3. PENOKOHAN SIE PO GIOK
3.3 Analisis Penokohan Antagonis
Menurut Sudjiman, ―Tokoh yang merupakan penentang utama dari protagonis disebut antagonis atau tokoh lawan‖ (1988:19). Umumnya, pertentangan antara protagonis dan antagonis jelas sekali. Tokoh antagonis mewakili pihak yang jahat atau yang salah. Kim Tjiang dan Po Houw adalah tokoh antagonis karena kedua tokoh ini menjadi lawan atau musuh Sie Po Giok di dalam cerita ini. Keterlibatan mereka dan interaksi terhadap tokoh utama memperlihatkan berbagai watak dan sifat mereka di dalam cerita ini.
Kedua tokoh ini sangat jahat karena selalu berusaha dengan segala cara untuk membuat hidup Sie Po Giok menderita. Kedua tokoh ini sangat tidak patut dicontoh karena sikap hidup mereka yang tidak terpuji. Apalagi sosok Po Houw merupakan sepupu kandung Sie Po Giok.
3.3.1 Ho Kim Tjiang
Tokoh Ho Kim Tjiang di dalam cerita ini adalah seorang remaja berumur 17 berbadan besar merupakan tukang kebun Sie Thian Bie. Sangat disayangkan Kim Tjiang membalas kepercayaan Thian Bie yang memberikannya pekerjaan dengan mencuri buah dari kebun Thian Bie. Alasan ekonomi keluarga yang kurang mampu menjadi satu-satunya alasan atas perbuatannya tercela ini secara berulang-ulang. Berikut merupakan kutipan tentang gambaran tokoh Ho Kim Tjiang;
―Itu bangsat ada Ho Kim Tjiang, satu anak yang baru berusia 17 taon da nada berbadan besar serta bertenaga kuat. Ia ini ada tinggal di satu ruma ketcil di kampung Jagal, Senen, bersama iapunya ibu, satu janda yang suda tua, dan ia punya pekerjaan, yaitu bantu membikin bersi kebonnya kassier Sie Thian Bie, dari pakerjaan mana saben bulan ia dapet gaji dari itu kassier‖ (257).
Sial bagi Kim Tjiang, usahanya kali ini untuk mencuri jambu secara kebetulan diketahui oleh Sie Po Giok. Kim Tjiang lalu menghampirinya dan memberikan ancaman yang membuat Sie Po Giok ketakutan. Berikut kutipan ancaman yang dilayangkan Kim Tjiang pada Sie Po Giok;
―Denger, Giok, aku kasi kau tau, jikalu angkau brani cerita, baek pada siapa juga, apa yang kau suda liat di ini waktu dan kasi tau siapa suda ambil jambu dari ini puhun kau nanti rasaken aku punya pembalesan yang, amat heibat, yang Saumur idup kau tiada nanti bisa lupa. Mengarti?!‖
Sementara tangannya Po Giok ia goncang ka kiri dan ka kanan, ia berkata lagi begini: ―Bicara sekarang dengen betul, atawa kau nanti jadi menyesel! Aku kenal satu nasehat buat tutup mulutnya satu anak seperti kau ini.‖ (258).
Sifat Kim Tjiang ini sangat tidak terpuji karena ia juga mengintimidasi anak yang berusia lebih muda darinya. Sebesar apapun usaha Kim Tjiang untuk menutupi kejahatannya ini, tetap kebenaran terkuak juga. Kim Tjiang tidak dapat mengelak ketika majikannya itu mengetahui dan memecat dia dari pekerjaannya. Beruntung bagi Kim Tjiang, ia tidak jadi dilaporkan kepada polisi. Namun sakit hati yang mendalam telah membuat Kim Tjiang menjadi sosok yang semakin jahat yang ingin membalaskan dendam.
