• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.4.1 Analisis Kesesuaian Kawasan Budidaya Rumput Laut

Analisis kesesuaian lahan kawasan pesisir Kabupaten Bantaeng dikhususkan pada kesesuaian lahan bagi peruntukan budidaya rumput laut jenis

K.alvarezii melalui analisis kondisi lingkungan perairan. Parameter lingkungan perairan merupakan faktor pembatas dan menjadi pertimbangan utama dalam penentuan tingkat kesesuaian lahan bagi budidaya rumput laut dengan metode

longline, seperti di tampilkan pada Tabel 6 berikut ini.

Tabel 6 Matriks kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut metode longline. No. Parameter

Kriteria Kesesuaian

Sangat Sesuai Sesuai Bersyarat Tidak sesuai 1. Kec. Arus (m/det.) 0.2-0.3 0.10-<0.20;

>0.30-≤0.40

<.10; >0.40 2. Substrat dasar Pasir,pecahan

karang

Pasir sedikit berlumpur

berlumpur 3. Salinitas (‰) 28-34 25-<28; >34-≤35 <25; >35 4. Keterlindungan Terlindung Cukup terlindung terbuka 5. Tinggi gelombang (m) 0.20-0.30 0.10-<0.20; >0.30-≤0.40 <0.10- ≥0.40 6. Suhu (0C) 28-30 26-<28; >34-≤35 <26; >35 7. Kecerahan (%) 80-100 60- <80 <60 8. Derajat keasaman 7.5-8.5 6.5-<7.5 <6.5->8.5 9. Kedalaman (m) 2-10 1-<2; >10-≤30 <1; >30 Sumber: Modifikasi dari Puslitbangkan (1991); Hidayat (1994); Sulistijo (1996);

Aslam (1998); Effendi (2004); FAO (2008).

Secara umum terdapat lima tahapan dalam melakukan analisis kesesuaian lahan, yaitu: 1). Penetapan persyaratan (parameter dan kriteria), pembobotan dan skoring. Parameter yang menentukan diberikan bobot terbesar sedangkan kriteria

yang sesuai diberikan skor tertinggi; 2). Penghitungan nilai dengan skor (S) dijumlah secara keseluruhan sehingga didapat total nilai bobot-skor maksimal dikurangi total nilai bobot-skor minimal, kemudian dibagi tiga kategori skor; 3). Pembagian kelas lahan dan nilainya. Pada penelitian ini kelas kesesuaian lahan akan dibedakan pada tiga tingkatan kelas dan didefinisikan sebagai berikut:

Kelas S1 : Sangat sesuai. Lahan atau kawasan yang sangat sesuai untuk budidaya rumput laut tanpa adanya faktor pembatas yang berarti, dimana parameter-parameter fisika kimia dan biologi perairan memenuhi persyaratan atau ketentuan yang ideal, atau memiliki faktor pembatas yang bersifat minor dan tidak akan menurunkan produktivitasnya secara nyata terhadap kegiatan atau produksi hasil. Lahan kelas S1 memiliki nilai sebesar 99-135 dari nilai maksimum peruntukan budidaya rumput laut.

Kelas S2 : Sesuai Bersyarat. Lahan atau kawasan mempunyai pembatas (Penghambat) yang serius, pembatas tersebut akan mengurangi aktivitas/produktivitas rumput laut dan keuntungan serta meningkatkan masukan yang diperlukan dimana parameter fisika, kimia dan biologi perairan tidak terlalu memenuhi persyaratan / ketentuan yang ideal. Di dalam pengelolaannya diperlukan tambahan masukan (input) teknologi dan tingkatan perlakuan. Lahan kelas S2 memiliki nilai sebesar 62-98 dari nilai maksimum peruntukan budidaya rumput laut.

Kelas S3 : Tidak Sesuai. Lahan atau kawasan yang tidak sesuai diusahakan untuk budidaya rumput laut yang lestari karena mempunyai faktor pembatas yang berat/bersifat permanen dimana parameter tidak memenuhi persyaratan/ketentuan yang ideal. Lahan kelas S3 memiliki nilai di bawah 61 dari nilai maksimum peruntukan budidaya rumput laut.

