BAB III Akuntabilitas Kinerja
3.2.4. Analisis Penyebab Keberhasilan atau Kegagalan
Selama tahun 2017, realisasi kinerja Unit kerja Sekretariat Jenderal secara umum telah berhasil dicapai dengan baik. Hal ini dapat terlihat dari persentase rerata capaian kinerja sasaran program yang telah dicapai pada tahun 2017 yaitu sebesar 103,14%. Hasil capaian ini diperoleh melalui perbandingan antara nilai total realisasi dan target seluruh sasaran program di lingkungan Sekretariat Jenderal.
A. Sasaran Program Pertama “Peningkatan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan melalui tersedianya Dokumen Perencanaan, Pemrograman, Kebijakan Pentarifan, dan dokumen Analisa dan Evaluasi sebagai acuan dalam penyelenggaraan perhubungan” pada tahun 2017 yang dilaksanakan oleh Biro Perencanaan melalui 3(tiga) IKU yang telah ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2017, dijelaskan sebagai berikut:
IKU Nomor 1: Nilai Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perhubungan berdasarkan hasil evaluasi Kemenpan dan Reformasi Birokrasi. Realisasi kinerja tahun 2017 sampai dengan bulan Januari 2018 belum mendapatkan hasil evaluasi dari KemenPAN-RB, sedangkan realisasi kinerja tahun 2017 adalah 68,63 dari target yang ditetapkan 70(BB). dengan capaian kinerja terhadap IKU1 tahun 2017 sebesar 90,30%
Berdasarkan surat MenPAN-RB Nomor B/612/M.AA.05/2017 tanggal 16 Februari 2017 perihal Hasil evaluasi atas Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2016. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Kementerian Perhubungan mendapatkan nilai 68,63 atau predikat “B” (Baik).
Hasil penilaian tersebut menunjukkan tingkat efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran sudah cukup baik jika dibandingkan dengan capaian kinerjanya. Hal ini disebabkan oleh pembangunan budaya kinerja birokrasi, dan penyelenggaraan pemerintahan yang berorientasi pada hasil di Kementerian Perhubungan sudah mulai berjalan namun masih memerlukan perbaikan lanjut.
Pada unsur-unsur penilaian AKIP, rata-rata realisasinya mengalami peningkatan. Hal ini dipengaruhi oleh upaya-upaya uang telah dilakukan Kementerian Perhubungan dalam rangka meningkatkan nilai akuntabilitas kinerja, sebagai berikut :
97
1. Melakukan Reviu Renstra Kementerian Perhubungan yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 873 Tahun 2017 Tentang Reviu Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2015-2019 dengan menggunakan penyempurnaan Indikator Kinerja Utama berbasis outcome yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 70 Tahun 2017 Tentang Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Kementerian Perhubungan;
2. Menginstruksikan penyusunan Perjanjian Kinerja secara berjenjang mulai dari level Eselon II sampai dengan level Pelaksana di Lingkungan Kementerian Perhubungan melalui Surat Sekretaris Jenderal Nomor UM.007/41/22 PHB 2017 tanggal 20 Juni 2017 perihal Hasil Evaluasi atas Pelaksanaan Kinerja Kementerian Perhubungan Tahun 2016 ;
3. Melakukan penyempurnaan terhadap aplikasi e-performance, yang saat ini telah dapat memonitor capaian kinerja sampai dengan unit kerja mandiri di Lingkungan Kementerian Perhubungan. Pada aplikasi e-performance yang telah disempuranakan ini Pimpinan unit kerja diwajibkan untuk melakukan validasi atas Perjanjian Kinerja. Nilai AKIP Kementerian Perhubungan berdasarkan hasil evaluasi Kemenpan RB dapat dirinci sebagai berikut:
Tabel III.56
Penilaian AKIP Kementerian Perhubungan Tahun 2017
Komponen Penilaian Satuan Target Realisasi Capaian
Nilai AKIP Kementerian Perhubungan Nilai BB (70) B (68,63) 98,04%
Nilai Perencanaan Kinerja Kemenhub Nilai 22 21,58 98,09%
Nilai Pengukuran Kinerja Kemenhub Nilai 16 16,16 101,00%
Nilai Pelaporan Kinerja Kemenhub Nilai 11 10,99 99,91%
Nilai Evaluasi Kinerja Kemenhub Nilai 8 7,57 94,63%
Nilai Capaian Kinerja Kemenhub Nilai 13 12,33 94,85%
Sumber: Biro Perencanaan, 2018
IKU Nomor 2: Nilai Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Jenderal berdasarkan hasil evaluasi Inspektorat Jenderal. Realisasi kinerja tahun 2017 belum mendapatkan hasil evaluasi dari Inspektorat Jenderal, sedangkan realisasi kinerja tahun 2017 mendapatkan nilai 80,19 atau predikat “A” (Memuaskan) dari target yang ditetapkan 84(A) dengan capaian kinerja terhadap IKU2 tahun 2017 sebesar 95,46%
Berdasarkan surat Inspektur Jenderal Nomor UM.007/34/2/ITJEN-2017 tanggal 18 Agustus 2017 perihal Ikhtisar Laporan Hasil Evaluasi atas Implementasi SAKIP Tahun 2016 di Lingkungan Kementerian Perhubungan,
98
Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan telah melakukan evaluasi terhadap implementasi SAKIP pada unit kerja eselon I di lingkungan Kementerian Perhubungan Tahun 2016. Sekretariat Jenderal mendapatkan penilaian kinerja tahun 2016 sebesar 80,19.
