BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II
Hipotesis penelitian II adalah penerapan metode inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan regulasi diri pada pembelajaran IPA kelas IV SD. Variabel dependen pada hipotesis tersebut yaitu kemampuan regulasi diri, sedangkan variabel independennya yaitu penerapan metode inkuiri. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen yaitu tiga soal uraian pada nomor 2b, 1b, dan 5. Satu soal mengandung satu indikator tertentu, menilai ketepatan cara berpikir berdasarkan permasalahan kenaikan konsumsi (penggunaan) listrik, menilai ketepatan cara berpikir dari pemilihan penggunaan sumber energi, dan mengoreksi tindakan berhemat energi.
Analisis statistik secara keseluruhan dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah 1) uji normalitas distribusi data untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data dan menentukan analisis statistik
68 parametrik atau nonparametrik, 2) uji perbedaan kemampuan awal untuk mengetahui kemampuan awal pada kedua kelompok, 3) uji signifikansi pengaruh perlakuan, dan 4) uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya peneliti melakukan analisis lebih lanjut, yang terdiri dari a) uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest, b) uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest, dan c) uji korelasi antara rerata pretest dan posttest.
4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal
Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui dan memastikan bahwa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol mempunyai kemampuan awal yang sama, sehingga dapat dibandingkan. Uji ini juga dilakukan untuk mengendalikan ancaman terhadap validitas internal yaitu karakteristik subjek.
1. Uji Asumsi
a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data
Uji asumsi normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya data, sehingga nantinya dapat digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu jika harga p> 0,05 maka distribusi data normal. Jika data berdistribusi normal maka uji statistik berikutnya menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p< 0,05 maka distribusi data tidak normal. Jika data berdistribusi tidak normal maka uji statistik berikutnya menggunakan statistik nonparametrik Mann-Whitney (Field, 2009: 345). Berdasarkan kriteria tersebut, berikut adalah hasil uji normalitas distribusi data kemampuan regulasi diri (lihat Lampiran 4.3.2).
Tabel 4.18 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data
Kelompok p Kesimpulan
Kontrol 0,200 Normal
Eksperimen 0,144 Normal
Tabel 4.18 menunjukkan harga p > 0,05 pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria tersebut menunjukkan bahwa distribusi data
69 normal. Jika distribusi data normal, maka untuk melakukan analisis selanjutnya dengan menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test (Field, 2009: 326).
b. Uji Homogenitas Varian
Uji homogenitas varian ini menggunakan Levene’s test. Kriteria yang digunakan yaitu jika harga p> 0,05 maka ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga p< 0,05 maka tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut adalah hasil uji asumsi homogenitas varian untuk kemampuan regulasi diri (lihat Lampiran 4.4.2).
Tabel 4.19 Hasil Uji Homogenitas Varian
Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan
Levene’s Test for Equality of Variances 0,272 1 55 0,604 Homogen
Hasil Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% pada tabel 4.17 menunjukkan harga F = 0,272 dan harga p = 0,604. Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan.
c. Uji Statistik
Berdasarkan hasil uji asumsi di atas, data berdistribusi normal dan terdapat homogenitas varian. Jika terdapat homogenitas varian pada kedua data, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). Kriteria yang digunakan adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan kemamampuan awal yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 50). Berikut adalah hasil uji statistik perbedaan kemampuan awal kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.5.2).
Tabel 4.20 Hasil Uji Statistik Perbedaan Kemampuan Awal
Uji Statistik p Keterangan
Independent samples t-test 0,475 Tidak ada perbedaan
Berdasarkan tabel 4.20 diatas harga p sebesar 0,475 (p> 0,05). Jika p > 0,05, maka dapat diartikan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara rerata
70 skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok, sehingga ancaman terhadap validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dengan baik.
