A. Persepsi Gum tentang pengawasan kepala Madrasah MTs N Mranggen Demak tahun ajaran 2007/ 2008
B. Kineija Gum MTs N Mranggen Demak tahun ajaran 2007/ 2008 C. Hubungan Persepsi Guru tentang pengawasan Kepala Madrasah
dan Kineija Gum MTs N Mranggen Demak tahun ajaran 2007/ 2008
BAB V : PENUTUP
Kepala madrasah adalah pemimpin di madrasah. Ia yang mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan di madrasah agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dan kepala madrasah adalah orang yang paling bertanggung jawab atas madrasah.
Artinya : Setiap orang adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya... (HR. Abu Daud)
Dengan demikian, memainkan peran sebagai pemimpin merupakan citra diri yang melekat sebagai kepala madrasah.
Seorang ilmuwan Douglas McGregor menuangkan hasil-hasil pemikiranya dalam buku dengan judul The Human Side o f interprise. McGregor berusaha menonjolkan pentingnya pemahaman dalam organisasi. Inti teori McGregor terlihat pada klasifikasi yang dibuatnya tentang manusia yaitu :
1. Teori “X” yang pada dasamya mengatakan bahwa manusia cenderung berprilaku negatif.
2. Teori “Y” yang pada dasamya yang mengatakan bahwa manusia cenderung berperilaku positif.
Dalam mengemukakan dan mempertahankan kebenaran teori ny a, McGregor menekankan bahwa cara yang, digunakan oleh manajer (pemimpin)
1 Muhammad Muhidin, Sunan Abu Dawud Juz III,
2 Sondang OP. Siagian, Teori Motivasi dan Aplikasinya, Rineka Cipta, Jakarta, 2004 Him
dalam memperlakukan para bawahannya sangat tergantung pada asumsi yang digunakan tentang ciri-ciri manusiayang dimiliki oleh bawahannya itu.
Teori “X” mengatakan bahwa para manajer menggunakan asumsi bahwa manusia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Para pekeija pada dasamya tidak senang bekerja dan apabila mungkin, akan berusaha mengelakkanya.
b. Karena para pekeija tidak senang bekeija, mereka harus dipaksa, diawasi agar organisasi tercapai.
c. Para pekeija akan berusaha mengelakkan tanggung jawab dan hanya akan bekeija apabila menerima perintah untuk melakukan sesuatu.
d. Kebanyakan pekeija akan menempatkan pemuasan kebutuhan fisiologis dan keamanan diatas faktor-faktor lain yang berkaitan dengan pekeijaanya dan tidak akan menunjukkan keinginan atau ambisi untuk maju.
Sebaliknya, menurut teori “Y” para manajer menggunakan asumsi bahwa para pekeija memiliki ciri-ciri:
a. Para pekeija memandang kegiatan bekeija sebagai hal yang alamiyah seperti halnya beristirahat dan bermain.
b. Para pekeija akan berusaha melakukan tugas tanpa terlalu diarahkan dan akan berusaha mengendalikan diri sendiri.
c. Pada umumnya para pekeija akan menerima tanggung jawab yang lebih besar.
d. Para pekeija akan berusaha menunjukkan kreatifitasnya dan oleh karenanya akan berpendapat bahwa pengambilan keputusan merupakan tanggung
jawab mereka juga dan bukan semata-mata tanggung jawab orang-orang yang menduduki jabatan manajerial.
Berangkat dari teori McGregor tersebut, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana hubungan persepsi guru tentang pengawasan kepala madrasah dan kineija guru. Karena dengan pengawasan, ada upaya yang sistematik untuk mengamati dan memantau apakah berbagai fungsi, aktifltas dan kegiatan yang teijadi dalam organisasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau tidak.
Implikasi dari semua hal ini terhadap kineija guru sangat besar. Mau atau tidak, disukai atau tidak, kepala madrasah harus memanfaatkan pengetahuan tentang persepsi guru-gurunya di Madrasah mengenai berbagai segi kehidupan organisasionalnya karena persepsi orang sangat berpengaruh dan mempunyai hubungan terhadap kinerja guru-gurunya.
