Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mendapat Gelar
Sarjana Syariah (S.Sy)
Oleh:
Imamatul Azimah
NIM : 107044102245
K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A PROGRAM STUDI AHWAL SYAKHSIYYAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)
Disusun Oleh :
IMAMATUL AZIMAH
NIM : 107044102245
Dibawah Bimbingan :
Drs. H. A. Basiq Djalil SH, MA NIP : 19500306 197603 1001
K O N S E T R A S I P E R A D I L A N A G A M A PROGRAM STUDI AHWAL SYAKHSIYYAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH
i
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
hukuman dan sangsi dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Jakarta, 5 April 2011
ii Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam, yang telah memberikan
rahmat dan kasih sayangnya kepada umat manusia yang ada di muka bumi ini,
khususnya kepada penulis. Shalawat serta salam kita sanjungkan kepada Nabi besar
Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan ummatnya hingga akhir zaman.
Dalam proses penyelesaian skripsi ini banyak rintangan dan hambatan yang
datang silih berganti. Namun berkat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak maka
segala kesulitan dan hambatan tersebut dapat diatasi dan tentunya dengan izin Yang
Maha Kuasa. Serta dengan wujud yang berbeda-beda dapat diminimalisir dengan
adanya nasihat-nasihat atau dukungan yang diberikan oleh keluarga dan teman-teman
penulis.
Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menghaturkan rasa
terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun
materil sehingga terselesaikannya skripsi ini. Kepada Bapak :
1. Prof. Dr. H. M. Amin Suma, SH., MA., MM. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta serta Pembantu Dekan I, II,
iii
penulis serta ibu Hj. Rosdiana, MA. Selaku sekretaris Jurusan Peradilan Agama
yang telah menjalankan fungsinya dengan baik.
3. Dosen-dosen Fakultas Syariah dan Hukum yang telah memberikan ilmu-ilmu
yang tak ternilai harganya, seluruh staff dan karyawan Perpustakaan Fakultas
Syariah dan Hukum, Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan
bagian Tata Usaha Fakultas Syariah dan Hukum yang telah memberikan
pelayanan dengan baik.
4. Terima kasih juga kepada Dr. H. Muhammad Taufiki, M.Ag., dan Dr. Hj.
Mesraini, M.Ag., yang telah menguji skripsi penulis dengan cermat kritik dan
saran yang penguji berikan sangat bermanfaat bagi penulis sehingga skripsi
penulis mempunyai tingkat kesempurnaan yang lebih baik.
5. Teristimewa untuk kedua orang tua penulis yaitu ayahanda H. Usman Khotib dan
ibunda Hj. Mu'inah Khoiriyyah yang telah memberikan motivasi dan arahan yang
tak pernah jenuh serta tak henti-hentinya mendoakan penulis dalam menempuh
pendidikan. Juga kepada saudara-saudara Isnaini, Muhammad Arif Rohman,
Imamul Hafidin, S.HI., dan adik penulis Ahmad Rifa'i Aidzin yang selalu
memberikan doa, dukungan dan semangat dengan penuh keikhlasan dan
iv
7. Keluarga Kuliah Kerja Nyata (KKN) Cikembulan Garut 2010 yang selalu
memberikan semangat dan hiburan kepada penulis.
8. Teman-teman Program Studi Peradilan Agama Angkatan 2007 (Syahri Fajriyyah
dan Kumala) yang terkenang dalam suka maupun duka serta memberikan
dukungan yang tidak terhingga kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mempunyai tingkat
kesempurnaan, banyak yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, saran dan kritik akan
penulis terima dengan baik. Dan mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya, pembaca pada umumnya serta dicatat sebagai amal baik di sisi
Allah SWT.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Ciputat, 5 April 2011
v
Kata Pengantar ………... ii
Daftar Isi ………..… v
BAB I PENDAHULUAN……… 1
A. Latar Belakang Masalah ……….……… 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………. 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………... 8
D. Tinjauan Kajian Terdahulu ………. 9
E. Metode Penelitian ……….……….. 12
F. Sistematika Penulisan ……….. 13
BAB II HADHANAH DALAM FIQH………... 15
A. Pengertian dan Dasar Hukum Hadhanah ……... 15
B. Syarat-syarat Hadhanah ……….……… 22
C. Pihak-pihak yang Berhak dalam Hadhanah ... 23
BAB III HADHANAH DALAM PERSPEKTIF PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA ……….…………... 29
A. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan 29 B. Kompilasi Hukum Islam …………..………...……... 31
vi
C. Pertimbangan Hakim ………... 46
D. Analisis Penulis... 50
BAB V PENUTUP ……….…….. 55
A. Kesimpulan ………. 55
B. Saran-saran ………..………. 56
DAFTAR PUSTAKA ……….…….... 57
LAMPIRAN – LAMPIRAN A. Surat Mohon Data/Wawancara ………..……… 60
B. Lembar Disposisi ……….…...……… 61
C. Surat Bukti Wawancara ………..……….. 62
D. Pedoman Wawancara Hakim ………..………. 63
E. Hasil Wawancara Hakim ………..…. 64
F. Struktur Organisasi dan Tata Kerja Pengadilan Agama Jakarta Selatan ...…………... 67
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pernikahan adalah suatu peristiwa yang sangat sakral dalam perjalanan
kehidupan umat manusia. Dikatakan sakral karena dalam akad pernikahan yang
dilangsungkan tersebut pihak suami mengucapkan akad nikah dimana dia dengan
suka rela telah menyatakan qabul dari ucapan ijab wali calon isteri. Sebab dalam
Kompilasi Hukum Islam Pasal 2 disebutkan "Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaaqan ghalizhan untuk menaati perintah Allah dan melakukannya merupakan ibadah".1
Ada beberapa definisi nikah yang dikemukakan para ahli fikih, namun
pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang berarti kecuali pada redaksinya saja.
Yakni:
1) Menurut ulama Hanafiyah: Nikah adalah akad yang disengaja
dengan tujuan mendapatkan kesenangan.
2) Menurut ulama Syafi„iyah: Nikah adalah akad yang mengandung
maksud untuk memiliki kesenangan (wathi‟) disertai lafadz nikah,
kawin atau yang semakna.
1
3) Menurut ulama Malikiyah: Nikah adalah akad yang semata-mata
untuk mendapatkan kesenangan dengan sesama manusia.
4) Menurut ulama Hanabilah: Nikah adalah akad dengan lafadz nikah
atau kawin untuk mendapatkan manfaat bersenang-senang.2
Dalam fikih dijelaskan bahwa nikah mengakibatkan kehalalan dalam
berjimak. Pernikahan merupakan jalan alami dan biologis yang paling baik untuk
menyalurkan dan memuaskan naluri seksual.3
Dari beberapa pengertian di atas, yang tampak adalah kebolehan hukum
antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk melakukan pergaulan yang
semula dilarang (yakni bersenggama). Dewasa ini, sejalan dengan perkembangan
zaman dan tingkat pemikiran manusia, pengertian nikah telah memasukkan unsur
lain yang berhubungan dengan nikah maupun yang timbul akibat dari adanya
pernikahan tersebut.4
Pernikahan juga merupakan jalan untuk menyalurkan naluri manusia untuk
memenuhi nafsu syahwatnya yang telah mendesak agar terjaga kemaluan dan
kehormatannya. Jadi pernikahan adalah kebutuhan fitrah manusia yang harus
2„Abd ar
-Rahman Al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-’Arba‘ah, (Beirut: Dar al Fikr, 2002), Cet. I. h. 3.
3
Sayyid Sabiq. Fiqh Sunnah. (Kairo: Daar al-Fath, 2000). Cet. Ke-1, Jilid I, h. 7.
4
dilakukan oleh setiap manusia. Begitu pentingnya pernikahan dalam Islam,
Rasulullah pun sangat menekankan pernikahan terhadap umatnya untuk
melaksanakan pernikahan.
