• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Analisis Pendapatan Usahatani Karet

Analisis pendapatan dilakukan untuk menentukan berapa pendapatan petani pada lahan kering yang diperoleh dari usahatani karet. Dalam analisis pendapatan menjelaskan tentang bagaimana struktur biaya, pendapatan dari usahatani karet. Bentuk analisis pendapatan usahatani karet secara umum merupakan selisih antara penerimaan produksi dengan biaya yang dikeluarkan.

Penerimaan produksi usahatani meliputi penerimaan secara tetap dan penerimaan tidak tetap. Penerimaan tetap merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi yang dijual dengan harga satuannya, sedangkan penerimaan tidak tetap berupa hasil produksi yang tidak dijual dan biasanya dikonsumsi oleh petani sendiri. Analisis pendapatan ini juga membahas biaya usahatani yang tetap dan tidak tetap. Biaya tidak tetap adalah biaya yang secara langsung dikeluarkan oleh

petani. Biaya tetap meliputi semua pengeluaran yang tidak dibayarkan secara tetap tetapi diperhitungkan dalam biaya.

5.4.1 Biaya Usahatani Karet 5.4.1.1 Biaya Tetap

Biaya tetap adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Jadi besarnya biaya tetap ini tidak tergantung pada besar-kecilnya produksi yang diperoleh. Biaya tetap meliputi : Penyusutan alat dan pajak lahan dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Rata-rata biaya Tetap Usahatani Karet di Kelurahan Palampang Kecamatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba Tahun 2019

Uraian Biaya (Rp)

Biaya Pajak Lahan (Ha) Biaya Penyusutan

40.000,00 44.482,70

Total 84.482,70

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019

Berdasarkan tabel 11 biaya pajak lahan dengan biaya keseluruhan sebesar Rp 1.580.000 /tahun dengan rata-rata Rp 40.000,00 dari 29 petani. Biaya penyusutan alat sebesar Rp 3,684,533 dengan Rata-rata 44.482,70. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau sadap, mangkok, parang, ember.

Jumlah pisau sadap yang digunakan adalah 30 buah /tahun dengan rata-rata penggunaan 1,39 buah/tahun dan pisau sadap ini digunakan oleh 29 responden. Harga satuan pisau sadap berkisar Rp 35.000,00 - Rp 50.000,00 /buah dengan biaya yang dikeluarkan adalah Rp 1.217.000,00 /tahun dengan rata-rata

biaya Rp 41.965,52 Tahun/Ha dan biaya penyusutan alat ini adalah Rp 80.833,33 /tahun dengan rata-rata Rp 2.046,41 /Ha.

Jumlah mangkok yang digunakan oleh sebagian besar responden adalah barang-barang bekas seperti botol dan lain-lain. Jumlah mangkok yang dibeli oleh petani adalah 4.500 buah/tahun dengan rata-rata penggunaan 117,67 buah/Ha dan mangkok ini digunakan oleh 29 responden. Harga satuan Mangkok berkisar Rp 4.000,00 - Rp 5.000,00 /buah dengan biaya yang dikeluarkan adalah Rp 121.000,00 /tahun dengan rata-rata biaya Rp 4.172,41 /Ha dan biaya penyusutan alat ini adalah Rp 1.465.000,00 /tahun dengan rata-rata Rp 36.250,93 /Ha.

Jumlah parang yang digunakan adalah 31 buah/tahun dengan rata-rata penggunaan 0,78 buah/tahun dan parang ini digunakan oleh 29 responden. Harga satuan parang berkisar Rp 33.000,00 - Rp 50.000,00 /buah dengan biaya yang dikeluarkan adalah Rp 1.324.000,00 /tahun dengan rata-rata biaya Rp 45.655,17 /tahun dan biaya penyusutan alat ini adalah Rp 67.233,33 /tahun dengan rata-rata Rp 1.656,18 /Ha.

Jumlah ember yang digunakan adalah 52 buah /tahun dengan rata-rata penggunaan 1,34 buah /tahun dan ember ini digunakan oleh 29 responden. Harga satuan ember berkisar Rp 40.000,00 - Rp 68.000,00 /buah dengan biaya yang dikeluarkan adalah Rp 1.577.000,00 /tahun dengan rata-rata biaya Rp 54.379,31 /tahun dan biaya penyusutan alat ini adalah Rp 144.000,00 /tahun dengan rata-rata Rp 3.648,01 /Ha.

5.4.1.2 Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang digunakan usahatani karet yang besarnya berubah-ubah sesuai jumlah produksi yang dihasilkan. Biaya variabel meliputi : Pupuk, pestisida dan upah tenaga kerja dapat dilihat pada tabel 12.

