• Tidak ada hasil yang ditemukan

AMAR PUTUSAN Dalam Eksepsi

D. Analisis Penulis

Setelah mengamati kasus antara pemohon dan termohon seperti yang diuraikan diatas. Ada hal yang menarik untuk disoroti yaitu jatuhnya hadhanah atau pemeliharaan anak yang belum mumayyiz kepada bapak.

Dalam kaitannya dengan putusan tersebut ada hal yang menarik perhatian penulis untuk disoroti dari sudut pandang fikih dan peraturan yang berlaku di Indonesia yaitu siapakah yang mempunyai hak untuk melakukan hadhanah terhadap anak yang masih dibawah umur akibat perceraian, apa hal yang menyebabkan hadhanah seorang anak ada di tangan bapak, apa yang menjadi pertimbangan sehingga hakim memutuskan hak tersebut ada di tangan bapak.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa dalam permasalahan hadhanah ibu lebih berhak mendapatkan hadhanah ketika seorang anak masih

hadisnya:

نع

دج

مع نب ها د ع

أ

تلاق أ ما َّ

:

ل طب ّاك ا ب َّ إ ها س ا

ءاع

،

ب دث

ٌءاقس ل

،

د

ب

ٌءا ح ل جح

،

قلط ابأ ّإ

،

عز َ ّأ دا أ

م

،

ها َلص ه س ا ل اقف

ح ت ملام ب قحا تنأ مَلس لع

.

(

بأ ا

د اد

).

9

Artinya: "Seorang perempuan berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasul, anakku ini aku yang mengandung, air susuku yang diminumnya dan dipangkuanku tempat kumpulnya. Ayahnya telah menceraikanku dan ingin memisahkannya dariku. Rasulullah bersabda: kamulah yang berhak memeliharanya selama kau tidak menikah lagi". (HR. Abi Daud) Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa hak pemeliharaan anak yang belum mumayyiz adalah hak ibunya. Hal ini dikarenakan ibu mempunyai tahap kasih saying serta kesabaran yang lebih tinggi, selain itu seorang ibu lebih lembut ketika menjaga dan mendidik anaknya terlebih bagi anak yang masih dalam usia menyusui, ibu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki semua orang.

Kalau kita lihat kasus diatas bahwa ibu sering kali mencoba untuk melukai dirinya sendiri yang semestinya tidak dilakukan dan meninggalkan rumah tanpa adanya pemberitahuan sehingga dikhawatirkan tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang istri serta ibu bagi anak-anaknya di masa depan nanti.

9

Abi Daud Sulaiman bin al-Asy'asy as-Sajastani al-Azdiy, Sunan Abi Daud, (Qahirah: Dar al-Hadis, 1988), Juz II, h. 292.

dewasa. Anak membutuhkan orang lain (orang tua) untuk membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahannya sehingga tanpa bantuan orang dewasa anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal.

Kalau kita melihat kembali hak asuh anak diatas, termohon selagi hidup bersama dengan pemohon ada hal yang tidak selayaknya dilakukan oleh termohon seperti mencoba untuk melukai dirinya sendiri dan sering meninggalkan rumah tanpa izin selama 2 tahun. Melihat dari tingkah laku tersebut termohon sudah tidak layak untuk mendapatkan hak asuh anaknya.

Dalam hal terjadinya perceraian orang tua, biasanya anaklah yang menjadi korban. Orang tua beranggapan dalam perceraian mereka, persoalan akan dapat diselesaikan nanti setelah perceraian diselesaikan. Padahal tidak demikian adanya dan tidak demikian sederhananya, bahwa penyelesaian terbaik bagi anak akan dapat dengan mudah dicapai. Dalam kondisi apapun harus tetap diingat bahwa anak adalah juga individu yang mempunyai hak-hak dasar yang diakui sebagaimana halnya orang dewasa. Oleh karena itu, dalam kasus perceraian diatas anak merupakan salah satu subjek. Dan kepentingan anak tetap harus menjadi prioritas utama.

Seorang anak yang belum mumayyiz masih berhak atas pengasuhan kedua orang tuanya, walaupun orang tuanya sudah bercerai seperti dalam kasus

tersebut. Bila nantinya terjadi perselisihan dan penguasaan anak maka Pengadilan memberikan putusan yang seadil-adilnya tanpa sedikitpun mengurangi hak-hak anak.