A. Kajian Persepsi Guru tentang Pengawasan Kepala Madrasah
1. Persepsi Guru
a. Pengertian Persepsi Guru
Persepsi adalah tanggapan langsung atas sesuatu.1 Tanggapan adalah mereaksi stimulus dengan membangun kesan pribadi yang berorientasi kepada pengamatan masa lalu, pengamatan masa sekarang, dan harapan masa yang akan datang.* 4
Menurut Sondang OP. Siagian, persepsi adalah bahwa apa yang ingin dilihat oleh seseorang belum tentu sama dengan fakta yang sebenamya, keinginan itulah yang menyebabkan mengapa dua orang
■!EM. Zul Fajri dan Ratu Aprilia Senja, Op. Cit., him. 470. 4 Wasty Sumanto, Op.Cit., him. 24.
yang melihat atau mengalami hal yang sama memberikan interprestasi yang berbeda tentang apa yang dilihat atau dialaminya itu.5
Suparlan, membagi pengertian guru menjadi dua pandangan.
Pertama, dalam pandangan umum, Guru adalah siapa saja yang melaksanakan tugas sebagai pengajar, pendidik, dan pelatih, baik yang dilaksanakan dalam lembaga pendidikan keluarga, formal, maupun informal. Dalam konteks ini, Guru adalah siapa saja yang melaksanakan misi untuk menjelaskan anak-anak bangsa sesuai dengan potensi yang dimiliki. Kedua, dalam pandangan khusus, Surat Edaran (SE) Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor 57686/MPK/1989 menyatakan lebih spesifik bahwa, Guru ialah Pegawai negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas wewenang dan tanggung jawab oleh penjabat yang bewenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah (termasuk hak yang melekat dalam jabatan).6
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Menurut Jalaluddin Rahmad, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi ada tiga, yaitu :7
1) Perhatian; adalah proses mental ketika stimulus rangkaian stimulus menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimulus lainnya melemah.
5 Sondang OP. Siagian, Op.Cit., him. 98. 6 Suparlan, Op. Cit., him. 15.
7 Jalaluddin Rahmad, M.SC., Psikologi Komunikasi, Rosdakarya, Bandung, 1994, him. 52-58.
2) Faktor-faktor yang fiingsional meliputi kebutuhan, pengalaman masalah dan hal-hal yang termasuk apa yang kita sebut faktor- faktor personal.
3) Faktor-faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu.
2. Pengawasan Kepala Madrasah
a. Pengertian
Pengawasan adalah fungsi Administratif dimana setiap administrator memastikan bahwa apa yang dikerjakan sesuai dengan yang dikehendaki. Ia meliputi pemeriksaan apakah semua berjalan sesuai dengan rencana yang dibuat, instruksi yang dikeluarkan, dan prinsip-prinsip yang ditetapkan. Ia dimaksudkan untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan, kemudian
g
membentukannya, dan mencegah terulangnya masalah.
Pengawasan dalam administrasi berarti kegiatan mengukur tingkat efektifitas kerja personal dan tingkat efisiensi penggunaan metode dan alat tertentu dalam usaha mencapai tujuan.8 9
Kepala Madrasah adalah seorang manager. Dialah yang mengatur segala sesuatu yang ada di sekolah untuk mencapai tujuan sekolah. Dengan posisi sebagai manager, Kepala Sekolah mempunyai kewenangan penuh terhadap arah kebijakan yang ditempuh menuju
8Oteng Sutisna, Op. Cit., him. 203.
