• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEMUAN DAN PEMBAHASAN

B. Analisis dan Pembahasan 1.Uji Kualitas Data 1.Uji Kualitas Data

N Range Min Max Mean

Std. Deviation Variance PPN 80 19 21 40 32,71 3,930 15,448 PPnBM 80 19 21 40 34,65 3,376 11,395 DayaBeli 80 16 24 40 33,42 3,117 9,716 Valid N (listwise) 80

Tabel 4.3 menjelaskan bahwa jumlah responden (n) adalah 80, dari 80

responden variabel PPN mempunyai nilai minimum sebesar 21 dan nilai

maksimum sebesar 40 dengan nilai rata-rata 3,930. Pada variabel PPnBM nilai

maksimumnya adalah 40 dan nilai minimumnya sebesar 21, dengan rata-rata

11,395. Selanjutnya, variabel daya beli memiliki nilai maksimum 40 dan nilai

minimum sebesar 24 sehingga rata-ratanya bernilai 24.

B.Analisis dan Pembahasan 1. Uji Kualitas Data

a. Uji Validitas

Tabel 4.4 berikut menunjukkan hasil uji validitas untuk variabel Pajak

60 Tabel 4.4

Hasil Uji Validitas

Variabel Pajak Pertambahan Nilai Item Pertanyaan Sig. Pearson

Correlation Keterangan PPN1 0,000 0,550** Valid PPN2 0,000 0,561** Valid PPN3 0,000 0,561** Valid PPN4 0,000 0,641** Valid PPN5 0,000 0,600** Valid PPN6 0,000 0,567** Valid PPN7 0,000 0,805** Valid PPN8 0,000 0,657** Valid

Sumber : Data Diolah

Berdasarkan hasil tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa semua

pertanyaan dari variabel independen Pajak Pertambahan Nilai adalah valid.

Hal ini seperti terlihat dari semua pertanyaan diatas dikatakan valid karena

memiliki nilai signifikasi dibawah 0,05.

Tabel 4.5 berikut menunjukkan gambaran mengenai hasil uji validitas

untuk variabel Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Tabel 4.5 Hasil Uji validitas

Variabel Pajak Penjualan atas Barang Mewah Item Pertanyaan Sig. Pearson

Correlation Keterangan PPnBM1 0,000 0,519** Valid PPnBM2 0,000 0,640** Valid PPnBM3 0,000 0,439** Valid PPnBM4 0,000 0,722** Valid PPnBM5 0,000 0,584** Valid PPnBM6 0,000 0,496** Valid PPnBM7 0,000 0,771** Valid

61

PPnBM8 0,000 0,481** Valid

Sumber : Data Diolah

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa semua pertanyaan variabel independen

(Pajak Penjualan atas Barang Mewah) adalah valid, karena memiliki nilai

signifikan 0,000 atau dibawah 0,05.

Sedangkan untuk hasil uji validitas dari variabel daya beli konsumen

ditunjukkan pada tabel 4.6.

Tabel 4.6 Hasil Uji Validitas Variabel Daya Beli Konsumen Item Pertanyaan Sig. Pearson

Correlation Keterangan DB1 0,000 0,591** Valid DB2 0,000 0,561** Valid DB 3 0,000 0,399** Valid DB4 0,000 0,525** Valid DB 5 0,000 0,587** Valid DB 6 0,000 0,617** Valid DB 7 0,000 0,668** Valid DB 8 0,000 0,564** Valid

Sumber : Data Diolah

Berdasarkan hasil tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa pertanyaan dari

variabel dependen daya beli adalah valid. Seperti terlihat semua pertanyaan

di atas dikatakan valid karena memiliki nilai signifikasi 0,000 atau di bawah

62

b. Uji Reliabilitas

Tabel 4.7 berikut menunjukkan hasil uji reliabilitas.

