• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

3.3 Model Analisis

3.3.4 Analisis Peningkatan Pendapatan Petani

Analisis peningkatan pendapatan petani dilakukan dengan menghitung selisih antara pendapatan sebelum adanya pengembangan usaha pengolahan komoditi kelapa (penjualan kelapa butiran) dengan pendapatan setelah adanya pengembangan usaha yang terdiri dari penjualan bagian-bagian kelapa sebagai bahan baku industri dan pendapatan bagian SHU anggota koperasi.

A. Perhitungan Peningkatan Pendapatan Petani:

... (7)

dimana:

g = Peningkatan pendapatan petani 0 = Pendapatan penjualan kelapa butir

1 = Pendapatan setelah ada pengembangan industri pengolahan kelapa a = Pendapatan penjualan bagian-bagian kelapa sebagai bahan baku b = Pendapatan Bagian SHU Sebagai anggota koperasi

B. Perhitungan Pembagian SHU Koperasi:

Menurut UU No. 25/1992 pasal 5 ayat 1 mengatakan bahwa “Pembagian SHU kepada anggota dilakukan tidak semata-mata berdasarkan modal yang dimiliki seseorang dalam koperasi, tetapi juga berdasarkan perimbangan jasa usaha anggota terhadap koperasi. Ketentuan ini merupakan perwujudan kekeluargaan dan keadilan”. Besarnya proporsi pembagian SHU didasarkan pada kesepakatan anggota yang tertuang dalam AD/ART koperasi. Dalam kajian ini diasumsikan besarnya proporsi SHU untuk dana cadangan koperasi 25 persen, jasa anggota 60 persen, dana pengurus dan karyawan 5 persen, dana pendidikan 5 persen, dana pembangunan lingkungan 5 persen (Limbong 2010).

1. SHU dari transaksi.

Jumlah transaksi anggota yang bersangkutan dibagi jumlah transaksi semua anggota. Kemudian hasilnya dikalikan dengan perkalian antara SHU koperasi

dengan persentase SHU bagian anggota dan persentase bagian transaksi. Atau dalam rumus matematikanya menjadi:

SHU anggota = ... (8) Dimana :

t = jumlah transaksi anggota yang bersangkutan T = Jumlah transaki semua anggota koperasi

a = [(SHU koperasi x % SHU yang dibagikan ke anggota) x % SHU bagian transaski].

2. SHU dari partisipasi modal.

Besarnya SHU anggota dari partisipasi modal yang ditanamkan pada koperasi dihitung dengan cara sebagai berikut:

SHU anggota = ... (9) (dari partisipasi modal)

Dimana :

m = Jumlah modal anggota (simpanan pokok & wajib) yang bersangkutan M = jumlah modal (simpanan pokok& wajib) semua anggota koperasi

b = [(SHU koperasi x % SHU yang dibagikan ke anggota) X % SHU bagian partisipasi modal].

IV. GAMBARAN UMUM

4.1Kondisi Geografis dan Persebaran Tanaman Perkebunan Unggulan Provinsi Jambi

Provinsi Jambi secara geografis terletak antara 00 45’ sampai 2045’ lintang

selatan dan antara 101010’ sampai 104055’ bujur timur. Sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, sebelah timur dengan Laut Cina Selatan, sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat dan Bengkulu. Sebagian besar wilayahnya (67.21%) merupakan daratan rendah dengan ketinggian < 100 meter di atas permukaan laut (dpl). Wilayah dataran tinggi dan pegunungan umumnya merupakan bagian dari Bukit Barisan. Luas wilayah Provinsi Jambi mencapai 50.160.05 Km2.

Gambar 3 Luas Daerah Menurut Kabupaten/Kota Sumber: BPS Jambi 2010

Wilayah Provinsi Jambi merupakan daerah aliran sungai Batanghari dan memiliki kawasan hutan yang sangat luas mencapai 2,5 hektar. Pertanian (khususnya perkebunan) merupakan mata pencaharian utama penduduk. Hal ini

