• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Kondisi Penutupan Substrat Dasar

Pengamatan penutupan substrat dasar pada ekosistem terumbu karang yang dilakukan secara langsung pada tiga lokasi. Hasil pengamatn yang dilakukan menunjukan tipe terumbu karang di rataan karang Pulau Siompu, Pulau Kadatua dan Pulau Liwutongkidi dapat di kategorikan sebagai terumbu karang tepi (fringing reef)..

Hasil pengamatan dengan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT) dapat digambarkan bahwa kondisi terumbu karang yang berada di perairan Pulau Siompu, Pulau Kadatua dan Pulau Liwutongkidi sangat bervariasi. Lebih jelas dapat dikatakan bahwa pada kedalaman antara 3 – 10 meter terumbu karang pada semua stasiun dikatagorikan rusak sampai dengan katagori baik.

1. Pulau Siompu

Hasil penelitian penutupan substrat dasar pada 5 stasiun di Pulau Siompu dengan kedalaman antara 3 – 10 meter. Berdasarkan pengamatan pada stasiun 1 sampai dengan stasiun 5 penutupan karang hidup antara 0.67 % - 71.00 %. Penutupan karang hidup terbesar pada stasiun 4 sebesar 71.00 % dan persentase penutupan karang hidup terkecil di jumpai pada stasiun 5 sebesar 0.67 % . Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Persentase penutupan karang hidup (karang keras, karang lunak dan biota lain di Pulau Siompu

Stasiun Karang Keras (%) Karang lunak (%) Persentase Penutupan (%) Kategori Kondisi 1 41.99 2.00 43.99 Sedang 2 29.17 3.83 33.00 Sedang 3 18.68 7.50 26.18 Sedang 4 67.66 3.34 71.00 Baik 5 0.67 0.00 0.67 Buruk

Sumber : Data primer diolah 2010

Stasiun 1 terletak pada posisi 05º 38' 01" LS dan 122º 30' 13" BT dijumpai persentase penutupan karang hidup 43.99%, terdiri dari Acropora 0.66%, non Acropora 41.33%, dan Soft coral 2.00%. Kategori lain yang cukup tinggi di lokasi transek adalah Dead coral (karang mati) dan sand (pasir) masing –masing 18.17 % dan 18.50%. Karang mati sebesar 18.17% sejalan dengan patahan karang mati (rubble) sebesar 16.67%. Gambar 10.

Secara visual kondisi rerata persentase penutupan karang hidup di stasiun 1 berdasarkan lifeform di kategori sedang. Gomez dan Alcala (1978), Gomez dan Yap (1988) persentase penutupan karang sedang antara 25 – 49.9%. Pada stasiun 1 persentase penutupan karang hidup dikategorikan sedang tetapi memiliki variasi lifeform cukup besar yaitu Coral Encruising, Coral Branching, Coral heliopora, Coral massive, Coral submassive (Lampiran 2. Kategori karang menurut lifeform ) Analisis indeks mortalitas karang pada stasiun 1 memiliki nilai 0.45%, maka rasio kematian karang kecil atau tingkat kesehatan karang tinggi.

Selanjutnya Fachrul (2007) mengatakan kesehatan karang yang mendekati nilai 0 adalah rasio kematian karang kecil tingkat kesehatan karang tinggi dan apabila mendekati nilai 1 tingkat kesehatan karang rendah atau rasio kematian karang yang besar.

Gambar 10. Persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substrat Pulau Siompu

Stasiun 2 terletak pada koordinat 05º 39' 02" LS dan 122º 29' 40" BT di jumpai penutupan karang hidup sebesar 33.00%, yang terdiri dari Acropora 1.67%, non Acropora 27.5 %, dan soft coral 3.83%. Sehingga kondisi penutupan karang hidup dikategorikan sedang. Penurunan penutupan karang hidup disebabkan oleh tingginya patahan karang (rubble) 35.67% dan kematian karang (Dead coral) 25.17%. Kerusakan fisik habitat dasar mengakibatkan penurunan kwalitas terumbu karang, terlihat pada indeks mortalitas sebesar 0.65% mendekati nilai 1 maka dapat dikatakan kondisi karang pada stasiun 2 memiliki rasio kematian yang besar atau kesehatan yang rendah.

