5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.6. Analisis Pemodelan dalam Perikanan Karang
5.6.3. Analisis Pemodelan
Analisis Pemodelan adalah proses yang menekankan pada pendekatan holistik terhadap pemecahan masalah dan menggunakan model untuk mengidentifikasi dan meniru karakteristik dari sistem-sistem yang kompleks serta membuat suatu skenario pemecahan masalah. Dinamika sistem sangat berguna untuk menggambarkan pemahaman kita tentang sistem yang ada di alam nyata. Dalam keadaan demikian analisis sistem dan simulasi sering dipakai untuk menguji hipotesis-hipotesis kita tentang bagaimana sistem bekerja Lane (1994). Jika kita dapat memodelkan sistem perikana karang maka skenario untuk mengelola laut dan ekosistemnya secara lestari dapat dilaksanakan secara baik, benar dan berkesinambungan.
a. Skenario 1. (Exixting)
Suatu pengelolaan sumberdaya parikanan karang di kawasan konservasi laut daerah yang berkelanjutan adalah jenis pengelolaan yang mempertimbangkan fungsi ekologis dan ekonomis agar diperoleh kegiatan pemanfaatan yang rasional dan optimal. Dalam pemanfaatan ekosistem perikanan karang sebagai kawasan konservasi perlu dilihat keseimbangan dalam pemanfaatan dan biomassa lingkungan.
Berdasarkan hasil simulasi keberlanjutan perikanan karang di kawasan konservasi Pulau Liwutongkidi dan sekitarnya pada bulan pertama sampai dengan bulan ke sembilan terlihat perubahan yang signifikan. Gambar 22 menunjukan penurunan biomasa ikan dan recruitmen seiring dengan peningkatan aktifitas penangkapan nelayan. Jika skenario ini terjadi, maka kondisi yang demikian dapat dipredeksi keberlanjutan perikanan karang akan mengalami penurunan yang signifikan pada periode bulan ke bulan. Hal ini akan memberikan dampak negatif terhadap biomasa ikan di kawasan terumbu karang.
Gambar 22. Grafik simulasi mortality, recruitment, stok ikan, jumlah armada penangkapan dan total penangkapan
Perubahan biomassa ikan dapat diukur berdasarkan jumlah kapal dan upaya tangkapan dengan jumlah 147 kapal penangkapan. Pada bulan pertama sampai dengan bulan kesembilan jumlah upaya penangkapan sejalan dengan menurunnya biomassa ikan. Bulan ketujuh upaya tangkap meningkat biomassa ikan menurun sampai periode bulan kesembilan, setelah bulan kesembilan pada periode bulan ke sepuluh biomasa ikan habis. Selanjutnya Fazli et al. (2009), McManus (1997) biomasa ikan di pengaruh oleh upaya penangkapan disebabkan oleh kelebihan tangkapan. Lampiran 12.
1.00 15.75 30.50 45.25 60.00 0 20000 40000 0 15000 30000 0 10000 20000 146 147 148 -50000000 100000000 250000000
1: Stok Ikan 2: Recruitment 3: Total …n perbulan4: Kapal Motor 5: Keunt…n perbulan
1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5
b. Skenario 2.
Hasil simulasi biomassa ikan di kawasan konservasi Pulau Liwutongkidi, Kadatua dan Siompu untuk melihat degradasi pada biomassa ikan ada beberapa variable yang harus diperhatikan adalah biomassa ikan, manfaat ekonomi dan upaya. Sebagaimana dalam model standar bioekonomi ekosistem perikanan karang. Perubahan biomassa ikan dipengaruhi oleh tiga parameter biofisik yaitu rekruitmen, biomassa dan jumlah armada penangkapan ikan.
Gambar 23. Grafik simulasi recruitment dan biomassa ikan dengan penguranagn jumlah armada penangkapan 0.85% atau 125 armada
Hasil analisis simulasi pada Gambar 23. Dari gambar terlihat fluktuasi penangkapan dari periode awal bulan sampai dengan akhir bulan. Naik turunnya upaya penangkapan tidak sejalan dengan fluktuasi biomassa ikan. Hal ini tidak terjadi keseimbangan antara total penangkapan dengan biomassa ikan artinya rekruitmen dan biomasa ikan dari waktu ke waktu bertambah tidak di pengaruhi oleh upaya penangkapan. Pada gambar tersebut terlihat biomassa dari periode awal bulan meningkat sejalan dengan periode waktu.
Pengurangan jumlah perahu motor dari 147 menjadi 125 kapal sangat mempengaruhi biomassa ikan. Dengan demikian perubahan terhadap jumlah kapal dapat meningkatkn biomassa ikan dan rekruitmen dari periode bulan pertama sampai pada bulan ke enam puluh.
