas menunjukkan latar tempat di daerah Shinjuku, dimana terdapat tempat berkumpulnya orang dewasa saat malam hari. Di cuplikan tersebut menerangkan bahwa Hiroko yang sedang berada di night club, merasa bingung dengan masalah yang dihadapinya. Apalagi kalau bukan masalah foto panas Hiroko dengan model cantik Imamura Hoshi yang tempat kejadian di foto tersebut berada di daerah Bunkyo. Berikut cuplikan yang menunjukkan latar tempat di daerah Bunkyo:

Cuplikan hal 47

“Malam itu, Hiroko dan Imamura Hoshi sedang menikmati kebersamaan mereka di sebuah night club di daerah Bunkyo.”

Cuplikan hal 62

“Siang itu adalah siang yang tidak begitu menyenangkan bagi Inoha Kinji. Di dalam ruang kerjanya itu, laki-laki paruh baya pemilik Taiyo Corporation ini tampak uring-uringan sendiri. Pusing memikirkan masalah pengembangan proyek perumahan di daerah Shinagawa,”

(27)

Cuplikan hal 196

“Inoha Kinji yang menunggu realisasi janji-janji Shihomi Kohei ini, tentu saja mulai kesal. Rencana proyek pembangunan superblock di daerah Shinagawa itu bisa batal apabila dana pimjaman dari Shihomi Kohei ini tidak tepat waktu atau malah tidak jadi turun.”

Cuplikan di atas menunjukkan latar tempat yaitu di daerah Shinagawa, yang menjadi tempat dimana proyek perumahan Inoha Hotaru sedang dalam proses pembangunan dan akan terancam dihentikan jika uang pinjaman dari Sumasu Bank tidak segera cair.

2. Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa- peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, biasanya masalah itu berhubungan dengan waktu faktual, waktu yang berkaitan dengan peristiwa sejarah. Menurut Nurgiyantoro (2000: 233) latar waktu harus dikaitkan dengan latar sosial, sebab pada kenyataannya memang berkaitan. Keadaan sesuatu yang diceritakan harus pada waktu tertentu karena tempat itu akan berubah sejalan dengan perubahan waktu. Dalam novel Kiite Ite Kudasai latar waktu ditunjukkan pada cuplikan sebagai berikut:

Cuplikan hal 30

“Suasana yang cerah, hangat, dan bersahabat yang ditunjukkan oleh alam berbanding terbalik dengan suasana hati Hotaru.”

(28)

Cuplikan diatas menunjukkan keterangan waktu pagi hari yang ditandai dengan keadaan cuaca yang cerah walaupun pada saat yang bersamaan keadaan hati Hotari sedang merasa hal yang tidak menyenangkan.

Cuplikan hal 33

“Siang itu, gadis jelita ini pun kembali menitikkan air matanya sedih tatkala teringat perjodohannya dengan Hiroko.”

Cuplikan diatas menunjukkan keterangan waktu siang hari yaitu saat Hotaru kembali merasakan kesedihan hingga menitikkan air mata begitu mengingat persoalan hidupnya.

Cuplikan hal 257

“Atas bantuan ibunya, malam itu Hotaru bersuap-siap untuk melarikan diri.”

Cuplikan diatas menunjukkan keterangan waktu malam hari yang pada saat itu ibu Hotaru membantu Hotaru untuk melarikan diri dari kediamannya.

Karena sudah tidak sanggup lagi dengan sikap keras ayahnya yang tidak pernah memikirkan perasaan anaknya.

3. Latar Sosial

Karya sastra fiksi menceritakan tentang manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan, maka latar sosial-budaya masyarakat yang diangkat menjadi setting cerita mesti ikut terbawa kedalamnya. Dengan latar sosial-budaya yang jelas pembaca dapat belajar tentang kehidupan di lingkungan bermasyarakat.

Latar sosial menunjuk pada keadaan sosial budaya masyarakat yang memiliki cerita. Nurgiyantoro (2013:254)

(29)

Selain memasukkan unsur latar tempat dan latar waktu, pengarang dalam novel Kiite Ite Kudasai juga memasukkan unsur sosial. Peristiwa sosial yang dipilih pengarang tersebut terdapat di daerah Tokyo, shinagawa, dan Shinjuku.

Setting sosial yang terjadi di daerah tersebut yaitu masyarakat Jepang sampai sekarang ini masih tetap eksis melakukan nilai-nilai moral ongaeshi dalam kehidupan sehari-harinya, yang bertujuan agar masyarakat menjadi disiplin, teratur, harmonis dalam kehidupan sehari-hari seperti ditunjukkan oleh Unsriana (2013: 316) contoh kongkret dari moral ongaeshi yang dilakukan orang Jepang terlihat dalam pengiriman kartu tahun baru, pengiriman hadiah paling sedikit dua kali dalam rentang waktu setahun, yaitu ochugen (kebiasaan memberikan pada saat pertengahan musim panas) dan oseibo (kebiasaan memberikan hadiah bingkisan pada saat akhir tahun) dalam Situmorang (2013: 79) oseibo merupakan kebiasaan yang dilakukan masyarakat Jepang di akhir tahun. Kebiasaan tersebut yaitu mengirimkan tanda terimakasih kepada rekan sahabat maupun keluarga cabang mengirim ke Honke (keluarga induk) atau mengirim kepada siapapun yang berjasa pada tahun tersebut. yang semua itu adalah sebagai uangkapan rasa terimakasih atas kebaikan atau bantuan yang telah diterima.