Tabel 4.7 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Cronbach Alpha Keterangan

Pajak Pertambahan Nilai 0,772 Reliabel

Pajak Penjualan atas Barang Mewah 0,727 Reliabel

Daya Beli Konsumen 0,683 Reliabel

Sumber: Data Diolah

Berdasarkan data pada tabel 4.7 diatas, instrumen Pajak Pertambahan

Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Daya Beli Konsumen.

Masing-masing memiliki nilai cronbach alpha 0,772; 0,727 dan 0,683. Semua instrumen dinyatakan reliabel karena memiliki nilai cronbach alpha

diatas 0,60.

2. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Untuk mendeteksi normalitas dapat menggunakan analisa grafik

dengan melihat grafik histogram dan normal probabability plots. Gambar 4.1 berikut menunjukkan hasil uji normalitas dengan melihat grafik histogram.

Hasil Uji Normalitas Histogram Variabel Daya Beli

Regression Standardized Residual

3 2 1 0 -1 -2 -3 Fr eq ue ncy 12.5 10.0 7.5 5.0 2.5 0.0 Mean =-2.36E-16 Std. Dev. =0.987 N =80 Gambar 4.1

Gambar 4.1 diatas menunjukkan bahwa data yang disajikan normal.

Hal ini dilihat dari kurva pada grafik histogram yang seimbang atau tidak

ada kemencengannya baik menceng ke kiri maupun menceng ke kanan,

sehingga memenuhi normalitas data.

Pada gambar 4.2 di bawah ini menunjukkan grafik normal probability Plots.

Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Variabel Daya Beli

Observed Cum Prob

1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0

Expect

ed Cum Prob

1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0 Gambar 4.2

Berdasarkan grafik diatas menunjukkan adanya persebaran data (titik)

pada sumbu diagonal yang sangat mendekati garis diagonal. Pedoman uji

normalitas mengatakan bahwa jika persebaran data (titik) mengikuti atau

mendekati garis diagonal, maka data penelitian berdistribusi normal. Pada

gambar histogram juga menunjukkan adanya normalitas dalam penelitian ini.

Melihat dari hal tersebut, penelitian ini bisa disimpulkan memenuhi uji

normalitas.

b. Uji Multikolonieritas

Hasil uji multikolonieritas data ditunjukkan pada tabel 4.8 sebagai

berikut:

Tabel 4.8

Hasil Uji Multikolonieritas Variabel Daya Beli

Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) PajakPertambahanNilai ,988 1,013 PajakPenjualanatasBarangMewah ,988 1,013

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa semua variabel independen (Pajak

Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah) mempunyai

nilai VIF kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih dari 0,10. Hal ini mengindikasikan bahwa model ini terbebas dari masalah multikoloniearitas.

c. Uji Heteroskedastisitas

Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada gambar 4.3 berikut ini:

Hasil Uji Heteroskedastisitas Scatterplot

Variabel Daya Beli

Regression Standardized Predicted Value

2 1 0 -1 -2 -3 R egr es si on St u d en ti ze d R es id ua l 3 2 1 0 -1 -2 -3 Gambar 4.3 65

66

Dari gambar 4.3 di atas, dapat dilihat titik-titik menyebar secara acak

dan tidak membentuk suatu pola tertentu, serta tersebar di atas dan di bawah

angka 0 pada sumbu Y. Ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada

model regresi. Sehingga model regresi ini dapat digunakan untuk

menganalisis pengaruh pengenaan PPN dan PPnBM terhadap daya beli

konsumen.