Sesuai dengan faktor pembatas dan tingkat keberhasilan yang dimiliki oleh masing-masing kelas lahan, semakin kecil faktor pembatas dan semakin besar peluang keberhasilan atau produksi suatu lahan, semakin besar pula nilainya; 4). Membandingkan nilai lahan dengan nilai masing-masing kelas lahan. Pada

cara ini, kelas kesesuaian lahan untuk penggunaan budidaya rumput laut diperoleh; 5). Pemetaan kesesuaian lahan yang dilakukan dengan program spasial Arc View 3.3. untuk memetakan kawasan ketiga kelas lahan tersebut dilakukan operasi tumpang susun (overlaying) dari setiap tema yang dipakai sebagai kriteria. Hasil perkalian antara bobot dan skor yang diterima oleh masing-masing coverage

tersebut disesuaikan berdasarkan tingkat kepentingannya terhadap penentuan kesesuaian budidaya rumput laut. Hasil akhir dari analisa SIG melalui pendekatan indeks overlay model adalah diperolehnya rangking (urutan) kelas kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut tersebut.

3.4.2 Analisis Daya Dukung Kawasan untuk Budidaya Rumput Laut

Analisis daya dukung perairan untuk pengelolaan budidaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan kapasitas perairan dan pendekatan kapasitas asimilasi N.

Pertama; pendekatan kapasitas lahan sesuai dengan metode budidaya yang

diterapkan. Parameter yang menjadi acuan dalam penentuan daya dukung lahan tersebut menurut Rauf (2007), adalah:

a. Luas perairan budidaya rumput laut yang sesuai

Luas perairan budidaya rumput laut yang sesuai dapat diperoleh dari hasil analisis kesesuaian dengan menggunakan SIG.

b. Kapasitas perairan

Kapasitas perairan diartikan sebagai luasan lahan perairan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya rumput laut secara terus menerus yang secara sosial tidak menimbulkan konflik serta secara ekologis tidak mengganggu ekosistem pesisir. Besarnya kapasitas lahan yang ditetapkan dalam studi ini dianalisis dengan formula sebagai beriut:

Keterangan:

KK = Kapasitas Perairan ℓ1 = lebar unit budidaya

ℓ2 = lebar yang sesuai untuk satu unit budidaya p1 = panjang unit budidaya

Gambar 8 Skema unit budidaya rumput laut.

Kapasitas perairan ditentukan dari selisih antara luas perairan yang sesuai dengan luas unit budidaya dibagi dengan luas perairan yang sesuai kali 100%. Luas unit budidaya (L1) ditentukan berdasarkan luas rata-rata unit budidaya yang ada di Kab. Bantaeng, yaitu 45x45 m. Luas yang sesuai untuk satu unit budidaya (L2) ditentukan berdasarkan hasil survey lapang. Daerah yang berwarna biru merupakan jarak antara unit budidaya yang diasumsikan 10 m yaitu 2 x lebar maksimal badan perahu dengan penyeimbangnya yang dipakai petani rumput laut dalam melakukan aktivitasnya di Kab. Bantaeng.

c. Luasan unit budidaya

Luasan unit budidaya adalah besaran yang menunjukkan luasan dari satu unit budidaya rumput laut dengan setiap luasan unit budidaya berbeda-beda tergantung dari metode budidaya yang diterapkan. Dalam kajian ini luasan satu unit budidaya didasarkan pada metode long line dengan ukuran 45 m x 45 m = 2 025 m2

d. Daya dukung perairan

atau 0.2025 ha.