Begitu juga dalam novel Kiite Ite Kudasai, pengarang dalam novel ini ingin menyampaikan bagaimana interaksi ongaesi masyarakat Jepang dewasa ini diantaranya yaitu tetap menghormati orang yang memberi bantuan, yang dimana sikap tersebut merupakan bagian dari rasa malu yang telah tertanam dalam jiwa orang Jepang. Rasa malu yang paling dalam yaitu saat tidak mampu membalaskan kebaikan orang. Sehingga dapat diartikan bahwa rasa malu merupakan akar dari sebuah kebajikan. Dalam Situmorang (2013: 83) Agutta Nikaya mengatakan orang

(30)

yang jahat yaitu yang tidak tahu bagaimana berterimakasih dan tidak mengingat kebaikan yang dilakukan orang kepadanya. Masyarakat zaman skrng pun masih tetap menjunjung nilai-nilai moral ongaeshi.

2.2.4. Tokoh/ Penokohan

Dalam cerita fiksi tokoh dapat dibedakan menjadi beberapa jenis penamaan. Jenis tokoh yang pertama yaitu jenis tokoh yang dilihat dari segi peranan, tokoh dibedakan menjadi dua yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan.

Tokoh utama yaitu tokoh yang mempunyai peran penting dan sering muncul dalam cerita. Tokoh tersebut banyak disinggung dari awal hingga akhir dan ada pada setiap bagian-bagian cerita. Menurut Nurgiyantoro (2012:177) karena tokoh utama paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia sangat menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Tokoh utama yang terdapat dalam novel Kiite Ite Kudasai karya Murakami Haru yaitu Inoha Hotaru.

Selain tokoh utama, jenis tokoh dalam cerita antara lain tokoh tambahan.

Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya sekali atau beberapa kali muncul dalam cerita. Berbeda dengan tokoh utama yang memiliki peran penting dalam cerita, tokoh tambahan tidaklah terlalu penting bahkan sering kali diabaikan. Adapun tokoh tambahan antara lain Yajiwa Hiroko sebagai calon suami yang dijodohkan dengan Inoha Hotaru, Yajiwa Akira sebagai ayah dari Yajiwa Hiroko, Konno Keiko sebagai kekasih Inoha Hotaru, Nagasawa Naoki sebagai sebagai sahabat dekat Yajiwa Hiroko sewaktu masih kuliah, Miyama Murasaki sebagai bos di perusahaan tempat Konno Keiko bekerja, Imamura Hoshi sebagai model yang di jebak dengan Yajiwa Hiroko, Kodawa Yasuyuki sebagai orang yang mengenalkan

(31)

Imamura Hoshi dengan Yajiwa Hiroko juga merupakan sahabat Hiroko, Uchida Atsuto sebagai sahabat Kodakawa Yasuyuki, Inoha Kinji sebagai ayah Inoha Hotaru, Nagasato Youki sebagai sekertaris Inoha Kinji, Shihomi Kohei sebagai anak bungsu Shihomi Haruki, Shihomi Haruki sebagai pemilik bisnis Sumasu Bank, Nagatomo Chiharu sebagai ibu dari Inoha Hotaru, Inoha Ayumi dan Inoha Azumi sebagai adik Inoha Hotaru.

2.2.5. Amanat

Amanat dapat diartikan sebagai pesan yang didasarkan atas pengetahuan pengarang yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui cerita yang dikarangnya itu. Amanat tersebut dapat berupa nilai luhur, etika, adat istiadat, tata krama, agama dan lain-lain yang dapat dijadikan contoh atau teladan. Karya sastra yang baik selalu memberikan pesan kepada pembaca untuk berbuat baik. Pesan ini dinamakan amanat. Maksudnya yaitu karya sastra yang baik selalu mengajak pembaca untuk menjunjung tinggi norma-norma moral. Begitu juga dengan novel Kiite Ite Kudasai karya Murakami Haru, yang di dalam novel tersebut terdapat amanat berupa nilai moral ongaeshi yang merupakan budaya masyarakat Jepang yang telah dilakukan turun-temurun di dalam kehidupan sehari-hari. Bertujuan menjaga keharmonisan dalam masyarakat Jepang. Nilai moral ongaeshi yang dimasukkan pengarang dalam novel ini mengajarkan kita bahwa siapapun yang telah memberikan budi baik (on) dalam bentuk apapun, maka kita berkewajiban membalas budi (ongaeshi) tersebut.

(32)

2.3. Defenisi Moral

Kata moral berasal dari bahsa Latin mores. Mores berasal dari kata mos yang berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral dengan demikian dapat diartikan ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan. (Salam 2000:2).

