BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Penggunaan Antibiotika
Ada 2 jenis antibiotika yang menjadi pilihan utama dokter untuk penatalaksanaan demam tifod anak yang dirawat inap di RSUD Tangerang yaitu Seftriakson dan Sefotaksim dengan persentase penggunaan seperti yang tersaji dalam tabel berikut :
Tabel 4.2 Persentase Penggunaan Antibiotika
Nama Antibiotika N (%)
Seftriakson 100 (76,9%)
Sefotaksim 30 (23,1%)
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jenis antibiotika yang paling banyak digunakan untuk penatalaksanaan demam tifoid anak di RSUD Tangerang adalah seftriakson yang digunakan oleh 100 pasien (76,9%) sedangkan sefotaksim digunakan oleh 30 pasien (23,1%). Data seperti di atas dapat dilihat pula dalam bagan berikut :
Gambar 4.8 Jenis Antibiotika Yang Digunakan Untuk Pasien Demam Tifoid Anak
Digunakannya Seftriakson sebagai pilihan utama terapi antibiotika untuk pasien anak dengan diagnosis demam tifoid yang dirawat inap di RSUD Tangerang dikarenakan Seftriakson memiliki beberapa keunggulan diantaranya angka resistensi terhadap Seftriakson yang rendah, efek samping lebih rendah,
100 30 0 20 40 60 80 100 120 Seftriakson Sefotaksim
Jenis Antibiotika
Jenis Antibiotikademam turun lebih cepat yaitu turun pada hari ke 4 begitu juga hasil kultur akan menjadi negatif pada hari ke 4 sehingga durasi terapi lebih pendek, pemberian Seftriakson untuk anak dinyatakan aman dengan dosis 50-100 mg/kgBB/hari. Harga Seftriakson memang lebih mahal jika dibandingkan dengan harga antibiotik lainnya yang diindikasikan untuk terapi demam tifoid seperti misalnya Kloramfenikol namun karena durasi terapi yang lebih singkat jadi biaya terapi demam tifoid dengan menggunakan Seftriakson lebih rendah.16
Penelitian yang dilakukan pada pasien demam tifoid anak di RSUP Fatmawati menunjukan bahwa Kloramfenikol masih menjadi antibiotika yang paling banyak dijadikan pilihan terapi oleh para dokter. Dari 185 peresepan, Kloramfenikol diresepkan sebanyak 97 resep (53,55%). Hal tersebut karena meskipun angka MDRST terhadap kloramfenikol dan risiko terjadinya relaps
tinggi tetapi efektivitas terapi kloramfenikol masih baik ditunjang pula dengan harganya yang murah. Dari penelitian tersebut juga terlihat bahwa penggunaan Seftriakson juga tergolong tinggi yaitu sebanyak 49 resep (26,92%). Hal tersebut karena Seftriakson merupakan antibiotik yang memiliki efektivitas tinggi untuk terapi demam tifoid, bekerja selektif dengan menghancurkan struktur kuman tanpa mengganggu sel tubuh manusia, kemampuan penetrasi pada jaringan yang baik, serta angka resistensinya yang rendah.20
Tabel 4.3 Tingkat Rasionalitas Pemberian Antibiotika
Kategori N (%) Kategori V Kategori IIIB 23 (17,7%) 44 (33,8%) Kategori IIa Kategori IIb Kategori I 18 (13,8%) 12 (9,2%) 33 (25,4%)
Penilaian tingkat rasionalitas pemberian antibiotika untuk pasien demam tifoid anak pada penelitian ini menggunakan alogaritma Gyssen dengan memperhatikan beberapa komponen yang terdiri dari indikasi terapi, karakteristik antibiotika (efikasi, keamanan penggunaan, harga, serta spektrum), dosis, interval, serta waktu pemberian.6
Setelah melewati proses penilaian dengan menggunakan alogaritma Gyssen didapatkan hasil berupa penggunaan antibiotika untuk pasien demam tifoid anak yang dirawat inap di RSUD Tangerang sebanyak 44 peresepan (33,8%) yang merupakan jumlah tertinggi termasuk kedalam kategori IIIb. Durasi pemberian antibiotik dikatakan terlalu pendek karena pemberian Seftriakson dan Sefotaksim sebagai pilihan antibiotika yang digunakan para dokter di RSUD Tangerang seharusnya minimal 5 hari ketika hasil kultur bakteri menjadi negatif pada hari keempat pemberian antibiotika.9 Jumlah terbanyak kedua yaitu sebanyak 33 peresepan (25,4%) termasuk ke dalam kategori I, artinya peresepan antibiotika memenuhi kriteria rasional yaitu antibiotika diberikan dengan