• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pendapatan Rumahtangga Penangkar Benih Kentang

Tingkat pengembalian terhadap usahatani benih kentang G-3 dan benih kentang G-4 memberikan gambaran mengenai kepentingan petani dalam melakukan usahatani untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga. Meskipun usahatani benih kentang G-3 dan benih kentang G-4 menjadi sumber mata pencaharian, akan tetapi tingginya persentase pendapatan maka pendapatan tersebut memiliki tingkat kepentingan yang tinggi dalam pemenuhan kebutuhan rumahtangga. Penghasilan keluarga penangkar tidak hanya diperoleh dari kegiatan usahatani, seperti usahatani benih kentang, melainkan usahatani sayuran dan kegiatan di luar usahatani. Sebagian penangkar dan anggota keluarga penangkar seperti istri memberikan kontribusi terhadap penambahan pendapatan rumahtangga dari kegiatan diluar usahatani benih kentang atau non usahatani.

Analisis pendapatan rumahtangga penangkar benih kentang G-3 dan G-4 diukur dari beberapa komponen, diantaranya dilihat dari imbalan kepada seluruh modal, imbalan kepada modal petani, dan imbalan terhadap tenaga kerja keluarga. Analisis pendapatan rumahtangga penangkar benih kentang G-3 dan G-4 dapat dilihat pada tabel 16.

32

Tabel 16 Analisi pendapatan rumahtangga dan kontribusi usahatani benih kentang G-3 dan G-4 di Kecamatan pangalengan per periode musim hujan tahun 2012 Komponen G-3 G-4 Nilai (Rp.) Proporsi (%) Nilai (Rp.) Proporsi (%)

Pendapatan kotor usahatani benih kentang 206 924 231 158 978 571

Pengeluran total usahatani benih kentang 127 205 800 88 859 208

Pendapatan bersih usahatani benih

kentang 79 718 431 70 119 363

Pinjaman tunai 0 0

Bunga pinjaman dan pokok 0 0

Nilai modal pinjaman 0 0

Penghasilan bersih usahatani benih

kentang 79 718 431 24 70 119 363 14

Penghasilan diluar usahatani benih kentang

Pendapatan usahatani sayuran 144 167 532 44 409 125 000 83

Pendapatan off farm 88 000 000 27 0 0

Pendapatan non farm 16 000 000 5 12 000 000 2

Penghasilan keluarga 327 885 963 491 244 363

Jumlah TK keluarga (HOK) 267 310

Upah TKLK (Rp./HOK) 18 726 18 702

Imbalan kepada seluruh modal 63 79

Imbalan kepada modal petani 63 79

Modal sendiri 127 205 800 88 859 208

Imbalan terhadap TK keluarga

(Rp./HOK) 298 571 226 191

Sumber : Data Primer

Penghasilan diluar Usahatani Benih Kentang

Pendapatan usahatani selain usahatani benih kentang hanya berasal dari usahatani tanaman sayuran (on farm) antara lain kubis, tomat, cabai, jagung ternak, sawi putih, wortel, dan bawang. Kegiatan usahatani sayuran dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan musim tanam benih kentang. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga penangkar selama proses produksi benih kentang berlangsung. Rata-rata pendapatan sayuran yang diperoleh penangkar G-3 pada musim tanam hujan tahun 2012 adalah sebesar Rp.144 167 532 sedangkan pada penangkar G-4 adalah sebesar Rp.409 125 000.

Pendapatan rata-rata pertanian lainnya yaitu berasal dari menjual bahan-bahan pertanian serta menjual pakan ternak (off farm). Pendapatan rata-rata (off farm) disesuaikan dengan 1 musim tanam benih kentang yaitu musim tanam hujan tahun 2012, maka pendapatan yang diperoleh penangkar G-3 adalah sebesar Rp.88 000 000 dan Rp.0 pada penangkaran benih kentang G-4. Pendapatan usaha diluar pertanian (non farm) bersumber dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), wirausaha (salon dan tempat les), rata-rata pendapatan yang dihasilkan adalah sebesar Rp.16 000 000 pada penangkaran benih kentang G-3, dan Rp.12 000 000 pada usahatani benih kentang G-4. Uraian mengenai rata-rata pendapatan diluar usahatani benih kentang dapat dilihat pada lampiran 8.

33 Penghasilan Keluarga Penangkar dan Kontribusi Usahatani Benih Kentang

Terhadap Penghasilan Keluarga

Rata-rata pendapatan kotor (gross farm income) usahatani benih kentang G-3 adalah sebesar Rp.206 924 2G-31, dengan rata-rata pengeluaran total (total farm expenses) usahatani benih kentang sebesar Rp.127 205 800, maka rata-rata pendapatan bersih (net farm income) usahatani benih kentang G-3 adalah sebesar Rp.79 718 431. Dari hasil wawancara dengan petani responden, pada usahatani benih kentang G-3 di Kecamatan Pangalengan pada musim tanam ke 2 atau pada musim hujan tahun 2012, sumber permodalan hanya diperoleh dari usahatani benih kentang sebelumnya, sehingga penghasilan bersih (net farm earning) yang diperoleh penangkar sama dengan pendapatan bersih usahatani (net farm income) benih kentang G-3.