Berdasarkan pengamatan penutupan substrat dasar pada stasiun 3 koordinat 05º 37' 19" LS dan 122º 30' 50" BT di jumpai karang mati (Dead coral) 55.32%, Acropora 1.34%, Non Acropora 17.34%, Soft coral 7.50% biota lain 5.50%, pasir 10.83% dan Rubble 2.17%. Sedangkan penutupan karang hidup sebesar 26.18% dikategorikan sedang. Kerusakan fisik habitat dasar dapat mengakibatkan penurunan kualitas ekosistem terumbu karang. Hal ini terlihat pada persentase indeks mortalitas karang sebesar 0.69% mendekati nilai 1 maka rasio kematian karang besar atau memeliki tingkat kesehatan karang rendah.

Pengamatan penutupan karang di stasiun 4 koordint 05º 37' 39" LS dan 122º 31' 40" BT. Analisis persentase penutupan karang hidup kategori baik dengan nilai persentase 71.00% terdiri dari Acropora 60%, Non Acropora

7.66% dan Soft coral 3.34%. Persentase substrat dasar yang lain 29% meliputi Dead Coral and Dead Coral with Algae 4.67%, Rubble 10.00% dan pasir 14.33% dengan tingkat kesehatan (Indeks mortalitas) 0.17%. Sedangkan koordinat 05º 37' 40" LS dan 122º 32' 42" BT pada stasiun 5 dijumpai penutupan karang non Acropora massive sebesar 0.67% dan pasir (sand) sebesar 99.33% merupakan salah satu daerah berpasir yang tidak terdapat substrat keras untuk penempelan planula karang.

2. Pulau Liwutongkidi

Pengamatan penutupan substrat dasar di Pulau Liwutongkidi dilakukan pada 10 stasiun dengan kedalaman antara 3-10 meter. Persentasi penutupan karang hidup dari stasiun 1 sampai stasiun 10 berkisar antara 11.67% - 72.50%. Persentasi terbesar dijumpai pada stasiun 3 sebesar 72.50% dan terkecil di jumpai pada stasiun 1 sebesar 11.67% lihat Tabel 15.

Tabel 15. Persentase penutupan karang hidup di Pulau Liwutongkidi Stasiun Karang Keras

(%) Karang lunak (%) Persentase Penutupan (%) Kategori Kondisi 1 10.34 1.33 11.67 Buruk 2 54.12 0.50 54.62 Baik 3 72.50 0.00 72.50 Baik 4 48.83 0.00 48.83 Sedang 5 56.17 14.50 70.67 Baik 6 50.67 0.00 50.67 Baik 7 43.00 0.00 43.00 Sedang 8 63.83 0.00 63.83 Baik 9 44.17 0.00 44.17 Sedang 10 56.66 0.00 56.66 Baik

Sumber : Data primer diolah 2010

Persentase penutupan karang hidup pada stasiun 2, stasiun 4, stasiun 5, stasiun 6, stasiun 7,stasiun 8, satasiun 9 dan stasiun 10 masing-masing adalah 54.62%, 48.83%, 72.00%, 56.00%, 43.00%, 63.83%, 44.17% dan 57.66% yang terdiri dari Acropora, Non Acroporadan Soft coral.

Terumbu karang di Pulau Liwutongkidi dengan Persentase penutupan substrat dasar dapat dijelaskan sebagai berikut: kategori patahan karang (Rubble) tertinggi berada di Stasiun 1 sebesar 75.83% dan yang terendah ada di Stasiun 5

sebesar 0.00%. Kondisi penutupan substrat kategori kelompok Acropora tertinggi di Stasiun 8 sebesar 55.33% dan terendah di Stasiun 1 sebesar 0.67% yang terdiri dari Acropora branching untuk semua stasiun dari stasiun 1 sampai dengan stasiun 10 berturut-turut adalah 0.67%, 10.30%, 36.83%, 2.50%, 12.00%, 3.83.%, 7.00%, 48.00%, 21.83%, 22.33% Coral submassive hanya terdapat pada stasiun 7 sebesar 4.17%, coral digitake pada stasiun 2 (0.83%), stasiun 4 (1.00%) dan stasiun 5 (5.00%) sedangkan coral tabulate terdapat pada stasiun 4 (1.67%), stasiun 5 (8.33%), stasiun 7 (7.83%) dan stasiun 8 (7.33%) Gambar 11.