12:53 PM Mon, Aug 22, 2011 1.00 15.75 30.50 45.25 60.00 Months 0 1e+010. 2e+010. 0 3.5e+009 7e+009. 5000 15000 25000 50000000 150000000 250000000 124 125 126
1: Stok Ikan 2: Recruitment 3: Total …n perbulan 4: Keunt…n perbulan5: Kapal Motor
1 2 1 2 1 2 1 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5
Untuk melihat perubahan biomassa ikan dari periode bulan pertama sampai dengan bula ke enam puluh yang dipengaruhi oleh upaya penangkapan perbulan dengan jumlah kapal, selanjutnya dijelaskan oleh (Grandcourt 2003) rekruitmen dan biomasa ikan di pengaruhi oleh upaya penangkapan dapat dilihat pada Lampiran 13.
c. Skenario 3
Skenario ini lebih baik kondisinya dibandingkan dengan scenario yang lain. Pada Lampiran 14 Variable penangkapan ikan mempengaruhi degradasi biomassa ikan. Dinamika perubahan yang terjadi pada biomassa ikan secara langsung akan mempengaruhi rekruimen dan jumlah pendapatan masyarakat nelayan. Keterkaitan antara biomassa ikan dengan upaya penangkapan dilakukan melalui perubahan jumlah kapal yang menjadi variabel penentu dalam fungsi pertumbuhan ikan (rekruitmen). Penurunan biomassa ikan dan rekruitmen berbanding terbalik dengan total penangkapan dan keuntungan nelayan perbulan dari periode awal bulan sampai dengan akhir bulan.
Hasil simulasi dengan menggunakan 131 armada penangkapan terlihat hubungan timbal balik antara upaya penangkapan dengan biomassa ikan sepanjang waktu. Pada awal periode total penangkapan tinggi biomassa mengalami penurunan, total penangkapan menurun biomassa ikan mengalami peningkatan dan seterusnya.
Gambar 24. Grafik simulasi recruitment dan biomassa ikan dengan penguranagn jumlah armada penangkapan 0.89% atau 131 armada
1.00 15.75 30.50 45.25 60.00 0 300000000 600000000 0 500000000 1e+009. 5000 15000 25000 130 131 132 50000000 200000000 350000000
1: Recruitment 2: Stok Ikan 3: Total …n perbulan 4: Kapal Motor 5: Keunt…n perbulan
1 2 1 2 1 2 1 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5
Apabila keseimbangan ini biomasa ikan dan rekruitmen ini terjadi sepanjang masa dari bulanke bulan, maka kondisi biomassa ikan dan total penangkapan pada daerah kawasan konservasi Pulau Liwutongkidi , Kadatua dan Siompu dapat dikatakan kondisi ideal Lampiran 14.
Biomassa ikan pada suatu lokasi dapat dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu makanan, ruang (habitat) dan faktor lain salah satu adalah tekanan penangkapan (Royce 1972). Tingginya tekanan penangkapan dapat mengakibatkan penurunan kelimpahan populasi dan menurun rata-rata ukuran ikan. Jika semua individu dewasa ditangkap dan gagal matang gonad maka tidak ada lagi pemijahan yang menyuplai anak ikan untuk rekruitmen.
Pendugaan biomassa ikan memiliki peranan penting sebagai “fine tunning” system penangkapan guna hasil tangkapan yang lebih besar. Selanjutnya dapat berperan untuk menyusun perencanaan guna rehabilitasi ketika terjadi laju penangkapan lebih dan mengembankan strategi pengelolaan selama berlangsungnya transisi teknologi kearah penggunaan berbagai metode penangkapan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Selain itu pendugaan biomassa ikan memiliki tugas utama dalam mempersiapkan perencanaan yang tepat tentang hasil tangkapan dan biomassa populasi serta mencoba membuat prediksi tentang dampak dari berbagai kebijakan pengelolaan yang diterapkan.
5.7. Model Pengelolaan Perikanan Berbasis Ekosistem Perikanan Karang
Untuk mencapai hasil yang optimum dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tidak terlepas dari sistim dinamik karena sumberdaya ekosistem perikanan karang adalah merupakan sumberdaya perikanan yang dinamis. Secara keseluruhan dinamik ekosistem sumberdaya perikanan dan intervensi manusia dapat mempengaruhi kondisi sumberdaya perikanan karang baik langsung maupun tidak langsung sepanjang tahun.