Kerinci 3.355,27 6,69% Merangin 7.679 15,31% Sarolangun 6.184 12,33% Batanghari 5.804 11,57% Muaro Jambi 5.326 10,62% Tanjabtim 5.445 10,86% Tanjabbar 4.649,85 9,27% Tebo 6.461 12,88% Bungo 4.659 9,29% Jambi 205,43 0,41% Sungai Penuh 391,5 0,78%

didukung dengan kondisi geografis yang menjadikan sektor perkebunan berkembang dengan pesat di Provinsi Jambi. Dari berbagai komoditas perkebunan yang ada, sebagian besarnya merupakan perkebunan karet dan kelapa sawit yang penyebarannya hampir di seluruh wilayah kabupaten terkecuali di kabupaten Kerinci. Hal ini disebabkan karena kondisi geografis Kabupaten Kerinci yang ketinggian wilayahnya mencapai 938 meter dpl (daerah pegunugan) menjadikan komoditas karet dan kelapa sawit kurang berkembang di daerah tersebut. Adapun komoditas perkebunan yang menjadi unggulan bagi Kabupaten Kerinci adalah Cassiavera. Sementara pada daerah pesisir, yaitu Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, kelapa merupakan komoditas perkebunan utama bagi kabupaten ini. Persebaran perkebunan tersebut sebagaimana dijelaskan pada tabel grafik berikut ini:

Gambar 4 Persebaran Luas Komoditas Perkebunan Unggulan Provinsi Jambi. Sumber: Disbun Provinsi Jambi 2009

4.2Perkembangan Komoditi Perkebunan Unggulan Provinsi Jambi

Seiring dengan meningkatnya permintaan penggunaan komoditi perkebunan sebagai bahan baku industri, sektor perkebunan mendapat perhatian yang cukup besar dalam pengembangannya, baik yang dilakukan oleh masyarakat, swasta maupun pemerintah melalui BUMD. Berdasarkan tabel 6, komoditi perkebunan unggulan Jambi yang mengalami perkembangan cukup pesat dari tahun 2000 hingga tahun 2008 adalah komoditi pinang, yaitu sebesar 945,27 persen, kelapa

0 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 120.000 140.000 L u a s (h a ) Karet Kelapa Sawit Kelapa Dalam Kopi Pinang Cassiavera

sawit sebesar 63,55 dan karet sebesar 15,46 persen. Sedangkan komoditi yang mengalami penurunan adalah cassiavera sebesar 22,28 persen, kopi sebesar 15,27 persen dan kelapa dalam sebesar 7,05 persen.

Tabel 6 Perkembangan Luas Perkebunan Unggulan Provinsi Jambi Tahun 2000-2008 Tahun Karet (Ha) Sawit (Ha) Kelapa (Ha) Kopi (Ha) Pinag (Ha) Casiavera (Ha) 2000 558.570 296.010 128.055 28.755 1.882 60.776 2001 558.633 301.879 128.079 28.594 5.367 61.769 2002 561.162 302.152 128.079 28.532 5.420 62.128 2003 563.502 326.889 122.086 28.400 9.905 59.845 2004 567.042 365.304 122.178 24.372 6.447 54.630 2005 622.192 403.467 119.899 24.638 9.980 50.402 2006 630.211 422.888 119.292 24.458 10.178 49.106 2007 636.907 448.899 119.231 24.217 12.207 47.620 2008 644.943 484.137 119.030 24.365 19.672 47.237 Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Jambi 2009

Beberapa komoditi perkebunan yang pertumbuhannya negatif pada umumya merupakan perkebunan yang diupayakan oleh masyarakat. Rendahnya investasi baik ditingkat usahatani maupun industri pengolahan hasil menjadi faktor kurang berkembangnya komoditi tersebut. Perkebunan kelapa dalam yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur dari tahun ketahun mengalami penurunan, baik dari sisi luas tanaman maupun produksi. Namun disisi lain, pada daerah tersebut pinang mengalami peningkatan yang cukup besar.

