• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Panjang Batang Egrek

Gambar 22 Detail dimensi dodos (a) panjang per batang 1 meter (b) panjang per batang 1.5 meter

B. Analisis Panjang Batang Egrek

Proses pemotongan tandan atau pelepah menggunakan egrek prinsip kerjanya adalah dengan tarikan. Semakin besar tarikan makan semikin cepat terpotongnya tandan atau pelepah. Tetapi dengan kuatnya tarikan yang dilakukan oleh pemanen akan mengeluarkan energi yang cukup besar. Menurut Rohmert (1966) dalam Kroemer dan Grandjean (1997) untuk menghasilkan tarikan yang maksimum tangan (lengan bawah dan bahu) harus dalam keadaan vertikal keatas. Sehingga membuat selang gerak dari tangan berada pada zona bahaya, maka perlu dihindari. Pada analisis ini dilakukan simulasi gerak supaya bagian tubuh khususnya bahu, lengan bawah, dan leher tidak berada dalam zona bahaya dalam SAG. Parameter yang perlu diketahui untuk melakukan analisis ini sedikit berbeda dengan dodos, yaitu adanya perubahan posisi pemanen sebesar 30o-45o relatif terhadap posisi tandan dan pelepah. Pergeseran posisi ini mengacu pada penelitian Dewi (2013) yang menyatakan posisi ideal pemanen sebesar 30o-45o relatif terhadap posisi tandan dan pelapah yang akan dipotong.

Menurut Dewi (2013) jarak aman untuk penggunaan egrek pada tinggi target potong maksimal tiga meter adalah 1,5 meter, untuk ketinggian maksimal 6 meter adalah 2,5 meter, untuk ketinggian maksimal 12 meter dan 18 meter masing-masing sebesar 5,5 meter dan 8,5 meter. Jarak aman yang dimaksud adalah jarak yang terbentuk ketika gerakan tubuh pemanen terhindar dari zona bahaya dalam SAG. Jarak antara pohon satu dengan pohon lain sebesar 9 meter, sehingga dengan jarak maksimal 8.5 meter masih dapat digunakan dengan asumsi

pemanen menyesuaikan posisi terhadap pohon satu dengan pohon lain serta menyesuaikan jika terdapat area gawangan mati atau terdapat semak-semak. Berangkat dari parameter yang sudah ada kemudian dilakukan simulasi menggunakan model antropometri pemanen persentil 5. Seperti simulasi dengan dodos, dilakukan pengambilan simulasi dalam kondisi semaksimal mungkin tetapi untuk selang gerak tubuh tidak sampai dalam zona bahaya dalam SAG.

Simulasi dengan menggunakan alat egrek ini dilakukan menggunakan model tiga dimensi. Hal ini dikarenakan untuk mendapatkan kondisi idal pemanen dalam melakukan pemotongan tandan dan pelepah kelapa sawit. Pada simulasi ini memakai pergeseran sebesar 45o dikarenakan untuk mencari kondisi semaksimum mungkin dengan memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan pemanen.

Simulasi hanya dilakukan pada posisi awal proses pemotongan. Hal ini dikarenakan posisi awal merupakan kondisi maksimum selang gerak tubuh pada saat pemotongan. Selain itu kondisi awal sebagai persiapan sebelum melakukan tarikan pada egrek sehingga menyebabkan kondisi maksimum pada egrek. Simulasi menggunakan alat egrek ini dilakukan secara 2 dimensi dan 3 dimensi. Simulasi pertama secara 2 dimensi bertujuan untuk mendapatkan selang gerak yang aman bagi pemanen, sedangkan semulasi 3 dimensi dilakukan untuk mendapatkan posisi pemotongan yang ideal bagi pemanen. Berikut merupakan hasil simulasi pada ketinggian pohon tiga meter dengan software CAD dalam 2 dimensi dapat dilihat pada Gambar 23.

