• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

4.2.1 Analisis Pengaruh Kemampuan Interpretasi

Penerapan model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan interpretasi dengan harga p = 0,042 (p< 0,05), artinya adalah ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan skor posttest pada kelompok kontrol dan

101 kelompok eksperimen. Maka model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan interpretasi. Ada faktor yang membuat model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan interpretasi, yaitu karena siswa mengikuti kegiatan pembelajaran bersama dengan teman-temannya terkhusus teman kelompoknya. Siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri. Piaget menekankan pentingnya kegiatan yang aktif bagi siswa dalam membangun pengetahuan sehingga anak akan menguasai materi dengan lebih baik. Siswa kelas IV SD pada umumnya berusia 10-11 tahun. Berdasarkan teori perkembangan anak menurut Piaget, anak kelas IV SD masuk ke dalam tahap operasional konkret. Dengan demikian, pembelajaran akan efektif jika siswa belajar melalui hal-hal yang nyata atau konkret (Piaget dalam Santrock, 2007: 53). Menurut Piaget, saat anak-anak memasuki tahap operasional konkret, proses-proses berpikir mereka menjadi terorganisasi ke sistem proses-proses mental yang lebih besar, yang memudahkan mereka berpikir lebih logis dari sebelumnya (Ormrod, 2009: 45). Pada tahap ini anak-anak dapat membentuk konsep, melihat hubungan, dan memecahkan masalah berdasarkan apa yang kelihatan nyata dan kecenderungan untuk bekerja sama. Anak sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logis atau operasi, tetapi hanya untuk objek fisik yang ada pada saat ini. Hal ini berarti bahwa anak usia SD belajar dari hal-hal yang terlihat konkret atau nyata.

Dalam mengimplementasikan model pembelajaran inkuiri siswa berusaha mengalami pelajaran melalui pengalaman langsung dengan objek saat pembelajaran yaitu dengan melakukan percobaan. Pada penerapan model pembelajaran inkuiri ini menggunakan materi energi. Energi merupakan sesuatu yang abstrak, oleh karena itu dilakukan sebuah eksperimen yang membantu siswa dalam memahami konsep tentang energi. Pada tahap operasional konkret ini anak-anak belajar berdasarkan dengan benda-benda yang nyata. Hal itu dapat terlihat pada saat anak-anak melakukan eksperimen. Model pembelajaran ini digunakan karena sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak menurut Piaget. Siswa akan belajar melalui benda-benda nyata. Benda-benda tersebut berupa alat-alat yang digunakan untuk kegiatan eksperimen. Sehingga dengan demikian siswa akan mudah memahami tentang energi melalui percobaan yang telah dilakukan.

102 Hasil penelitian juga sesuai dengan teori pembelajaran sosial menurut Vygotsky, bahwa dimensi sosial merupakan hal yang penting dalam pembelajaran.

Vygotsky mengemukakan bahwa setiap individu berkembang dalam aspek sosial, semua perkembangan intelektual yang mencakup makna, ingatan, persepsi, pikiran, dan kesadaran bergerak dari wilayah interpersonal ke wilayah intrapersonal (Slavin, 2011: 57-60). Vygotsky menyatakan bahwa individu memiliki dua tingkat perkembangan yang berbeda yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual dicapai individu secara independen. Sedangakan tingkat perkembangan potensial dapat dicapai dengan bantuan orang lain. Zona yang terletak di antara kedua tingkat tersebut disebut dengan Zone of Proximal Development (ZPD).

Menurut pandangan Vygotsky, pada tahap ini anak memecahkan masalah dengan bantuan orang lain yang lebih dewasa atau berkolaborasi dengan teman sebaya yang disebut dengan Zone of Proximal Development (ZPD) (Ormrod, 2009: 58). Potensi dalam ZPD adalah kondisi transisi saat anak membutuhkan bantuan khusus atau scaffolding berupa dukungan orang yang lebih ahli seperti teman, guru, orang tua, dan saudara (Mutiah, 2010: 104). Dalam hal ini, guru berperan bagi perkembangan siswa, memberikan sebuah informasi, dan memberikan dukungan yang dibutuhkan agar siswa mampu membangun pemahaman. Selain itu juga bantuan juga bisa didapatkan dari teman sebaya yang berupa dorongan dan memberikan contoh. Scaffolding ini dapat dilakukan dengan melibatkan aktivitas sosial atau kelompok sehingga mampu memberikan rangsangan sosial bagi anak.