visi dan misi sekolah. Kewenangan tersebut hanya dapat diterapkan secara maksimal jika dalam kepemimpinannya Kepala Sekolah memosisikan diri secara proposional.10
Sedangkan pengawasan Kepala Madrasah yang penulis maksud adalah proses administrasi dimana seorang Kepala Madrasah mengawasi semua kegiatan Madrasah apakah semua berjalan sesuai dengan rencana yang dibuat, intruksi-intruksi yang dikeluarkan dan prinsip-prinsip yang ditetapkan. Ia dimaksudkan untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan, kesalahan-kesalahan, kemudian membetulkannya dan mencegah terulangnya masalah.
b. Tipe-tipe Kepengawasan
Menurut Ngalim Purwanto tipe-tipe kepengawasan antara lain:11 1. Pengawasan Sebagai Inspeksi
Dalam administrasi dan kepemimpinan yang otokratis, pengawasan berarti inspeksi. Dalam bentuk inspeksi ini, pengawasan semata-mata merupakan kegiatan menginspeksi pekerjaan-pekerjaan guru. Inspeksi bukanlah suatu pengawasan yang berusaha menolong guru untuk mengembangkan dan memperbaiki cara dan daya keija sebagai pendidik dan pengajar. Inspeksi dijalankan terutama dimaksud untuk mengawasi apakah
10 Muhammad Saroni, Op. Cit., him. 21.
‘1M. Ngalim Purwanto dan Sutadji Djojopranoto, Administrasi Pendidikan, Mutiara, Jakarta, 1981, him. 56-60.
guru menjalankan apa-apa yang sudah diinstruksikan dan ditentukan oleh atasan atau tidak, sampai dimana guru-guru menjalankan tugas-tugas yang telah ditentukan atasannya. Jadi, inspeksi berarti kegiatan-kegiatan mencari kesalahan.
Untuk menentukan baik buruknya guru-guru dilihat semata- mata dari : sampai dimana ketaatan dan kebaikannya menjalankan tugas-tugas tersebut. Guru-guru tidak pemah diminta pendapat, diajak merundingkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tugasnya. Musyawarah dan mufakat tidak berlaku dalam hal ini. Inilah ciri-ciri kepengawasan yang khas yang berlaku pada masa kolonial dahulu, yang hingga saat kini masih juga terdapat sisa- sisanya dalam dunia pendidikan kita. Inspeksi merupakan tipe kepengawasan yang otokratis.
2. Laisses Faire
Kepengawasan yang bertipe Laisses Faire sesungguhnya merupakan kepengawasan yang sama sekali tidak konstruktif. Kepengawasan Laisses Faire membicarakan guru-guru bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk dan bimbingan. Guru-guru boleh menjalankan tugasnya menurut yang mereka sukai, boleh mengajar apa yang mereka inginkan dan dengan earn yang mereka kehendaki masing-masing. Hal yang demikian ini bukanlah demokrasi, justru merupakan suatu pengawasan yang lemah dan tanpa tanggung jawab. Seorang Kepala Sekolah yang termasuk tipe
ini sama sekali tidak memberikan bantuan, pengawasan dan korelasi terhadap pekerjaan guru-guru yang dipimpinnya. Pembagian tugas dan kerja sama diserahkan sepenuhnya kepada mereka masing-masing, tanpa petunjuk atau saran-saran, tanpa adanya koordinasi.
Tidak mengherankan, jika dalam kepengawasan Laisses Faire ini mudah sekali timbul kesimpang siuran dalam kekuasaan dan tanggung jawab diantara guru-guru dan pengawasan pegawai lainnya, mudah timbul perselisihan dan kesalahpahaman diantara mereka. Segala kegiatan dilakukan tanpa rencana dan bimbingan dari pemimpin. Dengan demikian, sukar diharapkan adanya kerja sama yang harmonis yang sama-sama diarahkan kesatu tujuan. 3. Coeave Supervision
Hampir sama dengan kepengawasan yang bersifat inspeksi, tipe kepengawasan ini bersifat otoritas. Di dalam tindakan kepengawasannya, si pengawas bersifat memaksakan segala sesuatu yang dianggapnya benar dan baik menurut pendapatnya sendiri. Dalam hal ini pendapat dan insiatif guru tidak dihiraukan atau tidak dipertimbangkan.