4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan
Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh metode inkuiri terhadap kemampuan regulasi diri. Uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat dihitung dengan menggunakan rumus ( - ) – ( - ), yaitu dengan mengurangkan selisih skor posttest – pretest pada kelompok eksperimen dengan rerata selisih skor posttest – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka terdapat perbedaan. Berikut perhitungannya (2,88 – 2,29) – (2,41 – 2,18) = 0,59 – 0,23 = 0,36. Hasil dari perhitungan menggunakan rumus menunjukkan bahwa 0,36 lebih dari 0, sehingga terdapat perbedaan. Uji statistik dilakukan untuk mengetahui perbedaannya signifikan atau tidak. Uji normalitas distribusi data menggunakan One Samples Kolmogorov-Smirnov test, uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test.
1. Uji Asumsi
a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data
Uji asumsi normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga nantinya dapat digunakan untuk menentukan jenis analisis statistik tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu rerata selisihskor posttest – pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu jika harga p> 0,05 maka distribusi data normal. Jika data berdistribusi normal maka uji statistik berikutnya menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p< 0,05 maka distribusi data tidak normal. Jika data berdistribusi tidak normal maka uji statistik berikutnya menggunakan statistik nonparametrik Mann-Whitney (Field, 2009: 345). Berdasarkan kriteria tersebut, berikuthasil uji normalitas distribusi data rerata selisihskor posttest – pretest kemampuan regulasi diri(lihat Lampiran 4.3.2).
71 Tabel 4.21 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata SelisihSkor Posttest–
Pretest
Kelompok p Kesimpulan
Kontrol 0,061 Normal
Eksperimen 0,111 Normal
Tabel 4.21 menunjukkan harga p> 0,05 pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, distribusi data normal. Jika distribusi data normal, analisis selanjutnya menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test (Field, 2009: 326).
b. Uji Homogenitas Varian
Uji homogenitas varian digunakan untuk memastikan skor rerata kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki varian yang homogen. Uji homogenitas varian ini menggunakan Levene’s test. Kriteria yang digunakan yaitu jika harga p> 0,05 maka ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga p< 0,05 maka tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut adalah hasil uji asumsi homogenitas varian untuk kemampuan regulasi diri (lihat Lampiran 4.6.2).
Tabel 4.22 Hasil Uji Homogenitas Varian
Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan
Levene’s Test for Equality of Variances 0,363 1 55 0,549 Homogen
Hasil Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% pada tabel 4.20menunjukkan harga F = 0,363 dan harga p = 0,549. Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan.
c. Uji Statistik
Berdasarkan hasil uji asumsi di atas, data berdistribusi normal dan terdapat homogenitas varian. Jika terdapat homogenitas varian pada kedua data, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama (Equal Variences Assumed) pada output SPSS (Field, 2009: 340). Kriteria yang digunakan untuk uji signifikansi adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 150).
72 Berikut ini adalah hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.7.2).
Tabel 4.23 Hasil Uji Statistik Signifikansi Pengaruh Perlakuan
Uji Statistik p Keputusan
Independent samples t-test 0,043 Signifikan
Rerata skor yang dicapai kelompok eksperimen (M = 0,5957, SE = 0,13094) lebih tinggi daripada skor yang dicapai kelompok kontrol (M = 0,2300, SE = 0,11827).Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (55) = -2,076 danp = 0,043 (p <0,05). Jika p < 0,05, maka dapat diartikan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest – pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan metode inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan regulasi diri. Berikut adalah grafik hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest kemampuan regulasi diri pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Gambar 4.6 Grafik Signifikansi Pengaruh Perlakuan
Gambar 4.6 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan skor pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Skor pretest maupun posttest kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Mean pada kelompok kontrol sebesar 0,2300, sedangkan pada kelompok eksperimen 0,5957.
2,1834 2,4145 2,2857 2,8807 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Pretest Posttest M ea n Kontrol Eksperimen
73 Berikut adalah diagram hasil perbedaan selisih skor posttest – pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Gambar 4.7 Diagram Rerata Selisih Skor Posttest – Pretest 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan
Uji besar pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh perlakuan pada penerapan metode inkuiri terhadap kemampuan regulasi diri. Kriteria untuk menentukan besar efek dapat dilihat pada bab III. Hasil menunjukkan bahwa data berdistribusi normal, sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Data diuji menggunakan Independent samples t-test untuk mengambil harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang diperoleh). Harga r dikuadratkan kemudian dikalikan 100% untuk menghitung koefisien determinasi (R²). Berikut ini adalah hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan regulasi diri(lihat Lampiran 4.8).
