Jika ulasan di atas disusun berdasarkan konsep-konsep ajaran Komunisme yang dibandingkan dengan ajaran Islam menurut H. M. Misbach, maka akan didapatkan ulasan sebagai berikut. Pada aspek filsafat yang mendasari ajaran Komunisme, dialektika perkembangan masyarakat yang dilandaskan filsafat materialisme- dialektika-historisme Komunisme akan memiliki perbedaan jika dibandingkan dengan dialektika perkembangan masyarakat dalam Islam yang diulas oleh H. M. Misbach dalam “Islamisme dan Kommunisme”. Memang H. M. Misbach menyampaikan dialektika perkembangan masyarakat dalam Islam itu mirip dengan dialektika perkembangan masyarakat dalam ajaran Komunisme, namun sejatinya apa yang menggerakkan dialektika tersebut sebenarnya berbeda. Pada materialisme-
116
dialektika-historis Komunisme, ditekankan bahwa perubahan masyarakat secara revolusioner disebabkan oleh perubahan mode produksi, dan hubungan kepemilikan faktor produksi. Digambarkan masyarakat bergerak dari komunal primitif, menjadi masyarakat kepemilikan budak, feodal, kapitalis, hingga diprediksi akan menjadi sosialisme dan komunisme penuh, tidak lain merupakan faktor dinamika perkembangan mode produksi, dan hubungan kepemilikan faktor produksi yang dirumuskan secara deterministik dan sangat materialistik. Namun H. M. Misbach lebih menekankan bahwa perubahan masyarakat itu terletak pada dinamika akal, dan budi, serta tidak lepas pula dari peranan wahyu. Peranan wahyu ini dinyatakan oleh H. M. Misbach bahwa para nabi berbeda-beda syariatnya, merupakan tuntunan wahyu yang mengikuti tuntutan zamannya. Dari waktu ke waktu wahyu yang berupa syariat yang berbeda-beda tersebut kemudian menyempurnakan peradaban dari syariat sebelumnya. Dalam logika materialisme, tentu keberadaan dan peranan wahyu akan ditolak oleh kaum Komunisme.
Selain itu dalam dialektika perubahan masyarakat tersebut, kaum Komunisme menyatakan bahwa dialektika perubahan masyarakat menjadi negatif (buruk), sebab kepemilikan faktor produksi oleh personal. Kepemilikan personal atas faktor produksi dianggap sebagai dosa besar dalam masyarakat Komunisme. Kapitalisme, feodalisme, perbudakan tidak lain sebabnya adalah kepemilikan faktor produksi oleh individu. Lain halnya dengan H. M. Misbach, tidak ditemukan sebenarnya bahwa faktor kemunduran dialektika perubahan masyarakat disebabkan oleh sebab kepemilikan faktor produksi. H. M. Misbach lebih idealis dalam melihat hal ini, sebab
117
kemunduran adalah hilangnya budi kemanusiaan serta adanya budi kebinatangan, dan budi kesetanan dalam diri manusia. Oleh karena budi kebinatangan dan budi kesetanan inilah muncul fanatisme kebangsaan, ketidak pedulian pada masyarakat feodal dan masyarakat kapitalisme. Kapitalisme lebih dipandang sebagai salah satu bentuk budi kebinatangan dan kesetanan yang titik tekannya tidak terlihat pada soal kepemilikannya, tapi nafsu meraih keuntungan dengan penghisapan atau penindasan, dan enggan membantu kaum yang lemah. Memang seakan-akan antara Komunisme dan keislaman H. M. Misbach sama-sama menolak kapitalisme, namun nampaknya
background untuk melihat kapitalisme sebagai masalah sepertinya ada perbedaan.
Perbedaan inilah yang juga menjelaskan, mengapa pada Komunisme tidak menyebut fanatisme kebangsaan sebagai suatu bentuk masyarakat yang bermasalah, namun H. M. Misbach menyebutnya itu bentuk masyarakat yang bermasalah sebab tidak dilandasi oleh budi kemanusiaan.
