• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

4.2.2 Analisis Pengaruh Kemampuan Regulasi Diri

Hipotesis II pada penelitian ini adalah penerapan metode inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan regulasi diri pada pembelajaran IPA kelas IV SD BOPKRI Gondolayu Yogyakarta. Sebaran data posttest pada kemampuan eksplanasi menunjukkan bahwa siswa kelompok eksperimen mendapatkan skor lebih tinggi daripada kelompok kontrol.

Indikator soal pertama adalah menilai ketepatan cara berpikir berdasarkan permasalahan kenaikan konsumsi (penggunaan) listrik.Hasil pada kelompok kontrol mengalami peningkatan skor 2, 3 dan 4. Pada saat pretest, sembilan siswa memperoleh skor 2, enam siswa memperoleh skor 3 dan tidak ada siswa yang memperoleh memperoleh skor 4. Pada saat posttest, 14 siswa memperoleh skor 2, tujuh siswa memperoleh skor 3 dan satu siswa memperoleh skor 4. Hasil pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor 3 dan 4. Pada saat pretest, tujuh siswa memperoleh skor 3, dan tidak ada siswa yang memperoleh skor 4.Pada saat posttest, 15 siswa memperoleh skor 3, dan empat siswa memperoleh skor 4.

Indikator kedua adalah menilai ketepatan cara berpikir dari pemilihan penggunaan sumber energi. Hasil pada kelompok kontrol mengalami peningkatan skor 3 dan 4. Pada saat pretest, delapan siswa memperoleh skor 3, dan satu siswa yang memperoleh skor 4. Pada saat posttest, sembilan siswa memperoleh skor 3, dan dua siswa memperoleh skor 4. Hasil pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor 3 dan 4. Pada saat pretest, enam siswa memperoleh skor 3 dan dua siswa memperoleh skor 4.Pada saat posttest, 15 siswa memperoleh skor 3 dan tujuh siswa memperoleh skor 4.

86 Indikator ketiga adalah mengkoreksi tindakan berhemat energi. Hasil pada kelompok kontrol mengalami peningkatan skor 4. Pada saat pretest,tujuh siswa memperoleh skor 4, sedangkan saat posttest adasembilan siswa. Hasil pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor 1 dan 4. Pada saat pretest, tidak ada siswa yang memperoleh skor 1 dan lima siswa memperoleh skor 4. Pada saat posttest, dua siswa memperoleh skor 1 dan 10 siswa memperoleh skor 4.

Hasil analisis menunjukkan harga p >0,05 yang berarti data normal, sehingga uji statistik selanjutnya bisa menggunakan uji statistik parametrik. Hasil uji statistik perbedaan kemampuan awal menunjukkan harga p sebesar 0,475 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok. Kemampuan yang dimiliki kedua kelompok sama, maka kedua kelompok dapat dibandingkan.

Uji statistik pengaruh perlakuan menunjukkan harga p sebesar 0,043 (p < 0,05). Jika p < 0,05, maka dapat diartikan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest – pretest pada kedua kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan metode inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan regulasi diri.Perhitungan besar pengaruh perlakuan menunjukkan besarr = 0,27 setara dengan 7,29 %. Hasil tersebut masuk dalam kategori efek kecil. Metode inkuiri memberikan pengaruh sebesar 7,29% terhadap kemampuan regulasi diri.

Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest – posttest pada kelompok kontrol harga p = 0,061, sedangkan pada kelompok eksperimen p = 0,000. Hasil uji signifikansi pada kelompok kontrol yang menunjukkan harga p = 0,061 (p> 0,05) mempunyai arti tidak ada perbedaan yang signifikan. Hasil pada kelompok eksperimen yang menunjukkan harga p = 0,000 (p< 0,05) mempunyai arti ada perbedaan yang signifikan. Persentase peningkatan pada kelompok kontrol sebesar 12,25%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 43,56%. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest menunjukkan bahwa persentase besar pengaruh penerapan metode inkuiri lebih besar daripada ceramah untuk kemampuan regulasi diri. Besar pengaruh pada kelompok kontrol yaitu r = 0,35 setara dengan 12,25% termasuk dalam kategori efek kecil. Besar pengaruh pada kelompok eksperimen yaitu r = 0,66 setara dengan 43,56% termasuk dalam kategori efek besar.