Gambar 23 Simulasi 2 dimensi pemotongan menggunakan egrek pada tinggi target potong 3 meter

Gambar di atas menunjukkan pemotongan tandan dan pelepah menggunakan egrek pada tinggi target potong maksimal 3 meter. Dapat dilihat pada gambar sudut-dudut yang terjadi pada anggota tubuh seperti leher, punggung, bahu, lengan bawah, tungkai atas dan tungkai bawah dibentuk sesuai dengan SAG yaitu menghindari zona bahaya atau zona merah. Dari keenam bagian tubuh

Keterangan :

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o) : model antropometri pemanen

: alat egrek : pohon

tersebut bagian leher punggung serta bahu berada dalam zona 2 dalam SAG. Hal ini untuk mencari kondisi paling maksimum yang terjadi guna mendapatkan dimensi batang egrek yang maksimum pula. Selain itu leher membentuk sudut maksimal zona 2 dalam SAG guna mendapatkan zona pandang yang optimal sebesar 15o. Jarak aman bagi pemanen juga mempengaruhi maksimalnya selang gerak yang terjadi. Mengacu dari selang gerak yang terjadi kemudian dilakukan simulasi secara 3 dimensi dengan tidak mengubah selang gerak yang terjadi untuk mendapatkan posisi yang ideal bagi pemanen. Hasil simulasi secara 3 dimensi dapat dilihat pada Gambar 24 dan Gambar 25 ketika posisi sudah bergeser.

a

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o)

Gambar 24 Simulasi panjang batang egrek menggunakan persentil 5 dengan tinggi target potong 3 meter kondisi pemanen di depan tandan

(a) (b)

(c) (d)

Keterangan :

(a) Tampak samping (b) Tampak depan (c) Tampak atas (d) Tampak isometri

a

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o)

Gambar 25 Simulasi panjang batang egrek menggunakan persentil 5 dengan tinggi target potong 3 meter kondisi pemanen bergeser

Hasil simulasi menunjukkan adanya perubahan panjang pipa egrek dari posisi awal pemanen di depan tandan kemudian bergeser 45o terhadap titik awal atau sejauh 1301 mm. Diperoleh panjang awal sebesar 1849 mm dan panjang setelah bergeser sebesar 1898 mm diukur dari ujung pipa samapai ke genggaman genggaman tangan. Dapat dilihat juga setelah pergeseran posisi pisau menjadi lebih ideal dari pada sebelum bergeser. Lebih detailnya dapat dilihat pada Gambar 24 (b) dan Gambar 25 (b) perbedaan posisi pisau yang terjadi. Posisi pisau pada Gambar 25 (b) sudah termasuk kedalam posisi ideal pemotongan tandan dan pelepah.

Simulasi berikutnya pada tinggi target potong maksimal 6 meter. Seperti simulasi sebelumnya dilakukan simulasi secara 2 dimensi terlebih dahulu untuk mendapatkan selang gerak pemanen yang aman pada saat pemotongan tandan dan pelepah menggunakan egrek. Lebih rincinya dapat dilihat pada Gambar 26.

(a)

(d) (c)

(b)

Keterangan :

(a) Tampak samping (b) Tampak depan (c) Tampak atas (d) Tampak isometri

Gambar 26 Simulasi 2 dimensi pemotongan menggunakan egrek pada tinggi target potong 6 meter

Gambar diatas menunjukkan selang gerak yang sudah disimulasikan sehingga mendapatkan selang gerak tubuh yang aman. Seperti simulasi sebelumnya bagian tubuh seperti leher, punggung dan bahu menggunakan selang gerak batas maksimum pada zona 2 untuk mendapatkan kondisi yang semaksimum mungkin. Pemilihan ketiga bagian tubuh tersebut didasarkan pada analisis selang gerak yaitu bagian leher, punggung serta bahu lah yang paling berperan dalam kegiatan pemotongan ini. Sesuai dengan hasil anailisis selang gerak zona 2 dalam kasus pemotongan tandan dan pelepah masih dapat ditoleransi. Sedangkan bagian tubuh lain menggunakan selang gerak pada zona 0 dan zona 1.

Berangkat dari selang gerak yang diperoleh kemudian diaplikasikan ke dalam model 3 dimensi. Hasil analisis pertama dengan kondisi pemanen didepan tandan diperoleh panjang batang sebesar 4739 mm diukur dari ujung pipa sampai genggaman tangan dengan sudut antara alat dan pohon sebesar 26o. Lebih detailnya dapat dilihat pada Gambar 27.

Keterangan :

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o) : model antropometri pemanen : alat egrek

: pohon : zona pandang

a

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o)

Gambar 27 Simulasi panjang batang egrek menggunakan persentil 5 dengan tinggi target potong 3 meter kondisi pemanen di depan tandan Kondisi berikutnya yaitu pemanen bergeser sebesar 45o relatif terhadap titik awal. Diperoleh perubahan panjang batang menjadi 4756 mm dengan tidak merubah selang gerak, sudut antara alat dengan pohon dan jarak aman pemanen. Diperoleh juga setelah dilakukan pergeseran posisi pemanen, posisi pisau terhadap batang tandan lebih ideal untuk melakukan pemotongan. Lebih rincinya dapat dilihat pada Gambar 28.

