3. PENOKOHAN SIE PO GIOK
3.2 Analisis Penokohan Protagonis
Menurut Sudjiman, ―Tokoh yang memegang peran pimpinan disebut tokoh utama atau protagonis‖ (1988:17). Protagonis selalu menjadi tokoh yang sentral dalam cerita, bahkan menjadi pusat sorotan. Sie Po Giok adalah tokoh protagonis karena mewakili semua hal yang terpuji dari cerita ini. Sie Po Giok juga merupakan tokoh utama pada cerita ini karena intensitas keterlibatan Sie Po Giok dalam berbagai peristiwa yang membangun cerita sangat besar. Sejak awal dikisahkannya cerita ini, terlihat bahwa Sie Po Giok terlibat dalam peristiwa yang membangun cerita, sebagaimana tertuang pada kutipan berikut ini;
“Umurnya Sie Po Giok baru 11 taon dan kadua orang tuanja ampir dalem satu
taon suda meninggal dunia: ayahnya meninggal di bulan November dan ibunya meninggal di bulan Juni, hingga, sejak suda menjadi piatu, ia musti
menumpang di ruma enceknya.‖(Tio Ie Soei, 1912:255).
Keterlibatan Sie Po Giok dalam menjalin peristiwa demi peristiwa kemudian berlanjut dengan peristiwa Sie Po Giok pergi ke kebun pamannya dan memergoki Ho Kim Tjiang sedang mencuri jambu milik pamannya. Peristiwa ini menjadi awal munculnya konflik, ketakutan Sie Po Giok terhadap bahaya yang dihadapinya dan rasa cemas akan hidupnya yang terancam menjadi awal konflik batinnya. Adanya konflik batin ini kemudian menjadi pemicu masalah Sie Po Giok selanjutnya. Seperti tuturan berikut ini, ―Setelah melihat perbuatan jelek dari Ho Kim Tjiang, Po Giok jadi sanget terkejut, hingga parasnya beroba pucet, dan dari sebab ka-mekmek4, Po Giok jadi tinggal berdiri diam. Tapi itu pencuri ada amat brani; ini hal orang bisa dapet liat dari sorot mata dan gerakannya.‖ (257-258).
Dalam peristiwa Sie Po Giok bertemu dengan Ho Kim Tjiang, Sie Pok Giok terpaksa harus berhadapan dengan Kim Tjiang yang jauh lebih besar dari badannya. Ketakutan Sie Po Giok semakin jadi karena Kim Tjiang mengancam akan menyiksanya seumur hidup jika ia memberi tahu kepada orang-orang. Seperti pada tuturan berikut ini, ―Denger, Giok, aku kasi kau tau, jikalu angkau brani cerita, baek pada siapa juga, apa yang kau suda liat di ini waktu dan kasi tau siapa suda ambil ini jambu dari ini puhun kau nanti rasaken aku punya pembalesan yang, amat heibat, yang saumur idup kau tiada nanti bisa lupa. Mengarti?!‖ (258).
Pada peristiwa Sie Po Giok dan Kim Tjiang, Sie Po Giok menjadi pucat, badannya bergemetar, dan lemas. Ia tidak dapat melawan atas ancaman dari Kim Tjiang. Dengan perasaan ketakutan dan muka pucat Sie Po Giok pun diperbolehkan pulang oleh Kim Tjiang.
Jadi, di dalam cerita ini yang menjadi tokoh utama atau protagonis adalah Sie Po Giok karena keterlibatannya dengan tokoh lain sangat intens. Sie Po Giok menjadi sumber konflik dari peristiwa ke peristiwa, dari awal hingga akhir dari cerita, dan menjadi pusat sorotan dalam cerita ini. Berikut ini merupakan bagan hubungan Sie Po Giok sebagai tokoh utama dengan tokoh-tokoh lain;
4
terperangah (pengarang).
+
Keterangan:
Konflik dengan tokoh antagonis. Sie Thian Bie sebagai orang tua angkat.
Bagan 3.1 Hubungan Sie Po Giok dengan para tokoh-tokoh lain.