Tabel 4.24 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan
Variabel t t² df r R² % Kategori Efek
Regulasi Diri -2,076 4,309 55 0,27 0,0729 7,29 Kecil
Tabel di atas menunjukkan besar r = 0,27 setara dengan 7,29%, dan termasuk dalam kategori efek kecil (Field, 2009: 57). Menurut Fraenkel, Wallen, dan Hyun (2012: 253) besar r = 0,27 masuk dalam kategori efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih penting secara teoretis untuk membuat prediksi.
74 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut
1. Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest a. Persentase Peningkatan
Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest – posttest dilakukan untuk mengetahui peningkatan pada rerata pretest – posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sebelum uji signifikansi, peneliti melakukan uji normalitas data pada skor pretest – posttest menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest dan posttest. Kriteria yang digunakan adalah jika harga p > 0,05, maka data berdistribusi normal. Berikut adalah hasil uji normalitas data skor pretest dan posttest pada kemampuan regulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.3.2).
Tabel 4.25 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Pretest dan Posttest
Kelompok Aspek p Keputusan
Kontrol Pretest 0,200 Normal
Posttest 0,109 Normal
Eksperimen Pretest 0,144 Normal
Posttest 0,108 Normal
Tabel 4.25 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 pada data pretest dan posttest kedua kelompok. Harga p > 0,05 menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. Jika data berdistribusi normal, maka uji peningkatan skor pretest dan posttest dengan menggunakan Paired Samples t-test pada kedua kelompok. Kriteria yang digunakan adalah jika p <0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest dihitung dengan cara membagi selisih pretest – posttest dengan pretest, kemudian dikalikan 100%. Berikut ini adalah hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest (lihat Lampiran 4.9.1 dan 4.9.2.2).
Tabel 4.26 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest
No Kelompok Rerata Peningkatan
(%) Uji Statistik p Keputusan
Pretest Posttest 1 Kontrol 2,18 2,41 10,55 Paired Samples t-test 0,061 Tidak Signifikan 2 Eksperimen 2,29 2,88 25,76 Paired
75 Hasil analisis pada tabel 4.26 menunjukkan bahwa rerata pretest dan posttest pada kelompok kontrol sebesar 2,18 dan 2,41. Persentase peningkatannya sebesar 10,55%. Rerata pretest dan posttest pada kelompok eksperimen sebesar 2,29 dan 2,88. Persentase peningkatannya adalah 25,76%. Data tersebut menunjukkan bahwa persentase peningkatan pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hasil uji signifikansi pada kelompok kontrol menunjukkan harga p = 0,061 (p >0,05), sedangkan hasil pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p = 0,000 (p <0,05). Berikut ini adalah diagram peningkatan pretest ke posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Gambar 4.8Grafik Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest
Tabel 4.26 dan gambar 4.8 menunjukkan bahwa rerata skor antara pretest ke posttest pada kelompok kontrol mengalami penurunan, sedangkan kelompok eksperimen mengalami peningkatan. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest pada kelompok kontrol sebesar 10,55%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 25,76%. Hasil persentase peningkatan skor pretest ke posttest dapat dilihat lebih jelas pada gambar 4.9 menggunakan grafik poligon. Grafik ini digunakan untuk melihat perbedaan selisih skor pretest – posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut ini adalah grafik yang menunjukkan frekuensi selisih skor pretest –posttest (gain score) pada kedua kelompok (lihat Lampiran 4.9.3.3).