Perasaan dendam dan sakit hati Kim Tjiang yang berlarut-larut ini membuat ia berani melakukan kejahatan yang mengancam nyawa orang lain. Pada suatu malam ketika Sie Thian Bie sekeluarga sedang tertidur lelap, Kim Tjiang menyusup ke rumahnya dan melemparkan api ke atap kamar Sie Thian Bie, lalu cepat membakar seluruh isi rumah. Kim Tjiang lalu pulang dan bertemu ibunya yang mendukung perbuatan jahat anaknya itu. Berikut kutipan percakapan Kim Tjiang yang mengaku perbuatannya itu kepada ibunya;
―kau keliatan baru pulang, Tjiang?‖ berkata hujin Ho Tek Sin pada Kim Tjiang dengen plahan sambil awasken asep yang mengebul ka atas dari ruma yang kebakar.
―Ssst! Bicara sedikit lebi plahan, encim,‖ menyaut Kim Tjiang dengen berbisik. ―Itu ruma yang kebakar ada rumanya itu kassier jahat‖
―O, anak,‖ berkata pula sang ibu dengen plahan sekali, ―bilanglah, apatah itu bukan perbuatankau?‖
―Aku mengaku betul ada begitu, encim,‖ menyaut pula ini anak jahat di kuping ibunya. (368-369).
Perbuatan jahat Kim Tjiang tentu saja mendapat ganjaran yang setimpal. Meskipun kim Tjiang beserta ibunya melarikan diri ke Shanghai, hidup mereka malah semakin terpuruk. Beberapa tahun berlalu, Ibu dan istri Kim Tjiang meninggal dunia, lalu Kim Tjiang dan anaknya hidup dalam penderitaan dan kemiskinan. Beruntung, Kim Tjiang bertemu dengan Sie Po Giok yang juga pindah ke Shanghai namun hidupnya sejahtera. Sie Po Giok membantu merawat anaknya Kim Tjiang di rumah anak-anak miskin yang didirikannya. Kim Tjiang kemudian sadar dengan perbuatannya selama ini dan meminta maaf kepada Sie Po Giok. Beberapa waktu kemudian, Kim Tjiang meninggal dunia dan jenazahnya diurus oleh Sie Po Giok.
Dari pemaparan penokohan Kim Tjiang tersebut, kita dapat melihat perbuatan jahat dan tidak terpujinya tersebut merupakan kenakalan seorang anak. Menurut pendapat Qaimi (2004:43), ―Kenakalan seorang anak sangat berhubungan erat dengan kadar emosinya.‖ Dalam hal ini, Kim Tjiang sangat terpengaruh oleh emosi, seperti rasa sakit hatinya yang berujung pada balas dendam dengan aksi membakar rumah Sie Thian Bie.
Selain itu, Qaimi juga membagi kenakalan anak-anak menjadi dua jenis, kenakalan secara sadar dan sengaja, serta secara tidak sadar dan tanpa sengaja. Pada kasus ini, kenakalan secara sadar dan sengaja telah dibuktikan oleh Kim Tjiang. Hal ini terjadi karena Kim Tjiang mengetahui betul yang dia perbuat salah dan dia melakukan perbuatan salah demi kelangsungan hidupnya, seperti mencuri jambu Sie Thian Bie dan menjualnya demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Berikut pendapat Qaimi mengenai kenakalan anak secara sadar dan sengaja;
―Pada dasarnya anak memahami betul perbuatan buruk yang dilakukannya. Ia tahu bahwa dirinya tengah melakukan perbuatan tercela dan sadar terhadap apa yang diperbuatnya. Hal ini timbul lantaran anak tersebut selalu dimanja orang tuanya atau lantaran pendidikan yang keliru sehingga ia merasa tidak mungkin mewujudkan keinginannya kecuali dengan melakukan kenakalan tertentu.‖ (2004:37).
