• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga Usaha GAPOKTAN

4.3 Manfaat Kemitraan

4.3.1. Analisis Pendapatan Usahatani

Dalam mempertajam analisis manfaat kemitraan yang dijalankan petani yang tergabung dalam Gapoktan Citra Sawargi, dilakukan analisis pendapatan usahatani, yaitu membandingkan pendapatan usahatani petani mitra dan non mitra. Hasil analisis pendapatan usahatani rataan per musim di Kecamatan Warung Kondang antara petani mitra dan non mitra dapat dijelaskan melalui Tabel 16.

Tabel 16. Analisis pendapatan Rataan Usahatani Padi Pandanwangi per musim

No. Deskripsi Satuan Petani Kontribusi Petani Kontribusi

Berdasarkan data hasil penelitian terlihat bahwa produktivitas rataan petani mitra lebih tinggi (15,87%) dibandingkan petani non mitra.

Produktivitas padi Pandanwangi (Malai Kering Panen) petani mitra rataan sebesar 7,47 ton/ha sementara petani non mitra rataan produktivitasnya 6,29 ton/ha. Peningkatan produktivitas ini utamanya disebabkan oleh dua

faktor, yaitu (1) penggunaan benih bermutu (benih bersertifikat) dan (2) penggunaan pupuk sesuai anjuran. Benih padi Pandanwangi bersertifikat disediakan oleh Gapoktan, yaitu menggunakan benih hasil produksi H.

Mansyur yang merupakan satu-satunya penangkar benih Pandanwangi.

Penggunaan benih bersertifikat dapat dimanfaatkan untuk penanaman 2 musim tanam. Kendati penggunaan benih bersertifikat menimbulkan biaya lebih besar, yaitu 30 kg per ha dengan harga Rp 7.000/kg, namun rataan produksi yang dihasilkan lebih baik, karena tanaman padi menjadi terjaga keseragamannya. Penggunaan benih bersertifikat mampu menekan kadar hampa gabah dan meningkatkan rendemen beras yang semula hanya 45%

menjadi 50%.

Penggunaan pupuk oleh petani mitra sangat berpengaruh terhadap produktivitas padi Pandanwangi. Pupuk yang disarankan oleh Penyuluh setempat adalah kombinasi Phonska dan Urea dengan perbandingan 300 kg Phonska dan 50 kg Urea untuk setiap hektar penanaman padi Pandanwangi. Pemupukan dilakukan 3 kali dalam 1 musim. Petani non mitra umumnya menggunakan pupuk urea, TSP dan KCl dengan perbandingan 200 : 150 : 75, namun sering ditemui petani non mitra tidak menggunakan pupuk KCl disebabkan harga yang tinggi.

Penggunaan benih dan pupuk sesuai anjuran Gapoktan telah disepakati bersama oleh petani mitra dan menjadi kewajiban petani mitra untuk melaksanakannya. Pengawasan lapangan atas kondisi pertanaman serta penerapan metode GAP dilakukan oleh unit QC Gapoktan.

Himbauan untuk menggunakan benih bersertifikat dan pupuk yang sesuai, sebenarnya telah lama dilakukan oleh penyuluh pertanian setempat, namun mengingat 75% responden petani non mitra merupakan petani penggarap, maka sulit untuk mengambil keputusan. Sementara responden petani mitra 85 % merupakan petani pemilik.

Petani Pandanwangi di wilayah Kecamatan Warung Kondang umumnya tidak menggunakan pestisida, karena relatif kecilnya serangan hama di wilayah tersebut. Serangan hama tungro pada padi Pandanwangi

umumnya terjadi jika lokasi penanaman padi Pandanwangi berdekatan dengan padi VUN .

Penjualan hasil panen petani mitra dilakukan dengan sistem bukti, yaitu pembelian dilakukan sesuai hasil penimbangan dan transaksi langsung dilakukan di lokasi panen dengan unit usaha Gapoktan.

Sedangkan petani non mitra umumnya menggunakan sistem tebas/borongan dan transaksi dilakukan dengan para pedagang pengumpul.

Dengan sistem tebas, umumnya setiap hektar lahan padi Pandanwangi dihargai Rp 17 juta atau setara dengan Rp 2.400/kg gabah (produktivitas 7 ton/ha). Jika dibandingkan dengan penjualan kepada Gapoktan dengan harga Rp 3.000/kg maka kemitraan ini sangat menguntungkan bagi petani mitra. Saat ini sistem tebas telah banyak ditinggalkan, petani non mitra

yang menjual dengan sistem bukti rataannya mendapatkan harga Rp 2.836/kg gabah.

