• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN LAPANGAN DAN ANALISIS DATA Dalam bab ini penulis akan memaparkan temuan yang penulis dapatkan selama penelitian yang berlangsung di Pant

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV TEMUAN LAPANGAN DAN ANALISIS DATA Dalam bab ini penulis akan memaparkan temuan yang penulis dapatkan selama penelitian yang berlangsung di Pant"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

46

Dalam bab ini penulis akan memaparkan temuan yang penulis dapatkan selama penelitian yang berlangsung di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, diantaranya identifikasi subyek penelitian, identifikasi objek penelitian serta analisis peran pembimbing rohani Islam dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS).

Kegiatan bimbingan rohani Islam di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 ini merupakan kegiatan wajib yang harus diikuti oleh seluruh WBS yang sudah terjadwal dan merupakan kegiatan yang dapat memberikan motivasi dan bimbingan pada warga binaan sosial (WBS) agar mereka bisa mendapat pencerahan dan mau meninggalkan profesi lama mereka (mengemis, mengamen, joki, gelandangan, pedagang asongan) dengan bekerja mencari nafkah sesuai syariat islam dan pertaturan Pemda DKI Jakarta, minimal mereka tidak kembali ke jalan lagi.

A. Identitas Informan

1. Subyek I Pembimbing

No Nama Usia Jabatan Pendidikan Bimbingan yang

Diberikan 1 Ustad Ahmad Munzir 25 Tahun Pembimbin g Rohani Islam LIPIA (Semester IV) Jurusan Syariah - Ketauhidan - Fiqh shalat, puasa - Muamalah

(2)

Rukun Islam - Motivasi Kerja Islami 2 M. Kurniawan, S.Sos 35 Tahun Staff Bimbingan dan Penyaluran - Kesos UI (Universitas Indonesia) - KPI (STIDD Al-Hikmah) - Terapi Stress

- Terapi Do’a dan

Dzikir - Motivasi Hidup dan Kerja - Konseling Individu - Praktek Shalat berjama’ah - Bimbingan baca Al-Qur’an Tabel 3

Pembimbing Rohani Islam 1

Deskripsi mengenai pembimbing rohani Islam di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 yaitu:

a. Ustadz Ahmad Munzir

Ustad Ahmad Munzir adalah salah satu pembimbing rohani Islam di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2. Ustadz Munzir lahir di Basanlian Lombok Timur, pada tanggal 16 September 1988 berusia 25 tahun. Sekarang Ustadz Munzir sedang menempuh pendidikan lanjutan di LIPIA mengambil jurusan Syariah semester IV (empat).

Beliau menjadi pembimbing rohani Islam di panti sejak tahun 2012 hingga sekarang, jadi kurang lebih sudah 2 tahunan. Sejarah

1 Wawancara dengan Bapak Kurniawan, S. Sos, Staff Bimbingan dan Penyaluran, Di

(3)

Ustadz Munzir bisa menjadi pembimbing rohani islam di panti awalnya beliau datang ke Jakarta untuk kuliah di LIPIA pada tahun 2008. Setelah tiga tahun ada rekannya meminta Ustadz untuk memberikan bimbingan ke panti. Dengan niat untuk belajar berdakwah dan berharap mendapat Ridho dari Allah SWT akhirnya Ustad Munzir memutuskan untuk menjadi pembimbing rohani Islam

di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 sampai sekarang.2

b. Bapak Kurniawan, S.Sos

Bapak Kurniawan, S.Sos adalah salah satu staff di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 menduduki jabatan sebagai staff Bimbingan dan Penyaluran. Beliau dikenal oleh banyak orang dengan nama panggilan Pak Kur. Pak Kur lahir di Jakarta, 14 Januari 1979 dan berusia 35 tahun. Pendidikan terakhir beliau yaitu S1 di Universitas Indonesia jurusan Kesejahteraan Sosial dan di STIDDI Al-Hikmah jurusan Komunikasi Penyiaran Islam semester akhir sedang dalam tahap penyusunan tugas akhir.

Sejarah Pak Kurniawan bisa menjadi pembimbing rohani islam di panti karena awalnya beliau PNS (Pegawai Negeri Sipil) bagian Bimbingan dan Penyaluran. Di panti ini masih sangat kekurangan pembimbing rohani Islam, sebagai Sie. Bimbingan dan Penyaluran beliau merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan bimbingan baik agama, sosial, hukum, dan motivasi kepada warga binaan sosial (

2

Wawancara pribadi dengan Ustadz Ahmad Munzir, Pembimbing Rohani Islam, Jakarta, pada 3 April 2014.

(4)

WBS). Selain itu basic beliau yang erat dengan dakwah dan kuliah di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam jugalah yang membuat kecintaan beliau untuk menyampaikan pesan-pesan Islam kepada warga binaan

sosial ( WBS) di panti.3

2. Terbimbing

Adapun deskripsi mengenai terbimbing adalah sebagai berikut: Tabel 4

Terbimbing berdasarkan jenis kelamin4

No Jenis Kelamin Jumlah

1 Laki-Laki 23 Orang

2 Perempuan 17 Orang

Jumlah 40 Orang

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa terbimbing laki-laki

berjumlah 23 orang dan terbimbing perempuan berjumlah 17 orang. Tabel 5

Terbimbing Berdasarkan Usia5

No Usia Jumlah 1 20-25 4 orang 2 26-31 3 orang 3 32-37 7 orang 4 38-42 9 orang

3 Wawancara dengan Bapak Kurniawan, S. Sos, Staff Bimbingan dan

Penyaluran, DiJakarta pada Kamis, 3 April 2014.

4Data kegiatan Bimbingan Rohani Islam di Panti Sosial Bina Insan Bangun

Daya 2, Periode Maret 2014.

(5)

5 43-48 10 orang

6 49-53 6 orang

7 54-59 -

8 60-64 1 orang

Jumlah 40 orang

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas terimbing berada dikisaran usia 43-48 tahun, yang mana pada usia ini dapat dikatakan dikatakan sebagai usia produktif.

Tabel 6

Terbimbing Berdasarkan Klasifikasi WBS 6

No Klasifikasi WBS Jumlah 1 Pengamen 6 orang 2 Joki 10 orang 3 Pemulung 5 orang 4 Pengemis 13 orang 4 Gelandangan 2 orang

5 Pedagang Asongan 4 orang

Total 40 orang

Tabel 7

Terbimbing Berdasarkan Asal Daerah 7

No Asal Daerah Jumlah

1 Jakarta 10 orang

2 Padang 1 orang

6

Data kegiatan Bimbingan Rohani Islam di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Periode Maret 2014.

(6)

3 Tangerang 5 orang

4 Jawa Tengah 8 orang

5 Jawa Barat 6 orang

6 Jawa Timur 7 orang

7 Palembang 1 orang

8 Lampung 1 orang

Jumlah 40 orang

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa mayoritas terbimbing yang mengikuti bimbingan adalah WBS yang berusia 43-48 tahun dan memiliki klasifikasi pekerjaan sebagai pengamen, pengemis, joki, pedagang asongan, gelandangan dan pemulung.

