Kabupaten Cianjur merupakan salah satu daerah penghasil beras, dengan varietas padi unggulannya Pandanwangi. Namun, ada padi varietas lain yang juga ditanam di wilayah tersebut, baik kategori varietas unggulan nasional maupun kategori varietas lokal, serta kategori varietas lainnya (Tabel 5). Semua varietas padi tersebut ada yang dapat ditanam di lahan persawahan, yang memiliki kandungan air cukup tinggi, maupun ditanam di ladang, yang memiliki kandungan air rendah. Kategori varietas unggulan nasional, sebagian besar ditanam di lahan persawahan, hanya varietas Towuti yang juga dapat ditanam di ladang. Sedangkan kategori varietas lokal sebagian besar ditanam di ladang dan hanya varietas Pandanwangi yang juga dapat ditanam di lahan persawahan. Varietas lain yang tidak termasuk kategori varietas unggul nasional maupun lokal, seperti varietas BTN dapat ditanam pada lahan persawahan maupun di ladang.
Tabel 5. Varietas padi yang dikembangkan di Kabupaten Cianjur No. Varietas Padi Sawah
6. Morneng - 389 389 III. Lain-lain
1. BTN 1.075 4.445 5.520
Sumber : BPP Cianjur, 2007
Daerah penghasil Pandanwangi sebagian besar merupakan daerah yang kaya akan air, sehingga jarang ditemui adanya permasalahan berkaitan dengan air dalam pembudidayaannya. Padi jenis Pandanwangi memiliki sedikit perbedaan dari jenis padi lainnya dalam hal pembudidayaan hingga proses pengolahannya (mengolah bentuk gabah menjadi beras). Umur tanaman yang jauh lebih lama dan harganya yang lebih mahal dibandingkan dengan jenis lainnya, mendorong terjadinya praktek pencampuran dengan beras lain yang bentuknya hampir sama, sehingga beras yang beredar di pasaran sebagian besar merupakan beras Pandanwangi campuran.
Pandanwangi merupakan beras khas Cianjur yang berasal dari padi bulu varietas lokal. Pandanwangi mulai dikembangkan sekitar tahun 70-an, sampai saat ini data mengenai penangkar asli padi Pandanwangi masih simpang siur. Rasanya yang khas membuat padi Pandanwangi banyak dibudidayakan di tahun 80-an dan mulai terkenal di luar wilayah Cianjur.
Permintaan yang tinggi terhadap padi Pandanwangi menyebabkan berkembangnya budidaya padi Pandanwangi pada lokasi yang mulai menyebar dan pada akhirnya memunculkan permasalahan baru berupa beranekaragamnya jenis padi Pandanwangi.
Upaya untuk memurnikan padi mulai dilakukan di tahun 90-an, dan pada tahun 2004 dikeluarkan SK Menteri Pertanian RI Nomor 163/Kpts/LB.240/3/2004 tentang Pelepasan Galur Padi Sawah Lokal Pandanwangi Cianjur Sebagai Varietas Unggul dengan nama Pandanwangi. Deskripsi padi sawah varietas Pandanwangi adalah (a) umur tanaman 150-160 hari; (b) tinggi tanaman 150-170 cm; (c) bentuk gabah (endosperm) bulat/gemuk berperut; (d) berbulu; (e) tahan rontok; (f) berat 1.000 butir gabah 30 g; (g) beraroma pandan; (h) kadar amilose 26%;
(i) potensial hasil 6-7 ton/Ha malai kering pungut; (j) ditanam di dataran sedang dengan ketinggian sekitar 700 m di atas permukaan laut (dpl); (k) banyak diperjualbelikan di toko dan kios beras disekitar Kota Cianjur; (l)
dijajakan mulai dari ukuran kemasan 5-50 kg, dengan berbagai grade/
mutu, diantaranya beras super, beras kepala I dan beras kepala II; serta (m) realisasi penyebaran padi pada masa tanam bulan September 2001 sampai dengan Februari 2002 mencapai 29.828 Ha, dengan potensi hasilnya mencapai 5-7 ton/Ha dalam satu kali panen.
Dalam SK tersebut dinyatakan bahwa penangkar padi Pandanwangi saat ini adalah Bapak H Mansyur yang bertempat tinggal di Kecamatan Warung Kondang Desa Buni Asih. Sebagai penangkar H. Masyur sudah mendapatkan sertifikat resmi, sehingga benih yang dihasilkannya telah dijamin keaslian dan mutunya. Saat ini hampir sebagian besar petani mendapatkan benih dari Bapak H Mansyur.