Syariat Islam juga merupakan ajaran yang mengatur hubungan antara
sesama manusia maupun hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Tujuan
utama syariat adalah memelihara kesejahteraan manusia yang mencakup
perlindungan keimanan, kehidupan, akal, keturunan, dan harta benda mereka. Apa
saja yang menjamin terlindungnya lima perkara ini adalah maslahat bagi manusia
dan dikehendaki. Melindungi keturunan salah satu dari lima hal yang harus dijaga
oleh manusia.5
Orang yang lebih berkewajiban mengasuh anak adalah ibu.6 Karena anak
dimasa kecil membutuhkan kasih sayang yang lebih, pemeliharaan yang optimal
agar tumbuh kembang anak tersebut terpelihara.
Yang dimungkinkan bapak sibuk untuk mencari nafkah, maka ibulah yang
berkewajiban untuk memeliharanya. Oleh karena itu Islam memeberikan
kewajiban hadhanah itu kepada ibu. Serta mewajibkan suaminya untuk menafkahi
anak dan ibu dari anak tersebut.
5
Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqih Munakahat, (Jakarta: CV. Pustaka Setia, 1999). h. 171.
6
Hadhanah merupakan hak bagi anak-anak yang masih kecil, karena ia
membutuhkan pengawasan, penjagaan, pelaksanaan urusannya dan orang yang
mendidiknya.
Apabila dua orang suami bercerai sedangkan keduanya mempunyai
seorang anak yang belum mumayyiz (belum mengerti kemaslahatan dirinya), maka istrilah yang berkewajiban untuk mendidik dan merawat anak itu hingga ia
mengerti akan kemaslahatan dirinya.7
Bila salah seorang ibu dan ayah itu ingin melakukan perjalanan yang akan
kembali pada waktunya, sedangkan yang satu lagi menetap di tempat lebih berhak
mendapatkan hadhanah. Alasannya ialah, bahwa perjalanan itu mengandung resiko
dan kesulitan bagi si anak. Oleh karena itu menetap lebih baik karen atidak ada
resiko tersebut bagi si anak.8
Dalam hal pindah tempat juga ulama berbeda pendapat. Menurut ulama
Hanafiyah bila yang melakukan pindah tempat adalah ayah, maka ibu lebih berhak
atas hadhanah. Bila ibu yang pindah ke tempat dilaksanakan pernikahannya dulu,
ibu yang lebih berhak tapi bila ke tempat lain, maka ayahlah yang berhak. Ulama
7
Sulaiman Rasyid. Fiqh Islam. (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2003). Cet. 3. h. 426.
8
lainnya termasuk Imam Malik dan al-Syafi'i yang berhak atas hadhanah dalam
keadaan pindah tempat adalah ayah.9
Muderis Zaini berpendapat bahwa keluarga mempunyai peranan penting
dalam kehidupan manusia sebagai manusia sosial dan merupakan masyarakat kecil
yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak.10
Dalam melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab dalam rumah tangga,
mereka harus saling membantu, saling pengertian, saling membina, agar keutuhan
itu tetap harmonis dan terlaksana, maka haruslah ada komunikasi yang baik dan
efektif antara anggota keluarga.
Akan tetapi sebaliknya, jika dalam suatu keluarga tidak ada komunikasi
yang baik maka kan timbul permasalahan dan semua akan berdampak pada
psikologi seorang anak. Diantara hal yang akan terjadi adalah anak akan menjadi
stress, perubahan fisik dan mental, yang semua itu akan berdampak timbulnya
kecemasan dalam diri seorang anak. Selain itu dampak yang akan terjadi hilangnya
hak anak dan kepentingan anak, seperti kasih sayang dari sebuah keluarga yang
utuh dan tingkat kecerdasan anak demi pengembangan diri mulai terabaikan. Ini
semua disebabkan orang tua yang sibuk meyalahkan siapa yang menjadi awal
9
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan.h. 332.
10
penyebab dari keretakan rumah tangganya dan semua itu akan berujung kepada
perceraian.11
Perceraian memang berpangkal pada perselihan antara suami dan istri.
Salah satu pihak menghendaki perceraian, oleh karena pihak yang lain berbuat
sesuatu yang menyebabkan hubungan keluarga goyang.12 Dalam pasal 116 KHI
menyebutkan ada beberapa alasan yang dapat menyebabkan perceraian
diantaranya bahwa salah satu pihak berbuat zina, salah satu pihak melakukan
kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain, antara suami
istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan
akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
Perceraian mengakibatkan putusnya hubungan ikatan pernikahan antara
suami dan isteri, begitu juga hubungan orang tua dan anak yang berubah menjadi
pengasuhan. Karena itu, jika pernikahan dipecahkan oleh hakim maka harus pula
diatur tentang pemeliharaan terhadap anak terutama anak yang masih dibawah
umur.
Menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 105 (a): pemeliharaan anak yang
belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. Akan tetapi
dalam kasus perceraian pada putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor:
11
Muderis Zaini, Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sistem Hukum, h. 8.
12
0305/Pdt.G/2010/PAJS bahwa hak pemeliharaan anaknya yang masih dibawah
umur jatuh ke pihak bapak bukan berada di pihak ibu seperti sebagaimana yang
diatur dalam pasal 105 (a) Kompilasi Hukum Islam (KHI).
Berdasarkan uraian diatas, penulis mencoba meninjau lebih dalam
mengenai hadhanah seorang anak kepada bapaknya setelah perceraian orang
tuanya, dalam bentuk skripsi dengan judul "Hak Asuh Anak Kepada Bapak Akibat Perceraian (Analisis Putusan Pengadilan Agama Nomor: 0305/Pdt.G/2010/PA.JS)".
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1) Pembatasan Masalah
Jika dilihat dari latar belakang masalah, ternyata permasalahan yang
ada begitu luas. Agar dalam penelitian masalah ini tidak terlalu melebar dan
dapat terarah serta tersusun secara sistematis, maka penulis membatasi
permasalahan dalam hal apa yang menjadi pertimbangan hakim tentang hak
pemeliharaan anak akibat perceraian yang diperoleh bapak.
2) Perumusan Masalah
Menurut Kompilasi Hukum Islam dan Undang-undang No. 1 Tahun
1974 Tentang Perkawinan bahwa pemeliharaan anak yang dibawah umur
ketika terjadi perceraian adalah jatuh pada ibu. Akan tetapi pada
kenyataannnya terdapat kasus perkara dimana hak-hak asuh anak jatuh kepada
Rumusan tersebut penulis rinci dalam beberapa pertanyaan sebagai
berikut:
1. Siapakah yang berhak menurut hukum atas pemeliharaan anak sebagai
akibat terjadinya perceraian dari kedua orang tuanya?
2. Apakah hakim memperhatikan masalah anak disaat membuat
pertimbangan dalam memutus perkara?
3. Apakah yang menjadi pertimbangan majelis hakim Pengadilan Agama
Jakarta Selatan dalam memutus hak asuh anak kepada bapak sebagai akibat
perceraian?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini tidak lain untuk turut serta
memberikan kontribusi peneliti terhadap wacana, pemikiran, kajian dan praktik
kehidupan rumah tangga yang sedang berlangsung. Adapun tujuan khusus
penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pihak yang berhak menurut hukum atas pemeliharaan
anak sebagai akibat terjadinya perceraian dari kedua orang tuanya
2. Untuk mengetahui gambaran hakim dalam memperhatikan masalah anak
3. Untuk mengetahui pertimbangan majelis hakim Pengadilan Agama Jakarta
Selatan dalam memutus hak asuh anak kepada bapak sebagai akibat
perceraian.
Adapun manfaat yang diharapkan oleh penulis dari penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Memberi masukan dalam bidang munakahat bagi kalangan ibu-ibu,
mahasiswa yang sudah menikah dan mempunyai anak dan orang tua
lainnya.
2. Sebagai dokumentasi ilmiah di dalam maupun di luar kampus.
3. Dapat memberikan informasi serta pengetahuan lebih mendalam kepada
penulis terkait dengan hadhanah.