Moral yang terdapat dalam karya sastra merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya yang merupakan makna yang terkandung dalam cerita. Selain itu, moral merupakan cerminan pandangan hidup pengarang. Sikap dan tingkah laku tokoh dalam cerita merupakan pandangan mengenai moral yang diterapkan oleh pengarang. Menurut Kenny (memalui Nurgiyantoro, 2012:321), moral dalam cerita merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan.

Selanjutnya moralitas adalah sistem nilai tentang bagaimana seseorang harus hidup secara baik sebagai manusia. Nilai-nilai tersebut terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, motivasi, wejangan, ajaran leluhur dan semacamnya, yang diwariskan secara turun-temurun melalui ajaran orang tua, agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik, agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik.

2.3.1. Prinsip-prinsip Dasar Moral

Prinsip moral yang diterapkan untuk kehidupan bermasyarakat terbagi 3, yaitu prinsip kebaikan, prinsip keadilan dan prinsip hormat terhadap diri sendiri.

Prinsip tersebut saling berkesinambungan satu sama lain.

(33)

Prinsip dasar moral yang pertama adalah prinsip kebaikan. Sebagai makhluk sosial, manusia wajib memiliki sikap dasar yaitu kebaikan. Sikap baik dapat menjadi dasar bagi seseorang dalam bersosialisasi di kehidupan nya sehari- hari. Karena dengan sikap baik seseorang dapat dengan mudah diterima lingkungan nya, selain itu juga dapat mencegah tindakan buruk yang dapat membuat orang lain tidak nyaman dengan diri kita. Bersikap baik berarti, memandang seseorang atau sesuatu tidak hanya sejauh berguna bagi dirinya, melainkan menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan, dan menunjang perkembangannya (Suseno, 1989:131).

Prinsip dasar moral yang kedua adalah prinsip keadilan. Prinsip keadilan dapat diartikan bahwa kita sebagai makhluk sosial harus memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya baik itu hak berpendapat, hak bahagia dan lain-lain. Menurut Suseno (1989:132), prinsip keadilan mengungkapkan kewajiban untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap semua orang yang berbeda dalam situasi yang sama dan untuk menghormati hak semua pihak yang bersangkutan.

Prinsip dasar moral yang ketiga adalah prinsip hormat terhadap diri sendiri.

Menghargai hak diri sendiri sangat penting karna dapat membentengi dari perlakuan tidak baik orang lain terhadap kita. Menurut Suseno (1989:133), Prinsip ini menyatakan bahwa manusia wajib untuk selalu memperlakukan diri sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri. Prinsip ini memiliki tujuan bahwa ketika kita telah menjadi seseorang yang baik, dan adil, kita juga perlu memperhatikan diri kita sendiri agar segala sesuatu nya dapat seimbang.

(34)

2.3.2. Sikap-Sikap Kepribadian Moral 1. Kejujuran

Membahas tentang kejujuran, pasti setiap manusia tahu dampak positive yang diberikan ketika kita berlaku jujur, baik itu jujur kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain. Dampak yang paling terlihat ketika kita berlaku jujur yaitu kepercayaan orang kepada kita. Dengan orang percaya merupakan suatu hal yang sangat baik untuk hubungan kita dengan orang lain. Orang akan merasakan kenyamanan berinteraksi kepada kita. Lain halnya dengan orang yang tidak memiliki sikap jujur, orang tersebut akan mendapat ketidakpercayaan dari orang lain dan akan berdampak negative. Maka dari itu kejujuran penting untuk dimiliki setiap orang pada saat bersosialisasi.

Menurut Suseno (1987:143), kita harus berhenti main sandiwara, bukan hanya terhadap orang lain, melainkan terhadap kita sendiri. Kita perlu melawan kecondongan untuk bersosialisasi, menghindari show dan pembawaan berlebihan.

Orang jujur tidak perlu mengkompensasikan perasaan minder dengan menjadi otoriter dan menindas orang lain.

2. Nilai-nilai otentik

Otentik berarti “asli”. Manusia otentik adalah manusia yang menghayati dan menunjukkan diri seseuai dengan keahliannya, dengan kepribadiannya yang sebenarnya. Manusia yang tidak otentik adalah manusia yang dicetak dari luar, yang dalam segala-galanya menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan orang yang seakan-akan tidak mempunyai kepribadian sendiri melainkan terbentuk oleh peranan yang ditimpakan kepadanya oleh masyarakat. (suseno 1987:142)

(35)

Nilai otentik sangat erat hubungan nya dengan kejujuran dan penting jika kita ingin menjadi orang yang kuat dan matang, kita harus menjadi orang yang otentik. Menjadi otentik berarti kita memiliki sikap dan pendirian yaitu bukan meniru orang lain untuk ditiru, misalnya mengikuti mode ataupun pendapat.

Manusia yang tidak otentik bisa saja bukan bersumber dari dirinya sendiri, melainkan nilai-nilai yang sudah turun-temurun dari lingkungan atau pun leluhur.