Gambar 11. Persentase tutupan untuk masing-masing kategori habitat dasar Pulau Liwutongkidi

Persentase penutupan substrat dasar kategori Non Acropora dari stasiun 1 sampai stasiun 10 berturut-turut adalah 9.67%, 42.99%, 35.67%, 43.66%, 30.84%, 46.84%, 24.00%, 8.50%, 22.34%, dan 34.33%. Persentase penutupan karang hidup tertinggi pada stasiun 3 sebesar 72.50% dan penutupan karang hidup terendah terdapat di Stasiun 1 sebesar 11,67%. Stasiun 1 memiliki persentase penutupan paling rendah disebabkan karena banyak terdapat pecahan karang (rubble) sebesar 75.83% dan karang mati yang belum ditumbuhi algae. Patahan karang yang di temui di stasiun 1 perairan Pulau Liwutongkidi akibat penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan bubu tancap. Indeks mortalits karang pada stasiun 1 rendah atau rasio kematian besar mendekati 1 yaitu sebesar 0.88%

Gomez dan Yap (1988) menjelaskan tingginya tutupan karang keras merupakan karang yang sehat diikuti dengan keragaman jenis karang. Karang keras yang dijumpai di stasiun 1 - 10 meliputi jenis Acropora branching, Acropora tabulate, Acropora submassive, Acropora digitate, Coral branching, Coral encrusting, Coral foliose, Coral massive, Mushrom coral dan Coral mellepora. Secara umum dapat dilihat bahwa karang dan biota yang ada di Stasiun 2, stasiun 3, stasiun 5, stasiun 6, stasiun 8, stasiun 10 dikategorikan baik dan kategori sedang terdapat pada stasiun 4, stasiun 7 dan stasiun 9 (Lampiran 2).

3. Pulau Kadatua

Hasil penelitian penutupan substrat dasar pada 5 stasiun di Pulau Kadatua dengan kedalaman antara 3 – 10 meter. Berdasarkan pengamatan persentase penutupan terumbu karang hidup tertinggi pada stasiun 3 sebesar 47.86% dan terkecil pada stasiun 2 sebesar 13.01%. Komposisi penutupan substrat dasar di perairan Pulau Kadatua merupakan daerah dengan penutupan karang hidup rendah sampai sedang Tabel 16.

Tabel 16 . Persentase penutupan karang hidup di Pulau Kadatua Stasiun Karang Keras (%) Karang lunak (%) Persentase Penutupan (%) Kategori Kondisi 1 36.66 1.33 37.99 Sedang 2 13.01 0.00 13.01 Buruk 3 43.53 4.33 47.86 Sedang 4 36.82 0.00 36.82 Sedang 5 29.34 1.67 31.01 Sedang

Penutupan karang hidup pada stasiun 1 sebesar 37.99% yang terdiri dari Acropora branching (ACB) 21.33%, Acropora digitake (ACD) 1.83%, coral branching (CD) 1.17%, coral encrusting (CE) 8.00%, coral foliose (CF) 2.00%, coral massive (CM) 2.33% dan soft coral (SC) 1.33% lifeform yang lain kategori Dead coral (DC) and Dead coral With Algae (DCA) 37.67%. Biota lain 6.67%, sand (S)14.00% dan rubble (R) 3.67%.