Dalam rangka meningkatkan nilai akuntabilitas kinerja Sekretariat Jenderal, telah dilakukan upaya sebagai berikut :
1. Melakukan Reviu Renstra Sekretariat Jenderal Tahun 2015-2019 dengan menggunakan penyempurnaan indikator dari yang sebelumnya berbasis
output menjadi berbasis outcome;
2. Mendorong Unit Kerja Eselon II di Lingkungan Sekretariat Jenderal untuk menyusun Rencana Kinerja Tahunan yang disesuaikan dengan Reviu Renstra Sekretariat Jenderal Tahun 2015-2019.
IKU Nomor 3: Tingkat Maturasi SPIP. Realisasi kinerja tahun 2017 sampai dengan bulan Januari 2018 belum mendapatkan hasil evaluasi dari BPKP. Realisasi kinerja tahun 2017 mendapatkan level 2,98 (berkembang) dari target yang ditetapkan level 2 dengan capaian kinerja terhadap IKU3 tahun 2017 sebesar 100%.
Berdasarkan surat Deputi Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Nomor S-12/D1/03/02/2017 tanggal 10 Januari 2017 perihal Peningkatan Maturitas Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah dan Peningkatan Kapabilitas APIP Kementerian Perhubungan, BPKP menghimbau Kementerian Perhubungan untuk memasukkan Indikator Kinerja ke dalam Reviu Renstra Kementerian Perhubungan, sebagai berikut; a. Tingkat Kapabilitas APIP dengan Target tahun 2019 sebesar Level 3
selaku penanggung jawab Sekretaris Jenderal;
b. Tingkat Kematangan Implementasi SPIP dengan target tahun 2019 sebesar Level 3 selaku penanggung jawab Inspektorat Jenderal.
Menindaklanjuti arahan BPKP, Sekretariat Jenderal c.q Biro Perencanaan menambahkan 1(satu) IKU di dokumen revisi Perjanjian Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2017. Oleh karena itu, realisasi kinerja Tingkat Maturasi SPIP tidak dapat dibandingkan dengan target dan realisasi di tahun-tahun sebelumnya.
Evaluasi Tingkat Maturitas SPIP Kementerian Perhubungan oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah menunjukkan hasil yang sangat positif, dimana realisasi yang dicapai diatas target yang ditetapkan. Hal ini berdasarkan surat Inspektur Jenderal Kementerian Perhubungan Nomor UM.007/52/22/ITJEN-2017 tanggal 20 November 2017 perihal Laporan
99
Penilaian Maturitas SPIP di Lingkungan Kementerian Perhubungan Tahun 2017, Kementerian Perhubungan mendapatkan penilaian maturitas SPIP memperoleh skor 2,98 yang berarti berada pada tingkat “Berkembang” atau Level 2.
Dalam rangka pencapaian target tingkat maturitas SPIP Kementerian Perhubungan tahun 2019 pada level 3 atau “Terdefinisi” sesuai dengan Reviu Renstra Kementerian Perhubungan Tahun 2015-2019 saat ini sedang dilakukan Penyusunan Peraturan Menteri Perhubungan Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah di Lingkungan Kementerian Perhubungan.