D. Tinjauan Kajian Terdahulu
Berdasarkan penulusuran yang telah penulis lakukan di Fakultas Syariah
dan Hukum, maka terdapat beberapa skripsi dengan tema yang sama, diantaranya:
1. Hak Hadhanah Ghairu Mumayyiz Kepada Ayah Karena Perdamaian. Pada
tahun 2009. Oleh Widya Eka Rachmawati.
Skripsi ini berisi tentang hak pemeliharaan anak akibat perceraian yang
dipandang menurut fikih dan Kompilasi Hukum Islam. Skripsi ini menjelaskan
tentang pengasuhan anak kepada bapaknya karena sudah terdapat perdamaian
dan perjanjian sebelumnya oleh kedua ornag tua tentang siapa yang mendapat
2. Hak Pemeliharaan Anak Akibat Perceraian Menurut Hukum Islam dan Hukum
Perdata. Pada tahun 2005. Oleh Rini Zaitun.
Bahwa didalam penulisan Skripsi ini hanya berisi tentang hak-hak dalam
pemeliharaan anak akibat perceraian menurut Hukum Islam dan Hukum
Perdata. Dimana dijelaskan antara hak orang tua dengan hak anak.
3. Penyelesaian Perkara Perceraian Bersama Dengan Gugatan Pengasuhan Anak.
Pada tahun 2006. Oleh Ariyanih.
Di dalam Skripsi ini lebih melihat efisiensi gugatan perceraian dan gugatan
pengasuhan anak yang diajukan secara bersamaan. Skrispi ini menjelaskan
alasan hakim memberikan putusan dalam bentuk talak raj'i.
4. Hak Anak Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif. Pada tahun 2006. Oleh
Hilaluddin Safary.
Skripsi ini memaparkan hak anak dalam hukum Islam dan hukum Positif.
Kemudian bentuk hak-hak anak serta adanya persamaan dan perbedaan hak
anak menurut hukum Islam dan hukum Positif.
5. Hadhanah Menurut Perspektif Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi‟i serta
Prakteknya di Pengadilan Agama Jakarta Selatan (Studi Putusan Pengadilan
Agama Nomor: 1185/Pdt.G/2006/PA Jakarta Selatan). Pada tahun 2008. Oleh
Sabaruddin.
Di dalam Skripsi ini menjelaskan tentang pemikiran Abu Hanifah dan Imam
dibawah umur secara praktisi menurut Hakim Pengadilan Agama Jakarta
Selatan.
6. Hak Hadhanah Bagi Ibu yang Mengidap Penyakit Menular (HIV/AIDS). Pada
tahun 2008. Oleh Rizka Damayanti.
Skripsi ini menjelaskan tentang hak penderita AIDS dalam kaitannya dengan
hadhanah dan penyebab penyakit HIV/AIDS serta gejala-gejalanya, cara
penularannya dan bagaimana cara pencegahannya.
7. Hak Hadhanah Terhadap Ibu Wanita Karir (Analisa Putusan Perkara Nomor:
458/Pdt.G/2006/Pengadilan Agama Depok). Pada tahun 2010. Oleh
Mochammad Anshory.
Skripsi ini menjelaskan tentang hak seoarng ibu sebagai wanita karir tetapi
tidak mampu mangasuh anaknya sehingga diserahkan kepada neneknya yang
beragama protestan.
Dari beberapa judul skripsi di atas, sudah jelas berbeda pembahasannya
dengan skripsi yang akan dibahas oleh penulis. Penulis akan mencoba
menganalisis yurisprudensi putusan Majelis Hakim tentang “Hak Asuh Anak
Kepada Bapak Akibat Perceraian.”
Adapun kajian pustaka yang digunakan dari penulisan ini adalah;
1. Sumber primer, yaitu wawancara langsung dari seorang Hakim yang memutus
2. Sumber skunder yaitu buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang ada dan
penulis data-data memperolehnya dari Pengadilan Agama Jakarta Selatan
Nomor 0305/Pdt.G/2010/PAJS.
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah jenis penelitian kualitatif,
dengan pendekatan yuridis. Data kualitatif pada umumnya dalam bentuk
pernyataan kata-kata atau gambaran tentang sesuatu yang dinyatakan
dalam bentuk penjelasan dengan kata-kata atau tulisan.
2. Sumber Data
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dari Pengadilan Agama berupa
putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
2. Data Skunder
Data skunder merupakan data yang diperoleh dari kepustakaan.13
3. Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang diperoleh meliputi transkip interview dari
wawancara dengan hakim yang memutus perkara tersebut, catatan
13
lapangan, dokumen pribadi dan lain-lain.
4. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menggunakan
analisa kualitatif dengan pendekatan konten analisis yaitu menganalisis isi
dengan mendeskripsikan putusan hak asuh anak kepada bapak akibat
perceraian dan menghubungkan hasil wawancara.
5. Teknik Penulisan
Teknik penulisan skripsi ini menggunakan buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahun 2007”.
F. Sistematika Penulisan
Dalam sistematika penulisan ini, penulis membagi menjadi beberapa
uraian yang diantaranya mempunyai beberapa sub-sub bab dan masing-masing bab
itu saling terkait satu sama lainnya, sehingga membentuk rangkaian kesatuan
pembahasan.
Bab pertama merupakan pendahuluan dimana dikemukakan suatu latar
belakang masalah, perumusan dan pembatasan masalah, tujuan dan manfaat
Bab kedua memuat mengenai pengertian hadhanah, dasar hukum
hadhanah, sebab-sebab terjadinya hadhanah, syarat-syarat hadhanah, dan
pihak-pihak yang berhak dalam hadhanah.
Bab ketiga memuat mengenai hadhanah dalam perspektif
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam dan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Bab keempat mengenai analisis putusan Pengadilan Agama Jakarta
Selatan tentang hak asuh anak kepada bapak akibat perceraian. Yang terdiri dari
profil Pengadilan Agama Jakarta Selatan, duduknya perkara, pertimbangan hakim
dan analisis penulis.
HADHANAH DALAM FIQH
A. Pengertian dan Dasar Hukum Hadhanah
Secara etimologis hadhanah ini berarti “disamping” atau berada “dibawah
ketiak”.1
Hadhanah berasal dari kata نضتْحا ـ ًا ْضح - نضْحي - نضح, yang artinya
pemeliharaan atau pengasuhan.2
Sedangkan secara terminologisnya, hadhanah adalah merawat dan
mendidik seseorang yang belum mumayyiz atau yang kehilangan kecerdasannya,
karena mereka tidak bisa memenuhi keperluannya.3
Para ulama sepakat bahwasanya hukum hadhanah, mendidik dan merawat
anak wajib. Tetapi mereka berbeda dalam hal, apakah hadhanah ini menjadi hak
orang tua (terutama ibu) atau hak anak.4
Ulama Mazhab Hanafi dan Maliki, misalnya berpendapat bahwa hak
hadhanah itu menjadi hak ibu sehingga ia dapat saja menggugurkan haknya. Tetapi
menurut jumhur ulama, hadhanah itu menjadi hak bersama antara orang tua dan
anak.
1
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999), Jilid 2. h. 415.
2
Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990), h. 104.
3
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h. 326.
4
antara ibu, ayah dan anak. Jika terjadi pertengkaran maka yang didahulukan adalah
hak atau kepentingan si anak.
Menurut Amir Syarifuddin, pengertian Hadhanah di dalam istilah fikih
digunakan dua kata namun ditunjukkan untuk maksud yang sama yaitu kafalah
dan hadhanah.5
Yang dimaksud dengan hadhanah dan kafalah dalam arti sederhana adalah “pemeliharaan” atau “pengasuhan”. Dalam arti yang lebih lengkap adalah
pemeliharaan anak yang masih kecil setelah terjadi putusnya perkawinan. Hal ini
dibicarakan dalam fikih karena secara praktis antara suami dan istri telah terjadi
perpisahan sedangkan anak-anak memerlukan bantuan dari ayah dan/atau ibunya.