Dengan harga gabah yang lebih tinggi, maka rataan penerimaan petani mitra lebih tinggi dibandingkan petani non mitra. Kendati total biaya produksi yang dikeluarkan petani mitra relatif lebih tinggi dibandingkan petani non mitra yang utamanya disebabkan penggunaan benih dan pupuk sesuai anjuran, namun pendapatan petani mitra masih lebih tinggi dibandingkan petani non mitra. Tabel 16 menunjukkan bahwa baik pendapatan atas biaya tunai maupun pendapatan atas biaya total yang memperhitungkan pula selain biaya tunai (benih, biaya tenaga kerja dalam keluarga, sewa lahan dan zakat), ternyata pendapatan petani mitra lebih tinggi dibandingkan pendapatan petani non mitra, meskipun biaya total yang harus dikeluarkan petani mitra lebih tinggi dibandingkan petani non mitra.

Ukuran efisiensi pengelolaan usahatani dapat dilihat dengan menggunakan koefisien perbandingan penerimaan dan biaya (rasio R/C), Tabel 17 menunjukkan bahwa nilai rasio R/C baik petani mitra maupun petani non mitra lebih besar dari satu. Hal ini menunjukkan bahwa dengan bermitra ataupun tidak, usahatani Pandanwangi sama-sama efisien dan

menguntungkan, karena imbalan yang diperoleh masih lebih tinggi dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan.

Nilai rasio R/C atas biaya total petani mitra lebih tinggi dibandingkan petani non mitra. Nilai rasio R/C atas biaya total petani mitra 1,54, sedangkan petani non mitra 1,35. Nilai-nilai tersebut dapat diartikan bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan dalam usahatani padi Pandanwangi melalui kemitraan dengan CV Quasindo (melalui Gapoktan) akan menghasilkan tambahan penerimaan Rp 1,54 sedangkan petani yang tidak terlibat dalam kemitraan hanya akan mendapatkan tambahan penerimaan sebesar Rp 1,35. Hal ini menunjukkan bahwa dengan melakukan kemitraan, petani mitra akan menerima keuntungan 14% lebih tinggi daripada petani non mitra.

Mengingat keberadaan padi Pandanwangi yang semakin terdesak dengan semakin berkembangnya penggunaan padi VUN, maka perlu juga dibandingkan antara pendapatan usahatani padi Pandanwangi dengan pendapatan usahatani padi VUN. Salah satu padi VUN yang banyak dikembangkan di wilayah Warung Kondang adalah padi varietas Ciherang yang juga umum ditanam di wilayah Karawang. Dari hasi penelitian LPPM IPB (2006) terhadap usahatani padi Ciherang (Tabel 17) diketahui bahwa keuntungan bersih yang dinikmati petani sebesar Rp. 6,4 juta per musim per hektar atau sekitar Rp. 12,8 juta per tahun per hektar. Harga pembelian gabah dari petani berfluktuasi antara Rp 2100 – 2400/Kg GKP.

Harga rata-rata yang ditetapkan pada perhitungan analisa kelayakan sebesar Rp 2.250/Kg GKP. Berdasarkan perhitungan ini, petani akan mengalami kerugian jika harga gabah , kurang dari harga pokok yaitu sebesar Rp 1.178 Kg GKP.

Tabel 17. AnalisapPendapatan usahatani padi VUN jenis Ciherang

Pemeliharaan Persemaian 1,75 HOK 30.000 52.500

Sub Total 215.000

Pembelian Pestisida 1 Paket 150.000 150.000

Pengendalian Hama dan Penyakit 7 HOK 30.000 210.000

Sub Total 1.265.000

PANEN

Pemanenan (sistem Bawon & Ceblok) 1 Paket 2.250.000

Sub Total 2.250.000

Dari perbandingan pendapatan usahatani padi Pandanwangi dengan padi VUN (Tabel 16 dan 17) terlihat bahwa untuk pendapatan usahatani per musim per hektar, maka usahatani padi Pandanwangi menghasilkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan usahatani padi Pandanwangi khususnya disebabkan produktivitas serta harga yang lebih tinggi. Selisih

pendapatan usahatani tersebut sebesar Rp.1,4 juta per musim per hektar.

Namun padi VUN memiliki umur panen yang lebih pendek dibandingkan padi Pandanwangi, sehingga memungkinkan ditanam 2 musim dalam 1 tahun sehingga jika diukur pendapatan usahatani pertahun, maka usahatani padi VUN menghasilkan keuntungan yang lebih menjanjikan.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya dukungan pemerintah melalui pemberian insentif bagi petani padi Pandanwangi, agar usahatani padi Pandanwangi dapat terus berkembang.