B. Sasaran Program Kedua “Terwujudnya Pengelolaan SDM Aparatur Perhubungan yang berintegritas, netral, capable, profesional, berkinerja tinggi dan sejahtera serta beretika” pada tahun 2017 yang dilaksanakan oleh Biro Kepegawaian dan Organisasi melalui 1 (satu) IKU yang telah ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2017, dengan capaian kinerja sebesar 86,67%,
IKU Nomor 4: Persentase pemenuhan kebutuhan jabatan fungsional Penguji Kendaraan Bermotor, Pengawas Keselamatan Pelayaran, dan Teknisi Penerbangan yang Bersertifikat. Realisasi kinerja tahun 2017 sebesar 78,08% dari target yang ditetapkan 90% dengan capaian kinerja terhadap IKU4 tahun 2017 sebesar 86,67% dari target sebesar 90%. Rincian jabatan fungsional penguji kendaraan bermotor, pengawas keselamatan pelayaran, dan teknisi penerbangan yang bersertifikat adalah sebagaimana tabel berikut:
Persentase pemenuhan kebutuhan jabatan fungsional Penguji Kendaraan Bermotor, Pengawas Keselamatan dan Teknisi Penerbangan tidak sesuai dengan target yang ditetapkan yaitu 90 % (5000 orang) dan hanya
Tabel III.57
Rincian Jabatan Fungsional Tahun 2017
NO JABATAN FUNGSIONAL JUMLAH
1 Penguji Kendaraan Bermotor (PKB) 27
2 Pengawas Keselamatan Pelayaran (PKP) 2.477
3 Teknisi Penerbangan (TP) 1.400
Jumlah 3.904
100
terealisasi sebesar 78 % (3904 orang). Realisasi belum tercapai dikarenakan hal-hal sebagai berikut:
a. Pejabat fungsional Penguji Kendaraan Bermotor (PKB) banyak yang ditempatkan di Dinas Perhubungan Provinsi maupun Kabupaten, sehingga mereka tidak menjadi pegawai Kementerian Perhubungan;
b. Banyak PKP yang mengundurkan diri dari jabatan fungsionalnya dan masuk ke dalam jabatan pelaksana nakhoda karena jabatan pelaksana nakhoda lebih tinggi dari jabatan PKP;
c. Banyak TP yang mengundurkan diri dari jabatan fungsionalnya dan masuk ke dalam jabatan pelaksana Inspektur Penerbangan karena jabatan Inspektur Penerbangan lebih tinggi dari jabatan PKP;
d. Ada beberapa unit kerja yang membutuhkan jabatan fungsional PKB,PKP dan TP, namun jabatan fungsional tersebut tidak tercantum sehingga banyak pegawai yang tidak dapat masuk/menduduki jabatan fungsional tersebut.
Upaya pemenuhan kebutuhan jabatan fungsional Penguji Kendaraan Bermotor, Pengawas Keselamatan dan Teknisi Penerbangan dimasa yang akan datang antara lain:
a. Melakukan koordinasi dengan unit kerja terkait (pengguna jabatan fungsional PKB,PKP dan TP) terkait perhitungan beban kerja dan analisa jabatan untuk menghitung formasi yang akan menjadi dasar pencantuman jabatan tersebut pada peta jabatan.
b. Bekerja sama dengan Ditjen Darat, Ditjen Hubla, Ditjen Hubud untuk melakukan sosialisasi jabatan fungsional PKB, PKP dan TP;
c. Melakukan penyempurnaan Permenpan dan RB jabatan fungsional PKB,PKP dan TP (apakah masih relevan dengan tupoksi pemangku jabatan fungsional tersebut) bekerja sama dengan Ditjen Darat, Ditjen Hubla, Ditjen Hubud;
d. Melakukan sertifikasi kompetensi.
C. Sasaran Program Ketiga “Peningkatan Pelaksanaan RB di Lingkungan Kementerian Perhubungan” pada tahun 2017 yang dilaksanakan oleh Biro Kepegawaian dan Organisasi melalui 1 (satu) IKU yang telah ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2017 dengan pencapaian kinerja sebesar 90,59%.