Implikasi selanjutnya dari perbedaan di atas adalah perbedaan cara menyelesaikan kemunduran dialektikan perubahan. Komunisme ingin menghilangkan hak pribadi milik atas faktor produksi untuk dijadikan kepemilikan bersama, sehingga terbentuklah masyarakat tanpa kelas. Sedang pada H. M. Misbach tidak ditemukan tentang bagaimana kepemilikan faktor produksi sebagai sumber masalah yang harus diatasi, atau apakah harus mendirikan masyarakat tanpa kelas (komunal). Namun bagi H. M. Misbach perbaikan masyarakat itu adalah dengan melawan nafsu binatang, dan nafsu kesetanan, serta mengikuti budi kemanusiaan sebagaimana yang secara umum dituntunkan Allah. Mereka yang memiliki kelebihan rezeki, hendaklah membantu
118
mereka yang lemah, dan tidak bersikap memanfaatkan posisi mereka yang lemah untuk mengeruk keuntungan. Inilah budi kemanusiaan yang dituntut oleh H. M. Misbach. Selain itu, agaknya sulit jika menyatakan H. M. Misbach berjuang untuk meniadakan kepemilikan faktor produksi, sedang dia sendiri juga seorang pedagang dan pemilik rumah usaha.
Selain dialektika historis masyarakat, hal yang perlu disinggung mengenai filsafat ini adalah bagaimana memandang agama. Dalam permasalahan, pandangan Komunisme sangat bertolak belakang dengan pandangan keislaman H. M. Misbach. Ia tidak segan membantah pemimpin-pemimpin Komunis yang mengingkari agama sebagai landasan dalam pergerakan rakyat. Memang bagi Komunisme, agama dianggap cenderung negatif. Agama adalah candu masyarakat, dan alat kekuasaan, bentuk keterasingan. Namun berbeda dengan H. M. Misbach, agama itu bernilai positif. Agama adalah pertolongan Tuhan dalam rangka manusia menemukan kedamaian dan menuju keselamatan. Saat kaum Komunisme menganggap agama adalah “kabut mistis”, H. M. Misbach menyatakan bahwa keberadaan Allah sangat logis dalam nalar manusia, melihat kenyataan alam yang luar biasa. Agama bukan ekspresi keterasingan dan topeng penindasan, namun agama itu penyelamat, walau memang dapat pula disalahgunakan sebagai topeng. Namun bagi H. M. Misbach yang salah bukan agamanya, tapi yang menyalah-gunakannya.
Selanjutnya jika kaum Komunisme menyatakan kepercayaan akan hari akhirat itu harus dilawan, sebab akan melemahkan perjuangan menghadirkan “surga” di dunia, maka bagi H. M. Misbach kepercayaan gaib dan hari akhirat menjadi penjaga
119
motivasi menepati jalan kebenaran, serta motvasi perlawanan melawan fitnah. Agama tidak dapat dilepaskan dalam lapangan pergerakan membebaskan dari fitnah, tidak seperti kaum Komunisme yang menganggap Agama dapat diabaikan, bahkan dimusuhi dalam lapangan pergerakan.
Setelah membandingkan pada aspek filsafatnya, berikut akan dibandingkan tentang pandangan ekonomi-politiknya. Ada dua hal yang dibandingkan, yakni pandangan terhadap kritik kapitalisme dan cita-cita ekonomi-politik Komunisme. Nampaknya pada soal kritik kapitalisme, pandangan H. M. Misbach sangat banyak bersesuaian dengan Komunisme. Dalam tulisan “Nasehat dari ketua kita H. M. Misbach yang misi didalam pembuangan di Manokwari”, H. M. Misbach menyebutkan bahwa ia banyak tersadarkan oleh logika bagaimana Kapitalisme menghisap kaum yang tidak mampu, khususnya pada umat Islam. Dari logika tersebut, H. M. Misbach merasa telah menemukan sebab kehancuran umat, yakni Kapitalisme. Tetapi walau demikian perlu diingat kembali, bahwa logika penindasan Kapitalisme itu tidak akan sampai pada persoalan sebab kepemilikan faktor produksi oleh kaum borjuis. Mengapa demikian? sebab dalam ulasannya, H. M. Misbach tidak menyentuh logika kepemilikan tersebut sebagai modus kejahatannya, ia hanya menyatakan bahwa Kapitalisme adalah buah dari hilangnya budi kemanusiaan yang digantikan oleh budi kebinatangan dan kesetanan.
