• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMELIHARAAN HARTA BENDA ANAK ASUH DALAM KONTEKS PERWALIAN

C. Analisis Penulis

Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan regulasi aturan yang berlaku di Indonesia dalam hal mengenai hukum keluarga bagi kalangan umat muslim. Lahirnya Undang-undang inipada hakekatnya telah melewati suatu proses panjang dari rentetan perjuangan kaum perempuan di Indonesia menuntut keadilan dan pengakuan atas hak-hak asasinya serta dibantu juga dengan adanya Kompilasi Hukum Islam, Undang-Undang Perlindungan Anka dan KUHperdata.

Sejak perjuangan R.A. Kartini melalui surat-suratnya yang menceritakan kegelisahan beliau terhadap kondisi kaumnya maupun melalui pengalamannya sendiri dalam keluarganya. Sepanjang hidupnya beliau menentang kungkungan tradisi yang ditanamkan lewat institusi keluarga dan perkawinan, termasuk ketika beliau pada akhirnya tidak berdaya menolak poligami, bentuk kekerasan yang paling nyata atas harkat dan martabatnya sebagai manusia. Undang-undang ini merupakan pedoman hukum yang dapat dipakai oleh kalangan umat muslim, ada empat belas (XIV) bab yang terdapat di Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan salah satu babnya membahas mengenai perwakilan yang biasanya juga disebut dengan perwalian.

Dari data-data hasil penelitian dari Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang, dalam hal pembahasan mengenai kajian Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 51 ayat (4) bahwa setiap wali wajib untuk membuat daftar harta benda anak yang berada di bawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua perubahan-perubahan harta benda anak atau anak-anak itu. Hal ini dikarenakan untuk memberi pertanggung jawaban sesuai dengan aturan hukum yang ada di Indonesia, bahwa setiap wali memiliki hak dan kewajibanya, begitu juga anak asuh memiliki hak dan kewajiban, salah satunya yaitu ia harus mengetahui harta benda yang ia miliki dan digunakan untuk apa. Dalam prakteknya di Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang, hal tersebut tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

58

Hal ini terlihat dari segi rekrutmen anak asuh yang tidak didata setiap apa-apa yang dibawa ketika anak asuh tersebut masuk dalam pengasuhan Panti Asuhan, tidak adanya biaya untuk mendaftarkan harta benda anak asuh ke Balai Pencatatan Harta Peninggalan, dan proses yang begitu rumit dan berbelit-belit yang mengakibatkan Panti Asuhan ini enggan mendaftarkan harta benda anak asuh ke Balai Harta Peninggalan. Jelas, bahwa pasal 51 ayat (4) yang tercantum dalam Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam, Undang-undang tentang Perlindungan anak, serta KHUPerdata belum efektif berjalan di Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang.

Hal ini akan menjadi suatu permasalahan yang besar nantinya di Panti Asuhan tersebut, karena sangat bertentangan dengan sistem yang di terapkan oleh Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang, bahwasanya setiap wali bertanggung jawab atas apa yang telah menjadi kewajiban dan hak anak yang diampunnya. Artinya, ada kewajiban wali yang tidak dipenuhi oleh wali asuh tersebut sehingga hak dari anak asuh itu akan hilang dan tidak dapat diperoleh oleh anak asuh itu, dan akibat yang didapat oleh Panti Asuhan ini akan dicabut hak perwaliannya dan kemungkinan akan ditutup Panti Asuhan ini.

Di harapkan kepada pihak panti asuhan untuk lebih teliti lagi serta sadar hukum demi menciptakan rasa keadilan dan kesejahteraan anak asuhnya, jika hal ini dapat dijalankan dengan baik maka akan menjadi negara Indonesia yang maju materil dan spritual serta taat hukum.

59

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan di Panti Asuhan Isslamic Village Karawaci Tangerang bahwa:

1) Pada dasarnya penyelenggaraan Pnti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerangsudah dilakukan dengan baik. Hak dan kewajiban anak asuh di Panti Asuhan ini secara umum telah berjalan dan terpenuhi dengan baik, khususnya dalam bidang pendidikan atau belajar anak asuh harus serius dalam menuntut ilmu serta menaati segala peraturan yang telah diatur oleh Panti. Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang telah memberikan pengasuhan yang baik, pihak Panti Asuhan juga telah memberikan hak-hak para anak asuh sepeti hak pendidikan dan kesehatan.

2) Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang, dalam kinerjanya belum memberikan hak-hak yang menjadi hak bagi anak asuh di Panti Asuhan tersebut dengan sebaik-baiknya sesuai dengan Undang-undang yang ada seperti dalam mendaftarkan harta benda anak asuh. Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang merupakan tempat kedua bagi para yatim/piatu yang di asuhnya tersebut, dengan harapan mereka dapat melanjutkan cita-cita mereka.

60

3) Sistem perwalian yang di terapkan Panti Asuhan Islamic Village merupakan sistem yang tidak sesuai dengan Undang-undang yaitu pasal 51 ayat (4) Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, dijelaskan bahwasannya bagi setiap wali yang bertanggung jawab atas segala kehidupan anak yang di ampunya harus membuat daftar harta benda si anak yang mana dibawah kekuasaanya. Sistem tersebut berlaku pada saat memulai jabatan sebagai wali tersebut yang mana bertanggung jawab penuh atas perubahan harta benda si anak yang diampunya. Akan tetapi, di Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang ini tidak menerapkan sistem yang sudah tercantum dalam Undang-undang tersebut dengan berbagai macam alas an salah satunya adalah segala sesuatu tentang anak asuh dipanti tersebut seperti dalam pencatatan daftar harta benda anak itu tidak di perlukan, karena segala keuangan diatur langsung oleh wali atau oleh para pengurus panti asuhan tersebut tanpa harus dicatat.

B. Saran-saran

Panti Asuhan Islamic Village sebagai Badan Sosial mendapat tugas untuk mengawasi, melindungi, serta meningkatkan efektivitas pendidikan bagi anak asuh yang di ampunya, Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang seharusnya :

1) Lebih memperhatikan hak dan kewajiban anak asuh yang di ampunya dengan cara mengembangkan setiap bakat yang mereka punya yang dapat disalurkan melalui berbagai kegiatan positif.

2) Memberikan lapangan kegiatan bagi anak asuhnya yang bermanfaat bagi anak asuhnya. Seperti kursus menjahit dan keterampilan yang lainnya.

3) Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang dalam penerapan sistem perwalian harus sesuai dengan Undang-undang yang telah mengatur setiap peraturan bagi kepentingan dan kebaikan masyarakat. Khususnya dalam masalah pengaturan harta benda anak asuhnya, yang mana harus diatur serta diperhatikan dalam perubahannya dan harus dilaporkan pada akhir tahun selama masa jabatan mengasuh anak yang di ampunya, agar lebih teratur dan terkontrol setiap hak-hak anak asuh.

4) Alangkah baiknya jika Panti Asuhan Islamic Village Karawaci Tangerang yang merupakan Panti Asuhan yang menerapkan syariat Islam yang berbeda dengan panti asuhan lainya. Dalam pengambilan atau seleksi penerimaan anak asuh perlu di upayakan kebijakan yang memungkinkan rekrutment peaerta yang berasal dari umat/ agama lain dengan mengedepantakn orientasi pendidikan yang berdasarkan ahlakhul karimah.

5) Harus lebih transparansi dalam masalah keuangan dengan cara mencatat segala daftar harta benda anak asuh, kemudian di bukukan yang mana akan di pertanggungjawabkan dalam satu tahun sekali.

62

Dokumen terkait