Sebuah pengelolaan haruslah ditekankan pada orientasi pemecahan masalah dengan menggunakan cara-cara yang ilmiah berdasarkan fisik, biologi, sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Pelaksanaan pengelolaan sumberdaya perikanan karang dilakukan terlebih dahulu dengan merumuskan suatu rencana pengelolaan berbasis masyarakat. Rencana pengelolaan perikanan karang di kawasan konservasi Pulau Liwutongkidi, Pulau Siompu dan Pulau Kadatua dapat berupa pengawasan dan pengembangan perikanan tangkap ikan
karang yang berwawasan lingkungan Zhang at al. (2009). Pengawasan bertujuan untuk menjaga agar sumberdaya dan lingkungan perairan dapat terjaga secara lestari dan berkelanjutan, sedangkan pengembangan usaha perikanan karang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan terhadap sumberdaya ikan karang dengan memperhatikan daya dukung lingkungan (Degnbol 2002).
Untuk mencegah terjadinya eksploitasi yang berlebihan terhadap komoditi sumber daya ikan karang di terumbu karang dapat dilakukan beberapa aturan- aturan yang ditetapkan antara lain dengan :
1. Membatasi jumlah hasil tangkap. Untuk sumber daya perikanan terumbu karang, cara ini mudah dilakukan karena secara umum biota terumbu karang adalah biota yang hidup menetap di dasar (benthos) atau yang bergerak tidak jauh dan tidak pernah meninggalkan terumbu karang, sehingga jumlah stok di ekosistem tersebut mudah dihitung. Dengan mengetahui jumlah stok di alam dan kemampuan regenerasi, maka jumlah tangkapan perwaktu tangkap dapat diatur. Komoditi perikanan terumbu karang seperti kima, teripang, ikan hias, anemon serta karang.
2. Pengaturan waktu tangkap. Pengaturan waktu tangkap perlu dilakukan bagi jenis-jenis sumber perikanan terumbu karang tertentu, guna menghindari tertangkapnya jenis yang sedang dalam musim pemijahan. Untuk mengetahui kapan jenis-jenis tersebut memijah, tentu saja perlu ada penelitian mendalam tentang siklus reproduksinya, kapan telur jenis-jenis biota itu masak dan memijah perlu penelitian.
3. Membatasi ukuran tertentu (panjang/berat individu jenis biota) Pembatasan ukuran jenis tangkapan perlu dilakukan untuk menjamin agar semua individu yang ditangkap sudah menunaikan tugas memperpanjang keturunannya. Untuk mengetahui ukuran berapa individu jenis biota itu mulai memijah.
4. Mengatur dan mengawasi penggunaan alat tangkap ikan. Dengan pengaturan ukuran mata jaring misalnya, ikan-ikan kecil yang tidak ekonomis tidak ditangkap. Bubu sebagai alat tangkap ikan terumbu karang dapat merusak habitat terumbu karang karena menggunakan batu karang hidup sebagai pemberat dan pe-nyamar alat tersebut.
5. Penerapan sistem zonasi. Sistem zonasi yakni membagi kawasan terumbu karang menjadi zona yang berbeda pemanfaatannya. Antara lain ada zona yang
ditutup sementara waktu untuk semua jenis pemanfaatan guna menjamin pelestarian sumber alamnya, atau zona pemanfaatan secara berkelanjutan.
Pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis masyarakat dapat didefinisikan sebagai suatu proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk mengelola sumberdayanya sendiri dengan terlebih dahulu mendefinisikan kebutuhan, keinginan, tujuan serta aspirasinya. Pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat ini menyangkut juga pemberian tanggung jawab kepada masyarakat sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang pada akhirnya menentukan dan berpengaruh pada kesejahteraan hidup mereka.
Model pengelolaan seperti tersebut di atas akan lebih efektif jika dimasyarakat Tongali, Kapoa dan Waonu terdapat suatu kelembagaan di bidang perikanan. Kelembagaan tersebut berfungsi sebagai wadah untuk menampung semua aspirasi masyarakat dalam pengelolaan perikanan. Pentingnya di bentuk kelembagaan pengelolaan perikanan di sebuah desa pesisir selain berfungsi sebagai wadah penampung aspirasi masyarakat juga untuk mempermudan pemberian bantuan maupun pelaksanaan program dalam pemberdayaan masyarakat pesisir oleh pemerintah atau lembaga non pemerintah.
Lebih lanjut dikemukakan oleh Alcala (1998) sebuah pengelolaan terhadap ikan karang merupakan suatu hal yang kompleks karena berkaitan dengan penangkapan yaitu interaksi antara sumberdaya ikan, alat tangkap dan armada penangkapan sehingga banyak faktor yang saling berkaitan. Sebuah pengelolaan harusnya dapat memulihkan atau melindungi suatu wilayah dari degrdasi lingkungan serta dalam jangka panjang dapat merawat sumberdaya tersebut agar berkelanjutan. Oleh karena itu keterlibatan masrarakat yang nantinya sebagai pelaksana dari sebuah pengelola ekosistem perikanan mutlak diperlukan agar mereka merasa ikut berperan dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan pengelolaan di daerah lingkungan pesisir mereka.