Tokoh-tokoh dalam cerita merupakan ciptaan si pengarang. Agar pembaca lebih mengenal sosok tokoh-tokoh tersebut, maka perlu digambarkan ciri-ciri fisik, sifat, dan karakternya, sedangkan menurut Sudjiman, ―Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh ini yang disebut penokohan‖ (1988:23). Sie Po Giok adalah tokoh protagonis sekaligus tokoh sentral karena menjadi sorotan di sepanjang cerita ini. Berbagai permasalahan yang dihadapi di cerita ini menggambarkan pula watak Sie Po Giok dengan gaya pencitraan secara tertulis langsung. Menurut Panuti Sudjiman, ―Protagonis dapat juga ditentukan dengan memperhatikan hubungan antartokoh. Protagonis berhubungan dengan tokoh yang lain, sedangkan tokoh-tokoh itu sendiri tidak semua berhubungan satu dengan yang lain‖ (1988:18).
3.2.1 Patuh dan Hormat Kepada Orang Tua
Sie Thian Bie dan Istri Alm. Ayah
Alm. Ibu
Kim Tjiang Sie Po Giok
Po Kim Po Houw Po Soeij Pit Nio Po Nio Kim Nio Po Touw
Sie Po Giok yang merupakan anak yatim piatu sangat patuh terhadap kedua orang tuanya. Sifat teladan ini tertera pada awal cerita secara tersurat, Sie Po Giok mengingat pesan ibunya untuk selalu beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, selalu berbuat baik, dan menghormati orang yang lebih tua. Mari kita perhatikan kutipan berikut;
―Lantaran menginget pada ibunya yang ia cinta dengen sagenap hati, itu kutika Sie Po Giok keliatan ada menjadi sedikit lebi gaga. Bukankah – begitu ia berpikir lebi jau – kutika ibuku masih ada, ibu yang amat baek itu suda pesen poma-poma padaku, jikalu ibu suda meninggal, aku jangan terlalu bersusa hati, supaya badan tiada jadi rusak. Juga tiada lupa pesenan ibunya, apa yang ia harus simpen di dalem hati: di segala waktu ia harus sujut pada tuhan Allah Yang Maha Kwasa; ia jangan sekali bicara justa; musti ada kesabaran hati; ia jangan berbuat jahat pada laen orang, kendatipun orang suda berbuat jahat padanya; ia harus yakinken segala pelajaran yang berfaeda; ia jangan termaha; ia harus ada punya kemurahan hati; ia jangan melawan pada orang yang lebi tua, sedeng kalu orang yang lebi tua itu ada bersala, baek ia kasi mengarti dengen manis dan plahan, pada waktu itu orang keliatan suda jadi sabar kombali, dan laen-laen nasehat yang baek. Dengan membawa kelakuan begini, ibunya kata, barangkali di kamudian hari ia bisa menjadi saorang yang termulia, supaya nama leluhur dan turunannya menjadi wangi, hingga maski rohnya ada di acherat, ibu itu nanti turut merasa senang dan girang.‖ (255-256).
Di dalam kutipan tersebut, terlihat nasihat-nasihat dari mendiang ibunya ini ia pegang teguh pada kehidupannya ketika dia tinggal di rumah pamannya. Sie Po Giok juga mencoba untuk mengamalkan nasihat-nasihat dari ibunya ini kepada Po Houw, meskipun Po Houw telah berbuat jahat kepadanya. Salah satu sifat teladan Sie Po Giok sangat cocok dengan anak-anak, yaitu anak patuh terhadap orang tua. Menurut pendapat saya, meskipun sifat ini memang terkesan seperti peraturan yang dipaksakan, namun tidak ada salahnya untuk menghormati orang tua kita yang telah melahirkan, merawat, menyayangi, dan membesarkan kita.