Dasar nya tidak lain adalah rasa takut akan tidak dianggap , ditinggalkan atau diasingkan. Begitu juga menurut suseno (1987: 144) dasar ketidak otentikan itu adalah rasa takut jangan-jangan ia ditinggalkan oleh mereka. Maka ia mau merasa dan bercita-cita seperti kelompoknya. Namun dengan demikian ia tidak dapat mengembangkan identitas dan kepribadiannya sendiri. Ia kehilangan kreativitasnya dan mudah dimanupulasi.

3. Kesediaan untuk Bertanggung Jawab

Menurut Suseno (1987 : 145-146) Bertanggung jawab diartikan menjadi empat bagian. Yang pertama, bersedia untuk melakukan apa yang harus dilakukkan, dengan sebaik mungkin. Berarti bertanggung jawab atas suatu sikap terhadap tugas yang membebani kita. Kedua, sikap bertanggung jawab mengatasi segala etika peraturan. Etika peraturan hanya mempertanyakan apakah sesuatu boleh atau tidak. Sedangkan sikap bertanggung jawab merasa terikat pada yang memang perlu. Ketiga, wawasan orang yang bersedia untuk bertanggung jawab secara principal tidak terbatas. Ia tidak membatasi perhatiannya pada apa yang menjadi urusan dan kewajibannya, melainkan merasa bertanggung jawab di mana

(36)

saja ia diperlukan. Keempat, kesediaan untuk bertanggung jawab termasuk kesediaan untuk diminta, dan untuk memberikan, pertanggungjawaban atas tindakan-tindakannya, atas pelaksanaa tugas dan kewajibannya.

Dari keempat point di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa kesediaan bertanggung jawab merupakan suatu tanda kekuatan batin yang sudah mantap.

4. Kemandirian moral

Menurut (Suseno 1987:147) Kemandirian moral adalah kekuatan batin untuk mengambil sikap moral sendiri dan untuk bertindak sesuai dengannya.

Orang yang memiliki kemandirian moral berarti tak pernah ikut-ikutan dengan berbagai pandangan moral yang ada dalam lingkungannya, dengan kata lain selalu membentuk penilaian dan pendirian sendiri serta bertindak sesuai dengan pendiriannya. Mandiri secara moral berarti bahwa kita tidak dapat “dibeli” oleh mayoritas, bahwa kita tidak pernah akan rukun hanya demi kebersamaan kalau kerukunan itu melanggar.

5. Keberanian moral

Menurut Suseno (1987: 147) Keberanian moral yaitu ketekadan dalam bertindak sikap mandiri. Keberanian moral menunjukkan diri dalam tekad untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban apabila tidak disetujui atau secara aktif dilawan oleh lingkungan. Orang yang memiliki keutamaan itu tidak mundur dari tugas dan tanggung jawab juga kalau ia mengisolasikan diri, dibikin merasa malu, dicela, ditentang atau diancam oleh

(37)

yang banyak, oleh orang-orang yang kuat dan mempunyai kedudukan dan juga oleh mereka yang penilaiannya kita segani.

6. Kerendahan hati

Kerendahan hati bagi kepribadian moral sangat lah penting, rendah hati dapat melindungi kita dari sikap arogan atau pun ingin menang sendiri.

Kerendahan hati artinya bersedia untuk menerima pendapat orang lain dan tidak merasa kalah, kalau pendapat kita tidak menang. Menurut Suseno (1987: 148-149) Keutamaan yang hakiki bagi kepribadian yang mantap adalah kerendahan hati.

Kerendahan hati tidak berarti bahwa kita merendahkan diri, melainkan bahwa kita melihat diri sesuai seadanya kita. Kerendahan hati adalah kekuatan batin untuk melihat diri sesuai dengan kenyataannya. Orang yang rendah hati tidak hanya melihat kelemahannya melainkan juga kekuatannya.

Dalam kemandirian moral kerendahan hati tidak hanya berarti bahwa kita sadar akan keterbatasan kebaikan kita, melainkan juga bahwa kemampuan kita untuk memberikan penilaian moral terbatas. Jadi bahwa penilaian kita masih jauh dari sempurna karena hati kita belum jernih. Oleh karena itu kita tidak akan memutlakkan pendapat moral kita. Dengan rendah hati kita betul-betul bersedia untuk memperhatikan dan menanggapi setiap pendapat lawan, bahkan untuk seperlunya mengubah pendapat kita sendiri.

Kesimpulan dari sikap-sikap kepribadian moral di atas bahwa manusia harus memiliki sikap jujur, otentik, kesediaan bertanggung jawab, kemandirian moral, keberanian moral, kerendahan hati. Begitu juga dalam ongaeshi, dapat dikatakan sikap-sikap kepribadian moral adalah hal yang mendasar yang tentunya

(38)

harus dimiliki agar nilai moral ongaeshi dapat dengan mudah dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

2.4. Konsep Moral Ongaeshi

Nilai membalas budi adalah salah satu nilai kearifan lokal yang ada pada masyarakat Jepang. Nilai membalas budi dalam istilah Jepang disebut Ongaeshi.