Perbedaan lain dalam kritik Kapitalisme antara H. M. Misbach dengan Komunisme adalah soal hubungan Kapitalisme dengan agama. Bagi Komunisme, agama dalam masyarakat Kapitalisme adalah alat kaum Kapitalis untuk membius
120
kesadaran kaum yang dihisap, atau hanya candu pelarian dari beban masalah saat ditindas. Namun bagi H. M. Misbach, justru agama dapat menjadi korban dari Kapitalisme. Pengkerdilan dan hambatan seseorang untuk menjalankan agamanya, dapat disebabkan oleh praktik penghisapan oleh Kapitalisme.
Pada aspek cita-cita ekonomi-politiknya, nampak Komunisme dan keislaman H. M. Misbach juga memiliki perbedaan. Jika kaum Komunis bercita-cita untuk menjadikan hak milik atas faktor produksi secar bersama-sama, maka pada pandangan keislaman H. M. Misbach tidak ditemukan cita-cita penyatuan hak milik atas faktor produksi atas nama komunal. Jika kaum Komunis mencitakan berdirinya Negara sosialisme di bawah diktatur proletar, yang kemudian berkembang pada puncaknya menjadi masyarakat komunisme penuh, maka tidak ditemukan pada H. M. Misbach cita-cita sistem negara sebagaimana kaum Komunisme. Ia hanya menuntut peraturan kemasyarakatan yang berbasis budi kemanusiaan. Hal ini disadari bahwa teologi pembebasan H. M. Misbach, memang tidak sama dengan teologi pembebasan kaum Katolik Amerika Latin yang benar-benar terjadi penyatuan organik antara keyakinan Kristen dengan pandangan Marxisme.
Terakhir, aspek yang diperbandingkan adalah tentang perjuangan revolusi kelas proletar. Memang antara kaum Komunis dan pergerakan H. M. Misbach dalam melawan penjajahan Kapitalisme, keduanya sama-sama keras, radikal dan tidak mau kooperatif. Namun sebenarnya keduanya tetap memiliki sisi-sisi yang berbeda. Kaum Komunis mengorientasi perjuangannya adalah revolusi kelas proletar menumbangkan kaum Kapitalis. Kelas pemilik modal akan diproletarkan semuanya. Selain itu
121
revolusi itu berjalan secara deterministik, yakni revolusi dari negara kapitalis kuat merembet ke negara-negara lain, seperti yang diungkapkan Darsono. Namun H. M. Misbach memiliki karakter perjuangan yang agaknya berbeda, gerakannya adalah protes radikal saat itu juga, dan tidak bersifat deterministik. Inilah yang menyebabkan kaum Komunis juga kesulitan mengontrol propaganda H. M. Misbach beserta efek- efeknya yang berbahaya bagi PKI saat itu. Selain juga yang ia lakukan adalah gerakan protes menuntut hak, tidak ditemukan maksud menjadikan proletar kaum kapitalnya.