4. Pengawasan sebagai Training dan Giudance
Dibandingkan dengan tipe-tipe kepengawasan yang telah dibicarakan, tipe ini lebih baik. Tipe pengawasan ini berlandaskan kepada suatu pandangan bahwa pendidikan itu merupakan proses
pertumbuhan bimbingan. Juga berdasarkan pandangan bahwa orang-orang yang diangkat sebagai guru pada umumnya telah mendapat pendidikan pre-service di sekolah guru. Oleh karena itu pengawasan yang dilakukan selanjutnya adalah untuk melatih (to train) dan memberuikan bimbingan (to guide) kepada guru-guru tersebut dalam tugas pekeijaannya sebagai guru.
5. Kepengawasan yang Demokratis
Dalam tipe kepengawasan ini, pengawasan bukan lagi suatu pekerjaan yang dipegang oleh seorang petugas, tetapi merupakan pekerjaan-pekerjaan bersama yang dikoordinasikan. Tanggung jawab tidak dipegang sendiri oleh pengawas, melainkan dibagi- bagikan kepada para anggota sesuai dengan tingkat, keahlian dan kecakapannya masing-masing. Masalah penting yang perlu diperhatikan Kepala Sekolah selaku pengawas, adalah menemukan cara-cara belajar yang kooperatif dan efektif. Kepala Sekolah memberikan kepercayaan kepada semua karyawan sehingga masing-masing merasa diakui dan dihargai. Pengawasan ia jalankan dengan ikut bekerja secara aktif. Kadang-kadang dimuka untuk menjadi teladan, kadang-kadang ditengah untuk membangkitkan semangat, dan kadang-kadang dibelakang untuk memberi kebebasan bekerja pada para guru, tetapi mempengaruhinya. Dengan ikut bekerja, Kepala Sekolah dapat mengetahui situasi sekolah seluruhnya dan sebagiannya.
Berdasarkan hasil pengawasannya itu ia bersama-sama dengan guru-guru lain berusaha mendapatkan syarat-syarat yang diperlukan, dan berusaha menghilangkan hal-hal negatif yang menghambat lancamya jalan kehidupan sekolah, serta bersama- sama mendapatkan metode-metode bekerja gotong royong yang efesien, produktif. Sesuai dengan kondisi setempat, perbedaan pendapat, perselisihan yang mungkin timbul dicarikan pemecahannya secara musyawarah.
Menjadi jelas, bahwa pengawasan secara demokratis yang lebih baik, yaitu memiliki ciri-ciri sebagai berikut :12
a. Pengawasan dijalankan secara gotong-royong atau kooperatif, tidak ditangani seorang saja, yaitu Kepala Sekolah.
b. Pengawasan dijalankan terang-terangan, diakui oleh semua petugas yaitu guru-guru, tidak secara sembunyi-sembunyi. c. Pengawasan dijalankan kontinyu dan bersifat tut wuri
handayani (bersifat pembimbingan).
c. Alat dan Teknik Pengawasan
Alat dan teknik pengawasan memiliki banyak bentuk, beberapa alat adalah cukup sederhana, sedang yang lain kompleks dan rumit. Beberapa teknik mengukur keterkaitan perbuatan fmansial, sedang teknik lain berurusan dengan efisiensi operasional organisasi. Alat
I2Ahmad Rohani dan H. Abu Ahmadi, Pedoman Pertyelenggaraan Administrasi Pendidikan Sekolah, Bumi Aksara, Jakarta, 1991, him. 83.