Bagi orang Jepang, jika tidak membalas budi akan menjadi beban, karena seperti hutang yang belum dibayar. Dalam hubungan sosial, memberikan bantuan dan membalas bantuan yang telah diterima merupakan sebuah etika hubungan ningen kankei (hubungan antar manusia). Orang-orang yang tidak tahu membalas kebaikan adalah orang yang tidak mengerti etika pergaulan. Membalas kebaikan yang telah diberikan kepada kita merupakan suatu etika moral yang dianut oleh orang Jepang. Seseorang yang telah menerima kebaikan hati atau pemberian, merasa wajib mengembalikan. (Unsriana 2013:316)

2.5. Biografi Pengarang

Murakami Haru lahir di Kyoto, Jepang, 12 Januari 1949 setelah Perang Dunia ke-dua. Ayahnya merupakan anak dari imam Budha, dan ibunya merupakan anak dari pedagang di Osaka. Kedua orang tuanya mempelajari literatur Jepang. Sejak kecil, Murakami telah sering terpengaruh dengan budaya Barat, khususnya literatur dan musik Barat. Murakami tumbuh dengan membaca berbagai karya penulis Amerika, seperti Kurt Vonnegut, Richard Brautigan dan Jack Kerouac. Pengaruh budaya Barat ini yang membedakan Murakami dengan penulis-penulis Jepang lainnya.

(39)

Murakami merupakan penulis terkenal di Jepang. Karyanya dalam tulisan fiksi dan nonfiksi telah menerima banyak klaim kritikus serta sejumlah penghargaan, baik di Jepang maupun di luar negeri, termasuk pada World Fantasy Award (2006) dan Frank O‟Connor International Short Story Award (2006).

Sedangkan seluruh karyanya mendapat penghargaan pada Franz Kafka Prize (2009). Murakami juga telah menerjemahkan sejumlah karyanya dalam bahasa Inggris. Karya-karya pentingnya seperti A Wild Sheep Chase (1982), Norwegian Wood(1982), The Wind-Up Bird Chronicle (1994-1995), Kafka on the Shore (2002), dan 1Q84 (1009-2010). Karya fiksi Murakami sering dikritik oleh Badan Literatur Jepang sebagai karya yang surealistik dan nihilistik, yang ditandai dengan cara pembawaan Kafkaesque dengan tema kesendirian dan pengasingan.

Murakami dipandang sebagai orang penting dalam literature modern.

Murakami belajar drama di Waseda University di Tokyo, dan juga pertama kali bertemu dengan istrinya, Yoko. Murakami bekerja pertama sekali di toko kaset, seperti Toru Watanabe, narator dari novel Norwegian Wood. Tak lama setelah menyelesaikan studynya, Murakami membuka kedai kopi dan bar jazz, The Peter Cat, di kokunbuji, Tokyo, yang dijalani bersama istrinya sejak tahun 1974 hingga 1981.

Murakami memulai menulis fiksi sejak berumur 29 tahun. “sebelum itu”

ujarnya, “saya belum pernah menulis apapun. Saya hanya orang biasa. Saya menjalankan bisnis club jazz, dan saya tidak pernah membuat apapun”. Murakami terinspirasi menulis novel pertamanya, Hear the Wind Sing (1979), ketika sedang menonton permainan baseball. Pada tahun 1978, Murakami sedang berada di Stadium jingo menonton pertandingan antara Yakult Swallows dan Hiroshima

(40)

Carp ketika Dave Hilton, pemain baseball asal Amerika, memukul bola.

Berdasarkan cerita yang sering diceritakan, saat Hilton memukul double secara cepat, Murakami secara langsung menyadari bahwa dia dapat menulis novel.

Murakami pulang ke rumah dan mulai menulis pada malam harinya. Murakami menulis Hear the Wind Sing selama beberapa bulan setelah beberapa goresan di bar. Murakami menyelesaikan novel pertamanya dan mengirim novel tersebut hanya pada kontes literatur, lalu menang dengan juara pertama.

Kesuksesan pertama Murakami dengan Hear the Wind Sing mendorongnya untuk kembali menulis. Satu tahun kemudian, dia menerbitkan sekuel, Pinball, 1973. Pada tahun 1982, dia menerbitkan A Wild Sheep Chase, kembali menuai keberhasilan. Hear the Wind Sing, Pinball, 1973, dan A Wild Sheep Chase dari Triology of The Rat (sekuel, Dancen Dance, Dance, ditulis kemudian namun tidak dianggap bagian dari serial), berpusat pada satu narator yang tak bernama dan temannya, “The Rat “. Dua novel pertamanya tidak diterjemahkan pada penerbit Bahasa Inggris di luar Jepang, di mana edisi Bahasa Inggrisnya, diterjemakan oleh Alfred Birnbaum dengan catatan ekstensif, diterbitkan oleh Kondansha sebagai bagian dari serial yang ditunjukan bagi mahasiswa Jepang untuk pelajaran Bahasa Inggris. Murakami menganggap dua novel pertamanya “lemah”, dan belum bersemangat untuk menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. A Wild Sheep Chase, ujarnya, merupakan “buku pertama dimana saya dapat merasakan semacam sensasi, rasa senang menuliskan cerita.

