• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pelaksanaan Prosedur Penerimaan dan Pengolahan SPT Tahunan Lebih

Dalam dokumen EVALUASI ATAS PROSEDUR PENERIMAAN DAN PE (Halaman 58-64)

BAB III LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Analisis Pelaksanaan Prosedur Penerimaan dan Pengolahan SPT Tahunan Lebih

a. Penerimaan SPT Tahunan PPh.

Pelaksanaan prosedur penerimaan SPT Tahunan PPh di KPP Pratama Ponorogo

secara umum dilaksanakan sesuai dengan peraturan. Pelaksanaan penerimaan dan

pengolahan SPT Tahunan PPh sampai dengan tahun 2011 mengacu kepada SOP DJP

dalam KEP-14/PJ/2008. Prosedur yang sebelumnya kurang pro aktif karena petugas

hanya menunggu Wajib Pajak untuk mengumpulkan berkas SPT di kantor pajak.

Prosedur yang berbeda diaplikasikan sesuai dengan petunjuk teknis dalam Surat

Edaran Nomor SE-103/PJ/2011 mulai tahun 2012 dengan sistem drop box. Kotak-

kotak dan petugas pajak ditempatkan di tempat umum yang sering dikunjungi

masyarakat. Hal ini terbukti efektif meningkatkan jumlah penerimaan SPT hingga

lebih dari 20%.

Petunjuk teknis yang berubah mengisyaratkan sumber daya yang lebih banyak

untuk ditempatkan pada bidang pelayanan, sehingga pembentukan Satgas oleh Kepala

Kantor telah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sayangnya, belum ada kriteria

yang jelas mengenai kompetensi petugas yang ditunjuk dari sub bidang lain. Petugas

bekerja berdasarkan nota dinas Kepala KPP untuk bertugas sesuai fungsi yang tertulis

dalam petunjuk teknis. KPP Pratama Ponorogo sendiri melibatkan pegawai magang

dan honorer untuk menjadi petugas drop box. Sistem memang dapat berjalan, namun

seharusnya standar kompetensi diaplikasikan untuk mengurangi resiko kesalahan

Pengawasan dan kegiatan evaluasi kinerja petugas masih kurang memadai. Tidak

ada pihak yang secara fungsi bertugas memonitor aktivitas petugas di tempat-tempat

drop box yang terpisah. Sistem reward and punishment maupun kompensasi bagi

pegawai lembur juga belum diatur secara jelas. Hal ini menimbulkan masalah karena

pegawai kemudian tidak termotivasi untuk bekerja semaksimal mungkin dan

berakibat pada target kerja yang tidak tercapai.

Aplikasi tiket drop box lokal yang digunakan oleh KPP Pratama Ponorogo

merupakan suatu bentuk kreativitas yang patut diapresiasi. Tiket drop box, menurut

petunjuk teknis hanya dicetak secara manual, namun dengan adanya aplikasi ini

terbukti dapat mengurangi waktu pemprosesan, human error, dan kasus double entry

SPT. Sistem ini telah berjalan dengan baik, namun akan lebih baik lagi apabila sistem

divalidasi terlebih dahulu oleh petugas dari pusat untuk memastikan kehandalannya.

b. Perekaman SPT Tahunan PPh.

Kegiatan perekaman diawali dengan mengecek kesesuaian Lembar LPAD

(Lembar Pengolahan Arus Dokumen) dengan berkas SPT Tahunan. LPAD yang

dicetak petugas TPT adalah halaman kontrol langkah pengolahan SPT. Halaman ini

mudah terlepas karena hanya disatukan dengan stapler. Beberapa LPAD memiliki

tulisan tidak jelas karena masalah tinta ataupun penempatan kertas yang tidak lurus

dengan mesin pencetak. Proses error juga sering terjadi karena overload data dan

koneksi LAN (Local Area Network) antar pengguna yang memang sering bermasalah.