4.3Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Ekonomi Provinsi Jambi

Pertanian merupakan sektor terbesar penyerapannya terhadap tenaga kerja di Provinsi Jambi. Sekitar 58 persen dari jumlah penduduk yang berusia 15 tahun bekerja pada sektor ini. Sektor perdagangan hanya mampu menyerap 15 persen, jasa Dengan demikian keberhasilan pembangunan Provinsi Jambi sangat ditentukan oleh berkembang atau tidaknya sektor pertanian tersebut. Dari sektor pertanian tersebut, peyerapan tenaga kerja terbesar terdapat pada sektor perkebunan. Besarnya penyerapan tenaga kerja sektor perkebunan ini ditentukan oleh komoditi unggulan daerah tersebut. Untuk selengkapnya penyerapan tenaga kerja tersebut dijelaskan pada diagram berikut ini:

Gambar 5 Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Ekonomi Provinsi Jambi Tahun 2009 Sumber: BPS Provinsi Jambi 2010

Berdasarkan tabel 7, komoditi karet dan kelapa sawit merupakan sektor perkebunan yang penyerapan terhadap tenaga kerja terbesar di Provinsi Jambi, hampir disemua kabupaten komoditi ini menjadi menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat, namun pada daerah tertentu seperti Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Kerinci, penyerapannya tidak terlalu besar. Pada kabupaten Tanjung Jabung Timur, penyerapan tenaga kerja terbesar terdapat pada komoditi kelapa dalam. Kabupaten Kerinci, komoditi yang menyerap tenaga kerja terbesar adalah Casiavera. Sementara Kabupaten Tanjung Jabung Barat, selain kelapa sawit, kelapa dalam merupakan komoditi yang menyerap tenaga kerja terbesar di daerah tersebut.

Tabel 7 Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Perkebunan Jambi

No Kabupaten Karet (KK) Kelapa Sawit (KK) Kelapa Dalam(KK) Kopi (KK) Pinang (KK) Cassiavera (KK) 1 Batanghari 38.571 15.865 2.185 782 223 0 2 Muaro Jambi 14.866 40.792 6.144 610 1.846 0 3 Bungo 44.746 15.697 13.423 321 2.391 473 4 Tebo 52.695 11.797 1.504 1.056 369 0 5 Merangin 54.135 44.000 14.169 9.442 3.344 4.392 6 Sarolangun 29.575 5.849 16.046 370 4.461 941 7 Tanjabbarat 5.898 25.653 19.842 1.801 7.430 0 8 Tanjabtim 4.686 8.365 23.260 5.346 14.374 0 9 Kerinci 1.208 34 1.367 7.950 1.236 13.172 Jumlah 246.380 168.052 97.940 27.678 35.674 18.978

Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Jambi 2009

Pertanian 58% Industri 4% Bangunan 3% Perdagangan 15% Angkutan 6% Keuangan 1% Jasa-jasa 11% Lainnya 2%

4.4Kontribusi Perkebunan terhadap PDRB Provinsi Jambi

Selain sebagai sektor yang banyak menyerap tenaga kerja, perkebunan juga memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan daerah. Pada tahun 2009 kontribusi pendapatan sektor perkebunan terhadap total pendapatan pertanian sebesar 46,09 persen dan terhadap PDRB sebesar 12,21 persen sebagaimana dijelaskan pada tabel berikut ini:

Tabel 8 Kontribusi Sektor Perkebunan Terhadap PDRB

No Sub Sektor Tahun

2007 2008 2009

1 Tanaman Bahan Makanan 2.907.933 3.284.155 3.913.687 2 Tanaman Perkebunan 3.925.311 4.281.326 5.228.643 3 Peternakan dan hasil-hasilnya 461.420 538.322 628.556

4 Perikanan 345.045 531.167 933.820

5 Kehutanan 727.149 810.602 645.700

Jumlah Sektor Pertanian 8.366.858 9.445.572 11.350.407 Jumlah PDRB Thd Provinsi 32.076.677 39.665.345 42.815.923 Kontribusi Terhadap Pertanian (%) 46,91 45,33 46,07

Kontribusi Terhadap PDRB (%) 12,24 10,79 12,21

Sumber: BPS Provinsi Jambi 2010

4.5Daerah Pengembangan Perkebunan Kelapa di Provinsi Jambi

Kelapa merupakan salah satu komoditi unggulan yang banyak berkembang di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan tanjung Jabung Timur. Kedua daerah ini memiliki kesamaan geografis yang mendukung berkembannya perkebunan kelapa dengan baik. Luas wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah 5.009,82 Km2, wilayah bagian barat berbatasan dengan Propinsi Riau, Selatan: Kabupaten Batanghar, Barat: Kabupaten Batanghari dan Kabupaten Tebo, Timur: Selat Berhala dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Namun tidak semua wilayah tersebut dapat dijadikan sebagai areal pengembangan perkebunan kelapa, karena pada ketinggian > 450 dpl, perkebunan kelapa menjadi kurang produktif. Pada wilayah dengan ketinggian > 450 dpl, pada umumnya dimanfaatkan sebagai kawasan pengembangan perkebunan karet maupun kelapa sawit, seperti pada Kecamatan Tungkal Ulu, Merlung, Tebing Tinggi, Batang Asam, Renah Mendalu, dan Muara Bapalik.