Sesuai dengan rumusan dan makna Undang-Undang, bahwa dalam menentukan hak pemeliharaan anak yang harus diperhatikan adalah demi kepentingan hukum anaknya.10 Jadi hakim harus benar-benar memperhatikan apabila anak tersebut dipelihara oleh ibunya atau bapaknya mempunyai jaminan sosial da kesejahteraan yang lebih baik atau tidak.

Oleh karena itu penulis sependapat dengan Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang memutuskan bahwa pemeliharaan anak jatuh kepada pemohon selaku ayah kandungnya bukan kepada termohon sebagai ibu kandungnya. Karena dalam hal ini seperti yang dijelaskan sebelumnya, kedekatan anak dengan pemohon (ayahnya) sangatlah erat. Dan anak merasa lebih nyaman berada disamping ayahnya. Disinilah hak-hak anak yang dimaksud harus bisa diutamakan.

Seperti juga halnya manusia, anakpun memiliki haknya sendiri yakni hak perlindungan anak yang bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai

10

Muhayah, Wawancara dengan Ketua Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan dalam Perkara Nomor: 0305/Pdt.G/2010/PA.JS, Pada tanggal 7 April 2011.

kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.

Menurut Dra. Muhayah ketika ibu tidak mampu mengurus anaknya, misalnya ibu mempunyai moral yang jelek, murtad, pengguna obat-obatan terlarang, dll yang bisa membawa dampak buruk kepada tumbuh kembang si anak, maka ayahnya lah yang lebih berhak atas permasalahan pemeliharaan dan pengasuhan yang seperti ini.

Masalah hadhanah sangatlah cukup luas jangkauannya. Dalam menyelesaikam masalah hadhanah ini tidak hanya mengacu kepada ketentuan formalnya saja, melainkan harus memperhatikan nilai-nilai dari hukum dalam masyarakat, kaidah-kaidah Agama, lingkungan dan keadaan ayah serta ibu yang akan diberi hak untuk melakukan hadhanah dan juga aspek lain yang mungkin berpengaruh demi kemaslahatan diri anak yang akan menjadi asuhannya.

P E N U T U P A. Kesimpulan

1. Hadhanah ialah memelihara anak yang belum mumayyiz (belum mampu mengurus dirinya sendiri). Hak pemeliharaan anak akibat perceraian menurut fikih ialah ibu dari pada ayahnya. Sedangkan menurut KHI pada pasal 105 (a) bahwa hak pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak terlalu banyak membahas siapa yang lebih erhak untuk mengasuh anak setelah perceraian, tetapi orang tua berkewajiban memelihara anaknya sampai anak tersebut menikah. Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yang lebih berhak untuk memelihara anak adalah salah satu dari kedua orang tuanya yang dekat dengan ananknya. Sehingga membuat anak merasa nyaman dan tenang berada disamping salah satu orangtuanya tersebut.

2. Seorang hakim sangat mempertimbangkan kepentingan dan hak-hak anak dalam memutuskan suatu perkara hadhanah. Oleh karena itu, hakim dalam memutuskan suatu perkara selain menggunakan sumber fikih, hakim juga menggunakan Undang-Undang dimana hak-hak anak sangatlah diprioritaskan. 3. Alasan hakim memutuskan hak asuh anak jatuh kepada bapak. Karena hakim

mempertimbangkan pengasuhan anak dengan melihat keadaan anak yang nyaman bersama bapaknya, agamanya terjamin, pendidikan terjamin, moral,

mampu dan anak tersebut dekat dengan ayahnya daripada dengan ibunya.

B. Saran-Saran

Untuk kasus pemeliharaan anak yang jatuh kepada bapak, yang perlu diberikan saran adalah:

1. Untuk hak asuh anak perlu disosialisasikan kepada masyarakat melalui, khutbah-khutbah Jum’at, ceramah-ceramah Agama dan pengajian.

2. Perlu dimasukkan dalam kurikulum mata pelajaran fiqih baik di Tsanawiyah maupun Aliyah.

Al-Qur'an al-Karim dan Terjemahannya. 1984. Departemen Agama Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur'an.