Stasiun 2 penutupan karang sangat kecil yaitu 13.01% yang terdiri dari coral branching (CB) 10.17%, coral encrusting (CE) 0.670%, coral massive (CM) 1.50%, coral submassive (CS) 0.67% sedangkan pasir (sand) sebesar 83.00% dan Dead coral 4.00%. Stasiun 3 penutupan karang hidup sebesar

47.86% . Penutupan karang hidup paling tinggi di stasiun 3 memiliki persentase Acropora branching (ACB) 15.33%, Acropora submassive (ACS) 1.33%, Acropora digitake (ACD) 1.67%, Acropora tabulate (ACT) 8.67%, coral encrusting (CE) 1.00%, coral massive (CM) 15.53% dan soft coral (SC) 4.33%. kategori lifeform lain pada stasiun 3 adalah Sand (S) 20.47%, Rubble (R) 3.67% dan Dead coral (DC) and Dead coral With Algae (DCA) 28.00% lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Persentase tutupan untuk masing-masing kategori habitat dasar Pulau Kadatua

Stasiun 4 dengan persentase penutupan karang hidup 36.82% yang terdiri dari Acropora branching (ACB) 10.33%, Coral branching (CB) 10.33% coral encrusting (CE) 2.00%, coral foliose (CF) 2.33% dan Coral massive (CM) 11.83% . Kategori lain lifeform adalah Dead coral (DC) and Dead coral With Algae (DCA) 35.33%, Sand (S) 25.17% dan Rubble (R) 2.67%. Stasiun 5 dengan penutupan karang hidup 35.33% terdiri dari Acropora 7.00%, Non acropora 22.34% dan Soft coral 1.67%. Hasil analisa lifeform yang lain pada stasiun 5 di jumpai karang mati yang belum ditumbuhi algae (Dead coral ) 33.67%, sand 22.33% dan patahan karang (Rubble) 13.00% Gambar 12.

Hasil yang didapat pada lokasi penelitian tipe terumbu karang di perairan sekitar Pulau Liwutongkidi, Pulau Kadatua dan Pulau siompu adalah terumbu karang tepi (fringing reef). Bentuk dasar koloni karang lengkap, yaitu karang masif (massive), bercabang (branching), mengerak (encrusting), dan lembaran

(foliaceous). Jenis dan jumlah lifeform khususnya yang mempunyai bentuk koloni bercabang dan masif cukup tinggi sehingga sangat mendukung kehidupan organisme laut. Persen penutupan karang hidup pada daerah rataan terumbu karang umumnya kondisinya sedang sampai baik bahkan pada beberapa stasiun pengamatan kondisinya dalam kategori baik. Keberadaan terumbu karang dapat juga mempengaruhi keberadaan ikan karang semakin beragam bentuk pertumbuhan karang maka kekayaan jenis dan kelimpahan spesies ikan karang akan semakin tinggi. Dari data tersebut menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang yang ada di sekitar ketiga pulau lokasi penelitian masih sangat mendukung kehidupan organisme yang berasosiasi di dalamnya.

Lokasi penelitian secara keseluruhan terdapat 7 stasiun yang dikategorikan baik, 10 stasiun kategori sedang dan 3 stasiun di kategorikan buruk. Persentase yang ekstrim yang terjadi pada perairan Liwutongkidi stasiun 1 patahan karang (rubble) mencapai 75.83%. Kerusakan karang ini terjadi karena aktifitas penangkapan ikan tidak ramah lingkungan dengan menggunakan bom, penanaman bubu diatas karang untuk kepentingan ekonomi sesaat tanpa memperhatikan kehidupan jangka panjang (Souter 2000). Kerusakan terumbu karang juga disebabkan oleh jangkar kapal nelayan terutama di pulau Liwutongkidi dan Pulau Siompu. Selama pengamatan yang dilakukan di lokasi penelitian tidak di temukan bintang seribu (Acanthaster planci) sebagai predator terbesar karang, sehinggu kematian karang ini sebagian besar dikarenakan kegiatan penangkapan ikan karang oleh nelayan. Sedangkan 2 stasiun merupakan hamparan pasir dan tidak terdapat karang.

