• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Implementasi Kemitraan Antara Perum Perhutani KPH Bogor dengan UKM Kerajinan Kayu Mitra Binaan dengan UKM Kerajinan Kayu Mitra Binaan

5.2.1 Implementasi Hak dan Kewajiban KPH Bogor

Dalam melaksanakan program kemitraan, dilakukan penyuluhan terlebih dahulu kepada calon Mitra Binaan tentang PKBL dengan segala sesuatunya yang berhubungan dengan pelaksanaan PKBL tersebut, antara lain : penetapan kriteria calon mitra, persyaratan untuk bermitra, pengajuan proposal, pembuatan Perjanjian Pinjaman Modal, penyaluran dana pinjaman, dan lain sebagainya.

Dalam pembuatan surat Perjanjian Kerjasama atau Perjanjian Pinjaman Modal penting untuk dilakukan agar UKM Mitra Binaan melaksanakan kegiatan usaha dalam koridornya dan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.

Perjanjian Pinjaman Modal adalah salah satu bentuk kesepakatan yang dilakukan antara kedua belah pihak dengan secara tertulis di kertas dan bermaterai cukup serta diketahui oleh saksi dari kedua belah pihak serta dari instansi lain yang terkait. Dalam Perjanjian Perjanjian Modal memuat kesepakatan-kesepakatan yang terdiri atas pasal-pasal, antara lain : pasal mengenai jenis dan jangka waktu

pinjaman modal, pencairan pinjaman modal, pembayaran kembali dana pinjaman, sanksi, pelaksanaan pembinaan, penghentian pinjaman, agunan, dan lainnya seperti yang tercantum pada Lampiran 4. Selain itu, untuk menjamin pembayaran kembali jumlah pinjaman secara tertib sebagaimana mestinya, terhadap UKM Mitra Binaan diberlakukan agunan berupa dokumen kepemilikan yang sah atas agunan yang diberikan oleh pihak penerima pinjaman atau pemilik agunan kepada pihak Perum Perhutani KPH Bogor. Agunan adalah barang jaminan yang dititipkan oleh Mitra Binaan dan atau Pemilik Agunan kepada Perum Perhutani KPH Bogor untuk menjamin pembayaran kembali jumlah pinjaman secara tertib.

Sedangkan Pemilik Agunan adalah pihak yang berdasarkan dokumen agunan diakui sebagai pemilik yang sah atas agunan dan berhak menjaminkan agunan untuk menjamin pemenuhan kewajiban Mitra Binaan terhadap pinjaman modal yang diterimanya. Dalam agunan dan pembayaran kembali dana pinjaman disertai dengan Surat Kuasa Khusus Menjual Agunan (Lampiran 5), Surat Pernyataan Bersedia Memberikan Agunan (Lampiran 6 dan 7), dan Surat Pernyataan Kesanggupan Membayar Angsuran beserta bunganya dimana surat-surat pernyataan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam Perjanjian Pinjaman Modal dan telah ditandatangani oleh pihak penerima pinjaman (Mitra Binaan).

UKM kerajinan kayu Cheklie Art pada Perjanjian Pinjaman Modal menyerahkan agunan kepada pihak KPH Bogor berupa Counter Cheklie Art yang ditempatkan pada perusahaan mitra lain selain Perum Perhutani, yaitu : Sarinah dan Nazwa Art. Atas jaminan tersebut, selanjutnya dibuatkan Surat Pernyataan atau Surat Kuasa Menjual yang menyatakan kesediaan pihak UKM Cheklie Art untuk memberikan agunan tersebut yang besarnya sesuai dengan jumlah pinjamannya. Pemilik Agunan atau pihak UKM Cheklie Art dapat mengambil kembali dokumen agunan yang diserahkan kepada Perum Perhutani KPH Bogor dalam waktu 1 (satu) bulan sejak Pemilik Agunan dinyatakan telah melunasi pinjaman oleh Perum Perhutani KPH Bogor. Adanya jaminan atau agunan ini dalam penyaluran dana pinjaman modal kerja pada Mitra Binaan dapat memunculkan perhatian dari para pengusaha kecil atas kewajibannya untuk mengangsur pinjaman sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Adapun pada UKM

Barokah, kontrak yang dibuat ditangani oleh LSM yang membantu UKM tersebut untuk bermitra dengan KPH Bogor.