Tabel V.1. Perbandingan Komunisme dan Islam menurut H. M. Misbach
Aspek yang diperbandingkan
Komunisme Islam H. M. Misbach
Filsafat Filsafat Materialism e- Dialektika- Historis
Dialektika perubahan sosial adalah perubahan mode produksi dan hubungan kepemilikan faktor produksi
Perubahan itu dari
perkembangan akal dan budi, dan peranan petunjuk dari Allah (wahyu dan rasul) Perubahan menjadi buruk
sebab kepemilikan faktor produksi oleh pribadi. wujudnya : perbudakan, feodalisme, dan
Perubahan menjadi buruk sebab tidak menetapi perintah agama, mengikuti budi kebinatangan dan budi kesetanan. Wujudnya
122
Kapitalisme. kebangsaaan, feodal, dan kapitalisme
Untuk menuju keselamatan dan kedamaian, maka faktor produksi dimiliki bersama, dan menghilangkan kelas
Tidak ditemukan tentang bagaimana kepemilikan faktor produksi, atau apakah akan berujung menjadi masyarakat tanpa kelas. Tetapi perbaikan masyarakat itu adalah dengan melawan nafsu binatang, dan nafsu kesetanan, serta mengikuti budi kemanusiaan
sebagaimana yang secara umum dituntunkan Allah
Pandangan terhadap agama
Agama negatif: candu masyarakat, dan alat kekuasaan, bentuk keterasingan
Agama positif: pertolongan Tuhan
Agama adalah kabut mistik Agama yang semestinya sesuai dengan akal
123
Kepercayaan hari akhirat itu harus dilawan, sebab akan melemahkan perjuangan menghadirkan “surga” di dunia
Kepercayaan gaib dan hari akhirat menjadi penjaga motivasi menepati jalan kebenaran, serta motvasi perlawanan melawan fitnah. Sejak awal agama ekspresi
keterasingan dan topeng penindasan
Agama itu penyelamat, memang dapat pula disalahgunakan sebagai topeng. Namun yang salah bukan agamanya, tapi yang menyalah-gunakannya. Agama dapat diabaikan,
bahkan dimusuhi dalam lapangan pergerakan
Agama tidak dapat dilepaskan dalam lapangan pergerakan membebaskan dari fitnah
Ekonomi- Politik
Kritik kapitalisme
Kapitalisme sebagai sumber penindasan
Penindasan kapitalisme sebagai wujud dari budi kebinatangan dan budi kesetanan
Kapitalisme menggunakan agama sebagai alat pembius kedasaran yang ditindas
Agama sebagai salah satu korban penindasan Kapitalisme
124
Cita-cita ekonomi- politik
Hak milik atas faktor produksi bersama
Tidak ditemukan cita-cita persatuan hak milik atas faktor produksi
Negara sosialisme di bawah diktatur proletar dan
masyarakat komunal
Tidak ditemukan cita-cita sistem negara sebagaimana kaum Komunisme, hanya menuntut peraturan kemasyarakatan yang berbasis budi kemanusiaan.
Perjuanga n revolusi kelas proletar Orientasi perjuangan Revolusi kelas menumbangkan kaum kapital yang diproletarkan
Gerakan protes menuntut hak, tidak ditemukan maksud menjadikan proletar kaum kapitalnya
Sifat pergerakan
Revolusi deterministik, revolusi dari negara
kapitalis kuat merembet ke negara-negara lain, seperti yang diungkapkan Darsono.
Gerakan protes radikal saat itu juga, dan tidak bersifat deterministik.
125
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagaimana disampaikan pada bagian pendahuluan bahwa penelitian ini hendak memahami ajaran Komunisme dan Islam yang dipahami oleh H. M. Misbach, kemudian mencoba memahami jalan berfikir H. M. Misbach dalam menerima Komunisme, serta memahami titik-titik persamaan dan perbedaan antara ajaran Komunisme dan Islam menurut H. M. Misbach. Dengan demikian dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini.