(a)

(c) (d)

(b)

Keterangan :

(a) Tampak samping (b) Tampak depan (c) Tampak atas (d) Tampak isometri

a

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o)

Gambar 28 Simulasi panjang batang egrek menggunakan persentil 5 dengan tinggi target potong 6 meter kondisi pemanen bergeser

Simulasi berikutnya yaitu pada tinggi target potong maksimal 12 meter. Sama halnya dengan simulasi-simulasi sebelumnya yaitu dilakukan simulasi 2 dimensi untuk mendapatkan selang gerak tubuh pemanen. Dengan jarak aman pemanen sebesar 5.5 meter dan sudut antara alat dengan pohon sebesar 26o diperoleh model antropometri dengan selang gerak yang maksimum. Selang gerak pada leher, punggung, dan bahu dalam kondisi semaksimal mungkin sama seperti simulasi sebelumnya. Selang gerak yang telah disimulasikan dapat dilihat pada Gambar 29 (b) (a) (d) (c) (b) Keterangan :

(a) Tampak samping (b) Tampak depan (c) Tampak atas (d) Tampak isometri

Gambar 29 (a) Simulasi 2 dimensi pemotongan menggunakan egrek pada tinggi target potong 12 meter (b) Perbesaran model manekin antropometri Berdasarkan model antropometri yang telah diperoleh kemudian di plot kan ke dalam model 3 dimensi. Diperoleh panjang tangkai yang diukur dari ujung batang sampai genggaman sebesar 11441 mm. Pada kondisi didepan tandan ini posisi pisau masih belum ideal. Titik singgung antara pisau dengan batang tandan masih berada disekitar lengkungan pisau. Lebih detainya dapat dilihat pada Gambar 30.

(a) (b)

Keterangan :

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o) : model antropometri pemanen

: alat egrek : pohon : zona pandang

a

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o)

Gambar 30 Simulasi panjang batang egrek menggunakan persentil 5 dengan tinggi target potong 12 meter kondisi pemanen di depan tandan Simulasi berikutnya dengan menggeser posisi pemanen sebesar 45o relatif terhadap posisi awal pemanen. Diperoleh panjang batang sebesar 11478 mm. Pada kondisi ini posisi pisau egrek termasuk posisi ideal pemotongan. Pergeseran posisi pemanen dapat dilihat pada Gambar 31.

(a)

(d) (c)

(b)

Keterangan :

(a) Tampak samping (b) Tampak depan (c) Tampak atas (d) Tampak isometri

a

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o)

Gambar 31 Simulasi panjang batang egrek menggunakan persentil 5 dengan tinggi target potong 12 meter kondisi pemanen bergeser

Gambar 32 menunjukkan simulasi pemotongan menggunakan egrek pada tinggi target potong maksimal 18 meter. Dapat dilihat pada Gambar 32 (b) selang gerak yang terjadi pada pemanen. Sama seperti sebelumnya selang gerak yang maksimal berada di bagian leher, punggung serta bahu. Mengacu dari selang gerak yang sudah didapat kemudian dibuat model antropometri 3 dimensi kemudian disimulasikan seperti pada Gambar 33.

(a) (b)

(c) (d)

Keterangan :

(a) Tampak samping (b) Tampak depan (c) Tampak atas (d) Tampak isometri

Gambar 32 (a) Simulasi 2 dimensi pemotongan menggunakan egrek pada tinggi target potong 18 meter (b) Perbesaran model manekin antropometri

(b) (a)

Keterangan :

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o) : model antropometri pemanen

: alat egrek : pohon : zona pandang

a

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o)

Gambar 33 Simulasi panjang batang egrek menggunakan persentil 5 dengan tinggi target potong 18 meter kondisi pemanen di depan tandan Gambar 33 menunjukkan simulasi ketika pemanen berada di depan tandan. Diperoleh panjang batang sebesar 18165 mm dukur dari ujung pipa sampai genggaman tangan. Kemudian untuk mendapatkan panjang alat yang ideal maka posisi pemanen berubah sebesar 45o terhadap posisi awal. Hasil simulasi dengan posisi pemanen bergeser dapat dilihat pada Gambar 34.