Berdasarkan teori yang sudah dikemukakan di bab sebelumnya, siswa khususnya kelas IV masih membutuhkan perancah untuk mendukung mereka dalam pembelajaran yang sarat akan makna. Hal ini sesuai dengan model pembelajaran yang diterapkan yaitu model pembelajaran inkuiri. Dalam model ini siswa bekerja dalam kelompok-kelompok.Selain itu juga dalam model pembelajaran inkuiri ini siswa mendapatkan bantuan berupa arahan, dorongan, petunjuk dan pancingan-pancingan dari guru. Terlihat dalam kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dengan melibatkan aktivitas sosial sehingga

103 mampu memberikan rangsangan sosial bagi anak.Selain itu juga dalam model pembelajaran inkuiri ini siswa dapat semakin membangun pengetahuannya melalui kegiatan presentasi. Siswa akan mengetahui hasil percobaan yang dilakukan oleh kelompok lain melalui presentasi yang dilakukan di depan kelas. Hal ini dapat membantu siswa untuk semakin membangun pengetahuannya.

Model pembelajaran inkuiri ini digunakan untuk membantu anak dalam melatih kemampuan interpretasi. Interpretasi merupakan proses memahami dan menyatakan makna atau signifikansi varian yang luas dari pengalaman, situasi, data peristiwa, penilaian, persetujuan, keyakinan, aturan, prosedur dan kriteria (Facione, 2015: 6). Dalam penelitian ini kemampuan interpretasi dapat dilihat pada setiap langkah-langkah dalam model pembelajaran inkuiri sendiri. Langkah-langkah dari model pembelajaran inkuiri itu sendiri terdiri atas tujuh Langkah-langkah yaitu orientasi, menyusun rumusan masalah, menyusun hipotesis, melakukan eksperimen, menarik kesimpulan, presentasi hasil, dan evaluasi. Siswa akan belajar memaknai setiap langkah, apa yang harus dilakukan dari langkah-langkah tersebut. Selain itu juga, siswaakan melakukan interpretasi pada setiap butir pertanyaan yang terdapat dalam LKS.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama dengan harga p = 0,966 (p> 0,05) artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, kedua kelompok dapat dibandingkan dan ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dalam penelitian ini.

Besar pengaruh (effect size) yang diberikan oleh model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan interpretasi adalah sebesar 11,3% atau dalam kategori menengah hal ini dibuktikan dengan uji besar pengaruh perlakuan dengan

r = 0,337 setara dengan 11,3%. Maka model pembelajaran inkuiri memberikan

pengaruh sebesar 11,3%, sedangkan 88,7% merupakan pengaruh dari variabel lain diluar variabel yang diteliti. Variabel lain dapat berupa konsentrasi, minat, kondisi tubuh, motivasi, dan inteligensi.

Perhitungan persentase peningkatan rerata selisih skor pretest ke posttest pada kemampuan interpretasi pada kelompok kontrol menunjukkan adanya

104 perbedaan yang signifikan. Sedangkan pada kelompok eksperimen juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut terlihat dari hasil persentase peningkatan rerata skor pretest dan rerata skor posttest kelompok eksperimen sebesar 32,39%. Sedangkan persentase peningkatan rerata

pretest dan rerata posttest pada kelompok kontrol sebesar 11,86%.

Hasil perhitungan gain score pada kemampuan interpretasi diperoleh skor ≥ 0,67. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,67 pada kelompok adalah 6 siswa. Sedangkan frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,67 pada kelompok eksperimen sebanyak 13 siswa. Besar persentase gain score 0,67 pada kelompok kontrol yaitu 28,57% sedangkan kelompok ekspeimen 59,09%. Hal tersebut menunjukkan bahwa 59,09% diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran inkuiri, sedangkan 28,57% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode ceramah. Maka penerapan model pembelajaran inkuiri memiliki persentase lebih tinggi daripada penerapan metode ceramah.