Berdasarkan tabel 9, wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang menjadi kawasan pengembangan perkebunan kelapa adalah Kecamatan

Pengabuan, Senyerang, Tungkal Ilir, Bram Itam, Seberang Kota, Betara dan Kuala Betara yang sebagian besar datarannya berada di bawah 450 m dpl. Meskipun demikian, beberapa daerah yang bukan merupakan tanah gambut sudah banyak yang dipergunakan sebagai perkebunan kelapa sawit.

Tabel 9 Luas Tanah Menurut Ketinggian dan Kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat

No Kecamatan Ketinggian dari Permukaan Laut

0-25 m (Ha) 25-500 m (Ha) >500 m (Ha)

1 Tungkal Ulu - 34.569,4 - 2 Merlung - 24.348,7 - 3 Batang Asam - 99.366,8 4.870,0 4 Tebing Tinggi - 34.288,9 - 5 Renah Mendaluh - 43.651,4 7.040,0 6 Muara Papalik - 36.865,7 - 7 Pengabuan 44.013,2 - - 8 Senyerang 42.663,3 - - 9 Tungkal Ilir 10.031,0 - - 10 Bram Itam 30.022,4 - - 11 Seberang Kota 12.128,5 - - 12 Betara 55.976,5 - - 13 Kuala Betara 18.589,5 - - Jumlah 213.424,4 273.090,9 11.910,0

Sumber: BPS Kabupaten Tanjung Jabung Barat 2010

Berdasarkan kondisi geografi wilayah, Kabupaten Tanjung Jabung Barat merupakan salah satu daerah yang dijadikan sebagai sentra pengembangan usahatani kelapa di Provinsi Jambi. Sebagaimana terlihat pada tabel 10, luas perkebunan kelapa Kabupaten Tanjung Jabung Barat mencapai 53.484 hektar. Dari luas perkebunan kelapa tersebut, 7,96 persennya merupakan tanaman belum menghasilan, 70,99 persen tanaman menghasilkan dan 21,05 persennya merupakan tanaman tidak produktif dengan tingkat produktivitas kopra pertahun sebanyak 1.447 kg yang dikelolah oleh 19.842 petani (Disbun Jambi 2010). Perseberan perkebunan kelapa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat terkosentrasi di tujuh daerah, yaitu Kecamatan Tungkal Ilir, Sebrang Kota, Bram Itam, Betara, Kuala Betara, Pengabuan, dan Senyerang.

Kelapa merupakan tanaman perkebunan utama bagi masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang telah dikembangkan secara turun temurun. Seiring dengan menurunnya produktivitas kelapa dan semakin tinggi persaingan komoditi

minyak sebagai produk olahan utamanya, pola usahatani kelapa mengalami perubahan yang cukup besar. Pengembangan usahatani kelapa tidak lagi dilakukan secara monokultur, tetapi telah banyak dikembangkan secara polikultur, yaitu dengan menambah tanaman lain pada sela perkebunan kelapa terutama pinang dan kopi yang memiliki prospek pemasaran cukup besar, bahkan ada diantaranya yang telah menggantinya dengan tanaman kelapa sawit.