Terbimbing yang menjadi sampel penelitian penulis adalah yang aktif mengikuti kegiatan bimbingan agama berjumlah 5 orang. Terdiri dari 2 laki-laki dan 3 perempuan. Dengan jenis klasifikasi PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial), yaitu pengemis, pemulung, dan pedagang asongan. Klasifikasi ini diambil berdasarkan pertimbangan dan hasil pengamatan penulis selama dilapangan karena WBS dengan klasifikasi lainnya tidak dapat dijadikan objek penelitian karena keterbatasan waktu atau mental dari WBS itu sendiri. Adapun terbimbing yang ada di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 yang telah penulis wawancarai diantaranya:

a. Amrizon

Pak Amrizon berusia di 37 tahun lahir di Padang, 28 November 1976. Merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, sayangnya

(7)

beliau bertatus belum menikah walau di usia yang tidak muda lagi. Pendidikan terakhir Pak Amrizon yaitu Sekolah Teknik, ini setara dengan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).Pak Amirizon tinggal di Palmerah, Jakarta Selatan. Bekerja sebagai pedagang asongan yang menjual ID-Card, gantungan, casing HP, dan lain-lain. Dengan penghasilan sehari-harinya berkisar antara Rp. 50.000,- sampai dengan Rp. 100.000,-.

Pak Amrizon ada di panti sejak tanggal 10 Maret 2014. Latar belakang Pak Amrizon bisa masuk ke panti karena di bawa oleh dua orang SATPOL PP yang sedang melakukan razia, dan akhirnya Pak Amrizon dibawa ke Suku Dinas Jakarta Selatan karena berjualan di tempat yang dilarang yaitu JPO (Jembatan Penyebrangan Orang) di daerah Polda Metro Jaya.

Ini pertama kalinya Pak Amrizon terjaring razia oleh Satpol PP, walaupun sebelum-sebelumnya dia tau bahwa ada Peraturan Daerah (Perda) No. 8 Tahun 2007, yaitu larangan berjualan di JPO. Walaupun begitu Pak Amrizon masih nyaman berjualan di jembatan karena ingin mengumpulkan modal untuk buka usaha. Tapi berdasarkan pengakuan dari Pak Amrizon, setelah keluar dari panti dia tidak akan mau lagi jualan ditempat yang terlarang. Dia memilih untuk membuka usaha

lain misalnya kios makanan dengan cara menyewa.8

8 Hasil wawancara dengan Amrizon, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun

(8)

b. Amirudin

Bapak Amirudin, tinggal di Lapak Pemulung daerah Kalibata. Lahir di Pemalang, 19 Januari 1975 usianya 38 tahun. Merupakan anak ke-3 dari 7 bersaudara. Pak Amir memiliki dua orang anak, yaitu SD kelas lima dan bayi berusia 5 tahun dan istrinya merupakan ibu rumah tangga. Pendidikan terakhir Pak Amirudin yaitu SMP di daerah Pemalang Jawa Timur.

Pekerjaan sehari-hari Pak Amir yaitu bekerja di proyek dari jam 8 pagi sampai dengan jam 4 sore dengan gaji Rp. 50.000,- per hari. Karena Pak Amir memiliki dua orang anak dan satu istri yang menjadi tanggungannya, Pak Amir memilih untuk mencari tambahan dengan cara memulung setelah pulang kerja di proyek kira-kira 1 sampai 2 jam-an. Malangnya hari itu tanggal 10 Maret 2014, Pak Amirudin dibawa oleh Satpol PP ke panti saat sedang tertidur di

taman karena kelelahan setelah bekerja di Proyek dan mau mulung.9

c. Hatinah

Ibu Hatinah berusia 50 tahun, lahir di Subang pada tanggal 16 Maret 1964. Merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara. Bu Hatinah tinggal di Klender di Kampung Pertanian Tengah RT 01 RW 01. Pendidikan terakhirnya lulus SD, di SDN Jati Rejo Subang Jawa Barat. Bu Hatinah memiliki 2 orang anak dan 3 orang cucu.

9

Hasil wawancara dengan Amirudin, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun

(9)

Bu Hatinah masuk ke panti pada tanggal 28 Maret 2014. Pagi itu Bu Hatinah sedang berjalan dengan suaminya Pak Kaming mau menuju ke rumahnya usai mengemis di salah satu perumahan. Ternyata pas mau nyebrang ada mobil Depsos, akhirnya mereka berdua terjaring razia dan dibawa ke panti.

Menurut pengakuan Bu Hastinah dia terpaksa mengemis karena untuk membantu suaminya yang tuna netra. Baru 20 hari dia di

Jakarta, biasanya Bu Hastinah tinggal di kampung. Suaminya sudah 7 tahun mengemis dan tidak pernah terjaring razia karena minta-mintanya di perumahan. Suaminya memiliki penuntun orang Tegal,

tetapi sedang pulang kampung. Terpaksa Bu Hatinah yang menggantikan untuk menemani suaminya mengemis. Penghasilan

mengemis Bu Hastinah Rp. 30.000,- sampai dengan Rp. 60.000,-.10

d. Nuryani

Bu Nuryani, lahir di Palopo tanggal 5 Mei 1973 usianya sekarang sudah 40 tahun. Bu Nur merupakan anak ke terakhir dari dua bersaudara. Tempat tinggal Bu Nur di daerah Juanda gang Kingkit, dia tinggal dengan anak terakhirnya sedangkan anak pertama dan keduanya bekerja di Yogyakarta. Bu Nur memiliki pendidikan terakhir yaitu STM (Sekolah Tinggi Menengah) Palopo, Makassar.

Bu Nuryani ada dipanti sejak tanggal 11 Maret 2014, dia dirazia oleh Satpol-PP karena sedang berjualan di Monas. Kegiatan sehari-hari Bu Nuryani yaitu berdagang dan mulung. Dia berjualan

10 Wawancara dengan Ibu Hatinah, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun

(10)

kopi, mie, rokok, permen, dan lain –lain dari jam 09.00 s.d 17.00 WIB setelah itu Bu Nur melanjutkan kegiatannya dengan memulung dari jam 19.00 s.d 04.00 WIB di daerah Monas sampai ke daerah Senen dengan berjalan kaki. Pagi-paginya dia pulang dulu ke kontrakan untuk menyiapkan perlengkapan anaknya sekolah.

Bu Nur melakukan ini untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya juga kebutuhan anak terakhirnya. Suaminya telah meninggal dunia karena tabrakan di Kalimantan Timur, sehingga Bu Nur harus memenuhi kebutuhan ekonominya sendirian. Penghasilan yang diperoleh Bu Nur untuk dagang Rp. 20.000,- s.d Rp. 30.000,- dan

penghasilan untuk mulung Rp. 35.000,-per hari.11

e. Suniti

Ibu Suniti, lahir di Banjarnegara pada tanggal 23 Oktober 1973. Ibu suniti berusia 40 tahun dan merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Pendidikan terakhir Bu Suniti hanya sekolah dasar saja, karena waktu itu di desanya pendidikan masih minim. Alamat rumahnya di daerah Klender Jakarta Timur.

Bu Suniti berada di panti sejak tanggal 20 Maret 2014, dia terjaring razia oleh Satpol PP disaat jalan pulang menuju ke rumah. Bu Suniti dan suaminya dibawa oleh Satpol PP karena melanggar ketertiban umum Pemda DKI Jakarta yaitu mengemis. Ibu Suniti mengemis bersama suaminya, dimana Bu Suniti sebagai penuntun suaminya yang berdasarkan infomasi ternyata seorang tuna netra. Bu

11 Wawancara dengan Nuryani, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Jakarta

(11)

Suniti baru saja datang dari kampung, karena suaminya sudah lama tidak mencari nafkah.

Suami Bu Suniti sudah tidak bisa melihat sejak 7 tahun yang lalu, sehingga suaminya tidak bisa bekerja seperti biasa. Karena kebutuhan sehari-hari yang mendesak, akhirnya suami Bu Suniti memilih untuk datang ke Jakarta untuk mengemis. Suaminya memiliki seorang teman yang untuk menemani saat mengemis (penuntun), tapi sekarang sedang pulang kampung sehingga suaminya kembali pulang ke kampung.