5.3. Komunitas Ikan Karang

Hasil pengamatan yang dilakukan dengan visual sensus ikan karang pada stasiun pengamatan di 3 lokasi pada posisi yang sama dalam identifikasi karang. Dari seluruh stasiun pengamatan komunitas ikan karang dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu kelompok ikan target yang biasa disebut dengan nama ikan ekonomis penting atau ikan konsumsi, kelompok ikan indikator merupkan ikan yang erat hubungannnya dengan keseburun terumbu karang dan ikan lain atau biasa disebut ikan mayor dan banyak dijadikan sebagai ikan hias.

Hasil sensus kelompok ikan karang menurut family, spesies dan jumlah individu di kawasan konservasi Pulau Siompu, Pulau liwutongkidi dan Pulau

Kadatua. Jumlah total ikan yang teramati di semua stasiun pengamatan menunjukan jumlah family sebanyak 436, dari pengelompokan menurut jenis sebanyak 1,081 dan total individu sebanyak 5,871 (Lampiran 3, 4, 5 dan 6 ).

Hasil pengamatan sensus visual ikan karang di perairan pulau Siompu dilakukan pada 5 titik stasiun menunjukkan jumlah ikan yang diperoleh untuk semua stasiun adalah 1,433 individu dari 137 spesies dan 44 family kemudian dikelompokan menurut kelompok . Kelompok ikan mayor yang banyak di jumpai pada semua stasiun adalah family Pomacentridae sebanyak 380 ekor dari 30 spesies yang banyak di jumpai pada semua stasiun adalah jenis Dascyllus reticulates, Dascyllus trimaculatus, Dascyllus aruanus dan Chromis ternatensis. Kelompok ikan Indikator adalah jenis ikan yang paling kuat berasosiasi dengan jenis-jenis karang. Secara umum jenis ikan ini disebut ikan kepe-kepe dari family Caetodontidae. Famili Caetodontidae banyak terdapat di semua stasiun dengan jumlah 60 individu dari jenis Chaetodon kleinii, Chaetodon lunula, Chaetodon ephippium dan Forcipiger flavissimus. Sedangkan kelompok ikan target yang di jumpai pada semua stasiun adalah 15 famili dari 119 spesies dan 380 individu yang banyak dijumpai pada semua stasiun adalah family Acanthuridae, Caesionidae, Siganidae, dan Lethrinidae.

Dari hasil pengamatan komunitas ikan karang disekitar Pulau Liwutongkidi pada 10 titik stasiun pengamatan, ditemukan sejumlah 2,800 individu dari 40 famili dan 145 spesies. Jumlah tersebut terdiri dari kelompok ikan target, kelompok ikan indikator dan kelompok ikan mayor. Kelompok ikan target di lokasi perairan Liwutongkidi, diperoleh sebanyak 16 famili dari 46 spesies dan 803 individu. Jenis ikan yang banyak dijumpai diseluruh stasiun adalah family Acanthuridae dengan 9 spesies, Caesionidae dengan 2 spesies, dan Lutjanidae dengan 5 spesies.

Kelompok ikan mayor terdiri dari 23 famili dari 84 spesies dan 1,825 individu yang banyak dijumpai pada stasiun pengamatan dari family Pomacentridae 28 spesies, Labridae 14 spesies, Balistidae 4 spesies, Scaridae 3 spesies Anthiinae 2 spesies, dan Apogonidae 2 spesies. Kelompok ikan indikator yang dijumpi pada semua stasiun adalah family Chaetodontidae terdiri dari 15 spesies dan 172 individu. Ikan kelompok ini umumnya memiliki pola warna yang indah dan gerakan-gerakan yang sangat menarik yang banyak dijumpai adalah

jenis Chaetodon trifascialis, Chaetodon lunulatus, Chaetodon kleinii, Forcipiger flavissimus dan Heniochus varius.

Pengamatan ikan karang berdasarkan jenis dengan metode visual sensus di perairan Pulau Kadatua pada 5 titik stasiun pengamatan ditemukan 37 famili dari 157 spesies dan 1.638 individu. Jumlah individu untuk semua jenis ikan karang berdasarkan kelompok menunjukan ikan mayor memiliki kelimpahan sebesar 21 famili, 95 spesies dan 1,081 individu. Jumlah spesies terbesar adalah dari family Pomecentridae terdiri dari 32 spesies dan 602 individu. Jenis-jenis yang ditemukan pada semua stasiun adalah Dascyllus reticulates, Dascyllus trimaculatus, Dascyllus aruanus, Pomacentrus muluccensis, dan Chromis retrofasciata.