Penghasilan keluarga (family earning) merupakan penjumlahan dari penghasilan bersih usahatani benih kentang dengan penghasilan usahatani selain usahatani benih kentang, serta penghasilan diluar usahatani. Nilai penghasilan keluarga penangkar benih kentang G-3 di Kecamatan Pangalengan dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya pendapatan yang diperoleh dari setiap usaha yang dilakukan rumahtangga petani penangkar benih kentang, rata-rata penghasilan keluarga yang diperoleh sebesar Rp.327 885 963. Penghasilan usahatani benih kentang memberikan proporsi sebesar Rp.79 718 431dengan persentase 24%, penghasilan sayuran memberikan proporsi sebesar Rp.144 167 532 dengan persentase 44%, dan penghasilan (off farm) memberikan proporsi sebesar Rp. 88 000 000 dengan persentase 27%, akan tetapi pada penangkar G-3 dengan status lahan sewa tidak melakukan kegiatan diluar usahatani (non farm), sehingga penghasilan non farm adalah sebesar Rp.16 000 000 dengan persentase 5%. Besarnya pendapatan dari usahatani sayuran menyatakan bahwa usahatani sayuran memiliki kontribusi yang tinggi dalam pemenuhan pendapatan rumahtangga.

Imbalan kepada seluruh modal (return to capital) merupakan persentase pengembalian yang diperoleh petani penangkar terhadap seluruh modal yang diusahakan, sedangkan imbalan kepada modal petani (return to farm equity capital) merupakan persentase pengembalian yang diperoleh petani terhadap modal sendiri. Modal yang diusahakan oleh penangkar benih kentang G-3 hanya berasal dari modal sendiri yaitu sebesar Rp.127 205 800. Persentase imbalan kepada seluruh modal yang diterima petani penangkar G-3 adalah sebesar 63% dan persentase imbalan kepada modal petani adalah sebesar 63%. Hal ini menyatakan bahwa imbalan kepada seluruh modal dan imbalan kepada modal petani sama, karena petani penangkar dalam mengusahakan benih kentang tidak melakukan peminjaman, serta modal investasi yang diusahakan oleh penangkar memberikan keuntungan investasi.

Imbalan terhadap tenaga kerja keluarga (return to family labor) merupakan pembagian penghasilan bersih terhadap jumlah tenaga kerja keluarga. Nilai rata-rata imbalan yang diperoleh tenaga kerja keluarga adalah sebesar Rp.298 571/HOK. Jika dibandingkan dengan rata-rata upah yang diberikan kepada tenaga kerja luar keluarga yaitu sebesar Rp.18 726/HOK, maka imbalan yang diperoleh tenaga kerja keluarga cukup tinggi, sehingga para penangkar tetap mengusahakan

34

benih kentang, dan menjadikan usaha benih kentang sebagai sumber penghasilan utama.

Rata-rata pendapatan kotor (gross farm income) usahatani benih kentang G-4 adalah sebesar Rp.158 978 571, dengan rata-rata pengeluaran total (total farm expenses) usahatani benih kentang sebesar Rp.88 859 208, maka rata-rata pendapatan bersih (net farm income) usahatani benih kentang G-4 yang diterima penangkar adalah sebesar Rp.70 119 363. Dari hasil wawancara dengan petani responden, pada usahatani benih kentang G-4 di Kecamatan Pangalengan pada musim tanam ke 2 atau pada musim hujan tahun 2012, sumber permodalan hanya diperoleh dari usahatani benih kentang sebelumnya, sehingga penghasilan bersih (net farm earning) yang diperoleh penangkar sama dengan pendapatan bersih usahatani (net farm income) benih kentang G-4.

Nilai penghasilan keluarga penangkar benih kentang G-4 dengan status lahan sewa di Kecamatan Pangalengan dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya pendapatan yang diperoleh dari setiap usaha yang dilakukan rumahtangga petani penangkar benih kentang, rata-rata penghasilan keluarga yang diperoleh sebesar Rp.491 244 363. Penghasilan usahatani benih kentang memberikan proporsi sebesar Rp.70 119 363 dengan persentase 14%, penghasilan sayuran memberikan proporsi sebesar Rp.409 125 000 dengan persentase 83%, dan penghasilan (off farm) memberikan proporsi sebesar Rp.0 dengan persentase 0%, serta penghasilan diluar usahatani (non farm) adalah sebesar Rp.12 000 000 dengan persentase 2%. Besarnya pendapatan dari usahatani sayuran, menyatakan bahwa usahatani sayuran memiliki kontribusi yang tinggi dalam pemenuhan pendapatan rumahtangga.

Modal yang diusahakan oleh penangkar benih kentang G-4 hanya berasal dari modal sendiri yaitu sebesar Rp.88 859 208. Persentase imbalan kepada seluruh modal yang diterima petani penangkar G-4 adalah sebesar 79% dan persentase imbalan kepada modal petani adalah sebesar 79%. Hal ini menyatakan bahwa imbalan kepada seluruh modal dan imbalan kepada modal petani sama, karena petani penangkar dalam mengusahakan benih kentang tidak melakukan peminjaman, serta modal investasi yang diusahakan oleh penangkar memberikan keuntungan investasi.

Nilai rata-rata imbalan yang diperoleh tenaga kerja keluarga adalah sebesar Rp.226 191/HOK. Jika dibandingkan dengan rata-rata upah yang diberikan kepada tenaga kerja luar keluarga yaitu sebesar Rp.18 702/HOK, maka imbalan yang diperoleh tenaga kerja keluarga cukup tinggi, sehingga para penangkar tetap mengusahakan benih kentang, dan menjadikan usaha benih kentang sebagai sumber penghasilan utama.

35

Dokumen terkait