Hadhanah yang dimaksud adalah kewajiban orang tua untuk memelihara
dan mendidik anak mereka dengan sebaik-baiknya. Pemeliharan ini mencakup
masalah pendidikan dan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan pokok si anak.6
Pemeliharaan anak juga mengandung arti sebuah tanggung jawab orang tua
untuk mengawasi, memberi pelayanan yang semestinya serta mencukupi
kebutuhan hidup dari seorang anak oleh orang tua.
Selanjutnya, tanggung jawab pemeliharaan berupa pengawasan dan
pelayanan serta pencukupan nafkah anak tersebut bersifat berkelanjutan sampai
5 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h. 327.
6
mampu berdiri sendiri.7
Kompilasi Hukum Islam Pasal 105 (a) menyebutkan bahwa batas
mumayyiz seorang anak adalah berumur 12 tahun.8 Sedangkan Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyebutkan bahwa anak dikatakan
mumayyiz jika sudah berusia 18 tahun atau telah melangsungkan pernikahan.9
Beberapa ulama Mazhab berselisih pendapat mengenai masa asuh anak.
Imam Hanafi berpendapat masa asuhan adalah tujuh tahun untuk lelaki dan
sembilan tahun untuk perempuan. Imam Hanbali berpendapat masa asuh anak
lelaki dan perempuan adalah tujuh tahun dan setelah itu diberi hak untuk memilih
dengan siapa ia akan tinggal.10 Menurut Imam Syafi'i berpendapat bahwa batas
mumayyiz anak adalah jika anak itu sudah berumur tujuh atau delapan tahun.
Sedangkan Imam Malik memberikan batas usia anak mumayyiz adalah 7 tahun.11
Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan adalah kewajiban orang tua
untuk memberikan pendidikan dan pengajaran yang memungkinkan anak tersebut
7
Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata Islam di Indonesia. h. 293.
8
Abdurahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo, 2007), h. 138.
9
Lihat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pasal 47.
10
http://dunia-dalamkata.blogspot.com/2010/06/pemeliharaan-anak-hadhonah.html
11
dengan kemampuan dan kecakapan sesuai dengan pembawaan bakat anak tersebut
yang akan dikembangkannya di tengah-tengah masyarakat Indonesia sebagai
landasan hidup dan penghidupannya setelah ia lepas dari tanggung jawab orang
tua.12
Menurut Sayyid Sabiq, hadhanah diartikan sebagai lambung. Yang
diartikan dengan “Burung itu mengeram telur di bawah sayapnya”. Begitu pula
dengan perempuan (ibu) yang memelihara anaknya.13
Beranjak dari ayat-ayat al-Qur’an seperti yang terdapat di dalam surat
Luqman ayat 12-19, setidaknya ada delapan nilai-nilai pendidikan yang harus
diajarkan orang tua kepada anaknya seperti berikut ini:
1. Agar senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT.
2. Tidak mensyariatkan Allah dengan sesuatu yang lain.
3. Berbuat baik kepada orang tua, sebagai bukti kesyukuran anak.
4. Mempergauli orang tua secara baik-baik (ma’ruf).
5. Setiap perbuatan apapun akan mendapatkan balasan dari Allah SWT.
6. Menaati perintah Allah SWT seperti shalat, amar ma’ruf dan nahi munkar,
serta sabar dalam menghadapi berbagai cobaan.
7. Tidak sombong dan angkuh.
12
Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata Islam di Indonesia. h. 294.
13
Menurut Kamal Muchtar “Hadhanah”, berasal dari perkataan “al-hidl”
berarti rusuk.15 Menurut penulis, proses pemeliharaan anak dan pendidikannya
akan dapat berjalan dengan baik, jika kedua orang tua saling bekerja sama dan
saling membantu. Tentu saja ini dapat dilakukan dengan baik jika keluarga
tersebut benar-benar keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah.
Sebenarnya sejak dahulu masalah persengketaan orang tua mengenai anak
ini, telah mendapat pengaturan hukum adat. Contohnya, dapat kita temui secara
faktual pada masyarakat hukum data yang menganut sistem kekeluargaan
matrilineal. Pada masyarakat ini penguasaan anak tidak diberikan pada ayah atau
keluarga ayahnya, akan tetapi pada ibu atau pada saudara laki-laki si ibu,
sedangkan bagi masyarakat yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal
ditekankan pada pihak bapaknya.
Demikian hukum dari praktek hadhanah itu sendiri wajib bagi kedua orang
tuanya, sebagaimana wajib memeliharanya selama berada dalam ikatan
perkawinan. Oleh karena itu, anak yang diasuh akan terancam masa depannya
apabila tidak dapat pengasuh dan pemeliharaan dari orang tua maka dari itu wajib
bagi hadhin (pengasuh) untuk menjaganya, sebagaimana kewajiban memberikan
nafkah kepadanya serta menjauhkannya dari keburukan dan bahaya. Adapun yang
14
Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata Islam di Indonesia. h. 295.
15
SWT surat at-Tahrim ayat 6 yang berbunyi sebagai berikut:
)
مي رحتلا
:
(
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Adapun dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pengertian hadhanah juga
telah dirumuskan di dalam pasal 1 huruf (g) bahwa yang dimaksud dengan
pemeliharaan dan mendidik anak hingga dewasa atau mampu berdiri sendiri.16
Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) ini, hadhanah (pemeliharaan) anak
dipegang oleh ibu yang telah diceraikan oleh suaminya. Akan tetapi kalau sang
istri sudah menikah lagi dengan laki-laki lain maka gugurlah hak pemeliharaan
anak dari si ibu tadi.
Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada pasal 105 (a) yang mengatur tentang
hak asuh anak berbunyi sebagai berikut:
Pasal 105:
16
a. Pemeliharaan anak yang ghairu mumayyiz atau belum berumur 12 tahun, adalah hak ibunya;
b. Pemeliharaan yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai hak pemeliharaan anak;
c. Biaya pemeliharaan ditanggung ayahnya.17
Umar bin Syu'aib meriwayatkan dari ayahnya, bahwa : Seorang perempuan
datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata : "Ya Rasulullah, anak ini telah ku kandung di rahimku, telah kususui dengan air susuku, telah bernafas dikamarku, Ayahnya (suamiku) menceraiku dan menghendaki anak ini dariku".18
Rasulullah bersabda kepadanya :
ْيحكْت ْملام ب قحا تْنا
.
)
ْْدواد ْيبأ اور
(.
19
Artinya: "Kamu lebih berhak (memeliharanya) dari pada ia (suamimu) sebelum kamu menikah lagi". (HR. Abi Dawud).
Kalau anak sudah mumayyiz (bisa membedakan antara yang benar maupun
salah), ia bebas memilih ikut ayah atau ibunya. Sebab keduanya mempunyai hak
untuk memelihara dan anak mempunyai hak untuk memilih.
17
Abdurahman Kompilasi Hukum Islamdi Indonesia, h. 138.
18
Sayyid Sabiq. Fiqh Sunnah (Terjemahan), (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), Jilid III, Cet. Ke-1, h. 240.
19
B. Syarat-Syarat Hadhanah
Seorang Hadhin (ibu asuh) yang menangani dan menyelenggarakan kepentingan anak kecil yang diasuhnya, haruslah memilki kecukupan dan
kecakapan. Kecukupan ini memerlukan syarat-syarat tertentu. Jika syarat-syarat
tertentu ini tidak terpenuhi satu saja, gugurlah kebolehan menyelenggarakan
hadhanah.20 Adapun syarat-syaratnya ialah sebagai berikut:
Berakal Sehat.
Dengan demikian maka tidak boleh diserahkan anak untuk diasuh kalau si ibu
gila, baik sifatnya gila terus-menerus ataupun putus-putus.
Merdeka
Perempuan hamba sahaya tidak berhak mengasuh kendati mancapai izin
tuannya.