Pertama, ternyata H. M. Misbach sangat memahami pandangan kritik Komunisme terhadap Kapitalisme, meski H. M. Misbach tidak cukup memahami secara utuh bagaimana ajaran Komunisme yang sesungguhnya. Ini dikarenakan bisa jadi kaum Komunisme hanya menampakkan nilai-nilai normatif seperti perjuangan melawan penindasan, menegakkan hak-hak kemanusiaan, dan keberanian untuk melawan. Di samping itu juga keterbatasan H. M. Misbach dalam membaca karya- karya asli Komunisme secara langsung yang berbahasa asing dan tidak tersebar luas. Komunisme yang dipahami H. M. Misbach nampaknya tidak lebih sebagaimana gagasan Marhaenisme milik Soekarno. Sedangkan pandangan keislaman H. M. Misbach adalah Islam yang terbuka pemikirannya terhadap kebenaran dari kelompok lain. Bagi H. M. Misbach Islam adalah keselamatan, melawan segala ketidak-adilan,
126
dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Segala ilmu yang dapat mengarahkan pada keselamatan, maka Islam dapat menerimanya walau bukan dari tradisi Islam, sebab itu sebenarnya adalah hikmah Islam yang hilang.
Kedua, jalan berfikir H. M. Misbach dalam menerima Komunisme nampaknya tidak lepas dari keislamannya pula. seperti yang dinyatakan Takashi Shiraishi, jika H. M. Misbach sebenarnya adalah tokoh Islam putihan yang menterjemahkan perjuangannya dengan cara pandang kekinian saat itu. Memang pada satu sisi, Komunisme merupakan perkembangan keilmuan sosial baru yang dianggap cukup mampu membongkar praktik-praktik penindasan dan penjajah kapitalisme, walaupun
kemudian arah “perbaikan sosial” yang dicita-citakan antara Komunisme dan Islam
nampak ada perbedaan.
Selain itu, kedekatan H. M. Misbach dengan gerakan Komunisme memang tidak lepas dari rasa kecewanya terhadap Tjokroaminoto dengan SI dan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Dengan demikian H. M. Misbach lebih memilih jalan non- kooperatif dan radikal sesuai dengan sikap Insulinde dan PKI pada saat itu. SI dan Muhammadiyah memilih melawan dengan jalan yang lebih halus dan strategic, tak dengan jalan-jalan radikal. Sikap SI dan Muhammadiyah yang memilih jalan yang lebih halus lebih halus inilah yang menyebabkan H. M. Misbcah memandang kedua organisasi ini lembek, penakut, bahkan disebut munafik dan menjadi teman setan kapitalisme. Namun dapat dipahami bagaimanapun sikap SI dan Muhammadiyah
127
tersebut tentu memiliki perhitungan strategis lainnya yang nampaknya agak berbeda dengan H. M. Misbach yang lebih suka melawan dengan aksi-aksi yang lebih frontal.
Ketiga, nampak kesamaan antara keislaman H. M. Misbach dengan Komunisme, adalah sama-sama mempunyai semangat perlawanan dan kritik terhadap penindasan penjajah kapitalisme. Selebihnya merupakan ruang perbedaan yang cukup terlihat, bahkan mencolok. Antara keislaman H. M. Misbach dengan ajaran Komunisme terlihat keduanya akan memiliki basis filosofis pergerakan yang berbeda, komunisme kental dengan pandangan materialisme yang menolak agama, sebaliknya H. M. Misbach mengganggap kerasionalan, dan pentingnya agama dalam mencapai keselamatan manusia dunia dan akhirat. Selain itu, nampak keduanya akan memiliki cita-cita ekonomi-politik serta strategi perjuangan revolusi yang juga berbeda. Walau sama-sama radikal, namun tidak terlacak pada pemikiran H. M. Misbach akan melakukan revolusi sebagaimana kaum Komunisme. Tidak diterlihat dari perjuangan H. M. Misbach ketika melakukan propaganda melawan kapitalisme yang mengarahkan pada usaha-usaha memproletarkan kaum pemilik modal/kapital, lalu menjadikan semua faktor produksi menjadi kepemilikan bersama. Ia hanya banyak menyerukan agar hak-hak buruh itu dipenuhi secara manusiawi.