Pendapat ini sangat masuk akal jika kita melihat Kim Tjiang yang perbuatannya itu didukung penuh oleh ibunya, Ho Tek Sin. Dalam pandangan saya, Ho Tek Sin telah memberikan pendidikan yang salah terhadap anaknya. Rasa cinta dan kasih sayang berlebihan terhadap anak bukan berarti suatu legalisir bahwa anak boleh melakukan apa saja, termasuk perbuatan jahat dan tidak terpuji. Berikut kutipan narasi tentang hubungan anak antara Kim Tjiang dan Ho Tek Sin;
―Sebagimana memang, biasanya orang-orang tua yang pikirannya kliru, begitupun hujin Ho Tek Siu ada sayang pada Kim Tjiang dengen kecintaan yang sala, hingga apa yang anaknya itu berbuat, kendati ia tau ada perbuatan sesat, ia bukan larang, malahan sabisanya ia membantu. Begitulah lantaran saying pada anaknya, saben-saben ia suda bantu sembunyiken barang curian dari anaknya itu, dengen tiada dapet inget, dari inni kesayangan atawa kecintaan yang kliru, ia dan anaknya boleh dapet susa di hari kamudian. Inilah nyata bukan namanya ―sayang‖, tapi sabenernya ia ―racunin‖ anak sendiri.‖ (288).
3.3.2 Po Houw
Tokoh Po Houw merupakan saudara sepupu dari Sie Po Giok. Detil tentang Po Houw secara fisik tidak banyak diceritakan. Hanya berupa perwatakannya yang nakal, tidak mudah bergaul, dan sombong. Berikut kutipan tentang watak dari Po Houw beserta saudara kandungnya Po Soeij;
―Sama Po Houw itu anak-anak tiada begitu suka bergaul, sebab adatnya Po Houwa ada beda sekali dari Po Giok. Itu anak kassir, adatnya ada tinggi, suka sekali puji diri sendiri, juga ia ada jail serta nakal, tiada beda jau dari sudaranya, Po Soeij. Siapa denger bicaranya: Po Houw, ia musti merasa jemu, kerna ini anak suka ceritaken kebranian dan kegagahan turunannya dan kebranian diri sendiri. Laen dari begitu, ia suka sekali mengobrol, dan jikalu ia ceritaken apa-apa, ia suka sekali mengobrol, dan jikalu ia ceritaken apa-apa, ia suka sekali tamba dan bikin sedikit laen dari begimana keadaannya yang
betul, sebagimana biasanya anak-anak yang suka berdusta. Anak-anak laen tau, Po Houw dan Po Soeij ada benci pada Po Giok, sebab itu dua anak kala jau perkara pelajaran di dalem sekola pada sudara cinthongnya ini.‖ (291).
Berdasarkan kutipan tersebut, Po Houw menjadi tokoh antagonis karena dia sangat tidak suka dengan Sie Po Giok yang selalu mendapat pujian dari teman-teman di sekolahnya karena dia pintar. Perasaan iri hati Po Houw ini berubah menjadi benci seketika, saat Po Houw tiba-tiba mengajak berkelahi Sie Po Giok. Beruntung usaha Po Houw ini dihentikan oleh gurunya, Sinshe Pang kan.
Kenakalan Po Houw tidak hanya itu saja. Po Houw bahkan berani mengambil sawo yang ada di samping rumahnya, padahal ayahnya sudah mewanti-wanti jangan ada yang mengambil sawo itu karena akan diberikan pada orang sebagai hadiah. Po Houw lalu mempunyai akal bulus, dia petik sawo itu dan dia lempar kulitnya ke dalam kamar Sie Po Giok melalui jendela. Berikut kutipan kejadian kenakalan Po Houw;
―Buat kebaean aku sendiri,‖ piker Po Houw di dalem hati, ―apakah tiada baek ini kulit sawo aku kasi masuk ka dalem kamarnya Po Giok dari ini sela jendela? Dari lantaran berbuat begini, aku bisa terluput dari segala dugahan, jikalu ketauan juga, ini bua ada kurang. Peduli apa sama itu anak!‖ Begitulah Po Houw telah kasi masuk itu kulit sawo ka dalem kamarnya Po Giok, dan sasudanya seka tangan dan mulutnya dengen sapu tangan, ia berlalu dari situ, sembuniken diri di satu tempat, supaya orang tiada liat padanya. (300-301). Sie Po Giok menerima dampaknya, ia tidak bisa mengelak dan membela diri, karena kulit buah sawo berada di kamarnya sehingga ia mendapat cambukan rotan dari pamannya. Melihat kejadian ini, Po Houw tidak menyangka akan separah ini. Po Houw yang pengecut ini tiada berbuat apa-apa lantaran ia juga takut hukuman itu akan menimpa dirinya.