Beras Pandanwangi memiliki kandungan zat gizi yang sangat baik sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Kandungan zat gizi Pandanwangi per 100 g
No Parameter Satuan Hasil
1. Kadar Protein % 8,97
2. Kadar Lemak % 0,32
3. Kadar Gula Pereduksi % 63,39
4. Fe ppm 4,65
5. Kalori Kcal 14,81
Sumber : BPP Cianjur, 2007
Luas pertanaman padi Pandanwangi relatif berfluktuasi setiap tahunnya. Luas pertanaman tertinggi terjadi antara tahun 1986–1990.
Tahun berikutnya hingga sekarang luas pertanaman semakin menurun.
Hal tersebut terjadi karena kurangnya insentif dalam pengusahaan Pandanwangi, dimana harga jual Pandanwangi tidak jauh berbeda dibandingkan padi Varietas Unggul Nasional (VUN). Perkembangan pertanaman padi Varietas Pandanwangi di Kecamatan Warung Kondang dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Perkembangan areal pertanaman padi Pandanwangi di Wilayah Kecamatan Warung Kondang
Perkembangan Pertanaman dari Luas Pokok Sawah (%)
No. Tahun
Padi Varietas Lokal Padi Varietas Unggul Nasional 1 1976 – 1980 Pandanwangi 10
Lainnya 75
15
2 1981 - 1985 Pandanwangi 25 Lainnya 45
30
3 1986 – 1990 Pandanwangi 45 Lainnya 10
45
4 1991 – 1995 Pandanwangi 35 Lainnya 10
55
5 1996 - 2000 Pandanwangi 25 Lainnya 15
60
Sumber : BPP Cianjur, 2007
Penyebaran padi Pandanwangi di Kabupaten Cianjur terbatas pada daerah–
daerah tertentu seperti Kecamatan Warung Kondang, Cianjur, Ciku, Cibeber dan Kecamatan Cugenang. Terbatasnya daerah penyebaran Pandanwangi terkait dengan persyaratan tumbuh Pandanwangi itu sendiri, seperti ketinggian tempat minimal 500-800 m dpl, tanah dengan tingkat kesuburan tertentu dan air yang cukup. Apabila persyaratan tumbuhnya kurang terpenuhi, maka sifat-sifat dari Pandanwangi seperti harum, rasa nasi yang enak dan pulen kurang muncul. Di kecamatan Warung Kondang sendiri penyebaran Pandanwangi setiap periode lima tahunan terus mengalami perubahan tingkat penyebaran, terlihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Daerah sebaran Padi Pandanwangi
No. Tahun Daerah Penyebaran Keterangan
1. 1976 - 1980 Bunikasih, Jambudipa, Bangbayang 2 1980 – 1985 Bunikasih, Tegallega, Mekarwangi, Kebon
Peuteuy, Bunisari, Sukawangi, Ciwalen,
3 1986 – 1990 Bunikasih, Tegallega, Mekarwangi, Kebon Peuteuy, Bunisari, Sukawangi, Ciwalen, Jambudipa, Cikaroya, Cieundeur, Cikancana, Songgom, Sukaratu, Cikahuripan, Gekbrong, Bangbayang, Cisarandi, Sukamulya dan Cintaasih 4 1991 – 1995 Bunikasih, Tegallega, Mekarwangi, ,
Bunisari, Sukawangi, Ciwalen, Jambudipa, Songgom, Gekbrong, Bangbayang, Cikahuripan dan Kebon Peuteuy 5 1996 – 2000 Bunikasih, Tegallega, Mekarwangi, ,
Bunisari, Sukawangi, Ciwalen, Jambudipa, Songgom, Bangbayang, Kebon Peuteuy, Cikaroya dan Cikancana
6 2001 – 2005 Bunikasih, Tegallega, Mekarwangi, , Bunisari, Sukawangi, Ciwalen, Jambudipa, dan Cieundeur
7 2006 - sekarang Bunikasih, Tegallega, Mekarwangi, , Bunisari, Sukawangi, Ciwalen dan Kabupaten Cianjur, Kecamatan Warung Kondang memiliki kapasitas produksi yang terbesar. Padahal, jika dibandingkan dengan kecamatan Cibeber yang luas areal sawahnya 3.200 Ha, Kecamatan Warung Kondang hanya memiliki areal sawah seluas 2.985 Ha. Hal ini salah satunya dikarenakan jumlah petani Pandanwangi yang cukup banyak dan produktif, yaitu 2.597 orang.