Kelimpahan ikan target pada lokasi penelitian 442 individu dengan jenis ikan terbesar adalah jenis ikan Pterocaesio tile dari family Caesionidae, sedangkan ikan indikator sebanyak 115 individu dengan jumlah jenis terbesar adalah Chaetodon kleinii, dari family Chaetodontidae. Adapun jumlah ikan karang yang diklasifikasikan berdasarkan kelompok dari masing-masing pulau dapat dilihat pada Gambar 13, 14 dan 15.

Gambar 13. Kelimpahan kelompok ikan target berdasarkan famili di Pulau Siompu, Liwutongkidi dan Kadatua.

Gambar 14. Kelimpahan kelompok ikan mayor berdasarkan family di Pulau Siompu, Liwutongkidi dan Kadatua

Keberadaan sumberdaya ikan karang sangat erat kaitannya dengan keberadaan sumberdaya terumbu karang sebagai habitatnya. Pada daerah terumbu karang, ikan karang merupakan organisme yang jumlahnya terbanyak dan juga merupakan organisme besar yang mencolok. Dengan jumlahnya yang besar dan mengisi terumbu karang, maka dapat terlihat dengan jelas bahwa ikan karang penyokong hubungan yang ada dalam ekosistem terumbu karang (Nybakken 1992).

Gambar 15. Kelimpahan kelompok ikan indikator berdasarkan family di Pulau Siompu, Liwutongkidi dan Kadatua

Secara umum interaksi antara ikan karang dengan habitatnya meliputi tiga bentuk utama. Pertama, adanya hubungan langsung antara struktur terumbu dan tempat perlindungan. Hal ini akan terlihat jelas pada ikan-ikan yang kecil. Kedua, adanya interaksi pola makan yang melibatkan beberapa ikan karang dan biota sesil, termasuk alga. Lebih jauh interaksi ini penting bagi eksistensi karang yaitu penyedian substrat dasar. Ketiga, adanya suatu interaksi peran yang melibatkan struktur terumbu dan pola makan dari planktivora dan karnivora yan berasosiasi dengan terumbu.

Ikan target ditemukan sebanyak 1.625 individu yang banyak dijumpai pada lokasi penelitian berasal dari family Achanturidae, Caesionidae, Mulidae, Serranidae, Lutjanidae dan Lethrinidae. Ikan Target merupakan jenis ikan konsumsi yang menjadi target penangkapan nelayan setempat, kelompok ikan ini mendominasi dua kelompok lainnya. Keberadaan ikan target di ekosistem terumbu karang adalah untuk mencari makan, pemijahan dan pembesaran anak. Ikan mayor merupakan ikan yang tidak termasuk kedalam dua kelompok diatas. Jumlah ikan mayor ditemukan sebanyak 3.899 individu yang dominan berasal dari famili Pomacentridae. Keberadaan ikan ini adalah sebagai salah satu mata rantai dalam sistem ekologi dan jaring makanan di ekosistem terumbu karang.

Ikan-ikan terumbu akan melakukan berbagai aktivitas berdasarkan kebiasaannya serta fungsinya, yang pada akhirnya membentuk suatu pola keseimbangan yang mendukung keberadaan ekosistem terumbu karang. Kelompok ini pada umumnya mencari makan dan tinggal di permukaan karang dengan memakan plankton, alga, atau hewan yang lebih kecil yang terdapat baik di kolom air maupun di permukaan terumbu . Ikan terumbu yang banyak dijumpai di semua stasiun pengamatan, sebagian besar dari famili ikan yang terdapat di ekosistem terumbu karang adalah Pomacentridae, Chaetodotidae, Pomachantidae, Acanthuridae, Labridae, Caesionidae, Balistidae Lutjanidae, Balistidae, Serranidae, Siganidae, dan Anthiinae. Selanjutnya Allen dan Steene (1994), mengemukakan jenis ikan karang yang banyak mendominasi terumbu karang adalah ikan, Pomacentridae, Labridae, Chaetodontidae, Pomacanthidae, Apogonidae, Serranidae, Scaridae, Acanthuridae, Bleenidae, dan Gobiidae.

