BAB III AKUNTABILITAS KI NERJA 2018
B. ANALISIS PENCAPAIAN KINERJA
Sebagaimana hasil pengukuran kinerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Ternate tahun 2019 , bahwa dari 12 (dua belas) indikator kegiatan, terdapat 10 indikator yang mencapai target yang ditetapkan. Sementara terdapat 2 indikator yang tidak mencapai target, yaitu jumlah alat angkut sesuai dengan standar yang tidak mencapai target, yaitu jumlah alat angkut sesuai dengan standar kekarantinaan kesehatan, dan indikator jumlah pelabuhan/bandara/PLBD memenuhi syarat-syarat sanitasi.
Berikut ini adalah analisis hasil pengukuran indikator kinerja, temasuk gambaran terkait keberhasilan, kegagalan, permasalahan dan pemecahannya
1. Jumlah Alat Angkut Sesuai Dengan Standar Kekarantinaan Kesehatan
Difinisi Operasional :
Alat angkut adalah kapal, pesawat udara, dan kendaraan darat yang digunakan dalam melakukan perjalanan sesuai dengan ketentuan peraturan dalam melakukan perjalanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kekarantinaan kesehatan adalah upaya mencegah dan menangkal keluar atau masuknya penyakit dan/atau factor risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat.
Dokumen kesehatan alat angkut adalah surat keterangan kesehatan yang berkaitan dengan kekarantinaan yang dimiliki oleh setiap alat angkut sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku antara lain yaitu sertifikat Porth Health Quarantine Certificate (PHQC) dan Ship Sanitation Control Exemption Certificate (SSCEC).
Certificate (SSCEC).
Pengawasan kekarantinaan kesehatan adalah kegiatan pemeriksaan dokumen karantina kesehatan dan factor risiko kesehatan masyarakat terhadap alat angkut, orang serta barang oleh pejabat karantina kesehatan.
Alat angkut yang diperiksa sesuai dengan standar kekarantinaan kesehatan adalah Jumlah pemeriksaan alat angkut sesuai dengan standar kekarantinaan Kesehatan dalam periode satu tahun.
Cara perhitungan :
Cara perhitungan alat angkut yang diperiksa sesuai dengan standar kekarantinaan kesehatan yaitu akumulasi jumlah hasil sertifikat Porth Health Quarantine Certificate (PHQC, sertifikat Ship Sanitation Control Exemption
Certificate (SSCEC) dan sertifikat Ship Sanitation Control Certificate (SSCC) dalam satu tahun
Capaian Indikator
Grafik 3.1 Grafik 3.1 Alat Angkut Yang Sesuai Dengan Standar Kekarantinaan Kesehatan Tahun 2019 Target alat angkut sesuai dengan
standar kekarantinaan kesehatan yang ditetapkan pada tahun 2019 sebanyak 18.500 sertifikat. Capaian alat angkut sesuai dengan standar kekarantinaan kesehatan pada tahun 2019 terealisasi sebanyak 17.330 sertifikat. Persentase capaian kinerja sebesar 93,68%, capaian kinerja sebesar 93,68%, dengan demikian indikator ini tidak mencapai target.
Jumlah tersebut terdiri dari sertifikat PHQC sebanyak 16.625 sertifikat, sertifikat SSCEC sebanyak 695 sertifikat dan sertifikat SSCC sebanyak 10 sertifikat.
18,500
17,330
Target Capaian
Jumlah alat angkut sesuai dengan standar kekarantinaan kesehatan tahun 2019 tersebut menurun dibandingkan dengan jumlah tahun 2018, jumlah alat angut sesuai standar kekarantinaan tahun 2018 sebanyak 17.332 sertifikat.
Dokumen PHQC diberikan Kepada setiap kapal yang akan melakukan pelayaran baik ke dalam maupun luar negeri dan terlebih dahulu dilakukan pengawasan kekarantinaan kesehatan sebelum dokumennya diterbitkan.
Dokumen SSCEC diberikan Kepada kapal yang telah dilakukan pemeriksaan sanitasi dan dinyatakan bebas tindakan sanitasi. Sedangkan dokumen SSCC diberikan kepada kapal yang telah dilakukan pemeriksaan sanitasi dan terdapat tindakan sanitasi.