Ketika kamu membaca cerita bagus, kamu terus membacanya. Ketika saya menulis cerita bagus, saya terus membacanya”.

(41)

Murakami dipengaruhi dengan penulis Barat, tidak seperti penulis-penulis Jepang yang lainnya. Walaupun dia juga mencoba untuk menyajikan warisan Jepang dalam setiap bukunya. Setiap tulisannya menggunakan narrative orang pertama untuk menolong pembaca mengerti masalah yang dihadapi oleh protagonis. Dia mengatakan itu karena keluarga berperan penting dalam literatur tradisional Jepang, setiap karakter utama yang mandiri menjadi manusia yang menghargai kebebasan dan kesendirian melebihi keakraban.

(42)

BAB III

ANALISIS NILAI MORAL ⸢ONGAESHI⸥ DALAM NOVEL

⸥KIITE ITE KUDASAI⸥ KARYA MURAKAMI HARU

3.1. Sinopsis

Novel Kiite Ite Kudasai karya Murakami haru menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Inoha Hotaru yang dijodohkan dengan maksud untuk membalas budi kepada sahabat sekaligus rekan bisnis ayahnya (Inoha Kinji) karena telah membantu bisnis yang dimiliki ayahnya pada masa-masa sulit.

Selain itu juga bertujuan untuk mengembangkan bisnis properti yang dimiliki Inoha Kinji. Perjodohan tersebut terjadi tanpa sepengetahuan Hotaru yang sebenarnya telah memiliki kekasih yang bernama Konno Keiko. Selama perjodohan itu, hari-hari Hotaru semakin tidak menyenangkan. Belum lagi ketika beredar foto mesra calon suaminya bersama wanita lain, hati nya kian hari kian tidak karuan, melihat calon yang dijodohkan ayahnya ternyata bermain api dengan wanita lain, walaupun Hotaru sedikit lega karena mungkin saja dengan kejadian itu perjodohannya akan dibatalkan, namun perjodohan itu tetap berlanjut.

Ditambah lagi, seorang Shihomi Kohei mengiming-imingi akan menanggung semua dana yang diperlukan perusahaan Inoha Kinji dengan syarat ia harus menikah dengan Inoha Hotaru, menjadikan Inoha Kinji pusing bukan kepalang.

Keadaan orang-orang sekeliling Hotaru yang hanya bisa patuh pada keputusan sang ayah semakin menambah beban dirinya. Ibunya masih membela dirinya walaupun sang ibu hanya bisa menunjukkan sikap sabar dan tidak bisa berbuat apa-apa karena sifat ayahnya yang keras kepala. Di lain sisi sang kekasih

(43)

yang begitu mencintainya mencoba berbagai cara agar dapat menemui Hotaru yang selama ini dipingit dan tidak bisa pergi kemana-mana, dengan cara mengendap di luar tembok pagar rumah Hotaru saat malam hari, memberi tanda dengan sebuah senter yang di arahkan ke jendela kamar Hotaru. Walaupun hanya dengan isyarat senter, kerinduan sepasang kekasih ini bisa terobati. Keduanya begitu menyayangi satu sama lain, meskipun harus dengan cobaan perjodohan seperti ini keduanya tetap setia dan menjaga perasaan satu sama lain walau tidak ada ujung dari penderitaan percintaan yang mereka alami. Hingga suatu ketika Konno Keiko dituduh telah menjebak calon suami Inoha Hotaru (Yajiwa Hiroko) dengan model cantik di sebuah hotel. Keadaan semakin menyudutkan kedua sepasang kekasih Inoha Hotaru dan Konno Keiko. Akibat nya Hotaru semakin di jaga ketat, tidak boleh keluar rumah juga tidak boleh memakai telepon. Semakin hari semakin buruk saja kehidupannya, hingga sering sakit. Bahkan juga pernah pingsan tak sadarkan diri. Walaupun telah jelas bahwa Hotaru sakit, ayahnya tetap tak memperdulikan dan hanya menganggap Hotaru sedang tidak enak badan dan demam saja. Pada saat Hotaru dirawat di Rumah Sakit, Shihomi Kohei datang dan membuat Hotaru Syok dan keadaan nya semakin menurun hingga menghembuskan nafas terakhir. Inoha Kinji menyesal bukan main dengan kematian anak nya, dia juga menyesal kenapa tak mengizinkan Konno Keiko yang menikah dengan Hotaru.

(44)

3.2. Analisis Nilai Moral Ongaeshi Yang Terdapat Dalam Novel Kiite Ite Kudasai Karya Murakami Haru

1. Cuplikan (hal 30-31)

“Tuan Yajiwa Akira-lah yang dulu sering membantu bisnisnya. Disaat sang ayah mengalami kesulitan dalam bisnisnya. Di saat itulah Tuan Yajiwa Akira memberikan order pekerjaan kepada perusahaan properti miliknya yang waktu itu tengah tertatih-tatih pada masa awal pendiriannya.

