• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS NILAI SOSIAL

B. Analisis Nilai Sosial dalam Novel Para Priyayi

Novel Para Priyayi karya Umar Kayam terbit pada tahun 1992 dengan ketebalan 337 halaman ini mengandung nilai sosial yang sangat beragam. Nilai-nilai sosial tersebut nampak dari penggambaran kesepakatan masyarakat dan pandangan hidup para tokoh dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Hal ini terlihat dalan percakapan atau narasi yang disampaikan oleh para tokoh dalam novel yang telah penulis teliti. Setelah melakukan penelitian, peneliti mendapatkan nilai-nilai sosial tersebut melalui interaksi sosial antara individu, keluarga, dan masyarakat dalam relasi-relasi yang terbagi menjadi enam kategori Simmel sebagai berikut.

1. Relasi Individu dengan Dirinya, 2. Relasi Individu dengan Keluarga, 3. Relasi Individu dengan Lembaga, 4. Relasi Individu dengan Komunitas, 5. Relasi Individu dengan Masyarakat, dan 6. Relasi Individu dengan Nasion.

Adanya aspek sosial—kebersamaan yang melekat pada individu menyebabkan kodratnya hidup bersama individu lain. Individu yang mewujudkan pola perilakunya yang khas pada suatu lingkungan sosial disebut bagian dari masyarakat. Satuan-satuan lingkungan sosial yang melingkari individu terdiri dari keluarga, lembaga, komunitas, masyarakat, dan nasion. Berikut nilai sosial dalam enam kategori relasi sosial yang terdapat dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam.

1. Relasi Individu dengan Dirinya.

Hubungan ini berkaitan erat dengan masalah kejiwaan seseorang. Masalah ini dialami oleh Sastrodarsono ketika ia harus mengalami konflik intern tentang penentuan sikap kepriyayiannya. Ia bersimpati pada tokoh Martoatmodjo, seorang tokoh pergerakan yang merupakan seniornya di Sekolah. Akan tetapi, ia juga memikirkan nasib keluarga kecilnya yang baru mulai menapaki kehidupan rumah tangga priyayi. Hal ini dapat dilihat pada kutipan dalam Novel Para Priyayi di bawah sebagai berikut.

“Waktu tiba di Wanagalih sesudah berlibur demikian lama di Jogorogo dan Kedungsimo, saya mendapat surat beslit itu. saya diangkat menjadi kepala sekolah menggantikan Mas Martoadmodjo yang dipindah ke sekolah desa Gesing. Gesing! Itu adalah satu daerah yang cengkar, tandus, tanahnya keras, pecah-pecah, berbongkah-bongkah, terpencil di kaki Pegunungan Kendeng. Kasihan Mas Martoadmodjo disingkirkan ke neraka yang begitu mengenaskan.”126 Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, nilai sosial digambarkan melalui nilai kepedulian Sastrodarsono yang merasa iba terhadap nasib Martoadmodjo. Martoadmodjo adalah senior sekaligus kepala sekolah tempat ia mengajar. Hal ini menunjukan bahwa ia seorang ia orang yang mudah menaruh belas kasihan dan mudah terharu terhadap perilaku orang lain.

Martoadmodjo dituduh melakukan pergerakan karena membaca harian Medan Priyayi. Pada waktu itu membaca harian tersebut dianggap melakukan pergerakan dan perlawanan terhadap pemerintahan Belanda. Sastrodarsono datang menemui Martoatmodjo setelah diberitahu oleh Nippon mengenai tuduhan pergerakan yang dilakukan Martoatmodjo. Ia ingin memastikan kebenarannya.

Medan Priyayi, mingguan yang memuat artikel-artikel perlawanan terhadap kolonialisme, seperti Multatuli, dan kritikan bagi pejabat yang korup. Banyak priyayi yang tidak berani mengikuti jejak Martoatmodjo karena takut

126 Ibid.,

kehilangan status dan kemapanan. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut, “Mereka takut dengan bacaan seperti ini. Mereka takut kehilangan pekerjaan mereka.”127

Sastrodarsono mengalami konflik batin yang cukup hebat, karena ia sangat menghormati Martoatmodjo sebagai senior sekaligus kepala sekolah di Karangdompol. Selain itu, sebagai kepala rumah tangga, ia pun gelisah dengan istri dan anak-anaknya. Jika ia membantu Martoadmodjo, maka ia akan bernasib sama dengannya, yaitu disingkirkan dari Karangdompol bahkan diasingkan, sedangkan ia baru saja mendapatkan status priyayi. Pada akhirnya dengan berat hati ia menuruti nasihat keluarga dan saran Martoatmodjo untuk tidak mengikuti jejak Martoadmodjo. Meskipun hatinya tidak sejalan.

