Pada penelitian kali ini penulis fokus untuk membahas mengenai bimbingan rohani islam, terutama peran pembimbing rohani islam dalam menumbuhkan etos kerja warga binaan sosial (WBS). Peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukan-kedudukannya maka dia menjalankan suatu peran.25 Sehingga pada penelitian ini kita bisa lihat sejauh mana seorang pembimbing rohani berperan memberikan pengarahan-pengarahan kepada warga binaan sosial (WBS) melalui bahasa-bahasa agama, sehingga etos kerja warga binaan sosial (WBS) bisa meningkat.
Etos kerja itu sendiri merupakan pandangan, nilai, dan sikap mendasar dari seseorang mengenai kerja yang memancar dan direfleksikan dalam kehidupan nyata. Sehingga diharapkan setelah warga binaan sosial (WBS) mengikuti bimbingan rohani islam di panti, pandangan, nilai, dan sikap dari masing-masing warga binaan sosial (WBS) mengenai bekerja dapat berubah. Setidaknya mereka memiliki harapan-harapan kedepan untuk mencari penghasilan yang lebih baik, dan tidak kembali ke jalan.
Dari hasil wawancara dan observasi langsung di lapangan penulis menemukan bahwa bimbingan rohani islam di panti bermanfaat untuk membantu masalah yang dihadapi warga binaan sosial (WBS). Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Munzir:
25
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, Cet. 36, 2003), h. 243
“Manfaatnya untuk menyadarkan mereka dengan materi-materi yang saya sampaikan. Intinya sih saya berharap dengan mengikuti kajian seperti ini dapat merubah hidup mereka karena telah berbuat baik dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ta’lim.”26
Dari ungkapan Ustadz Munzir diatas terlihat bahwa bimbingan rohani islam dapat merubah hidup warga binaan sosial (WBS) menjadi lebih baik melalui materi-materi yang disampaikan.
Hal lain diungkapkan oleh Bapak H. Abdul Khair, S. Ag, M.Si:
“Bimbingan mental dan spiritual seorang Ustadz berkaitan dengan penyampaian materi kepada warga binaan, minimal pembimbing tahu permasalahan dari warga binaan kami sehingga akan memberikan sebuah solusi minimal bisa memberikan solusi dengan contoh-contoh ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis, atau tuntunan syariat lainnya dan contoh-contoh figur dari Nabi Muhammad agar memiliki gambaran dari Nabi. Sehingga kita tetap berusaha bagaimanapun kondisi kehidupan kita. Kita harus tetap semangat tidak pasrah dengan masalah hidup. “27
Dari ungkapan diatas terlihat bahwa pembinaan warga binaan sosial (WBS) melalui bimbingan rohani islam diharapakan seorang pembimbing bisa menyampaikan materi-materi yang sesuai dengan kondisi warga binaan sosial (WBS) dengan bahasa-bahasa agama. Sehingga mereka tidak begitu saja pasrah dan tetap semangat dalam menghadapi setiap masalah hidup.
Selain itu dari hasil observasi dan wawancara langsung selama dilapangan ternyata bimbingan rohani islam memiliki manfaat yaitu agar warga binaan sosial (WBS) mendapatkan ketenangan batin. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak M. Kurniawan, S. Sos :
26 Wawancara Pribadi dengan Ustadz Ahmad Munzir, Pembimbing Rohani Islam, Ceger, 3 April 2014
27
Wawancara dengan Bapak H. Abdul Khair, S.Ag, M.Si, KA Sub Bag Tata Usaha, Ceger, 26 Maret 2014
“Dengan mengikuti bimbingan WBS bisa mendapat ketenangan batin. Terus ada juga sesi curhat, sehingga WBS bisa menyampaikan apa masalah yang mereka hadapi dan memberikan solusi. Selain itu saya juga menyampaikan untuk selalu mengingat Allah SWT dimanapun dan seberat apapun masalah yang mereka hadapi. Biasakan doa dan dzikir Insya Allah ada jalan keluarnya.”28
Dari hasil observasi dan wawancara langsung dari pembimbing rohani Islam selama di lapangan, penulis juga melakukan wawancara langsung dengan terbimbing (warga binaan sosial). Penulis menemukan bahwa seorang pembimbing rohani Islam memiliki peran dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS). Sebagaimana yang diungkapkan oleh informan 4:
Menurut aku hati jadi rasanya tenang dan mulai sadar bahwa ini kesalahan aku. Sehingga aku pasrah dengan semua yang terjadi, berdoa sama Allah semoga aku di dalam panti ini ada hikmahnya aja. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, saya salahin diri saya sendiri. Selain itu manfaat yang lain dengan ikut bimbingan saya jadi bertambah pengetahuan tentang agama, dari yang tidak tahu jadi tahu. Lalu untuk motivasi supaya bisa kerja lebih baik lagi dari sekarang, dan merubah sikap juga.29
Dari ungkapan Ibu Nuryani diatas terlihat bahwa dengan mendengarkan apa yang disampaikan oleh pembimbing rohani Islam dapat membuat hati menjadi lebih tenang, memiliki penerimaan yang baik atas apa yang Allah SWT telah gariskan, menambah pengetahuan agama, dan memberi pengarahan kepada warga binaan sosial (WBS) untuk bekerja lebih baik lagi kedepan.