Pada uji korelasi rerata, pada kelompok kontrol memiliki korelasi yang positif dan signifikan. Pada kelompok kontrol harga p = 0,001 (p < 0,05) berarti mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil Pearson Correlation pada kelompok kontrol sebesar 0,670. Sedangkan pada kelompok eksperimen memiliki korelasi yang positif dan tidak signifikan terhadap kemampuan interpretasi. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,765 (p> 0,05) berarti mengalami peningkatan yang tidak signifikan. Hasil Pearson Correlation pada kelompok eksperimen sebesar 0,068. Kedua kelompok memperoleh hasil Pearson Correlation yang positif. Positif memiliki arti bahwa siswa yang mendapatkan rerata tinggi pada

pretest akan mendapatkan rerata tinggi pula pada posttest terhadap kemampuan

interpretasi dan sebaliknya. Hal ini juga berarti bahwa ancaman validitas internal berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik.

Sebaran data posttest pada kemampuan interpretasi menunjukkan bahwa siswa pada kelompok eksperimen mendapat skor yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. untuk mengukur kemampuan interpretasi digunakan instrumen yang sama pada pretest dan posttest yaitu nomor 1a, 1b, dan 1c. Soal nomor 1a membahas mengenai klasifikasi sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan

105 tidak dapat diperbaharui. Hasil pretestsiswa yang mendapatkan skor 3 pada kelompok eksperimen sebanyak 5 dan siswa yang mendapatkan skor 4 sebanyak 4. Kemudian pada hasil posttest siswa yang mendapatkan skor 3 pada kelompok eksperimen sebanyak 9 dan siswa yang mendapatkan skor 4 sebanyak 5. Hasil menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan hasil skor 3 dan 4 dari pretest ke posttest.

Soal nomor 1b membahas tentang menginterpretasi sebuah grafik tentang penggunaan listrik di Desa Timi. Hasil pretest pada kelompok eksperimen siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 7 siswa. Kemudian pada hasil posttest mengalami peningkatan siswa yang mendapatkan skor 3 sebanyak 14 siswa. Lalu siswa yang mendapatkan skor 4 pada pretest sebanyak 2 siswa. Selanjutnya pada hasil

posttest siswa yang mendapatkan skor 4 meningkat menjadi 4 siswa. Hal ini

menujukkan adanya peningkatan skor pretest ke posttest pada kelompok eksperimen.

Soal nomor 1c membahas mengenai menjelaskan makna tentang konsep sumber energi matahari sesuai dengan bacaan dengan menggunakan bahasa sendiri. Pada kelompok eksperimen, siswa yang mendapatkan skor 3 pada pretest sebanyak 4 siswa dan pada posttest sebanyak 12 siswa. Sedangkan siswa yang mendapatkan skor 4 pada pretest sebanyak 4 siswa dan pada posttest siswa yang mendapatkan skor 4 sebanyak 5 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan dari pretest ke posttest pada kelompok eksperimen.

Pada ketiga soal tersebut mengalami peningkatan pada saat posttest. Hasil paling optimal terjadi pada soal nomor 1b dikarenakan pada hasil pretest yang memperoleh skor 3 sebanyak 7 siswa kemudian pada saat posttest pemerolehan skor 3 meningkat menjadi 14 siswa. Kemudian untuk skor 4, pada saat pretest siswa yang memperoleh skor 4 hanya 2 siswa dan pada saat posttest terdapat 4 siswa. Hasil tersebut paling optimal diantara dua soal lainnya dikarenakan peningkatannya tidak sebanyak nomor 1b. Soal pada nomor 1b adalah sebuah soal tentang menginterpretasikan sebuah grafik penggunaan listrik. Siswa diminta untuk memaknai angka yang terdapat pada grafik ketika terjadi peningkatan dan penurunan.

Dokumen terkait