IKU Nomor 5: Persentase Indeks RB. Realisasi kinerja tahun 2017 sebesar 90,59% dengan capaian kinerja sementara terhadap IKU5 tahun 2017 sebesar 77% dari target yang ditetapkan 85%. Kementerian Perhubungan sedang
101
menunggu hasil Sidang Pleno Kementerian PAN dan RB terkait penilaian RB Kementerian Perhubungan Tahun 2017. Kementerian Perhubungan telah melakukan berbagai upaya-upaya untuk meningkatkan persentase indeks RB, antara lain:
a. Penyempurnaan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Tim Reformasi Birokrasi Kementerian Perhubungan.
Tim Reformasi Birokrasi Kementerian Perhubungan dibentuk dengan Keputusan Menteri Perhubungan No mor KP 191 Tahun 2015 tentang Tim Reformasi Birokrasi Kementerian Perhubungan dan disempurnakan dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 216 Tahun 2016 tentang Tim Reformasi Birokrasi Kementerian Perhubungan.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 tentang Kementerian Perhubungan, telah dilakukan penataan terhadap kelembagaan Kementerian Perhubungan dengan telah terbitnya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 44 Tahun 2017 Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 189 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan.
b. Penetapan Peta Proses Bisnis
Telah disusun dan ditetapkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 50 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyusunan Peta Proses Bisnis Dan Standar Operasional Prosedur Di Lingkungan Kementerian Perhubungan.
c. Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) online.
Terkait Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor B/01/M.RB.06/2017 tanggal 19 Februari 2017 perihal Kewajiban Penyampaian Laporan Bidang Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan, dapat disampaikan:
1) Penyampaian laporan kinerja tahun 2016.
Laporan kinerja Kementerian Perhubungan tahun 2016 telah disampaikan ke Kementerian PAN dan RB melalu surat Menteri Perhubungan nomor UM.107/1/6 PHB 2017 tanggal 27 Februari 2017;
102
PMPRB Kemenhub telah dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pedoman Evaluasi Reformasi Birokrasi Instansi Pemerintah dan Submit telah dilakukan secara online pada tanggal 26 April 2017 oleh Bapak Sekretaris Jenderal dan Bapak Inspektur Jenderal di Ruang Rapat Kutai Gedung Karsa lantai 7, dengan hasil 93.21 (Kategori AA interpretasi “ Istimewa”).
d. Penilaian Pelaksanaan Reformasi Birokrasi
1) Penilaian Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di lingkungan Kementerian Perhubungan terdiri dari:
Evaluasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di lingkungan Kementerian Perhubungan memiliki bobot penilaian 60%;
Berdasarkan surat Deputi Bidang Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan Pengawasan Kementerian PAN dan RB Nomor B/61/RB.04/2017 tanggal 13 September 2017 perihal Pelaksanaan Evaluasi Reformasi Birokrasi Tahun 2017 telah dilaksanakan Entry Meeting Evaluasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di lingkungan Kementerian Perhubungan pada tanggal 27 September 2017 dan Evaluasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di lingkungan Kementerian Perhubungan pada tanggal 27 dan 28 September 2017.
2) Survey Eksternal memiliki bobot 40%;
Survey eksternal merupakan survey terhadap masyarakat pengguna layanan jasa utama yang diberikan oleh Kementerian Perhubungan. Survey eksternal telah dilaksanakan pada bulan Oktober s.d November 2017 pada :
a) Direktorat Jenderal Perhubungan Darat yaitu: Kepala Terminal Tipe A Tirtonadi Solo dan Kepala Otoritas Pelabuhan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk;
b) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yaitu: Kepala Bandar Udara Kalimarau dan Kepala Bandar Udara Radin Inten, Lampung;
c) Badan Pusat Pengembangan SDM Perhubungan, yaitu: Direktur Politeknik Penerbangan Surabaya, dan Kepala BP2IP Barombong.
103
Diharapkan Penilaian Pelaksanaan Reformasi Birokrasi tahun 2016-2017 (hasil dari evaluasi pelaksanaan RB dan survei eksternal) dapat mencapai nilai indeks RB>80%. Namun berdasarkan hasil rapat exit meeting terakhir nilai sementara presentasi Indeks RB Kementerian Perhubungan mendapat nilai sebesar 77%. Dengan dasar nilai tersebut Kementerian Perhubungan diharapkan dapat mengajukan kenaikan tunjangan kinerja pegawai di lingkungan Kementerian Perhubungan sesuai peraturan perundangan.