3.2.2 Takut
Sebagai seorang anak, Sie Po Giok juga memiliki sifat ketakutan. Sifat alami anak-anak ini muncul ketika berada dalam keadaan tertekan. Sifat buruk seperti ini merupakan salah satu ciri bacaan anak menurut Sarumpaet seperti yang disebutkan pada bab sebelumnya, bahwa ―tokoh yang ditampilkan di cerita tidak hanya sisi baiknya saja, tetapi sisi buruknya juga, disertai kejelasan sebab dan tindakan-tindakan tokoh tersebut‖ (1976:32). Berdasarkan tuturan tersebut, di dalam cerita ini dijelaskan bahwa Sie Po Giok memiliki rasa takut sebab diancam oleh Kim Tjiang yang mencuri jambu di kebun pamannya, Sie Thian Bie. Oleh karena itu, Sie Po Giok lalu berbohong Berikut kutipan ekspresi ketakutan Sie Po Giok saat mendapat ancaman dari Kim Tjiang;
―Mendenger ini ancaman Po Giok jadi gemeter sakujur badannya dan kakinya menjadi lemas lantaran kaget. Ia tiada menyaut satu perkataan atas ancemannya Kim Tjiang, tapi dengen plahan ia angkat tangannya itu pencuri yang memegang pundaknya, lalu ia berbalik dan hendak berjalan pergi aken pulang ka ruma.‖
―Ini swara yang kaluar dari mulutnya itu anak jahat ada cukup aken membikin parasnya Po Giok menjadi pucat ampir seperti kertas dan membikin ilang seantero kebranian yang ada di dalem hatinya,‖ (258-259).
Akibat dari perkara itu membuat Sie Po Giok menjadi sedih. Ia merasa menjadi pribadi yang pengecut, pembohong, dan anak yang tidak berguna karena tidak berani mengatakan kepada pamannya, bahkan berbohong tentang kejadian di kebun dan Kim Tjiang yang mencuri jambu.
Menurut Yani (Seorang kontributor di salah satu situs ternama, Yahoo),
―Ketakutan merupakan suatu keadaan alamiah yang membantu individu melindungi dirinya dari suatu bahaya sekaligus memberi pengalaman baru‖5. Pendapat ini sesuai, karena Sie Po Giok yang masih anak kecil berusia 11 tahun pasti akan kalah jika dia harus berkelahi dengan Kim Tjiang yang sudah berusia 17 tahun, jadi Kim Tjiang merupakan bahaya bagi keselamatannya. Jika Sie Po Giok tidak memiliki rasa takut saat berhadapan dengan Kim Tjiang, kemungkinan besar Kim Tjiang pun akan langsung menghabisi Sie Po Giok. Tentu saja dengan adanya kejadian ini, Sie Po
5 Berdasarkan situs: http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110315052105AAtyn6B. Diakses pada hari Rabu, 5 Juni 2012. Pukul 21:33 WIB.
Giok mempunyai pengalaman meskipun pengalaman yang pahit. Pengalaman ini akan membuatnya belajar untuk bersikap lebih berani dan bijaksana jika berhadapan dengan situasi seperti ini lagi
3.2.3 Pengecut dan Pembohong
Sifat pengecut Sie Po Giok muncul atas keraguannya untuk memberitahu kepada pamannya atau tidak. Jika ia memberitahu pamannya, maka Kim Tjiang yang
jahat itu pasti akan menuntut balas dengan menghabisinya. Jika Sie Po Giok tidak memberitahukan perkara ini pada pamannya, cepat atau lambat pasti akan ketahuan dan pamannya akan sangat marah atas kebohongan Sie Po Giok. Berikut merupakan kutipan keraguan Sie Po Giok sehingga ia memutuskan untuk berbohong; ―Inilah sebabnya, maka di dalem hatinya timbul satu pengrasaan yang tiada enak sekali, hingga ia anggap, ia bukan satu anak yang yang baek, kalu ia tiada kasih tau itu perkara mencuri pada enceknya, yang memang suda lama lagi mencari ketrangan, siapa yang saben-saben suda mencuri itu jambu. Tapi jikalu ini perkara ia kasi tau pada enceknya, niscaya Ho Kim Tjiang, satu anak yang memang ia suda kenal ada jahat sekali adatnya, nanti membales sakit hati padanya dengen satu pembalesan yang tentu ada heibat sekali. Sedeng begitu ia musti jaga sabole-bole supaya ia tiada mendapet musu,‖ (259-260). Kutipan tersebut menandakan perasaan tertekan Sie Po Giok yang membuatnya ragu untuk mengambil keputusan untuk berkata jujur atau tidak kepada pamannya. Sebagai anak-anak, keadaan tertekan seperti ini kadang membuat anak tidak berfikir panjang tentang apa yang akan terjadi ke depan, sehingga anak hanya memikirkan apa yang membuat dia aman untuk saat ini saja. Atas dasar itulah, Sie Po Giok membuat keputusan untuk berbohong kepada pamannya perihal pencuri jambu. Mari kita perhatikan kutipan berikut;
―Kau dapet liat siapa yang suda curi itu jambu, Po Giok?‖ ―Tida, encek, aku tiada liat siapa yang suda curi itu jambu.‖
Tapi baru saja mengucapken ini perkataan, Po Giok merasa, ia telah berbuat satu kadosaan besar sekali, suda melanggar pesanan ibunya yang suda kasi
nasehat padanya, supaya selama-lamanya ia musti bicara trus trang dalem segala perkara. (263-264).