Daya dukung perairan menunjukkan kemampuan maksimal lahan untuk mendukung aktivitas budidaya secara terus menerus tanpa menimbulkan penurunan kualitas, baik lingkungan biofisik maupun sosial. Berdasarkan pendekatan tersebut diatas maka daya dukung perairan untuk budidaya rumput laut dapat dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut:

P2 ℓ2 L2 10m p1 ℓ1 L1 DDPRL = LPS x KP

Keterangan: DDPRL

LPS = Luas perairan yang sesuai (ha)

= Daya dukung perairan budidaya rumput laut (ha) KP = Kapasitas perairan (ha)

Perhitungan berapa jumlah unit budidaya yang dapat didukung oleh perairan berdasarkan daya dukung yang diperoleh, digunakan persamaan, sebagai berikut:

JUBRL

Keterangan:

= DDK/LUB JUBRL

DDP = daya dukung perairan (ha)

= jumlah unit budidaya rumput laut (unit) LUB = luas unit budidaya (unit/ha)

Kedua; pendekatan kapasitas asimilasi N perairan dengan rumus: (N BM x Vtot x FT) x 10

Keterangan :

-6

NBM

V

= N Baku Mutu (Kep.Men LH 2004) : 1.0 mg/l

tot = Vps

FT = 1/D, D=koefisien flushing x2

3.4.3 Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Rumput Laut

Analisis kesesuaian ekonomi dilakukan pada pemanfaatan existing sumberdaya di wilayah pesisir. Penekanan tujuan analisis ini pada kelayakan usaha yang dilakukan, meliputi penentuan biaya investasi, biaya operasional, dan penerimaan. Analisis ini menggunakan:

- Benefit Cost Ratio (R/C),

Analisis ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana usaha budidaya rumput laut tersebut menguntungkan, dengan menggunakan rumus :

R/C = TR/TC Keterangan:

TR = Total penerimaan usaha (Rp/ha/tahun)

TC = Total biaya usaha (Rp/ha/tahun) Kriteria pengambilan keputusannya adalah :

R/C > 1, usaha budidaya menguntungkan

R/C = 1, usaha budidaya impas (break even point) R/C < 1, usaha budidaya rugi.

Selanjutnya, untuk menetukan kelayakan pengembangan usaha budidaya rumput laut dilakukan penghitungan besar penerimaan (benefit) dan besarnya biaya (cost) yang dihitung berdasarkan nilai kini (present value). Kriteria kelayakan yang digunakan adalah:

- Net Present Value (NPV)

NPV adalah nilai kini dari keuntungan bersih yang akan diperoleh pada masa yang akan datang, dengan menghitung selisih antara manfaat dan biaya kini. Menggunakan persamaan sebagai berikut :

n 1 = t t t t i) + (1 C - B = NPV Keterangan : Bt C

= benefit kotor tahunan, selama t tahun.

t

1/(1+i)

= biaya kotor tahunan, selama t tahun.

t

i = tingkat suku bunga bank (Discount rate) = discount factor (DF)

n = Umur ekonomis dari unit usaha r = discount rate

t = 0, 1, 2, 3, …… tahun ke n

Kriteria pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut: NPV > 0 ; budidaya rumput laut layak diusahakan

NPV = 0 ; budidaya rumput laut impas (break even point) NPV < 0 ; budidaya rumput laut tidak layak diusahakan 3.4.4 Optimasi Pengelolaan Sumberdaya Rumput Laut

Analisis optimasi pemanfaatan wilayah pesisir Kabupaten Bantaeng untuk pengembangan budidaya rumput laut dilakukan dengan pendekatan sistem dinamik. Model sistem dinamik ini dibangun dan dikembangkan berdasarkan pada data–data empiris sistem teknologi budidaya yang ada, faktor-faktor ekologis perairan yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut, faktor-faktor ekonomi dan sosial yang mempengaruhi pengembangan rumput laut, faktor kelembagaan. Model sistem dinamik ini digunakan untuk optimasi pengelolaan sumberdaya rumput laut berbasis kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan di Kabupaten Bantaeng.