Karena terlalu lama di kampung membuat Bu Suniti dan keluarga, merasa kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini memaksa Bu Suniti untuk ikut suaminya ke Jakarta untuk mengemis, sayangnya baru satu minggu di Jakarta Bu Suniti terjaring razia oleh Satpol PP dan dibawa ke panti sosial. Pendapatan sehari-hari Bu Suniti dan suami dari hasil mengemis berkisar antara

Rp. 30.000,-sampai dengan Rp. 40.000,-/ hari. 12

B. Kegiatan Bimbingan Rohani Islam Di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Ceger

1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan bimbingan rohani islam diberikan kepada warga binaan secara intensif oleh Ustad Munzir dan Pak Kurniawan. Mereka memiliki jadwal bimbingan yang berbeda, dimana Pak Kurniawan sekaligus staff

12 Wawancara Pribadi dengan Suniti , WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2,

(12)

Bimbingan dan Penyaluran memiliki andil untuk bertanggung jawab untuk memberikan bimbingan untuk warga binaan.

Untuk jadwal bimbingan rohani Islam yang dipimpin oleh Ustadz Munzir dilaksanakan pada hari Senin mulai pukul 10.00-11.30 WIB, di aula PSBI atau di aula asrama. Sebagaimana yang Ustadz Munzir kemukakan dalam wawancara:

“Awal-awalnya kegiatan bimbingan rohani islam disini, di Aula hari Senin dari jam 10.00 WIB sampai dengan jam 11.30 WIB. Terus sering juga kita melaksanakannya di Ruang Bimbingan

WBS/ di Barak Lantai 2.”13

Dalam penyampaian materi bimbingan rohani Islam Ustad Munzir sering kali didampingi oleh Pak Kurniawan, atau staff Bimbingan Penyaluran lainnya. Ini dikarenakan butuh penjagaan ekstra untuk mengkondisikan suasana, yakni agar WBS tetap fokus dalam mengikuti kegiatan bimbingan. Selain itu sebelum Pak Munzir menyampaikan materi, biasanya ada pembukaan atau pengarahan-pengarahan terlebih dahulu dari Pak Kurniwan, Bapak H.Abdul Khair, S.Ag, M.Si, atau Bapak

Purwono, SH, M.Si selaku Kepala Panti.14

Sedangkan tempat dan jadwal bimbingan rohani Islam yang di pimpin oleh Pak Kurniawan, sebagaimana yang diungkapkan dalam pernyataan berikut:

“ Tempatnya didepan klinik itu setiap pagi, memberikan

motivasi, terapi doa dan dzikir, terapi psikososial, terapi SEFT

(Spiritual Emosional Freedom Treatment) dimana kita mulai dengan dzikir kemudian menarik nafas sambil berdoa agar ketegangan WBS menurun. Lalu baca surah-surah pendek,

13 Wawancara Pribadi dengan Ustadz Ahmad Munzir, Pembimbing Rohani Islam, Ceger,

3 April 2014

14

(13)

Ikhlas, An-Nas, dan lain-lain. Pelaksanaanya setiap Senin, Rabu, Kamis. Emmm...sering juga bimbing doa di ruang makan, tapi sebelumnya dimotivasi dulu tetang bersyukur kepada Allah SWT. Sering juga dilaksanakan bimbingan shalat di Mushalla di asrama WBS atau di Aula. Setiap Senin juga mendampingi Ustad Munzir menyampaikan ceramah. Bimbingan itu paling lama 45 menit..dan seminggu tiga kali, kalau cuma satu kali engga efisien mereka takut

lupa.”15

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa tempat pelaksanaan bimbingan rohani Islam yang dipimpin oleh Pak Kurniawan

yaitu didepan klinik yang merupakan tempat terbuka (outdoor), bimbingan

diberikan kepada warga binaan sosial (WBS) setiap pagi hari Senin, Rabu, dan Kamis. Pak Kurniawan juga memberikan bimbingan di ruang makan, yaitu bimbingan doa, dan menanamkan rasa syukur kepada warga binaan sosial (WBS); memberikan bimbingan shalat berjama’ah di Mushalla; motivasi hidup dan motivasi bekerja di aula, dan lain sebagainya. Untuk lamanya waktu pelaksanaan bimbingan, yaitu 45 menit dengan intensitas waktu seminggu 3 kali agar WBS tidak lupa dengan materi yang disampaikan.

JADWAL BIMBINGAN ROHANI ISLAM

NO WAKTU JENIS

BIMBINGAN DESKRIPSI TUJUAN

1 Senin,

Pukul 07.30 s.d 08.00 WIB

Terapi Stress

- Bentuk terapinya dengan

mengintruksikan kepada WBS untuk mengikuti gerakan pembimbing, menyentuh anggota tubuh tertentu. Dimulai dari kepala,

- Agar hilang ketegangannya, dan kembali normal, tenang, dan dimudahkan segala masalahnya. - Untuk 15

Wawancara dengan Bapak Kurniawan, S. Sos, Staff Bimbingan dan Penyaluran dan

(14)

wajah dan tangan. Materi yang disampaikan juga sifatnya universal, ada agama, sosial, ekonomi, dan lain-lain - WBS diajak untuk berlari-lari kecil dilapangan. meningkatkan ukhuwah islamiyah atau silaturahim antar WBS, sekaligus silaturahim

Terapi doa dan

dzikir WBS mendengar lantunan ayat diajak untuk

suci Al-Qur’an dan

mengikuti lantunan doa

dan dzikir yang

pembimbing ucapkan. Agar WBS mendapatkan ketenangan batin dengan senantiasa mengingat Allah SWT. Motivasi Hidup Penyampaian materi dan

memberikan semangat kepada WBS agar senatiasa mensyukuri hidup. Agar WBS tidak terus-menerus menyalahkan keadaan dan mau berubah mind set untuk tidak kembali kejalan.

2. Senin,

10.00-11.30 WIB

Ceramah

Agama Ustad Munzir menyampaikan

materi-materi yang berkaitan dengan agama islam.

Agar pengetahuan

WBS bertambah dan

prilakunya berubah

agar lebih normatif.

3 Rabu, 10.00 – 12.00 WIB Motivasi hidup, tujuan hidup, kultum, konsultasi, cerita tentang masalah wbs Pembimbing melakukan bimbingan yang sifatnya informal, misalnya mendatangi asrama WBS dan sharing dengan mereka. Untuk mengetahui masalah WBS dan memberikan masukan-masukan kepada mereka. 4 Kamis, 10.00-12.00 WIB - Terapi Stress - Terapi Doa dan Dzikir - Motivasi hidup

Kita mulai dengan

mengupayakan WBS

untuk mengenali

keluarganya, kita juga menyampaikan tentang bagaimana kita harus

sabar, dan memiliki

penerimaan yang baik..

Agar WBS bisa

senang , dan gembira melalui waktu-waktu dipanti dan memiliki harapan-harapan untuk kehidupan yang

lebih baik

kedepannya.

Tabel 8

Jadwal Bimbingan Rohani Islam di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 16

16 Wawancara dengan Bapak Kurniawan, S. Sos, Staff Bimbingan dan Penyaluran, Di

(15)

2. Proses Kegiatan Bimbingan Rohani Islam

Setiap kegiatan pasti memiliki tata cara atau prosedur tertentu agar tujuan dari kegiatan tersebut bisa tercapai sesuai dengan apa yang direncanakan. Begitu juga dengan proses bimbingan rohani Islam yang ada di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, berikut adalah pernyataan-pernyataan dari beberapa informan mengenai proses bimbingan rohani Islam.