SPT selanjutnya dilimpahkan ke bagian PDI untuk dilakukan perekaman ke dalam

kelancaran sistem aplikasi perekaman SPT. Dengan terbitnya Surat Edaran Direktur

Jenderal Pajak Nomor SE-80/PJ/2011 tanggal 31 Oktober 2011 yang menjadi dasar

perintah percepatan pelaksanaan perekaman Surat Pemberitahuan (SPT), setiap

Kantor Pelayanan Pajak perlu untuk membentuk sebuah Tim Percepatan Perekaman

SPT. Sayangnya, himbauan percepatan ini tidak diimbangi dengan kemudahan sistem

perekaman yang dimiliki.

KPP Pratama Ponorogo yang sedang dalam masa transisi perubahan sistem dari

SIPMOD menuju penggunaan aplikasi Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak

(SIDJP) mengalami proses adaptasi yang kompleks. Penggunaan aplikasi SIDJP

diharapkan mampu mempermudah proses bisnis di KPP Pratama termasuk dalam

perekaman SPT. Namun pada kenyataan, penggunaan aplikasi perekaman SPT SIDJP

di seksi PDI masih memberikan banyak kendala, seperti seringnya aplikasi SIDJP

error dan cara input data yang rumit dibandingkan dengan SIPMOD, sehingga

menghambat proses perekaman SPT Tahunan. Permasalahan dan kendala yang

ditemukan pada proses migrasi SIPMOD menuju SIDJP, adalah sebagai berikut:

1)Kendala proses perekaman SPT Tahunan terbagi menjadi dua, yaitu:

a) Pada perekaman SPT Tahunan 1770SS, nama dan NPWP Wajib Pajak yang

muncul pada saat proses “validasi” dan “simpan”, seringkali berbeda dengan Nama dan NPWP Wajib Pajak yang SPT-nya sedang direkam saat itu.

Akibatnya SPT WP tersebut tidak dapat dilanjutkan ke proses “validasi” dan “simpan.” Setelah itu, jika dilihat pada menu monitoring, SPT Tahunan tersebut dinyatakan “SPT Tahunan OP SS belum selesai direkam,” meskipun pada kenyataannya SPT telah melalui proses perekaman.

b) Untuk perekaman SPT Tahunan 1770, proses “simpan” lampiran I selalu gagal dan mengakibatkan munculnya pesan error, sehingga sampai saat ini belum

dapat dilakukan perekaman SPT Tahunan 1770 di KPP Pratama Ponorogo.

2)Proses perekaman SPT Tahunan di SIDJP yang kurang user friendly, apabila

dibandingkan dengan SIPMOD seperti yang tercantum dalam Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Perbandingan Penggunaan SIPMOD dan SIDJP

No Uraian SIPMOD SIDJP

1 Perekaman

tahun pajak

Kolom kosong yang harus diisi

angka tahun pajak bisa

dilakukan dengan keyboard

Kolom tahun telah ada default

tahun pajak 2009. Apabila akan mengganti, harus memindahan

cursor dengan mouse

2 Monitoring SPT unbalance

Langsung dapat diidentifikasi

penyebab unbalance oleh

perekam/ OC/ kasi PDI

Identifikasi unbalance oleh Kasi PDI, dan sering muncul error

dalam proses identifikasinya

3 Upload data

perekaman SPT

Tidak ada Ada pemberitahuan SPT belum

upload, namun aplikasi tidak memberikan akses untuk tindakan atas SPT tersebut

4 Jumlah SPT

terekam

Data tersaji real time Data tidak real time

5 Account User untuk

percepatan perekaman SPT

Pegawai dari seksi lain dapat membantu proses percepatan perekaman SPT dengan diberi wewenang perekaman SPT di SIPMOD oleh OC

Pegawai seksi lain tidak dapat

membantu proses percepatan

perekaman SPT karena

kewenangan akses SIDJP harus sesuai data kepegawaian SIKKA

6 Salah rekam OC dapat langsung

memperbaikinya saat itu juga

Dilaporkan ke

[email protected], jangka waktu penyelesaian tidak pasti. Sumber: Berita Acara Pendampingan Migrasi SIDJP

3) Data AR tiap Wajib Pajak yang terdapat di dalam SIDJP KPP Pratama Ponorogo

masih belum sesuai dengan data yang telah dikirimkan KPP Pratama Ponorogo

kepada Tim Migrasi pada saat back up data untuk migrasi.