Hal lain diungkapkan oleh informan 3:
28
Wawancara dengan Bapak Kurniawan, S. Sos, Staff Bimbingan dan Penyaluran dan
Pembimbing Rohani Islam, Ceger, Kamis, 3 April 2014. 29
Wawancara dengan Nuryani, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Jakarta pada tanggal 05 April 2014.
“Iya Dek, saya lebih menerima aja kenapa bisa ada disini, ga terlalu marah-marahlah. Saya jadi yakin aja kalau Allah SWT pasti akan membantu.”30
Dari ungkapan informan 3 diatas dapat terlihat peran dari seorang pembimbing yaitu dengan apa yang disampaikan dapat membuat terbimbing berubah dari segi afektif, dimana saat pertama kali masuk ke panti warga binaan sosial (WBS) masih bersikap kasar, dan suka marah-marah kepada orang-orang disekitar mereka. Tapi setelah beberapa kali mengikuti bimbingan, dapat terlihat bahwa WBS sudah mulai berubah baik dari segi ucapan atau tingkah laku.
Hal lain diungkapkan juga oleh informan 3 dan 4:
“Dengan mengikuti bimbingan kami di motivasi untuk mandiri, misalkan tentang bagaimana caranya merubah hidup jadi lebih baik dan layak. Kami diberi pengarahan agar jangan melakukan pelanggaran. Perhatikan dimana wajarnya bisa dagang, di tempat-tempat yang tidak dilarang. Makanya dari situ saya mau coba mulai dagang di pasar, supaya jangan melanggar”.31
“Disampein si Dek ceramah-ceramah supaya kita engga minta-minta lagi, supaya hidup mulai mandiri. Tapi ya itu Dek, suami saya tuna netra bingung mau gimana nanti saya ga bisa dapat penghasilan.”32
Dari ungkapan informan 4 dapat terlihat bahwa apa yang disampaikan oleh pembimbing diantaranya untuk memotivasi dan memberikan warga binaan sosial (WBS) agar bisa hidup lebih mandiri, dan lebih layak daripada sekarang dalam arti kata warga binaan sosial
30
Wawancara dengan Ibu Hatinah, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Jakarta pada tanggal 05 April 2014.
31
Wawancara dengan Nuryani, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Jakarta pada tanggal 05 April 2014
32
Wawancara dengan Ibu Hatinah, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Jakarta pada tanggal 05 April 2014.
(WBS) diarahkan agar tidak lagi meminta-minta dijalan, tidak menjadi joki, dan melanggar ketertiban yang telah diatur dalam peraturan daerah.
Lain halnya dengan apa yang diungkapkan oleh informan 3, dari ungkapan Ibu Hastinah dapat terlihat bahwa memang dalam ceramah-ceramah keagamaan disampaikan tentang bagaimana bekerja yang baik dalam Islam, tapi Ibu Hastinah merasa belum yakin karena melihat suaminya yang tuna netra dan pengangguran.
Apa yang diberikan dan disampaikan oleh pembimbing rohani islam juga membuat pandangan dan pola pikir warga binaan sosial (WBS) berubah sebagaimana yang diungkakan oleh informan 1 berikut:
“Bekerja seperti apa yang telah disampaikan oleh Pak Kurniawan, bekerjalah karena Allah semata. Bekerjalah kamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah kamu seolah-olah kamu akan mati besok. Arti dari bekerja adalah tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah, seperti yang dikatakan Pak Kurniawan nanti pada akhir jaman di Padang Mashyar Allah tidak akan melihat atau menghadap kepada orang yang meminta-minta..mereka datang kesana dengan tidak dilapisi daging sekalipun, wajahnya rata. Orang meminta-minta itu termasuk orang yang pemalas.”33
Dari ungkapan informan 1 dapat terlihat perubahan pandangan mengenai bekerja, terutama dalam Islam. Pak Amrizon terlihat paham bahwa dalam Islam kita dilarang mengemis untuk memperkaya diri sendiri. Karena di Padang Mashyar kelak, orang yang suka meminta-minta akan menghadapa kepada Allah SWT dengan muka tidak dilapisi sepotong dagingpun.
