BAB IV ANALISIS HASIL SIMULASI
4.4 ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA SISTEM RATA-RATA
CASCADE
Hasil analisis dari simulasi pemodelan sistem menggunakan software optisystem versi 7.0 pada link Jawa (Rungkut) – Bali (Kaliasem) yang memiliki jarak 442.02 km dengan konfigurasi repeater-less, repeater-ed, dan cascade serta penguat EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier). Parameter atau nilai yang telah diukur yaitu nilai BER (Bit Error Rate), Q-Factor, Power Receiver, dan SNR (Signal to Noise Ratio) dengan hasilnya sebagai berikut :
Tabel 4.25 Perbandingan Nilai Parameter pada Channel Space 40 GHz Menggunakan Konfigurasi Repeater-less, Repeater-ed, Cascade
Parameter Daya (dBm) Repeater-less Repeater-ed Cascade
BER
67
Tabel 4.26 Perbandingan Nilai Parameter pada Channel Space 80 GHz Menggunakan Konfigurasi Repeater-less, Repeater-ed, Cascade
Parameter Daya (dBm) Repeater-less Repeater-ed Cascade
BER menggunakan simulasi konfigurasi Repeater-less, Repeater-ed, dan Cascade dengan channel space 40 GHz dan 80 GHz, serta menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8. Berdasarkan standar dari masing-masing parameter seluruh nilai memenuhi standar yang telah ditentukan. Nilai tertinggi atau kinerja rata-rata terbaik dari parameter BER (Bit Error Rate) dengan channel space 40 GHz yaitu bernilai 2,75 x 10-61 pada daya 2 dBm menggunakan konfigurasi Cascade, nilai terendah atau kinerja buruk yaitu bernilai 1,11 x 10-51 pada daya 6 dBmmenggunakan konfigurasi Repeater-ed. Nilai tertinggi atau kinerja terbaik BER dengan channel space 80 GHz yaitu bernilai 4,56 x 10-89 pada daya 2 dBm menggunakan konfigurasi Repeater-ed, nilai terendah atau kinerja buruk bernilai 1,18 x 10-79 pada daya 6 dBm menggunakan konfigurasi Cascade. Pada proses simulasi dengan channel space 40 GHz maka nilai terbaik BER menggunakan konfigurasi Cascade, sedangkan pada proses simulasi dengan channel
68
space 80 GHz nilai tebaik BER menggunakan konfigurasi Repeater-ed. Dapat disimpulkan nilai tertinggi atau kinerja terbaik rata-rata dengan menggunakan dua channel space yaitu menggunakan konfigurasi Repeater-ed pada channel space 80 GHz.
Nilai tertinggi atau kinerja rata-rata terbaik dari parameter Q-Factor dengan channel space 40 GHz yaitu bernilai 17,234 pada daya 4 dBm menggunakan konfigurasi Repeater-ed, nilai terendah atau kinerja buruk yaitu bernilai 16,120 pada daya 6 dBmmenggunakan konfigurasi Cascade. Nilai tertinggi atau kinerja terbaik Q-Factor dengan channel space 80 GHz yaitu bernilai 20,601 pada daya 4 dBm menggunakan konfigurasi Cascade, nilai terendah atau kinerja buruk bernilai 19,488 pada daya 6 dBm menggunakan konfigurasi Cascade. Pada proses simulasi dengan 40 GHz maka nilai terbaik Q-Factor menggunakan konfigurasi Repeater-ed, sedangkan pada proses simulasi dengan 80 GHz maka nilai tebaik Q-Factor menggunakan konfigurasi Cascade. Dapat disimpulkan nilai tertinggi atau kinerja terbaik rata-rata dengan menggunakan dua channel space yaitu menggunakan konfigurasi Cascade pada channel space 80 GHz.
Kinerja terbaik rata-rata dari parameter Power Receiver dengan channel space 40 GHz yaitu bernilai -5,317 pada daya 8 dBm menggunakan konfigurasi Repeater-less, nilai terendah atau kinerja buruk yaitu bernilai -9,518 pada daya 0 dBm menggunakan konfigurasi Cascade. Nilai tertinggi atau kinerja terbaik Power Receiver dengan channel space 80 GHz yaitu bernilai -4,460 pada daya 8 dBm menggunakan konfigurasi Repeater-less, nilai terendah atau kinerja buruk bernilai -8,657 pada daya 0 dBm menggunakan konfigurasi Cascade. Pade proses simulasi dengan channel space 40 GHz maka nilai terbaik Power Receiver menggunakan konfigurasi Repeater-less, sedangkan pada proses simulasi dengan channel space 80 GHz maka nilai tebaik Power Receiver menggunakan konfigurasi Repeater-less. Dapat disimpulkan nilai tertinggi atau kinerja terbaik dengan menggunakan dua channel space yaitu menggunakan konfigurasi Repeater-less pada frequency 80 GHz.
