BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3 Pembahasan
5.3.3 Analisis pengaruh ethnic foods diet education program
teori Transcultural Nursing.
Berdasarkan uji statistik yang telah dilakukan pada tingkat self efficacy
responden, terdapat peningkatan self-efficacy pada pasien DM tipe 2 sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pada kelompok perlakuan dan sebaliknya tidak terdapat perubahan tingkatan self-efficacy pada pasien DM tipe 2 pada kelompok kontrol. Hasil uji Wilcoxon-signed rank test menunjukkan bahwa secara statistik terdapat peningkatan yang signifikan pada self-efficacy sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok perlakuan dan sebaliknya pada kelompok kontrol tidak menunjukkan adanya perubahan tingkatan self-efficacy. Dengan menggunakan uji
Mann-whitney U test menunjukkan bahwa penerapan ethnic foods diet education program kepada pasien DM tipe 2 Suku Sasak memberikan pengaruh terhadap self efficacy pasien. Hal ini sesuai dengan penelitian Leslie (2016) yang menyatakan pengaruh pendidikan kesehatan berdasarkan budaya terhadap self-management
pasien dengan diabetes di etnis Hispanic menunjukkan hasil yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, hasil menunjukkan peningkatan yang cepat pada self-management pada kelompok perlakuan
Menurut Bandura (1997), budaya mempengaruhi self-efficacy melalui nilai (values), kepercayaan (beliefs), dalam proses pengaturan diri (self-regulatory process) yang berfungsi sebagai sumber penilaian self-efficacy dan juga sebagai konsekuensi dari keyakinan akan self-efficacy. Sedangkan trancultural nursing
adalah suatu ilmu budaya yang mempunyai cakupan luas dalam keperawatan yang meliputi proses belajar dan praktik keperawatan yang berfokus pada perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan tetap menghormati nilai keperawatan, ekpresi, kepercayaan sehat-sakit dan pola kebiasaan mereka (Leininger, 2002; Cristensen & Kenney, 2009). Leininger mengasumsikan keperawatan sebagai profesi yang turut menentukan keharmonisan kultur dengan pelayanan kesehatan baik dalam konsep sehat maupun sakit kepada masyarakat dengan berbagai macam latar belakang budaya. Melalui pendekatan transcultural inilah program diet yang diberikan kepada responden yang telah disesuaikan dengan kebutuhan dalam budayanya diberikan sebagai sebuah bantuan, dukungan, fasilitas, atau sebagai tindakan profesional yang kreatif dan keputusan yang membantu responden dari budaya yang ditunjuk atau kultur untuk beradaptasi atau bernegosiasi untuk hasil kesehatan yang menguntungkan, sehingga dapat mempermudah responden menjalankan program dietnya serta dapat meningkatkan kepercayaan responden / self efficacy
responden terhadap kemampuannya menjalankan program diet.
Pada aspek kepatuhan diet, setelah dilakukan analisis statistik berdasarkan tingkat kepatuhan responden sebelum dan sesudah dilakukan ethnic foods diet education program menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada kelompok perlakuan mengalami perubahan tingkat kepatuhan yang sebelumnya tidak patuh terhadap diet DM menjadi patuh terhadap prinsip diet diabetes mellitus baik kepatuhan terhadap jumlah makanan, jadwal makan, maupun jenis makanan. Sebaliknya tidak terdapat perubahan kepatuhan diet yang signifikan pada pasien DM tipe 2 Suku Sasak sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pada kelompok kontrol.
Hasil uji wilcoxon signed rank test menunjukkan bahwa secara statistik terdapat perubahan tingkat kepatuhan sebelum dan sesudah intervensi pada
kelompok perlakuan dan tidak ada perubahan tingkat kepatuhan yang bermakna pada kelompok kontrol. Untuk uji statistik mann-withneu U test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kepatuhan diet antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Sehingga secara statistik menunjukkan bahwa penerapan Ethnic Foods Diet (EFD) education program memberikan perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Hal ini sesui dengan penelitian yang dilakukan oleh Joann (2009) yang menyatakan bahwa intervensi pendidikan mengenai diet diabetes yang disesuaikan dengan kultur/budaya memiliki pengaruh yang sangat signifikan baik terhadap kestabilan kadar gula darah serta meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pada pasien DMT2.