Pelaksanaan Tindakan Penyehatan Kapal (disinsecsi) dalam rangka penerbitan sertifikat SSCC
Tidak tercapainya indikator ini disebabkan beberapa faktor antara lain :
a. Wilayah Provinsi Makuku Utara sebagai daerah kepulauan sehingga terdapat banyak pelabuhan sebagai pintu masuk dan keluar yang berisiko karena merupakan lalu lintas alat angkut, orang dan barang, terutama yang berasal dari luar negeri. Sedangkan dalam pelaksanaan belum semua pelabuhan tersebut dapat terawasi terutama untuk pelabuhan yang terdapat wilayah kerja dan pelabuhan yang terletak di daerah yang belum ada wilker, karena keterbatasan sumber daya serta sarana dan prasarana pendukung operasional.
b. Dengan kondisi diatas, maka kapal pada pelabuhan tersebut di atas yang akan berlayar tidak mengajukan izin untuk memperoleh sertifikat PHQC, dengan demikian jumlah kapal yang mengajukan izin berlayar (PHQC) tidak mencapai target yang ditetapkan sehingga berpengaruh terhadap jumlah sertifikat yang diterbitkan.
c. Jumlahnya PHQC tahun 2019 sebanyak 16.625, jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018 yang jumlahnya sebanyak 16.667 sertifikat.
Berdasarkan gambar, bahwa jumlah alat angkut sesuai standar tahun
2019 menurun
dibandingkan tahun 2018,
Grafik 3.2
Target dan Realisasi Alat Angkut
Yang Sesuai Dengan Standar Kekarantinaan Kesehatan Tahun 2015 – 2019
dibandingkan tahun 2018, sedangkan dibandingkan dengan tahun 2015-2017 mengalami peningkatan.
Jumlah tertinggi yaitu pada tahun 2018 sebanyak 17.332, sedangkan jumlah terendah yaitu tahun 2015 sebanyak 12.679.
sebanyak 12.679.
Grafik 3.3
Alat Angkut Yang Sesuai Dengan Standar Kekarantinaan Kesehatan
Tahun 2015 - 2019 tahun 2017 sebanyak
2015 2016 2017 2018 2019
Target Capaian Target Capaian
tahun 2019 sebanyak 17.330 (93,68%)
Berdasarkan gambar di atas juga bahwa capaian alat angkut sesuai standar kekarantinaan yang dicapai sampai 2019 sebanyak 74.819 sertifikat (106,88%) dari target yang ditetapkan Berdasarkan gambar di atas, bahwa capaian alat angkut
sesuai standar kekarantinaan cenderung meningkat setiap 17,639
target yang ditetapkan sebanyak 70.000 sertifi tahunnya, meskipun terjadi penurunan capaian tetapi tidak
signifikan pada tahun 2019. Jumlah tahun 2015 sebanyak 12.679 (97,53%), tahun 2016 sebanyak 13.467 (98,60%),
Grafik 3.4
Perbandingan Dengan Target RAP Alat Angkut Yang Sesuai Dengan Standar Kekarantinaan Kesehatan Tahun 2019
Berdasarkan grafik bahwa capaian alat angkut yang sesuai dengan standar kekarantinaan tahun 2019 sebesar 93,68% tidak mencapai target yang ditetapkan dalam RAP sebesar 95%. tetapi capaian secara keseluruhan sampai akhir 2019 sebesar 106,88%
mencapai target yang ditetapkan dalam RAP sebesar 95%
106.88 110.00
93.68 95.00
85.00 90.00 95.00 100.00 105.00
Capaian Tahun ini
Capaian RAK Target RAP
Upaya Yang dilakukan Untuk Mencapai Indikator
Upaya-upaya yang yang dilakukan untuk mencapai indikator antara lain :
a. Melakukan pengawasan kekarantinaan kesehatan terhadap kapal sebelum menerbitkan sertifikat izin berlayar (PHQC), dan saat kedatangan kapal.
b. Melakukan pemeriksaan sanitasi kapal sebelum melakukan penerbitan sertifikat SSCEC/SSCC.