(a)

(c) (d)

(b)

Keterangan :

(a) Tampak samping (b) Tampak depan (c) Tampak atas (d) Tampak isometri

a

Satuan dalam mm kecuali sudut dalam derajat (o)

Gambar 34 Simulasi panjang batang egrek menggunakan persentil 5 dengan tinggi target potong 12 meter kondisi pemanen bergeser

Simulasi pada Gambar 34 menghasilkan panjang batang sebesar 18191 mm. Bergesernya posisi pemanen membuat pisau berada di posisi ideal pemotongan. Sehingga menghasilkan gaya potong yang besar.

Keseluruhan pemotongan menggunakan egrek pada tinggi target potong maksimal 3, 6, 12,dan 18 meter dipilih hanya pada saat posisi pemanen bergeser yang akan dijadikan rekomendasi desain dimensional batang egrek. Keseluruhan panjang batang yang diperoleh belum ditambahkan dengan panjang dari ujung bawah sampai ke genggaman sebesar 200 mm untuk menghindari terlepasnya alat dari genggaman pemanen. Panjang 200 mm tersebut juga merupakan panjang overlap sambungan. Diasumsikan dengan panjang overlap tersebut mampu

(a)

(c) (d)

(b)

Keterangan :

(a) Tampak samping (b) Tampak depan (c) Tampak atas (d) Tampak isometri

menahan sambungan di tiap batang. Berikut merupakan panjang tangkai total pada setiap tinggi targert potong dapat dilihat pada Tabel 15

Tabel 15 Panjang batang total pada tinggi target potong maksimal 3, 6, 12 dan 18 meter No Tinggi Target Potong Panjang Kerja Panjang Overlap Sambungan Total Panjang Batang 1 3 1.9 0.2 2.1 2 6 4.7 2 x 0.2 5.1 3 12 11.4 3 x 0.2 12.0 4 18 18.1 4 x 0.2 18.9 a

Satuan dalam meter

Hasil yang diperoleh maksimal panjang egrek sebesar 18.9 meter dan minimal sebesar 2.1 meter. Kedua nilai ini dijadikan patokan untuk menentukan sambungan pada batang egrek. Kondisi sekarang yang ada maksimal sambungan egrek sebanyak 4 batang dengan tiap batang memiliki panjang 3 meter. Jika ditotal panjang batang yang ada dengan memasukkan overlap sambungan 0.2 meter maka panjang maksimal 11.4 meter. Kemudian dari maksimal panjang batang egrek yang baru sebesar 18.9 meter jika mengacu pada maksimal sambungan yang ada yaitu 4 batang maka untuk mendapatkan panjang maksimal 18.9 meter diperlukan panjang tiap batang sebesar 5 meter dengan total panjang mencapai 19.2 meter. Mengingat jarak tanam kelapa sawit yaitu 9 meter maka untuk membawa egrek dengan panjang 5 meter pemanen akan mengalami kesusahan saat berjalan diantara pohon. Dengan asumsi pemanen berjalan membawa alat berada di tengah-tengah jarak tanam. Dalam berjalan umumnya pemanen tidak hanya melakukan kegiatan berjalan saja tetapi dengan membawa alat pemanen sambil melakukan kegiatan mengamati tandan yang masak. Pengaruh panjang pelepah juga menjadi faktor kesusahan dalam membawa egrek 5 meter ini. Sehingga dengan jarak tanam kelapa sawit 9 meter ini maka panjang batang egrek maksimal tidak boleh melebihi setengah dari 9 meter atau 4.5 meter. Berangkat dari hal tersebut maka untuk mendapatkan panjang maksimal batang egrek sebesar 18.9 meter dirubah panjang batang yaitu sebesar 4 meter dengan jumlah tangkai 5 buah. Maksimal panjang batang yang dapat dijangkau yaitu sebesar 19 meter. Dengan maksimal panjang ini sudah mencukupi untuk menjangkau ketinggian maksimal target potong 18 meter.

Panjang batang yang direkomndasikan yaitu 4 meter per batang dengan 5 sambungan teleskopik. Faktor pemakaian alat untuk tinggi target potong maksimal 3 meter perlu diperhatikan karena dengan panjang 4 meter ini memiliki kelebihan panjang yang berlebih. Sehingga diperlukan penambahan jarak antara orang dengan pohon dengan asumsi sudut gerak yang terjadi pada tiap bagian tubuh pemanen tidak melebihi batas maksimal zona 2 dalam SAG. Sehingga dengan penambahan jarak ini selang gerak pemanen masih dalam zona aman.