Kinerja terbaik rata-rata dari parameter SNR dengan channel space 40 GHz yaitu bernilai -50,512 pada daya 8 dBm menggunakan konfigurasi Repeater-ed, nilai
69
terendah atau kinerja buruk yaitu bernilai 43,306 pada daya 0 dBm menggunakan konfigurasi Repeater-ed. Nilai tertinggi atau kinerja terbaik SNR dengan channel space 80 GHz yaitu bernilai 53,858 pada daya 8 dBm menggunakan konfigurasi Repeater-less, nilai terendah atau kinerja buruk bernilai 45,273 pada daya 0 dBm menggunakan konfigurasi Repeater-less. Pada proses simulasi dengan channel space 40 GHz maka nilai terbaik SNR menggunakan konfigurasi Repeater-ed, sedangkan pada proses simulasi dengan channel space 80 GHz maka nilai tebaik SNR menggunakan konfigurasi Repeater-less. Dapat disimpulkan nilai tertinggi atau kinerja terbaik dengan menggunakan dua channel space yaitu menggunakan konfigurasi Cascade pada channel space 80 GHz.
Tabel 4.25 dan 4.26 dari parameter BER (Bit Error Rate), Q-Factor, Power Receiver, dan SNR (Signal to Noise Ratio) menggunakan konfigurasi Repeater-less, Repeater-ed, dan Cascade dengan dua buah channel space yaitu channel space 40 GHz dan channel space 80 GHz yang dimana setiap channel space menggunakan 10 kanal atau wavelength dengan menggunakan lima variasi daya yaitu 0 dBm, 2 dBm, 4 dBm, 6 dBm, dan 8 dBm. Hasil kinerja terbaik rata-rata dari parameter BER (Bit Error Rate) yaitu menggunakan konfigurasi Repeater-ed dengan channel space 80 GHz, hasil kinerja terbaik rata-rata dari parameter Q-Factor yaitu menggunakan Cascade pada channel space 80 GHz, hasil kinerja terbaik rata-rata dari parameter Power Receiver yaitu menggunakan konfigurasi Repeater-less pada chnnel space 80 GHz, serta hasil kinerja terbaik rata-rata dari parameter SNR (Signal to Noise Ratio) yaitu menggunakan konfigurasi Cascade pada channel space 80 GHz.
70
BAB V KESIMPULAN 5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari simulasi dan analisis yang telah dilakukan pada tugas akhir/skripsi ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Berdasarkan analisis serta pemodelan simulasi yang telah dilakukan dengan menggunakan konfigurasi branching unit serta menggunakan konfigurasi penguat/amplifier repeater-less, repeater-ed, dan cascade dengan 10 kanal dan 2 buah channel space (40 GHz dan 80 GHz) yang menggunakan 5 variasi daya (0 dBm, 2 dBm, 4 dBm, 6 dBm, 8 dBm). Seluruh kanal memiliki kinerja yang baik karena hasil atau nilai memenuhi bahkan melampaui standar yang telah ditentukan.
Yaitu standar BER (Bit Error Rate), Q-Factor, Power Receiver, dan SNR (Signal to Noise Ratio).
2. Berdasarkan analisis serta pemodelan simulasi yang telah dilakukan seluruh konfigurasi menghasilkan nilai terbaik dengan menggunakan channel space 80 GHz, hasil nilai konfigurasi Repeater-less menggunakan penguat/amplifier EDFA yang menggunakan channel space 80 GHz yang menghasilkan nilai terbaik pada paramerter BER yaitu bernilai 1,11 x 10-80, Q-Factor bernilai 21,243, Power Receiver bernilai -4,326, SNR bernilai 56,243. Hasil nilai konfigurasi Repeater-ed menggunakan penguat/amplifier EDFA yang menggunakan channel space 80 GHz yang menghasilkan nilai terbaik atau kinerja terbaik pada paramerter BER yaitu bernilai 1,04 x 10-104, QFactor bernilai 21,685, Power Receiver bernilai -4,384, SNR bernilai 56,342. Hasil nilai konfigurasi Cascade menggunakan penguat / amplifier EDFA yang menggunakan channel space 80 GHz yang menghasilkan nilai terbaik atau kinerja terbaik pada paramerter BER yaitu bernilai 2,40 x 10-104, Q-Factor bernilai 21,649, Power Receiver bernilai -4,326, SNR bernilai 58,004.