Dengan demikian persatuan pergerakan keislaman H. M. Misbach dengan Komunisme ini dalam nampaknya tidak akan sebagaimana persatuan teologi pembebasan Kristen Thomas Munzer di Jerman dan teologi pembebasan di Amerika Latin yang benar-benar teologi keagamaannya melahirkan persatuan organis, di mana
128
cita-cita akhir dari perjuangan kaum kristen ini adalah sama dengan cita-cita komunisme, menjadikan kepemilikan faktor produksi secara bersama dan menghilangkan adanya kelas-kelas sosial.
B. Saran
Dalam membaca kembali pikiran dari H. M. Misbach tentang keselarasan ajaran Komunisme dan Islam, hendaklah disertakan analisis keislaman H. M. Misbach secara mendalam. Analisis keislaman itu dapat berupa pikiran-pikirannya secara komprehensif, maupun berupa sepak terjang H. M. Misbach dalam pergerakan yang mencerminkan nilai-nilai yang diyakininya. Hal ini penting dilakukan agar tidak terjebak pada kesimpulan adanya penyatuan organis antara ajaran-ajaran Komunisme dan Islam dalam pandangan H. M. Misbach. Memang banyak pernyataan-pernyataan H. M. Misbach yang menyatakan keselarasan Islam dan Komunisme, namun jika dibaca kembali lewat pikiran dan sepak terjangnya secara komprehensif, maka akan ditemukan bahwa sebenarnya H. M. Misbach tidak bermaksud betul-betul menyamakan antara Islam dan Komunisme. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa ajaran Komunisme yang dipahami H. M. Misbach ternyata kurang utuh.
Dengan sikap kritis semacam ini, diharapkan pembaca pikiran-pikiran H. M. Misbach melalui tulisan-tulisan kelompok Komunis, kelompok reformis kiri, dan kelompok-kelompok teologi pembebasan lainnya, tidak mengalami kebingungan dalam menempatakan posisi pemikiran H. M. Misbach. Selain itu dengan sikap kritis
129
semacam ini, tidak akan mudah terbawa oleh alur pemikiran kelompok-kelompok yang sengaja menjadikan pemikiran H. M. Misbach sebagai legitimasi.
130
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdullah, M. Yatimin. Studi Islam Kontemporer. Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2006.
Abdurahman, Dudung. Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan
Multidisipliner. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga,
2006.
Ali, Mukti. Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia. Bandung: Mizan, 1997.
Amelz. H.O.S. Tjokroaminoto: Hidup dan Perdjoeanganja. Jakarta: Bulan Bintang, 1952.
Anshoriy, Nasruddin, dan Agus Hendratno. HOS Tjokroaminoto: Pelopor
Pejuang, Guru Bangsa dan Penggerak Sarikat Islam. Yogyakarta: Ilmu
Giri, 2015.
Ardianto, Elvinaro, et al. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007.
Basri. Metodologi Penelitian Sejarah. Jakarta: Restu Agung, 2006.
Creswell, John W. Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.
131
Darsono, Karl Marx: Ekonomi Politik dan Aksi-Revolusi. Jakarta: Diadit Media, 2007.
Dhavamony, Mariasusai. Fenomenologi Agama, Terj. Sudiarja, et al. Yogyakarta: Kanisius, 1995.
Ebenstein,William. Isme-Isme yang Mengguncang Dunia, Terj. Floriberta Aning. Yogyakerta: Narasi, 2006.
Ebenstain, William, dan Edwin Fogelman. Isme-Isme Dewasa Ini, Terj. Alex Jemadu. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1994.
Engineer, Asghar Ali. Islam dan Teologi Pembebasan, Terj. Agung Prihantono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
Furchan, Arief, dan Agus Maimun. Studi Tokoh: metode penelitian mengenai
tokoh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Garvey, James. Dua Puluh Karya Filsafat Terbesar. Yogyakarta: Kanisius, 2010.
