• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

3.4. Pengolahan dan Analisis Data 1 Uji Validitas Kuesioner 1 Uji Validitas Kuesioner

3.4.4 Analisis PLS

Keterangan:

RS = Rentang skala atau rentang kriteria M = Jumlah alternatif jawaban tiap item n = Jumlah responden

Seperti terlihat pada Tabel 1, responden-responden yang memiliki skor nilai yang sama untuk setiap item pertanyaan dikelompokkan berdasarkan kategori jawaban 1-5, lalu dihitung jumlah dan rataannya. Kesimpulan tiap indikator diambil berdasarkan rataan skor dari setiap jawaban responden yang telah dihitung.

Tabel 1. Skala rataan skor

Skala Pernyataan Jawaban Interpretasi Hasil 1,00-1,80 Sangat tidak setuju Sangat tidak baik/efektif 1,81-2,60 Tidak setuju Tidak baik/efektif 2,61-3,40 Netral Kurang baik/kurang efektif

3,41-4,20 Setuju Baik/efektif

4,21-5,00 Sangat setuju Sangat baik/efektif

3.4.4 Analisis PLS

Menurut Ghozali (2008), PLS merupakan pendekatan alternatif yang bergeser dari pendekatan Structur Equation Modelling (SEM) berbasis kovarian menjadi berbasis varian. Dinyatakan oleh Wold dalam Ghozali (2008), metode ini merupakan metode yang sangat kuat, karena tidak didasarkan oleh banyak asumsi, data tidak harus terdistribusi dengan normal multivariat dan untuk bahan sampel tidak harus besar. Tujuan dari PLS adalah memprediksi suatu model dan mengkonfirmasi teori yang telah ada, tetapi bisa juga digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antar peubah atau variabel laten. Pengolahan analisis PLS dalam penelitian ini menggunakan bantuan software SmartPLS 2.0. Model PLS pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.

Berdasarkan Gambar 4, diketahui peubah-peubah yang mencerminkan efektifitas pelatihan terdiri dari 4 (empat) level, yaitu level reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil. Peubah-peubah ini bersifat reflektif.

Artinya penilaian terhadap reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil

24

mencerminkan efektivitas pelatihan. Peubah konstruk dan peubah indikator yang mencerminkan efektivitas pelatihan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Peubah-peubah reflektif yang mencerminkan efektivitas pelatihan

Konstruk Indikator Keterangan

Reaksi (X1)

R1 Materi sesuai dengan tujuan pelatihan R2 Materi sesuai dengan bidang studi yang diajar R3 Instruktur/pengajar menguasai materi pelatihan R4 Instruktur mampu mengkomunikasikan materi

dengan baik

R5 Instruktur melibatkan diskusi/partisipasi aktif R6 Pemberian tugas/latihan pada peserta pelatihan R7 Kondisi waktu pelatihan tidak mengganggu

pekerjaan

R8 Ketepatan waktu pelaksanaan pelatihan R9 Efektivitas alokasi waktu pelatihan

R10 Kepuasan terhadap ukuran tempat/ruangan pelatihan R11 Kepuasan terhadap alat peraga/media presentasi R12 Kepuasan terhadap modul/handout pelatihan R13 Kepuasan terhadap konsumsi yang diberikan.

Pembelajaran (X2)

PEM 1 Memahami materi pengajaran untuk 2 bulan mendatang

PEM 2 Mengetahui metode pengajaran efektif PEM 3 Mengetahui metode pengajaran kreatif PEM 4 Menemukan solusi permasahan mengajar

Perilaku (X3)

PER 1 Mampu mengimplementasi materi pelatihan PER 2 Termotivasi untuk mengajar dengan baik

PER 3 Berusaha memberikan kontribusi ilmu yang bermanfaat

Hasil (X4)

HAS 1 Meningkatkan produktivitas mengajar HAS 2 Meningkatkan kreativitas mengajar HAS 3 Meningkatkan mutu pengajaran

Peubah-peubah yang mencerminkan tingkat kompetensi setelah dipengaruhi oleh pelatihan terdiri dari knowledge, skill, self concept, trait dan motive. Peubah-peubah ini bersifat reflektif. Artinya penilaian terhadap knowledge, skill, self concept, trait dan motive mencerminkan tingkat kompetensi pengajar setelah mengikuti pelatihan. Peubah konstruk dan peubah indikator yang mencerminkan kompetensi pengajar dapat dilihat pada Tabel 3.