Tabel 10 Luas dan Produktivitas Perkebunan Kelapa Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2009

No Kecamatan Luas areal (Ha) Produksi (Ton) Produk-tivitas (kg) Jumlah Petani (KK) TMB TM TTM/TR Jumlah 1 Tungkal Ilir 719 4.035 1.181 5.935 5.380 1.333 1.629 2 Seberang kota 82 3.209 741 4.032 1.813 565 1.895 3 Bram Itam 304 3.870 1.510 5.684 5.206 1.345 2.828 4 Tungkal Ulu 0 3 0 3 5 1.667 17 5 Tebing Tinggi 7 64 9 80 96 1.500 44 6 Batang asam 2 4 0 6 6 1.500 24 7 Merlung 0 0 0 0 0 0 0 8 Renah mendaluh 0 0 0 0 0 0 0 9 Muara Papalik 0 0 0 0 0 0 0 10 Betara 150 2.434 1.655 4.239 3.894 1.600 2.211 11 Kuala Betara 317 6.578 2.556 9.451 10.525 1.600 3.507 12 Pengabuan 1.804 9.606 1.691 13.101 14.721 1.532 3.894 13 Senyerang 870 8.166 1.917 10.953 13.296 1.628 3.793 Jumlah 4.255 37.969 11.260 53.484 54.942 1.447 19.842

Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Jambi 2010

4.6Industri Pengolah Komoditi Kelapa di Provinsi Jambi

Sebagian besar kelapa dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak mentah (CCO) yang diolah oleh industri di daerah sentra perkebunan kelapa, dan sebagian lainnya pengolahan dilakukan di luar daerah. Industri pengolah minyak kelapa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dijalankan oleh perusahaan berskala menengah, sebagaimana disebutkan pada tabel berikut ini:

Tabel 11 Industri Pengolah Produk Turunan Kelapa di Provinsi Jambi

No Nama Perusahaan Produk Olahan Skala Industri Alamat 1. PT. Prima Makmur Abadi Minyak Kelapa Menengah Tanjabbar 2. PT. Sumber Harapan Minyak Kelapa Menengah Tanjabbar 3. PK. Sumber Waras Minyak Kelapa Menengah Tanjabbar 4. CV. Usaha Baru Sabut Kelapa Menengah Tanjabbar

Tepung tempurung

5. PT. Pelita Sari Prima Jadi Minyak Kelapa Menengah Tanjabtim 6. PT. Kurnia Tunggal Nugraha Minyak Kelapa Menengah Muaro Jambi 7. PD. Pelita Minyak Kelapa Menengah Muaro Jambi 8. Industri Rumahtangga Arang Tempurung Kecil Tanjabbar

Hasil olahan minyak kelapa sebagian besar diekspor ke Singapura dan Malaysia untuk diolah lebih lanjut menjadi minyak goreng yang siap dikonsumsi oleh masyarakat melalui pelabuhan Kuala Tungkal. Pengolahan hasil sampingan kelapa, seperti sabut dan tempurung belum banyak dilakukan oleh petani. Pengolah tempurung kelapa pada umumnya dikembangkan oleh petani secara tradisional dan berskala kecil. Sedangkan pengolahan sabut kelapa yang membutuhkan investasi cukup besar, pengolahan dilakukan oleh perusahaan berskala menengah, yaitu CV. Usaha Baru. Disamping mengolah sabut kelapa, CV. Usaha Baru juga mengolah tepung tempurung sebagai bahan baku obat nyamuk. Hasil olahan sabut kelapa dan arang tempurung sebagian besar dijual untuk memenuhi permintaan impor negara Malaysia dan Singapura, sementara tepung tempurung lebih banyak dipergunakan oleh industri domestik.

Tabel 12 Volume Ekspor Industri Komoditas Perkebunan Kelapa Provinsi Jambi Tahun 2000-2008

Tahun Ekspor

Komoditi Hasil Perkebunan Kelapa Minyak Kelapa Kopra Arang Tempurung Kelapa Biji Bungkil Kelapa Serat Kelapa Coconut Fiber RBD CO 2000 Volume (kg) 19.875.000 435.000 424.702 - - - - - Nilai (US$) 6.568.988 143.931 50.802 - - - - - 2001 Volume (kg) 20.155.000 1.784.182 115.000 8.750 - - - - Nilai (US$) 5.054.000 260.208 13.498 4.539 - - - - 2002 Volume (kg) 14.480.000 - 568.045 228.700 - - - - Nilai (US$) 5.256.800 - 30.286 17.040 - - - - 2003 Volume (kg) - - 506.640 321.000 - - - - Nilai (US$) - - 700.823 24.709 - - - - 2004 Volume (kg) - 1.980.260 1.608.150 262.899 - - - - Nilai (US$) - 217.706 156.332 48.327 - - - - 2005 Volume (kg) - - 1.720.000 241.468 - - - - Nilai (US$) - - 126.230 49.869 - - - - 2006 Volume (kg) - - - 1.753.500 - - - - Nilai (US$) - - - 251.301 - - - - 2007 Volume (kg) 50.950.800 1.707.500 4.787.178 350.000 600.000 100.000 21.780 1.200.000 Nilai (US$) 42.699.580 225.510 492.407 30.999 55.650 20.000 7.617 840.000 2008 Volume (kg) 47.220.000 380.000 2.611.000 170.000 - - 47.340 - Nilai (US$) 52.977.141 59.182 248.140 9.520 - - 38.064 - Sumber : BPS Provinsi Jambi 2009

