HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3 Analisis Pendapatan UKM Kerajinan Kayu Mitra Binaan
Manfaat kemitraan bagi UKM kerajinan mitra dapat dianalisis dari manfaat ekonomi berupa pendapatan. Pendapatan tersebut diperoleh dari analisis usaha kerajinan UKM mitra. Pendapatan usaha kerajinan merupakan keuntungan yang didapat dari hasil penjualan produksinya. Besarnya keuntungan ini tergantung dari total penjualan dikurangi oleh biaya yang dikeluarkan untuk berproduksi. Besarnya pendapatan yang diperoleh UKM Cheklie Art dan UKM Barokah per tahunnya masing-masing dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.
Tabel 3 Analisis usaha kerajinan kayu Cheklie Art
URAIAN Jumlah Harga satuan
URAIAN Jumlah Harga satuan
Tabel 4 Analisis usaha kerajinan kulit kayu Barokah
URAIAN Jumlah Harga satuan
(Rp/satuan)
Bedasarkan hasil perhitungan yang diperoleh yang disajikan pada Tabel 3 dan Tabel 4, UKM Cheklie Art memperoleh pendapatan per tahun dari usaha yang dijalankannya sebesar Rp. 587.340.000 dan UKM Barokah sebesar Rp.
122.090.000 per tahun. Pendapatan ini merupakan keuntungan yang didapat dari
hasil penjualan produksinya dikurangi seluruh biaya produksi. Besarnya pendapatan tersebut sesuai pula dengan besarnya biaya produksi yang dikeluarkan. Biaya produksi tersebut merupakan total biaya dari penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel yang disesuaikan dengan kondisi usaha kerajinan.
Pada UKM Cheklie Art, total biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp.
378.660.000 tiap tahun. Biaya yang dikeluarkan meliputi : biaya tetap dan biaya variabel. Total biaya tersebut dipengaruhi oleh biaya variabel yang tinggi untuk perolehan bahan baku sebesar Rp. 248.400.000 dengan kebutuhan bahan baku kayu jati dan mahoni masing-masing sebesar 3 m3 per bulannya. Pengadaan bahan baku tersebut didapatkan dan dibeli sendiri oleh pemilik usaha melalui kerjasama dengan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah pada KPH wilayah Kendal yang bahan bakunya berasal dari daerah Pekalongan dan Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Adapun biaya lainnya yang dikeluarkan yaitu : gaji pekerja, listrik, pajak, dan penyusutan alat yang digunakan untuk berproduksi. Setiap tahunnya, pemilik usaha mengeluarkan biaya sebesar Rp. 122.400.000 untuk membayar gaji pekerja sebanyak 13 orang. Gaji tersebut dibayarkan sesuai dengan tingkat keahlian tenaga kerja. Untuk tenaga ahli, upah yang dibayar per harinya sebesar Rp.
50.000, dimana tenaga ahli tersebut berjumlah 4 orang. Sedangkan untuk tenaga pembantu sebesar Rp. 35000 dengan pekerja berjumlah 3 orang dan sisanya diberi upah Rp. 20.000 per hari. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting dalam peningkatan suatu usaha. Penggunaan sumberdaya manusia yang berkualitas akan dapat mendorong pengembangan serta peningkatan suatu usaha terhadap pendapatan.
Selain gaji pekerja, terdapat biaya penyusutan alat yang akhirnya akan mempengaruhi pula pada nilai pendapatan. Biaya penyusutan alat yang digunakan UKM ini selama berproduksi dibebankan kedalam biaya tetap, dimana biaya ini akan selalu dikeluarkan walau tidak berproduksi. Pembebanan biaya penyusutan alat ini menggunakan metode garis lurus berupa harga beli dikurangi dengan nilai sisa dibagi dengan umur ekonomis dari alat tersebut. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pemilik usaha Cheklie Art, diasumsikan nilai sisa alat yang digunakan sebesar Rp. 40.000 dengan taksiran umur ekonomis selama 4
tahun. Dengan harga beli alat produksi sebesar Rp. 7.000.000, maka biaya yang harus dikeluarkan untuk penyusutan alat sebesar Rp. 1.740.000.