2,18 2,41 2,29 2,88 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Kontrol Eksperimen R e ra ta Pretest Posttest
76 Gambar 4.9 Grafik Gain Score Kemampuan Regulasi Diri
Grafik pada gambar 4.9 menunjukkan bahwa gain terendah pada kelompok kontrol sebesar 1,00 sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar -0,33. Gain tertinggi pada kelompok kontrol sebesar 1,67 sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 2,00. Nilai tengah dari gain score diperoleh dari 50% skor selisih tertinggi dikurangkan skor selisih terendah. Gain score diperoleh 0,67. Frekuensi siswa yang memperoleh nilai ≥ 0,67 pada kelompok kontrol ada 9 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen ada 14 siswa. Besar persentase gain score ≥ 0,67 adalah 31% pada kelompok kontrol dan 50% pada kelompok eksperimen. Hal tersebut menunjukkan bahwa 50% siswa kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan metode inkuiri, sedangkan 31% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode ceramah. Dengan demikian, penerapan metode inkuiri memiliki persentase lebih besar daripada penerapan metode ceramah.
b. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest
Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest dilakukan untuk mengetahui besar peningkatan rerata skor pretest ke posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data menunjukkan sudah berdistribusi normal, maka uji statistik menggunakan Paired Samples t-test (Field, 2009: 325). Kriteria yang digunakan adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan
1 2 5 7 5 3 4 1 1 0 0 0 5 3 6 4 4 2 3 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 -1 -0,67 -0,33 0 0,33 0,67 1 1,33 1,67 2 Kontrol Eksperimen
77 dari pretest ke posttest (Field, 2009: 53). Berikut ini adalah perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest (lihat Lampiran 4.10.2.1).
Tabel 4.27 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest
Kelompok t t² df r R² % Kategori Efek
Kontrol 1,952 3,81 28 0,35 0,1225 12,25 Kecil Eksperimen 4,543 20,63 27 0,66 0,4356 43,56 Besar
Tabel 4.27 menunjukkan bahwa persentase besar pengaruh penerapan metode inkuiri lebih besar daripada ceramah untuk kemampuan regulasi diri. Besar pengaruh pada kelompok kontrol yaitu r = 0,35 setara dengan 12,25% yang termasuk dalam kategori kecil. Besar pengaruh pada kelompok eksperimen yaitu r =0,66 setara dengan 43,56% yang termasuk dalam kategori efek besar.
c. Persentase Peningkatan Setiap Indikator
Perhitungan persentase peningkatan setiap indikatordilakukan untuk mengetahui peningkatan pada setiap indikatorkelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sebelum dilakukan uji signifikansi, peneliti melakukan uji normalitas data pada skor setiap indikatormenggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor setiap indikator. Kriteria yang digunakan adalah jika harga p > 0,05, maka data berdistribusi normal. Berikut adalah hasil uji normalitas data skor setiap indikatorpada kemampuan regulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.11.2.1).
Tabel 4.28 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Setiap Item
Kelompok Aspek p Keputusan
Kontrol Pretest 2b 0,000 Tidak Normal
Posttest 2b 0,000 Tidak Normal
Pretest1b 0,001 Tidak Normal
Posttest 1b 0,007 Tidak Normal
Pretest 5 0,000 Tidak Normal
Posttest 5 0,001 Tidak Normal
Eksperimen Pretest 2b 0,000 Tidak Normal
Posttest 2b 0,000 Tidak Normal
Pretest 1b 0,007 Tidak Normal
Posttest 1b 0,000 Tidak Normal
Pretest 5 0,000 Tidak Normal
78 Tabel 4.28 menunjukkan bahwa harga p < 0,05 pada data setiap indikator kedua kelompok. Harga p < 0,05 menunjukkan bahwa data berdistribusi tidak normal. Jika data berdistribusi tidak normal, maka uji peningkatan skor setiap indikatordengan menggunakan Two Related Samples t-test pada kedua kelompok. Kriteria yang digunakan adalah jika p <0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Persentase peningkatan rerata setiap indikatordihitung dengan cara membagi selisih pretest – posttest setiap indikator dengan pretest, kemudian dikalikan 100%. Berikut adalah hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest (lihat Lampiran 4.11.2.2 dan 4.11.2.3).