Kutipan dialog antara Sie Po Giok dan pamannya merupakan peristiwa saat Sie Po Giok berbohong tentang pencuri jambu itu. Sie Po Giok merasa sangat tertekan untuk menjawab pertanyaan pamannya dan ia merasa berdosa besar karena telah melanggar nasihat ibunya untuk selalu bicara jujur. Ia merasa menyesal karena telah melakukan kesalahan besar. Rasa menyesal dan bersalah ini telah menghantui kehidupannya setelah kejadian itu. Sangat jelas bahwa kutipan ini merupakan salah satu permasalahan anak yang wajar.
Ada sebuah kritik dari penulis atas cerita ini, yaitu tidak dibenarkan adanya penjejalan sikap orang dewasa terhadap anak pada cerita ini. Sie Po Giok sebagai anak-anak diharuskan untuk selalu berkata dan berbuat jujur pamannya. Sebenarnya menerapkan budaya untuk berkata jujur adalah hal yang bagus, tetapi sebagai anak terkadang merasakan keadaan tertekan ketika untuk berkata jujur berisiko bahaya bagi diri kita. Sebagai orang dewasa, seharusnya kita lebih mengerti keadaan anak berdasarkan pola pikir dan perasaan mereka. Pola pikir antara orang dewasa dan anak jelas berbeda, orang dewasa tentu pernah mempunyai pola pikir anak-anak, namun anak-anak belum mencapai pola pikir orang dewasa. Jika kita bisa menerapkan ini, maka kita akan lebih mengerti pikiran dan perasaan anak, kelebihan dan kekurangannya, dan anak akan lebih senang dan bahagia dalam hidup menghadapi dunianya, sedangkan menurut Yusi Elsiano Rosmansyah, seorang psikolog yang menulis di situsnya menyebutkan bahwa;
―Bohong itu ada beberapa macam, ada bohong yang dibuat-buat seperti bercerita tentang sesuatu yang seolah-olah terjadi, padahal cerita tersebut tidak pernah terjadi, ada juga bohong ‗putih‘, yaitu bohong untuk menutupi sesuatu karena dianggap jika berkata jujur akan membahayakan, misalnya tidak menjawab dengan menceritakan pembicaraan seseorang yang kurang baik kepada orang yang bersangkutan, hal tersebut akan mengakibatkan orang yang bersangkutan membenci orang yang membicarakannya tersebut.‖ (http://www.perkembangananak.com/category/anak-anak/. Diakses pada hari Kamis, 6 Juni 2012. Pukul 00.35 WIB).
Berdasarkan kutipan tersebut, di dalam cerita ini tokoh Sie Po Giok telah
melakukan kebohongan putih. Jika Sie Po Giok berterus terang, maka ia berada dalam bahaya, bahkan nyawanya terancam oleh Kim Tjiang. Tentu saja Sie Po Giok merasa bersalah telah berbohong, namun tidak ada salahnya jika dia berpikir untuk berbohong demi keselamatan dirinya sendiri.