3. Uji Hipotesis

a. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Tabel 4.10 berikut menunjukkan hasil pengujian koefisien determinasi:

Tabel 4.9

Pengujian koefisien Determinasi Variabel Daya Beli

Model R R Square

Adjusted R

Square Std. Error of the Estimate

1 ,401(a) ,161 ,139 2,89212

Pada tabel 4.10 diatas diperoleh nilai R Square sebesar 0,161. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan variabel independen terhadap variabel

dependen adalah kuat karena nilai berada diantara 0 sampai 1 sehingga

variabel independen dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh

67

2.Uji Signifikan Simultan ( Uji Statistik F)

Tabel 4.11 berikut menunjukkan hasil uji statistik F:

Tabel 4.10 ANOVA Variabel Daya Beli

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

Regression 123,493 2 61,747 7,382 ,001

Residual

644,057 77 8,364

Total 767,550 79

Melihat tabel anova diatas, diperoleh nilai F hitung sebesar 7,382

dengan tingkat signifikasi 0,001 karena nilai probabilitas (0,001) jauh lebih

kecil dari 0,05 maka model regresi ini dapat dipakai untuk memprediksi

daya beli konsumen.

3. Uji Statistik t

Hasil uji t ditunjukkan pada tabel 4.12 dibawah ini:

Tabel 4.11

Variabel Dependen (Daya Beli)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 22,473 4,097 5,485 ,000 PajakPertambahan Nilai ,316 ,083 ,399 3,794 ,000 PajakPenjualanatas BarangMewah ,018 ,097 ,019 ,183 ,856

68

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa hubungan antara Pajak

Pertambahan Nilai dan daya beli konsumen terjadi hubungan yang signifikan

hal ini tercermin dalam angka signifikasi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari

0,05 hal ini berarti Ha1 diterima.

Masyarakat secara tidak langsung dalam membeli suatu barang atau

jasa dikenakan pajak yaitu Pajak Pertambahan Nilai. Tarif pajak 10% yang

merupakan kebijakan pemerintah dengan pengalokasian pemasukan pajak

untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, masyarakat yang secara

langsung dibebankan pajak dalam setiap konsumsinya, disertai dengan

kondisi perekonomian yang belum mapan menyebabkan masyarakat

menekan konsumsinya sehingga daya beli menurun. Misalnya masyarakat

yang ingin membeli televisi, dalam membeli televisi tersebut mencari yang

lebih terjangkau harganya karena nilai pajak yang dibebankan semakin

besar.

Sedangkan hubungan antara Pajak Penjualan atas Barang Mewah

dengan daya beli konsumen terjadi hubungan yang tidak signifikan, hal ini

tercermin dalam angka signifikasi sebesar 0,856 yang nilainya lebih besar

dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ha2 ditolak.

Untuk variabel PPN, hasil penelitian ini konsisten dengan hasil

69

bahwa Pajak Pertambahan Nilai secara empiris berhubungan postitif

terhadap daya beli konsumen.

Untuk variabel Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagai variabel

tambahan yang diteliti penulis pada penelitian ini tidak dapat membuktikan

bahwa adanya pengaruh positif antara variabel Pajak Penjualan atas Barang

Mewah dengan daya beli konsumen, hal ini terbukti dengan nilai

signifikannya yang diatas 0,05. Artinya PPnBM ini tidak berpengaruh

terhadap daya beli konsumen. Hal ini berdasarkan pada barang yang

dikenakan PPnBM merupakan barang mewah yang hanya dikonsumsi oleh

masyarakat atau konsumen tertentu, dimana biasanya adalah golongan

ekonomi menengah ke atas. Sehingga PPnBM ini bukanlah menjadi

halangan bagi masyarakat tersebut dalam mengkonsumsi barang mewah

karena meskipun harga barang tersebut semakin meningkat seiring dengan

semakin meningkatnya beban pajak, yang menjadi prioritas bagi masyarakat

golongan tersebut adalah kepuasan dan gaya hidup. Berapapun harganya,

jika barang dibeli sesuai dengan keinginan konsumen, maka harga tidaklah

menjadi masalah. Begitu juga dengan gaya hidup. Masyarakat kelas

menengah ke atas sudah menjadi gaya hidup bagi mereka dalam

menggunakan atau mengkonsumsi barang-barang mewah karena hal itu akan

mempengaruhi tingkat prestisius mereka. Jadi, pengenaan PPnBM terhadap

BAB V

Dokumen terkait