indikasi yang jelas, pilihan antibiotika tepat sesuai dengan kebutuhan pasien (dinilai dari segi efikasi, keamanan, kesesuaian, serta biaya yang dibutuhkan untuk terapi), serta dosis, interval, durasi, dan rute pemberian tepat. Jumlah terbanyak ketiga yaitu sebanya 23 peresepan (17,7%) termasuk kategori V yang merupakan pertimbangan paling tidak rasional dalam pemberian terapi antibiotika karena tidak didasari oleh indikasi yang jelas dalam artian tidak ada keterangan penunjang yang menunjukan bahwa pasien tersebut terkena infeksi bakteri (dalam hal ini Salmonella typhi) dan membutuhkan terapi antibiotika dan pemberian antibiotika harus segera dihentikan.6 Sebanyak 18 peresepan (13,8%) termasuk kategori IIa yaitu dosis yang diberikan tidak tepat baik melampaui dosis maksimal maupun kurang dari dosis minimal. Dosis Seftriakson yang seharusnya diberikan adalah 50-100 mg/kgBB/hari dan untuk Sefotaksim adalah 50-200 mg/kgBB/hari.22 Sisanya sebanyak 12 peresepan ( 9,2%) termasuk kedalam kategori IIb artinya interval pemberian antibiotika tidak tepat dan ini terjadi pada pemberian Sefotaksim yang seharunya diberikan 4-6 dosis dalam sehari kebanyakan hanya diberikan 2-3 dosis dalam sehari.22 Hasil seperti di atas tergambar dalam diagram berikut :
Gambar 4.9 Tingkat Rasionalitas Pemberian Antibiotika Untuk Pasien Demam Tifoid Anak
Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa penggunaan antibiotika secara tidak rasional masih mendominasi dalam peresepan antibiotika untuk pasien demam tifoid anak di RSUD Tangerang. Terlihat perbedaan hasil dari evaluasi rasionalitas pemberian antibiotika untuk pasien demam tifoid yang dilakukan di RSUD Tangerang dengan yang dilakukan di RSUP DR. Kariadi Semarang. Hasil evaluasi di RSUD Tangerang menunjukan peresepan antibiotika untuk pasien demam tifoid anak didominasi oleh kategori IIIb yaitu durasi terapi yang terlalu singkat sebanyak 44 peresepan (33,8%), sedangkan di RSUP DR. Kariadi Semarang yang mendominasi adalah kategori IVc yaitu ada alternatif antibiotika yang memiliki harga lebih murah dari antibiotik pilihan terapi sebanyak 92 peresepan.9 Di RSUD Tangerang peresepan yang memenuhi syarat rasional atau yang termasuk kategori I ada sebanyak 33 peresepan (25,4%) resep dari total 130 peresepan, sedangkan di RSUP DR. Kariadi Semarang hanya 11 peresepan saja dari total 137 peresepan yang termasuk kedalam kategori peresepan antibiotik rasional atau kategori I,9 Dapat disimpulkan bahwa pemberian antibiotik untuk pasien demam tifoid di RSUD Tangerang lebih baik dibandingkan dengan pemberian antibiotik di RSUP DR. Kariadi Semarang.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut diantaranya adalah kurangnya kepatuhan dokter terhadap pedoman penggunaan antibiotika, serta ketidak mampuan pasien terkait masalah biaya sehingga mengharuskan terputusnya penggunaan lebih awal ketika target terapi belum tercapai. Kesadaran dokter akan pentingnya rasionalitas dalam peresepan antibiotika harus
23 44 18 12 33 0 10 20 30 40 50 Kategori V Kategori IIIB Kategori IIa Kategori Iib Kategori I
Tingakat Rasionalitas Pemberian
Antibiotika
Tingakat Rasionalitas Pemberian Antibiotika
ditingkatkan karena pemberian antibiotika yang tidak rasional dapat menyebabkan AMR atau antimicrobial resistance 6,23 khususnya dalam hal ini untuk demam tifoid bisa menyebabkan MDRST atau Multidrugs Resistance Salmonella typhi
yang sudah terjadi pada obat lini pertama untuk terapi demam tifoid yaitu Kloramfenikol, Ampisilin, Trimetoprim dan Sulfametoksazol sedang menjadi permasalahan global saat ini.24 Pemberian antibiotika yang tepat dan rasional juga memberikan manfaat yang besar bagi pasien. Pasien diuntungkan karena terapi yang diberikan akan mencapai hasil yang maksimal dengan risiko terjadinya efek samping yang rendah, penyembuhan berlangsung cepat, dan biaya pengobatan menjadi lebih rendah.