Metode analisis data dalam model sistem dinamik optimasi pengelolaan sumberdaya rumput laut terdiri atas analisis kebutuhan, formulasi masalah,

identifikasi sistem melalui diagram causal loop dan diagram input-output, simulasi model, dan verifikasi dan validasi model.

a) Analisis Kebutuhan

Analisis kebutuhan bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan setiap pelaku (stakeholders) yang terlibat dalam pemanfataan rumput laut. Berdasarkan observasi dilapangan, stakeholders yang terlibat seperti terlihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Analisis kebutuhan stakeholders dalam pengelolaan sumberdaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng

No. Stakeholders Kebutuhan 1. Petani/Masyarakat 1.1 ... 1.2 ... 1.3 ... 2. Pemerintah 2.1 ... 2.2 ... 2.3 ... 3. Pedagang pengumpul/ 3.1 ... 3.2 ... 3.3 ... 4. Pedagang besar /Pengusaha 4.1 ...

4.2 ... 4.3 ... 5. Lembaga keuangan 5.1 ... 5.2 ... 5.3 ... 6. Industri pengolahan 6.1 ... 6.2 ... 6.3 ... 7. Penyedia jasa transportasi 7.1 ... 7.2 ... 7.3 ... 8. LSM 8.1 ... 8.2 ... 8.3 ... b) Formulasi Masalah

Formulasi masalah merupakan identifikasi dari kebutuhan stakeholders yang kontradiktif, yang dapat menyebabkan konflik pada pencapaian tujuan (Hartrisari, 2007). Contoh kebutuhan stakeholders yang kontradiktif sehingga bisa menimbulkan konflik adalah masalah harga komoditas rumput laut. Petani rumput

laut menginginkan harga yang tinggi sementara disisi lain, pedagang pengumpul/pengusaha menginginkan harga yanng rendah.

c) Identifikasi Sistem

Identifikasi sistem merupakan suatu rantai hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan masalah yang harus dipecahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Identifikasi sistem bertujuan untuk memberikan gambaran tentang hubungan antara faktor-faktor yang saling mempengaruhi dalam kaitannya dengan pembentukan suatu sistem.

Hubungan antara faktor digambarkan dalam bentuk diagram lingkar sebab-akibat (causal loop) seperti terlihat pada Gambar 9, kemudian dilanjutkan dengan interpretasi diagram lingkar ke dalam konsep kotak gelap (black box) atau diagram input-output (Gambar 10). Dalam menyusun black box, jenis informasi dikategorikan kedalam tiga golongan yaitu peubah input, peubah output dan parameter-parameter yang membatasi struktur sistem.

salinitas kecerahan kecepatan

luas lahan yang sesuai daya dukung pertumbuhan RL produksi mutu bibit berat awal bibit kualitas RL musim pemeliharaan lama pemeliharaan jarak tanam kontribusi terhadap PAD penerimaan petani RL harga RL pasar domestik pasar ekspor kontinyuitas tingkat pendidikan status kesehatan penyerapan

tenaga kerja jumlah RT pekerjaan alternatif petani RL pemberdayaan masyarakat + + + + +

luas unit usaha + + + ++ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + kuantitas RL + + + + + + + + Ket:

Sub model ekologi (daya dukung)

Sub model ekonomi Sub model sosial

Sub model teknologi

+

Gambar 9 Diagam causal loop optimasi pengelolaan sumberdaya rumput laut di Kab. Bantaeng.

Gambar 10 Diagram input-output (Hartrisari 2007).

d) Simulasi Model

Simulasi model merupakan peniruan perilaku dari suatu proses atau kecenderungan yang bertujuan untuk memahami gejala atau proses, membuat analisis, dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut di masa depan. Tahapan-tahapan dalam simulasi model adalah: penyusunan konsep, pembentukan model, simulasi, dan validasi hasil simulasi.

e) Verifikasi dan Validasi Model

Uji validasi perlu dilakukan untuk memenuhi kaidah keilmuan pada model sistem. Validasi merupakan penilaian keobjektifan dari status pekerjaan ilmiah. Validasi model akan menggambarkan sejauh mana status model dapat menirukan fakta. Tahapan-tahapan pendekatan sistem secara sederhana dapat dilihat pada Gambar 11.