Menurut Leininger (2002), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku atau kebiasaan seseorang/ masyarakat yang diungkapkan dalam sunrise model, faktor-fakotor tersebut yakni faktor teknologi, faktor religi dan filosofi, faktor dukungan keluarga, faktor nilai budaya kepercayaan dan gaya hidup, faktor politik, faktor ekonomi, dan faktor pendidikan. Dalam hal ini pada penderita DM tipe 2 terdapat 4 pilar penatalaksanaan DM yang harus dijalani, salah satunya adalah mengubah pola makan yang sebelumnya kurang tepat sehingga dapat sesuai dengan prinsip pola makan yang dianjurkan bagi penderita DM. Pola makan merupakan suatu perilaku atau kebiasaan sehari-hari seseorang dan biasanya berkaitan dengan budaya atau etnisnya yang disebut dengan traditional dietary pattern/pola makan tradisional. Seseorang yang berasal dari Suku yang berbeda maka akan memiliki pola makan tradisional yang berbeda pula, hal ini juga berkaitan dengan jenis masakan yang berbeda-beda pada setiap budaya yang berbeda.
Seorang perawat dapat membantu penderita DM baik melalui generik (folk) care, nursing care practices, ataupun melalui nursing care professional dengan pendekatan budaya, apakah suatu budaya akan dipertahankan (culture care prevention), mengganti budaya yang kurang tepat dengan budaya lain yang lebih tepat (culture care accommodation/negotiation), ataupun suatu budaya yang salah dan harus dihilangkan. Melalui teori sunrise model, yakni teori yang membahas tentang perawatan berbasis budaya yang bersifat holistik dan komprehensif untuk menghasilkan pengetahuan tentang budaya di seluruh dunia dan untuk membimbing praktik keperawatan. Tujuan akhir dari teori ini adalah perawatan kongruen secara budaya yang didefinisikan sebagai tindakan keperawatan atau pengambilan keputusan sesuai dengan kebudayaan, secara khusus disesuaikan dengan kebutuhan klien dalam rangka meningkatkan atau menjaga kesehatan dan kesejahteraan mereka (Leininger 2002).
Keadaan sakit pada seorang penderita DM mengharuskannya mengubah/memperbaiki pola makannya yang kurang tepat dengan pola makan yang sesuai dengan prinsip pada diet DM, dengan kata lain akan sulit untuk dapat melakukan perubahan atas suatu yang sudah menjadi kebiasaan. Oleh karena itu mengatur menu diet dalam program diet yang dijalankan oleh seorang penderita DM sesuai dengan masakan yang ada di daerahnya melalui cultural adapted diet intervention diharapkan dapat mempermudah penderita DM menyesuaikan diri dan memperbaiki pola makannya. Menurut Janet et al., (2017), Program yang paling kultural dan sesuai dengan kondisi kontekstual merupakan program terbaik untuk mengedukasi pasien mengenai penyakit diabetes mereka, membantu mereka untuk aktif, dan membantu mereka atau memberikan mereka strategi untuk mengatasi
stress yang mereka alami. Program yang paling sesuai dengan kultur dan situasi kontekstual memberikan dampak yang paling baik pada diabetes self management. Hal ini dapat dilihat pada hasil yang menunjukkan adanya peningkatan self efficacy
dan kepatuhan diet pada responden yang berasal dari Suku Sasak setelah dilakukannya pendidikan kesehatan ethnic food diet yang sudah disesuaikan dengan masakan yang ada di Suku Sasak. Maka dapat disimpulkan bahwa program diet yang diatur sesuai dengan kebutuhan dalam budaya penderita DM dapat meningkatkan self efficacy dan kepatuhan diet penderita terhadap prinsip diet diabetes mellitus dan membuktikan bahwa tindakan perawatan yang disusun dan disesuaikan dengan budaya yang dimiliki penderita akan memudahkan penderita untuk menerima dan mengimplementasikan serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.