Kemunculan pemikiran ini adalah suatu bentuk reformasi idealisme priyayi yang terkesan pasif dan individualitis menjadi dinamis. Oleh karena itu, Martoatmodjo dituduh menghasut masyarakat. Pergerakan yang dilakukan Martoatmodjo dikhawatirkan oleh Opziener dapat mengancam keberadaan gupermen dan pada akhirnya barisan priyayi maju.

Selain Sastrodarsono, Harimurti juga mengalami konflik dengan dirinya sendiri. Ia merasa menjadi pribadi yang terombang-ambing dalam ketidakjelasannya untuk menentukan sikap sebagai keturunan priyayi. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah sebagai berikut.

“Saya adalah orang yang terombang-ambing antara berbagai perasaan simpati dan solider. Simpati dan solider kepada wong cilik yang tidak kunjung beruntung nasibnya menjadi bulan-bulanan mereka yang berkuasa. Simpati dan solider kepada para priyayi yang muncul dari lumpur-lumpur sawah dan ingin menyeret seluruh kerabatnya ke permukaan untuk ikut mengecap dan menikmati dan akhirnya ikut menentukan sosok budaya besar, apapun itu artinya. Dan keterombang-ambingan saya ini aneh sekali saya lihat hanya dapat ditampung oleh Lekra.”128

127Ibid.,

h. 57.

128

Harimurti ikut dalam pemberontakan dengan masuk ke dalam Lekra, sebuah organisasi kesenian beraliran komunis. Setelah berkenalan dan berhubungan dengan Gadis pengaruh komunis semakin meresap, namun sebenarnya dalam dirinya ia mempertanyakan esensi dari gerakan itu. Ia terombang ambing antara perasaan simpati dan solider. Hal ini menunjukkan ia adalah orang memiliki sifat simpati sekaligus solider terhadap orang lain.

Seni yang dipelihara oleh priyayi sebagai bentuk estetika justru dieksploitasi sebagai alat politik. Hal ini terjadi ketika Hari bergabung dalam Lekra, sebuah kelompok pencinta seni yang diprakarsai oleh kaum komunis. Seni tradisional dihubungkan dengan feodalisme yang ditujukan untuk kekuasaan, dengan kata lain cerita rakyat Jawa adalah “… cerita kekuasaan.”129

Beberapa tokoh seperti Bung Naryo beranggapan bahwa “cinta memang bisa indah, tetapi dalam kisah cinta itu embel-embel dari strategi kekuasaan yang sangat kejam.”130

Dari sini tampak bahwa kaum priyayi mencemari seni dengan idealisme sosialis demi kepentingan politis. Hal inilah yang awalnya menjerumuskan Hari ke dalam Lekra.

2. Relasi Individu dengan Keluarga

Hubungan ini merupakan relasi yang mutlak. Relasi ini membentuk kedekatan biologis, psikologis, dan sosial. Dalam kekerabatan, nilai kerukunan sangat diperlukan dalam membangun relasi yang harmonis antara priyayi dan wong cilik. Relasi yang awalnya antar status antara priyayi dan wong cilik bertransformasi menjadi hubungan yang lebih bersifat kekeluargaan. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut, “Dan karena hubungan itu pula saya mendapat nama saya yang Soedarsono, …. nama yang menurut bayangan kami hanya pantas dimiliki anak-anak priyayi saja.”131 Soedarsono adalah nama asli Sastrodarsono.

129 Ibid., h. 270. 130Ibid., 131Ibid., h. 31.

Dari situlah kedekatan yang sudah seperti keluarga sendiri terjalin, bahkan Ndoro Seten sampai memberikan nama priyayi untuk anak yang sedang dikandung oleh istri Atmokasan. Dalam kehidupan bermasyarakat, hubungan ini terjadi melalui sosialisasi karena interaksi yang sering antara keduanya.