Berdasarkan tabel 12, dari tahun 2000 hingga tahun 2008, ekspor minyak kelapa senantiasa berfluktuasi. Ekspor terbesar terjadi pada tahun 2007 sebanyk 50.950.800 ton. Selain minyak kelapa, produk sampingan kelapa seperti arang tempurung dan serat sabut telah memasuki perdagangan ekspor, namun volumenya masih kecil. Dengan demikian perkembangan industri pengolahan produk turunan kelapa sangat menentukan tingkat ekspor komoditi kelapa.

4.7Lembaga Usaha Milik Petani (LUMP) atau Koperasi di Sentra Perkebunan Kelapa Provinsi Jambi

Koperasi merupakan lembaga ekonomi rakyat yang mampu menguatkan posisinya dalam agribisnis kelapa. Menghadapi tantangan bisnis dewasa ini, menuntut adanya pengolahan usaha berbasis ekonomi kerakyatan yang memposisikan petani tidak hanya sebagai objek melainkan sebagai subjek yang berperan dalam menentukan harga, sehingga petani akan memperoleh kepastian dari usahatani yang dijalankannya. Hal ini dapat terwujud apabila koperasi dapat diperankan sebagaimana fungsinya dan adanya partisipasi anggota secara efektif dalam usaha yang dijalankan oleh koperasi.

Berdasarkan tabel 13, hampir di setiap daerah perkebunan kelapa Kabupaten Tanjung Jabung Barat terdapat badan usaha koperasi. Keberadaan koperasi tersebut merupakan potensi sarana usaha rakyat yang dapat digunakan dalam mengembangkan industri pengolahan produk turunan kelapa. Sebagai lembaga usaha yang diharapkan mampu memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup petani, pemberdayaan koperasi diharapkan tidak hanya pada skala bisnis pasif, yaitu simpan pinjam yang selama ini berkembang di masyarakat. Namun harus lebih diprioritaskan pada skala usaha yang produktif seperti penyediaan bibit unggul, pupuk, obat-obatan, pengolahan hasil produksi maupun pemasaran hasil produksi sehingga memberikan nilai tambah yang menguntungkan bagi petani. Tabel 13 Jumlah Koperasi dan Anggota Menurut Kecamatan di Kabupaten

Tanjung Jabung Barat Tahun 2009

No Kecamatan Koperasi Anggota Jumlah KUD Non KUD KUD Non KUD Koperasi Anggota 1 Tungkal Ulu 1 17 650 29 18 679 2 Merlung 5 7 1.378 205 12 1.583 3 Batang Asam 4 8 2.112 127 12 2.239 4 Tebing Tinggi 6 28 3.693 239 34 3.932 5 Renah Mendaluh 3 13 1.107 78 16 1.185 6 Muara Papalik 3 6 1.048 61 9 1.109 7 Pengabuan 1 8 61 23 9 84 8 Senyerang 4 11 357 105 15 462 9 Tungkal Ilir 1 140 29 23 141 23.029 10 Bram Itam 0 14 0 747 14 747 11 Seberang Kota 0 0 0 0 0 0 12 Betara 1 22 0 37 23 37 13 Kuala Betara 1 12 27 25 13 52 Jumlah 30 286 10.462 1.699 316 35.138

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1Pengembangan Usaha Pengolahan Produk Turunan Kelapa di Sentra Perkebunan Kelapa Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Rendahnya nilai komoditi kelapa di sentra perkebunan kelapa Kabupaten Tanjung Jabung Barat selama ini disebabkan karena pengolahan komoditi tersebut, baik yang dilakukan oleh petani maupun indutri belum maksimal. Meskipun di tingkat industri telah dilakukan pengolahan, namun jumlah dan kapasitasnya masih terbatas. Beberapa produk olahan kelapa yang telah dikembangkan diantaranya adalah minyak kelapa mentah (Crude Coconut Oil), sabut kelapa (Coco Fiber), arang tempurung dan tepung tempurung yang sebagian besar pengolahannya dilakukan oleh perusahaan bersakala menengah dan hanya pengolahan arang tempurung yang pada umumnya dikembangkan oleh petani.