Tabel 9. Daerah sentra produksi Pandanwangi di Kabupaten Cianjur
Khusus di Kecamatan Warung Kondang, potensi lokasi pengembangan padi Pandanwangi disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Lokasi pengembangan padi Pandanwangi di Kecamatan Warungkondang
Kepemilikan rataan lahan di Kabupaten Cianjur relatif kecil, sekitar 0,3 Ha/rumah tangga petani dan diperkirakan sekitar 80% merupakan petani penggarap. Kondisi ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kelembagaan usahatani padi Pandanwangi.
Irigasi yang digunakan di Kabupaten Cianjur, terutama di sentra produksi Pandanwangi merupakan irigasi non teknis, dalam posisi ini pengaturan irigasi lebih diserahkan kepada petugas di kantor pedesaan yang bekerjasama dengan kelompok tani dan dibantu oleh para penyuluh.
Sampai saat ini, petani tidak mengalami permasalahan air, karena air relatif tersedia sepanjang musim.
Dalam hal pengolahan tanah, sebagian besar masyarakat menggunakan jasa ternak kerbau, orang, dan sebagian lainnya sudah ada yang menggunakan traktor. Lokasi yang berbukit-bukit, menyebabkan tidak semua lahan diolah oleh traktor, minimnya penggunaan traktor disebabkan juga oleh kecilnya pengusahaan lahan pertanian.
Ketersediaan pupuk dan obat obatan di wilayah sentra produksi dipasok oleh kios-kios tani yang berada di setiap desa. Pada wilayah tertentu yang jaraknya sangat jauh seperti di pegunungan dimana kios tani tidak ada, ketersediaan pupuk dan obat-obatan di pasok oleh toko/warung di tingkat desa, hal ini berimplikasi terhadap peningkatan harga pupuk.
Permasalahan klasik yang seringkali dihadapi oleh petani dalam hal ketersediaan pupuk adalah hilangnya pupuk pada saat posisi petani akan mulai tanam, tindakan spekulatif ini mengakibatkan harga pupuk meningkat di atas ambang kewajaran.
Tenaga kerja yang digunakan untuk mengolah usahatani sebagian besar menggunakan tenaga kerja dari rumah tangga petani itu sendiri, akan tetapi pada lahan di atas 2000 m2, diperlukan tenaga kerja diluar rumah tangga.
Dari Tabel 11 terlihat bahwa hampir 50% luas areal pertanaman padi varietas Pandanwangi terdapat di Kecamatan Warung Kondang. Di lokasi ini juga dilakukan pemurnian varietas Pandanwangi dan penangkaran benih varietas Pandanwangi. Beberapa perusahaan
penggilingan khusus untuk padi varietas Pandanwangi juga terdapat di Kecamatan ini. Dengan demikian wilayah sentra program ini ditetapkan di wilayah Kecamatan Warungkondang atau Wilayah Kerja Balai Penyuluhan Pertanian Warung Kondang. Dari 11 desa yang ada di Kecamatan Warungkondang, terdapat 3 desa dengan penanaman padi varietas Pandanwangi terluas yaitu, Desa Bunikasih, Desa Mekarwangi dan Desa Tegalega.
Tabel 11. Keragaan pengusahaan padi Varietas Pandan Wangi Di Kabupaten Cianjur
a. Gabungan Kelompok Tani Citra Sawargi
Munculnya berbagai peluang dan hambatan sesuai dengan lingkungan sosial ekonomi setempat membutuhkan adanya pengembangan kelompoktani ke dalam suatu organisasi yang jauh lebih besar. Beberapa kelompoktani bergabung ke dalam Gapoktan.
Penggabungan dalam Gapoktan terutama dapat dilakukan oleh kelompoktani yang berada dalam satu wilayah administrasi pemerintahan untuk menggalang kepentingan bersama secara kooperatif. Wilayah kerja Gapoktan sedapat mungkin di wilayah administratif desa/kecamatan, tetapi sebaiknya tidak melewati batas wilayah kabupaten/kota.
Penggabungan kelompok tani ke dalam Gapoktan dilakukan agar kelompok tani dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna, dalam penyediaan sarana produksi pertanian, permodalan, peningkatan atau