Penyaluran dana pinjaman program kemitraan dilakukan setelah penandatanganan Perjanjian Pinjaman Modal oleh kedua belah pihak yang bermitra. Perguliran dana Program Kemitraan dari tahun ke tahun tergantung dari perolehan laba atau keuntungan yang diperoleh Perum Perhutani. Sehingga meski perencanaan besar tetap harus menunggu jatah atau alokasi dana dari Direksi, dimana penyalurannya dilakukan setahun sekali pada bulan Desember. Adapun Dana Program Kemitraan dengan sumber, sebagai berikut :

a. Penyisihan laba setelah pajak sebesar 1% (satu persen) sampai dengan 2%

(dua persen) (Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05/MBU/2007 tentang PKBL).

b. Hasil bunga pinjaman, bunga deposito dan atau jasa giro dari dana Program Kemitraan setelah dikurangi beban administrasi bank.

c. Besarnya alokasi dana Program kemitraan yang berasal dari penyisihan laba setelah pajak dan telah ditetapkan oleh Menteri.

d. Apabila dilakukan perubahan alokasi dana wilayah binaan harus mendapatkan persetujuan Menteri.

Dana Program Kemitraan yang diberikan selain dalam bentuk pinjaman modal, bisa juga berbentuk pinjaman khusus dan hibah. Pinjaman Khusus digunakan untuk membiayai kebutuhan dana pelaksanaan kegiatan usaha Mitra Binaan yang bersifat jangka pendek dalam rangka memenuhi pesanan dari rekanan usaha Mitra Binaan. Perjanjian pinjaman dilaksanakan 3 (tiga) pihak, yaitu : Perum Perhutani, Mitra Binaan, dan rekanan usaha Mitra Binaan dengan kondisi yang ditetapkan oleh Perum Perhutani. Sedangkan hibah hanya dapat diberikan kepada Mitra Binaan, besarnya maksimal 20 % dari dana Program Kemitraan yang disalurkan pada tahun berjalan dan diberikan pada 3 jenis kegiatan, dalam bentuk pembinaan manajerial, pembinaan tehnik produksi dan pembinaan pemasaran.

5.2.1.1 Pembinaan KPH Bogor Terhadap UKM Mitra

Dalam kemitraan yang dilakukan, selain pemberian pinjaman modal diberikan pembinaan terhadap Mitra Binaan. Pembinaan kepada mitra diberikan

seperti pembinaan dalam hal pemasaran, manajerial, teknik produksi dan pembinaan lainnya baik yang bertujuan untuk meningkatkan usaha Mitra Binaan dan memonitoring penggunaan dana pinjaman. Pelatihan manajerial diberikan kepada mitra binaan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan manajemen mitra binaan dalam rangka mengelola pinjaman modal yang diperolehnya baik dari segi pengelolaan administrasi usaha maupun administrasi keuangannya. Tim pembina KPH Bogor berusaha memberikan pengetahuan dan wawasan kepada mitra binaan dalam berwiraswasta melalui ceramah dan diskusi mengenai Program Kemitraan Perum Perhutani serta aspek manajemen dalam usaha yang dijalani mitra binaan, sehingga dari pelatihan tersebut kontribusi untuk Perum Perhutani KPH Bogor diperkirakan akan mengurangi jumlah tunggakan atau kemacetan realisasi pengembalian angsuran dana pinjaman PKBL dan tujuan awal dari Program Kemitraan sebagai program pendukung dari program-program inti Perum Perhutani untuk menyejahterakan masyarakat dapat lebih maksimal. Dari pelatihan ini pula dapat dapat memberi peluang akan semakin terbukanya jalan untuk membentuk jaringan usaha antar Mitra Binaan Program Kemitraan KPH Bogor sehingga antar Mitra Binaan akan saling membantu mencari peluang guna meningkatkan usahanya.

Adapun bantuan teknik produksi diberikan untuk kegiatan yang bersifat melatih, pemberian mesin-mesin, dan cenderung kepada peningkatan teknik produksi usaha mitra binaan. Sedangkan dalam hal pemasaran, pihak KPH Bogor membantu mitra binaannya untuk diikutsertakan pada pameran-pameran yang ada serta untuk meningkatkan pemasaran produk yang dihasilkan.

Pembinaan yang diberikan KPH Bogor pada UKM Cheklie Art selain pemberian pinjaman modal, UKM ini diikutsertakan pada pameran-pameran kerajinan setiap tiga sampai empat kali setahun yang difasilitasi oleh KPH Bogor.