Penerimaan yang diperoleh UKM Cheklie Art didapat dari hasil penjualan produknya sebesar Rp. 966.000.000 setiap tahunnya. Nilai ini dapat dikatakan tinggi karena usaha kerajinan ini dapat menjual sebanyak 700 produk per bulannya atau 8400 produk per tahun dengan harga jual yang berkisar antara Rp.
50.000 sampai dengan satu juta rupiah. Sehingga dari penerimaan tersebut diperoleh nilai pendapatan sebesar Rp. 587.340.000 setelah dikurangi total biaya yang dikeluarkan. Dalam perhitungan penerimaan, diasumsikan harga jual untuk produk per unitnya rata-rata sebesar Rp.115.000.
Sedangkan penerimaan pada UKM Barokah diperoleh sebesar Rp.234.000.000 dengan jumlah produksinya per tahun sebanyak 36000 unit dengan asumsi harga jual per unitnya rata-rata sebesar Rp.6500. Nilai penerimaan ini tidak jauh dari total biaya yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp.111.910.000.
Total biaya tersebut meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap yang dikeluarkan terdiri atas gaji pekerja dan pajak, dimana pada gaji pekerja, pembayaran upah disesuaikan dengan jumlah produk yang dapat dihasilkan pekerja per harinya. Pembayaran upah tersebut disesuaikan pula dengan tingkatan produk. Besarnya upah per unit bedasarkan tingkatan produknya ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 5 Nilai upah per unit bedasarkan tingkatan produk Tipe Produk Kerajinan
Produk A : pot bunga ukuran kecil Produk B : pot bunga ukuran sedang Produk C : tempat tisu single
Produk D : Tempat tisu double Produk E : Pot bunga ukuran besar
Untuk tipe produk A dengan harga jual Rp. 2000, tiap unitnya yang dihasilkan diupahi sebesar Rp. 500. Untuk tipe produk B dengan harga jual
Rp. 4000, per unitnya diupahi Rp. 1000. Pada tipe produk C dengan harga jual Rp. 9000, upahnya Rp. 2000 per unitnya. Dan untuk tipe produk D dan E dengan harga masing-masing Rp. 12000 dan Rp. 15000, tiap unit yang dihasilkan dikenakan upah masing-masing Rp. 4000 dan Rp. 5000. Diasumsikan rata-rata setiap harinya pekerja dapat menghasilkan 40 buah/unit tiap tingkatan produk kerajinan. Sehingga gaji yang dibayarkan per bulannya sebesar Rp. 500.000 per orang atau Rp. 90.000.000 per tahunnya untuk seluruh tenaga kerja sebanyak 15 orang. Jumlah biaya untuk gaji tersebut sangat mempengaruhi besarnya total biaya yang dikeluarkan karena memiliki nilai tertinggi. Pada biaya variabel, komponen biaya yang dikeluarkan yaitu untuk pembelian bahan baku beserta biaya angkutnya, penambahan alat pendukung paku kayu per bulan serta upah makan pekerja. Bahan baku yang digunakan berupa kulit kayu akasia yang merupakan kayu produksi Perum Perhutani KPH Bogor pada wilayah BKPH Parung Panjang. Kulit kayu tersebut dibeli sendiri oleh pemilik usaha ini setelah kayu-kayu tersebut terjual pada orang lain. Per ikatnya, kulit kayu tersebut dihargai Rp. 600 dengan kebutuhan per bulannya 100 ikat. Biaya angkut yang dikeluarkan per bulan sebesar Rp. 800.000 untuk 2 truk dengan per truknya terdiri atas 50 ikat kulit kayu. Tiap truk dikenakan biaya sebesar Rp. 400.000. Adapun untuk