Gambar 4. Model PLS

26

Tabel 3. Peubah-peubah reflektif yang mencerminkan kompetensi pengajar

Konstruk Indikator Keterangan

Knowledge (Y1)

KNO 1 Semakin memahami materi pengajaran yang akan diberikan kepada siswa

KNO 2 Semakin mengetahui metode pengajaran yang efektif KNO 3 Semakin mengetahui cara menyampaikan materi kepada

siswa

Skill (Y2)

SKL 1 Mampu berkomunikasi dengan baik dengan para siswa SKL 2 Mampu memotivasi siswa untuk belajar

SKL 3 Mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa SKL 4 Mampu membantu kesulitan siswa dalam memahami

materi yang diajarkan

Self Concept (Y3)

SEL 1 Semakin percaya diri dalam mengajar

SEL 2 Semakin memerhatikan kesiapan mengajar agar dapat mengajar dengan baik

SEL 3 Selalu mengevaluasi proses belajar agar dapat lebih berkembang

Trait (Y4)

TRA 1 Dapat mengontrol emosi ketika mengajar

TRA 2 Menjadi lebih perhatian kepada siswa dalam mengajar TRA 3 Dapat lebih disiplin dalam mengajar

Motive (Y5)

MOT 1 Terdorong untuk membimbing siswa dalam mengajar MOT 2 Semakin bersemangat untuk mengajar

MOT 3 Semakin berinsiatif untuk mengembangkan metode pengajaran

Pada metode PLS dikenal 2 (dua) evaluasi model. Pertama model pengukuran atau outer model. Outer model adalah model pengukuran hubungan antara indikator dengan konstruk. Dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas dari masing-masing indikator. Pada model reflektif, kriteria validitas dan reliabilitas indikator diukur dengan convergent validity, discriminant validity dan composite reliability. Indikator dikatakan valid, jika memiliki nilai loading di atas 0,7. Namun untuk penelitian tahap awal dari pengembangan skala pengukuran, nilai loading 0,5 sampai 0,6 dianggap cukup. Convergent validity dapat pula ditunjukkan oleh nilai Average Variance Extracted (AVE). Syarat untuk menjadi model yang baik adalah nilai AVE masing-masing konstruk lebih besar dari 0,50. Selain convergent validity , dilakukan juga pengujian discriminant validity.

Discriminant validity dinilai berdasarkan cross loading antara indikator terhadap konstruk. Nilai korelasi indikator terhadap konstruknya harus lebih besar dibandingkan nilai korelasi antara indikator dengan konstruk lainnya. Sementara reliabilitas konstruk diukur dengan composite

reliability dan Cronbach Alpha. Konstruk dikatakan reliabel jika memiliki nilai composite reliability dan Cronbach Alpha di atas 0,70 (Ghozali, 2008).

Sementara untuk pengujian validitas model formatif dilakukan dengan melihat koefisien regresi dan signifikansi dari koefisien tersebut. Pada dasarnya konstruk formatif merupakan hubungan regresi dari indikator ke konstruk.

Kedua, model struktural atau inner model. Inner model menggambarkan hubungan antara peubah, atau variabel laten berdasarkan pada teori substantif. Model struktural dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen dan Uji-t untuk menentukan nyatanya koefisien parameter jalur struktural. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai pengaruh peubah laten independen tertentu terhadap peubah laten dependen, apakah mempunyai pengaruh substantif.

Dokumen terkait