Interaksi yang terjadi menjelaskan besarnya kedekatan keanekaragaman hayati dan keseragaman ikan karang dengan stasiun pengamatan. Pomacentridae memiliki pembobotan yang terbesar dengan interaksi yang kuat pad semua

stasiun, yang dipengaruhi faktor kesukaan dan pola pencarian makan. Stasiun dengan penutupan karang mati beralga (Dead Coral Algae) yang besar berinteraksi pada ikan Caesio dan ikan Chromis dengan jumlah ikan yang besar. disebabkan oleh pola makan dan kebutuhan akan tempat berlindung, dimana ikan Caesio merupakan ikan pemakan plankton dan ikan kecil. Sedangkan ikan Chromis merupakan ikan herbivor, bertindak sebagai grazer yaitu pemakan alga sehingga pertumbuhan alga yang bersaing ruang hidup dengan karang dapat terkendali. Ikan Pomacentridae dan tersebar hampir merata pada seluruh stasiun dengan nilai terbesar pada perairan Kadatua. Penyebaran ikan ini dipengaruhi oleh kebutuhan akan tempat perlindungan, dimana shuktur terumbu pada stasiun ini cocok sebagai tempat berlindung bagi ikan Pomacentridae.

Dari hasil pengamatan komunitas ikan karang di sekitar Pulau Siompu, Pulau Liwutongkidi dan Pulau Kadatua memiliki keanekaragaman yang berkisar antara 2.71 sampai dengan 4.72 termasuk dalam kategori sedang sampai tinggi. Keseragaman ikan karang antara 0.69 sampai dengan 0.92 memiliki keseragaman tinggi komunitas stabil sedangkan dominasi bagi beberapa jenis ikan memiliki kisaran antara 0.04 - 0.29 yang menunjukan bahwa tidak terdapat dominasi spesies tertentu Gambar 16.

Gambar 16. Grafik keanekaragaman (H), keseragaman (E) dan dominasi (C ) komunitas ikan karang di Pulau Siompu, Liwutongkidi dan Kadatua

Grafik di atas dapat dilihat pada stasiun 4 Pulau Siompu memiliki keanekaragaman ikan karang yang tinggi sehingga menyebabkan keseragaman ikannya menjadi tinggi pula sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan karang dengan persentasi penutupan karang masih bagus (71.00%) . Selanjutnya Nybaken (1992), salah satu penyebab tingginya keragaman spesies ikan karang di terumbu karang adalah variasi habitat terdapat di terumbu. Terumbu tidak hanya terdiri dari karang hidup saja, tetapi juga daerah berpasir, berbagai teluk dan celah, daerah algae dan juga perairan dangkal dalam zona-zona yang berbeda melintasi karang ini sangat disukai oleh berbagai spesies ikan karang.

Hasil tersebut diatas terdapat hubungan positif antara jumlah keanekaragaman ikan karang yang ditemukan dengan kondisi terumbu karang di perairan tersebut. Kondisi demikian menjadikan ekosistem ikan karang menjadi lebih seimbang tidak ada dominasi dari jenis ikan karang. Interaksi yang terjadi menjelaskan besarnya kedekatan keanekaragaman dan keseragaman ikan karang dengan stasiun pengamatan. Jenis ikan Pomacentridae memiliki jumlah yang terbesar dengan interaksi yang kuat pada semua stasiun penelitian. Hal ini juga dipengaruhi faktor kesukaan dan pola pencarian makan yang sesuai dengan lingkungannya. Selanjutnya (Allen 2000) setiap spesies memperlihatkan kecocokan habitat yang tepat diatur oleh kombinasi faktor ketersediaan makanan, tempat berlindung dan variasi parameter fisik

Dokumen terkait