D. Sasaran Program Keempat “Terwujudnya Laporan Keuangan Kementerian Perhubungan dengan penilaian opini WTP”
IKU Nomor 6: Opini BPK atas laporan keuangan Kementerian Perhubungan. Realisasi kinerja tahun 2017 adalah WTP dari target yang ditetapkan WTP dengan capaian kinerja terhadap IKU6 tahun 2017 sebesar 100%.
Berdasarkan surat Anggota I Badan Pemeriksa Keuangan RI Nomor 27/S/III-XIV/05/2017 tanggal 19 Mei 2017 perihal Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kementerian Perhubungan Tahun 2016, BPK memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian.
Tercapainya Opini WTP Pada Laporan Keuangan TA.2016 Kementerian Perhubungan Karena Terpenuhinya Kriteria-Kriteria Sebagai Berikut :
1. Kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP), bahwa posisi Keuangan Kemenhub tgl. 31 Desember 2016, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Operasional serta Laporan Perubahan Ekuitas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sudah sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP).
2. Kecukupan Pengungkapan (Adequate Disclosures), bahwa angka-angka yang disajikan dalam Laporan Keuangan Kemenhub TA. 2016 telah wajar dalam semua hal material.
3. Kepatuhan terhadap Perundang-Undangan, bahwa BPK telah melakukan pengujian kepatuhan pada Kemenhub terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan yang berpengaruh langsung dan material terhadap penyajian laporan keuangan .
4. Efektivitas Sistem Pengendalian Intern telah memadai untuk menyusun laporan keuangan yang bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kesalahan maupun kecurangan.
Dalam rangka mempertahankan Opini Wajar Tanpa Pengecualian, Kementerian Perhubungan telah membuat upaya-upaya sebagai berikut :
104
1. Peningkatan Komitmen dan Integritas Pimpinan dan para Pengelola Keuangan;
2. Penguatan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah; 3. Peningkatan Kualitas SDM Pengelola Keuangan;
4. Peningkatan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan dan
Pertanggungjawaban Anggaran;
5. Penguatan Perencanaan dan Penganggaran;
6. Peningkatan Kualitas Pengawasan dan Reviu Laporan Keuangan; 7. Percepatan Penyelesaian Tindak Lanjut LHP BPK;
8. Pembenahan Penatausahaan Barang Milik Negara (BMN) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);
9. Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan;
10. Peningkatan Kualitas Proses Pengadaan Barang/Jasa.
Strategi yang dilaksanakan dalam rangka mempertahankan Opini Wajar Tanpa Pengecualian adalah sebagai berikut:
a. Menerbitkan Peraturan/Instruksi Menteri Perhubungan;
b. Menyelenggarakan pembekalan/ bimbingan teknis/sosialisasi kepada pengelola anggaran;
c. Melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksaan anggaran; d. Pimpinan Unit Kerja (Auditee) harus peduli dan mendukung penuh proses
pemeriksaan;
e. Menindaklanjuti temuan BPK tahun-tahun sebelumnya;
f. Memberikan dokumen dan informasi yang diperlukan kepada Tim BPK sesuai permintaan dan menjawab semua kuesioner;
g. Memberikan penjelasan kepada Tim BPK secara transparan dan terkoordinasi;
h. Menyelesaikan segera hasil temuan BPK pada saat masa audit;
i. Meningkatkan kapasitas SDM dengan mengikuti bimbingan teknis akuntansi berbasis akrual; dan
j. Meningkatkan pemahaman tentang Sistem Akuntansi Instansi Berbasis Akrual (SAIBA) dan mampu menyusun Laporan Keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah berbasis aktual.
IKU Nomor 7: Persentase penyerapan anggaran Kementerian Perhubungan. Realisasi kinerja tahun 2017 sebesar 86,39% dari target yang ditetapkan 90% dengan capaian kinerja terhadap IKU7 tahun 2017 sebesar 95,99%. Hal ini dikarenakan sebagai berikut:
1. Terdapat kegiatan yang masih menjadi catatan halaman DIPA;
2. Sisa belanja Transito pada Ditjen Perhubungan Darat karena adanya perubahan organisasi;
105
3. Terdapat kegiatan yang tidak dilaksanakan dan putus kontrak 4. Masih terdapat permasalahan lahan;
5. Adanya bantalan loan pada kegiatan PHLN;
6. Kegiatan Subsidi perintis baru dilakukan penandatanganan kontrak dibulan april karena adanya temuan BPK;
7. Adanya alokasi dana bersumber dari SBSN yang tidak terserap di tahun 2016 yang diluncurkan tahun 2017;
8. Adanya kegiatan kontrak tahun jamak yang persetujuannya oleh Menteri Keuangan diakhir tahun anggaran.
Hal-hal ini menyebabkan terjadinya pengurangan output pada beberapa program dan kegiatan, sehingga target outcome tidak tercapai. Meskipun demikian, capaian tahun 2017 masih menunjukkan hasil yang baik yaitu 86,39%.
Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan pembangunan sektor Perhubungan dan realisasi anggaran tahun 2017, dilakukan langkah-langkah strategis sebagai berikut :
1. Meneliti kembali DIPA yang telah diterima dan segera mengajukan usulan revisi DIPA dalam hal hasil penelitian yang dilakukan memerlukan penyesuaian/perbaikan dalam DIPA;
2. Dalam hal terdapat anggaran yang diberikan catatan dalam DIPA (a.l. blokir), segera mempersiapkan dokumen (TOR, RAB,dll) yang diperlukan untuk menyelesaikan catatan dalam DIPA tersebut dan mengajukan usul revisi sesuai Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Revisi;
3. Menetapkan Pejabat Pengelola Anggaran sesuai ketentuan perundangan; 4. Mengumumkan rencana pengadaan TA. 2017 melalui aplikasi Sistem
Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP ver.2.0); dan 5. Target lelang akhir Maret 90% dan/atau 70% kontrak.
IKU Nomor 8: Persentase penyerapan anggaran Sekretariat Jenderal. Realisasi kinerja tahun 2017 sebesar 90,51% dari target yang ditetapkan 90% dengan capaian kinerja terhadap IKU8 tahun 2017 sebesar 100,56%. Secara umum capaian kinerja terhadap IKU8 mencapai target. Upaya-upaya yang dilakukan dalam mencapai penyerapan anggaran Tahun 2017 dapat mencapai target, diantaranya:
106
1. Menyiapkan data dukung lelang TA 2017 seperti KAK, RAB, spesifikasi teknik, dan dokumen terkait lainnya;
2. PPK mengusulkan lelang tidak mengikat TA 2017sebelum 31 Desember 2016 (input pekerjaan dimaksud dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan / SiRUP);
3. Inventarisasi kegiatan TA 2017 untuk lelang tidak mengikat ataupun lelang setelah DIPA terbit;
4. Menetapkan kegiatan strategis TA 2017;
5. Melakukan analisa terhadap DIPA yang telah terbit dan mengajukan revisi bila erdapat kesalaha penganggaran atau ingin merelokasikan anggaran; 6. Mengajukan data kontrak ke KPPN;
7. Peningkatan koordinasi dengan instansi terkait; 8. Percepatan pengesahan desain;
9. Target lelang akhir Maret 90% dan/atau 70% kontrak.
Namun terdapat dana tidak terserap sebesar Rp50.871.361.000,00 yaitu sisa
kontrak sebesar Rp4.065.098.533,00 dan sisa dana sebesar
Rp46.806.262.467,00, dengan rincian sebagai berikut:
a. Sisa kontrak pada Kantor Pusat (Biro Umum), yaitu kegiatan:
1. Pembangunan gedung arsip tahap IV pada Kantor Pusat (Biro Umum); 2. Pengadaan alat kesehatan;
3. Pemeliharaan lift dan AC;
4. Biaya pengamanan khusus, Satpam, Pramubhakti, Pengemudi, dan Reception;
5. Pengadaan pakaian dinas pegawai
b. Sisa kontrak pada Biro Hukum yaitu kegiatan:
1. Penyelenggaraan Rapat Koordinasi Teknis (RAKORNIS) Peraturan Perundang-Undangan Di Bidang Transportasi TA, 2017;
2. Penyelenggaraan Penyuluhan Hukum Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Transportasi dan Peraturan Menteri Lainnya.