Sudah Dewasa. Orang yang belum dewasa tidak akan mampu melakukan tugas
yang berat itu, karenanya belum dikenai kewajiban dan tindakan yang
dilakukannya itu belum dinyatakan memenuhi persyaratan.
Mampu mendidik. Orang yang buta, sakit menular, atau sakit yang
melemahkan jasmaninya tidak boleh menjadi pengasuh untuk mengurus
kepentingan anak kecil, juga tidak berusia lanjut yang bahkan ia sendiri belum
20
anak kecil yang diurusnya.
Amanah dan berbudi. Orang yang curang tidak aman bagi anak kecil dan ia
tidak dapat dipercaya untuk bisa menunaikan kewajibannya dengan baik.
Beragama Islam. Disyaratkan oleh kalangan Mazhab Syafi’iyah dan
Hanabilah. Oleh karena itu, bagi seorang kafir tidak ada hak untuk mengasuh
anak yang muslim, karena akan ditakutkan akan membahayakan aqidah anak
tersebut.21
Adapun syarat untuk anak yang diasuh (mahdhun) itu adalah:
Si anak masih berada dalam usia kanak-kanak dan belum dapat berdiri sendiri
dalam mengurus hidupnya sendiri.
Si anak berada dalam keadaan tidak sempurana akalnya. Oleh karena itu, dapat
berbuat sendiri, meskipun telah dewasa seperti orang idiot. Orang yang telah
dewasa dan sehat sempurna akalnya tidak boleh berada dibawah pengasuh
apapun.22
C. Pihak-Pihak Yang Berhak dalam Hadhanah
Jika pasangan suami istri bercerai yang dari hubungan mereka
menghasilkan anak yang masih kecil, maka istrilah yang paling berhak
21
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah (Terjemahan), h. 241.
22
biasanya lebih telaten dan sabar.23
Selama waktu itu, hendaklah si anak tinggal bersama ibunya selama ibunya
belum menikah dengan laki-laki lain. Meskipun anak itu tinggal bersama ibunya,
tetapi nafkahnya menjadi kewajiban ayahnya.24
Jika si anak tersebut sudah mumayyiz dan mampu menjaga dirinya sendiri,
maka perlu adanya pihak berwajib untuk melakukan penyelidikan, siapakah
diantara keduanya yang lebih berhak dan lebih pandai untuk memelihara anak
tersebut. Pada saat itu, anak diserahkan kepada pihak yang lebih cakap untuk
merawat dan memeliharanya.
Tetapi kalau keduanya sama, maka anak itu harus disuruh memilih siapa
diantara keduanya yang lebih ia suka. Dalam Syarh As-sunnah disebutkan: “Jika
seorang suami menceraikan istrinya, sedangkan diantara mereka terdapat anak
yang masih dibawah tujuh tahun, maka ibunya lebih berhak kepadanya. Dan jika
istrinya tidak berkeinginan memelihara anaknya, maka bapaknya berkewajiban
membayar wanita lain untuk mengasuhnya. Dan jika istrinya itu tidak dapat
dipercaya atau kafir, sedangkan bapaknya muslim, maka tidak hak bagi istrinya
untuk memelihara anaknya”.25
23
Syaikh Hassan Ayyub, Fikih Keluarga, h. 451.
24
Syaikh Hassan Ayyub, Fikih Keluarga, h. 451.
25
anaknya. Tetapi bagaimanapun juga suatu hal yang mustahil pelaksanaan dan
pemeliharaan itu dilakukan secara bersama serta harus dicari cara untuk
melaksanakan hubungan dari hak yang sama. Supaya jangan terjadi pembenturan
dan peperangan dalam pelaksanaan pemeliharaan anak.
Sebagaimana hak pengasuh pertama diberikan kepada ibu, maka para ahli
fikih menyimpulkan bahwa keluarga ibu dari seorang anak lebih berhak daripada
keluarga bapaknya. Urutan mereka yang berhak mengasuh anak adalah sebagai
berikut:
1) Ibu
2) Nenek dari pihak ibu dan terus keatas
3) Nenek dari pihak ayah
4) Saudara kandung anak tersebut
5) Saudara perempuan seibu
6) Saudara perempuan seayah
7) Anak perempuan dari saudara perempuan sekandung
8) Anak perempuan dari saudara perempuan seayah
9) Saudara perempuan ibu yang sekandung
10)Saudara perempuan yang seibu dengannya (bibi)
11)Saudara perempuan ibu yang seayah dengannya (bibi)
12)Anak perempuan dari saudara perempuan seayah
15)Anak perempuan dari laki-laki seayah
16)Bibi yang sekandung dengan ayah
17)Bibi yang seibu dengan ayah
18)Bibi yang seayah dengan ayah
19)Bibi dari pihak ibu
20)Bibi ayah dari pihak ibunya
21)Bibi ibu dari pihak ayahnya
22)Bibi ayah dari pihak ayah.26
Apabila anak tersebut tidak mempunyai kerabat perempuan dari kalangan
mahram atas, atau ada tapi tidak bisa mengasuhnya, maka pengasuhan akan
beralih kepada kerabat laki-laki yang masih mahramnya atau masih ada hubungan
darah (nasab) yang sesuai dengan urutan masing-masing dalam persoalan waris
sebagai berikut:
1) Ayah kandung anak
2) Kakek dari pihak ayah dan terus keatas
3) Saudara laki-laki sekandung
4) Saudara laki-laki seayah
5) Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung
6) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah
26
8) Paman yang seayah dengan ayah
9) Pamannya ayah yang sekandung
10)Pamannya ayah yang seayah dengan ayah.27
Jika tidak ada seorangpun kerabat dari mahram laki-laki atau tidak bisa
mengasuh anak, maka hak pengasuh anak itu beralih mahram-mahramnya yang
laki-laki selain kerabat dekat, yaitu:
1) Ayah ibu (kakek)
2) Saudara laki-laki seibu
3) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu
4) Paman yang seibu dengan ayah
5) Paman yang sekandung dengan ibu
6) Paman yang seayah dengan ayah.28
Menurut pendapat Imam Hanafi dalam salah satu riwayatnya: Ibu lebih
berhak atas anaknya hingga anak itu besar dan dapat berdiri sendiri dalam
memenuhi keperluan sehari-hari seperti makan, minum, pakaian, beristinjak, dan
berwudhu. Setelah itu, bapaknya lebih berhak memeliharanya. Untuk anak
perempuan, ibu lebih berhak memeliharanya hingga ia dewasa, dan tidak diberi
pilihan.
27
Sayyid Sabiq. Fiqh Sunnah. h. 290.
28
hingga ia menikah dengan orang laki-laki dan disetubuhinya. Untuk anak laki-laki
juga seperti itu, menurut pendapat Maliki yang masyhur, adalah hingga anak itu
dewasa.29
Imam Syafi’i berkata: Ibu lebih berhak memeliharanya, baik anak itu
laki-laki maupun perempuan, hingga ia berusia tujuh tahun. Apabila anak tersebut
telah mencapai usia tujuh tahun maka anak tersebut diberi hak pilih untuk ikut
diantara ayah atau ibunya.
Imam Hambali dalam hal ini mempunyai dua riwayat: Pertama, ibu lebih berhak atas anak laki-laki sampai ia berumur tujuh tahun. Setelah itu, ia boleh
memilih ikut bapaknya atau masih tetap bersama ibunya. Sedangkan untuk anak
perempuan, setelah ia berumur tujuh tahun, ia terus tetap bersama ibunya, tidak
boleh diberi pilihan. Kedua, seperti pendapatnya Imam Hanafi, yaitu ibu lebih berhak atas anaknya hingga anak itu besar dan berdiri sendiri dalam memenuhi
keperluan sehari-hari sepeti makan, minum, pakaian, beristinjak, dan berwuduk.
Setelah itu, bapak lebih berhak memeliharanya. Untuk anak perempuan, ibu yang
lebih berhak memeliharanya hingga ia dewasa dan tidak diberi pilihan.