Hal lain diungkapkan oleh informan 4 :
33
Hasil wawancara dengan Amrizon, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Ceger, 27 Maret 2014.
“Pandangan saya sekarang ingin merubah hidup, ya mau dagang sayuran di pasar. Soalnya itu sesuai dengan aku, saya ga mau lagi dagang di emperan. Saya mau kumpulin modalnya sedikit-sedikit. Kalau ada rezeki saya mau buka usaha laundry juga. Bekerja dalam Islam juga ternyata diantaranya harus jadi pedangang yang jujur sesuai dengan syariat agama. Tidak boleh melakukan yang haram, dan melanggar ketertiban. “ 34
Ini terlihat juga dari hasil wawancara yang diungkapkan oleh informan 5:
“Yah kedepan saya bisa punya kehidupan yang lebih baik lagi, biar nanti ga balik ke jalan,,,pengennya ga minta-minta di jalan lagi Mba. Pengen ngumpulin modal buat buka usaha, dagang nasi uduk atau gorengan. Cuma masih suka bingung ini...suami saya, ga bisa ngeliat, jadi susah nyari nafkahnya.”35
Dari ungkapan informan 4 dan 5 dapat terlihat bahwa setelah mengikuti bimbingan rohani Islam warga binaan sosial (WBS) jadi memiliki rencana-rencana kedepan untuk memperbaiki hidup dan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Mereka berniat untuk mengumpulkan modal untuk membuka usaha kecil-kecilan.
Pembimbing rohani Islam sangat berperan dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS), ini dapat terlihat dari ungkapan informan 2:
“Peran pembimbingnya si sudah bagus, tapi kalau yang dikasih pengarahan kaya gitu kaya gitu gimana Mba kaya pengemis-pengemis kan mereka mah turun-temurun dijalan. Jadi walau pembimbingnya sudah bagus kasih ceramah, semua kembali lagi sama WBSnya.”36
Hal lain diungkapkan oleh informan 1:
34
Wawancara dengan Nuryani, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Ceger, 5 April 2014
35
Wawancara dengan Ibu Suniti, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Ceger, 14 April 2014
36
Hasil wawancara dengan Amirudin, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Ceger, 27 Maret 2014.
“Peran mereka penting, supaya kami tersadar. Apa yang disampaikan Pak Kurniawan kan benar, tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah. Tapi kan balik lagi ke kita masing-masing, apakah mereka mau mendengar...Allah tidak akan melihat ke orang yang suka meminta-minta. Itu kan bagi mereka yang mau menyadari, soalnya agak sulit WBS disini terutama pengemis kan biasa hidup enak, biasa dapat uang cepat dengan meminta-minta terus sekarang disuruh bekerja, berdagang, dan lain sebagainya rasanya agak sulitlah..ya tapi kembali kediri mereka masing-masing.”37
Berdasarkan analisis di atas dapat penulis simpulkan bahwa pembimbing rohani Islam berperan dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS), yakni:
1. Merubah pandangan warga binaan sosial (WBS) mengenai bekerja dalam Islam, dimana setelah mengikuti bimbingan rohani Islam dan penulis wawancarai warga binaan sosial (WBS) menyatakan bahwa mereka sekarang menjadi tahu bahwa pekerjaan meminta-minta dalam Islam itu tidak diperbolehkan, karena Allah SWT lebih menyukai orang yang bekerja keras, orang yang mau mencari nafkah dari hasil keringatnya sendiri.
2. Meningkatkan ketenangan batin WBS, setelah mengikuti bimbingan rohani Islam warga binaan sosial (WBS) yang tadinya masih arogan, suka marah-marah, suka berkata-kata kasar karena tidak menerima kalau dirinya harus masuk ke panti sekarang sudah bisa mengontrol emosi dengan para petugas, atau dengan sesama warga binaan sosial (WBS) karena dalam bimbingan dijelaskan bahwa semua ini hanya
37
Hasil wawancara dengan Amrizon, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Ceger, 27 Maret 2014.
bagian dari sekenario dari Allah SWT, kita harus menerima, menjalani dan terus memperbaiki diri untuk masa mendatang.