pengawasan yang lain lagi berurusan dengan sikap, persepsi, dan efektifitas pegawai. Walaupun alat-alat kepengawasan itu banyak berbeda dalam desain dan dalam apa yang mereka ukur, semuanya mencoba untuk mencapai maksud yang sama untuk menentukan penyimpangan-penyimpangan dan standar-standar yang dikehendaki sehingga managemen bisa mengambil tindakan pembetulan yang layak.13
Pengawasan diperlukan pada semua bidang kegiatan sekolah. Suatu bentuk pengawasan yang cocok harus ada untuk membimbing kegiatan itu atau untuk menilai hasil-hasilnya. Akan tetapi, untuk menjalankan dengan efektif setiap kegiatan pengawasan itu diperlukan alat dan teknik yang sesuai. Untuk mengawasi pengajaran dibuat kebijaksanaan tentang maksud dan tujuan yang hendak dicapai oleh sekolah-sekolah, kurikulum sekolah yang dibakukan serta pedoman pelaksanaannya, dan syarat-syarat bagi murid yang akan menempuh pengajaran. Semakin khusus dan teknis suatu kegiatan dalam penyelenggaraan sekolah, semakin besar keharusan untuk membawa kekuatan pengetahuan kedalam pengawasannya. Ini menyarankan bahwa alat dan teknis pengawasan harus instrumen yang khusus dan dibuat mengingat sifat pekeijaan yang dilakukan serta sifat kekuatan yang diterapkan pada pekerjaan itu.
d. Kewaspadaan Dipergunakan dalam Pengawasan
Pengawasan, sebaiknya dilakukan sebelum keadaan memburuk sampai “pita merah” (membahayakan), yaitu dengan melalui ukuran sampai satu titik, bahwa pemakaian sumber-sumber dan waktu melebihi hasil-hasil yang dicapai. Mekanisme pengawasan formal dan langsung, seperti laporan-laporan tertulis, perhitungan elektronis, inspeksi, dan lain sebagainya harus dikurangi sampai minimum. Di lain pihak, pengawasan-pengawasan informal dan tidak langsung, seperti penyelidikan-penyelidikan pribadi dan diskusi-diskusi harus ditingkatkan apabila hal ini telah dicoba temyata efektif dan ekonomis.
Dalam kaitannya dengan pengawasan, informasi memainkan peranan yang menonjol sekali. Seseorang, pada umumnya memikirkan umpan balik dalam hubungan dengan fungsi pengawasan di sekolah. Konsep umpan balik yang dihasilkan oleh kemajuan teknik, menggambarkan peranan pengawasan dalam suatu organisasi.14
e. Karakteristik Pengawasan yang Efektif
Proses pengawasan yang efektif mem perl ihatkan beberapa karakteristik :15
1) Pengawasan hendaknya disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan organisasi. Ia memperlihatkan pola dan tata organisasi, seperti :
14Iwa Sukiswa, Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan, Tarsiti, Bandung, 1986, I5Oteng Sutisna, Op. Cit., him. 206.
susunan, peraturan-peraturan, tugas-tugas dan kewenangan yang terdapat dalam organisasi.
2) Pengawasan hendaknya diarahkan kepada menemukan fakta-fakta tentang bagaimana tugas-tugas dijalankan. Pengawasan tidak dimaksudkan untuk terutama menemukan siapa yang salah, jika ada ketidakberesan, melainkan untuk menemukan apa yang tidak betul.
3) Pengawasan hendaknya mengacu kepada tindakan perbaikan, ia hendaknya tidak saja mengungkapkan penyimpangan dari pelaksana yang dikendaki, ia juga hendaknya menyarankan cara bisa memperbaiki pelaksanaan, pengawasan sering menyarankan beberapa bidang yang mungkin bagi tindakan perbaikan. Maka menjadi tugas administratorlah untuk meneliti bidang-bidang masalah yang mungkin ini, dan menentukan tindakan perbaikannya atau kombinasi tindakan yang akan memecahkan masalah itu. 4) Pengawasan hams bersifat fleksibel. Fleksibilitas dalam
keseluruhan proses pengawasan adalah penting bagi penyesuaian kepada kondisi yang bembah. Rencana atau standar yang didasari pengukuran pengawasan mungkin memerlukan perbaikan bila keadaan yang mendasarinya bembah.