Pada masa Sastrodarsono masih tinggal di Kedungsimo, Atmokasan menjaga hubungannya dengan Ndoro Seten sehingga kerukunan tercipta. Hubungan kemudian bersifat timbal balik, Atmokasan mengerjakan kewajibannya sebagai petani dengan selalu jujur dalam bekerja. Di lain pihak Ndoro Seten menghargai kerja kerasnya dengan membantu Sastrodarsono menjadi seorang priyayi. Ia menghormati Ndoro Seten dengan berbuat jujur dan tidak mengecewakannya. Kerukunan pun terjaga dengan baik karena kedua pihak saling mengerti. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah sebagai berikut.

“Bukan main besar, sesungguhnya, utang budi orang tua saya kepada Ndoro Seten. Waktu orang tua saya menyatakan hal itu kepada Ndoro Seten, dengan tersenyum mereka mengatakan bahwa itu adalah hadiah mereka buat kejujuran dan ketulusan orang tua kami menggarap sawah Ndoro Seten. Orang tua kami dinyatakan oleh Ndoro Seten sebagai petani yang tahu menepati kewajiban, menyetor hasil panen kepada mereka tak pernah mencoba mengurangi atau mencuri bawonan atau ikatan panenan padi waktu habis menuai.”132

Relasi kekeluargaan terlihat ketika Ndoro Seten telah menganggap Atmokasan sebagai saudara tua dengan memanggil „kamas‟, sedangkan Sastrodarsono kini memanggilnya dengan „romo‟. Tradisi kekerabatan diturunkan pada Sastrodarsono. Ia mengangkat sepupunya Soenandar untuk masuk dalam keluarganya supaya mendapat pendidikan yang memadai dan mampu menjadi priyayi seperti dirinya. Sastrodarsono juga banyak berhubungan dengan warga desa Wanalawas dan membantu dengan

132Ibid.,

mendirikan sekolah bagi wong cilik, yang diserahkan pada Soenandar. Hal ini menunjukkan sifat kepriyayian Sastrodarsono yang bak hati dan suka membantu. Hal ini juga merupakan keharusan sebagai seorang priyayi.

Keluarga besar Sastrodarsono merupakan relasi yang terjalin dengan kuat antara individu yang satu dengan yang lainnya. Saling membantu dan menjaga kerukunan adalah pembagian kerja dalam keluarga menjadi hal yang biasa dilakukan oleh setiap individu dalam keluarga besar Sastrodarsono. Hal ini terbukti ketika masalah demi masalah menimpa keluarga besarnya, semua anggota keluarga ikut merasakan dan membantu menyelesaikan. Hal ini dapat dilihat pada beberapa kutipan di bawah sebagai berikut.

“Saya memenuhi janji saya untuk sowan ke Wanagalih sesudah menjalani latihan di Bogor. Saya datang dengan seluruh keluarga saya. Demikian juga dengan adik-adik saya yang juga datang bersama keluarga mereka. Alangkah rukun dan guyub keluarga besar kami sesungguhnya. Pada saat-saat yang kami anggap penting, apalagi yang kami nilai peka, kami selalu berkumpul di Wanagalih.”133

Berdasarkan kutipan di atas, nilai sosial yang yang terdapat di dalamnya adalah nilai kerukunan. Keluarga Sastrodarsono selalu berkumpul di Wanagalih dalam setiap keadaan yang penting. Hal itu sudah menjadi kebiasaan.

Nilai sosial yang berupa nilai kerukunan antarindividu dalam keluarga juga diwujudkan melalui pembagian kerja seorang istri dan suami agar seimbang dan selalu tercipta kerukunan dalam keluarga. Ngaisah meyakini hal ini dalam kehidupan rumah tangganya. Ngaisah adalah istri yang sangat setia dan berbakti kepada suaminya. Meskipun anak-mantunya suka menggodanya. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah sebagai berikut.

“Anak-anak mantu saya sering mengganggu saya dengan mengatakan bahwa saya terlalu memanjakan dan terlalu berbakti kepada bapak mereka. Saya heran dengan jalan pikiran anak sekarang. Masa begitu dikatakan memanjakan dan terlalu berbakti. Bukankah itu pembagian

133Ibid.,

kerja saja antara saya dan bapak mereka? Bapak sudah membanting tulang mencari nafkah, saya yang ada di garis belakang mengurus semuanya agar dalam keadaan beres. Kalau sampai tidak beres, bapake tole bingung dan marah-marah, bisa kacau dia bekerja.”134 Nilai kerukunan juga ditunjukkan oleh seluruh keluarga yang hadir dalam acara pertunangan Lantip dan Halimah. Harimurti terharu dengan ikatan keluarga besar Sastrodarsono yang masih kuat. Meskipun Ngaisah sudah tidak ada dan Sastrodarsono tidak dapat hadir, ternyata kerukunan keluarganya masih dapat dibanggakan.Hal ini terdapat pada kutipan berikut, “…. Kemudian saya terharu karena melihat ikatan keluarga besar Sastrodarsono yang ternyata masih kukuh. Kerukunan keluarga kami ternyata masih dapat dibanggakan dan diandalkan.”135