3. Membantu warga binaan sosial (WBS) untuk memiliki kehidupan yang lebih mandiri, dengan memotivasi dan memberikan pengarahan-pengarahan kepada warga binaan sosial (WBS) agar bisa hidup mandiri, dan lebih layak daripada sekarang dalam artian mereka diarahkan agar tidak lagi meminta-minta dijalan, tidak menjadi joki, pedangang asongan, menggamen, atau pekerjaan-pekerjaan yang melanggar ketertiban yang telah diatur dalam peraturan daerah. Sehingga setelah mengikuti bimbingan, warga binaan sosial (WBS) mulai memiliki rencana-rencana untuk mencari nafkah yang lebih baik seperti: kerja di proyek, pembantu rumah tangga, bertani, berternak, menjaga toko/ warung, buka usaha dagang nasi uduk, nasi goreng, sayur-sayuran atau berjualan ditempat yang dilegalkan oleh pemerintah untuk pedagang asongan, dan bekerja hanya fokus pada satu untu para joki yang suka menjadikan pekerjaannya sebagai sambilan.
4. Pembimbing sangat berperan dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS), karena seorang pembimbing bisa menyampaikan materi-materi yang sesuai dengan kondisi warga binaan sosial (WBS) di Panti dengan bahasa-bahasa agama dan metode-metode bimbingan yang disesuaikan dengan karakteristik terbimbing. Sehingga apa yang disampaikan mudah ditangkap oleh WBS dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehati-hari dan
diharapkan agar warga binaan sosial (WBS) dapat termotivasi atau tergugah untuk memiliki kehidupan yang lebih baik kedepannya. Minimal warga binaan sosial tidak lagi kembali ke jalanan untuk melanggar ketertiban umum, dan bisa meningkatkan martabatnya sebagai abdullah (hamba Allah) dengan tidak bekerja semata-mata karena kepentingan dunia tapi juga karena niat beribadah karena Allah SWT.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Ceger Jakarta Timur tentang peran pembimbing rohani Islam dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS) adalah sebagai berikut:
1. Prosesnya bimbingan rohani Islam di panti diawali dengan mengucapkan salam terlebih dahulu, menanyakan kabar mereka, kemudian agar WBS konsentrasi diberikan ice breaking, lalu dilanjutkan dengan do’a dan dzikir susunannya yaitu dengan membaca dua kalimat syahadat, shalawat, membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, do’a mau belajar, do’a untuk kesehatan, do’a untuk ketenangan, do’a untuk orang tua, do’a dunia akhirat, istigfar, setelah itu mendoakan WBS. Baru menyampaikan materi, tanya jawab, penutup, salam-salaman sambil bershalawat untuk meningkatkan
ukhuwah.
2. Metode-metode yang digunakan dalam bimbingan rohani Islam di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 diantaranya: metode ceramah, metode tanya jawab, metode client centered, metode nonton bareng, serta Metode do’a dan dzikir.
3. Pembimbing rohani Islam berperan dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS) di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 melalui bahasa agama dengan tujuan untuk merubah pola pikir dan pandangan warga binaan mengenai bekerja dalam islam, merubah
sikap warga binaan sosial (WBS) dalam bertingkah laku, dan membuat warga binaan sosial (WBS) jadi memiliki rancangan-rancangan hidup agar kedepan mereka bisa jadi pribadi yang lebih baik terutama dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup.
B. Saran
Dari hasil pengamatan penulis mengenai peran pembimbing rohani Islam dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS) di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Untuk pembimbing agar lebih banyak menggunakan metode bimbingan yang interaktif, sehingga warga binaan sosial (WBS) lebih cepat menangkap pesan yang sampaikan.
2. Ada jadwal bimbingan khusus untuk warga binaan sosial (WBS) yang mengalami gangguan jiwa dan yang normal, agar kegiatan bimbingan berlangsung lebih efektif.
3. Kegiatan bimbingan rohani Islam diharapkan lebih ditingkatkan intensitasnya, dan diadakan pendampingan untuk mengontrol WBS secara berkesinambungan.
4. Lebih ditingkatkan lagi fasilitas untuk menunjang kegiatan keagamaannya, seperti peralatan shalat, Al-Qur’an, dan lain-lain.