Tabel 12. Rata-rata biaya variabel usahatani Karet di Kelurahan Palampang Kecmatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba Tahun 2019

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019

Jenis pupuk yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk Urea, SP-36 dan KCl. Jenis-jenis pupuk ini tidak secara keseluruhan digunakan oleh responden tapi hanya ada beberapa yang menggunakan pupuk ini dikarenakan tanaman karet di lokasi penelitian adalah tanaman yang sudah memiliki hasil dan tanaman sudah mulai reproduksi. Jumlah biaya pupuk yang dikeluarkan 29 responden adalah Rp 7.625.000,00 /tahun dengan rata-rata Rp 188.516,59 /Ha.

Jumlah pupuk Urea yang digunakan adalah 1.455,00 kg/tahun dengan rata-rata penggunaan 36,84 Kg/Ha dan pupuk ini hanya digunakan oleh 14 responden. Harga satuan pupuk ini adalah Rp 1.800,00 perkilogram dengan biaya yang

Uraian Satuan Jumlah

(Unit) Nilai (Rp) Biaya Variabel: 1. Benih 2. Pupuk - Pupuk Urea - SP-36 - Pupuk KCL 2. Pestisida - Basmilang - Supertok 3. Upah TK - Pemeliharaan - Panen/Sadap Kg Kg Kg Liter Liter HOK HOK 36,84 28,96 9,11 0,41 0,10 - 66.304,00 57.924,05 72.911,39 24.303,80 7.088,61 41.772,15 13.165 Jumlah 279.367,09

dikeluarkan adalah Rp 2.457.000,00 /tahun dengan rata-rata biaya Rp 60.745,61 /Ha .

Jumlah pupuk SP-36 yang digunakan adalah 1.144,00 kg/tahun dengan rata-rata penggunaan 28,96 Kg/Ha dan pupuk ini hanya digunakan oleh 10 responden. Harga satuan pupuk ini adalah Rp 2.000,00 /Kg dengan biaya yang dikeluarkan adalah Rp 2.288.000,00 /tahun dengan rata-rata biaya Rp 57.924,05 /Ha .

Jumlah pupuk KCL yang digunakan adalah 360,00 kg/tahun dengan rata-rata penggunaan 8,90 Kg/Ha dan pupuk ini hanya digunakan oleh 5 responden. Harga satuan pupuk ini adalah Rp 8.000,00 perkilogram dengan biaya yang dikeluarkan adalah Rp 2.880.000,00 /tahun dengan rata-rata biaya Rp 72.911,39 /Ha.

Jenis pestisida yang digunakan dalam penelitian ini adalah Basmilang dan Supertok. Jenis-jenis pestisida ini tidak secara keseluruhan digunakan oleh responden tapi hanya ada beberapa yang menggunakan pestisida ini dikarenakan tanaman karet di lokasi penelitian adalah tanaman yang sudah memiliki hasil dan tanaman sudah mulai reproduksi. Manfaat pestisida basmilang adalah untuk membasmi gulma alang-alang di sekitar tanaman karet dan manfaat pestisida supertok adalah untuk membasmi serangga pada tanaman karet. Jumlah biaya pestisida yang dikeluarkan 29 responden adalah Rp 1.240.000,00 dengan rata-rata Rp 31.392,41 /Ha.

Jumlah pestisida basmilang yang digunakan adalah 16 liter/tahun dengan rata-rata penggunaan 0,41 liter/Ha dan pestisida ini hanya digunakan oleh 6 responden. Harga satuan pestisida ini adalah Rp 60.000,00 perkilogram dengan

biaya yang dikeluarkan adalah Rp 960.000,00 /tahun dengan rata-rata biaya Rp 24.303,80 /Ha .

Jumlah pestisida Supertok yang digunakan adalah 4 liter/tahun dengan ratarata penggunaan 0,10 liter/Ha dan pestisida ini hanya digunakan oleh 2 responden. Harga satuan pestisida ini adalah Rp 70.000,00 perkilogram dengan biaya yang dikeluarkan adalah Rp 280.000,00 /tahun dengan rata-rata biaya Rp 7.088,61 /Ha .

Jenis pekerjaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemeliharaan dan panen/sadap. Jumlah biaya tenaga kerja yang dikeluarkan 29 responden adalah Rp 2.170.000,00 /tahun dengan rata-rata Rp 53,649.97 /tahun.

Jumlah tenaga kerja pada pemeliharaan adalah 42 HOK /tahun. Upah yang diberikan pada pekerjaan pemeliharaan ini adalah Rp 15.000 HOK-1 maka jumlah biaya upah yang dikeluarkan untuk pekerjaan ini adalah Rp 1.650.000,00 /tahun dengan rata-rata Rp 41.772,15 /Ha.

Jumlah tenaga kerja pada panen/sadap adalah 42 HOK /tahun . Upah yang diberikan pada pekerjaan pemeliharaan ini adalah Rp 10.000/HOK maka jumlah biaya upah yang dikeluarkan untuk pekerjaan ini adalah 520.000,00 /tahun dengan rata-rata Rp 13.164,56 /Ha.

Dokumen terkait