c. Sisa kontrak Biro Perencanaan yaitu kegiatan:
1. Rapat Koordinasi Penyusunan Pagu Kebutuhan RKA-KL Tahun 2018 Kemenhub;
2. Penyusunan Program Pembangunan Infrastruktur Transportasi Dalam Rangka Mendukung Konektivitas Kawasan Industri dan KEK;
3. Pengembangan SDM (Capacity Building) Bidang Penyusunan Perencanaan Peningkatan Keselamatan Transportasi.
107
d. Sisa kontrak Biro Keuangan dan Perlengkapan yaitu kegiatan: 1. Bimbingan Teknis PPK dan ULP;
2. Bimbingan Teknis Pengelola Keuangan dan BMN Tahap I S.D V.
e. Sisa kontrak KNKT yaitu kegiatan Pengadaan Permanent Investigation Equipment (PIE) dan Pengadaan Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi E. Sasaran Program Kelima “Peningkatan Kerja Sama Kemitraan/Investasi Dalam Negeri dan Kerja Sama Luar Negeri dalam Kerangka Regional/Sub Regional, Bilateral dan Multilateral di Bidang Transportasi”
IKU Nomor 9: Persentase proses fasilitasi kerjasama dan kemitraan / investasi dengan badan usaha dan instansi lembaga pemerintah yang ditindaklanjuti. Realisasi kinerja tahun 2017 sebanyak 100% dari target yang ditetapkan 100% dengan capaian kinerja terhadap IKU9 tahun 2017 sebesar 100%. Pada tahun 2017, terealisasi sebanyak 2 (dua) kegiatan fasilitasi kerjasama, terdiri dari:
a. Fasilitasi kerjasama dengan instansi pemerintah dapat dilihat antara lain dari penyusunan dokumen MOU kerjasama dengan Universitas Negeri (Universitas Airlangga), kerjasama dengan Bank Pemerintah (Bank
Tabungan Pemerintah), kerjasama integrasi data dengan
Kementerian/Lembaga (Kementerian PUPR dan POLRI, Komisi Pemberantasan Korupsi, PPATK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).
b. Fasilitasi kerjasama dan kemitraan/investasi dengan BUMN, swasta dan masyarakat dapat dilihat antara lain penyusunan buku pedoman pelaksanaan kerjasama pemerintah dengan badan usaha, penyusunan buku investasi, penyusunan draft peraturan Menteri Perhubungan terkait pedoman kerjasama pemerintah dan Badan Usaha, MOU pendidikan dan pelatihan SDM untuk operation dan maintenance dengan PT. KCIC (Kereta Cepat Indonesia China) serta Memorandum of Understanding on Developing Public-Private Partnership in the Transport Sector between The Government of The Republic of Indonesia and Asian Development Bank
IKU Nomor 10: Persentase kesepakatan kerjasama bilateral, regional dan multilateral yang ditindaklanjuti. Realisasi kinerja tahun 2017 sebanyak 100% dari target yang ditetapkan 100% dengan capaian kinerja terhadap IKU10
108
tahun 2017 sebesar 100%. Pada tahun 2017, terealisasi sebanyak 25 (dua puluh lima) kesepakatan kerjasama, terdiri dari:
a. Penandatanganan Air Services Agreement Indonesia – Ceko Republik; b. Penandatanganan Memorandum of Understanding Indonesia – Saudi
Arabia dibidang perhubungan udara (penambahan hak angkut);
c. Penandatangan Protocol to Amend the Memorandum of Understanding between the Governments of Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia and the Philippines on Expansion of Air Linkages;
d. Joint Statement The Twelfth Brunei Darussalam – Indonesia – Malaysia – Philippines East Asean Growth Area Summit (12th BIMP-EAGA Summit); e. Penandatanganan Air Services Agreement Indonesia – Qatar;
f. Memorandum of Understanding between the Ministry of Transportation of the Republic of Indonesia and the Ministry of the Republic of Korea concerning Cooperation in the field of Transport;
g. Letter of Intent (LOI) RI – Lithuania on the Cooperation in Transportation Sector
h. Letter of Intent between the Government of the Kingdom of Sweden and the The Government of the Rupublic of Indonesia concerning Knowledge Exchange and Technology Transfer in Air Navigation and Traffic Management.
i. MoU between the Government of the Kingdom of Sweden and the The Government of the Rupublic of Indonesia concerning Cooperation in the Transportation Sector;
j. Letter of Intent between the Government of the Kingdom of Sweden and the The Government of the Rupublic of Indonesia on Cooperation in the Transportation Sector;
k. Bali Declaration yang disepakati pada pertemuan Menteri-Menteri Transportasi Asia-Eropa (ASEM-TMM);
l. Indonesia berhasil kembali terpilih menjadi anggota dewan IMO kategori C, periode 2018-2019 pada pertemuan International Maritime Organization (IMO) assembly ke-30;