29
HADHANAH DALAM PERSPEKTIF PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA
A. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan telah
disebutkan tentang hukum penguasaan anak secara tegas yang merupakan rangkaian
dari hukum perkawinan di Indonesia, akan tetapi hukum penguasaan anak itu belum
diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 secara luas dan rinci. Oleh
karena itu, masalah hadhanah ini belum dapat diberlakukan secara efektif sehingga
pada kehakiman di lingkungan Peradilan Agama pada waktu itu masih merujuk pada
hukum hadhanah dalam kitab-kitab fikih.
Baru setelah diberlakukan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang
Peradilan Agama, dan Inpres Nomor 1 Tahun 1991 Tentang Penyebar Luasan
Kompilasi Hukum Islam, masalah hadhanah menjadi hukum positif di Indonesia dan
Peradilan Agama diberi wewenang untuk menyelesaikannya.1
Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 terdapat beberapa pasal yang
menjelaskan hak dan kewajiban antara orang tua dan anak seperti pada Pasal 45
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyebutkan bahwa:
1
mereka sebaik-baiknya.
2) Kewajiban tersebut berlaku sampai anak itu menikah atau dapat berdiri sendiri dan kewajiban tersebut berlaku terus meskipun pernikahan antara kedua orang tua putus.2
Mengenai batas kewajiban pemeliharaan dan pendidikan ini berlaku sampai
anak tersebut berumah tangga atau dapat berdiri sendiri dan kewajiban tersebut
berlangsung terus-menerus meskipun pernikahan orang tuanya bercerai.
Pasal 47 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
mengatur mengenai kekuasaan orang tua terhadap kekuasaan anak dibawah umur,
dimana disebutkan bahwa:
Pasal 46:
1) Anak wajib menghormati orang tua dan menaati kehendak mereka yang baik.
2) Jika anak yang telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orang
tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas bila mereka itu memerlukan
bantuannya.
Pasal 47:
1) Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau yang belum
pernah melangsungkan pernikahan ada dibawah kekuasaan orang tuanya selama
mereka tidak dicabut dari kekuasaannya.
2) Orang tua mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam
dan di luar pengadilan.3
2
Lihat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pasal 45.
3
tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau belum
pernah melangsungkan perkawinan, kecuali apabila kepentingan anak itu
menghendakinya.
Pasal 49:
1) Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus keatas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang, dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal:
a. Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya; b. Ia berkelakuan buruk sekali.
2) Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.
Ketentuan tersebut pun tetap berlaku meskipun pernikahan orang tuanya
putus. Jadi dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,
kekuasaan orang tua itu dapat dicabut jika orang tuanya sangat melalaikan
kewajibannya terhadap anaknya dan salah satu orang tuanya berkelakuan buruk
sekali. Tetapi meskipun kekuasaannya dicabut mereka masih berkewajiban memberi
pemeliharaan dan mengasuh anaknya tersebut.
B. Menurut Kompilasi Hukum Islam
Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) masalah pemeliharaan anak atau
yang dalam Islam disebut Hadhanah diatur dalam beberapa pasal di dalamnya, seperti
yang terdapat pada Pasal:
Pasal 105:
c. Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.
Dalam Inpres Nomor 1 Tahun 1991 Tentang Penyebarluasan Kompilasi
Hukum Islam, mengenai hadhanah menjadi hukum positif di Indonesia dan Peradilan
Agama diberi wewenang untuk menyelesaikannya. Hadhanah merupakan sebagai
salah satu akibat putusnya perkawinan diatur secara panjang lebar oleh KHI dan
materinya hampir keseluruhannya mengambil dari fiqh menurut para jumhur ulama, khususnya Syafi’iyah. Kompilasi Hukum Islam kaitannya dengan masalah ini membagi ada dua periode bagi anak yang perlu dikemukakan yaitu:
Periode Sebelum Mumayyiz
Apabila terjadi perceraian dimana telah diperoleh keturunan dalam
perkawinan itu dan pada masa tersebut seorang anak belum lagi mumayyiz atau
belum bisa membedakan antara yang bermanfaat dan yang berbahaya bagi dirinya,
maka anak tersebut dikatakan belum mumayyiz. KHI menyebutkan pada bab 14
masalah pemeliharaan anak pasal 98 menjelaskan bahwa “batas usia anak dalam
pengawasan orang tuanya adalah sampai usia anak 21 tahun selama belum melakukan
pernikahan”. Pada pasal 105 ayat (a) bahwa pemeliharaan anak yang belum
mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. Kemudian KHI lebih
memperjelas lagi dalam pasal 156, merumuskan sebagai berikut:
Pasal 156:
Akibat putusnya perkawinan karena perceraian adalah:
a. Anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dari ibunya, kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh:
1. Wanita-wanita garis lurus keatas dari ibu. 2. Ayah.
7. Anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk mendapatkan hadhanah
dari ayah atau dari ibunya.
8. Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah juga;
9. Semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurusi diri sendiri (21 tahun);
10.Bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan nafkah anak, Pengadilan Agama yang memberikan putusan yaitu berdasarkan huruf (a), (b), (c), dan (d);
11.Pengadilan dapat pula dengan mengingatkan kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang turut padanya.4
Periode Mumayyiz
Pada masa ini seorang anak secara sederhana telah mampu membedakan
mana yang berbahaya dan mana yang bemanfaat bagi dirinya. Oleh sebab itu, ia
sudah dianggap dapat menjatuhkan pilihannya sendiri apakah ikut ibunya atau ikut
ayahnya. Dengan demikian ia diberi hak pilih menentukan sikapnya. Hal ini telah
diatur dalam KHI Pasal 105 ayat (b) bahwa “Pemeliharaan anak yang sudah
mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya”, dan juga terdapat dalam pasal 156 ayat (b) yang menyebutkan bahwa anak diberi pilihan untuk ikut dalam asuhan ibu atau ayah.
Berakhirnya masa asuhan adalah pada waktu anak itu sudah bisa ditanya
kepada siapa dan akan terus ikut. Batas usia anak dalam pengawasan orang tuanya
adalah sampai usia anak 21 tahun selama belum melakukan pernikahan (Pasal 98
4
itu, kalau anak itu memilih ikut ayahnya maka hak mengasuh pindah pada ayah.
Sebagaimana pasal 98 Kompilasi Hukum Islam (KHI) adalah:
Pasal 98:
1) Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun, sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsunngkan pernikahan.
2) Orang tuanya mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan diluar Pengadilan.
3) Pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang mampu menunaikan kewajiban tersebut apabila kedua orang tuanya tidak mampu.5
C. Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Kewajiban dan tanggung jawab keluarga dan orang tua diatur dalam Pasal
26 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan
Anak. Pasal 26 yang berbunyi:
Pasal 26:
1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: a. Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak
b. Menumbuhkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya c. Dan mencegah terjadinya pernikahan pada usia anak.
2) Dalam hal orang tua tidak ada atau karena suatu kewajiban dan tanggung jawabnya maka kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat beralih kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.6
Di dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak menegaskan: "Bahwa pertanggungjawaban orang tua, keluarga,
5
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam,h. 137.
6
secara terus-menerus demi terlindungnya dan terarah guna menjamin pertumbuhan
dan perkembangan anak baik fisik mental, spiritual maupun sosial".7
Tindakan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak
yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki
nasionalisme yang dijiwai oleh akhlak mulia dan nilai Pancasila, serta berkemauan
keras menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara.
Dalam melakukan pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak, perlu
peran masyarakat, baik melalui lembaga perlindungan anak, lembaga keagamaan,
lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia
usaha, media massa, atau lembaga pendidikan.
Setiap anak berhak untuk berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan
usianya, dalam bimbingan orang tuanya. Karena anak memerlukan kebebasan dalam
rangka mengembangkan kreativitas dan intelektualitasnya (daya nalarnya) sesuai
dengan tingkat usia anak. Dan pengembangan anak yang belum cukup umur masih
harus dalam bimbingan orang tuanya.