Kondisi pemotongan E3 dan E4 dengan jarak antara orang dengan pohon sebesar 5.5 dan 8.5 meter menyebabkan alat egrek yang digunakan semakin berat dan menyebabkan adanya defleksi pada batang egrek. Dikarenakan fokus penelitian ini yaitu pada aspek keselamatan kerja pengguna dalam hal ini yaitu

selang gerak tubuh sehingga untuk faktor alat akan bertambah berat serta adanya defleksi diasumsikan tidak ditiadakan.

Faktor diameter genggaman pemanen persentil 5 perlu dipertimbangkan. Diameter genggaman persentil 5 sebesar 5 cm sehingga diameter terluar batang egrek menyesuaikan diameter genggaman tersebut.

Kondisi yang sama seperti dodos, perusahaan tidak akan membuat egrek dengan diameter tangkai terluar sebesar 5 cm, tetapi menyesuaikan dengan kondisi pasar yang ada. Oleh karena itu diameter terluar tangkai egrek yang baru dirubah sebesar 4.4 cm untuk memudahkan dalam pabrikasi.

Modifikasi penambahan lubang sambungan tiap 50 cm pada tangkai egrek juga direkomendasikan untuk desain baru tangkai. Pemilihan jarak antara lubang sebesar 50 cm ini didasarkan pada jangkauan ideal tangan pemanen pesentil 5. Semakin banyaknya sambungan maka semakin banyak pengunci sambungn yang diperlukan. Pada penelitian ini tidak sampai membahas pembuatan pengunci sambungan, hanya sebatas memberikan ide penguncian sambungan. Berikut merupakan beberapa mekanisme penguncian yang disarankan. Dapat dilihat pada Gambar 35 Mekanisme penguncian sambungan menggunakan pen.

Gambar 35 Mekanisme penguncian sambungan menggunakan pen

Mekanisme kerja dari saran penguncian ini cukup terbilang sederhana. Pada gambar terlihat arsiran warna biru merupakan penahan pada batang egrek 1. Sedangkan arsiran warna merah merupakan penahan batang egrek 2. Penahan 1 dan 2 ini berfungsi untuk menahan tarikan ketika proses pemanjangan egrek atau pemotongan tandan berlangsung. Sedangkan untuk pengunci/pen yang ditunjukkan oleh warna hijau merupakan penahan batang egrek supaya posisinya tidak berubah. Selain itu pengunci ini berguna untuk menahan batang egrek ketika posisi egrek diangkat keatas sehingga tidak menyebabkan batang yang diatas merosot kebawah. Dalam melakukan penambahan sambungan, dikarenakan penampang dari batang adalah lingkaran sehingga ada indikasi kesulitan dalam menyesuaikan antar lubang pen. Sehingga mekanisme sambungan menggunakan pen ini perlu dilakukan penyempurnaan.

Mekanisme penguncian berikutnya yaitu terdapat alur atau tonjolan pada setiap batang egrek dengan jarat tiap alurnya 50 cm. Hal ini guna mempermudah proses pemanjangan atau pemendekan. Alur ini berfungsi untuk menahan batang egrek supaya tidak merosot atau meleset ketika digunakan. Terdapat tambahan

yaitu adanya lubang/sobekan ditiap alur serta diberi pengikat. Penambahan lubang dan pengikat ini supaya ketika digunakan lebih menguatkan alur sebagai tumpuan. Pengikat yang digunakan bisa memakai pengikat karet atau memakai pengunci yang sudah ada. Prinsip dari mekanisme ini yaitu ketika akan memanjangkan batang cukup menarik batang kemudian dikencangkan dengan pengikat. Sebaliknya ketika memendekkan batang pengikat dibuka kemudian batang dipendekkan. Lebih detailnya dapar dilihat pada Gambar 36.

Gambar 36 Mekanisme penguncian sambungan menggunakan alur

Berikutnya merupakan mekanisme penguncian terakhir yaitu menggunakan ulir sebagai pengunci sambungan. Prinsipnya yaitu hanya perlu memutar batang sebanyak 2 sampai 3 kali untuk memanjangkan/memendekkan. Kekurangan dari mekanisme ini yaitu ketika membutuhkan banyak pemanjangan maka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat mencapai target panjang yang dibutuhkan. Lebih detailnya dapat dilihat pada Gambar 37.