Tabel 4.29 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest
No Kelompok Indikator Rerata Peningkatan (%) p Keputusan Pre-test Post-test 1 Kontrol 2b 1,72 2,07 20,34 0,072 Tidak Signifikan 1b 2 2,17 8,5 0,465 Signifikan 5 2,83 3 6,00 0,334 Tidak Signifikan 2 Eksperimen 2b 1,96 2,61 33,16 0,009 Signifikan 1b 2,04 2,93 43,62 0,009 Signifikan 5 2,86 3,11 8,74 0,268 Tidak Signifikan
Hasil analisis pada tabel 4.29 menunjukkan bahwa rerata pretest pada kelompok kontrol dengan indikator 2b sebesar 1,72, indikator 1b sebesar 2 dan indikator 5 sebesar 2,83. Rerata posttest kelompok kontrol dengan indikator 2b sebesar 2,07, indikator 1b sebesar 2,17, indikator 5 sebesar 3. Persentase peningkatannya sebesar 20,34% untuk indikator 2b, 8,5% untuk indikator 1b, dan 6,00% untuk indikator 5. Rerata pretest pada kelompok eksperimen dengan indikator 2b sebesar 1,96, indikator 1b sebesar 2,04 dan indikator 5 sebesar 2,86. Rerata posttest kelompok kontrol dengan indikator 2b sebesar 2,61, indikator 1b sebesar 2,93, indikator 5 sebesar 3,11. Persentase peningkatannya sebesar 33,16% untuk indikator 2b, 43,62% untuk indikator 1b, dan 8,74% untuk indikator 5.
79 Berikut ini adalah diagram peningkatan pretest ke posttest setiap indikator pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Gambar 4.10 Grafik Peningkatan Rerata Setiap Indikator
Grafik pada gambar 4.10 menunjukkan bahwa tidak terjadi penurunan rerata pada kelompok kontrol. Rerata semua indikator pada kelompok kontrol mengalami kenaikan. Hal tersebut juga terjadi pada kelompok eksperimen.
2. Uji Korelasi Rerata Pretest ke Posttest
Uji Korelasi rerata pretest ke posttest dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal penelitian yaitu regresi statistik. Regresi statistik adalah kondisi siswa yang mendapatkan skor pretest lebih tinggi akan cenderung mendapatkan skor lebih rendah pada posttest. Regresi statistik terjadi jika koefisiennya negatif dan signifikan. Data yang digunakan adalah data skor pretest dan posttest pada kedua kelmpok. Karena data sudah berdistribusi normal, uji statistik menggunakan Pearson Correlation dengan tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% (Field, 2009: 179). Berikut ini adalah hasil uji korelasi rerata pretest ke posttest kemampuan regulasi diri(lihat Lampiran 4.12.2.1).
Tabel 4.30 Hasil Uji Korelasi Rerata Skor Pretest ke Posttest
Kelompok Pearson Correlation p Keterangan
Kontrol 0,407 0,029 Korelasi positif dan signifikan Eksperimen 0,224 0,251 Korelasi positif dan tidak signifikan
20,34 8,5 6 33,16 43,62 8,74 0 10 20 30 40 50 2b 1b 5 P e n in gka ta n (% ) Kontrol Eksperimen
80 Tabel 4.30 menunjukkan harga p pada kelompok kontrol 0,029 (p <0,05) dan harga r 0,407 (positif). Hal ini berarti ada korelasi positif dan signifikan pada kemampuan regulasi diri kelompok kontrol. Nilai positif menunjukkan bahwa semakin tinggi skor pretest, maka semakin tinggi pula skor posttest. Pada kelompok eksperimen, harga p = 0,251 yang berarti tidak signifikan dan harga r = 0,224 yang berarti positif. Karena hasilnya tidak negatif dan signifikan, ancaman terhadap validitas internal yaitu regresi statistik dapat dikendalikan dalam penelitian ini.