Selain nilai kerukunan antarindividu dalam keluarga, hubungan individu dengan keluarga juga terdapat nilai pengayoman yang biasanya dilakukan oleh anggota keluarga yang lebih tua, seperti orang tua ke anak-anaknya. Hal inilah yang dilakukan Ngaisah dan Sastrodarsono dalam membantu menyelesaikan masalah rumah tangga anak dan menantunya.

“Begini saja, Pak. Saya coba dulu ngobrol dengan dia, ya? Nanti pelan-pelan kita luruskan hatinya. Kalau Bapak yang bicara sekarang, saya khawatir anakmu malah jadi mau manja.”

Yo, wis. Terserah kamu, Bune. Cuma hati-hati-hati, lho, Bune. Kita usahakan agar ikan bisa kita tangkap tanpa harus membuat airnya keruh. Kecekel iwake, ojo nganti butek banyune, Bune.”

“Begitulah kami putuskan. Saya mendapat tugas untuk melumerkan hati Soemini yang keras itu.”136

Dari beberapa kutipan di atas, nilai sosial yang terdapat di dalamnya adalah nilai pengayoman. Masih melalui pembagian kerja, nilai pengayoman ditunjukan oleh Ngaisah dan Sastrodarsono sebagai orang tua untuk menyelesaikan konflik yang sedang dialami anak perempuannya, Soemini.

134 Ibid., h. 230. 135 Ibid., h. 301. 136 Ibid., h. 238.

Soemini terkenal dengan sifat keras kepalanya. Oleh karena itu, Ngaisah dan berusaha dengan hati-hati bicara dan menasihati untuk meluluhkan hatinya agar masalah dengan suaminya cepat selesai.

“Asal kau sabar dan pintar. Kau jangan terus larut dalam kemarahan. Saya perhitungkan suamimu hari-hari ini mungkin akan datang menyusulmu. Setidaknya akan berkirim surat. Kalau surat atau suamimu itu datang, jangan kau menghadapi dia dengan hati yang keras atau angkuh. Kau terima dia dengan baik.”

“Lho, ini buat lekernya semua to, Nduk. Nah, kalau sudah sampai di Jakarta, kau kurangi dulu pergi ke luar rumah buat organisasi. Kau urusi suami dan anak-anakmu dengan baik, meskipun tidak diurusi pun mereka juga tidak apa-apa sesungguhnya. Tapi tunjukkan kalau kau bisa memegang mereka semua. Nah, nanti pelan-pelan kau bisa desak suamimu supaya mundur dari sangres itu. Mungkin tanpa kau desak pun dia akan mundur sendiri. Wisto, percayalah sama ibumu.”137 Setelah berbicara dengan hati-hati terhadap anak perempuannya itu, ia mulai memberi nasihat. Nilai pengayoman ditunjukkan oleh Ngaisah melalui nasihat-nasihatnya. Sebagai orang tua terhadap anak dalam sebuah keluarga.

Setelah masalah Soemini selasai, giliran Noegroho dan keluarga yang mengalami musibah. Anak perempuannya, Marie hamil diluar nikah. Sebagai ibu, Sus sangat frustasi hingga ia pergi ke Wanagalih, mencurahkan isi hatinya kepada Sastrodarsono dan Ngaisah. Awalnya mereka pun kaget dan menyesalkan apa yang menimpa cucunya. Akan tetapi, pada akhirnya mereka menerima dan memberikan nasihat kepada Sus agar pulang saja ke Jakarta dengan Lantip karena Noegroho masih bertugas di luar. Lantip diberi amanat untuk menyelesaikan masalah Marie dengan Maridjan. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah sebagai berikut.