biaya upah makan pekerja sebesar Rp. 6000 per orang tiap harinya. Jumlah pekerja tersebut hanya untuk 5 orang pekerja, karena sisa pekerja lainnya bekerja sendiri-sendiri di tempat masing-masing, sehingga pengeluaran untuk upah makan dapat diminimalkan.Jumlah biaya yang dikeluarkan ini cukup besar per tahunnya bahkan melebihi biaya bahan baku sebesar Rp. 8.640.000. Untuk tenaga kerja, pemilik usaha sangat memperhatikan sumberdaya manusia yang dimiliki pekerja karena bagi usaha di bidang kerajinan peranan tenaga kerja dapat dikatakan sangat dominan karena sifat usahanya cenderung menggunakan tenaga kerja yang cukup banyak dengan karakter mengandalkan keterampilan kerajinan tangan, dengan teknologi sederhana dan modal yang relatif kecil. Sehingga membutuhkan keahlian dari pekerjaan manusia yang tidak sedikit atau bahkan tidak bisa digantikan oleh mesin. Atas hal tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan ekonomi usaha kerajinan kulit kayu yang dijalankan.
Dari total biaya yang dikeluarkan oleh UKM ini, didapatkan pendapatan per tahunnya sebesar Rp. 122.090.000. Nilai pendapatan ini jauh lebih rendah dengan pendapatan yang diterima UKM Cheklie Art, karena usaha kerajinan kulit kayu ini memasarkan produknya dengan harga jual yang rendah, sehingga memiliki nilai penerimaan yang rendah dan tidak jauh dari total biaya yang dikeluarkan. Dari nilai pendapatan yang diperoleh kedua UKM mitra binaan, mengindikasikan bahwa usaha tersebut mampu menutup keseluruhan pengeluaran dengan penerimaan yang diperoleh dan menghasilkan keuntungan.
5.4 Biaya Transaksi
Adanya hubungan kemitraan antara Perum Perhutani KPH Bogor dengan UKM kerajinan kayu tidak terlepas dari biaya transaksi yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak, berupa biaya-biaya untuk melaksanakan suatu kegiatan dalam rangka menegakkan hak-hak dan kewajiban yang telah ditentukan dalam kontrak yang berlaku. Biaya transaksi muncul ketika individu-individu mengadakan pertukaran hak-haknya dan saling ingin menegakan hak ekslusif yang dimilikinya. Menurut Ostrom et al. (1993), diacu dalam Nugroho (2003), biaya transaksi meliputi biaya informasi, biaya koordinasi dan biaya strategi.
Biaya informasi (information cost) adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk mencari dan mengorganisasi data, sedangkan biaya koordinasi (coordination costs) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk waktu, modal, dan personal yang diinvestasikan dalam negosiasi, pengawasan, dan penegakan kesepakatan diantara pelaku. Adapun biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai akibat informasi, kekuasaan dan sumberdaya lainnya yang tidak sepadan diantara pelaku merupakan biaya strategi (strategic cost). Kuperan et al. (1998) biaya transaksi adalah biaya memperoleh informasi, biaya untuk membangun posisi tawar dan biaya menegakan keputusan yang telah dibuat. Bedasarkan asumsi-asumsi tersebut, penggolongan biaya transaksi dalam hubungan kemitraan ini, meliputi : biaya rekrutment, biaya pembuatan kontrak dan biaya untuk menegakan kontrak.