Hiqmah, Nor. H. M. Misbach: Kisah Haji Merah. Jakarta: Komunitas Bambu, 2008.
Jati, Yus Pramudya (ed.), et al. Haji Misbach Sang Propagandis: Aksi
Propaganda di Surat Kabar Medan Moeslimin dan Islam Bergerak (1915-
132
Lowy, Michael. Teologi Pembebasan, Terj. Roem Topatimasang. Yogyakarta: INSIST, 1999.
Misbach, H. M. “Assalamu’alaikum waruhmatu’Lohi wa-barokatuh”, Medan
Moeslimin (No. 7, 1922)
_____, “Islam dan Aturannya”, Medan Moeslimin (No. 10, 1923)
_____, “Islamisme dan Kommunisme”, Medan Moeslimin (No. 2-6, 1925)
_____, “Manokwari Bergoncang, Reactie Untuk Communist tentu dan Sudah
Biasa”, Medan Moeslimin (No. 7, 1925)
_____, “Mukmin dan Munafek?”, Islam Bergerak (10 Desember 1922)
_____, “Nasehat dari ketua kita H. M. Misbach yang misi didalam pembuangan di
Manokwari”, Medan Moeslimin (No. 10, 1926)
_____, “Perbarisan Islam Bergerak: Pembaca Kita”, Islam Bergerak (10
November 1922)
_____, “Perhimpunan Sidik-Amanah-Tableg-Vatonah di Surakarta Telah
Mengaturkan Motie kepada Tuan Besar G.G.H.N. dan Adviseur Inl Zaken
atau Pada Volksraad Seperti di Bawah Ini”, Islam Bergerak (10 Mei 1919)
_____, “Raad Ulama”, Islam Bergerak (10 Desember 1919)
_____, “Semprong Wasiat Partijdiesipline S.I. Tjokroaminoto Menjadi Racun
133
_____, “Seruan Kita”, Medan Moeslimin (15 Desember 1918)
Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015.
Nasution, Khoiruddin. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Nuswantoro, Daniel Bell: Matinya Ideologi. Magelang: IndonesiaTera, 2001.
Ramly, Andi Muawiyah. Peta Pemikiran Karl Marx: Materialisme Dialektis dan
Matrialisme Historis.Yogyakarta: LkiS, 2000.
Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007.
Rodinson, Maxime. Islam and Capitalism, Terj. Brian Pearce. New York: Pantheon Books, 1973.
Sargent, Lyman Tower. Ideologi Politk Kontemporer, Terj. Sahat Simamora. Jakarta: Bina Aksara, 1986.
Shiraishi, Takashi. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Terj. Hilmar Farid. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, I997.
Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi. Bandung: Rosda Karya, 2004.
Soekarno. Dibawah Bendera Revolusi: Djilid 1. Jakarta: Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, 1959.
134
Steenbrink, Karel A. Perkembangan Teologi Dalam Dunia Kristen Modern. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya, 1987.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2011.
Sukarna. Ideologi: Suatu Studi Ilmu Politik. Bandung: Penerbit Alumni, 1981.
Surbakti, Ramlan. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Grasindo, 2010.
Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah 1: Mahakarya Perjuangan Ulama dan
Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Bandung:
Tria Pratama, 2014.
Susanto, Musyarifah. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
Suseno, Magnis Franz. Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke
Perselisihan Revisiionisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001.
_____. Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin
Sampai Tan Malaka.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Takwin, Bagus. Akar-Akar Ideologi: Pengantar Kajian Konsep Ideologi dari
Plato hingga Bourdieu. Yogyakarta: Jalasutra, 2003.
135
Triyana, Bonnie. Palu Arit dan Bulan Sabit pada Suatu Masa, 2013, Makalah disampaikan pada diskusi Islam dan Marxisme di Indonesia di Serambi Salihara.