Petugas melaksanakan pengawasan dalam rangka penerbitan sertifikat PHQC
Kendala/Masalah Yang Dihadapi Kendala/masalah yang dihadapi : 1. Kondisi geografis Provinsi Maluku
Utara yang merupakan daerah kepulauan, sehingga terdapat kepulauan, sehingga terdapat banyak pelabuhan dan bandara yang menjadi pintu masuk dan keluarnya alat angkut, orang dan barang, yang belum terawasi utamanya di wilayah pulau Halmahera sebagai wilayah terbesar, mengingat keterbatasan operasional dan sarana serta prasarana yang dimiliki, karena prasarana yang dimiliki, karena didaerah tersebut belum ada wilker dan atau penempatan SDM.
2. Pelayanan permohonan pendafataran, pembayaran serta penerbitan dokumen karantina kesehatan untuk alat angkut dilakukan secara secara on line, sehingga kelancaran proses pembuatan dokumen ini tergantung pada layanan jaringan internet di lokasi tersebut. Seringnya terjadi gangguan sinyal internet utamanya wilayah di luar ternate meliputi pulau Halmahera dan Sanana
Peta Eksistensi KKP Kelas III Ternate di Provinsi Maluku Utara
Pemecahan Masalah
Untuk lokasi masuk keluarnya kapal yang belum terdapat wilayah kerja, pelayanan pemeriksaan kapal khususnya kapal dari luar negeri, pemeriksaan dilakukan oleh petugas kantor induk.
Untuk mengatasi gangguan internet utamanya pada lokasi yang sering mengalami gangguan seperti gebe, taliabu dan beberapa lokasi lainnya maka dalam sinkarkes diperbolehkan penerbitan dokumen menggunakan generate dokumen
Analisa Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
Capaian indikator alat angkut yang sesuai dengan standar kekarantinaan adalah atau 93,68%, dan dibandingkan dengan capaian realisasi anggaran sebesar 95,54%, berarti terdapat inefisiensi sumber pembiayaan sebesar 5,87%. Meskipun indikator ini belum mencapai target, berbagai upaya telah 5,87%. Meskipun indikator ini belum mencapai target, berbagai upaya telah dilakukan antara lain meningkatkan informasi terkait pelayanan dokumen dan peraturan kekarantinaan terkait alat angkut kepada keagenan dan nahkoda kapal, meningkatkan koordinasi dengan pihak kesyahbandaran dalam hal penerbitan ijin berlayar setelah terbitnya PHQC, meningkatkan jangkauan pelayanan Kepada alat angkut yang berlabuh di pelabuhan khusus yang belum ada dengan menempatkan petugas pada pelabuhan yang belum memiliki wilker. Optimalisasi penggunaan sumber daya manusia dalam melakukan pelayanan di pelabuhan khusus dengan melibatkan tenaga di Tata Usaha didampingi tenaga dari seksi.
didampingi tenaga dari seksi.
Pelaksanaan tindakan penyehatan kapal (disinsecsi) dalam rangka penerbitan sertifikatSSCC
2. Persentase respon Sinyal Kewaspadaan Dini (SKD), KLB dan bencana di wilayah layanan KKP
Difinisi Operasional :
Kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (KKM/PHEIC) adalah kejadian luar biasa dengan ciri-ciri merupakan risiko kesehatan masyarakat bagi wilayah atau Negara lain karena dapat menyebar lintas wilayah atau Negara dan berpotensi memerlukan terkoordinasi dan merespon.
Episenter adalah wilayah/daerah geografis yang menjadi pusat/awal terjadinya suatu KLB.
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit. Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan penyakit. Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
Setiap kejadian KLB/PHEIC dilakukan tindakan penanggulangan ≤ 24 jam setelah ditetapkan oleh pejabat berwenang adalah jika suatu bagian tahapan penanggulangan sudah bisa dilaksanakan ≤ 24 jam setelah ditetapkan oleh pejabat berwenang.