Biaya rekrutment yaitu biaya yang ditimbulkan untuk memperoleh informasi mengenai kegiatan atau kontrak yang akan dilakukan. Biaya pembuatan kontrak atau biaya negosiasi merupakan biaya yang diperlukan untuk menerima suatu kontrak dengan pihak lain atas suatu transaksi. Sedangkan biaya menegakan
kontrak adalah biaya monitoring yang merupakan biaya yang ditimbulkan karena adanya kegiatan untuk mengawasi pihak lain atau pelaporan atas pelaksanaan kontrak yang dijalani. Pada pihak KPH Bogor, komponen biaya transaksi pada
Sedangkan biaya transaksi yang dikeluarkan oleh UKM mitra binaan adalah biaya rekrutment berupa biaya untuk bermitra, seperti : biaya transportasi ke kantor KPH Bogor dan fotokopi persyaratan untuk bermitra. Selanjutnya biaya pembuatan kontrak, yaitu biaya untuk mengurus kontrak yang hanya terdiri dari biaya transportasi. Biaya menegakan kontrak yaitu biaya pelaporan atas kerjasama seperti biaya fotokopi data perkembangan usaha, dan biaya transportasi.
Komponen biaya-biaya tersebut menyesuaikan pada estimasi biaya transaksi yang dikeluarkan oleh kedua pihak.
Berikut dapat dilihat pada Tabel 6 dan Tabel 7 besarnya biaya transaksi yang dikeluarkan oleh pihak Perum Perhutani KPH Bogor dalam menjalankan program kemitraan dengan UKM kerajinan Cheklie Art dan Barokah.
Tabel 6 Biaya Transaksi Perum Perhutani KPH Bogor
No. Komponen Biaya Transaksi Besarnya Biaya Transaksi (Rp/kontrak) I Biaya Rekrutment
a. Fotokopi bahan proposal b. Survei usaha calon mitra
c. Biaya rapat ( fotokopi bahan rapat dan konsumsi)
Tabel 7 Biaya Transaksi UKM Kerajinan Kayu Mitra Binaan
No. Komponen Biaya Transaksi Biaya Transaksi (Rp/kontrak) UKM Cheklie Art I Biaya Rekrutmen
a. Fotokopi Persyaratan
b. Transportasi ke kantor KPH Bogor
1000 18.000
Total 19.000
II Biaya Pembuatan Kontrak
a. Transportasi ke kantor KPH Bogor 36.000
Total 36.000
III Biaya Menegakan Kontrak
a. Fotokopi data perkembangan usaha b. Transportasi
1000 54.000
Total 55.000
Total Biaya Transaksi 110.000
Bedasarkan tabel biaya transaksi, terlihat bahwa minimnya biaya transaksi yang dikeluarkan pihak KPH Bogor maupun UKM Kerajinan mitra binaan. Biaya transaksi tersebut relatif kecil karena tidak banyak bagian-bagian dalam komponen kegiatan yang mengeluarkan biaya transaksi. Estimasibiaya transaksi yang dikeluarkan pihak KPH Bogor dalam melakukan kontrak program kemitraan dengan UKM kerajinan kayu mitra binaan sebesar Rp.4.505.000, dimana biaya transaksi terbesar terdapat pada komponen biaya untuk menegakan kontrak sebesar Rp.2.250.000. Komponen biaya yang tinggi ini disebabkan adanya monitoring yang dilakukan setiap tiga kali dalam setahun. Monitoring yang dilakukan melalui pengecekan langsung ke tempat usaha dengan 1 tim survei sebanyak 2 orang dan dengan biaya perjalanan per orang sebesar Rp.125.000.
Dari total biaya transaksi yang dikeluarkan perusahaan tersebut dapat diketahui nilai biaya transaksi tersebut dapat dikatakan tinggi dari pinjaman yang diberikan KPH Bogor terhadap UKM Cheklie Art sebesar Rp. 11.000.000, karena hampir mencapai 50% dari pinjaman sehingga pengorbanan ekonomi yang dikeluarkan perusahaan menjadi lebih besar yang menjadikan hubungan kemitraan yang dilakukan kurang efisien.
Sedangkan estimasi biaya transaksi yang dikeluarkan oleh UKM mitra binaan seluruhnya berjumlah Rp.110.000 dalam sekali kontrak yang dilakukan.