Melihat peranan hukum Islam dalam pembangunan hukum nasional, ada
beberapa fenomena yang bisa dijumpai dalam praktek. Pertama, hukum Islam
berperan dalam mengisi kekosongan hukum dalam hukum positif. Dalam hal ini
hukum Islam diberlakukan oleh Negara sebagai hukum positif bagi umat Islam.
Kedua, hukum Islam berperan sebagai sumber nilai yang memberikan kontribusi
7
umum, tidak memandang perbedaan agama, maka nilai-nilai hukum Islam dapat
berlaku pula bagi seluruh warga negara dan wajib ditaati oleh masyarakat.
Dengan demikian Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak dapat dikatakan pengejewantahan dari Fiqh Hadhanah yang
memiliki cakupan yang lebih luas bukan dalam keluarga saja, tetapi masyarakat dan
pemerintah mempunyai peran yang besar dalam memberikan perlindungan terhadap
anak. Materi Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak,
Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang
Perkawinan merupakan implementasi dari pengembangan Fiqh Hadhanah. Dalam hal
ini dapat diketahui juga transformasi Fiqh Hadhanah dalam sistem
perundang-undangan di Indonesia. Maka selayaknya sebagai masyarakat wajib
HADHANAH DALAM PUTUSAN PENGADILAN
A. Profil Pengadilan
1) Tempat Gedung Pengadilan
a. Pada bulan September 1979 kantor Pengadilan Agama Jakarta Selatan pindah
ke gedung Baru di Jl. Ciputat Raya Pondok Pinang dengan menempati gedung
Baru dengan tanah yang masih menumpang pada areal tanah PGAN Pondok
Pinang dan pada tahun 1979 pada saat Pengadilan Agama Jakarta Selatan
dipimpin oleh Bapak H. Alim diangkat pula Hakim-Hakim honorer untuk
menangani perkara-perkara yang masuk, mereka diantaranya Kh, Ya’kub, kh.
Muhdats Yusuf, Hamim Qarib, Rasyid Abdullah, Ali Imran, Drs. H. Noer
Chazin.1
b. Pada perkembangan selanjutnya yaitu semasa berkepimpinan Drs. H. Djabir
Manshur, SH, Kantor Pengadilan Agama Jakarta Selatan pindah ke Jalan
Rambutan VII No. 48 Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan dengan
menempati gedung baru. Digedung baru ini meskipun tidak memenuhi syarat
untuk sebuah kantor Pemerintah setingkat walikota, karena gedungnya berada
ditengah-tengah penduduk dan jalan masuk dengan kelas jalan III C. Namun
sudah lebih baik ketimbang masih di Pondok Pinang,
pembenahan-pembenahan fisik terus dilakukan terutama pada masa kepemimpinan Bapak
1
terutama pada masa kepemimpinan Bapak Drs. H. Ahmad KamiL, SH pada
masa ini pula Pengadilan Agama Jakarta Selatan mulai mengenal computer
walaupun hanya sebatas pengetikan dan ini terus ditingkatkan pada masa
kepemimpinan Bapak Drs. Rif’at Yusuf.2
c. Sejak Tahun 2008 telah dibangun gedung baru yang sesuai dengan prototype
Mahkamah Agung RI di Jl. Harsono RM, Ragunan, Jakarta Selatan.3
2) Dasar Hukum Pembentukan Pengadilan
Pengadilan Agama Jakarta Selatan sebagai salah satu instansi yang
melaksanakan tugasnya memiliki dasar hukum dan landasan kerja sebagai berikut:
1. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 24;
2. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970;
3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974;
4. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983;
7. Peraturan/instruksi/Edaran Mahkamah Agung RI;
2
http://www.pajakartaselatan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=290 sejarah-2010&catid=35:sejarah&Itemid=27, diakses pada hari Minggu, 20 Maret 2011.
3
9. Keputusan Menteri Agama RI. Nomor 69 Tahun 1963, Tentang Pembentukan
Pengadilan Agama Jakarta Selatan;
10. Peraturan-peraturan lain yang berhubungan dengan tata Kerja dan Wewenang
Pengadilan Agama.4
3) Visi dan Misi Pengadilan
Pengadilan Agama Jakarta Selatan sebagai salah satu ujung tombak
dari Mahkamah Agung RI, maka sebagai Lembaga Negara pemegang
kekuasaan Yudikatif, tentu mempunyai Visi yang tidak jauh beda dari Visi
Mahkamah Agung RI, yaitu mewujudkan supremasi hukum melalui kekuasaan
kehakiman yang :
- Mandiri
- Efektif dan Efisien.
- Mendapatkan kepercayaan publik.
- Profesional dalam memberikan layanan hukum yang berkwalitas.
- Etis.
- Terjangkau dan berbiaya rendah bagi masyarakat.
- Mampu menjawab pelayanan panggilan publik.5
4
http://www.pajakartaselatan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=290 sejarah-2010&catid=35:sejarah&Itemid=27, diakses pada hari Minggu, 20 Maret 2011.
5
Selatan mempunyai Misi sebagai berikut :
1. Mewujudkan rasa keadilan sesuai dengan perundang-undangan dan
peraturan-peraturan lainnya yang berlaku dalam masyarakat.
2. Mewujudkan institusi peradilan agama yang mandiri dan independen,
bebas campur tangan dari pihak lain.
3. Meningkatkan akses pelayanan dibidang peradilan kepada masyarakat
sejalan dengan penggunaan teknologi informasi di Pengadilan Agama
Jakarta Selatan.
4. Memperbaiki kualitas input internal pada proses peradilan dengan
mendayagunakan secara maksimal sarana dan prasarana dan anggaran
yang tersedia bagi Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
5. Mewujudkan institusi peradilan yang efektif efisien dan bermartabat serta
dihormati dengan menimgkatkan dedikasi dan integritas seluruh Sumber
Daya Manusia yang tersedia di Pengadilan Agama Jakarta Selatan.6
4) Sejarah Singkat Pengadilan
Pengadilan Agama Jakarta selatan dibentuk berdasarkan surat
keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1963. Pada
mulanya Pengadilan Agama di wilayah DKI Jakarta hanya terdapat tiga kantor
yang dinamakan Kantor Cabang yaitu :
6
2) Kantor Pengadilan Agama Jakarta Tengah ;
3) Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya sebagai Induk ;
4) Semua Pengadilan Agama tersebut diatas termasuk Wilayah Hukum
Cabang Mahkamah Islam Tinggi Surakarta. Kemudian setelah berdirinya
Cabang Mahkamah Islam Tinggi Bandung berdasarkan surat keputusan
Menteri Agama Nomor 71 tahun 1976 tangga;l 16 Desember 1976. semua
Pengadilan Agama di Propinsi Jawa Barat termasuk Pengadilan Agama
yang berada di Daerah Ibu Kota Jakarta Raya berada dalam Wilayah
Hukum Mahkamah Islam Tinggi Cabang Bandung. Dalam perkembangan
selanjutnya istilah Mahkamah Islam Tinggi menjadi Pengadilan Tinggi
Agama (PTA).7
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia
Nomor 61 tahun 1985 Pengadilan Tinggi Agama Surakarta di pindah di
Jakarta, akan tetapi realisasinya baru terlaksana pada tanggal 30 Oktober 1987
dan secara otomatis Wilayah Hukum Pengadilan Agama diwilayah DKI
Jakarta adalah menjadi Wilayah Hukum Pengadilan Tinggi Agama Jakarta.
5) Yuridiksi Pengadilan
Secara geografis, Pengadilan Agama Jakarta Selatan terletak di
Kotamadya Jakarta Selatan, luas wilayah Kotamadya Jakarta Selatan adalah
7
kotamadya Jakarta Selatan terletak dan berada pada posisi 06’15’40,8’ Lintang
Selatan dan 106’45/0,00’Bujur Timur, dan berada pada kemiringan 26,2 meter
diatas permukaan laut. Jakarta Selatan bercirikan daerah yang beriklim khas
Tropis dengan temperature udara sekitar 27,7’ celcius dan kelembaban udara
rata-rata 75% yang disapu angin dengan kecepatan sekitar 0,2 knot sepanjang
tahun. Curah hujan mencapai ketinggian 2,596,7 mm setahun atau rata – rata
sekitar 85,8 mm perhari yang terjadi selama 182 hari dalam setahun.