5) Pengawasan hams bersifat preventif, ia hams dapat mencegah timbulnya penyimpangan orang-orang yang teiiibai hams memahami apa yang hendak dicapai oleh pengawasan supaya para
pelaksana meningkatkan kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas-tugas yang telah ditentukan bagi mereka.
6) Sistem pengawasan harus dapat dipahami, jika pengawasan hendak berarti, orang-orang yang terlibat memahami apa yang hendak dicapai oleh pengawasan itu dan bagaimana mereka selaku individu dapat menarik manfaat sepenuhnya dan hasilnya.
7) Pengawasan hanyalah alat administrasi, pelaksanaan pengawasan harus mempermudah tercapainya tujuan-tujuan. Oleh karena itu pengawasan harus bersifat membimbing supaya para pelaksana meningkatkan kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas- tugas yang telah ditentukan bagi mereka.
f. Syarat-syarat Seorang Kepala Madrasah sebagai Pengawas
Sebagai seorang Kepala Sekolah yang harus melaksanakan tugas dalam tanggung jawabnya, hendaknya mempunyai persyaratan- persyaratan ideal dalam mengawasi. Dilihat dari segi kepribadiannya (personality) syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :16
1) la harus mempunyai kemanusiaan dan solidaritas yang tinggi, dapat menilai orang lain secara teliti dari segi kemanusiaannya serta dapat bergaul dengan baik.
2) la harus dapat memelihara dan menghargai dengan sungguh- sungguh semua kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang yang berhubungan dengannya.
3) la harus beijiwa optimis yang berusaha mencari yang baik, mengharapkan yang baik dan melihat segi-segi baik.
4) Hendaknya bersifat adil dan jujur sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh penyimpangan-penyimpangan manusia.
5) Hendaknya ia cukup tegas dan obyektif (tidak memihak) sehingga guru-guru yang lemah yang menjadi stafnya, tidak “hilang dalam bayangan” orang-orang yang kuat pribadinya.
6) Ia harus berjiwa terbuka dan luas, sehingga lekas dan mudah memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi yang baik.
7) Jiwanya yang terbuka tidak boleh menimbulkan prasangka terhadap seorang untuk selama-lamanya hanya karena suatu kesalahan saja.
8) Ia hendaknya jujur, terbuka dan penuh tanggung jawab.
9) Ia harus cukup teknik, sehingga kritiknya tidak menyinggung perasaan orang.
10) Sikapnya yang bersimpati terhadap guru-gurunya, tidak akan menimbulkan putus asa pada anggota-anggota stafnya.
11) Sikapnya harus ramah, terbuka dan mudah dihubungi, sehingga guru-guru dan siapa saja yang memerlukannya tidak akan ragu- ragu untuk menemuinya.
12) la harus dapat bekeija dengan tekun dan raj in serta teliti, sehingga merupakan contoh bagi anggota / stafhya.
13) Personal apperance terpelihara dengan baik, sehingga dapat menimbulkan respect dari orang lain.
14) Terhadap orang lain ia harus mempunyai perasaan cinta sedemikian rupa, sehingga ia secara wajar dan serius mempunyai perhatian terhadap mereka.
g. Tugas Kepala Sekolah
Secara umum, tugas-tugas pokok Kepala Sekolah mencakup tujuh bidang sebagai berikut i1'
1) Bidang akademik yang berkenaan dengan proses belajar mengajar didalam dan luar sekolah.
2) Bidang ketatausahaan dan keuangan sekolah. 3) Bidang kesiswaan.
4) Bidang personalia / kepegawaian.
5) Bidang gedung dan perlengkapan sekolah. 6) Bidang peralatan sekolah.
7) Bidang hubungan sekolah dan masvarakax, 7
l7Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga Pendidikan, Gunung Agung, Jakarta, 1985, him. 91-92.