Abdurrahman. 2007. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Anggota IKAPI.

al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mugirah bin Bardizbah. 1994. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Fikr. Jilid III, Juz 6. Abu Bakar, Zainal Abidin. 1993. Kumpulan Peraturan Perundang-undangan

dalam Lingkungan Peradilan Agama, Jakarta: Yayasan Al-Hikmah. Cet. Ke- 3.

Al-'Asqalani, Ibn Hajar.2002. Bulugh al-Maram. Jakarta: Dar al-Islamiyah.

Al-asy-'asy as-sajastani al-azdiy, Abi Daud Sulaiman. 1988. Sunnan Abi Daud,

Qahirah: Dar al-Hadis. Juz II.

Al-Abiyani, Muhammad Zaid. al-Ahkam as-Syakhsiyyah. Beirut: Baghdad. Jilid. I. Al-Hamdani, 2002. Risalah Nikah (Hukum Perkawinan Islam). Jakarta: Pustaka

Amani.

Dahlan, Abdul Aziz. 1999. Ensiklopedi Hukum Islam. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jilid 2.

Daud Ali. 1999. Kompilasi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional. Ciputat: Logos.

Effendi, Satria. 2004. Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer. Jakarta: Kencana. Cet.2.

Karya. Cet. 21.

Muchtar, Kamal. t.tp. Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. Bandung: Bintang.

Mughniyah, Muhammad Jawad. 2009. Fiqh Lima Mazhab. Jakarta: Lentera. Cet. 29.

Mutawally, Abdul Basit. t.p. Muhadarah fi al-Fiqh al-Muqaran, Mesir: t.t.

Sholeh, Asrorun Ni'am. 2008. Fatwa-Fatwa Masalah Pernikahan dan Keluarga, Jakarta: Elsas. Cet. Ke- 2.

Peunoh Daly. 2005. Hukum Perkawinan Islam: Suatu Studi Perbandingan Dalam Kalangan Ahlus-Sunnah dan Negara-Negara Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang. Cet. Ke-2.

Prawirohamidjojo, Soetojo dan Asis Sarioedin, 1986. Hukum Orang dan Keluarga. Bandung: Penerbit Alumni.

Rasyid, Sulaiman. 2003. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Cet. 36. Sabiq, Sayyid. 2000. Fiqh Sunnah. Kairo: Daar al-Fath. Cet. Ke-1, Jilid I.

Sabiq, Sayyid. 2006. Fiqh Sunnah (Terjemahan). Jakarta: Pena Pundi Aksara, Jilid III. Cet. Ke-1.

Slamet Abidin dan Aminuddin. 1999. Fiqih Munakahat, Jakarta: CV. Pustaka Setia.

Subekti dan Tjitrosudibio. 1999. Kitab Undan-Undang Hukum Perdata. Jakarta: Pradnya Paramita.

Syaikh, Hasan Ayyub. 1999. Fikih Keluarga. Jakarta: Dar At Tauji Wa An Nashr Al-Islamiyah. Cet. Ke-I.

Syarifuddin, Amir. 2007. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan. Jakarta: Prenada Media. Cet. Ke-1.

Tarigan, Azahri Akmal dan Amiur Nuruddin. 2006. Hukum Perdata Islam di Indonesia: Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fiqh, UU No. 1/1974 Sampai Kompilahi Hukum Islam. Jakarta: Kencana. Cet. Ke-3.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Yunus, Mahmud. 1990. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung. Cet. Ke-8.

Zaini, Muderis. 1992. Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sistem Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.

http://dunia-dalamkata.blogspot.com/2010/06/pemeliharaan-anak-hadhonah.html http://www.pajakartaselatan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&

Nama : Dra. Muhayah, SH

Jabatan : Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan

1. Apa yang menjadi pertimbangan Hakim dalam memutus hak asuh anak yang jatuh kepada bapak?

2. Dalam kurun waktu Tahun 2010, terdapat berapa kasus yang menjatuhkan hadhanah kepada bapak?

3. Berapa banyak kasus serupa (hadhanah kepada bapak) yang pernah ditangani Ibu Hakim selama menjadi hakim di Pengadilan Jakarta Selatan ini?

4. Selain Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), apakah ada Undang-Undang lain untuk Hakim gunakan dalam memutuskan suatu perkara hak asuh anak tersebut?

5. Hambatan apa bagi hakim dalam memutuskan perkara hadhanah tersebut? 6. Kasus/hal-hal apa saja yang menyebabkan gugurnya putusan hadhanah kepada

ibu?