Kalau saja tuan Yajiwa Akira tidak memberikan pekerjaan untuk menganggap pendirian pabrik-pabrik barunya, tentu perusahaan properti milik Inoha Kinji belum tentu akan sebesar seperti sekarang ini. Berawal dari order pekerjaan dari PT. Tsubame Tbk itulah perlahan-lahan perusahaan ayahnya mulai menggeliat, mulai banyak order pekerjaan yang berdatangan. Maka, sejak itu pulalah perusahaan property itu mulai kemajuan pesat hingga sekarang ini

Oleh karena itu, demi mengingat budi baik Tuan Yajiwa Akira di awal- awal karier perusahaan ayahnya hingga sekarang ini, maka Tuan Inoha Kinji lantas memutuskan untuk menjodohkan Hotaru dengan Hiroko, putra tunggal Tuan Yajiwa Akira.”

Analisis

Cuplikan di atas menjelaskan tentang keadaan perusahaan milik Tuan Inoha Kinji yang mengalami kesulitan dan hampir bangkrut. Saat berada di posisi sulit, hanya Tuan Yajiwa Akira yang mau membantu. Alasannya karena tuan Yajiwa Akira dan Inoha Hotaru merupakan sahabat yang sangat dekat.

(45)

Tentunya ongaeshi merupakan tindakan yang dilakukan ketika telah menerima on dari orang lain. Cuplikan diatas yang termasuk kedalam moral on dapat dilihat dari kalimat berikut “Yajiwa Akira-lah yang dulu sering membantu bisnisnya. Disaat sang ayah mengalami kesulitan”. Kalimat tersebut merupakan indeksikal bahwa Tuan Inoha Hotaru telah di bantu atau di beri budi baik dari Tuan Yajiwa Akira hingga menjadi terhutang budi. Di dalam budaya masyarakat Jepang, on haruslah di kembalikan, dalam artian bukan pemberi on (onjin) yang meminta, tetapi bagi masyarakat Jepang mengembalikan budi baik yang telah di berikan adalah kewajiban yang harus dilaksanakan. Bagi orang Jepang, tidak mengembalikan budi baik yang telah diberikan orang lain adalah tindakan yang jahat.

Karena itulah Tuan Inoha Kinji dan Yajiwa Akira menyepakati untuk menjodohkan kedua anak mereka yang terdapat dalam kalimat “maka Tuan Inoha Kinji lantas memutuskan untuk menjodohkan Hotaru dengan Hiroko, putra tunggal Tuan Yajiwa Akira.” Kalimat tersebut merupakan indeksikal perasaan bahwa Tuan Inoha Hotaru telah meneriman bantuan, dan bahwa dia mengingat kebaikan yang telah diterimanya. Hingga akhirnya dia mengambil keputusan menjodohkan Inoha Hotaru dengan Hiroko sebagai suatu ungkapan rasa terima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh Tuan Yajiwa Akira. Perasaan harus mengembalikan apa yang telah diterima berasal dari rasa terima kasih yang berhubungan dengan on yang telah ditanamkan sebagai dasar dari karakter moral masyarakat Jepang.

(46)

Pengembaian budi baik yang dilakukan Inoha Kinji berupa perjodohan yang sudah di sepakati kedua orang sahabat tersebut. Dengan perjodohan itu, telah lunas lah hutang budi yang selama ini di tanggung Inoha Kinji.

2. Cuplikan 2 (hal 71)

“Mana mungkin Hotaru sanggup menanggung duka dan lara hati karena cinta. Ia tak sanggup tanpa kekasih hatinya! Ia tak sanggup bila harus membina cinta dengan laki-laki yang sama sekali tak dicintainya. Jangankan untuk mencintai, bahkan laki-laki yang akan menjadi suaminya itu sangat asing baginya.

Hotaru sama sekali belum tahu siapa calon suami yang dipaksakan itu kecuali bahwa lelaki itu adalah anak dari sahabat ayahnya.

Tapi, ia tak sanggup untuk melawan semuanya. Sebaliknya, ia harus tunduk patuh atas sesuatu yang bukanlah menjadi keinginannya.”

Analisis

Cuplikan di atas menjelaskan kegusaran hati Hotaru sebab perjodohan membuat luka di dalam hatinya. Dia tidak akan sanggup hidup dengan seorang yang dijodohkan ayahnya. Yang dia inginkan hanyalah menikah dengan kekasihnya (Konno Keiko) tetapi dia harus mamatuhi perintah orang tua nya, tindakan tersebut merupakan suatu perasaan harus mengembalikan budi baik (on) yang telah dilakukkan ayahnya. Budi baik (on) berupa kerja keras telah merawat Hotaru dari masih bayi hingga dewasa dan juga telah memberikan kasih sayang sebagai seorang ayah kepada anak. Maka Hotaru haruslah membalas kebaikan orang tua nya walaupun sebenarnya dia tidak menyukai keputusan yang diambil ayahnya. Akan tetapi dia harus tetap patuh kepada kepada orang tua. Tindakan

(47)

yang dilakukan Hotaru kepada ayahnya termasuk kedalam jenis pengembalian budi baik (ongaeshi) yaitu Ko ( 孝 ) yang merupakan kewajiban balas budi terhadap orang tua. Dalam cuplikan di atas ditunjukkan pada kalimat berikut

“ Tapi, ia tak sanggup untuk melawan semuanya. Sebaliknya, ia harus tunduk patuh atas sesuatu yang bukanlah menjadi keinginannya.” Kalimat tersebut merupakan indeksikal perasaan harus membalas kebaikan sang ayah. Dalam masyarakat Jepang merupakan budaya atau nilai moral ongaeshi yang telah diajarkan turun temurun di kehidupan sehari-hari dari zaman dulu hingga sekarang.