Umpan Balik Input Terkendali

• Jumlah pop. manusia

• Limbah domestik

• Masa tanam

• Grazing oleh ikan

Output yang Dibutuhkan

•Kualitas RL baik

•Produksi RL kontinyu

•Kesejahteraan masy. meningkat

•Ketrampilan dan wawasan nelayan RL meningkat

Output yg tidak dibutuhkan

• Konflik antar stakeholder

• Produksi RL tidak kontinyu

• Kualitas produksi RL menurun Pengelolaan Budidaya RL Input Lingkungan •Perda •Aturan lokal •UU No. 27/2007

Input Tak Terkendali

•Pencemaran non-point source

•Arus dan gelombang

Gambar 11 Tahapan analisa sistem (Eriyatno, 1998).

f) Analisis Prospektif

Analisis prospektif dilakukan untuk menghasilkan skenario pengelolaan sumberdaya rumput laut yang optimal dengan menetukan faktor yang dominan yang berpengaruh terhadap kinerja sistem. Pengaruh antar faktor diberikan skor dengan menggunakan pedoman penilaian analisis perospektif seperti pada Tabel 8 di bawah ini.

Tabel 8 Pedoman penilaian prospektif dalam pengelolaan sumberdaya rumput laut yang optimal di Kabupaten Bantaeng

Skor Keterangan 0 Tidak ada pengaruh 1 Berpengaruh kecil 2 Berpengaruh sedang 3 Berpengaruh sangat kuat

Adapun pedoman pengisian pengaruh antar faktor berdasarkan pedoman penilaian dalam analisis prospektif adalah sebagai berikut:

1. Apakah faktor tersebut tidak ada pengaruhnya terhadap faktor lain. Jika ya, beri nilai 0.

2. Jika tidak, apakah pengaruhnya sangat kuat. Jika ya, beri nilai 3. 3. Jika tidak, baru dilihat apakah berpengaruh kecil = 1, atau sedang = 2.

Pengaruh antar faktor, selanjutnya disusun dengan menggunakan matriks seperti pada Tabel 9 di bawah ini.

Tabel 9 Pengaruh antar faktor dalam optimasi pengelolaan sumberdaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng.

Dari terhadap A B C D E F A B C D E F

Kemungkinan-kemungkinan masa depan yang terbaik dapat ditentukan berdasarkan hasil penentuan elemen kunci masa depan dari berbagai faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap optimasi pengelolaan sumberdaya rumput laut

yang menuntut untuk segera dilakukan tindakan. Adapun cara menentukan faktor kunci, dapat dilihat seperti Gambar 12, di bawah ini.

Gambar 12 Penentuan faktor kunci optimasi pengelolaan sumberdaya rumput lautdi Kabupaten Bantaeng.

Hasil analisis berbagai faktor seperti pada Gambar 12 di atas, menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berada pada kwadran I berupa INPUT dan pada kwadran II berupa STAKES, dapat dijadikan acuan dalam pengambilan tindakan untuk optimasi pengelolaan sumberdaya rumput laut di masa yang akan datang. Berdasarkan faktor dominan yang berpengaruh terhadap sistem maka dibangun keadaan yang mungkin terjadi di masa depan dari faktor-faktor tersebutsebagai alternatif penyusunan skenario pengelolaan sumberdaya rumput laut yang optimal, seperti disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10 Keadaan yang mungkin terjadi di masa depan dari faktor-faktor

dominan pada optimasi pengelolaan sumberdaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng. Faktor Keadaan 1A 1B 1C Faktor 1 2A 2B 2C Faktor 2 3A 3B 3C Faktor 3 nA nB nC Faktor n P e n g a r u h Ketergantungan Faktor penentu INPUT Faktor bebas UNUSED Faktor terikat OUTPUT Faktor penghubung STAKES

Berdasarkan Tabel 10 di atas, maka dibangun skenario optimasi pengelolaan sumberdaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng. Selanjutnya disusun tiga skenario yang mungkin terjadi di masa depan seperti terlihat pada Tabe 11. Tabel 11 Hasil analisis skenario optimasi pengelolaan sumberdaya rumput laut di