Maka Kepala Sekolah harus memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, dan mengawasi ketujuh bidang yang menjadi tugas pokoknya. Tugas-tugas pokok itu bilamana diperinci adalah sebagai berikut:
1) Kegiatan mengatur proses belajar mengajar
a) Menyusun program catur wulan / semester dan program tahunan, termasuk juga pembagian tugas mengajar.
b) Menyusun jadwal pelajaran setiap tahun.
c) Menyusun pelaksanaan penyusunan model satuan pelajaran dan pembagian waktu yang digunakan.
d) Mengatur pelaksanaan evaluasi belajar. e) Mengatur norma penulisan.
f) Mengatur norma kenaikan kelas / tingkat. g) Mengatur pencatatan kemajuan pelajaran murid.
h) Mengatur usaha-usaha peningkatan perbaikan pengajaran (melaksanakan supervisi materi).
i) Mengatur program pengisian waktu-waktu kosong karena guru-guru berhalangan hadir.
2) Mengatur kegiatan kesiswaan
a) Mengatur penerimaan murid berdasarkan peraturan penerimaan murid baru.
c) Mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru / murid.
d) Mengatur program ko-kurikulum (pramuka, UKS, dan lain-lain). e) Mengatur mutasi (kepindahan) murid.
3) Kegiatan mengatur personalia a) Menginventarisasi personalia.
b) Mengusulkan formasi guru dan merencanakan pembagian tugas-tugas guru, termasuk menghitung beban kerja guru.
c) Mengusulkan pengangkatan, kenaikan pangkat, perpindahan guru, dan administrasi kepegawaian lainnya.
d) Mengatur kesejahteraan sosial staf sekolah.
e) Mengatur pembagian tugas bilamana guru sakit, cuti, pensiun, dan lain sebagainya.
4) Kegiatan mengatur tata usaha dan keuangan sekolah a) Menyelanggarakan surat menyurat.
b) Mengatur penggunaan keuangan. c) Mengelola penggunaan keuangan. d) Mempertanggung jawabkan keuangan. 5) Kegiatan mengatur peralatan pengajaran
a) Mengatur buku-buku pelajaran untuk pegangan guru dan murid. b) Mengatur perpustakaan guru / murid di sekolah.
c) Mengatur alat-alat pelajaran / peraga tiap bidang studi. 6) Kegiatan mengatur gedung dan perlengkapan sekolah
a) Mengatur pemeliharaan kebersihan gedung dan keindahan halaman sekolah.
b) Pengadaan dan pemeliharaan perlengkapan sekolah (kursi, meja, lemari, papan tulis, kapur, perlengkapan tata usaha atau alat tulis menulis kantor dan lain-lain).
c) Menyelenggarakan inventarisasi tanah, gedung dan perlengkapan sekolah, baik yang habis dipakai maupun yang permanen.
7) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat
a) Menyelenggarakan pembentukan dan secara kontinyu berhubungan dengan BP3.
b) Menerima dan memberikan pelayanan pada tamu.
c) Mewakili sekolah dalam hubungan keija dengan pihak luar. Dalam menyelenggarakan tugas pokok itulah seorang Kepala Sekolah harus mampu melakukan pembagian dan perbandingan kerja dengan membentuk unit-unit keija, sesuai dengan besar-kecilnya sekolah yang dipimpinnya. Kepala Sekolah berkewajiban menggerakkan setiap personal agar bersedia dan bersungguh-sungguh melaksanakan tugas masing-masing.
Adapun tugas Kepala Madrasah sebagai seorang pengawas adalah sebagai berikut 18
(1) Merancang, mengarahkan dan mengkoordinir semua aktivitas agar sekolah beijalan dengan baik menuju tercapainya tujuan sekolah. (2) Membimbing para guru agar menunaikan tugasnya dengan penuh
semangat dan kegembiraan.
(3) Membimbing para murid untuk belajar raj in, tertib, dan giat.
(4) Menjaga suasana baik dalam sekolah, antar guru-guru, an tar murid- murid, antar pegawai, antar kelas, sehingga tercapainya suasana