Adapun pada UKM Barokah, pemilik usaha ini tidak selalu mengikutsertakan usahanya pada pameran-pameran yang ditawarkan dari pihak KPH Bogor.

Apabila mengikuti, pemilik UKM mengikutsertakan usahanya melalui LSM yang ada. Adapun hal tersebut dilakukan karena pemilik merasa kualitas produk yang dihasilkan kurang baik dan belum mampu untuk bersaing dengan usaha-usaha

lainnya sehingga kurangnya motivasi untuk mengikuti pameran kerajinan dari pihak KPH Bogor.

Kemitraan yang dilakukan UKM Barokah dengan KPH Bogor tidak dalam peminjaman modal. Bedasarkan wawancara dengan pemilik usaha ini, UKM ini lebih memilih menggunakan modal sendiri untuk menjalankan usahanya tersebut karena dirasa memiliki alasan pribadi tertentu, pemilik khawatir tidak bisa mengembalikan pinjaman dana yang diberikan oleh pihak Perum Perhutani KPH Bogor. Akan tetapi pembinaan yang dilakukan KPH Bogor tetap berjalan pada UKM ini dalam hal memfasilitasi alat-alat produksi yang dibutuhkan UKM Barokah.

5.2.1.2 Pelanggaran Kontrak dan Monitoring

Adapun pelanggaran kontrak yang sering dilakukan oleh beberapa pihak agent yang menjadi kendala dalam hubungan kemitraan ini berupa ketidaktepatan waktu membayar angsuran pengembalian pinjaman yang telah disepakati.

Umumnya hal ini dikarenakan oleh faktor jarak yang jauh antara lokasi Mitra Binaan dengan kantor KPH Bogor, sehingga biasanya angsuran dibayar sekaligus dua sampai tiga bulan oleh Mitra Binaan. Selain itu, pemasaran yang lesu dapat mempengaruhi keterlambatan pembayaran pengembalian pinjaman. Apabila hal ini terjadi pada mitra binaan, pihak KPH Bogor memberikan surat peringatan kepada mitra yang bersangkutan serta meminta surat keterangan mengenai alasan keterlambatan dan kesanggupan untuk membayar angsuran. KPH Bogor melakukan upaya-upaya untuk menghindari pelunasan yang tidak lancar tersebut diantaranya diadakannya pelatihan manajerial agar tingkat realisasi pengembalian pinjaman meningkat serta dilakukan monitoring atas usaha yang dijalankan Mitra Binaan.

Persoalan utama dalam pemberian pinjaman adalah adanya kesenjangan informasi (asymmetric information) antara pihak pemberi dan penerima pinjaman.

Oleh karena itu, kehadiran unit pengelola program kemitraan sangat diperlukan untuk meminimalisir munculnya perilaku oportunis penerima pinjaman setelah akad ditandatangani (ex post), mengurangi biaya transaksi dan risiko salah sasaran penerima kredit (ex ante), dan menjamin kelancaran pengembalian

pinjaman (Nugroho 2010). Dalam hal ini unit pengelola program yaitu bagian PKBL Perum Perhutani KPH Bogor dengan tindakan monitoringnya atas penggunaan dana pinjaman modal.

Monitoring dan penagihan dilaksanakan sewaktu - waktu guna memonitor penggunaan pinjaman PKBL dan juga untuk mengurangi tunggakan Mitra Binaan jika terjadi kemacetan. Biasanya, monitoring dilakukan setahun tiga kali dengan pengecekan langsung ke tempat usaha. Pengecekan tersebut dicatat dalam formulir monitoring (Lampiran 8). Selain itu, monitoring juga dilakukan dengan pengecekan atas jadwal angsuran pinjaman yang dibayarkan. Dalam pengecekan tersebut, dinilai kualitas pinjaman dana program kemitraan yang bedasarkan pada ketepatan waktu pembayaran kembali pokok dan bunga pinjaman Mitra Binaan.

Sehingga dari hal tersebut dapat diketahui kualitas angsuran pinjamannya dan dapat dilakukan pemulihan pinjaman yang merupakan usaha untuk memperbaiki kualitas pinjaman agar menjadi lebih baik kategorinya.

Berikut ini penggolongan kualitas angsuran pinjaman yang ditetapkan Perum Perhutani KPH Bogor, sebagai berikut :

1. Lancar, adalah pembayaran angsuran pokok dan bunga tepat waktu

2. Kurang lancar, apabila terjadi keterlambatan pembayaran angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 1 (satu) hari dan belum melampaui 180 (seratus delapan puluh) hari dari tanggal jatuh tempo pembayaran angsuran, sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui.