3.2.4 Jujur dan Berpendirian Teguh
Sie Po Giok memiliki sifat jujur dan berpendirian teguh, meskipun pada bagian cerita sebelumnya Sie Po Giok telah berbohong. Selama seminggu Sie Po Giok telah tersiksa oleh perasaan bersalah itu. Atas dukungan teman sekolahnya, Tiauw Hoan, Sie Po Giok memberanikan diri berbicara jujur untuk menjelaskan siapa yang mencuri jambu di kebun pamannya. Pada malam hari, ketika Sie Thian Bie sedang bersantai sambil membaca buku di kursi goyang, dengan gugup Sie Po Giok menghampirinya kemudian mulai membeberkan kebenaran yang selama ini ia sembunyikan. Berikut kutipan dialog mereka;
―Dengan swara dalem sekali dan gemeter Po Giok berkata pada enceknya, sasudanya ia ada di dalem kamarnya itu kassier:
―Encek, aku tau, siapa yang suda curi itu jambu.‖ ― Kau ada tau anak yang manis,‖
Menyaut Thian Bie sambil taro buku di meja dan angkat kapalanya, lalu mengawasin pada Po Giok.
―Aku ada kwatir, itu maling tiada nanti dapet ditangkep.‖
―O, sabenarnya dari bermula aku suda musti bilang, tapi aku merasa takut. Liwat satu minggu di waktu menggerip, aku liat itu bua suda dicuri oleh engko Kim Tjiang.‖ (274).
Dengan bercucuran air mata, Sie Po Giok menceritakan seluruh kejadiannya, termasuk ketika ia diancam oleh Kim Tjiang. Sie Thian Bie yang semula marah dan berniat menyambuk Sie Po Giok, akhirnya luluh setelah mendengarkan semua penjelasan Sie Po Giok.
Keberanian tokoh anak seperti Sie Po Giok di dalam cerita ini mengajarkan pembaca untuk tidak takut berbuat benar demi memperbaiki kesalahan. Ketika kita masih anak-anak, jika melakukan suatu kesalahan kita cenderung lari dari masalah.
Padahal orang dewasa akan memaklumi atau mengampuni ketika kita berbuat salah dan ingin memperbaikinya, atau sekadar meminta maaf, seperti yang dilakukan oleh pamannya, Sie Thian Bie.
Meskipun Sie Po Giok berusaha mengatakan jujur tentang pencuri buah jambu pamannya, tetapi ia terus mendapat ejekan dari sepupu-sepupunya, Po Houw, Pit Nio, dan Po Soeij. Mereka selalu mengejek bahwa Sie Po Giok adalah seorang pendusta. Sie Po Giok hanya diam saja dan menerima perlakuan mereka karena ia merasa seorang pembohong, pengecut, dan ia tidak ingin mencari masalah kepada sepupu-sepupunya.
Penderitaan Sie Po Giok tidak hanya itu saja. Ia bahkan dituduh mencuri sawo pamannya yang disiapkan sebagai hadiah untuk kerabatnya. Posisi pohon sawo itu berada persis di samping kamar Sie Po Giok. Barang bukti berupa kulit buah sawo yang ada di kamar Sie Po Giok menjadi alibi bahwa Sie Po Giok telah mencurinya. Padahal semua ini ulah Po Houw yang tergiur dengan sawo itu dan melemparkan kulitnya ke dalam kamar Sie Po Giok. Akibat ulahnya ini, Sie Po Giok menerima hukuman keras berupa cambukan rotan dari pamannya. Sie Po Giok sebenarnya sudah berusaha berpendirian teguh menjelaskan dengan sejujur-jujurnya, namun pamannya sudah terlanjur marah besar karena pengaruh alkohol dan menganggap Sie Po Giok hanya mencari-cari alasan semata. Berikut merupakan kutipan peristiwa yang dihadapi Sie Po Giok tersebut;
―Kau, Po Giok, suda mencuri itu bua sawo?‖ menanya kassier Sie Thian Bie pada itu anak piatu.
―Aku tiada sekali pegang itu bua, encek.‖ Menyaut Po Giok dengen sabar, juga dengen swara tetep.
―Kita orang tiada dapet bukti aken menyataken kabenerannya, encek,‖ kata Po Soeij. ―Ia melaenken bilang, ia tiada curi itu sawo, tapi ia tiada bisa kasi katrangan, apa sebab itu kulit sawo ada di dalem kamarnya.‖ (Tio Ie Soei, 1912 : 313).