Bu Hatinah mengemukakan:

“Prosesnya pertama berdoa terlebih dahulu, shalat dulu, dzikir, shalawatan dulu, baru ceramah seputar ibadah shalat, puasa,

tentang sabar, tentang kerja terus baru tanya jawab deh Dek....”17

Ustadz Munzir juga mengungkapkan:

“Proses pertama yaa dimulai dengan memuji Allah, dan selalu menyadarkan mereka tentang banyaknya nikmat Allah yang diberikan untuk dihayati dan pikirkan dari pada kita selalu mengeluh karena kekurangan. Setelah itu menyampaikan materi tentang tauladan Rasulullah, sikap-sikap beliau kepada istri, anak-anak, keluarga, dan tetangganya. Mudah-mudahan itu bisa dijadikan contoh oleh WBS. Baru kita sampaikan materi pada hari itu, baru tanya jawab, lalu istirahat makan-makan snack. Ada juga reward bagi WBS yang bisa menjawab. Kalau games-games dan doa-doa itu setiap pagi sudah diberikan sama Pak Kurniawan.

Setelah itu kita tutup dengan doa penutup dan salam.”18

Proses bimbingan yang dilakukan oleh Ustadz Munzir, pertama yaitu dengan memuji Allah melalui dzikir, doa, agar mereka menyadari banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Sehingga warga binaan sosial tidak lagi mengeluh dan marah dengan kondisi mereka saat ini. Setelah itu dilanjutkan dengan penyampaian materi keagamaan,

17

Wawancara dengan Ibu Hatinah, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2,

Ceger, 5 April 2014.

18 Wawancara Pribadi dengan Ustadz Ahmad Munzir, Pembimbing Rohani Islam, Ceger,

(16)

mengadakan forum tanya jawab, istirahat makan snack, dan ditutup dengan doa dan salam.

Berikut proses bimbingan rohani islam yang dipimpin oleh Pak Kurniawan:

“Pertamanya saya salam dulu, kemudian menanyakan kabar

mereka Apa kabar hari ini? Mereka Jawab: Alhamdulillah

sehat, Allahu Akbar, kemudian agar WBS konsentrasi kita ice breaking dulu, terus doa dan dzikir susunannya membaca dua kalimat syahadat, shalawat, Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, doa-doa belajar, doa-doa kesehatan, doa-doa ketenangan, doa-doa orang tua, doa-doa dunia akhirat, istigfar, habis itu kita semua mendoakan WBS. Kalau pagi-pagi ditambah motivasi dan terapi kemudian gerak-gerak...oyaa sebelum mulai sambil nunggu WBS kumpul semua kita setel murotal, nasyid, lagu-lagu islami. Penyampaian materinya sedikit, kalau ada waktu sedikit boleh juga curhat, cerita baru deh salam-salaman, doa, penutup.”

Berdasarkan analisis penulis dari hasil wawancara dan observasi

dilapangan bahwa proses bimbingan yang dipimpin oleh Pak Kurniawan diawali menyetel lagu-lagu islami, atau murotal agar WBS merasakan ketenangan batin ini dilakukan sambil menunggu WBS berkumpul. Kemudian bimbingan dimulai dengan mengungkapkan salam, menanyakan kabar dengan jawaban yang telah disepakati sebelumnya

yaitu dengan menjawab “Alhamdulillah sehat, Allahu Akbar”.

Selanjutnya adalah mengkondisikan WBS agar mereka fokus

mengikuti bimbingan yaitu dengan ice breaking misalnya yel-yel, ikrar,

atau games. Contoh ikrarnya “Saya berjanji tidak akan mengemis lagi,

saya berjanji akan berusaha, saya berjanji tidak akan ke jalan lagi”. Lalu membimbing WBS untuk berdoa dan berdzikir, susunanya dimulai dari membaca dua kalimat syahadat, shalawat, Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, doa-doa belajar, doa kesehatan, doa ketenangan, doa orang tua, doa dunia

(17)

akhirat, istigfar, setelah itu mendoakan warga binaan sosial (WBS) agar mereka merasa bahwa masih ada orang-orang yang peduli dengan mereka. Kalau bimbingan dilakukan pagi hari, bimbingan ditambah dengan motivasi dan terapi agar badan WBS bergerak dan ketegangan stress mereka menurun. Menyampaikan materi bimbingan dan jika ada sisa waktu WBS diizinkan untuk bertanya, curhat, baru penutup dengan doa, shalawat, dan saling bersalaman-salaman. Untuk bimbingan hari Senin setelah bersalam-salaman WBS diwajibkan mengikuti kegiatan shalat berja’mah, dimana Imam, Adzan, dan Qomatnya dilakukan oleh WBS untuk melatih mereka displin, dan menjadi seorang pemimpin.

Dari hasil observasi dan wawancara dilapangan penulis menyimpulkan bahwa pembimbing rohani memiliki peran sangat penting dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS) ini terlihat dari proses bimbingan rohani Islam di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 yang terlaksana dengan baik dan terstruktur, sehingga terbimbing ikut antusias dalam mengikuti bimbingan rohani Islam.

C. Metode yang Digunakan dalam Bimbingan Rohani Islam

Agar materi yang disampaikan oleh pembimbing dimengerti oleh terbimbing (WBS) maka diperlukan metode-metode. Adapun metode yang digunakan oleh pembimbing rohani Islam di Panti Sosial Bina Insan Bagun Daya 2 dalam menumbuhkan etos kerja pada WBS adalah sebagai berikut:

(18)

Dalam menyampaikan materi kepada warga binaan sosial (WBS), pembimbing menggunakan metode ceramah atau tausiyah dengan lama waktu kurang lebih 60 menit. Metode ini dalam keilmuan Bimbingan dan

Penyuluhan Islam sama dengan metode bimbingan kelompok (Group

Group Guidance), yaitu dimana ada kontak ahli bimbingan dengan sekelompok klien yang agak besar mereka mendengarkan ceramah, ikut aktif berdiskusi, serta menggunakan kesempatan untuk tanya jawab. Pembimbing mengambil banyak inisiatif dan memegang peranan instruksional, misalnya bertindak sebagai instruktur atau sumber ahli bagi berbagai macam pengetahuan atau informasi.

Begitu juga dengan yang dilakukan oleh pembimbing dalam membimbing warga binaan sosial (WBS) yaitu dengan menyampaikan materi dengan tema tertentu kepada warga binaan sosial (WBS). Materi yang disampaikan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan warga binaan sosial (WBS) yang menjadi terimbing saat itu, karena warga binaan sosial (WBS) yang menjadi sasaran bimbingan itu sangat

bervariasai dan berganti-ganti.19

Menurut penulis metode ceramah ini cukup efektif digunakan, karena menyampaikan materinya dengan cara komunikasi satu arah. Ini dilakukan karena pengetahuan agama warga binaan sosial (WBS) yang agak minim, sehingga lebih banyak menerima materi-materi yang disampaikan oleh pembimbing.

2. Metode Tanya Jawab

(19)

Adalah salah satu metode yang digunakan dalam bimbingan rohani Islam. Metode ini biasanya digunakan saat pembimbing telah selesai menyampaikan materi keagamaan. Warga binaan sosial (WBS)diberi kesempatan untuk bertanya kepada pembimbing jika ada materi yang kurang jelas dan belum di mengerti. Pembimbing tidak memberikan batasan jumlah pertanyaan, dan diperbolehkan untuk bertanya diluar konteks materi hari itu. Biasanya pertanyaan akan langsung dijawab oleh pembimbing rohani saat itu juga, dan terkadang pihak panti menyediakan hadiah untuk warga binaan sosial (WBS) yang aktif bertanya selama kegiatan bimbingan berlangsung.