Kabupaten Bantaeng

3.4.5 Analisis Keberlanjutan Usaha Rumput Laut

Análisis keberlanjutan usaha rumput laut dilakukan dengan pendekatan

multidimensional scaling (MDS) yang disebut RAP-RL yang merupakan

pengembangan dari metode RAPFISH yang digunakan untuk menilai status keberlanjutan perikanan tangkap (Pitcher dan Preikshot 2001; Kavanagh and Pitcher 2004). Analisis keberlanjutan dinyatakan dalam indeks keberlanjutan budidaya rumput laut (ikb-RL).

Analisis dilakukan melalui tiga tahapan:

1). Penentuan atribut usaha rumput laut yang mencakup lima dimensi, yaitu

dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan; Pada setiap dimensi dipilih beberapa atribut yang mewakili dimensi yang bersangkutan untuk selanjutnya digunakan sebagai indikator tingkat keberlanjutan dari dimensi tersebut. Atribut pada setiap dimensi memang sangat banyak tetapi untuk memudahkan analisis selanjutnya maka dipilih yang benar-benar secara kuat mewakili dimensi yang bersangkutan, tidak tumpang tindih dengan atribut yang lain dan mudah mendapatkan datanya.

Adapun atribut-atribut dari setiap dimensi yang akan digunakan untuk menilai keberlanjutan usaha rumput laut adalah sebagai berikut (diadaptasi dari Charles, 2001) :

(1) Dimensi Ekologi:

• Kualitas lingkungan

• Mutu bibit, dan pertumbuhan RL

No. Skenario Urutan faktor 1. Konservatif-pesimistik 1A-2A-3A-4A 2. Moderat-optimistik 1B-2B-3B-4B 3. Progresif-optimistik 1C-2C-3C-4C

• Luasan areal yang sesuai

(2) Dimensi Ekonomi:

• Keuntungan

• Pendapatan petani rumput laut

• Sistem permintaan Pasar (domestik dan ekspor),

(3) Dimensi Sosial budaya:

• Kualitas SDM (tingkat pendidikan)

• Penyerapan tenaga kerja,

• Sistem sosial dalam pengelolaan budidaya rumput laut (partisipasi keluarga dalam pemanfaatan sumberdaya,,jumlah RT petani rumput laut,)

• Alternatif usaha selain menanam rumput laut,

(4) Dimensi Teknologi:

• Tingkat penguasaan teknologi budidaya RL

• Ketersediaan informasi RL

• Ketersediaan industri pengolahan hasil RL

• Standarisasi mutu produk RL

• Dukungan sarana dan prasarana

(5) Dimensi Kelembagaan:

• Lembaga ekonomi/sosial yang ada,

• Adanya kelompok petani rumput laut

• Ketersediaan Perda/aturan adat/ kepercayaan/agama

• Adanya tokoh masyarakat yang disegani

• Zonasi peruntukan lahan/perairan

2). Penilaian setiap atribut dalam skala ordinasi berdasarkan kriteria

keberlanjutan setiap dimensi; berdasarkan pengamatan di lapangan ataupun data sekunder yang tersedia, yang sesuai dengan scientific judgment dari pembuat skor, maka setiap atribut diberikan skor yang mencerminkan keberlanjutan dari dimensi usaha rumput laut tersebut. Rentang skor berkisar antara 0-3 atau tergantung pada keadaan masing-masing atribut yang dimulai dari nilai buruk (0) sampai baik (3). Nilai ”buruk” mencerminkan kondisi yang paling tidak menguntungkan bagi pembangunan yang berkelanjutan. Sebaliknya nilai ”baik” mencerminkan kondisi yang paling menguntungkan bagi keberlanjutan pembangunan. Diantara dua ekstrim nilai ini terdapat satu atau lebih nilai antara, tergantung dari jumlah peringkat pada setiap atribut. Jumlah peringkat pada setiap atribut akan sangat ditentukan oleh tersedia tidaknya literatur yang dapat digunakan untuk menetukan jumlah peringkat.