“Hari berikutnya kami melanjutkan perbincangan kami dengan Sus. Kami menganjurkan agar Sus pulang kembali ke Jakarta dengan diantar Lantip. Maksudnya di samping Lantip dapat ikut menjaga Sus sementara suaminya belum datang, juga untuk segera menghubungi

137

Maridjan dan mengatur segala sesuatunya. Sus menurut dan kami segera memanggil Lantip dari Yogya.”138

Sastrodarsono mengangkat Lantip, anak Ngadiyem, sebagai bagian dari keluarganya dan memberikan pendidikan yang layak untuk merekatkan kembali relasi tersebut. Di lain pihak, Lantip merasa berterima kasih atas kebaikan Sastrodarsono yang telah mengangkatnya sebagai bagian dari keluarga priyayi. Lantip bersumpah pada dirinya sendiri untuk mengabdi pada keluarga Sastrodarsono. Pengabdiannya pada keluarga Sastrodarsono dibuktikan dengan sikap „kepahlawanan‟ dalam membantu menyelesaikan konflik dalam keluarga.

Nilai sosial yang ditunjukkan oleh Noegroho adalah nilai religiositas. Bagaimana ia tidak berkeberatan melakukan saikere waktu pendudukan Jepang. Baginya itu soal keyakinan dalam hati. Karena ia sekeluarga tetap sholat dan Tuhan yang ia yakini dalam hati adalah Allah, bukan matahari. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut, “Dan soal keberatan harus membungkuk kepada dewa matahari, bukankah kalau itu tidak kita masukkan dalam hati kita tidak berarti apa-apa? Dan kami serumah tetap sholat seperti biasa. Buat kami Tuhan itu tetap Allah dan Muhammad tetap Rasulullah. Jadi, membungkuk ya membungkuk, salat ya salat.”139

Setelah satu per satu masalah anak mantunya selesai, kesehatan Ngaisah mengalami kemunduran. Akan tetapi, ia bersyukur masih diberi kesempatan di usianya yang sudah tidak muda lagi. Hal ini terdapat pada kutipan di bawah sebagai berikut.

“Saya sadar bahwa umur tujuh puluh tahun adalah umur yang cukup panjang yang dianugerahkan Gusti Allah kepada saya. Saya hanya bisa bersyukur dibolehkan mengenyam hingga sejauh ini. Juga lebih-lebih ikut bersyukur melihat kesehatan dan kegesitan tubuh bapake tole.”

138

Ibid., h. 253.

139

“Saya harus lebih rendah hati. Peringatan dokter untuk orang yang setua saya, saya artikan bahwa hari sungguhlah amat senja. Saya ikhlas. Saya malah merasa bersyukur masih mendapat kesempatan untuk ikut memecahkan persoalan berat anak-anak saya.”140

Nilai sosial yang terdapat dalam kutipan di atas adalah nilai keikhlasan. Sebagai orang tua sekaligus nenek, Ngaisah sangat ikhlas dengan kemunduran kesehatan yang ia alami karena masalah-masalah dalam keluarganya. Ia malah bersyukur masih diberi kesempatan membantu keluarganya di usianya yang sudah tua. Hal ini menunjukkan bahwa Ngaisah adalah perempuan yang ikhlas dan pandai bersyukur.

Nilai keikhlasan pun ditunjukkan oleh tokoh Lantip. Ia begitu rendah hati dengan tidak memikirkan perlakuan kedua sepupunya (Marie dan Tommi). Ia menerima kenyataan sejak keluarga Hardojo mengambilnya sebagai anak. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut, “…. Bagi mereka mungkin masih saja sulit untuk menerima saya sebagai sepupu mereka. Saya tidak terlalu memikirkan itu dalam-dalam. Saya terima itu sebagai suatu kenyataan yang sejak semula saya diambil oleh Bapak Hardojo.”141

Sekali lagi Lantip menunjukkan nilai keikhlasannya dalam membantu dan menjalankan amanah Embah yang sangat ia kasihi. Itulah nilai sosial berwujud nilai keikhlasan dalam hubungan individu dengan keluarga. Hal ini terdapat pada kutipan berikut, “Saya mengangguk. Tetapi, di dalam hati kecewa juga melihat sikap Pakde itu. Kok hanya sampai begitu jauh rasa sembodo yang dimilikinya. Tetapi, saya ikhlas melaksanakan tugas ke Wonosari itu. Demi amanah Embah Putri dan Embah Kakung.”142

“Saya bertekad untuk kembali lagi ke Wanagalih begitu tugas saya untuk membantu membereskan urusan Marie dan Maridjan selesai. Saya ingin dekat-dekat beliau dan ikut menjaga beliau. Sokur-sokur