Disisi lain, minyak kelapa sebagai produk utama yang dihasilkan dari buah kelapa, dewasa ini dihadapkan dengan persaingan minyak kelapa sawit yang pertumbuhannya sangat pesat. Hal ini tidak hanya berdampak pada penggunaan minyak kelapa dalam negeri, namun juga pada permintaan ekspor yang jumlahnya terus mengalami penurunan sebagaimana yang terjadi pada tahun 2008, ekspor minyak kelapa Jambi turun hingga 7,32 persen dari tahun sebelumnya (Disperindag Jambi 2009). Kondisi ini menjadi salah satu penyebab betapa sulitnya industri kelapa untuk berkembang, kalau hanya mengandalkan kopra dan minyak kelapa saja. Dengan demikian, secara tidak langsung kondisi ini akan menurunkan nilai kelapa sebagai bahan baku utamanya. Berbeda dengan perkelapaan di negara Philippina, Srilanka, dan India, dimana pengolahan komoditi kelapa lebih dikembangkan pada produk hilirnya, baik produk utamanya (kopra, minyak kelapa, dan kelapa parut kering) maupun hasil samping (sabut tempurung dan air), sehingga menjadikan agribisnis kelapa di negara tersebut tumbuh dengan pesat.

Rendahnya nilai kelapa tersebut mengakibatkan pendapatan petani sebagai pemasok bahan baku industri menjadi rendah, terlebih lagi penjualan kelapa yang dilakukan dalam bentuk butiran. Disamping itu, adanya praktek monopsoni yang dilakukan oleh pengusaha kopra menyulitkan petani untuk memperoleh harga kelapa yang tinggi. Pengolahan kelapa menjadi produk turunannya, disamping

membutuhkan tambahan waktu dan keahlian, biaya investasi yang dibutuhkan cukup besar. Sehingga tidak banyak dari petani yang melakukan pengolahan terhadap hasil usahataninya, terutama pada pengolahan minyak dan sabut kelapa. Meskipun terdapat beberapa petani yang melakukan pengolahan arang tempurung, namun sumberdaya yang digunakan belum efisien sehingga keuntungan yang diperoleh masih rendah.

Petani merupakan pelaku utama dalam agribisnis kelapa yang memiliki peran sangat besar terutama sebagai penyedia bahan baku, tenaga kerja dan pengguna produk/jasa. Meningkatnya pendapatan petani, disamping akan meningkatkan pembentukan modal, juga akan meningkatkan daya beli terhadap barang/jasa yang dihasilkan oleh industri. Dengan demikian, ditingkat usahatani akan mengalami peningkatan produktivitas dan ditingkat industri akan terjadi peningkatan penjualan. Peningkatan pendapatan tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan pengembangan usahatani baik secara horizontal maupun vertikal guna mengefisienkan biaya dan meningkatkan nilai tambah kelapa yang dihasilkan. Untuk itu, fokus pengembangan harus diberikan kepada usahatani maupun industri pengolahan komoditi kelapa yang dijalankan oleh petani.

Untuk menunjang keberhasilan pengembangan usaha pengolahan komoditi tersebut diperlukan kelembagaan usaha, informasi tentang kelayakan industri yang akan dikembangkan baik secara finansial maupun ekonomi, strategi pengembangan, dan implementasi berbagai faktor yang dapat menunjang keberhasilan pengembangan usaha tersebut (Mahmud & Ferry 2005).