Persentase respon Sinyal Kewaspadaan Dini (SKD), KLB dan bencana di wilayah layanan KKP yaitu Jumlah sinyal SKD KLB di pelabuhan/bandara yang wilayah layanan KKP yaitu Jumlah sinyal SKD KLB di pelabuhan/bandara yang direspon kurang dari 24 jam dibandingkan dengan jumlah SKD KLB dalam periode satu tahun
Cara perhitungan :
Jumlah sinyal SKD KLB di pelabuhan/bandara yang direspon kurang dari 24 jam dibagi jumlah SKD KLB dikali 100%
Capaian Indikator Grafik 3. 5
Persentase Respon Sinyal Kewaspadaan Dini (SKD) KLB Persentase Respon Sinyal Kewaspadaan Dini (SKD) KLB Di wilayah layanan KKP Tahun 2019
Capaian Persentase respon Sinyal Kewaspadaan Dini (SKD), KLB dan bencana di wilayah layanan KKP tahun 2019 sebesar 100 dari Target ditetapkan sebesar 100%. Persentase capaian kinerja untuk indikator ini 100%. Dengan demikian indikator ini Target
Capaian
100 100
100%. Dengan demikian indikator ini dinyatakan memenuhi target.
Capaian
Pada tahun 2019 terdapat 5 sinyal kejadian penyakit menular dan kejadian bencana/kecelakaan laut yang diterima. Dari jumlah tersebut semuanya (5) sinyal direspon kurang dari 24 jam.
Sinyal kejadian penyakit dan bencana yang diterima dan direspon yaitu : a. Kejadian penyakit DBD di Tobelo Kabupaten Halmahera Utara.
Kejadian Penyakit DBD di Kabupaten Halut bulan januari terdapat kasus DBD di Kab. Halmahera Utara sebesar 67 kasus, bulan januari 92 kasus, bulan maret 50 kasus, bulan april 82 kasus dan bulan mei 54 kasus.
Memastikan Terjadinya KLB di Kabupaten Halmahera Utara bulan Juni 2019, minggu ke 36 daan terjadi peningkatan sebesar 2 kali lipat pada minggu 49 tahun 2019, sehingga pada minggu ke 49 tahun 2019 terjadi KLB DBD di Kabupaten Halmahera Utara. Gambaran Kejadian Penyakit DBD di Desa Rawajaya dan Desa Gorua Kabupaten Halut Januari s/d Juni 2019, pada minggu ke 3 epidemiologi dan minggu ke tujuh belas, berdasarkan hal tersebut didesa gorua dan desa rawajaya terjadi peningkatan 2 kali sehingga dapat dikatakan terjadi kejadian luar biasa pada minggu ke 3 epidemiologi.
b. Kejadian kedaruratan medis di atas kapal, sebanyak 3 kejadian yaitu :
• Tim gerak cepat KKP melaksanakan tindakan pertolongan pertama dan evakuasi kru kapal yang berasal dari luar negeri yang mengalami serangan jantung, pada hari Kamis, 31 Januari 2019 pukul 15.00 WIT – 23.30 WIT bertempat di Perairan Ternate Selatan , setelah menerima laporan dari SAR. Kegiatan dilaksanakan bersama tim SAR, KSOP, imigrasi, TNI AL, POLAIR
• Tim gerak cepat KKP melaksanakan penanganan terhadap kapal yang mengalami kecelakaan (tenggelam) berupa kapal ikan akibat cuaca buruk di perairan batang dua kota ternate, dengan memberikan pertolongan pertama dan evakuasi terhadap cru kapal sebanyak 9 orang. Kegiatan dilaksanakan bersama tim SAR, KSOP, imigrasi, TNI AL, POLAIR
• Tim gerak cepat KKP melaksanakan penanganan terhadap kapal yang mengalami kecelakaan (tenggelam) berupa kapal barang akibat cuaca buruk di perairan pulau makean kabupaten Halmahera selatan, dengan memberikan pertolongan pertama dan evakuasi terhadap cru kapal
sebanyak 7 orang. Kegiatan dilaksanakan bersama tim SAR, KSOP, imigrasi, TNI AL, POLAIR
c. Kejadian bencana alam di Kabupaten Halmahera Selatan yang terjadi pada Bulan Juli 2019.
Tim gerak cepat melakukan penanganan bencana gempa bumi dengan Tim gerak cepat melakukan penanganan bencana gempa bumi dengan magnitude 7,2 yang terjadi di Kabupaten Halmahera Selatan. Sebanyak 77 desa dari 11 kecamatan yang terkena dampak Kegiatan yang dilaksanakan yaitu melakukan PE, pengendalian vektor dan penanganan sanitasi lingkungan. Satgas mengalami kendala di lapangan yakni sulitnya akses ke lokasi dan sulitnya jaringan komunikasi dibeberapa desa terdampak.