Penggunaan sumber daya out sourcing yang membantu proses perekaman, jelas

melanggar peraturan meskipun dengan alasan percepatan perekaman. Hal ini beresiko

tinggi, mengingat informasi Wajib Pajak seharusnya menjadi rahasia instansi sesuai

Undang-Undang. Username dan password dari pegawai aktif bisa dimanfaatkan

pihak-pihak bertanggungjawab untuk mengakses informasi-informasi lain yang

seharusnya hanya diakses oleh pegawai resmi kantor pajak.

c. Penyelesaian SPT Tahunan PPh Lebih atau Kurang bayar

SPT yang kurang lengkap atau bermasalah dilimpahkan kepada Account

Representatives dan Fungsional Pemeriksa untuk diteliti dan diklarifikasi kepada

Wajib Pajak lebih lanjut. Jumlah Account Representatives yang sangat terbatas

memaksa Fungsional Pemeriksa untuk juga diberdayakan sebagai peneliti. Hal ini

tidak sesuai dengan aturan yang berlaku di mana Fungsional Pemeriksa seharusnya

hanya melakukan pemeriksa lanjutan dari SPT Lebih Bayar atau SPT Rugi setelah

diteliti Account Representatives. Aktivitas seperti ini mengakibatkan potensi

penyimpangan, seperti manipulasi kesalahan Wajib Pajak yang berhubungan dengan

pemeriksa, pembetulan kesalahan untuk menghindari pekerjaan berat setelah

penelitian, dan sebagainya.

Kendala dalam proses penelitian di antaranya adalah penggunaan aplikasi SIDJP.

Aplikasi yang relatif baru ini menghambat Account Representatives untuk segera

adaptasi untuk menggunakan teknologi baru dan menghadapi masalah koneksi yang

sering terjadi. Account Representatives sering tidak menemukan data yang diinginkan

karena migrasi sistem yang belum sepenuhnya sempurna.

Account Representatives menerbitkan Surat Himbauan jika pada proses

penelitian, ditemukan kesalahan matematis SPT Wajib Pajak. Kebiasaan di KPP

Pratama Ponorogo yang tidak menghimbau kesalahan Wajib Pajak kecil merupakan

suatu hal yang seharusnya tidak terjadi. Meskipun jumlah nominal kesalahan tidak

signifikan, namun toleransi kesalahan akan mengakibatkan kebiasaan yang buruk

dalam melaporkan pajak di tahun-tahun berikutnya. Potensi pajak sekecil apapun

harus dimanfaatkan secara maksimal dengan mengacu sepenuhnya kepada peraturan.

Jumlah SPT Tahunan PPh Lebih Bayar di KPP Pratama Ponorogo sangat kecil.

Salah satu alasan Wajib Pajak cenderung membuat SPT Tahunan PPh nya menjadi

Nihil adalah untuk menghindari pemeriksaan, sebab bila perhitungan Wajib Pajak

salah akan terancam sanksi. Proses pemeriksaan yang memerlukan waktu lama karena

keterbatasan akses profil Wajib Pajak juga patut dibenahi. Diperlukan sistem yang

ideal dan sederhana, agar Wajib Pajak tidak cenderung memanipulasi bahkan berlaku

tidak jujur dalam melaporkan keadaan keuangannya .

Adapun masalah seperti Fungsional Pemeriksa yang mengusulkan Wajib Pajak

bermasalah juga tidak seharusnya terjadi. Alasan untuk membantu Account

Representatives atau mempercepat proses pemeriksaan, tidak dapat dibenarkan sesuai

peraturan. Bagaimanapun, dalam sebuah organisasi telah dibagi fungsi dan deskripsi

Dalam dokumen EVALUASI ATAS PROSEDUR PENERIMAAN DAN PE (Halaman 58-64)

Dokumen terkait