Contoh pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu Nuryani dalam

mengikuti bimbingan yang dipimpin oleh Pak Kurniawan, yaitu: “Pak,

nama saya Nuryani mau tanya apa perbedaan rukun iman, rukun islam, dengan tauhid?.” Pembimbing (Pak Kurniawan) langsung menjawab:

“Tauhid itu ilmu tentang bagaimana kita mengesakan Tuhan, diantaranya kita harus meyakini rukun iman dan rukun islam. Tidak hanya mengerti dan paham tapi juga mengamalkannya.”20

Selain itu pertanyaan yang dilontarkan WBS lain dalam bimbingan

yang dipimpin oleh Ustad Munzir, yaitu: “Kok kami ditangkap sih

Ustadz....memangnya ada tidak larangan joki, memulung, dan mengamen dalam Al-Qur’an?” Pembimbing (Ustad Munzir) juga langsung

menjawab: “Islam melarang kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan

seperti itu dengan menyetarakan pekerjaan-pekerjaan yang disetarakan

20

Observasi kegiatan Bimbingan Rohani Islam, di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, 23 Januari s.d 15 April 2014

(20)

dengan ‘joki’. Seperti tadi kita kan disuruh taat kepada Allah dan Rasulullah, nah ini semua menjadi dasar kita untuk menaati pemimpin kita walaupun pemimpin itu merupakan orang yang dzalim atau bahkan tidak pernah shalat. Selama dia tidak memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah SWT misalnya membunuh orang, atau yang lain itu baru tidak boleh. Nah....kalau demi kenyamanan kita bersama, untuk ketertiban masyarakat itu wajib kita ta’ati meskipun pemerintah itu tidak sepenuhnya baik.”21

Metode tanya jawab yang dilakukan oleh pembimbing, sangat menunjang dalam kegiatan bimbingan rohani Islam. Kita bisa tau sejauh mana konsentrasi warga binaan sosial (WBS) dalam mengikuti bimbingan dan bagaimana daya tangkap warga binaan sosial (WBS). Sayangnya, metode yang digunakan pembimbing masih menggunakan metode satu

arah yaitu terbimbing bertanya dan pembimbing menjawab. Pada season

ini terbimbing lainnya tidak diikut sertakan dalam berkomentar, memberikan tanggapan, dan memberikan jawaban terhadap pertanyaan atau pembahasan yang sedang dibahas.

3. Client Centered Method (metode yang dipusatkan pada keadaan terbimbing)

Metode ini sering disebut juga dengan nondirective (tidak

mengarahkan). Dalam metode ini terdapat pandangan bahwa terbimbing sebagai makhluk yang bulat memiliki kemampuan berkembang sendiri

dan sebagai pencari kemantapan diri sendiri (self consistency).

21 Wawancara Pribadi dengan Ustadz Ahmad Munzir, Pembimbing Rohani Islam, Ceger,

(21)

Dari hasil observasi dan wawancara langsung dilapangan penulis menemukan bahwa metode ini sama dengan bimbingan yang sifatnya informal. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Pak Kurniawan sebagai pembimbing rohani islam:

“Untuk bentuknya bimbingannya ada yang bimbingan klasikal, individual, spiritual, motivasi, setiap pagi di morning meeting saling kumpul untuk mengenal satu sama lain dan silaturahim, jadi sifatnya informal dan formal. Kalau formal kan ceramah-ceramah gitu, nah kalau yang informal itu mengingatkan untuk ibadah, teguran-teguran, ngobrol agar sadar, dan senantiasa

berdoa.”22

Dari ungkapan tersebut terlihat bahwa bimbingan rohani Islam

di panti juga menggunakan metode Client Centered, dimana

pembimbing melakukan bimbingan yang sifatnya informal (agak santai) misalnya: Ngobrol-ngobrol dengan warga binaan sosial (WBS) mengenai penyebab mereka masuk ke panti, harapan-harapan kedepan setelah keluar dari panti, kemudian mengarahkan mereka apakah ingin bekerja, ikut pulang ke kampung halaman, atau menunggu diurus keluarga. Setelah itu baru didata, jika ada yang mau bekerja maka disalurkan ke panti-panti sosial lainnya agar mendapatkan bimbingan yang lebih mendalam. Tapi jika ada yang belum tertarik bekerja dan merasa kurang motivasi maka pembimbing akan memberikan pengarahan-pengarahan lebih lanjut.

4. Nonton Bareng

22

Wawancara dengan Bapak Kurniawan, S. Sos, Staff Bimbingan dan Penyaluran dan

(22)

Metode ini merupakan salah satu cara menyampaikan pesan yang digunakan oleh pembimbing rohani islam melalui film, atau video-video motivasi yang mengandung unsur hiburan dan edukasi. Sehingga selain warga binaan sosial (WBS) mendapatkan hiburan melalui film yang ditayangkan tapi warga binaan sosial (WBS) juga bisa mendapatkan hikmah dari apa yang mereka tonton.

Film-film yang ditayangkan biasanya yang bernuansa islami atau memiliki nilai edukasi yang cukup baik seperti: Negeri Lima Menara, Hafalan Shalat Delisa, Laskar Pelangi, Alangkah Lucunya Negeri Ini, dan lain-lain. Ada juga video-video motivasi berdurasi pendek antara 10 sampai 15 menit, diantaranya video mengenai Anak Durhaka, Renungan Untuk Apa Kita Hidup, Belajar dari Seekor Katak

Tuli, Jangan Menyerah, Motivasi Sukses, dan lain sebagainya.23

Kegiatan nonton bareng ini cukup menarik perhatian, dan membuat warga binaan sosial (WBS) antusias dalam mengikuti bimbingan. Kegiatan ini juga mampu membuat warga binaan sosial (WBS) mendapatkan inspirasi-inspirasi mengenai kehidupan mereka setelah keluar dari panti, karena mendapatkan motivasi hidup, bekerja, dan ibadah dari apa yang ditanyangkan.

5. Metode Do’a dan Dzikir

Sebelum materi bimbingan disampaikan pembimbing

menggunakan metode dzikir dan do’a. Metode ini dilakukan secara

23 Observasi dalam kegiatan Bimbingan Rohani Islam, di Panti Sosial Bina Insan Bangun

(23)

bersama-sama, dimana pembimbing membaca kalimat-kalimat dzikir atau do’a kemudian warga binaan sosial (WBS) mengikuti apa yang pembimbing ucapkan. Metode ini bertujuan agar warga binaan sosial (WBS) merasakan ketenangan batin, dan menurunkan tingkat stress

mereka. 24

Metode yang digunakan oleh Ustad Munzir selaku pembimbing rohani Islam di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 untuk menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS) adalah metode ceramah, metode tanya jawab, dan metode nonton bareng dengan terbimbing. Sedangkan metode yang digunakan oleh Bapak Kurniawan, S.Sos.I selaku pembimbing rohani Islam dan staff bimbingan dan

penyaluran adalah metode ceramah, tanya jawab, Client Centered Method,

nonton bareng, dan metode do’a dan dzikir.

Metode ini mereka terapkan kepada warga binaan sosial (WBS) agar mereka mampu menyerap materi yang disampaikan dengan cepat dan agar apa yang disampaikan lebih mudah diaplikasikan dalam kehidupan terbimbing. Dari hasil wawancara dan observasi dapat terlihat bahwa peran pembimbing rohani Islam sangat penting dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS) yaitu dari metode-metode yang mereka gunakan dalam menyampaikan materi bimbingan, yang bertujuan agar WBS lebih mudah menerima dan mengaplikasikan materi yang telah pembimbing berikan.