3. Nilai hasil terbaik atau nilai tertinggi tiap parameter pada pemodelan simulasi menggunakan konfigurasi branching unit, parameter BER (Bit Error Rate) pada
71
konfigurasi Cascade dengan channel space 80 GHz, parameter Q-Factor pada konfigurasi Repeater-ed dengan channel space 80 GHz, parameter Power Receiver pada konfigurasi Repeater-less dan Cascade dengan channel space 80 GHz, parameter SNR (Signal to Noise Ratio) pada konfigurasi Cascade dengan channel space 80 GHz. Namun dari hasil rata-rata perbandingan kinerja tiap konfigurasi penguat/amplifier yang memiliki kinerja terbaik pada tiap parameter yaitu, parameter BER (Bit Error Rate) pada konfigurasi Repeater-ed dengan channel space 80 GHz, parameter Q-Factor pada konfigurasi Cascade dengan channel space 80 GHz, parameter Power Receiver pada konfigurasi Repeater-less dengan channel space 80 GHz, parameter SNR (Signal to Noise Ratio) pada konfigurasi Cascade dengan channel space 80 GHz. Sehingga konfigurasi yang digunakan untuk SKKL (Sistem Komunikasi Kabel Laut) dapat disesuaikan dengan kebutuhan, ingin mendapatkan hasil nilai paling maksimal atau ingin mendapatkan kinerja rata-rata terbaik pada parameter yang dibutuhkan.
72
DAFTAR PUSTAKA
[1] Bima Kurnia Marahsakti A. Karel, Akhmad Hambali, Mochammad Hasan Jauhari, Perancangan Penggunaan Penguat Optik pada Jaringan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) di Jalur Sistem Indonesia Global Gateway (IGG)," e-Proceeding of Engineering, Teknik Telekomuniasi, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Telkom vol. V, no. 1, p. 744, 2018.
[2] Muhammad Rayhan Hasibuan, Akhmad Hambali, Mochammad Hasan Jauhari, Perencanaan Penggunaan Perangkat Pembagi untuk Komunikasi Kabel Laut di Jalur Indonesia Global Gateway (IGG), e-Proceeding of Engineering, Teknik Telekomuniasi, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Telkom, vol. V, no. 1, p.
799, 2018.
[3] Ahyadan Weka Pratomo, Akhmad Hambali, Afief Dias Pambudi, Perencanaan Optical Amplifier pada Jaringan Palapa Ring untuk Link Ambon (Maluku) - Sorong (PAPUA), e-Proceeding of Engineering, Teknik Telekomuniasi, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Telkom, vol. IV, no. 1, p. 79, 2017.
[4] Bagas Sidiq Haryanto, Kris Sujatmoko, Akhmad Hambali, Perencanaan Sistem Komunikasi Kabel Laut Jasuka Link Alternatif Tanjung Pakis-Pontianak, e-Proceeding of Engineering, Teknik Telekomuniasi, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Telkom, vol. VI, no. 2, p. 4679, 2019.
[5] Fitria Ayu Nurdiana, Sugito, Sofia Naning Hertiana, Perancangan dan Analisis Sistem Komunikasi Serat Optik Link Makassar-Maumere Menggunakan DWDM, JNTETI ( Jurnal Nasional Teknik Elektro dan Teknologi Informasi), Universitas Gadjah Mada, vol. IV, no. 3, 2015.
[6] Hariyadi, Sistem Komunikasi Fiber Optik Dan Pemanfaatannya Pada PT.Semen Padang, Rang Teknik Journal, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, vol. I, no. 1, 2018.
[7] Gunadi Dwi Hantoro, Karyada, Fiber Optik, Bandung: Informatika Bandung, 2015.
73
[8] M. Jauhari, Submarine cable system challenges dan opportunities, Telkom Indonesia, 2014.
[9] Indonesia Global Gateway Cabl System-Supply Contract, Indonesia global gateway cabl systemsupply contract-section3, Indonesia Global Gateway Cabl System-Supply Contract-Section3, 2014.
[10] Arumadina Islamiq, Akhmad Hambali, Ir., M.T., Afief Dias Pambudi S.T., M.T Analisis Perbandingan Performansi Posisi Penguat Optik Hybrid SOA - EDFA (Semiconductor Optical Amplifier - Erbium Doped Fiber Amplifier) in A System DWDM (Dense Wavelenght Division Multiplexing) Based Solition, e-Proceeding of Engineering, Teknik Telekomuniasi, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Telkom, vol. IV, no. 1, p. 132, 2017.
[11] M. Luthfi, Akhmad Hambali, Afief Dias Pambudi, Analisis Kerataan Gain pada Raman Optical Amplifier (ROA) yang Dicascade untuk Sistem Komunikasi Optik Jarak Jauh UW-WDM, e-Proceeding of Engineering, Teknik Telekomuniasi, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Telkom, vol. II, no. 3, p.
74
LAMPIRAN