Tabel 12 Kriteria pembuatan skor atribut usaha rumput laut yang berkelanjutan Atibut Skor Baik Buruk Keterangan

Dimensi Ekologi (bobot: 5) Kualitas lingkungan:

- Kecepatan arus

- Salinitas (ppt)

- Kedalaman air pada saat surut (m) - Substrat Dasar - Kecerahan (m) - keterlindungan 0; 1; 2 0; 1; 2 0; 1 0; 1; 2 0; 1; 2 0; 1 2 2 2 0 2 1 0 0 0 2 0 0

Mengacu pada Puslitbangkan, 1991. (0)tidak sesuai (< 20 m/dtk, atau >40 m/dtk) (1) sesuai (20-40 m/dtk) (0) tidak sesuai (<26; >35); (1) cukup sesuai (25-<28; >34-35); (2) sesuai (28-34) (0) tidak sesuai (<1; >30); (1)cukup sesuai (1-<2; >10- <30); (2) sesuai (2-10) (0) lumpur; (1) pasir sedikit berlumpur

(2) pasir, pecahan karang, karang, lamun. 0) tidak sesuai (<0.60); (1) cukup sesuai (0.60- <0.80); (2) sesuai (0.80-0.10) 0) tidak terlindung; (1) terlindung (Puslitbankan, 1991) Mutu bibit ketersediaan bibit 0; 1; 2 0; 1; 2; 3 2 3 0 0

(0) jelek ; (1) sedang ; (2) baik (0) tidak tersedia; (1) jarang tersedia; (2) sering tersedia ; (3) selalu tersedia

Pertumbuhan RL 0; 1; 2 2 0 (0) jelek ; (1) sedang ; (2) baik Luasan areal yang

sesuai untuk RL

0; 1; 2; 3 3 0 (0)<25%; (1) 26%-%50%; (2) 51%-75%; (3) >76% Dimensi Ekonomi (bobot: 3,5)

Kelayakan usaha 0; 1; 2 2 0 Mengacu pada... (0) tidak layak Net

B/C=<1

(1) impas; (2) untung Kontribusi terhadap

pendapatan asli daerah

0; 1 2 2 0 (0) rendah; (1) sedang; (2) tinggi

Pemasaran 0; 1; 2 2 0 (0) lokal; (1) nasional; (2) internasional (RAPFISH)

Atibut Skor Baik Buruk Keterangan Rantai pemasaran

rumput laut

0; 1; 2 2 0 (0) tidak efisien; (1)cukup efisien; (2) sangat efisien Dimensi Sosial (bobot: 3,5)

Kualitas SDM:

- Tingkat pendidikan 0; 1; 2; 3 3 0

(0) tidak tamat SD; (1) tamat SD-SMP; (2) tamat SMA; (3) S0-S1

jumlah rumah tangga petani rumput laut

0; 1; 2 2 0 (0) <1/3; (1) 1/3-2/3; (2) >2/3; dari total rumah tangga

komunitasnya (RAPFISH) Sistem sosial dalam

pengelolaan budidaya rumput laut:

kemandirian petani,

Partisipasi keluarga dalam usaha rumput laut 0; 1; 2 0; 1; 2 0;1; 2 2 2 2 0 0 0 (0) individual, (1) melibatkan keluarga; (2) kelompok (0) sangat tergantung; (1) sedang; (2) mandiri (0) tidak berpartisipasi; (1) sebagian berpartisipasi; (2) semua berpartisipasi Sosialisasi pekerjaan 0; 1; 2 2 0 (0) individual; (1) kerjasama keluarga; (2) kerjasama kelompok

Alternatif usaha selain

menanam rumput laut, 0; 1; 2; 3 3 0

(0) tidak ada; (1) sedikit; (2) sedang; (3) banyak;