24

Wawancara dengan Bapak Kurniawan, S. Sos, Staff Bimbingan dan Penyaluran dan

(24)

D. Analisis Peran Pembimbing Rohani Islam dalam Menumbuhkan Etos Kerja pada WBS (Warga Binaan Sosial)

Pada penelitian kali ini penulis fokus untuk membahas mengenai bimbingan rohani islam, terutama peran pembimbing rohani islam dalam

menumbuhkan etos kerja warga binaan sosial (WBS). Peranan (role)

merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukan-kedudukannya

maka dia menjalankan suatu peran.25 Sehingga pada penelitian ini kita bisa

lihat sejauh mana seorang pembimbing rohani berperan memberikan pengarahan-pengarahan kepada warga binaan sosial (WBS) melalui bahasa-bahasa agama, sehingga etos kerja warga binaan sosial (WBS) bisa meningkat.

Etos kerja itu sendiri merupakan pandangan, nilai, dan sikap mendasar dari seseorang mengenai kerja yang memancar dan direfleksikan dalam kehidupan nyata. Sehingga diharapkan setelah warga binaan sosial (WBS) mengikuti bimbingan rohani islam di panti, pandangan, nilai, dan sikap dari masing-masing warga binaan sosial (WBS) mengenai bekerja dapat berubah. Setidaknya mereka memiliki harapan-harapan kedepan untuk mencari penghasilan yang lebih baik, dan tidak kembali ke jalan.

Dari hasil wawancara dan observasi langsung di lapangan penulis menemukan bahwa bimbingan rohani islam di panti bermanfaat untuk membantu masalah yang dihadapi warga binaan sosial (WBS). Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Munzir:

25

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, Cet. 36, 2003), h. 243

(25)

“Manfaatnya untuk menyadarkan mereka dengan materi-materi yang saya sampaikan. Intinya sih saya berharap dengan mengikuti kajian seperti ini dapat merubah hidup mereka karena telah berbuat baik

dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ta’lim.”26

Dari ungkapan Ustadz Munzir diatas terlihat bahwa bimbingan rohani islam dapat merubah hidup warga binaan sosial (WBS) menjadi lebih baik melalui materi-materi yang disampaikan.

Hal lain diungkapkan oleh Bapak H. Abdul Khair, S. Ag, M.Si:

“Bimbingan mental dan spiritual seorang Ustadz berkaitan dengan penyampaian materi kepada warga binaan, minimal pembimbing tahu permasalahan dari warga binaan kami sehingga akan memberikan sebuah solusi minimal bisa memberikan solusi dengan contoh-contoh ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis, atau tuntunan syariat lainnya dan contoh-contoh figur dari Nabi Muhammad agar memiliki gambaran dari Nabi. Sehingga kita tetap berusaha bagaimanapun kondisi kehidupan kita. Kita harus tetap semangat tidak pasrah dengan

masalah hidup. “27

Dari ungkapan diatas terlihat bahwa pembinaan warga binaan sosial (WBS) melalui bimbingan rohani islam diharapakan seorang pembimbing bisa menyampaikan materi-materi yang sesuai dengan kondisi warga binaan sosial (WBS) dengan bahasa-bahasa agama. Sehingga mereka tidak begitu saja pasrah dan tetap semangat dalam menghadapi setiap masalah hidup.

Selain itu dari hasil observasi dan wawancara langsung selama dilapangan ternyata bimbingan rohani islam memiliki manfaat yaitu agar warga binaan sosial (WBS) mendapatkan ketenangan batin. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak M. Kurniawan, S. Sos :

26 Wawancara Pribadi dengan Ustadz Ahmad Munzir, Pembimbing Rohani Islam, Ceger,

3 April 2014

27

Wawancara dengan Bapak H. Abdul Khair, S.Ag, M.Si, KA Sub Bag Tata Usaha,

(26)

“Dengan mengikuti bimbingan WBS bisa mendapat ketenangan batin. Terus ada juga sesi curhat, sehingga WBS bisa menyampaikan apa masalah yang mereka hadapi dan memberikan solusi. Selain itu saya juga menyampaikan untuk selalu mengingat Allah SWT dimanapun dan seberat apapun masalah yang mereka hadapi. Biasakan doa dan

dzikir Insya Allah ada jalan keluarnya.”28

Dari hasil observasi dan wawancara langsung dari pembimbing rohani Islam selama di lapangan, penulis juga melakukan wawancara langsung dengan terbimbing (warga binaan sosial). Penulis menemukan bahwa seorang pembimbing rohani Islam memiliki peran dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS). Sebagaimana yang diungkapkan oleh informan 4:

Menurut aku hati jadi rasanya tenang dan mulai sadar bahwa ini kesalahan aku. Sehingga aku pasrah dengan semua yang terjadi, berdoa sama Allah semoga aku di dalam panti ini ada hikmahnya aja. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, saya salahin diri saya sendiri. Selain itu manfaat yang lain dengan ikut bimbingan saya jadi bertambah pengetahuan tentang agama, dari yang tidak tahu jadi tahu. Lalu untuk motivasi supaya bisa kerja lebih baik lagi dari sekarang,

dan merubah sikap juga.29

Dari ungkapan Ibu Nuryani diatas terlihat bahwa dengan mendengarkan apa yang disampaikan oleh pembimbing rohani Islam dapat membuat hati menjadi lebih tenang, memiliki penerimaan yang baik atas apa yang Allah SWT telah gariskan, menambah pengetahuan agama, dan memberi pengarahan kepada warga binaan sosial (WBS) untuk bekerja lebih baik lagi kedepan.

Hal lain diungkapkan oleh informan 3:

28

Wawancara dengan Bapak Kurniawan, S. Sos, Staff Bimbingan dan Penyaluran dan

Pembimbing Rohani Islam, Ceger, Kamis, 3 April 2014.

29

Wawancara dengan Nuryani, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Jakarta pada tanggal 05 April 2014.

(27)

“Iya Dek, saya lebih menerima aja kenapa bisa ada disini, ga terlalu marah-marahlah. Saya jadi yakin aja kalau Allah SWT

pasti akan membantu.”30

Dari ungkapan informan 3 diatas dapat terlihat peran dari seorang pembimbing yaitu dengan apa yang disampaikan dapat membuat terbimbing berubah dari segi afektif, dimana saat pertama kali masuk ke panti warga binaan sosial (WBS) masih bersikap kasar, dan suka marah-marah kepada orang-orang disekitar mereka. Tapi setelah beberapa kali mengikuti bimbingan, dapat terlihat bahwa WBS sudah mulai berubah baik dari segi ucapan atau tingkah laku.

Hal lain diungkapkan juga oleh informan 3 dan 4:

“Dengan mengikuti bimbingan kami di motivasi untuk mandiri, misalkan tentang bagaimana caranya merubah hidup jadi lebih baik dan layak. Kami diberi pengarahan agar jangan melakukan pelanggaran. Perhatikan dimana wajarnya bisa dagang, di tempat-tempat yang tidak dilarang. Makanya dari situ saya mau coba mulai

dagang di pasar, supaya jangan melanggar”.31

“Disampein si Dek ceramah-ceramah supaya kita engga minta-minta lagi, supaya hidup mulai mandiri. Tapi ya itu Dek, suami saya tuna netra bingung mau gimana nanti saya ga bisa dapat

penghasilan.”32

Dari ungkapan informan 4 dapat terlihat bahwa apa yang disampaikan oleh pembimbing diantaranya untuk memotivasi dan memberikan warga binaan sosial (WBS) agar bisa hidup lebih mandiri, dan lebih layak daripada sekarang dalam arti kata warga binaan sosial

30

Wawancara dengan Ibu Hatinah, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2,

Jakarta pada tanggal 05 April 2014.

31

Wawancara dengan Nuryani, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Jakarta pada tanggal 05 April 2014

32

Wawancara dengan Ibu Hatinah, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2,

(28)

(WBS) diarahkan agar tidak lagi meminta-minta dijalan, tidak menjadi joki, dan melanggar ketertiban yang telah diatur dalam peraturan daerah.