―Sekarang, Giok, apa tetep kau tiada mau mengaku, kau suda curi itu sawo?‖ ―Tida, encek, aku tiada bisa mengaku, sebab aku tiada curi itu bua,‖ menyaut Po Giok dengen swara pelan.
―Dateng lebi deket padaku! Apa kau tiada mengaku, itu sawo kau suda curi?‖
―Aku tiada pegang itu bua,‖ menyaut lagi Po Giok.
―Kassier Thian Bie menjadi mara sekali, maka ia lalu angkat rotan yang ia pegang dan ebat Po Giok sapuas hati, hingga ini anak yang baru satu kali dipukul oleh Thian Bie berguling-guling di atas batu.‖ (318).
Sie Po Giok tidak dapat melawan kekerasan yang dilakukan oleh pamannya. Sebagai anak-anak, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kepedihannya melalui menangis. Alangkah kejam jika kita melihat orang tua mendidik anaknya melalui kekerasan. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Sarumpaet, ―implisit dalam tugas pembimbingan itu adalah anak yang masih bertumbuh dan memerlukan bimbingan dan pengarahan‖ (2010:100). Implisit dalam hal ini adalah tujuan tersirat dari membimbing anak. Masih ada cara lain selain kekerasan karena cara ini hanya akan menggurui anak untuk takut kepada kekuasaan orang tua, karena orang tua menganggap punya kekuasaan penuh terhadap anak. Padahal anak memerlukan bimbingan dan pengarahan yang menyenangkan untuk dirinya, bukan bimbingan yang mengerikan untuk dirinya.
3.2.5 Berhati Mulia dan Bijaksana
Sie Po Giok memperlihatkan bahwa seorang anak dapat mempunyai hati yang sangat mulia, bahkan sesuatu yang tidak dipunyai oleh orang dewasa. Setelah Po Houw mengaku kepada Thian Bie bahwa dialah yang memakan sawo, Sie Po Giok tidak marah atau memiliki dendam sama sekali kepada Po Houw, malah membela habis-habisan agar pamannya tidak memukul Po Houw, meskipun Sie Po Giok telah menerima pukulan bertubi-tubi dari pamannya. Hal ini Sie Po Giok lakukan karena ia masih memandang Po Houw sebagai saudaranya.
Menurut Sie Po Giok, hukuman seperti disabet rotan oleh pamannya belum tentu akan membuat kelakuan yang salah akan menjadi lebih baik, yang ada malah timbul perasaan dendam, dengki, dan benci. Selain itu, Sie Po Giok juga mengatakan ia tidak ingin sepupunya, Po Houw merasakan hukuman disabet kayu rotan seperti apa yang ia rasakan. Atas perbuatan Sie Po Giok inilah akhirnya Po Houw sadar akan segala kejahatannya. Dengan rendah hati pula Sie Po Giok menapik pujian dari
sepupunya. Po Houw dengan alasan setiap manusia pasti dapat pula berbuat jahat dan salah. Berikut adalah kutipan percakapan mereka terhadap kejadian tersebut;
―Giok mengapakah tempo encek mau ebat padaku, kau tela mencega begitui sunggu hati, hingga aku tiada jadi dipukul?‖
Po Giok tiada dapet duga, Po Houw nanti menanya begini padanya, maka lantaran dapet ini pertanyaan yang sakunyung-kunyung, dalem sakutika lamanya ia menyaut juga:
―Sebab aku rasa dengen tentu, hukuman begitu tiada nanti bisa bikin baek kelakuan yang sala, dan juga sebab aku mau, kau tiada nanti rasaken pukulan-pukulan, sebagimana aku suda dapet.‖
―Kau ini ada satu anak baek dan aneh,‖ kata Po Houw, ―sebab aku tau, kabanyakan anak-anak tentu suka sekali meliat orang dapet hukuman yang ia sendiri suda tau dapet. Tida begitu dengen kau ini.‖
―Aku tiada dapet begitu baek, sebaimana kau kira,‖ menyaut Po Giok, ―sebab saben hari aku dapet rasa, hatiku ada jahat dan gampang mara,‖
Po Houw tiada menyaut; ia ingin bisa turut tuladannya Po Giok, yang