5.1.1 Pemberdayaan Koperasi dalam Pengembangan Usaha Pengolahan Produk Turunan Kelapa di Sentra Perkebunan Kelapa Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Pengolahan produk turunan kelapa di Provinsi Jambi pada umumnya dilakukan oleh perusahan bersakala menengah, yaitu pengolah minyak kelapa (CCO) oleh PT. Prima Makmur Abadi, PT. Sumber Harapan, PK. Sumber Waras, PT. Pelita Sari Prima Jadi, PT. Kurnia Tunggal Nugraha, dan PD. Pelita, pengolah sabut kelapa dan tepung tempurung oleh CV. Usaha Baru, sementara pengolahan yang dilakukan oleh petani terbatas pada arang tempurung.

Keberadaan industri tersebut sebagai pengolah hasil usahatani kelapa belum memberikan kontribusi yang nyata terhadap peningkatan pendapatan petani. Harga kelapa perbutir yang diterima petani hanya berkisar antara Rp 1.250-1.750 (BPS Jambi 2009). Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah kelapa adalah dengan melakukan pengolahan produk turunan kelapa, seperti minyak goreng, sabut kelapa, arang tempurung dan nata de coco (Mahmud dan Ferry 2005). Namun usaha tersebut membutuhkan biaya investasi dan ketersediaan bahan baku yang cukup besar, sehingga dibutuhkan lembaga usaha yang dapat memfasilitasi petani dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk itu, bentuk usaha yang akan dikembangkan harus didasarkan pada ekonomi kerakyatan, yaitu suatu badan usaha yang dijalankan oleh dan untuk rakyat yang dalam hal ini adalah koperasi. Dengan demikian usaha yang dijalankan akan efektif dan efisien serta menguntungkan bagi petani.

Pengolahan produk turunan kelapa melalui koperasi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki prospek untuk dikembangkan karena hampir di setiap sentra perkebunan kelapa terdapat lembaga tersebut. Pemberdayaan koperasi sebagai lembaga usaha petani akan menguatkan posisinya sebagai pelaku usaha karena ditopang dengan kerjasama anggota baik dalam pembiayaan usaha, penyediaan bahan baku maupun pemasaran hasil produksi. Dengan pemberdayaan koperasi tersebut, selain akan meningkatkan nilai tambah kelapa juga akan meningkatkan pendapatan petani melalui bagian SHU yang diperoleh berdasarkan partisipasinya terhadap usaha yang dijalankan oleh koperasi.

1. Pembiayaan Modal Usaha

Pembiayaan usaha koperasi dilakukan oleh anggota melalui simpanan pokok yang dibayar pada saat menjadi anggota koperasi dan simpanan wajib yang dibayar setiap bulan. Besarnya pembentukan modal melalui simpanan anggota didasarkan pada hasil rapat anggota yang termuat dalam AD/ART koperasi. Selain simpanan anggota, modal koperasi dapat diperoleh dari pinjaman bank yang kebutuhannya disesuaikan dengan prioritas usaha. Disamping itu sebagai ekonomi rakyat yang berperan efektif dalam menunjang pembangunan daerah, koperasi memiliki hak pembinaan dari pemerintah baik pengolahan usaha, pemasaran hasil produksi maupun permodalan.

Keterangan: Alur Transaksi --- Pendapatan Usahatani

Gambar 6 Hubungan antara Anggota (Petani) dengan Badan Usaha Koperasi sebagai Pengolah Produk Turunan Kelapa.

2. Penyedia Bahan Baku dan Pengguna Hasil Produksi

Disamping sebagai sumber permodalan bagi koperasi, keberadaan anggota akan menjaga eksistensi ketersediaan bahan baku dan pemasaran hasil produksi sehingga menjamin keberlangsungan usaha. Harga pembelian/penjualan ditentukan berdasarkan tujuan usaha yang dijalankan, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan anggota sehingga harga yang berlaku tetap menguntungkan bagi petani, baik secara langsung melalui potongan harga/penambahan harga maupun tidak langsung dengan memperoleh bagian SHU dari partisipasinya terhadap usaha koperasi. Dengan demikian, keberadaan koperasi akan menjamin stabilitas harga yang menguntungkan. Pola usaha seperti ini diharapkan mampu memperbaiki dan menguatkan perekonomian petani kelapa di Provinsi Jambi.

PETANI

Sumber Bahan Baku

Sumber Modal

Kopra Sabut Tempurung Simp. Pokok Simp. Wajib

KOPERASI Industri Minyak Goreng Industri Sabut Kelapa Industri Arang Tempurung

Dokumen terkait