Cepat atau lambat, kebenaran pasti akan terkuak juga. Pang A Kim, kerabat yang dihadiahi buah sawo oleh Sie Thian Bie, berkunjung ke rumahnya untuk menceritakan bahwa Po Houw yang memakan buah sawo itu. Sontak Sie Thian Bie beserta anak-anak dan istrinya kaget mendengar cerita Pang A Kim. Berikut kutipan penjelasan Pang A Kim;
―Aku turut menyesal,‖ kata A Kim, yang liat Thian Bie jadi mera paras mukanya lantaran gusar, ―dan aku tiada duga sekali-kali, Po Houw suda begitu brani aken berjusta pada orang tua sendiri.‖
―Aku tau betul, aku tiada sala,‖ menyaut A Kim. ―Po Giok tiada curi itu sawo yang kau hendak kasi persen padaku. Kitaorang lagi bicaraken halnya si Po Houw.‖ (332-333).
Sie Thian Bie lalu marah dan hendak memukul Po Houw, namun usahanya dicegah oleh Sie Po Giok. Akhirnya Po Houw dihukum tidak boleh makan bersama keluarganya di dalam satu meja makan, tetapi harus makan di dapur. Hingga pada akhhirnya, Po Houw memahami bahwa tindakan dan sifatnya selama ini salah, dan dia mulai menyayangi Sie Po Giok.
Berdasarkan pemaparan sifat dan watak Po Houw tersebut, kita bisa melihat bahwa sesungguhnya Po Houw memiliki sifat nakal seperti pada anak-anak lain seumurannya. Namun yang membedakan Po Houw dengan Kim Tjiang adalah kenakalan Po Houw adalah kenakalan secara tidak sadar dan tanpa disengaja. Hal ini terjadi lantaran usia Po Houw yang masih sepantaran dengan usia anak sekolah dasar dan memiliki emosi yang berlebihan, sehingga anak masih belum bisa memahami dengan pasti perbuatannya merupakan baik atau buruk, yang dia tahu hanya apa yang terbaik buat dirinya sendiri. Berikut pendapat Qaimi mengenai kenakalan anak secara tidak sadar ;
―Adapun kenakalan secara tidak sadar dan tanpa sengaja terjadi di mana seorang anak melakukan perbuatan buruk tanpa memahami keburukan perbuatannya itu. Barangkali ia menyangka apa yang dilakukannya demi mencapai keinginannya itu sebagai perbuatan baik. Kenakalan anak secara tidak sadar dan tanpa sengaja akan menyebabkan seorang anak memiliki sikap yang emosional, bahkan adakalanya sampai memicu terjadinya kelainan jiwa.‖ (2004:37).
Selain pendapat tersebut, Qaimi juga menyebutkan bahwa ―sebab-sebab kenakalan anak-anak karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, perasaan marah dan jengkel, serta tidak seimbang antara perasaan, akhlak, dan kejiwaannya.‖ (2004:38).
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka jelas sekali bahwa tokoh-tokoh antagonis seperti Kim Tjiang dan Po Houw memiliki kenakalan yang beragam. Mereka memiliki keinginan untuk bermusuhan dengan Sie Po Giok dan telah membutakan pikiran, perasaan, bahkan jiwanya. Terlebih bagi Kim Tjiang yang tidak memiliki perasaan belas kasih, tidak memiliki kejernihan dalam berpikir, dan hanya karena perasaan sakit hati.