(RAPFISH) Pemberdayaan

masyarakat

0; 1; 2 2 0 (0) tidak ada; (1) sedikit;(2) tinggi

Dimensi Kelembagaan (bobot: 1) Ada tidaknya

kelompok tani

0; 1 1 0 (0) tidak ada; (1) ada Zonasi peruntukan

lahan/perairan

0; 1; 2 2 0 (0) tidak ada; (1) ada tapi tidak lengkap (2) baik/lengkap (RAPFISH) Ketersediaan Perda 0; 1; 2 2 0 (0) tidak ada;

(1) ada tapi tidak lengkap (2) baik/lengkap (RAPFISH) Ketersediaan aturan

adat dan agama/kepercayaan

0; 1; 2 2 0 (0) tidak ada; (1) ada tapi tidak lengkap; (2)

baik/lengkap (RAPFISH) Adanya tokoh panutan

yang disegani

0; 1 1 0 (0) tidak ada; (1) ada Ada tidaknya lembaga

keuangan/lembaga sosial

0; 1 1 0 (0) tidak ada; (1) ada

(Diadaptasi dari Sulistijo (1996); Aslan (1998); Chales, AT (2001) dan Susilo, 2003).

3). Penyusunan indeks dan status keberlanjutan usaha rumput laut.

Nilai skor dari masing-masing atribut dianalisis secara multidimensional untuk menentukan satu atau beberapa titik yang mencerminkan posisi keberlanjutan usaha rumput laut yang dikaji relatif terhadap titik acuan yaitu titik baik (good) dan titik buruk (bad). Nilai indeks keberlanjutan setiap dimensi dapat dilhat pada Tabel 13.

Tabel 13 Nilai indeks keberlanjutan usaha rumput laut Status Keberlanjutan

Nilai Indeks Kategori

<50 buruk

50 – 75 baik

>75 Sangat baik Budiharsono (2002)

Melalui metode MDS, maka posisi titik keberlanjutan dapat divisualisasikan melalui sumbu horizontal dan sumbu vertikal. Dengan proses rotasi, maka posisi titik dapat divisualisasikan pada sumbu horizontal dengan nilai indeks keberlanjutan diberi nilai skor 0% (buruk) dan 100% (baik). Jika sistem yang dikaji mempunyai nilai indeks keberlanjutan ≥50% maka sistem dikatakan berkelanjutan dan jika nilai indeks ≤50% berarti tidak berkelanjutan. Ilustrasi hasil ordinasi nilai indeks berkelanjutan dapat dilihat pada Gambar 13, di bawah ini.

0% (buruk) 50% 100%(baik)

Gambar 13 Ilustrasi penentuan indeks keberlanjutan pengelolaan sumberdaya rumput laut

Nilai indeks keberlanjutan dapat divisualisasikan dalam bentuk diagram layang- layang (kite diagram) seperti pada gambar 14.

Gambar 14 Ilustrasi indeks keberlanjutan setiap dimensi usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng.

Análisis sensivitas dapat memperlihatkan atribut yang paling sensitif memberikan kontribusi terhadap indeks keberlanjutan pengelolaan usaha rumput laut dengan melihat perubahan bentuk root mean square (RMS) ordinasi pada sumbu x. Semakin besar perubahan

Dalam análisis tersebut akan terdapat pengaruh galat yang dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kesalahan dalam pembuatan skor karena pemahaman terhadap atribut atau kondisi lapangan yang belum sempurna, variasi skor akibat perbedaan opini atau penilaian peneliti, proses análisis MDS yang berulang-ulang, kesalahan pemasukan data atau ada data yang hilang, dan tingginya nilai stres (nilai stres dapat diterima jika nilainya <25% (Kavangh 2001; Fauzi dan Anna 2002). Untuk menganalisis nilai galat pada pendugaan nilai ordinasi optimasi pemanfaatan sumberdaya rumput laut digunakan análisis Monte Carlo.

nilai RMS, maka semakin sensitif atribut tersebut dalam pengelolaan usaha rumput laut.

4.1 Aspek Lingkungan (Ekologi)

Dokumen terkait