140 Ibid., h. 255. 141 Ibid., h. 257. 142 Ibid., h. 272.

kalau kehadiran saya itu dapat mengembalikan kegembiraan dan kegairahan beliau.”143

Nilai sosial yang terdapat pada kutipan di atas adalah nilai kasih sayang. Lantip yang sangat sayang kepada Embah Putrinya, Ngaisah, merasa ada yang berbeda dengan Embah Putrinya setelah menyelesaikan masalah yang menimpa anak mantunya. Ngaisah terlihat mengalami kemunduran dalamkesehatannya. Ia tidak terlihat gembira seperti biasanya. Maka dari itu, Lantip yang diutus Embah Putri dan Embah Kakung untuk membantu keluarga Paklik Noegroho berniat akan menjaga Ngaisah setelah urusannya selesai. Hal itu adalah wujud kasih sayang seorang cucu kepada neneknya sebagai bagian dari keluarga.

Selain Lantip, Harimurti juga merupakan cucu yang sangat sayang kepada kedua Embahnya. Hal ini terlihat pada kutipan di atas. Terdapat nilai sosial yang ditunjukkan oleh Hari sebagai seorang cucu, yaitu nilai kasih sayang. Ketika Ngaisah meninggal dunia, ia dengan kesediaannya mau tetap tinggal di Wanagalih menemani Sastrodarsono yang begitu terpukul atas kematian istri yang sangat dicintainya itu. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah sebagai berikut.

“Kesediaan Gus Hari untuk ikut tinggal bersama ibu dan buliknya mengharukan pakde dan paklik-nya dan sudah tentu juga bulik, bude, dan ibunya. Saya sendiri sesungguhnya tidak terkejut. Dan mestinya juga Bapak dan Ibu. Kami tahu betul sifat Gus Hari, momongan saya itu. Orangnya penuh belas dan gampang merasa trenyuh kepada penderitaan orang lain, apalagi ini adalah Embah Putrinya yang disayanginya.”144

3. Relasi Individu dengan Lembaga

Hubungan ini menjadi sangat penting bagi keutuhan tatanan perilaku manusia dalam kebersamaan hidup. Interaksi sosial antara individu dengan

143

Ibid., h. 257.

144

lembaga sosial terjadi melalui proses sosialisasi. Lembaga dapat mengintegrasikan norma-norma dan nilai-nilai yang menjadi patokan hidup dalam bermasyarakat.

“Saya sungguh tidak mengerti lagi cara berpikir priyayi muda zaman sekarang. Mereka begitu pasti dan berani dengan pikiran-pikiran mereka. Apakah lagi-lagi ini pengaruh sekolah Belanda? Untunglah anak-anak saya itu, meskipun mulai seenaknya mengemukakan pikiran mereka kepada orang tua, masih terpelihara tata kramanya. Mereka tidak kurang ajar kepada kami, masih sopan, dan bahasa Jawanya masih lengkap, itu membesarkan hati saya….”145

Nilai sosial yang ditunjukkan pada kutipan di atas adalah nilai kesopanan. Bagaimana seorang priyayi muda seperti Noegroho, Hardojo, dan Soemini yang berpendidikan tinggi, mengeyam pendidikan di sekolah Belanda masih tetap menjaga nilai-nilai kesopanan terhadap orang tua. Bahkan mereka masih menjaga bahasa yang menjadi ciri khas dalam hidup masyarakatnya, yaitu bahasa Jawa.

Jawa adalah sebuah pulau yang berada di wilayah Indonesia. Secara umum pulau jawa dibagi menjadi tiga wilayah yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Tetapi dalam masyarakat berkembang perspektif bahwa yang dinamakan “Jawa” adalah wilayah Jawa Tengah (Yogyakarta) dan Jawa Timur, sedangkan Jawa Barat lebih idendik dengan sebutan sunda. Perspektif demikan tidak serta merta muncul begitu saja dalam masyarakat tanpa ada hal-hal yang melatarbelakangi. Bahasa tentu menjadi salah satu faktor utama karena sebagai sarana komunikasi, tetapi lebih jauh lagi bahasa juga merupakan faktor utama pendukung kebudayaan. Setiap daerah pasti mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda. Kebudayaan merupakan cirri khas dari daerah tersebut. Salah satunya adalah kebudayaan Jawa.

Budaya Jawa dikenal sebagai budaya yang menjunjung tinggi tata krama dan unggah-ungguh. Jawa kaya akan simbol-simbol yang filosofis

Dokumen terkait