Curah hujan tertinggi terjadi dalam bulan Januari (737,5 mm) dan
Februari (425,3 mm) Didaerah Jakarta Selatan terdapat Rawa / setu ( Setu
Babakan) wilayah ini cocok digunakan sebagai daerah resapan air, dengan
iklimnya yang sejuk sehingga ideal dikembangkan sebagai wilayah penduduk.
Di daerah Jakarta Selatan juga banyak terdapat kegiatan usaha dan
perkantoran.8
B. Duduknya Perkara Dalam Konvensi
Pada tanggal 10 Agustus 2001 Pemohon dan Termohon telah melakukan
pernikahan dengan akta nikah nomor 1256/57/VIII/2001. Selama pernikahannya
dikaruniai anak perempuan yang berumur 7 tahun 8 bulan.
8
sering terjadi perselisihan dan pertengkaran yang disebabkan termohon sering
bertindak sekehendak hatinya dan sewenang-wenang mempermasalahkan hal-hal
kecil. Pada bulan September tahun 2002 setelah anak pertama lahir perselisihan
dan pertengkaran berlanjut. Termohon dengan marah-marah melarang pemohon
pulang telat dari kantor, melarang bersosialisasi dengan teman-teman yang
membuat pemohon merasa terkekang oleh tindakan termohon yang seperti itu.
Perselisihan dan pertengkaran kembali terjadi bulan april 2003 yang
pemohon ditiduh selingkuh oleh termohon. Dan pada bulan Mei 2003 pemohon
pulang dari kantor pada pukul 23.30 dalam keadaan sangat lelah, termohon
mengajak untuk ngobrol sesuatu tetapi termohon mengatakan agar pembicaraan
ditunda besok saja. Tetapi termohon sepertinya tidak terima dan mencoba bunuh
diri dengan gunting yang terdapat di meja riasnya. Pemohon pun kaget dengan
tindakan termohon tersebut. Peristiwa serupa juga terulang lagi ketika bukan
Oktober 2006 ketika pemohon hendak pergi kerumah temannya bersama
sepupunya dan telah menjelaskan maksud kepergian tersebut kepada termohon
akan tetapi termohon kurang percaya. Sampai suatu saat ketika termohon hendak
melarang pemohon untuk pergi, tanpa diduga tiba-tiba termohon membenturkan
badannya ke lemari berulang kali dengan keras.
Pada bulan November 2007 termohon tanpa meminta izin kepada
pemohon telah pergi dari rumah kediaman bersama selama 2 (dua) minggu tidak
kalinya dengan tanpa izin, sampai 2 (dua) tahun lamanya. Sehingga termohon
sudah menelantarkan rumah tangga dan anaknya yang berusia 7 (tujuh) tahun 8
(delapan) bulan.
Berdasarkan dalil-dalil yang telah diuraikan diatas, pemohon mohon
kepada Ketua Pengadilan Agama Jakarta Selatan kiranya berkenan memberikan
putusan sebagai berikut:
1. Menerima dan mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya;
2. Menetapkan, memberi izin kepada pemohon untuk ikrar menjatuhkan talak
terhadap termohon dihadapan sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan;
3. Menyatakan perkawinan pemohon dan termohon putus karena perceraian
dengan segala kaibat hukumnya;
4. Menetapkan pemohon sebagai pemegang hak hadhanah seorang anka
perempuan hasil perkawinan antara pemohon dan termohon;
5. Memerintahkan termohon sebagai ibu kandungnya untuk memberikan baiaya
alimentasi setiap bulan sesuai dengan keikhlasannya;
6. Menetapkan biaya perkara sesuai dengan ketentuan hukum.
Dalam Eksepsi
Bahwa termohon menolak dengan tegas seluruh isi permohonan dari
permohonan yang terdaftar di Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang diajukan
kepada pemohon, kecuali secara tegas dan dinyatakan dan nyata diakui
Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan untuk memutus terlebih dahulu
eksepsi termohon sebelum dilanjutkan pemeriksaan pokok perkara.
Dalam Pokok Perkara
Termohon menolak dan membantah untuk seluruh dalil-dalil pemohon
dalam permohonan a quo, kecuali yang termohon anggap benar. Guna
mempertegas penolakan tersebut akan termohon uraikan sebagai berikut:
1. Bahwa sejak menikah sebagaimana yang didalilkan pemohon jelas
mengada-ngada karena faktanya sejak awal pernikahan, termohon dan pemohon hidup
rukun dan harmonis;
2. Termohon menolak keterangan pemohon terkait termohon yang suka melarang
berteman dengan temannya dan sering pulang malam, faktanya termohon
hanya bisa sabar dan menangis ketika pemohon memiliki wanita idaman lain;
3. Termohon menolak telah melakukan percobaan bunuh diri seperti yang
didalilkan pemohon, karena termohon masih dalam keadaan sehat baik psikis
maupun fisik. Bahwa tidak ada satu orang pun yang sehat akal dan pikirannya
melukai dirinya sendiri;
4. Bahwa termohon membantah dengan tegas dalil pemohon yang termohon
menelantarkan anaknya, fakta sesungguhnya termohon pernah menengok
anaknya saat di sekolah, di rumah pemohon an mengantar anaknya saat lomba
diajukan pemohon yakni benar adanya antara pemohon dan termohon adalah
suami isteri.
Dalam Eksepsi :
1. Menerima eksepsi termohon untuk seluruhnya;
2. Menolak seluruh dalil-dalil, dasar atau alasan permohonan Cerai Talak dan
hadhanah dari pemohon;
Dalam Pokok Perkara:
1. Menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya;
2. Menetapkan anak pemohon dan termohon dibawah pengasuhan dan
pemeliharaan termohon;
3. Menghukum kepada pemohon untuk membayar biaya perkara;
4. Mohon putusan yang seadil-adilnya.
Pemohon dan termohon di depan sidang Pengadilan selain mengajukan
alat-alat bukti tertulis juga mengajukan saksi-saksi yang memberikan keterangan
di bawah sumpah.
C. Pertimbangan Hakim Dalam Konvensi
Bahwa karena permohonan pemohon konvensi tidak tepat kepada tempat
diterima dan mohon pula kepada majelis hakim untuk memutus terlebih dahulu
eksepsi termohon konvensi sebelum memutus perkara.
Permohonan pemohon konvensi harus ditujukan ke alamat termohon
konvensi yang sebenarnya sesuai ketentuan Pasal 118 ayat 1 HIR.
Dalam Pokok Perkara
1. Bahwa rumah tangga pemohon konvensi dengan termohon konvensi sudah
tidak harmonis, sering terjadi perselisihan dan pertengkaran sejak 2002.
2. Bahwa sebab-sebab terjadi perselisihan dan pertengkaran diantara pemohon
konvensi dan termohon konvensi karena tidak ada lagi rasa saling percaya,
saling menghargai dan saling pengertian satu sama lain.
3. Bahwa sejak Desember 2007 berlangsung selama 2 (dua) tahun 8 (delapan)
bulan lamanya pemohon konvensi dan termohon konvensi telah pisah tempat
tinggal.
4. Bahwa majelis hakim, hakim mediator telah berusaha mendamaikan, namun
tidak berhasil.
Berdasarkan fakta-fakata yang ada ternyata anak pemohon konvensi dan
termohon konvensi lebih nyaman bersama pemohon konvensi selaku ayah,
pemohon konvensi lebih banyak perhatian ketimbang termohon konvensi dan
kedekatan anak tersebut kepada pemohon konvensi. Tetapi tidak berarti