3. Diragukan, apabila terjadi keterlambatan pembayaran angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 180 (seratus delapan puluh) hari dan belum melampaui 360 (tiga ratus enam puluh) hari dari tanggal jatuh tempo pembayaran angsuran, sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui.

4. Macet, apabila terjadi keterlambatan pembayaran angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 360 (tiga ratus enam puluh) hari dari tanggal jatuh tempo pembayaran angsuran, sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui.

Terhadap kualitas pinjaman kurang lancar, diragukan dan macet dapat dilakukan usaha-usaha pemulihan pinjaman dengan cara penjadwalan kembali

(rescheduling) atau penyesuaian persyaratan (reconditioning) apabila memenuhi kriteria, sebagai berikut :

1. Mitra Binaan beritikad baik atau kooperatif terhadap upaya penyelamatan yang akan dilakukan

2. Usaha Mitra Binaan masih berjalan dan mempunyai prospek usaha 3. Mitra Binaan masih mempunyai kemampuan untuk membayar angsuran.

Dalam hal tersebut dilakukan tindakan penyesuaian persyaratan (reconditioning), tunggakan bunga pinjaman dapat dikapitalisasi menjadi pokok pinjaman atau dihapuskan tunggakan beban bunganya dan beban bunga selanjutnya, dimana tindakan penyesuaian persyaratan (reconditioning) dilakukan setelah adanya tindakan penjadwalan kembali (rescheduling).

Dengan adanya monitoring, pelanggaran pada kontrak dapat dicegah dan perusahaan tidak hanya sekedar menjalankan misi sosial atau imbauan dari pemerintah tetapi perusahaan dapat terus mengontrol dan melihat dinamika usaha mitra binaanya yang dijalankan untuk menjadi lebih baik.

Dalam pengembalian pinjaman, UKM Cheklie Art disiplin dalam membayar angsuran sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Selama tiga tahun, UKM Cheklie Art membayar angsuran pengembalian pinjaman sebesar sebelas juta rupiah dengan bunga setengah persen dari sisa pinjaman. Terlihat dalam ketepatan pembayaran ini tegasnya aturan-aturan yang tercantum dalam perjanjian sehingga menguatkan perjanjian yang selama ini dibuat dan juga adanya jaminan dari pihak peminjam apabila tidak dapat mengembalikan utang tersebut yang menjadikan UKM Mitra Binaan lebih bertanggung jawab atas pinjaman dana dari KPH Bogor.

5.2.1.3 Manfaat Kemitraan bagi KPH Bogor

Perum Perhutani KPH Bogor sebagai suatu unit manajemen yang memiliki tugas untuk melakukan pengusahaan hutan di wilayah kerjanya melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk memperoleh manfaat sumber daya hutan dengan memperhatikan aspek kelestariannya yaitu melalui kelola produksi, kelola sosial dan kelola lingkungan. Dengan adanya usaha-usaha kelola sosial dari

kegiatan kemitraan tersebut, menjadikan tekanan terhadap hutan berkurang yang sesuai dengan visi dan misi yg diemban KPH Bogor. Sistem kemitraan bukan hanya memberikan dampak positif dengan saling menguntungkan antara kedua belah pihak, namun juga memberikan dampak sosial yang cukup tinggi. Manfaat sosial dengan sistem kemitraan yang dijalalani KPH Bogor selama ini yang dirasakan secara langsung adalah bukan hanya meningkatnya hubungan kerjasama kontrak tetapi juga hubungan tali silaturahmi dengan UKM mitra binaanya.

Seperti yang dijalani UKM Cheklie Art saat ini, meskipun tidak ada lagi perjanjian modal yang dilakukan, hubungan dengan pihak KPH Bogor tetap berjalan yang didasarkan pada ikatan silaturahmi. Pembinaan terhadap UKM ini masih tetap dilakukan dalam penyertaan pameran kerajinan dan pengecekan usaha pun tetap dilakukan sewaktu-waktu guna memonitor keberadaan usaha tersebut.

Tentunya dari kemitraan yang dijalankan ini memunculkan peluang besar untuk dapat meningkatkan pendapatan usaha kecil mitra, meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil, meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, dan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan.

5.2.2 Implementasi Hubungan Kemitraan Menurut UKM Mitra Binaan