Kegiatan PE pada gempa di Halmahera Selatan yang dilaksanakan oleh petugas KKP kerja sama dengan Dinkes Kabupaten Halmahera Selatan
Penanganan korban gempa di Kabupaten Halmahera Selatan Yang dilaksanakan oleh Tim gabungan KKP, TNI, Polri, BNPB dan Basarnas
Petugas KKP memberikan penjelas pembuatan ovitrap pada masyarakat dilokasi gempa
Petugas KKP melaksanakan tindakan pengendalian vektor di lokasi gempa
Pemeriksaan Medis oleh petugas KKP saat kejadian Kedaruratan medis di atas kapal Dari Luar kejadian Kedaruratan medis di atas kapal Dari Luar Negeri
Petugas KKP saat evakuasi Kedaruratan medis pasien, cru kapal terkena serangan jantung
Petugas KKP saat Evakuasi ABK korban Kecelakaan laut
Petugas KKP saat Evakuasi ABK korban Kecelakaan laut
Grafik 3.6
Persentase Respon Sinyal Kewaspadaan Dini (SKD),
KLB dan Bencana di wilayah layanan KKP Tahun 2015 – 2019
Berdasarkan gambar bahwa persentase respon 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
sinyal kewaspapadaan dini (SKD) KLB dan bencana di wilayah layanan KKP tahun 2019 sebesar 100%
begitu juga dengan capaian tahun 2015-2018 yang mencapai 100%.
Grafik 3.7 Persentase Respon Sinyal Kewaspadaan Dini (SKD),
2015 2016 2017 2018 2019
Target Capaian
Persentase Respon Sinyal Kewaspadaan Dini (SKD), KLB Dan Bencana Di Wilayah Layanan KKP Tahun 2019 Berdasarkan gambar bahwa
Persentase Respon Sinyal Kewaspadaan Dini (SKD), KLB Dan Bencana Di Wilayah Layanan KKP Tahun 2019 mencapai target yang ditetapkan
dalam RAP sebesar 80%. Realisasi Tahun ini
Target RAP
100 80
Upaya Yang Dilakukan Untuk Mencapai Indikator Upaya yang dilakukan dalam pencapain indikator :
1. Penguatan jejaring surveilans dengan menyelenggarakan pertemuan koordinasi surveilans kewaspadaan dini dan respon penyakit berpotensi KLB Lintas Sektor/Lintas Program dan Wilayah Kerja
2. Melakukan investigasi/penyelidikan epidemiologi dan atau tindakan penyehatan yang dierlukan pada setiap kejadian penyakit atau kejadian bencana, bekerja sama dengan LS/LP.
3. Koordinasi dan kerja sama LS/LP dalam penanggulangan KLB DBD di 3. Koordinasi dan kerja sama LS/LP dalam penanggulangan KLB DBD di Tobelo Kabupaten Halmahera Utara yaitu Wilker Tobelo dengan Dinas Kesehatan/puskesmas setempat dengan melakukan penyuluhan kepada
masyarakat dalam upaya mengindari factor risiko penyakit DBD di area buffer pelabuhan, melaksanakan pemberantasan jentik, melakukan pemberian bubuk abate pada masyarakat di wilayah perimeter dan buffer pelabuhan.
4. Membentuk tim gerak cepat (TGC) unit KKP Ternate , untuk merespon 4. Membentuk tim gerak cepat (TGC) unit KKP Ternate , untuk merespon setiap kejadian (KLB penyakit, kegawat daruran medis, dan bencana alam)
Analisa Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
Capaian indikator Persentase respon Sinyal Kewaspadaan Dini (SKD), KLB dan bencana di wilayah layanan KKP adalah 100%, dan dibandingkan dengan capaian realisasi anggaran sebesar 79,29%, berarti terdapat efisiensi sumber pembiayaan sebesar 20,71%.