Lain halnya dengan apa yang diungkapkan oleh informan 3, dari ungkapan Ibu Hastinah dapat terlihat bahwa memang dalam ceramah-ceramah keagamaan disampaikan tentang bagaimana bekerja yang baik dalam Islam, tapi Ibu Hastinah merasa belum yakin karena melihat suaminya yang tuna netra dan pengangguran.

Apa yang diberikan dan disampaikan oleh pembimbing rohani islam juga membuat pandangan dan pola pikir warga binaan sosial (WBS) berubah sebagaimana yang diungkakan oleh informan 1 berikut:

“Bekerja seperti apa yang telah disampaikan oleh Pak Kurniawan, bekerjalah karena Allah semata. Bekerjalah kamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah kamu seolah-olah kamu akan mati besok. Arti dari bekerja adalah tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah, seperti yang dikatakan Pak Kurniawan nanti pada akhir jaman di Padang Mashyar Allah tidak akan melihat atau menghadap kepada orang yang meminta-minta..mereka datang kesana dengan tidak dilapisi daging sekalipun, wajahnya rata. Orang meminta-minta itu termasuk

orang yang pemalas.”33

Dari ungkapan informan 1 dapat terlihat perubahan pandangan mengenai bekerja, terutama dalam Islam. Pak Amrizon terlihat paham bahwa dalam Islam kita dilarang mengemis untuk memperkaya diri sendiri. Karena di Padang Mashyar kelak, orang yang suka meminta-minta akan menghadapa kepada Allah SWT dengan muka tidak dilapisi sepotong dagingpun.

Hal lain diungkapkan oleh informan 4 :

33

Hasil wawancara dengan Amrizon, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2,

(29)

“Pandangan saya sekarang ingin merubah hidup, ya mau dagang sayuran di pasar. Soalnya itu sesuai dengan aku, saya ga mau lagi dagang di emperan. Saya mau kumpulin modalnya sedikit-sedikit.

Kalau ada rezeki saya mau buka usaha laundry juga. Bekerja dalam

Islam juga ternyata diantaranya harus jadi pedangang yang jujur sesuai dengan syariat agama. Tidak boleh melakukan yang haram,

dan melanggar ketertiban. “ 34

Ini terlihat juga dari hasil wawancara yang diungkapkan oleh informan 5:

“Yah kedepan saya bisa punya kehidupan yang lebih baik lagi, biar nanti ga balik ke jalan,,,pengennya ga minta-minta di jalan lagi Mba. Pengen ngumpulin modal buat buka usaha, dagang nasi uduk atau gorengan. Cuma masih suka bingung ini...suami saya, ga bisa

ngeliat, jadi susah nyari nafkahnya.”35

Dari ungkapan informan 4 dan 5 dapat terlihat bahwa setelah mengikuti bimbingan rohani Islam warga binaan sosial (WBS) jadi memiliki rencana-rencana kedepan untuk memperbaiki hidup dan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Mereka berniat untuk mengumpulkan modal untuk membuka usaha kecil-kecilan.

Pembimbing rohani Islam sangat berperan dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS), ini dapat terlihat dari ungkapan informan 2:

“Peran pembimbingnya si sudah bagus, tapi kalau yang dikasih pengarahan kaya gitu kaya gitu gimana Mba kaya pengemis-pengemis kan mereka mah turun-temurun dijalan. Jadi walau pembimbingnya sudah bagus kasih ceramah, semua kembali lagi

sama WBSnya.”36

Hal lain diungkapkan oleh informan 1:

34

Wawancara dengan Nuryani, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Ceger, 5 April 2014

35

Wawancara dengan Ibu Suniti, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Ceger, 14 April 2014

36

Hasil wawancara dengan Amirudin, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2,

(30)

“Peran mereka penting, supaya kami tersadar. Apa yang disampaikan Pak Kurniawan kan benar, tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah. Tapi kan balik lagi ke kita masing-masing, apakah mereka mau mendengar...Allah tidak akan melihat ke orang yang suka meminta-minta. Itu kan bagi mereka yang mau menyadari, soalnya agak sulit WBS disini terutama pengemis kan biasa hidup enak, biasa dapat uang cepat dengan meminta-minta terus sekarang disuruh bekerja, berdagang, dan lain sebagainya rasanya agak sulitlah..ya tapi kembali kediri mereka

masing-masing.”37

Berdasarkan analisis di atas dapat penulis simpulkan bahwa pembimbing rohani Islam berperan dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS), yakni:

1. Merubah pandangan warga binaan sosial (WBS) mengenai bekerja

dalam Islam, dimana setelah mengikuti bimbingan rohani Islam dan penulis wawancarai warga binaan sosial (WBS) menyatakan bahwa mereka sekarang menjadi tahu bahwa pekerjaan meminta-minta dalam Islam itu tidak diperbolehkan, karena Allah SWT lebih menyukai orang yang bekerja keras, orang yang mau mencari nafkah dari hasil keringatnya sendiri.

2. Meningkatkan ketenangan batin WBS, setelah mengikuti bimbingan

rohani Islam warga binaan sosial (WBS) yang tadinya masih arogan, suka marah-marah, suka berkata-kata kasar karena tidak menerima kalau dirinya harus masuk ke panti sekarang sudah bisa mengontrol emosi dengan para petugas, atau dengan sesama warga binaan sosial (WBS) karena dalam bimbingan dijelaskan bahwa semua ini hanya

37

Hasil wawancara dengan Amrizon, WBS di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2,

(31)

bagian dari sekenario dari Allah SWT, kita harus menerima, menjalani dan terus memperbaiki diri untuk masa mendatang.

3. Membantu warga binaan sosial (WBS) untuk memiliki kehidupan yang

lebih mandiri, dengan memotivasi dan memberikan pengarahan-pengarahan kepada warga binaan sosial (WBS) agar bisa hidup mandiri, dan lebih layak daripada sekarang dalam artian mereka diarahkan agar tidak lagi meminta-minta dijalan, tidak menjadi joki, pedangang asongan, menggamen, atau pekerjaan-pekerjaan yang melanggar ketertiban yang telah diatur dalam peraturan daerah. Sehingga setelah mengikuti bimbingan, warga binaan sosial (WBS) mulai memiliki rencana-rencana untuk mencari nafkah yang lebih baik seperti: kerja di proyek, pembantu rumah tangga, bertani, berternak, menjaga toko/ warung, buka usaha dagang nasi uduk, nasi goreng, sayur-sayuran atau berjualan ditempat yang dilegalkan oleh pemerintah untuk pedagang asongan, dan bekerja hanya fokus pada satu untu para joki yang suka menjadikan pekerjaannya sebagai sambilan.

4. Pembimbing sangat berperan dalam menumbuhkan etos kerja pada

warga binaan sosial (WBS), karena seorang pembimbing bisa menyampaikan materi-materi yang sesuai dengan kondisi warga binaan sosial (WBS) di Panti dengan bahasa-bahasa agama dan metode-metode bimbingan yang disesuaikan dengan karakteristik terbimbing. Sehingga apa yang disampaikan mudah ditangkap oleh WBS dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehati-hari dan

(32)

diharapkan agar warga binaan sosial (WBS) dapat termotivasi atau tergugah untuk memiliki kehidupan yang lebih baik kedepannya. Minimal warga binaan sosial tidak lagi kembali ke jalanan untuk melanggar ketertiban umum, dan bisa meningkatkan martabatnya

sebagai abdullah (hamba Allah) dengan tidak bekerja semata-mata

karena kepentingan dunia tapi juga karena niat beribadah karena Allah SWT.