Biaya transaksi ini relatif kecil karena dalam perekrutan dan pembuatan kontrak semua bahan keperluan telah dipersiapkan oleh pihak KPH Bogor sehingga pihak
UKM hanya mengeluarkan biaya fotokopi untuk persyaratan berkontrak serta biaya transportasi yang dikeluarkan untuk mengurusi kontrak dan pelaporan usaha. Sehingga terlihat bahwa pihak Perhutani lebih aktif dalam menjalankan kemitraan. Komponen biaya transaksi tertinggi diperoleh pada estimasi biaya transportasi ke kantor KPH Bogor, dimana hal tersebut dapat dipengaruhi oleh lokasi atau jarak tempuh antara tempat usaha mitra binaan dengan kantor KPH Bogor. Semakin jauh jarak tempuh maka kemungkinan biaya transaksi yang dikeluarkan akan semakin besar. Pada UKM Barokah, dapat diketahui dari tabel bahwa UKM ini tidak mengeluarkan biaya transportasi. Hal ini dikarenakan dalam pengurusan kontrak serta penegakannya diwakili oleh LSM yang membantu kegiatan kemitraan ini. Mengacu pada pengertian biaya transaksi menurut Ostrom et al. (1993), komponen biaya transportasi ini termasuk dalam biaya koordinasi, dimana pada prinsipnya semua kegiatan membutuhkan biaya koordinasi, yaitu : negoisasi, pengawasan, dan penegakan kesepakatan agar kegiatan yang dijalani dapat terlaksana dengan baik. Dari besarnya estimasi biaya transaksi yang ditimbulkan atas kontrak yang dilakukan ini, biaya transaksi yang dikeluarkan agent relatif kecil dibandingkan hasil pendapatan tiap tahunnya yang diperoleh sehingga agent atau mitra tidak terlalu mempermasalahkan biaya yang mereka keluarkan tersebut.
Besarnya biaya transaksi dapat dipengaruhi oleh adanya ketidaksepadanan informasi (assymetric information) yang dimiliki oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ini. Asymetric information terdapat dalam setiap hubungan transaksional dan cenderung opportunis, dimana perilaku opportunis digambarkan sebagai perilaku yang berusaha mencapai keinginan dengan segala cara bahkan dengan cara ilegal sekalipun. Assymetric Information muncul karena umumnya pihak agent menguasai informasi tentang keragaan (work effort) yang ada pada dirinya, sedangkan informasi tentang keragaan agent yang dimiliki oleh principal sangat terbatas. Contohnya dari dua pihak yang melakukan kontrak, salah satu pihak (principal) kesulitan untuk mengakses informasi tentang partner kontrak (reputasi, track record), kualitas property rights yang akan dipindahkan, termasuk di dalamnya kerangka kontrak, pengawasan dan penegakan aturan kontrak. Ketika
informasi yang ada terlalu sering berubah, maka akan muncul kecenderungan terjadinya ketidaksepadanan informasi (asymmetric information).
Suatu kemitraan dapat dikatakan berhasil apabila biaya transaksi yang dikeluarkan antara principal-agent rendah. Biaya transaksi dapat terjadi karena adanya ketidaksepadanan informasi antara pihak-pihak yang terlibat. Situasi biaya transaksi tinggi yang terjadi akan membuka peluang timbulnya moral hazard atau perilaku ingkar janji dari pihak agent. Jika situasi ini berlangsung terus, maka kegiatan kemitraan yang dilakukan tidak akan berjalan efektif, dapat disebabkan karena adanya penyimpangan dalam melaksanakan hak dan kewajiban atas kontrak yang disepakati. Biaya transaksi dalam pelaksanaan kemitraan berperan penting karena menentukan tingkat efisiensi suatu hubungan antar pelaku ekonomi di pasar (North 1991, diacu dalam Priyono 2004) termasuk pula hubungan antara UKM kerajinan Mitra Binaan dengan KPH Bogor.