7. Apa sebenarnya yang menjadi kriteria seseorang itu layak mendapatkan hadhanahnya ketika terjadi perceraian?

8. Bagaimana proses pengambilan putusan yang terkait masalah hadhanah kepada bapak ini?

Nama : Dra. Muhayah, SH

Jabatan : Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan

1. Tanya: Apa yang menjadi pertimbangan Hakim dalam memutus hak asuh anak

yang jatuh kepada bapak?

Jawab: Ketika jatuh kepada bapak, maka yang harus dipertimbangkan adalah

syarat-syarat pengasuhan anak. Melihat keadaan anak yang nyaman bersama bapak, agamanya terjamin, pendidikan terjamin, moral, akhlak, tumbuh kembang masa depan terjamin dan lingkungan. Serta bapaknya mampu dan anak tersebut dekat dengan ayahnya.

2. Tanya: Dalam kurun waktu Tahun 2010, terdapat berapa kasus yang

menjatuhkan hadhanah kepada bapak?

Jawab: Kalau masalah berapa banyak kasus itu silahkan tanyakan kepada

bagian yang berkepentingan dalam hal data.

3. Tanya: Berapa banyak kasus serupa (hadhanah kepada bapak) yang pernah

ditangani Ibu Hakim selama menjadi hakim di Pengadilan Jakarta Selatan ini?

Jawab: Saya tidak menghitung satu per satu kasus serupa yang saya tangani

Kompilasi Hukum Islam (KHI), apakah ada Undang-Undang lain untuk Hakim gunakan dalam memutuskan suatu perkara hak asuh anak tersebut?

Jawab: Iya ada, selain memakai Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang

Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), saya (hakim) juga memakai Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

5. Tanya: Hambatan apa bagi hakim dalam memutuskan perkara hadhanah

tersebut?

Jawab: Hambatan secara luas biasa-biasa aja karena hambatan itu pada

umumnya hanya karakter. Tidak ada hambatan yang berarti kalau karakter masing-masing itu tidak terjaga ketika emosional di dalam persidangan itu tidak teratasi. Hambatan yang lainnya, apabila keduanya (suami dan istri) tetap bersih keras ingin mengasuh anaknya. Dan kita (Majelis Hakim) tidak mungkin menetapkan untuk jatuh pada kedua orang tuanya. Kecuali ada kesepakatan, dan anak kalau perlu dihadirkan dalam persidangan walau dibawah umur. Karena Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak memungkinkan anak untuk mengemukakan pendapat. Tetapi ketika memeriksa si anak, para majelis hakim tidak memakai toga (baju resmi yang dipergunakan untuk sidang) jadi tidak sidang.

6. Tanya: Kasus/hal-hal apa saja yang menyebabkan gugurnya putusan hadhanah

kepada ibu?

Jawab: Ketika seorang ibu itu tidak mampu mengurus anaknya. Misalnya, ibu

asuh anak itu bisa jatuh kepada bapak.

7. Tanya: Apa sebenarnya yang menjadi kriteria seseorang itu layak

mendapatkan hadhanahnya ketika terjadi perceraian?

Jawab: Seseorang bisa mendapatkan hak asuh anaknya ketika bapak / ibu bisa

dekat dengan salah satu orang tuanya. Dan anak merasa nyaman bersama bapak/ibunya tersebut. Karena dalam perkara hak asuh anak itu hal yang paling penting adalah kepentingan anak tersebut. Orang tuanya harus cakap dan mampu mengurus anak. Jika orang tua tidak cakap, tidak mampu, ataupun kedua orang tuanya meninggal maka hak pengasuhan anak itu jatuh kepada walinya.

8. Tanya: Bagaimana proses pengambilan putusan yang terkait masalah

hadhanah kepada bapak ini?

Jawab: Ketika anak itu merasa nyaman bersama bapak, dan terdapat bukti

bahwa anak itu bisa dekat dengan bapaknya. Maka harus mementingkan kepentingan anak terlebih dahulu dari pada kepentingan orang tua masing-masing. Apalagi jika Majelis Hakim hanya memutus perkara hak asuh anak tersebut tanpa mementingankan anak, melainkan kepentingan orang tua. Maka tidak akan bisa dijamin tumbuh kembang anak, moral anak, pendidikan serta agama anak di masa depan.

Dokumen terkait