(33)

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Ceger Jakarta Timur tentang peran pembimbing rohani Islam dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS) adalah sebagai berikut:

1. Prosesnya bimbingan rohani Islam di panti diawali dengan

mengucapkan salam terlebih dahulu, menanyakan kabar mereka,

kemudian agar WBS konsentrasi diberikan ice breaking, lalu

dilanjutkan dengan do’a dan dzikir susunannya yaitu dengan membaca dua kalimat syahadat, shalawat, membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, do’a mau belajar, do’a untuk kesehatan, do’a untuk ketenangan, do’a untuk orang tua, do’a dunia akhirat, istigfar, setelah itu mendoakan WBS. Baru menyampaikan materi, tanya jawab, penutup, salam-salaman sambil bershalawat untuk meningkatkan

ukhuwah.

2. Metode-metode yang digunakan dalam bimbingan rohani Islam di

Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 diantaranya: metode ceramah,

metode tanya jawab, metode client centered, metode nonton bareng,

serta Metode do’a dan dzikir.

3. Pembimbing rohani Islam berperan dalam menumbuhkan etos kerja

pada warga binaan sosial (WBS) di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 melalui bahasa agama dengan tujuan untuk merubah pola pikir dan pandangan warga binaan mengenai bekerja dalam islam, merubah

(34)

sikap warga binaan sosial (WBS) dalam bertingkah laku, dan membuat warga binaan sosial (WBS) jadi memiliki rancangan-rancangan hidup agar kedepan mereka bisa jadi pribadi yang lebih baik terutama dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup.

B. Saran

Dari hasil pengamatan penulis mengenai peran pembimbing rohani Islam dalam menumbuhkan etos kerja pada warga binaan sosial (WBS) di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, penulis memberikan saran sebagai berikut:

1. Untuk pembimbing agar lebih banyak menggunakan metode

bimbingan yang interaktif, sehingga warga binaan sosial (WBS) lebih cepat menangkap pesan yang sampaikan.

2. Ada jadwal bimbingan khusus untuk warga binaan sosial (WBS) yang

mengalami gangguan jiwa dan yang normal, agar kegiatan bimbingan berlangsung lebih efektif.

3. Kegiatan bimbingan rohani Islam diharapkan lebih ditingkatkan

intensitasnya, dan diadakan pendampingan untuk mengontrol WBS secara berkesinambungan.

4. Lebih ditingkatkan lagi fasilitas untuk menunjang kegiatan

(35)

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir, Bimbingan dan Konseling Islam, Jakarta: Amzah, 2010.

Arifin, M. Ag, Drs. H. Isep Zainal. Bimbingan dan Penyuluhan Islam:

Pengembangan Dakwah melalui Psikoterapi Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2009.

Arifin, M.Ed., Drs. H. Muhammad. Pokok-Pokok Pikiran Tentang Bimbingan dan

Penyuluhan Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:

Bulan Bintang, 2003, Cet. Ke-9.

Asifudin, M.A., DR. Ahmad Janan. Etos Kerja Islami, Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2004.

Asy’ari, Musa. Islam, Etos Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Ummat,

Yogyakarta: Lesfi, Cet. 2, 1997.

Asyari, Musa. Etos Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Umat, Jogyakarta: Lesfi,

1997, Cet. ke-1.

Buchori, Mochtar. Penelitian Pedidikan dan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: IKIP Press, 1994.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Jakarta: Balai Pustaka, Cet. 2, 1989

Darajat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2003, Cet. ke-16.

Faqih, Aunur Rahman. Bimbingan dan Konseling Islam, Yogyakarta: UII Press,

Cet. Ke-2, 2001.

Hafidhuddin, Didin. Islam Aplikatif, Jakarta: Gema Insani Press, 2003.

Hasan, Aliah B. Purwakania. Psikologi Perkembangan Islami: menyingkap

rentang kehidupan manusia dari prakelahiran hingga pascakematian, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008.

Henslin, James M. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi, Jakarta: Erlangga,

Jilid I, 2006.

Husman, Husaini. Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: Bumi Aksara, 2000.

Narkowo, J. Dwi dan Bagus Suyanto, Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan,

(36)

Kafie, Jamaludin. Psikologi Dakwah, Surabaya: Penerbit Indah, 1993.

Lutfi, Muhammad, Drs.,M.A,. Dasar-Dasar Bimbingan dan Penyuluhan

(Konseling) Islam, Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008.

Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya, 2007, Cet. ke-33.

Mu’awanah, S.Ag., M.Pd, Elfi dan Rifa Hidayah, S.Ag., S.Psi., M.Si.,Psi,

Bimbingan dan Konseling Islam Di Sekolah, Jakarta: PT. Bumi Askara, 2009.

Poerwandari, E. Kristi. Pendekatan Kualitatif Dalam Penelitian Psikologi,

Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi, LPSP3 UI, 1983.

Prayitno, Prof. Dr. H., M.Sc. Ed, dan Drs. Erman Amti. Dasar-Dasar Bimbingan

dan Konseling, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004

Sugiyono, Prof. Dr. Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2005.

Pusat Penyuluhan Sosial. Bersama Penyuluh Sosial Kita Bangun Indonesia

Sejahtera, Kementrian Sosial RI, 2013.

Salim, Peter dan Yeni, Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta:

Modern English, 1991.

Sapuri, Rafy. Psikologi Islam: Tuntutan Jiwa Manusia Modern, Jakarta: Rajawali

Press, 2009.

Sarwono, Sarlito Wirawan, Dr. Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta: CV.

Rajawali, 1984.

Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT. Grafindo Persada,

Cet. ke- 36, 2003.

---, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press, Cet. 44, Ed.1,

2012.

Tasmara, Toto, Drs. H. Etos Kerja Pribadi Muslim, Jakarta: PT. Dhana Bhakti

Wakaf, Cet. ke-2, 1995.

---, Etos Kerja Pribadi Muslim, Jakarta: Dana Bhakti Wakaf, Cet. 2,

1995.

Yusuf, Syamsu, dan Dr. A Juntika Nurihsan. Landasan Bimbingan dan Konseling,

Referensi

Dokumen terkait

Ahmad Suhandi sebagai guru olah raga dalam memahami perencanaan (planning), dia berpendapat bahwa planning dalam pembelajaran di Sekolah Dasar (SD) Alam Bina

Ditilik dengan gaya komunikasi yang ditunjukkan para informan di Balai Pelayanan Sosial terlihat bahwa gaya komunikasi bersifat meledak– ledak dalam berbicara,

3) Keteladanan guru di SDI Qurrota A’yun Ngunut Ketika guru memprogamkan kegiatan kepada anak didiknya, maka guru di SDI Qurrota A’yun juga harus ikut melakukan

Seperti yang telah dijelaskan pada teori produksi yang menjadi prinsip ilmiah dalam melakukan produksi yang meliputi bagaimana memilih kombinasi penggunaan input untuk

penelitian pada bab tiga yang akan didasarkan pada teori di bab dua. Pada keempat ini penulis akan memaparkan mengenai analisis hasil penelitianyang terdiri dari analisis pola

Iya mbak, untuk tahfidz Al-Qur’an ini dilaksanakan setiap hari setelah mengaji Yanbu’a, yakni sekitar pukul 08.30-09.30 wib. Kegiatan tahfidz ini dibimbing oleh 1

kesibukan mereka, dan untuk mendapatkan hiburan saja. Motif ini kabanyakan dialami oleh informan remaja desa Gampang yang berprofesi sebagai buruh pabrik, kuli

Pada awal perencanan tahap ketiga dipersiapkan skenario pembelajaran. Skenario tersebut berdasarkan masukan dari guru pelaksana pada tahap kedua dan lebih banyak terfokus pada