Gambar 37 Mekanisme penguncian sambungan menggunakan ulir

Ketiga contoh mekanisme penguncian yang telah dijelaskan diatas masih memiliki kekurangan baik dari segi desain ataupun cara kerja. Sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk penyempurnaan mekanisme penguncian.

Keseluruhan dapat disimpulkan untuk desain dimensional baru egrek perubahan ada pada batang egrek. Pada batang egrek dipilih panjang tangkai

egrek sebesar 4 meter dengan jumlah sambungan 5 tangkai. Dengan panjang 4 meter ini jika dipakai untuk ketinggian target potong 3 meter maka dibutuhkan penambahan jarak antar pemanen dengan pohon sehingga bertambah jauh. Pertambahan jarak ini dengan asumsi selang gerak yang terjadi pada tubuh pemanen ketika melakukan pemotongan tidak melebihi batas maksimal zona 2 dalam SAG. Sehingga terhindar dari zona bahaya yang dapat menyebabkan cidera atau kecelakaan kerja. Lebih detailnya dapat dilihat pada Gambar 38.

Gambar 38. Detail dimensi egrek baru

Panjang Batang Egrek Ideal

Hasil simulasi panjang batang egrek yang telah dilakukan, dapat disimpulkan panjang kerja batang egrek yang ideal untuk proses pemotongan tandan maupun pelepah. Dapat dilihat pada Tabel 16 panjang kerja ideal yang terbentuk.

Tabel 16 Panjang kerja ideal yang terbentuk No Tinggi Target

Potong (h)

Tinggi Pemanen

(t)

Sudut Antara Batang Egrek

dengan Pohon (θ) Panjang Kerja

1 3 1.3 26° 1.9

2 6 1.3 26° 4.7

3 12 1.3 26° 11.5

4 18 1.3 26° 18.2

a

Berdasarkan tabel diatas, panjang kerja batang egrek yang terbentuk (ℓ) dapat di plotkan ke dalam sebuah rumus. Penentuan rumus panjang kerja batang egrek dapat dilihat rinciannya pada Gambar 37.

Gambar 39 Gambaran perumusan batang egrek ideal dalam contoh simulasi untuk tinggi target potong 6 meter menggunakan persentil 5

Keterangan :

h : Tinggi target potong (m) : Panjang kerja batang egrek (m) t : Tinggi pemanen (m)

x : Jarak antara genggaman tangan pemanen dengan pohon (m) a : Jarak antara genggaman tangan dengan titik berdiri pemanen ( m) d : Jarak antara titik berdiri pemanen dengan pohon (m)

θ : Sudut yang terbentuk antara batang egrek dengan pohon (o)

Jarak antara pemanen dengan pohon mengacu pada penelitian Dewi (2013) dimana merumuskan jarak aman pemanen dengan pohon:

26o )+ a

Pemakaian persentil 5 dalam merumuskan panjang kerja batang egrek dikarenakan untuk mendapatkan kondisi semaksimum mungkin. Sehingga jika pemanen dengan tinggi tubuh diatas persentil 5 dapat menyesuaikan dan menghasilkan selang gerak tubuh yang lebih aman. Jarak antara genggaman tangan dengan titik berdiri pemanen sebesar 0.3 m. Dengan memasukkan rumus jarak aman maka diperoleh persamaan unutk menentukan panjang kerja batang egrek sebagai berikut :

h θ a d t x ℓ

+ 0.2

Nilai 0.2 pada persamaan diatas merupakan panjang dari ujung tangkai bawah sampai genggaman tangan.

Kondisi di lahan ketika pemanen akan memanen dengan ketinggian pohon 3 meter maka pemanen hanya akan membawa batang egrek berjumlah 1 batang tidak ada sambungan, ketika akan memanen untuk ketinggian pohon lebih dari 3 meter maka pemanen hanya akan membawa 2 batang. Sehingga dapat dikatakan ketika pemanen akan memenen di ketinggian pohon tertentu pemanen hanya akan membawa jumlah batang seperlunya saja. Kondisi tersebut menjadi acuan untuk penentuan jumlah batang yang akan digunakan. Dengan diketahui rumus untuk penentuan panjang kerja batang egrek maka dapat digunakan untuk menentukan seberapa banyak batang egrek yang akan dibawa ke lahan dengan memperhitungkan ketinggian pohon yang akan di panen. Sehingga pemanen tidak harus membawa batang egrek sebanyak 5 sambungan langsung ketika akan melakukan kegiatan pemotongan tandan dan pelepah.

Dokumen terkait