3. Cuplikan 3 (hal 83-84)

“Hati Yajiwa geram bukan main melihat kelancangan kedua putri kembar Tuan Inoha itu. Andai saja tidak mengingat bahwa kedua gadis di hadapanya itu adalah anak Tuan Inoha Kinji. Tuan Yajiwa yang juga berwatak keras itu akan segera berlaku kasar terhadap mereka berdua. Akan tetapi, demi persahabatannya dengan Tuan Inoha dan demi perjodohan anaknya dengan putri sulung sahabatnya itu, Tuan Yajiwa terpaksa harus menahan emosi.”

Analisis

Cuplikan diatas yang menunjukkan tindakan on yaitu “Akan tetapi, demi persahabatannya dengan Tuan Inoha dan demi perjodohan anaknya dengan putri sulung sahabatnya itu, Tuan Yajiwa terpaksa harus menahan emosi” kalimat tersebut merupakan indeksikal bahwa tuan Yajiwa mengingat budi baik yang telah diberikan tuan Inoha Kinji berupa persahabatan, dalam masyarakat Jepang merupakan suatu budi baik karna telah bersedia menjalin ikatan persahabatan.

(48)

Budi baik berupa persahabatan dalam masyarakat Jepang harus dikembalikan. Dalam cuplikan di atas, pengembalian budi baik (ongaeshi) berupa perlakuan sopan dan baik kepada keluarga sahabatnya tergambar pada kalimat

“Andai saja tidak mengingat bahwa kedua gadis di hadapanya itu adalah anak Tuan Inoha Kinji. Tuan Yajiwa yang juga berwatak keras itu akan segera berlaku kasar terhadap mereka berdua”. Walaupun tindakan kedua anak tuan Kinji sangat tidak beradap, tetapi tuan Yajiwa Akira harus mengingat bahwa harus berlaku baik kepada keluarga sahabatnya itu. Tindakan membalas budi tersebut merupakan suatu perasaan terima kasih atas budi baik yang telah diterima. Dalam masyarakat Jepang mengingat budi baik merupakan suatu sikap budaya malu.

4. Cuplikan 4 (hal 163)

“Andai saja ia belum mempunyai seorang kekasih yang dicintainya dengan segenap perasaan cintanya, bisa jadi ia akan tergoda dengan kecantikan atasannya di kantor tersebut. Akan tetapi, ia sudah mempunyai kekasih. Walau sekarang ini hubungan mereka tengah terhalang karang terjal, namun secuil pun ia tak ingin untuk mengalihkan perhatian dan cintanya itu dati Hotaru. Karena ia begitu mencintai kekasihnya itu. Ia juga sudah memutuskan pada dirinya bahwa ia tetap akan setia dengan satu cinta, yaitu Hotaru.”

Analisis

Cuplikan di atas menjelaskan perasaan Konno Keiko yang pada saat itu merasakan suatu goncangan jiwanya karena seorang atasan di kantornya menyatakan perasaan cinta kepadanya. Keiko gusar bukan main karena atasannya itu adalah seorang yang sangat perhatian, lembut perkataannya, cantik parasnya

Referensi

Dokumen terkait

Perumusan masalah penelitian ini adalah unsur intrinsik dan nilai-nilai moral apa sajakah yang terdapat dalam novel Catatan Hati Seorang Istri karya Asma

Saran dalam penelitian ini, diharapkan dapat lebih meningkatkan pemahaman mengenai nilai moral, khususnya nilai moral dalam novel Megalomania karya Marhalim Zaini,

karya Salmah Djirong adalah nilai moral yang menyangkut hubungan manusia dengan diri sendiri (nilai moral rela berkorban, nilai moral kesetiaan, nilai

tokoh utama yang terdapat dalam novel Canting karya Arswendo Atmowiloto;(2) nilai-nilai moral yang terdapat dalam novel Canting karya Arswendo Atmowiloto;dan (3) skenario

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Pertama, dalam novel Jermal karya Yokie Adityo ini ditemukan 13 buah nilai moral hati nurani.. Para tokoh dalam novel

Dia selalu mamatuhi peraturan yang ada di pedepokan Kesimpulan Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai moral yang terdapat dalam novel Maya karya Ayu Utami yaitu nilai moral

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai moral yang terdapat dalam novel Si Anak Cahaya Karya Tere Liye dan mendeskripsikan implementasi nilai moral dalam novel Si Anak

Hasil penelitian ini dapat direlevansikan sebagai bahan pembelajaran sastra di jenjang SMA dengan KD 7.2 sebab dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini terdapat nilai-nilai pendidikan