87 Hasil analisis peningkatan rerata pretest ke posttest setiap indikator menunjukkan bahwa peningkatan yang terjadi pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Pada indikator no 2b, kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 20,34% dan tidak signifikan, sedangkan kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar 33,16% dan signifikan. Pada indikator no 1b, kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 8,5% dan signifikan, sedangkan kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar43,62% dan signifikan. Pada indikator no 5, kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 6,00% dan tidak signifikan, sedangkan kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar8,74% dan tidak signifikan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen, peningkatan paling tinggi terjadi pada indikator no 1b, sedangkan paling rendah pada indikator no 5. Indikator soal no 1b adalah menilai ketepatan cara berpikir dari pemilihan penggunaan sumber energi, sedangkan no 5 adalah mengkoreksi tindakan berhemat energi. Setelah mendapatkan metode inkuiri terbimbing, siswa dapat melakukan regulasi diri, tetapi pada bagian mengkoreksi tindakan berhemat energi masih rendah. Rekomendasi untuk guru adalah guru perlu memancing siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan mengkoreksi tindakan berhemat energi dan memberikan contoh yang berada di sekitar siswa.

Uji korelasi rerata pretest ke posttest dilakukan untuk mengontrol validitas internal penelitian yaitu regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika koefisiennya negatif dan signifikan. Hasil uji korelasi pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa ada korelasi positif dan signifikan, sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa ada korelasi positif dan tidak signifikan. Nilai positif menunjukkan bahwa semakin tinggi skor pretest, maka semakin tinggi pula skor posttest. Ancaman regresi statistik dalam penelitian ini dapat dikendalikan karena tidak ada koefisien negatif dan signifikan.

Langkah-langkah metode inkuiri yang membantu kemampuan regulasi diri adalah pada langkah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, dan menarik kesimpulan. Pada langkah-langkah tersebut, siswa diajak untuk menilai ketepatan cara berpikirnya dan mengkoreksinya.

88 Penelitian ini sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa metode inkuiri dapat meningkatkanhasil belajar dan motivasi siswa kelas V SD 02 Tumbal Cahyadi dan Ni’amah (2013).Penelitian yang dilakukan oleh Mbari, Yufinalis, dan Nona (2018) menunjukkan bahwa penerapan metode inkuiri berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa metode inkuiri mampu meningkatkan prestasi siswa dalam materi gelombang dan suara (2019). Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa penerapan metode inkuiri berpengaruh pada kemampuan eksplanasi dan regulasi diri. Hasil belajar dan prestasi belajar erat kaitannya dengan kemampuan berpikir. Ketika kemampuan berpikir seseorang tinggi, maka hasil belajar dan prestasi belajar juga tinggi. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan ketiga penelitian relevan tersebut. Kesamaanya terletak pada metode inkuiri yang dapat mempengaruhi variabel dependen. Hal yang membedakan terletak pada populasi penelitian dan materi pembelajaran. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa kelas IV SD BOPKRI Gondolayu, sedangkan materinya yaitu energi pada mata pelajaran IPA.

Pada hasil PISA bidang sains tahun 2012, Indonesia memperoleh skor 382 dengan peringkat 64 dari 65 negara. Skor tersebut masih sangat jauh di bawah rata-rata skor yang mencapai 501 (OECD, 2014: 5). Pada hasil PISA tahun 2015 di bidang sains, Indonesia memperoleh skor 403 dengan peringkat 62 dari 70 negara (OECD, 2018: 5). Walaupun skor bertambah, tetapi Indonesia masih menempati peringkat 10 besar dari bawah. Kondisi tersebut tidak jauh beda dengan hasil studi yang dilakukan oleh Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS). Pada tahun 2011, Indonesia mendapatkan skor 386 dari rata-rata skor 500 (Mullis, dkk, 2011: 42). Pada tahun 2015, Indonesia mendapatkan skor 397 dari rata-rata skor 500 (Mullis, dkk, 2015: 13). Hasil di atas menunjukkan bahwa siswa-siswa di Indonesia mengalami kesulitan pada kemampuan tingkat tinggi, salah satunya berpikir kritis. Hal tersebut diperkuat dengan hasil PISA yang menyatakan bahwa 78% siswa mencapai level 2 dalam sains. Pada level tersebut, siswa dapat mengenai penjelasan yang sudah dikenal dan dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengidentifikasi kasus-kasus sederhana (OECD, 2019: 15). Kemampuan tersebut belum sampai ke tahap

89 eksplanasi dan regulasi diri. Maka dari itu, diperlukan metode pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Salah satu model yang dapat menjadi solusi dari persoalan ini adalah metode inkuiri.Metode inkuiri merangsang keterampilan siswa, sehingga dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif, dan keterampilan berkomunikasi (Kitot, dkk, 2010: 268).

Dokumen terkait