Upaya yang dilakukan adalah melaksanakan sistem kewaspadaan dini Upaya yang dilakukan adalah melaksanakan sistem kewaspadaan dini dengan penggumpulan data penyakit, surveilans epidemiologi penyakit menular, Penyelidikan epidemiologi tentang factor risiko KKM. Pengumpulan data penyakit dan surveilans epidemiologi penyakit menular dan tidak menular dilakukan dengan mengkompilasi data yang berasal dari fasilitas kesehatan yang berada di wilayah buffer pelabuhan, meningkatkan jejaring surveilans dan kemitraan di pintu masuk wilayah dengan lintas sector, dan refresing petugas dalam pengendalian penyakit menular berbahaya di pintu masuk.
.
3. Jumlah Deteksi Dini Dalam Rangka Cegah Tangkal Masuk Dan Keluarnya 3. Jumlah Deteksi Dini Dalam Rangka Cegah Tangkal Masuk Dan Keluarnya
Penyakit
Difinisi Operasional :
Jumlah deteksi dini dalam rangka cegah tangkal masuk dan keluarnya penyakit adalah Jumlah deteksi dini yang dilaksanakan di pelabuhan dan di klinik layanan lainnya dalam rangka cegah tangkal masuk dan keluarnya penyakit dalam periode satu tahun
Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang digerakkan dengan tenaga angin, tenaga mekanik, energy lainnya, ditarik atau ditunda termasuk kendaraan yang berdayadukung dinamis, kendaraan ditunda termasuk kendaraan yang berdayadukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.
Pesawat udara setiap mesin atau alat yang dapat terbang di atmosfer karena daya angkat dari reaksi udara, tetapi bukan karena reaksi udara terhadap pemukaan bumi yang digunakan untuk penerbangan
Dokumen karantina kesehatan adalah surat keterangan kesehatan yang dimiliki setiap alat angkut, orang dan barang yang memenuhi persyaratan baik dimiliki setiap alat angkut, orang dan barang yang memenuhi persyaratan baik nasional maupun internasional.
Persetujuan karantina kesehatan adalah surat pernyataan yang diberikan oleh pejabat karantina kesehatan kepada penanggungjawab alat angkut yang berupa pernyataan persetujuan bebas karantina atau persetujuan karantina terbatas
Cara perhitungan :
Akumulasi jumlah sertifikat COP, Gendec dan hasil pemeriksaan surveilans rutin di klinik layanan lainnya dalam satu tahun
rutin di klinik layanan lainnya dalam satu tahun
Capaian Indikator Grafik 3. 8
Jumlah Layanan Deteksi Dini Dalam Rangka Cegah Tangkal Masuk Dan Keluarnya Penyakit
Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Ternate Tahun 2019
Target jumlah deteksi dini dalam rangka cegah tangkal masuk dan keluarnya penyakit tahun 2019 sebanyak 7.800 sertifikat. Capaian sebanyak 7.800 sertifikat. Capaian deteksi dini dalam rangka cegah tangkal masuk dan keluarnya penyakit sebanyak 8.678 sertifikat.
Adapun Persentase capaian kinerja tahun 2019 sebesar 111,26 %.
Dengan demikian indikator ini dinyatakan memenuhi target.
Jumlah deteksi dini dalam rangka cegah tangkal masuk dan keluarnya penyakit tahun 2019 tersebut dibandingkan tahun 2018 mengalami
8,678
Target Capaian 7,800
penyakit tahun 2019 tersebut dibandingkan tahun 2018 mengalami peningkatan, mengingat jumlah pada tahun 2018 sebanyak 284 layanan.
Adapun pelaksanaan deteksi dini yang dilakukan meliputi pengawasan kapal dalam karantina dalam rangka penerbitan Certificate of Pratique (COP,) , melaksanakan surveilans rutin dengan pengumpulann data penyakit menular di faskes non KKP di area buffer pelabuhan/bandara, pengawasan kedatangan kapal local dengan membuat pernyataan nahkoda.
kapal local dengan membuat pernyataan nahkoda.
Pengawasan dokumen kekarantinaan dalam rangka penerbitan COP
Grafik 3.9 Jumlah Layanan Deteksi Dini Dalam Rangka Cegah Tangkal Masuk Dan Keluarnya Penyakit
Tahun 2015 – 2019 Berdasarkan gambar,
bahwa capaian layanan deteksi dini dalam rangka
7800 8678 deteksi dini dalam rangka
cegah tangkal masuk dan keluarnya penyakit tahun
2019 mengalami
peningkatan dibandingkan tahun 2018 dan atau tahun-tahun sebelumnya. Capaian layanan deteksi dini dalam
rangka cegah tangkal masuk dan keluarnya penyakit tertinggi pada tahun 2019 sebanyak 8.678, sedangkan capaian terendah yaitu pada tahun 2015
71 21 95 87 141124 168284
2015 2016 2017 2018 2019
Target Capaian
2019 sebanyak 8.678, sedangkan capaian terendah yaitu pada tahun 2015 sebanyak 21. Berdasarkan gambar di atas capaian layanan deteksi dini dalam rangka cegah tangkal masuk dan keluarnya penyakit dari tahun ke tahun
cenderung mengalami peningkatan. Capaian pada tahun 2015 sebanyak 21 (29,58%), capaian tahun 2016 sebanyak 87 (91,58%), capaian tahun 2017 sebanyak 124 (87,94%), capaian tahun 2018 sebanyak 284 (169,05%) dan capaian tahun 2019 sebanyak 8.678 (111,26%).
Upaya Yang Dilakukan Untuk Mencapai Indikator Upaya yang dilakukan untuk mencapai indikator yaitu :
a. Penerbitan Certificate of Pratique (COP) yaitu sertifikat bebas karantina yang diberikan kepada alat angkut yang datang dari luar negeri, datang dari pelabuhan wilayah terjangkit didalam negeri atau mengambil orang dan/atau barang dari kapal sebanyak 374. Sertifikat COP diberikan Kepada kapal dari luar negeri, untuk Provinsi Maluku Utara sebagian besar merupakan kapal pengangkut bahan tambang. Lokasi kedatangan kapal tersebut antara lain pulau Obi di Kabupaten Halmahera Selatan, Pelabuhan laut weda dan Pulau Gebe di Kabupaten Halmahera Tengah, dan pelabuhan laut Tolong di Kabupaten Pulau Taliabu di mana lokasi tersebut belum ada wilker, sedangkan lokasi kedatangan kapal dari luar negeri yang sudah ada wilker yaitu Tobelo, dan Buli. Oleh karena itu untuk lokasi yang belum terdapat wilker pengawasan dan penerbitann untuk lokasi yang belum terdapat wilker pengawasan dan penerbitann COP dilakukan oleh Kantor Induk dan untuk yang sudah ada wilker dilakukan oleh wilker didampingi oleh kantor induk.
b. melakukan pemeriksaan alat angkut untuk mengetahui adanya factor risiko di atas alat angkut atau pelanggaran kekarantinaan meliputi pemeriksaan kelengkapan dokumen kekarantinaan alat angkut dan kru, pemeriksaan kondisi sanitasi kapal, dan pemeriksaan kelengkapan obat dan alat kesehatan. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebelum penerbitan sertifikat COP.
c. Meminta nahkoda/kapten/pilot untuk memberikan informasi mengenai situasi pelayaran/penerbangan meliputi MDH dari kapal Pelni, pernyataan nahkoda yang memberikan informasi mengenai situasi di atas kapal sebagai pengganti MDH dari kapal lokal yang melakukan pelayaran, dan manifest penumpang dan kru pesawat dari air lines sebagai pengganti Gendec mengingat bandara Sultan Babullah Ternate bukan ban dara internasional. Untuk kegiatan ini diperoleh sebanyak 8.147.
d. pemeriksaan surveilans rutin di klinik layanan lainnya, dengan melakukan pengumpulan data penyakit menular di faskes non KKP di area buffer pelabuhan/bandara, sebanyak 157 layanan.
Pemeriksaan dokumen kekarantinaan Kapal dalam karantina
Pemeriksaan kelengkapan P3K Kapal Dalam Karantina
Pemeriksaan Suhu tubuh (kesehatan) kru kapal dalam karantina
Pemeriksaan sanitasi dan vektor kapal dalam karantina
Petugas KKP melakukan pengambilan data ke faskes non KKP
Kendala/Masalah Yang Dihadapi
Kendala/masalah yang dihadapi yaitu Kendala/masalah yang dihadapi adalah
Kendala/masalah yang dihadapi yaitu Kendala/masalah yang dihadapi adalah